Ads 468x60px

Oleh - oleh dari Bumi Singkawang (III)

PANGGILAN KONTEMPLATIF


Pendahuluan
Setiap kali mendengar kata kontemplatif kita akan selalu teringat akan  biara kontemplatif. Kontemplatif berasal dari kata Kontemplasi atau contemplare dari bahasa Latin yang artinya memandang, melihat, memperhatikan, dan mengamat-amati. Memandang disini maksudnya selalu mengarahkan hati kepada Tuhan atau memandang kepada Tuhan. Maka biara kontemplatif itu dikhususkan untuk berdoa terus-menerus mengarahkan hati kepada Tuhan. Berdoa bagi dunia dan gereja. Kata “kontemplasi” saya terjemahkan secara bebas dengan “hati yang selalu berdoa”. Kalau kita berdoa yang perlu adalah keheningan baik secara lahiriah maupun secara batiniah. Maka jangan heran kalau di biara kontemplatif selalu menjaga keheningan. Itu maksudnya supaya hati sungguh bebas berdoa setiap saat kepada Tuhan. Sebab Tuhan sungguh senang tinggal pada hati yang memberikan tempat bagiNya.

Oleh- oleh dari Bumi Singkawang (II)

800 TAHUN ORDO SANTA KLARA 
DAN 75 TAHUN BIARA PROVIDENTIA DI SINGKAWANG



800 tahun Ordo Santa Klara 

Saudara-saudari yang terkasih,
Kita bersama-sama bersyukur dan berterimakasih kepada Tuhan atas berdirinya Ordo Santa Klara delapan ratus tahun yang lalu dan sampai sekarang masih terus hadir di tengah-tengah kita. Delapan ratus tahun, bukanlah waktu yang singkat. Bukan hanya itu saja, semakin panjang waktu itu, semakin banyak pula yang perlu kita syukuri. Karena seperti yang sudah kita ketahui bersama, tiap detik bahkan tiap denyutan nafas kehidupan kita, telah meninggalkan jejak-jejak kebaikan Tuhan. Maka tak terhitung jumlah kebaikan dan kasih karunia Tuhan yang perlu kita syukuri pada hari ini.  Adapun sebenarnya perayaan ini telah berlangsung sejak Minggu Palma 2011 yang lalu hingga Minggu Palma 2012 yang lalu. Tetapi berhubung adanya berbagai kendala, Biara-biara Klaris Kapusines di Indonesia baru merayakan pada bulan Agustus dan September tahun 2012 ini.

Oleh-oleh dari Bumi Singkawang (I)

DIPANGGIL UNTUK BERDOA DAN BERTAPA BAGI GEREJA DAN DUNIA


“Mengapa kamu mau jadi suster seperti itu? Tidak bisa keluar. Tinggal di dalam saja dan lagi pula tidak ada karya nyata yang dapat kami lihat dan rasakan secara langsung. Kalau kamu menjadi ‘suster putih’ (sebutan untuk suster-suster yang berseragam putih) itu lumayan. Bisa dilihat kamu jadi perawat atau guru misalnya. Tetapi kalau jadi suster seperti itu apa yang bisa dibanggakan?” Hanya anak yang bodoh boleh menjadi suster seperti itu!”

Demikian ungkapan keberatan hati beberapa orang bila mengetahui anak gadisnya atau orang terdekat mereka memilih menjadi suster kontemplatif yang terkurung dalam klausura (pingitan). Apalagi kalau anak itu dikenal sebagai anak yang pintar dan berbakat. Maka tidak heran jarang sekali ada orang tua yang dengan rela mengijinkan anak mereka menjadi suster semacam itu. Mungkin banyak dari antara kita juga bertanya-tanya mengapa ada orang yang mau mengurung diri seperti itu. Untuk itulah tulisan ini dibuat. Semoga tulisan kecil ini dapat membantu kita mengenal kehidupan di balik tembok yang bagi banyak orang masih sangat asing.

Sekali Lagi Soal Mukjizat


Masih ingatkah Anda akan nama Lee Strobel? Mungkin tidak. Ia adalah wartawan sebuah harian terkemuka Chicago Tribune. Pernah saya sebut-sebut namanya dalam beberapa tulisan saya yang lalu. Waktu itu saya menulis, betapa didorong oleh naluri kewartawanannya serta digelitik oleh panggilan imannya, Strobel merasa penasaran oleh pernyataan-pernyataan Charles Templeton, eks penginjil rekan sejawat Billly Graham, yang telah ingkar dari imannya. Maka terbanglah ia ke Boston untuk mewawancarai Peter Kreeft, profesor filsafat dari Boston College, guna memperoleh pandangan yang seimbang. (cf. Lee Strobel, "THE CASE FOR FAITH". Zondervan, 2000).

Kepemimpinan Alkitabiah

A. Perlunya pemimpin
Allah menghendaki agar masyarakat duniawi maupun masyarakat rohani memiliki pemimpin atau pemerintahan. Hal ini menjadi jelas, antara lain, dari ayat-ayat berikut ini:

* Ketika Samuel melihat Saul, maka berfirmanlah TUHAN kepadanya, “Inilah orang yang Kusebutkan kepadamu itu; orang ini akan memegang tampuk pemerintahan atas umat-Ku” (1 Sam 9:17; bdk. 1 Sam 13:14).
* “Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah” (Rm 13:1).
* “Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh” (1 Kor 12:28).

Homo est Viator (Manusia adalah Peziarah)

Seorang ahli meditasi, Eknath Easwara menyatakan bahwa pelbagai ketergesaan yang terus menerus mempunyai dampak yang buruk terhadap kesehatan. Maka, bagi banyak orang beriman yang mau tetap sehat, ingatlah bahwa hidup itu bukan untuk berlari, tapi untuk disyukuri, seperti nama seorang umat di bilangan Tangerang, “sukirman-sukacita karena iman.”. Di lain matra, hidup kita itu ibarat layang-layang, butuh benang - semacam pegangan. Menyitir Andreas Knapp, jika tidak ada pegangan, maka hidup akan putus, koyak dan jatuh seperti layang-layang terpisah dari benangnya. Di sinilah, kita perlu menyadari bahwa layang-layang kehidupan kita tak selamanya harus melayang di angkasa, ada saat untuk beristirahat juga. Ada saat mengisi bahan bakar – di mana hidup kita harus menyisihkan waktu untuk kembali ke sumber sejati (Allah), karena jelaslah: Homo est Viator (Manusia adalah Peziarah). Dan, salah satu tradisi khas Katolik yang dekat untuk hal ini, adalah kebiasaan berziarah.

FX Hadi Rudyatmo, Biography Walikota Surakarta



Buku "FX" : Family-Fraternity-Faith, karya Romo Jost Kokoh
SOLO (Spirit Of Love Others); Sketsa Walikota Surakarta
(Buku Biography FX. Hadi Rudyatmo, Walikota Surakarta)

“SOLO”, “Spirit Of Loving Others”
Ad astra per aspera - Sampai ke bintang dengan jerih payah!

”Bagi saya tidak penting berkantor di manapun. Yang penting bekerja!” Inilah sepenggal kalimat dari “FX” Hadi Rudyatmo, Sang Walikota Solo “berwajah Rambo berhati Bimbo”, yang kerap berperan sebagai Gatotkaca dalam kirab budaya dan kini menjadi ikon sekaligus idola baru warga pengunjung Car Free Day (CFD) di kota Solo. Pastinya: Selamat datang di “SOLO”, “Spirit Of Loving Others”

“SOLO”, “Spirit Of Loving Others” adalah sebuah era blusukan,  yakni era horisontal yang selalu “MENDENGAR – MELIHAT dan – BERBUAT, karena ruang dan uang seharusnya memang dibangun dengan “bahasa kemanusiaan, bahasa kasih dan bahasa kejujuran”.

“SOLO”, “Spirit Of Loving Others” adalah sebuah era bahasa, yang mengurangi  instruksi tapi banyak mendelegasi, yang mengurangi perintah tapi banyak berkomunikasi.

“SOLO”, “Spirit Of Loving Others” adalah sebuah era pelayanan dan infra-struktur, dimana pemimpinnya:
Ketika ada masalah – dia ada di paling depan.
Ketika ada kerja - dia ada di tengah-tengahnya.
Ketika ada kemakmuran - dia ada di paling belakang.

Karena pemimpin “SOLO”, “Spirit Of Loving Others”
harusnya menderita dan bukan menikmati,
harusnya penuh cinta dan bukan sekedar kata kata hampa, karena cinta akan menghasilkan sesuatu,
sementara kata - kata kerap hanya menghasilkan alasan.