Ads 468x60px

Pax et Bonum



Anselma Bopp


PROLOG
Ketika kita berbicara perihal para suster Fransiskanes, kerap yang spontan terbersit hanyalah “OSF” yang di Semarang dengan RS. Elisabeth dan Jakarta dengan Yayasan Marsudirininya. Tapi, ternyata, ketika kita memperbincangkan lebih mendalam tentang para suster Fransiskanes, ada pelbagai macam, dengan aneka bentuknya yang beraneka ragam. Salah satunya adalah Fransiskanes Pringsewu. Orang-orang Jakarta tidak jarang menyebut mereka  sebagai “Suster-suster Kampung Ambon” (FSGM: Fransiskanes dari Santo Georgius Martir). FSGM sendiri adalah sebuah kongregasi biarawati multi-nasional, dengan status Kepausan. Sejarah kongregasi ini juga sudah 150-an tahun lamanya, dengan Maria Anselma Bopp sebagai pendirinya dan negeri Jerman sebagai tempat karya pertamanya. 


SKETSA PROFIL
The surest way to heaven is:
to be simple, humble, and faithful in your duties.
Cara yang paling pasti untuk masuk surga adalah:
 menjadi sederhana, rendah hati, dan setia dalam pelbagai tugas.
(Maria Anselma Bopp)

La Verna! Sebuah nama rumah retret di daerah perbukitan Padangbulan, sekitar 3 kilometer dari Pringsewu yang berdiri megah sejak 1989 (nama La Verna sendiri merupakan salah satu puncak pegunungan Alpen di Asisi Italia, yang digunakan oleh St Fransiskus Asisi untuk bertapa). Ternyata, rumah retret  La Verna ini dikelola oleh para suster FSGM (Fransiskanes dari Santo Georgius Martir).

Adapun tanggal 4 Juni setiap tahunnya merupakan hari istimewa bagi para suster Fransiskanes Pringsewu, karena pada tanggal itu, mereka memperingati kedatangan para perintis mereka di Indonesia. Resminya kongregasi para suster ini bernama “Kongregasi Suster-Suster Fransiskanes dari Santo Georgius Martir Thuine. Dalam bahasa Jerman: “Kongregation der Franziskanerinnen VM. HI. Maertyer Georg”. Mengapa dalam bahasa Jerman? Yah, karena kongregasi para suster ini memang dirintis-dirikan pada tahun 1869 di Thuine, Jerman oleh seorang perempuan dari Jerman juga.

Tokoh pendiri kongregasi ini adalah Maria Anselma Bopp, yang terlahir pada tanggal 25 Agustus 1835 di Steinbach, Keuskupan Rottenburg, Jerman bagian selatan. Namanya pada waktu kecil adalah Pauline Bopp.

Pada tahun 1854, Pauline Bopp memasuki biara Suster-suster Kongregasi Salib Suci dan berkarya dalam pelbagai bidang karitatif di Strasbourg, Perancis. Setelah menjalani masa novisiat satu tahun lamanya, suster muda ini mengucapkan profesi pertamanya dengan nama Suster Anselma, tepatnya pada tanggal 19 Juli 1855.

Tak lama kemudian, Sr. Anselma bersama Sr Marianne, ditugaskan untuk melayani anak-anak terlantar di Thuine, sebuah desa kecil di barat laut Jerman. Di Thuine inilah, ternyata sudah sejak lama, Pastor John Gerard Dall, (pastor paroki St. Georgius Martir di Thuine) mendambakan supaya kehadiran Gereja bisa lebih banyak berguna bagi umatnya, terlebih dengan pelbagai karya kasih yang nyata, yakni membangun rumah singgah untuk anak-anak miskin, tersingkir dan banyak orang sakit.

Nah, berangkat dari adanya kesadaran akan cita-cita luhur pastor John Gerard Dall tersebut, maka dijiwai oleh Roh Kristus dan kepasrahan total akan rencana Allah sendiri, Sr. Anselma sepenuh hati membawa semuanya dalam doa dan proses pembedaan roh. Satu keyakinan imannya, yang terus digemakannya: “Our Lord has in everything. He does a good intention - Tuhan kita memiliki semuanya. Ia pasti mempunyai suatu rencana yang indah.”

Akhirnya, dalam semangat iman yang penuh ketaatan pun keterbukaan pada penyelenggaraan Ilahi, dan setelah mendengar dari semua sisi - audiatur et altera pars, Sr. Anselma dengan sadar memisahkan diri dari Kongregasi Salib Suci, untuk lebih optimal melayani rakyat Thuine, yang hidup dalam kemiskinan dan pelbagai keterbelakangan. Dengan penuh sukacita, ia mulai berkarya di antara banyak anak, remaja, orang lanjut usia, orang sakit, orang miskin, dan lain sebagainya. Satu jurus pastoralnya di tengah anak-anak miskin: “Joy is very important in the education and training of children - Kegembiraan sangat penting dalam pendidikan dan pelatihan anak-anak.”

Seiring waktu, pada tanggal 25 November 1869, atas dukungan Pastor Paroki di Thuine, John Gerard Dall, maka Sr. Anselma Bopp, bersama tiga orang temannya, yakni: Sr. M. Mauritia Eck, Sr. Yohanna Schmidt dan Sr. M. Susanna Fericks mengucapkan Kaul Pertama menurut Anggaran Dasar Ordo Ketiga Santo Fransiskus Asisi, di mana Sr.Anselma Bopp menjadi pendiri sekaligus pimpinan pertama kongregasi FSGM.

“Dalam komunitas, hendaklah para suster bersedia untuk saling membantu dan berbagi suka duka. Setiap suster boleh yakin bahwa ia termasuk dalam doa-doa dan kurban-kurban seluruh persekutuan besar kongregasi” (Konst.303). Komunitas baru yang dirintis oleh Sr Anselma Bopp ini memang mengadopsi Aturan Ordo Ketiga Santo Fransiskus, dengan misinya untuk menjadi siap sedia, dalam ketaatan penuh kepada panggilan Allah. Oleh karena spiritualitasnya berpusat pada Hati Kudus, maka pada awalnya kongregasi baru ini memutuskan mengambil nama “Suster-Suster Fransiskanes dari Hati Kudus”, namun karena sudah ada kongregasi suster yang menggunakan nama itu, maka Tahta Suci mengubahnya menjadi “Suster-suster Fransiskanes dari St. Georgius Martir” (FSGM). St. Georgius sendiri adalah orang kudus pelindung Gereja Paroki Thuine di Jerman, tempat karya pertama Sr. Anselma waktu itu.

Spiritualitas dasar para suster FSGM yang dirintis oleh Anselma Bopp ini ditunjukkan dalam Injil Yohanes 19:39: “Mereka akan memandang Dia yang telah mereka tikam” (Konst. No 105). Sikap memandang dan menimba dari sumber keselamatan yang berlimpah, yaitu hati Kristus sendiri, yang disalibkan dan ditinggikan, dinyatakan setiap hari dalam hidup doa dan pelbagai karya kasih mereka di belahan dunia ini: “Non enim judicavi me scire aliquid inter nos, nisi Jesum Christum et hunc crucifixum - Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan” (1 Kor 2:2)


Sedangkan inti kaul para suster FSGM yang coba dikembang-pancarkan oleh Anselma Bopp adalah penyerahan diri kepada Allah, yang dinyatakan secara istimewa dengan penyerahan seutuhnya kepada Hati Kudus Yesus. Adapun kongregasi ini kemudian dipersembahkan kepada Hati Kudus Yesus, pada tanggal 26 Mei 1907.
Adde parvum parvo, manus acervus erit. Tambahkan, sedikit demi sedikit, maka nanti akan menjadi tumpukan. Begitulah FSGM ini terus mekar-berkembang. Dari biara induk di Thuine, kongregasi suster-suster ini terus melebar-kembangkan sayap karyanya di pelbagai bidang: pendidikan, pastoral dan sosial. Sejak November 1869, mereka telah menyebar-pencar di seluruh Jerman ( Provinsi St Fransiskus); ke Belanda pada tahun 1875 ( Provinsi St Anthony ); ke Jepang pada tahun 1920 ( Provinsi St Maria); ke Amerika Serikat pada tahun 1923 ( Provinsi St Elizabeth); ke Indonesia tahun 1932 (Pringsewu, Lampung Selatan, Provinsi St Joseph); ke Tanzania, Afrika pada 1960 (Wilayah St Clare), Brasil pada 1972 (Wilayah Hati Kudus); ke Albania pada tahun 2000, Asisi pada tahun 2005, ke Roma pada tahun 2008 dan ke Kuba tahun 2011.



REFLEKSI TEOLOGIS

1.Anselma
    ANugerah bagi keSELamatan sesama
Give an encouraging word for every effort,
but not to please people.
Berikan kata yang mendorong untuk segala usaha,
tapi bukan untuk menyenangkan orang.”
(Anselma Bopp)

Para pengikut Maria Anselma Bopp, yang tergabung dalam kongregasi suster FSGM (Fransiskanes dari Santo Georgius Martir) hidup bersama dalam suatu persekutuan dengan peraturan dan cita-cita yang sama. Mereka berniat mempersembahkan seluruh hidup hanya untuk Tuhan, dalam pengabdian kepada sesama dalam segala kelebihan dan kekurangan yang ada, dalam segala perjuangan untuk setia kepada Allah. Secara sederhana, kalau saya bahasakan: mereka mau menjadi berkat bagi Tuhan dan semua orang lain. Nah, bagaimana, mereka bisa menjadi berkat bagi Tuhan dan bagi semakin banyak sesamanya? 

Disinilah, kita bisa mengingat-kenang nama pendiri para suster FSGM, yakni: Maria Anselma Bopp, yang akrab dipanggil Sr.Anselma. Bagi saya, Anselma bisa berarti: “ANugerah bagi keSELamatan sesama.” Ada tiga bukti bahwa mereka sungguh menjadi anugerah bagi keselamatan sesamanya, yakni “PDA”, antara lain:
-Puasa:
Demi cinta kasih Allah,
hendaklah saudara-saudari saling mengasihi,
sesuai dengan firman Tuhan:
Inilah perintahKu, yaitu supaya kamu saling mengasihi,
seperti Aku telah mengasihi kamu..”
(Bdk. Anggaran Dasar dan Cara Hidup Ordo Ketiga Regular St Fransiskus, Psl 7, No.23) 
   
Mereka jelas berpuasa dari hasrat duniawi setiap harinya. Bukti sederhananya, ada beberapa kaul (dalam bahasa populernya Yovie & The Nuno, “janji suci”), yang mereka ikrarkan, yakni:

1. Kaul Kemurnian. “Kemurnian yang dipersembahkan kepada Allah adalah suatu karunia ilahi yang hanya dapat kita hayati dalam sikap siap sedia bagi Tuhan, percaya pada sabdaNya, berharap akan pertolonganNya, dan menyatukan diri denganNya dalam doa dan sakramen“ (Konst. No 110). Yah, mereka berpuasa dari hasrat seksual dan intimitas akan sebuah hidup bekeluarga pada umumnya. Mereka hendak hidup perawan dan tidak menikah demi Kerajaan Allah. Yah, cinta kasihnya mereka berikan semata-mata untuk melayani siapa saja yang membutuhkan. Dengan mengikrarkan kaul kemurnian yang dipersembahkan kepada Allah, mereka melepaskan hak menikah dan mewajibkan diri untuk hidup berpantang sempurna, seperti ujaran Anselma, “ For my Lord nothing is too hard - Untuk Tuhan, tidak ada hal yang terlalu berat.

2. Kaul Kemiskinan. Mereka berpuasa dari hasrat dan kelekatan terhadap harta benda dunia. Mereka belajar hidup secara sederhana untuk dapat lebih melayani sesama yang membutuhkan dan tidak mencari kekayaan diri pribadi. Mereka senantiasa belajar untuk setia pada pelbagai hal sederhana. Sebuah nasehat tegas dari Anselma, “A humble sister who performs her work in a pure intention is dearer to me than a learned Sister who is proud of herself - Seorang suster rendah hati yang melakukan pekerjaan dengan sebuah niat yang murni adalah lebih berharga bagiku daripada suster yang membanggakan dirinya sendiri.” Yah, tersentuh oleh kasih Kristus yang tersalib dan terinspirasi oleh kesaksian iman St Fransiskus Asisi, Anselma dengan sukacita mengadopsi aturan Ordo Ketiga St Fransiskus, dan karena itu, semangat kemiskinan dan kesederhanaan menandai kehidupan para pengikutnya: "Aku menangis untuk Sengsara Tuhan kita Yesus Kristus, dan Aku tidak harus malu untuk pergi menangis ke seluruh dunia karena Allah." (St Fransiskus dari ‘Legenda Tiga Sahabat’).

3. Kaul Ketaatan. Mereka berpuasa dari ambisi, egoisme dan pelbagai kepentingan pribadi. Mereka belajar untuk menghayati ketaatan sebagai sebuah keutamaan kerendahan hati dan matiraga, seperti tampak dalam sebuah peringatan dari Anselma untuk para pengikutnya: “If a sister works in Holy Obedience, the whole Congregation will support her. If she is disobedient, she is left alone and has no success anymore – Jika seorang suster bekerja dalam semangat ketaatan yang kudus, maka seluruh kongregasi akan mendukungnya. Jika dia tidak taat, dia akan dibiarkan sendiri dan tidak akan mengalami keberhasilan lagi.”

Ketaatan ini sendiri identik dengan semangat kerendahan hati. Dalam pelajaran sekolah milik Yesus, bukankah kerendahan hati merupakan pelajaran yang pertama? “Belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati” (Mat 11:29). Suatu perbuatan kerendahan hati, yang dilakukan dalam rangka mengikuti Yesus, memiliki nilai yang jauh lebih tinggi secara tak terhingga, daripada pengetahuan dan ilmu yang dapat diberikan oleh dunia kepada kita. Dari semua kebajikan, kerendahan hati merupakan kebajikan yang pertama dan yang paling penting. Dia adalah dasar dan padanyalah bangunan dari kesempurnaan kita harus dibangun. Karena tanpa kerendahan hati, kita membangunnya di atas pasir, yang akan hancur menghadapi badai pencobaan. Yah, mereka jelas mau hidup dalam penghayatan sebagai orang yang rendah hati: siap taat dan siap diatur oleh pimpinan serta diutus kemana saja, dengan segala kerendahan hati. Bukankah tepat juga sebuah keyakinan lain dari Anselma: “Obedience works miracles - Ketaatan menghasilkan keajaiban.”

-Doa:
Sumber dan asal mula kerasulan adalah Kristus.
Oleh sebab itu, suburnya kerasulan kita
tergantung dari kesatuan yang hidup dengan Kristus yang bersabda,
“Barangsiapa tinggal dalam Aku, dan Aku dalam dia,
ia berbuah banyak, karena tanpa Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”
(Kons. No 404) 

Sadar akan banyaknya tantangan yang menghadang, Anselma bersama dengan para pengikutnya menyatukan mereka atas Providentia Dei, penyelenggaraan ilahi: “Engkau menaruh tanganMu atasku” (Mazmur 139:5). Disinilah, Anselma mengajak para pengikutnya untuk lebih semakin menyadari bahwa hidup dan pelbagai karya kasih mereka mengalir dari hidup doa yang bersumber pada Hati Kudus Yesus, sang Penebus. Dengan melihat Hati Kudus Yesus setiap hari, Anselma dan para pengikutnya menemukan sumber sukacita sejati dalam cara hidupnya. Jelasnya, di tengah ruwet renteng pelbagai karya dan warta, diperlukanlah persatuan yang mendalam dengan Hati Yesus Kristus. Mereka diperbaharui dan diperdalam melalui perjumpaan setiap hari dengan-Nya, entah dalam doa bersama dengan para anggota komunitas maupun dalam pelbagai bentuk doa pribadi. It is only through this union that we personally encounter the Merciful Love of Christ in order to make it visible to the world through our service.

Adapun enam komponen hidup doa mereka, antara lain: Ekaristi, Ibadat harian, penerimaan sakramen tobat, pembacaan Alkitab, ibadat jalan salib dan devosi pada Bunda Maria.

a.    Ibadat Harian: Empat kali sehari, mereka mendaraskan doa offisi (Ibadat Harian) dalam komunitasnya, dan mempersatukan diri bersama Yesus atas nama seluruh umat manusia: “Dengan berdoa Ibadat Harian, mereka memuji nama Allah bersama seluruh Gereja. Ini adalah sebuah doa Kristus, yang dalam Roh Kudus dan yang bersatu dengan Tubuh Mistik-Nya, yakni Gereja, menawarkan kepada Bapa-Nya, untuk senantiasa bersyukur dalam segala sesuatu” (Konstitusi 204).

b.    Ibadat Jalan Salib: Mereka juga mempunyai sebuah tradisi doa yang khas, yakni: “Cross  Prayer”. Yah, kalau St Fransiskus Asisi berdoa dengan tangan terentang persis seperti Yesus yang tersalib, mereka juga berdoa dalam posisi itu sebagai sebuah doa untuk penutupan dan menyerahkan diri kepada kehendak Allah. Berangkat dari tradisi Fransiskan, mereka senantiasa memuliakan penderitaan Kristus, terutama melalui meditasi, kontemplasi dan devosi pada ibadat Jalan Salib.

c.  Penerimaan sakramen tobat: Pertobatan adalah cara dimana mereka bertumbuh lebih dekat dalam cintanya yang sempurna kepada Tuhan, yang tereThe fullest expression of this conversion and repentance is the Sacrament of Penance.kspresikan secara utuh dan penuh dalam penerimaan Sakramen Tobat.Through this sacrament we experience first-hand the great mercy of God and the forgiving love of Christ which grants reconciliation. Melalui sakramen ini, mereka mengalami tangan pertama belas kasih Allah dan pengampunan kasih Kristus yang memberikan perdamaian.Therefore we receive the Sacrament of Penance often and make a daily examination of conscience. Oleh karena itu, mereka rutin menerima Sakramen Tobat dan sering melakukan pemeriksaan harian hati nurani. Bukankah Fransiskus Asisi juga mengutamakan pertobatan sebagai wujud kasih Allah yang nyata dalam Inkarnasi, Salib dan Ekaristi?

d. Ekaristi (Elok KArena kRIStus ada di haTI): Ekaristi Kudus dirayakan setiap hari. Mereka juga kerap berdoa di hadapan Sakramen Mahakudus, seperti misalnya yang mereka lakukan di Biara Induk di Jerman dan di Kapel Adorasi Ekaristi di Alton, Illinois, Amerika. Pada monstrans-nya, kerap tertulis kata-kata, "Veni Si Amas - Datanglah jika kamu mencintai". Praktek doa devosi dan adorasi ekaristi ini membawa mereka untuk setia datang mendekat dan semakin mencintai Tuhan. Mereka kerap “berjaga-jaga”: berdoa berdua-dua secara bergantian, siang dan malam di hadapan Sakramen Mahakudus, untuk meminta berkat Allah atas Gereja, kongregasi, dan seluruh umat manusia. “Jangan berkecil hati kendati kesulitan tampaknya sangat berat. Di saat-saat merasa tertekan, larilah kepada Hati Yesus yang Mahakudus, dan anda akan selalu dihibur. Jadilah pantas sebagai biarawati sesuai dengan panggilan anda yang agung, dengan memenuhi pelbagai kewajiban anda dengan setia” (Anselma, Mei 1875)    

e.  Devosi pada Bunda Maria: Keheningan batin, keheningan yang berakar, bertumbuh dan sepenuh hati dihayati oleh Bunda Maria, juga dihayati oleh Anselma dan para pengikutnya. Keheningan seperti teladan Maria membuka pikiran dan perasaan untuk  menerima kebijaksanaan dan kebaikan Tuhan dalam dirinya dan dalam segala ciptaan, untuk memberi semangat kerendahan hati serta cinta di hadapan sang sumber kehidupan. Kehadiran Tuhan melalui doa-doa bersama Maria, menjadikan hidup harian sebagai daya pengerak yang menyerupai Maria dan melalui Maria serupa dengan Putra ilahi-Nya.

f.   Pembacaan dan pendalaman Kitab Suci setiap hari, entah secara pribadi maupun bersama juga diterapkannya, supaya semakin mengakrabkan diri dengan hidup karya dan sejarah penyelamatan manusia yang dibuat oleh Allah sendiri.


-Amal
“Teach the children
that there is no heaven for the poor alone
and for the rich alone
but poor and rich are together in heaven
Ajarkan anak-anak bahwa
tidak ada surga bagi kaum miskin sendiri
dan untuk orang kaya saja
tapi miskin dan kaya bersama-sama di surga.”
(Anselma Bopp)

Seperti sebuah trilogi dengan tiga pilar pokoknya, pelbagai puasa dan doa menjadi lengkap jika berbuah dengan amal kasih bukan? Hal inilah juga yang dilaksanakan oleh para Suster FSGM. Selain puasa dan doa, mereka juga melakukan pelbagai karya-karya kasih kemanusiaan, yang bertujuan untuk memajukan masyarakat, baik dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial dan spiritual. Dalam bahasa visi mereka bersama, ditegaskan bahwa Anselma dan para pengikutnya terpanggil untuk memperjuangkan, membela, dan memelihara kehidupan secara menyeluruh.

Disinilah, Anselma mengajak para pengikutnya untuk berusaha membuat cinta Kristus yang penuh belaskasihan menjadi nampak nyata dalam karya pelayanan setiap harinya. Adapun beberapa reksa-karya pelayanannya, antara lain: pelayanan pendidikan, kesehatan, sosial, karya retret dan pelbagai reksa pastoral lainnya dengan penuh bela rasa. Berbela rasa atau compassion sendiri semakin sering digunakan sejak 10 sampai 15 tahun yang lalu. Intinya sederhana: seorang yang berbela rasa berani mengatakan: “masalahmu adalah masalahku, kecemasanmu adalah kecemasanku, kegembiraanmu adalah kegembiraanku”. Dalam bahasa Konsili Vatikan II: “Kegembiraan dan pengharapan, kecemasan dan keresahan masyarakat adalah kegembiraan dan kecemasan murid-murid Kristus juga”. Bukankah dalam Lukas 6:36, Yesus sendiri berpesan, “Hendaklah kamu berbelarasa seperti Bapamu di surga berbelarasa”. Dalam teks ini bunyinya adalah bermurah hati, tapi sebetulnya kata yang paling tepat untuk bermurah hati adalah belarasa.

Menyitir sebuah nasehat Anselma yang lain “Trials have to come for everybody in every state. Pelbagai ujian pasti datang untuk semua orang di setiap tempat”, maka para pengikutnya dalam kongregasi FSGM yang berkarya di aneka tempat terus diajak untuk mencari tahu kehendak Tuhan yang aktual-kontekstual dengan semangat karya dan hidup yang berbelarasa. Misalnya, menanggapi kebutuhan zaman, para suster Provinsi Jerman memulai misi baru di Albania, di mana agama ditekan selama hampir satu abad. Di Amerika, kerasulan perawatan kesehatan diperluas demi hidup sesama yang lebih baik. Pelbagai upaya kontekstual ini  menjawab seruan Paus Yohanes Paulus II perihal daya kreatif dalam karya: "Kelompok hidup bakti, tidak bisa tidak pasti merasakan adanya keharusan untuk terus berkarya, dengan kreativitas Roh Kudus, untuk lebih mewarnai dunia dengan bentuk-bentuk baru cinta kasih pewartaan yang lebih efektif, yang sesuai dengan kebutuhan jaman"



EPILOG
“Semua yang indah, semua yang luhur;
terlena di hati citra dan keagunganMu.
Semua yang indah, semua yang luhur;
terlena di hati, penuh dengan cintaMu….”

Syair dari sepenggal lagu “Semua Yang Indah”, karya M.T. de Rosari di atas kerap dinyanyikan oleh para suster muda FSGM dalam latihan rutin menyanyikan lagu dengan iringan musik arumba. Lagu dengan iringan arumba yang indah itu telah menjadi bagian dari album video klip “Kidung Indah” yang diproduksi oleh para suster FSGM pada tahun 2007 (bersama dengan VCD “Fiat Voluntas Tua”). Disinilah, Sr Maria Anselma Bopp bersama para pengikutnya meyakini bahwa mereka telah dipanggil oleh Allah sang sumber keindahan dan sumber keluhuran untuk menjadi sebuah ‘kidung indah’, dengan cara mengambil bagian aktif dalam membangun Gereja, yang lahir dari Hati Kristus yang Tersalib.

Disinilah, kita juga bisa mulai mengambil bagian aktif dalam membangun gereja basis kita masing-masing secara lebih indah dan sekaligus lebih luhur (keluarga dan lingkungan sekitar), tentunya dengan berpegangan pada sebuah prinsip dasar Anselma Bopp sendiri, yakni: “We must under all circumstances hold on to Love of Poverty, Joy in Work, and Faithfulness in Prayer - Kita harus senantiasa berada dalam sebuah keadaan yang berpegang pada cinta terhadap orang miskin, sukacita dalam karya, dan pastinya  hidup doa yang penuh keyakinan iman.” Dalam bahasa saya, tiga hal ini baik jika kita buat juga secara sederhana, dari diri kita masing-masing, yakni: “berbagi pada sesama (terlebih yang miskin), bersyukur dalam karya dan bertekun dalam hidup doa.  Yah, tentunya tiga hal ini membuahkan apa yang kerap disebut para pengikut Fransiskus Asisi: Pax et Bonum. Damai dan Kebaikan!


ASPIRASI
Be always faithful to holy poverty and simplicity
Setialah selalu kepada kemiskinan suci dan kesederhanaan.
(Maria Anselma Bopp)

“Dengan semangat Santo Fransiskus dan Muder Anselma, para suster ingin menampakkan cinta kasih Allah yang penuh kerahiman, bersama dengan para pembela kehidupan; karena melihat adanya alam ciptaan yang dirusak, anak-anak yang ditinggalkan, orang muda-orang sakit-orang miskin dan mereka yang membutuhkan pertolongan.”
(Sr M.Julia Juliarti FSGM)

0 komentar:

Posting Komentar