Ads 468x60px

Tradisi, Kitab Suci & Devosi Maria


PENDAHULUAN
Kitab Suci memuat semangat Maria, dan diwujudkan dalam tindak devosi sangat menggerakkan hati umat beriman dewasa ini. Devosi yang benar mampu menumbuhkan niat dan tekat untuk berbakti kepada Tuhan. Sebab Maria menjadi pengantara dan ibu yang mengantar kita kepada Tuhan bersama dengan Yesus anakNya. Lebih dari itu Maria tekun memelihara tradisi bangsanya sehingga mampu mendidik Jesus puteranya, dan mempersiapkan Dia terlibat dalam kiprah percaturan kehidupan bangsa dan negerinya. Kita umat beriman kini, juga semakin menyadari dan yakin bahwa Maria dalam kesederhanaannya mampu mengajarkan kepada Jesus dan mengantarkan kita untuk memiliki sikap hidup yang selalu mencari kebenaran, perdamaian dan membangun semangat rekonsiliasi dengan sesama, termasuk dalam memberi motivasi yang benar dalam bidang kemasyarakatan, budaya, pengalaman religiositas dan sosial-politik jamannya.

KELUARGA - KEcilkan emosi, LUaskan isi hati, ARahkan ke Ilahi dan GAlang relasi


@Buku XXX Family Way (Kanisius)

Selama aku punya keinginan, aku punya alasan untuk hidup. 
– As long as I have dreams, I have reasons to live. 

Alkisah, terdapatlah sebuah rumah dengan 1000 cermin. Seekor anjing kecil menemukan rumah itu. Dia masuk dan menggonggong kegirangan sambil mengibas-ngibaskan ekornya dengan riang, dan melihat ada 1000 anjing kecil lain yang ramah kegirangan dengan ekor berkibas-kibas seperti dia. Waktu ia meninggalkan rumah itu, ia pikir “Ini tempat yang menakjubkan, lain kali aku akan singgah lagi disini”. Pada waktu lain, seekor anjing yang tampak stres dengan ekor terkulai lesu memasuki rumah itu. Ia melihat 1000 anjing lain yang sedang stres dengan ekor terkulai dan wajah tertekan serta menggeram seram seperti dia. Waktu ia meninggalkan rumah, ia pikir “Ini tempat tersiksa, dan aku tak akan kesini lagi”. 

Jelas dari cerita ini, semua wajah di dunia adalah cermin. Cermin macam apa yang kita lihat pada wajah orang, tergantung pada kita juga. Kita tersenyum, yang kita hadapi senyum. Kita memaki, maka yang kita dapat adalah makian. Kita menabur kritik, yang kita tuai tentu saja kritik, dan itu semua bermula dari keluarga kita masing-masing.

S U G E N G - SUkacitanya langGENG

@Buku XXX Family Way (Kanisius)

Cara mencintai sesuatu adalah menyadari bahwa sesuatu itu mungkin saja lenyap. 
-- The way to love anything is to realize that it might be lost.


“Sugeng” adalah nama ketua lingkungan ketika saya masih kecil, yang cukup akrab-dekat dengan keluarga kami. Ketika saya bertugas di Gereja St Maria Tangerang, salah satu karyawannya juga bernama, Sugeng. Bagi saya, Sugeng bisa mempunyai arti sederhana, “Sukacitanya langgeng.” 

Ada sebuah cerita yang bisa mengajari kita untuk memiliki sukacita yang langgeng. Begini kisah pendeknya: Adalah seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap bersukacita. Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab, "Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup di tanah seberang. Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga". Dkl: kita diajak belajar memafhumi kebijakan ibu itu: “Aku tak selalu mendapatkan apa yang kusukai, oleh karena itu aku selalu menyukai apapun yang aku dapatkan.” 

KE LE DAI - Kerendahan hati, Lemah lembut dan Daya Tahan.

@Buku XXX Family Way (Kanisius)
Tak seorang pun sia-sia di dunia ini, 
ketika ia meringankan beban kehidupan bagi orang lain. 
-- No one is useless in this world who lightens the burden of it for anyone else."


Betfage! Itulah nama sebuah kampung kecil di Bukit Zaitun. Disanalah, Yesus pernah mengutus kedua muridNya agar mereka menyiapkan baginya seekor keledai yang hendak ditungganginya dalam perjalanan masuk ke kota Yerusalem (Mrk 11:1-8). Tempat kampung itu tidak diketahui sampai sekarang secara pasti. Tetapi di tempat yang secara tradisional ditunjuk Betfage dulu, kini berdiri sebuah biara Fransiskan serta sebuah kapel. Menurut laporan peziarah pada abad IV, di tempat itulah Yesus berbicara dengan Marta dan Maria setelah ia datang ke situ untuk membangkitkan Lazarus, yang sudah meninggal empat hari lamanya. 

SETIA – SElalu Taat dan Ingat Allah

@Buku XXX Family Way (Kanisius)
“Sifat cinta sama seperti sifat air dalam tanah. 
Apabila anda tidak cukup menggali, yang anda peroleh adalah air yang keruh. 
Apabila anda cukup menggali, yang anda peroleh adalah air yang bersih dan jernih.”


Sepenggal kisah: Toni baru saja lulus SMU dan memasuki Perguruan Tinggi. Suatu hari, ia baru mencari peralatan kuliah di sebuah toko. Ia ditemani pacarnya sejak SMU, Shania. Setelah berbelanja mereka hendak pulang. Waktu Toni men-starter mobilnya ia baru sadar bahwa bensin hampir habis dan ia tak mempunyai uang tunai. Ia bilang pada Shania untuk menunggu di mobil sebentar karena ia akan mengambil uang di bank yang ada di seberang jalan tidak begitu jauh dari situ. Toni masuk bank dan seketika lehernya disekap. Ia segera sadar bahwa bank itu sedang dirampok tiga orang penjahat. Toni mencoba melawan, tapi sebuah tembakan menghabisi geraknya. Toni terkapar. Para penjahat kemudian kabur membawa hasil rampokannya.

Shania melihat orang-orang itu keluar dari bank, dan heran mengapa pacarnya tidak keluar-keluar juga. Kasir bank kemudian bangkit dan segera melihat Toni yang terkapar bersimbah darah. ‘Ah, masih hidup’, serunya lalu memanggil polisi dan ambulans.

Pengajaran Magisterium tentang perumpamaan Orang Samaria yang baik hati


a. Katekismus Gereja Katolik
KGK 1825 Kristus telah wafat karena kasih terhadap kita, ketika kita masih “musuh” (Rm 5:10). Tuhan menghendaki agar kita mengasihi musuh-musuh kita menurut teladan-Nya (Mat 5:44), menunjukkan diri kita sebagai sesama kepada orang yang terasing (Bdk. Luk 10:27-37), dan mengasihi anak-anak (Bdk. Mrk 9:37) dan kaum miskin (Bdk. Mat 25:40, 45).

Santo Paulus melukiskan gambaran mengenai kasih yang tidak ada tandingannya: Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri: Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1 Kor 13:4-7).

KUNCI - Kuasa Untuk Nampakkan Cinta Ilahi

@Buku XXX Family Way (Kanisius)

Bisa saja kita memberi tanpa mencintai, 
tapi mustahil mencintai tanpa memberi. 
– It’s possible to give without loving, but it’s impossible to love without giving.

Suatu ketika, Lao Tsu sedang bepergian dengan murid-muridnya dan mereka menemukan hutan dimana para penebang pohon sedang menebangi semua pohon, kecuali sebuah pohon besar dengan ribuan cabang. Pohon itu begitu rindang hingga banyak orang bisa berteduh di bawahnya. Waktu murid-murid Lao Tsu disuruh bertanya kenapa pohon itu tak ditebang, para penebang berkata, “Pohon ini sama sekali tak berguna. Mau bikin apa dari pohon seperti ini karena setiap cabangnya penuh benjolan dan tidak lurus”. Waktu jawaban itu disampaikan pada guru, Lao Tsu tertawa. “Jadilah seperti pohon itu. Bila kau tampak cantik dan tanpa cacat benjolan kau akan menjadi komoditi di pasar. Jadilah seperti pohon yang tak ditebang ini yang meskipun kelihatan tak berguna, tapi sesungguhnya ia memberi kesejukan bagi banyak orang”.