Ads 468x60px

Tampilkan postingan dengan label Pustakaloka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pustakaloka. Tampilkan semua postingan

Kisah Anak Yang Hilang

Adapun sebuah buku "The Return of The Prodigal Son" yang membedah bacaan Injil hari ini tentang "anak yang hilang."

Sang penulis, Henri Nouwen mengkontemplasikan secara mendalam tentang anak yang hilang dari lukisan Rembrandt dan “lukisan” St Lukas (15:11-32) dengan 3 tahapan yang kerap kita alami juga, antara lain:

1. Anak Bungsu.
Kita menjadi anak yang "hilang", yakni ketika kita "sibuk", pergi ke banyak tempat dengan banyak orang dan aneka gerakan, tapi pada akhirnya, karena kekurang hati-hatian, "sayap" kita menjadi rapuh, kita jatuh dan merasa lelah, letih, “habis” dan tidak mempunyai "rumah".
Kita rindu pulang dan menantikan sambutan hangat Sang Bapa.

Tiga Tingkatan Kasih

Dari buku "Christian Perfection and Contemplation: According to St.Thomas Aquinas and St.John of the Cross", serta tulisan St.Thomas Aquinas (Summa Theology, II-II, q.34, a.9), maka kita dapat melihat 3 tingkatan kasih:

a. Tahap pemula (beginners/ purgative).
Pada tingkatan ini, orang berusaha agar tidak jatuh ke dalam dosa berat dan berusaha untuk melawan kelemahan dan kecenderungan berbuat dosa (concupiscences). Dalam tahap ini, orang masih berfokus pada bagaimana caranya untul menghindari dosa-dosa yang dulunya sering dilakukan.

HERSTORY

Inilah salah satu judul buku saya yang berangkat dari kesadaran bahwa sejarah dunia dan gereja juga dibentuk oleh tokoh2 perempuan yang terselip sebagai “her-story” diantara mainstream “his-story”.

Ada banyak pribadi luar biasa yang sebenarnya lebih daripada seorang Kendedes, Srikandi/Dewi Shinta pada masanya, seperti yang diangkat dalam bacaan Injil hari ini: "Magdalena, Yohana, Susana dkk melayani Yesus dan para murid dengan harta kekayaan mereka."

Namaku Maria


KATA PENGANTAR BUKU BARU
" Namaku Maria - Susterku Guruku (Kanisius, 2014)
@ Sr Maria Ferdinanda Ngao OSU,
Kepala Sekolah SMA Regina Pacis Ursulin Surakarta).

" Namaku Maria!"
“Hendaklah kita mencari rahmat, dan marilah kita mencarinya melalui MARIA.”

Maria! Ia adalah nama seorang wanita dan pada umumnya banyak wanita ingin tampil cantik, bukan? Tapi, apa itu cantik? Jawabannya kerap sama: Cantik itu dari luar dan dari dalam. Kalau hanya dari luar? Tidak utuh cantiknya. Kalau cuma dari dalam? Kurang juga cantiknya. Pilih yang mana? Kalau boleh sih ... keduanya, cantik luar dan dalam, bukan? Dalam istilah setiap kontes Miss Universe, memiliki “3 B” – “Brain Beauty Behaviour.”

What’s So Amazing about Grace?

Dalam buku: ‘What’s So Amazing about Grace?’ – Philip Yancey menceritakan tentang kisah seorang pelacur yg sudah ketularan penyakit kotor, sehingga tubuhnya rusak dan tidak bisa menjajakan sex lagi dan akhirnya ia jatuh miskin, tetapi di lain pihak ia pun sudah kecanduan berat alkohol, dengan mana ia selalu membutuhkan uang untuk membeli minuman.

Melalui isakan tangis dan air mata ia mengaku, bahwa ia telah menjual dan menjajakan bayi perempuan satu2nya yg baru berusia dua tahun kepada para pria (pedophil) yg mempunyai kelainan seksual! Ia terpaksa harus melakukan ini untuk membiayai kebiasaannya ber-mabuk2an. Seorang Ibu telah tega menjual bayi anak satu2nya yg masih imut2 hanya untuk membeli minuman.

FX Hadi Rudyatmo, Biography Walikota Surakarta



Buku "FX" : Family-Fraternity-Faith, karya Romo Jost Kokoh
SOLO (Spirit Of Love Others); Sketsa Walikota Surakarta
(Buku Biography FX. Hadi Rudyatmo, Walikota Surakarta)

“SOLO”, “Spirit Of Loving Others”
Ad astra per aspera - Sampai ke bintang dengan jerih payah!

”Bagi saya tidak penting berkantor di manapun. Yang penting bekerja!” Inilah sepenggal kalimat dari “FX” Hadi Rudyatmo, Sang Walikota Solo “berwajah Rambo berhati Bimbo”, yang kerap berperan sebagai Gatotkaca dalam kirab budaya dan kini menjadi ikon sekaligus idola baru warga pengunjung Car Free Day (CFD) di kota Solo. Pastinya: Selamat datang di “SOLO”, “Spirit Of Loving Others”

“SOLO”, “Spirit Of Loving Others” adalah sebuah era blusukan,  yakni era horisontal yang selalu “MENDENGAR – MELIHAT dan – BERBUAT, karena ruang dan uang seharusnya memang dibangun dengan “bahasa kemanusiaan, bahasa kasih dan bahasa kejujuran”.

“SOLO”, “Spirit Of Loving Others” adalah sebuah era bahasa, yang mengurangi  instruksi tapi banyak mendelegasi, yang mengurangi perintah tapi banyak berkomunikasi.

“SOLO”, “Spirit Of Loving Others” adalah sebuah era pelayanan dan infra-struktur, dimana pemimpinnya:
Ketika ada masalah – dia ada di paling depan.
Ketika ada kerja - dia ada di tengah-tengahnya.
Ketika ada kemakmuran - dia ada di paling belakang.

Karena pemimpin “SOLO”, “Spirit Of Loving Others”
harusnya menderita dan bukan menikmati,
harusnya penuh cinta dan bukan sekedar kata kata hampa, karena cinta akan menghasilkan sesuatu,
sementara kata - kata kerap hanya menghasilkan alasan.

EPILOG Buku “FX” Sketsa Walikota Surakarta


“Ite inflammate omnia 
Go, set the world alight!”. 
"Pergilah dan kobarkanlah api Tuhan bagi dunia!"

28 - 10 - 2013.
Bersama dengan intensi peringatan Sumpah Pemuda sembari mengingat-kenang sepenggal semboyan populer, “100% Katolik, 100% Indonesia” ala Mgr. Soegijapranata, yang kerap dijuluki: “Bung Karno-nya Gereja Indonesia”, hari itulah saya mengalami dua momentum sederhana tentang makna kemerdekaan sebagai orang Katolik yang Indonesia sekaligus orang Indonesia yang Katolik. 

Pertama, di pagi harinya, saya bersama rekan muda dari “CJ – Catholic Jeepers” dan beberapa umat Sragen mengadakan perayaan Sumpah Pemuda di penjara Sragen bersama dengan 27 narapidana kristiani, yang hampir semuanya berusia muda: Ada ibadat dan sharing, ada pembacaan puisi dan narasi tentang Ignatius Kusni Kasdut, ada juga pentas lagu lagu beserta pembacaan kembali teks Sumpah Pemuda dan sorak sorai kata “Merdeka” – “Merah darahku, Putih tulangku – Katolik imanku”. Jelasnya, lewat pelbagai hal sederhana inilah, mereka seakan hadir dan mengalir: berkata kata, bercerita, berdoa, bertindak tanduk sebagai anak anak muda yang merdeka. 

Kedua, di sore harinya, saya bersama para mahasiswa Katolik Surakarta mempersembahkan misa peringatan Sumpah Pemuda di Loji Gandrung Solo. Ditemani deras air hujan yang luruh dan jatuh berpendar ke tanah di kota Solo, misapun berjalan lancar dan bahkan “Bung FX“, sang walikota Solo juga ikut duduk lesehan merayakan misa kudus di tengah semarak rekan muda lainnya yang terserak dan terarak dengan sorak sorai kata “Merdeka” – “Merah darahku, Putih tulangku – Katolik imanku”., tanpa menjaga jarak dan tanpa banyak pengawalan. Kesan pertama yang dihadirkan olehnya secara tidak langsung adalah rasa merdeka sebagai seorang beriman yang berjalan dan berjuang bersama yang lainnya dengan cara cara yang sederhana.

Mencandra dua momentum sederhana inilah, saya kembali merenung – menungkan arti sebuah kemerdekaan ala FX dengan trilogi dasarnya: “F"amily – Kekeluargaan yang Hangat, "F"raternity – Persaudaraan yang Andal, "F"aith – Keberimanan yang Militan”:

Prolog Buku “FX” Sketsa Walikota Surakarta.


"Iluminata et Illuminatrix” 
Cerah dan Mencerahkan
“..Ingatlah bahwa rasul itu adalah orang Katolik yang sadar. 
Mereka insjaf betul bahwa mereka telah menerima kurnia dari Tuhan 
jang banjak djumlahnja itu 
tiada hanja untuk menghibur hati mereka belaka, 
akan tetapi pun djuga untuk membakar djiwanja 
dengan semangat jang berkobar, 
dalam menguduskan hati sendiri dan orang lain. ..”
(Mgr. Soegijapranata).

Saya bersama segelintir rekan dan teman “CJ – Catholic Jeepers” yang kerap dolan dolin bareng di warung wedangan “HIK – Hidangan Istimewa Kampung” dari Tiga Tjeret di depan Mangkunegaran sampai Pak Gendut di Solo Baru dan wedangan Mas Min di alun alun kota Sragen, pernah asyik-masyuk membuat survey amatiran di akhir tahun 2012 bahwa walikota yang paling terkenal di Indonesia adalah Joko Widodo alias “Jokowi” dari Solo. Bupati paling jujur di Indonesia adalah Basuki Tjahaya Purnama alias “Ahok” dari Belitung Timur dan wakil walikota yang paling berhasil di Indonesia adalah FX. Hadi Rudyatmo alias “Bung FX” dari Solo. 

Solo sendiri yang bersemboyan "Berseri" ("Bersih, Sehat, Rapi, dan Indah") dengan mottonya “The Spirit of Java” (Jiwanya Jawa), pada awalnya tidak lebih dari sebuah desa terpencil yang tenang, 12 km di sebelah timur Kartasura, ibukota kerajaan Mataram. Pakoe Boewono II yang menjadi Raja Mataram waktu itu mencari tempat yang lebih pas untuk membangun kembali kerajaannya, dan di tahun 1745 Masehi, kerajaannya dibongkar dan dipindah menuju Kota Solo yang terletak di tepi Kali (Sungai) Bengawan Solo. Adapun pada medio Oktober 2012 yang lalu, kota Bengawan Solo ini dipimpin oleh walikota baru bernama lengkap FX Hadi Rudyatmo. Ia dilantik menggantikan Joko Widodo yang terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta. Bagi Bung FX yang akrab disapa dengan sebutan “Pak Rudy” ini, menjadi orang nomor satu di kota Solo sejatinya tidak terlalu dia harapkan. Menurut walikota yang dikenal vokal dan kerap “nakal” ikut ber-demonstrasi di jalan ini, menjadi walikota adalah sebuah tugas pelayanan dan pewartaan yang harus dipertanggungjawabkan. 


Peluncuran Buku Baru "FX" - Family Fraternity Faith.

Sketsa Walikota Surakarta. @ Romo Jost Kokoh Prihatanto, Pr.

”Bagi saya tidak penting berkantor di manapun. Yang penting bekerja!” Inilah sepenggal kalimat dari “FX”, Sang Walikota Solo yang kerap berperan sebagai Gatotkaca dalam kirab budaya itu dan kini menjadi ikon sekaligus idola baru warga pengunjung Car Free Day (CFD) di kota Solo. Pastinya: Selamat datang di “Spirit Of Loving Others”, sebuah era blusukan, yakni era horisontal yang selalu mendengar dan memperhatikan sekaligus mencintai dan membela, karena ruang dan uang seharusnya memang dibangun dengan “bahasa kemanusiaan, bahasa kasih dan bahasa kejujuran”. Inilah sebuah era bahasa yang mengurangi instruksi tapi banyak mendelegasi, yang mengurangi perintah tapi banyak berkomunikasi. Sebuah era dimana pemimpinnya: Ketika ada masalah – dia ada di paling depan, ketika ada kerja - dia ada di tengah-tengahnya, dan ketika ada kemakmuran - dia ada di paling belakang, karena sejatinya pemimpin harusnya menderita dan bukan menikmati, harusnya penuh cinta dan bukan sekedar kata kata hampa, karena cinta akan menghasilkan sesuatu, sementara kata - kata kerap hanya menghasilkan alasan. Tolle et legge. Ambil dan bacalah!

“Audi alteram partem - Dengarkanlah pihak lain.”

Selamat datang di “Spirit Of Loving Others.”


Inilah sebuah era blusukan, yakni era horisontal yang selalu mendengar dan memperhatikan sekaligus mencintai dan membela, karena ruang dan uang seharusnya memang dibangun dengan “bahasa kemanusiaan, bahasa kasih dan bahasa kejujuran”. 

Inilah sebuah era bahasa yang mengurangi instruksi tapi banyak mendelegasi, yang mengurangi perintah tapi banyak berkomunikasi. 

Inilah sebuah era dimana pemimpinnya: 
ketika ada masalah – dia ada di paling depan, 
ketika ada kerja - dia ada di tengah-tengahnya, 
dan ketika ada kemakmuran - dia ada di paling belakang, 
karena sejatinya pemimpin harusnya menderita dan bukan menikmati, harusnya penuh cinta dan bukan sekedar kata kata hampa, 
karena cinta akan menghasilkan sesuatu, 
sementara kata - kata kerap hanya menghasilkan alasan. 

Tolle et legge. Ambil dan bacalah!

Peluncuran Buku: "MPK - Merah darahku, Putih tulangku, Katolik imanku"


Peluncuran Buku Twitterature: Tricks and Tracks: 
"MPK - Merah darahku, Putih tulangku, Katolik imanku" 
(Pohon Cahaya Press, Yogyakarta, 2013).
Karya Rm Jost Kokoh Prihatanto, Pr.
@ Taman Budaya Surakarta.

Senin, 4 November 2013
Jam 17.00 - selesai 

Bersama: 
Piyu (PADI), Cosmas Batubara, DR Heruwasto.

1.Dr Heruwasto (Dosen UI)
2.Cosmas Batubara (Tokoh Politik, Mantan Ketua PMKRI, Menteri Perumahan Rakyat dan Tenaga Kerja serta Ketua ILO - International Labour Organization, PBB).
3. PIYu - PADI (Artis dan pengamat sosial kemasyarakatan).

Salib, sebuah Tanda!


(Buku "TANDA-kaTA aNgka dan naDA", RJK, Kanisius)

Di kota Bandung, ada banyak imam dari Ordo Salib Suci. Di Cilincing, ada sebuah gereja tua bernama Gereja Salib Suci. Di dinding altar biasa ada sebuah kayu salib. Ketika memulai dan mengakhiri doa, orang Katolik biasa membuat tanda salib. Di abad pertengahan, ada sebuah perang besar di daerah Israel, bernama Perang Salib.

Bicara soal salib, saya teringat setiap Senin, Rabu dan Kamis siang pada tahun 2007-2009, saya kadang mengadakan misa, pengakuan dosa dan kunjungan rohani di penjara kota Tangerang. Di Tangerang sendiri ada penjara untuk anak-anak, wanita, pemuda dan juga dewasa. Lewat para narapidana yang saya jumpai, kadang ada satu dua yang menunggu putusan untuk dihukum mati atau tidak. Banyak dari mereka juga yang sadar, inilah mungkin salib yang harus mereka pikul juga. Yah, merekalah contoh nyata “rakyat yang tersalib.”

Sebuah Tetralogi Syukur Atas Rahmat Imamat

Sebuah Tetralogi Syukur Atas Rahmat Imamat
@ Rm Jost Kokoh Prihatanto
15 Agustus 2007 - 15 Agustus 2013
"TTM - TRIBUTE TO MARY"
"TRILOGI CARPE DIEM"
- Pantun Rohani.
- Pepatah Latin
- Puncta Bestari
(Penerbit "Pohon Cahaya", Yogyakarta, 15 Agustus 2013)



Carpe Diem: Sebuah Trilogi

Prolog

Sed fugit interea, 
fugit inreparabile tempus 
Sementara waktu yang tak tergantikan lekas berlalu 
(Kutipan dari karya Vergilius, Georgicon III:284).
 

Suatu ketika, Dalai Lama ditanya, “apa yang paling membingungkan di dunia ini?” Dia menjawab, ”manusia.” Yah, karena ketika muda, manusia mengorbankan kesehatannya hanya demi uang. Lalu ketika tua mengorbankan uangnya demi kesehatan, dan sangat kuatir akan masa depannya, sampai tidak sempat menikmati masa kini.” Yah, kadang orang kurang mensyukuri hari ini (hic) dan disini (nunc) bukan? Wajarlah, orang Romawi kerap mengatakan, “Diem perdidi” - Saya telah kehilangan satu hari! Kalimat ini diucapkan oleh Kaisar Titus, kala ia menyadari bahwa satu hari terlewatkan tanpa kesempatan untuk melakukan hal-hal yang baik/berguna. 

Disinilah, baik kita mengingat slogan orang Romawi, “Carpe Diem”, yang dalam bahasa Inggris kerap diartikan, “Seize the Day”, secara lugas berarti, “Reguklah Hari Ini”. Kalimat lengkapnya adalah, “Carpe diem, quam minimum credula postero”, yang berarti, "reguklah hari ini, dan percayalah sesedikit mungkin akan hari esok." 

P.R.A.M, Sebuah sharing sahabat

"What language is that?" tanya seorang wanita bule setengah baya disampingku. Umurnya aku taksir diatas tempat puluh. Rambutnya pirang, dan dari pakaian yang dikenakan tampaknya ia seorang pekerja kantoran. Ia bertanya tentang buku yang sedang aku baca lembar demi lembar. "Oh, it's Indonesian language," jawabku singkat. Reaksinya biasa, tapi ia tampak antusias.

Tanpa menyia-nyiakan kesempatan aku lanjutkan pembicaraan itu, "it's a good book, you know, and he's a good writer too." Tampaknya wanita itu tertarik. Mungkin hobinya membaca, demikian pikirku dalam hati. Lalu, aku tambahi, " if you're isterested you can find it at Olson Book Store. It's already translated in English." Kusebutkan salah satu toko buku yang cukup nge-top untuk daerah Washington, D.C. sini. 

"Who's the author's name?" tanya wanita itu seperti tertarik akan promosiku. "His name is Pramoedya Ananta Toer" jawabku. "if you happen at Olso, just look for the last name T-O-E-R" Biasanya kalo kita mencari buku di toko-toko buku sini, yang kita sebutkan adalah nama belakang pengarangnya. "T-O-E-R, Toer," begitu dia mengeja dan mengulang, bagai ingin melekatkan dalam ingatannya. Beberapa judul buku Pram, yang telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris, memang di jual di toko buku Olson. Bahkan ketika Pram berkunjung ke Amerika beberapa tahun lalu, ia sempat jumpa penggemar dan menandatangani buku-bukunya di toko buku ini. 

Duda - Duta Damai

@Buku XXX Family Way (RJK, Kanisius)

Pada saat kita terperangkap dalam kesibukan duniawi, 
kita kehilangan hubungan satu sama lain - dan dengan diri kita sendiri. 
-When we get too caught up in the bussiness of the world, 
we lose connection with one another- and ourselves. 
(Jack Komfield)

Silaban, arsitek Mesjid Istiqal yang adalah seorang kristiani, ketika memberikan sambutan peresmian mesjid itu di depan Presiden Soekarno, mengangkat sebuah ilustrasi: 
Pada tahun 1960, adalah 3 orang buruh yang sedang sibuk bekerja di suatu bangunan. Seseorang yang sedang lewat bertanya kepada buruh pertama apa yang sedang diperbuatnya. Si buruh dengan wajah datar menyahut, ‘Ya, aku sedang bekerja untuk mencukupi nafkah keluarga.’ Kemudian pertanyaan yang sama diajukan pada buruh kedua yang tampaknya lebih senior di salah satu sudut bangunan. Si buruh itu menjawab sambil masih tetap membenahi beberapa rangka bangunan. ‘O, ya, aku sedang melakukan pekerjaan bangunan paling sulit dan tidak semua orang bisa mengerjakan hal ini.’ Buruh yang ketiga, yang sedang memplester di bagian kubah, menjawab sambil menyeka keringatnya dan dengan pandangan mata bersinar, ‘O, aku sedang membangun sebuah mesjid terbesar dan terindah di Asia.’ 

Sebuah Pengantar untuk buku MAP - Mimbar, Altar dan Pasar

Menolak Identifikasi, Mencari ”Zwischenraum”
Tidak semua orang setuju begitu saja apabila dikatakan bahwa altar dan pasar boleh disejajarkan, apalagi disamakan. Alasannya, keduanya merupakan dua bidang kehidupan yang berbeda dan memiliki kaidah yang berlainan malah bertentangan. Namun ada pula yang berpendapat sebaliknya. Menurut mereka, altar mesti masuk ke dunia pasar, dan pasar harus diperluas ke wilayah kudus. Iman tak cukup lagi dibatasi dalam lingkup terbatas, dia harus dipasarkan seturut hukum pasar. Maka pertimbangan pasar mesti juga tercermin dalam perilaku di sekitar altar. 

Pandangan pertama di atas secara sadar atau tidak masih berorientasi pada pandangan tua yang pernah dianut secara resmi dalam Gereja Katolik: Extra ecclesiam nulla salus, di luar Gereja tak ada keselamatan. Gereja, termasuk semua ajaran, struktur dan segala perangkatnya, adalah sarana yang mutlak demi keselamatan; Konsep yang semula masih memiliki makna spiritual, perlahan menjadi materialistis. Ecclesia bukan lagi soal iman, melainkan masalah ritus dan segala perlengkapannya. Mimbar dan altar menjadi ruang yang berdaya magis. Magi adalah satu bentuk otomatisme dalam beriman; Bersentuhan dengan mimbar dan altar sudah menjamin kesemalatan, tak terlampau penting apa yang dilakukan sebelum dan sesudahnya. Akibatnya, ke gereja menjadi ritual yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Para koruptor dan pemeras buruh merasa tidak bermasalah dengan imannya, asalkan masih sempat memaksa diri ke gereja pada hari Minggu kendati harus mengumpat mendengarkan kotbah yang tak menyentuh. 

Sebuah catatan pinggir - epilog untuk buku MAP - Mimbar, Altar dan Pasar

Khotbah di Bukit
Tapi di masa ini bukit sudah ada. Teknologi, terutama, telah meratakannya. Di masa ini, suara suara disiarkan melalui corong-corong dan titik-titik lubang pada kotak ajaib multi media – dari yang paling primitive (seperti TOA di menara), maupun yang tercanggih (misalnya streaming siaran langsung pada telepon seluler). Televisi adalah yang paling jamak.

Lihatlah! Lihatlah ini manusia – yesus menatap bukitnya yang telah rata dan menjadi tahu bahwa suara tak lagi harus disampaikan dari ketinggian ideal, pun tak bisa disampaikan dalam keheningan obtektif. 

Sebab, bahkan di puncak Gunung Lawu pun orang bisa membuat interupsi berkat alat komunikasi. Alat komunikasi itu, yang tetap bisa bordering dalam misa dan bioskop –menghubungkan orang dengan tempat lain dengan cara memutus hubungan orang tersebut dengan lokasi beradanya hic et nunc, disini dan sekarang. Tak ada lagi keheningan obyektif.
Maka mafhumlah yesus bahwa bukit telah menjadi sekedar metafora bagi mimbar ideal: mimbar dimana ia bisa mewartakan keselamatan, juga kutukan, kepada orang-orang yang mendongak kepada dia. Yang saling bertatap wajah dengan dia. Dalam sebuah ketenangan. Ia tak perlu berteriak kepada mereka. Sebab mereka yang datang di lingkaran terdekat memang hadir untuk mendengarkan dia. Ah, bukit benarlah area kotbah yang jinak.

Sebuah catatan pengantar - prolog untuk buku "28 HERSTORY"

Menarik mencermati judul buku ini “Her-Story” karya Romo Jost Kokoh ini, yang meskipun tidak ditulis secara tersurat, namun secara tersirat bisa dibedakan dengan “His-Story,”. Menarik karena kedua kata tersebut menggunakan bahasa asing, Bahasa Inggris. Kita semua menyadari bahwa His-Story mempunyai relevansi dengan History yang jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi Sejarah. Pertanyaan yang terbersit di dalam benak adalah mengapa Judul Buku ini tidak menggunakan kata Bahasa Indonesia Sejarah melainkan Bahasa Inggris “Her-Story”?

Kata Sejarah tidak dapat mengungkapkan makna dan pesan yang hendak disampaikan di dalam buku ini. Bahasa Indonesia kurang menekankan pada pembedaan makna berbasiskan gender jika dibandingkan dengan Bahasa Inggris. Sehingga buku ini perlu meminjam istilah Bahasa Inggris untuk menyampaikan apa yang justru menjadi kabar terpenting kalau bukan kabar gembira, bahwa Sejarah Gereja Katolik adalah juga merupakan kumpulan dari “Her-Story,”. 

Prawacana Penulis untuk Buku "HERSTORY"

HER STORY - 
Sketsa Spritualitas Penrintis

Prolog
Cherchez la Femme

“...Door nacht tot licht, 
Door storm tot rust,
Door strijd tot eer Door,
leed tot lust”

Dua kalimat dalam bahasa Belanda di atas adalah rangkaian sajak seorang perempuan bernama RA. Kartini, yang berarti, “Habis malam datanglah siang, Habis topan datanglah reda, Habis perang datanglah menang, Habis duka datanglah suka.” Seperti kita ketahui, pada tahun 1911 terbit antologi surat-surat Kartini dalam format buku yang disusun oleh J.H. Abendanon, seorang direktur pada departemen pendidikan, industri dan agama pemerintah Hindia-Belanda di awal abad ke-20, berjudul ‘Door Duisternis tot Licht’, dan kemudian diterjemahkan Armijn Pane sebagai ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ (terbit 1951), di mana Kartini dianggap sebagai ‘pembawa obor pencerahan’.