Ads 468x60px

Selamat Pagi Indonesia

Sayap burung berkepak
Menembus embun pagi
Terbang menerjang keheningan
Gerbang dini
Terperanjat mendengar
Derap langkahnya yang begitu tenang
Melangkah menuju keabadian
Rumpun bambu bergoyang
Gemrisik dan melambai
Seakan memberikan kata “selamat Jalan”
Rumput-rumput nan hijau
Bermandi embun tunduk dengan pilu
Menatap dia pergi pagi ini
Langkahnya..
Berderap dan pandangannya
menatap ke depan
Tegakkan..
Dadanya seakan dia menantang perang
Di bibirnya terlukis senyum
yang yakin akan kebenaran
Matanya berbinar dalam keredupan
Mulutnya bergerak menyusun doa
terakhir baginya
Yang meluncur menembus himpitan sepi
kemanakah kucari
Kebenaran…
Kedamaian…
Kasih sayang..
Kemana…
(Kemana akan kucari)
Surya merekah pagi
Membuka tabir hari
Tapi dia takkan kuasa melihat lagi
Seandainya kuasa membuka
mulut mungkin akan berkata
("Selamat Pagi Indonesia, Cintaku")

Penjahat Legendaris Indonesia : (Ignatius) Kusni Kasdut

“Mantan Pejuang yang Terbuang!”

 



"… seandainya kuasa
membuka mulut mungkin akan berkata
selamat pagi indonesia…."
(“Selamat pagi Indonesia”)


Ketika saya berkarya di sebuah paroki pinggiran utara Jakarta dengan Romo Mangun sebagai arsiteknya, setiap pagi kami bersama dengan dua pastor lainnya berdoa brevir bersama di kapel pastoran dengan salib besar dari kayu yang terpampang di dinding dengan tulisan kecil hamper larut bernama “Kusni Kasdut”. Mungkin bagi beberapa orang sekarang asing sekali dengan sosok satu ini, padahal di era 1970-an, dia adalah salah satu pejahat legendaris di Indonesia. Yah, “KUSNI KASDUT”, seorang penjahat kelas kakap di Indonesia. Namanya semakin saya kenal ketika saya per-tahun 2007 mulai berkunjung dan mempersembahkan misa kudus ke beberapa penjara di kawasan Jakarta dan Tangerang serta berkenalan dengan beberapa mantan narapidana kristiani dalam upaya sederhana membentuk sebuah rumah singgah buat para mantan narapidana bernama “Rumah Socius”.

Kusni Kasdut yang bernama asli Waluyo sendiri adalah seorang anak yatim dari keluarga petani miskin di Blitar. Terlahir dengan kemiskinan yang terus menghantuinya, tanpa revolusi, mustahil dapat beristrikan seorang gadis indo dari keluarga menengah, sekali pun telah diindonesiakan dengan nama Sri Sumarah Rahayu Edhiningsih. Yah, inilah nama istri yang dicintai sekaligus dikaguminya (“amanda et admiranda”) yang melahirkan tekad bulat Kusni Kasdut untuk memperbaiki kehidupannya.

Ia mencoba mencari pekerjaan yang sepadan dengan martabatnya yang baru, dan kegagalan demi kegagalan ia dapat. Untuk kesekian kalinya-berbekal pengalaman semasa revolusi ‘45-ia berusaha masuk anggota TNI, tetapi ditolak. Penolakan ini disebabkan sebelumnya ia tak resmi terdaftar dalam kesatuan. Selain itu, pada kaki kirinya terdapat bekas tembakan yang ia dapat semasa perang fisik melawan Belanda. Akibatnya, ia cacat secara fisik. Kegagalan-kegagalan tersebut membentuknya ia seolah diperlakukan tidak adil oleh penguasa waktu itu, seperti ‘habis manis sepah dibuang’. Hal tersebut menimbulkan obsesi untuk merebut keadilan dengan sepucuk pistol, membenarkan diri memperoleh rejeki yang tak halal. Terlebih lagi membiarkan anak dan istrinya terlantar. Bersama teman senasib dan seperjuangan yang tak ada harapan untuk menyambung hidup, Kusni pun akhirnya merampok.

Bejana Pilihan.....


Seorang Tuan sedang mencari sebuah bejana. Ada beberapa bejana tersedia - manakah yang akan terpilih? “Pilihlah aku, teriak bejana emas, aku mengkilap dan bercahaya. Aku sangat berharga dan aku melakukan segala sesuatu dengan benar. Keindahan aku akan mengalahkan yang lain. Dan untuk orang yang seperti engkau, Tuanku, emas adalah yang terbaik!”

Tuan itu hanya lewat saja tanpa mengeluarkan sepatah kata. Kemudian ia melihat suatu bejana perak, ramping dan tinggi. “Aku akan melayani engkau, Tuanku, aku akan menuangkan anggurmu dan aku akan berada di mejamu di setiap acara jamuan makan. Garisku sangat indah, ukiranku sangat nyata. Dan perakku akan selalu memujiMu.

Filosofi Kesederhanaan




a. Saran praktis untuk memiliki kesederhanaan secara lahiriah (= outer simplicity):
  • Belilah barang-barang yang tujuannya untuk digunakan bukan untuk prestise.
  • Tolaklah segala hal yang mendatangkan kecanduan/keterikatan.
  • Bangunlah kebiasaan memberi barang-barang yang tidak kita gunakan kepada orang lain. Sebab pada dasarnya kita ini pengumpul sampah. Kita sering mengoleksi barang-barang yang sesungguhnya tidak kita butuhkan.
  • Belajarlah untuk memiliki sesedikit mungkin barang-barang yang tidak perlu bagi perjalanan hidup iman dan kemasyarakatan.

“Gerejaku, Gerejamu, Gereja Kita Bersama ?

- sebuah tinjauan kritis tentang pembangunan fisik gereja - 

Aristoteles mengatakan virtus stat in medio. Keutamaan itu berada di tengah. Ia tidak condong ke kiri, juga tidak condong ke kanan. Ia tidak berlebihan. Sebagai contoh: keberanian adalah keutamaan. Ia berada di antara kepengecutan dan kenekadan. “Di tengah” tidak berarti setengah-setengah. Inilah kiranya point yang patut dipikirkan dalam polemik pembangunan gereja ini.

Arti Gereja (ecclesia) sendiri pada dasarnya adalah paguyuban orang beriman. Jelas, bahwa Gereja lebih luas dari sekedar bangunan gereja! Memang, Gereja sebagai sebuah teks termasuk bangunannya tak bisa lepas dengan konteksnya. Jika dulu, bangunan gereja cukup dengan pendapa cukup luas, berlantaikan plesteran semen yang sudah banyak berlubang dan bangku-bangku kayu melingkar, maka kini banyak gereja yang sudah berlantaikan keramik bahkan marmer dengan sound yang baik. Gereja sebagai bait Allah, tempat umat bertemu dengan Dia, tempat umat dan gembala saling menyapa mau tidak mau memang harus “layak” menurut ukuran jaman dan situasi-kondisi umat setempat.

God is Love

Ya Allahku, aku cinta padaMu melampaui segala sesuatu
Dan aku dengan seutuh jiwa membenci dosa-dosa
karena dengan dosa, Engkau telah kuhina,
karena Engkau memang tidak berkenan ada dosa di hadirat
Dikau yang mahabaik dan pantas dicinta.

Aku akui, aku harus mencintai Engkau
dengan cinta yang melampaui segala
dan aku harus mencoba membuktikan cintaku padaMu.

Aku terima Engkau di hati dan pikiranku sebagai
yang jauh tak terhingga lebih besar
daripada segala yang ada di dunia
tak peduli betapapun bernilai dan indahnya.

Oleh karenanya, dengan tekad bulat aku berketetapan
Tak pernah aku akan setuju Engkau terhina
atau melakukan sesuatu yang tak berkenan di hatiMu
yang baik dan berkuasa
ataupun menempatkan diri dalam bahaya
akan jatuh dari rahmatMu yang suci.

Sekuat daya yang ada padaku,
aku bertekad untuk tetap dalam rahmat sampai hembusan nafas terakhir
pada saat aku mati. Amin.

"Amor vincit omnia"


Hanya dalam cinta aku dapat menemukan Engkau,ya Allahku
Dalam cinta, pintu-pintu jiwaku terbuka sehingga aku dapat bernafas
menghirup udara segar, udara kebebasan dan melupakan diri kerdilku.

Dalam cinta seluruh apa adaku mengalir terbebas dari kungkungan kepicikan
dan keinginan untuk mengungkapkan diri,
yang membuat diriku menjadi penjara kemiskinan dan kehampaanku sendiri.

Dalam cinta, semua kekuatan dan daya jiwaku mengalir keluar menuju Engkau,
tak mau lagi kembali, tetapi melebur diri sepenuhnya dalam Engkau,
karena dengan cintaMu, Engkau adalah pusat teras hatiku,
yang lebih dekat dengan Engkau daripada aku dengan diriku sendiri.

Tapi apabila aku mencintai Engkau,
apabila aku dapat mendobrak keluar dari diriku yang picik
dan meninggalkan kegelisahan serta remuk redamnya hati
akibat berbagai pertanyaan yang tak dapat dijawab,
apabila mataku yang kesilauan tak lagi hanya melihat dari jauh dan dari luar
kecerahan-Mu yang tak terhampiri, dan lebih-lebih apabila Engkau sendiri,
ya Allah yang tak dapat kutangkap dengan budiku,
lewat cinta telah menjadi pusat teras kehidupanku,
maka aku dapat mengubur seluruh diriku dalam Dikau, Ya Allah Maha gaib,
dan dengan mengubur diriku terkubur pula pertanyaan-pertanyaan satu-persatu.