Ads 468x60px

Tampilkan postingan dengan label Sastraloka (Puisi). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastraloka (Puisi). Tampilkan semua postingan

SEMPER GAUDE (Bersyukurlah Senantiasa)


Kalau mau jujur, sebenarnya hidup kita adalah undangan untuk mudah tersenyum, bukan?
Bagaimana kita tidak tersenyum sementara bagi kita telah ditumbuhkan taman-taman yang menyenangkan, dan kebun yang hijau, yang padanya terdapat pohon-pohon yang indah menyegarkan, dan tetumbuhan yang penuh keindahan.

Via Dolorosa – Sandy Patty

Sepanjang Via Dolorosa, di Yerusalem pada hari itu,
Para prajurit mencoba menguak jalan sempit.
Tapi kerumunan berdesak untuk melihat
Seorang dihukum mati di Kalvari.
Dia berdarah dari pemukulan,
garis-garis luka pada punggung-Nya.
Dan Dia mengenakan mahkota duri di atas kepala-Nya,
Dia menanggung dengan setiap langkah
Cemoohan dari orang-orang yang berteriak untuk kematian-Nya.
Sepanjang Via Dolorosa, jalan salib derita,
Seperti anak domba, datang Mesias, Kristus Raja.
Ia memilih untuk menjalaninya demi kasih setia-Nya,
Untuk anda dan saya.
Sepanjang Via Dolorosa, menuju Kalvari.
___________________________________

Pada Kaki Salib-Mu


Pada kaki salibMu, Yesus, ku berlindung;
Air hayat Golgota, pancaran yang agung.
SalibMu, salibMu yang kumuliakan
Hingga dalam surga kelak ada perhentian.
Pada kaki salibMu, kasihMu kuterima;
Sinar bintang fajar, Terang yang memberi cahaya.
SalibMu, salibMu yang kumuliakan
Hingga dalam surga kelak ada perhentian.
Pada kaki salibMu, kuingat kurbanMu,
Dalam jalan hidupku kukenang selalu.
SalibMu, salibMu yang kumuliakan
Hingga dalam surga kelak ada perhentian
Pada kaki salibMu, ‘ku tetap percaya,
Hingga dalam sorga kelak jiwaku bahagia.
SalibMu, salibMu yang kumuliakan
Hingga dalam surga kelak ada perhentian

Tuhan adalah penyayang dan pengasih


Tuhan adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.
Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam.
Tidak dilakukanNya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalasNya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita.

Tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setiaNya atas orang-orang yang takut akan Dia, 
Sejauh timur dari barat, demikian dijauhkanNya daripada kita pelanggaran kita.
Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.
Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu.
(Mazmur 103, 8-14)


Ibu Sara Djudjuk Djuwariyah Srimulat

(Jumat Pertama, 6 Febr 2015, jam 15.10)

“Saat seseorang berpulang, segumpal awan menjelma menjadi malaikat, dan melayang ke surga meminta Tuhan untuk meletakkan setangkai bunga di atas sebuah bantal.

Sang burungpun menyampaikan pesan itu ke bumi dan melantunkan seuntai doa yang menyebabkan hujan menangis.

Mereka memang harus pergi, tapi mereka tidak benar-benar pergi.
Roh mereka di atas sanalah yang menidurkan matahari, membangunkan rerumputan dan memutar bola dunia.

Memento mori - Ingatlah (kau) akan mati.

Bukankah tepat kata pemazmur: "hidup manusia itu seperti rumput: pagi hari tumbuh, siang hari berkembang, sore hari menjadi kering, layu dan mati?"(Maz 90: 6).

Disinilah saya tampilkan kembali sepenggal puisi tentang indahnya kematian bersama doa dan dukacita untuk rekan imam yang meninggal tadi pagi di RS Medistra, Rm F. Kuswardianto :

P A S – KAH



Bila kita enggan memasuki malam
bagaimana mungkin kita bangun menatap menyingsingnya fajar.

Bila kita enggan terpejam dalam tidur dan terlena dalam mimpi
bagaimana mungkin kita menikmati suka cita mentari pagi.

Tidur adalah semacam
kematian mini
yang berakhir di nafas pagi.

Mati adalah semacam tidur yang panjang dan lama
dalam dekap hangat pelukan Allah.

Dan fajar menyeruak cakrawala
setiap jiwa
sebab janji Allah adalah kehidupan bukan kematian
sebab cuma melalui mati orang
mencicipi hidup abadi.

Kepada Peminta-minta


@ Chairil Anwar 


Baik, baik, aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku.

Jangan lagi kau bercerita
Sudah tercacar semua di muka
Nanah meleleh dari muka
Sambil berjalan kau usap juga.

Seorang Lelaki yang Dihukum Mati

Sebutir peluru menembus lambung kirinya. Darah segera mengalir dari lubang yang ditinggalkannya. Lelaki muda yang penuh luka itu terhuyung dan terempas ke tanah bebatuan. Satu, dua tendangan masih melayang mampir ke mukanya sebelum akhirnya ia hembuskan nafas penghabisan. Ia mati mengenaskan.
* * *
Lelaki itu memang pantas mati, bahkan dengan cara yang paling keji (disiksa, dipukuli, dicambuki, dan ditembak mati). Kurasa itu hukuman yang tepat untuk lelaki seperti ia ini. Lelaki yang tak tahu diri. Mengatakan bahwa ialah pemegang kebenaran tapi ketika ditanya apa itu kebenaran, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Pembohong! Penipu! Hanya lelaki rendahan yang ingin menghancurkan tatanan yang telah beribu tahun ada. (bahkan pada sebuah kesempatan, ia mengatakan hanya butuh tiga hari untuk membangun sebuah dunia…..ah, betapa sombongnya lelaki itu, ingin rasanya aku sobek mulutnya yang menebar kesombongan itu.)

“Danti Kukulwati”

Ini hanyalah sebuah dongeng yang biasa dikisahkan anak-anak kepada ibunya sebelum sang ibu merebahkan tubuhnya di peraduan. Dan, pelan-pelan—sambil memeluk boneka kesayangan—sang ibu hanyut dalam lelap impian.

“kepada ibu, kau hanya menceritakan dongeng tentang negeri-negeri yang jauh dan dingin bersalju: cinderella, thumbelina, Alice in wonderland, emperor’s newsuit dan lady mermaid. Tidak adakah dongengan indah tumbuh dari negeri tropis yang hangat, Nak?”

“Negeri-negeri jauh, salju dan laut biru selalu menyimpan eksotisme tersendiri, Bu. Sementara negeri tropis lebih banyak menyimpan sejarah berdarah. Justru karena kita begitu dekat dengannya. Tetapi jangan risau Bu, karena keindahan adalah milik semesta. Ia ada di mana-mana. Di negeri dingin bersalju atau di negeri permai dengan nyiur melambai. Bukankah wangi bunga-bunga padma juga lebih sering ditemukan di atas lumpur rawa-rawa?”

SILENT SCREAM of A BABY...

Dear mommy, 
I am in Heaven now, sitting on God's lap.
He loves me and cries with me
For my heart has been broken.
I so wanted to be your little girl.

I don't quite understand what has happened
I was so excited when I began realizing my existence.
I was in a dark, yet comfortable place.
I saw I had fingers and toes. I was pretty far along in my developing,
yet not near ready to leave my surroundings.

I spent most of my time thinking or sleeping.
Even from my earliest days. I felt a special bonding between you and me.

Show Me Thy Way


Jikalau engkau tidak sabar, 
duduklah dengan tenang dan bicaralah dengan Ayub.
Jikalau engkau agak sedikit keras kepala, 
pergi dan temui Musa
Jikalau engkau mulai kecut, 
pandanglah baik-baik kepada Elia.
Jikalau tidak ada nyanyian dalam hatimu, 
dengarkanlah Mazmur Daud
Jikalau engkau seorang yang suka peraturan, 
bacalah tentang Daniel
Jikalau engkau bertambah kotor, 
pergunakanlah beberapa saat dengan Yesaya.
Jikalau imanmu tampak menurun, 
bacalah tentang Paulus.
Jikalau engkau menjadi malas, 
pelajarilah tentang Yakobus
Jikalau engkau tidak dapat memandang Masa Depan, 
naiklah anak tangga Wahyu 
dan pandanglah sekejap TANAH PERJANJIAN.

Kumpulan Relung Karung Puisi Soe Hok Gie


Jadilah saja belukan.
Tapi belukan terbaik yang tumbuh ditepi danau.
Kalau kau tak sanggup menjadi belukan.
Jadilah saja rumput.
Tapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan.
Tidak semua jadi kapten.
Tentu harus ada awak kapalnya.
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu.
Jadilah saja dirimu, sebaik-baiknya dirimu sendiri



Something coming …

Something coming …
Viens.
Something unforeseeable and incomprehensible
Viens.
Tout autre …
Let every one say,
Viens
To every gift,
Viens, oui, oui.
Amen
“Sesuatu datang …
Datanglah!
Sesuatu yang tak teramalkan dan tak terpahamkan
Datanglah!
Yang Sama Sekali Lain
Biarkan setiap orang berkata,
Datanglah!
Kepada setiap pemberian,
Datanglah! Ya, ya.
Amin.”
(The Prayers and Tears of Jacques Derrida)

Qui habet aures audiendi audiat

Kematian kerap menjadi saat pelepasan, seperti kupu kupu yang terbang. Cinta sejati tak pernah lapuk oleh kekejaman, atau kekerasan, oleh tanah atau kuburan. Cinta itu akan terbang, seperti sepasang kupu-kupu, hilang dan lepas ke langit tinggi, bebas dan abadi. (Sebuah penggalan novel cinta Tingkok kuno, Sam Pek Eng Tay.)


Qui dormit non peccet/peccat
Barang siapa tidur, dia tidak berdosa.
Qui habet aures audiendi audiat
Barang siapa yang bertelinga, hendaklah dia mendengar.
Qui rogat, non errat.
Barang siapa bertanya, dia tidak akan melakukan kesalahan.
Qui tacet consentit
Barang siapa diam, berarti ia setuju
Qui scribit, bis legit
Barang siapa menulis, ia membaca dua kali

Ars Longa Vita Brevis

PADA MULANYA ADALAH SENI (n)
Jangan tanggung jangan kepalang,
Bercipta mencipta,
Bekerja memuja,
Berangan mengawan….

Ya, pada mulanya adalah hari Senin malam, 29 Oktober 2012, kami berkumpul bersama di ruang tengah pastoran St Maria Fatima Sragen dengan segelintir orang, bersama-sama mencoba urun-rembug mengumpul-tampilkan ide spontan tentang sebuah acara kultural pada awal bulan di akhir tahun 2012 ini. Selain berada dalam bingkai besar Tahun Iman dan HUT Gereja St Maria Fatima Sragen yang ke-55, adapun urun-rembug ini bisa jadi berangkat dari pertanyaan: Jika karya seni budaya, yang dianggap sebagai ekpresi dari persepsi imanik serta impresi estetik, bertugas menjelaskan apa yang ada dalam diri manusia dan alam secara universal di sepanjang waktu dan di semua tempat (pandangan Aristoteles), merupakan cermin realitas sekaligus rekaman cita masyarakat (pandangan William Philip), dan juga merupakan sarana manusia untuk kesadaran diri (pandangan Marxian), mengapa dunia seni budaya tetap saja merupakan dunia yang terpencil dan diabaikan? Mengapa ia seakan-akan nampak sebagai dunia yang tidak berhubungan dengan orang banyak? Mengapa ia seolah-olah nampak sebagai makhluk yang “la yamutu wa la yahya” (tidak mati tetapi tidak nampak sebagai makhluk yang “giras“)?[1]
Seiring waktu dan sejumput pertanyaan di hari Senin malam itu, tertulislah beberapa usulan tema yang coba kami lempar-gempar di forum: “SIM-Sragen In Motion, SAF-Sragen Art Festival, GBS-Gelar Budaya Sragen, PBS-Pekan Budaya Sragen, MAF-Marfati Art Festival, FSS-Festival Seni Sragen”, dan satu usulan dari orang muda, “Start-Sragen fesTival ART.” Dari ketujuh usulan tema itu, terlontarlah sebuah masukan supaya tidak disalah artikan pihak lain, alangkah lebih baik jika tidak mengatas-namakan wilayah Sragen.
Eureka!!!……di hari Senin malam itulah, tiba-tiba kami teringat-kenang sebuah ungkapan latin, “Ars longa vita brevis,” yang kalau diartikan secara harafiah, “Hidup manusia begitu singkat, namun karya seni yang dihasilkannya akan abadi.” Dalam bahasa Sragenan: “–SENI TAN WINATES, GESANG MENIKA RINGKES”. Itulah tema umum Gelar Budaya yang akhirnya disepakati forum urun-rembug pada sebuah malam di hari Senin, penghujung bulan Oktober kemarin.[2]  Satu hal yang pasti: bukankah hidup keseharian dan hidup beriman juga mesti dihadapi dengan common sense, dan wujud seni (lukis, tari, teater, cerpen, film dsbnya) adalah refleksi kehidupan dan keberimanan dengan akal sehat dalam pelbagai kewajaran dan sikap yang rileks?
Ungkapan atau semacam aforisma “Ars longa vita brevis” yang menjadi tema Gelar Budaya ini sendiri ditulis oleh Hippocrates, seorang dokter Yunani kuno yang hidup di sekitar abad ke 5 SM. Hippocrates sering dianggap sebagai Bapak Kedokteran karena aneka pemikirannya mengenai kedokteran yang cukup maju untuk jamannya: Ia menganggap bahwa penyakit disebabkan oleh gabungan berbagai faktor seperti lingkungan, makanan, dan gaya hidup yang buruk dan bukan karena hukuman tuhan atau dewa-dewa; Ia juga meyakini proses penyembuhan alamiah seperti istirahat yang baik, makan yang sehat, udara segar, dan kebersihan; Ia juga mengamati bahwa derajat parahnya suatu penyakit berbeda-beda dari orang ke orang dan seseorang dapat menghadapinya lebih baik dari yang lain.

Sebenarnya, “Ars longa vita brevis” yang adalah pembuka dari buku kompilasi ungkapan Hippocrates, kalau dilihat lebih mendalam, tidak ada hubungan kait-pautnya dengan keabadian karya seni dan umur manusia.  Aforisme “Ars longa vita brevis” lebih dimaksudkannya dalam konteks bahwa luasnya ilmu pengetahuan (yakni:teknik kedokteran) tak cukup dibandingkan dengan umur manusia yang terlalu pendek untuk menguasainya (“Ars” yang berarti seni, sebenarnya  merupakan terjemahan dari bahasa  Yunani, yakni: τέχνη (techne) yang berarti “teknik” atau “kriya,” dan bukan “seni” yang mengacu pada seni murni. Bila kita membaca aforisme ini secara lebih lengkap, makna yang ingin disampaikan Hippocrates akan lebih jelas:
Ars longa,
vita brevis,
occasio praeceps,
experimentum periculosum,
iudicium difficile.

Teknik luas,
Hidup singkat,
Kesempatan pendek,
Pengalaman penuh bahaya,
Penilaian sulit.

Dalam empat baris dan 10 kata ini, Hippocrates ingin mengatakan bahwa “Umur manusia sangat pendek namun teknik [kedokteran] begitu luas; waktu yang tersedia demikian singkat dan banyak rintangan untuk memperoleh pengalaman; sulit untuk memperoleh penilaian yang objektif di atas prasangka.”
Lepas dari penjabaran aforisme “Ars longa vita brevis” di atas, satu hal yang perlu diperHATIkan bahwasannya, tidak seperti motto sebuah perusahaan film Metro Goldwin Mayer, Ars gratia artis – Seni untuk seni”, Gelar Budaya dalam rangka Tahun Iman dan HUT Gereja St Maria Fatima Sragen, yang berlangsung selama sepekan di pelataran Gereja dan sekolahan ini juga hadir untuk melibat-kembangkan semakin banyak potensi budaya lokal sekaligus mengajak umat beriman semakin berbudi-daya (berbudi sekaligus berbudaya) dalam membangun dinamika dan semangat iman umat, serta secara khusus dalam membangun-kembangkan Taman Doa dan Goa Maria Ngrawoh. Tak lupa, terimaKASIH juga pada para panitia urun-rembug, rekan penampil dan pekerja seni serta para undangan dan pastinya semua umat beriman di Paroki St Maria Fatima Sragen.
Tuhan memberkati dan Bunda merestui. Fiat Lux! Jadilah Terang (Kejadian 1:3)
Sragen, 10 Nov 2012
Salam interupsi
Rm.Jost Kokoh Prihatanto Pr

[1] Keadaan seperti ini, mengutip Goenawan Muhammad dalam esei “Dengan Minoritas Yang Tak Tepermanai” , nampaknya tidak hanya berlaku bagi dunia sastra, tetapi juga terjadi pada dunia seni rupa, seni pertunjukan, seni lukis, musik dan dunia seni lainnya. Dalam esei tersebut Goenawan Muhammad, dengan sedikit menghibur, mengatakan bahwa: jumlah bukanlah perkara penting. Ia mengambil contoh Juan Ramon Jimenez yang mempersembahkan sebuah kumpulan puisinya bagi “minoritas yang tak tepermanai”.
[2] Apa itu budaya? Dari kata Latin cultura, kultur atau budaya yang awal mulanya menunjuk pada pengolahan tanah, perawatan dan pengembangan tanaman atau ternak, dalam perjalanan waktu istilah ini berevolusi menjadi aneka macam gagasan yang berporos pada hal-ihwal keunikan adat kebiasaan, cara hidup suatu masyarakat. Menurut Raymond Williams, ada tiga arus penggunaan istilah budaya, yaitu: 1) Yang mengacu pada perkembangan intelektual, spiritual, dan estetis dari seorang individu, sebuah kelompok atau masyarakat. 2) Yang mencoba memetakan khazanah kegiatan intelektual dan artistik sekaligus produk-produk yang dihasilkan (film, benda-benda seni, teater). Dalam penggunaan ini, budaya kerap diidentikkan dengan istilah “Kesenian” (the Arts) dan 3) Untuk menggambarkan keseluruhan cara hidup, berkegiatan, keyakinan-keyakinan, dan adat-kebiasaan sejumlah orang, kelompok, atau masyarakat. Fredric Jameson dalam Postmodernism or, The Cultural Logic of Late Capitalism (1991), melihat budaya sebagai ranah yang mulai kehilangan otonominya karena dihancurkan oleh logika kapitalisme fase akhir. Budaya tidak dengan sendirinya menghilang saat otonominya digugat atau diintervensi daya-daya kapitalis. Sebaliknya, ia malah meledak. Maksudnya, budaya menyebar dan merambah alam sosial, sampai pada titik di mana segala sesuatu dalam hidup sosial kita – dari nilai ekonomi dan kekuasaan negara sampai pada praktek dan struktur paling dasar dari kejiwaan itu sendiri- bisa dikatakan telah dibaptis dalam nama ‘budaya’.


Ubi fumus, ibi ignis.
Di mana ada asap, di sana ada api.
Ubi mel ibi apes.
Di mana ada madu, di sana ada lebah.
Ubi bene, ibi patria.
Di mana seseorang merasa betah, di sana tanah airnya.
Ubi concordia, ibi victoria.
Di mana ada keselarasan, di sana ada kemenangan.
Ubi dubium, ibi libertas.
Di mana ada keraguan, di sana ada kebebasan

HER STORY : Sekilas Pintas

Sudahkah kita juga membaca riwayat hidup mereka dalam Kitab Suci?

1. Anna Yang berdoa di kenisah seumur hidupnya Luk 2:37.

2. Deborah Hakim sekaligus imam dan panglima perang Hakim-Hakim 4; 5.

3. Dorcas, Ibu yang bijak, sigap membantu para rasul. Kisah 9:36

4. Elisabeth, sepupu Maria Percaya bahwa Tuhan pasti menolong. Orang pertama yang terpesona dengan ‘Salam Maria’ Luk 1:6,41-45

5. Esther Setia pada iman Ester. 4:15-17.

Brothers of The Faith


In Christ there is no east nor west,
In Him no south or north;
But one great fellowship of love
Throughout the whole wide earth.

In Him shall true heart everywhere
Their high communion find;
His service is the golden cord
Close binding all mankind.

Join hands, then, brothers of the faith,
Whate'er your race may be.
Who serves my Father as a son
Is surely kin to me.

In Christ now meet both east and west,
In Him meet south and north;
All Christly souls are one in Him
Throughout the whole wide earth.

Va’ dove ti porta il cuore.....


Dan kelak, di saat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu
dan kau tak tahu jalan mana yang harus diambil,
janganlah memilihnya dengan asal saja,
tetapi duduklah dan tunggulah sesaat.
Tariklah nafas dalam-dalam, dengan penuh kepercayaan,
seperti saat kau bernafas di hari pertamamu di dunia ini.
Jangan biarkan apapun mengalihkan perhatianmu,
tunggulah dan tunggu lebih lama lagi.
Berdiam dirilah, tetap hening, dan dengarkanlah hatimu.
Lalu ketika hati itu berbicara,
beranjaklah, dan pergilah ke mana hati membawamu….Va’ dove ti porta il cuore.....

"Puisi Kusni Kasdut"


Haru – biru kehidupan adalah perlawanan tanpa penyesalan
Kesalahan hanyalah lawan kata kebenaran
Selanjutnya engkau pasti tahu
Tahun 1976 ku bertobat
Semua yang ada tak selalu terlihat
Jarak antar saat begitu dekat
Situasilah yang memaksa dan membuat kuberlari
Rindukan terang pada pekat malam kuterjang
Serpihan paku, kaca dan kawat berduri
Bulan tak peduli, turuti kata hati
Hati menderu-deru, belenggu memburu
Beradu cepat dengan peluru
Kusadari hidupku hanya menunggu suara 12 senapan dalam satu letupan
Satu aba-aba pada satu sasaran yaitu ajalku…

Sayap burung berkepak,
menembus embun pagi,
terbang menerjang keheningan gerbang dini,
terperanjat mendengar derap langkahnya yang begitu tenang ,
melangkah menuju keabadian.

Tuhan memberkati dan Bunda merestui.
Fiat Lux!