Inilah judul film karya KOMSOS KAS, yang beberapa hari lalu
kami putar di aula Gereja Cililitan bersama crew dan beberapa hikers. Adapun
judul film ini merupakan semboyan dari kardinal pertama di Indonesia, Justinus
Darmojuwono yg kerap dipanggil Imin/Djamin. Menurut alm. Rm Sumaryo, ketika
menjadi Ekonom KAS, dia belajar banyaksoal kejujuran dalam pengurusan/pengelolaan
harta benda dari sosok kardinal. Ketika kardinal meninggal, dan ia diminta
membongkar kamar almarhum, ia terkesan dengan ketertiban dan pengelolaan uang
yg dilakukan Kardinal. Tercandra, semua pemasukan dan pengeluaran uang kas
dicatat setiap hari, misalnya biaya cukur, biaya bayar jalan tol, biaya membeli
obat nyamuk, penerimaan stipendium, dana pensiun sebagai Uskup dll.
Tampilkan postingan dengan label Sinemaloka (Film). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sinemaloka (Film). Tampilkan semua postingan
FX Hadi Rudyatmo, Biography Walikota Surakarta
Buku "FX" : Family-Fraternity-Faith, karya Romo Jost Kokoh
SOLO (Spirit Of Love Others); Sketsa Walikota Surakarta
(Buku Biography FX. Hadi Rudyatmo, Walikota Surakarta)
“SOLO”, “Spirit Of Loving Others”
Ad astra per aspera - Sampai ke bintang dengan jerih payah!
”Bagi saya tidak penting berkantor di manapun. Yang penting bekerja!” Inilah sepenggal kalimat dari “FX” Hadi Rudyatmo, Sang Walikota Solo “berwajah Rambo berhati Bimbo”, yang kerap berperan sebagai Gatotkaca dalam kirab budaya dan kini menjadi ikon sekaligus idola baru warga pengunjung Car Free Day (CFD) di kota Solo. Pastinya: Selamat datang di “SOLO”, “Spirit Of Loving Others”
“SOLO”, “Spirit Of Loving Others” adalah sebuah era blusukan, yakni era horisontal yang selalu “MENDENGAR – MELIHAT dan – BERBUAT, karena ruang dan uang seharusnya memang dibangun dengan “bahasa kemanusiaan, bahasa kasih dan bahasa kejujuran”.
“SOLO”, “Spirit Of Loving Others” adalah sebuah era bahasa, yang mengurangi instruksi tapi banyak mendelegasi, yang mengurangi perintah tapi banyak berkomunikasi.
“SOLO”, “Spirit Of Loving Others” adalah sebuah era pelayanan dan infra-struktur, dimana pemimpinnya:
Ketika ada masalah – dia ada di paling depan.
Ketika ada kerja - dia ada di tengah-tengahnya.
Ketika ada kemakmuran - dia ada di paling belakang.
Karena pemimpin “SOLO”, “Spirit Of Loving Others”
harusnya menderita dan bukan menikmati,
harusnya penuh cinta dan bukan sekedar kata kata hampa, karena cinta akan menghasilkan sesuatu,
sementara kata - kata kerap hanya menghasilkan alasan.
Label:
Pustakaloka,
Sinemaloka (Film)
“Las Mariposas” - "The Butterflies"
“.....Kupu-kupu jangan pergi
Terbang dan tetaplah di sini
Bunga-bunga menantimu
Rindu warna indah dunia
Anak kecil tersenyum manis
Pandang tarianmu indah
Bahagia dalam nyanyian
Kupu-kupu jangan pergi....”
(Melly Goeslaw)
“The Time of Butterflies” adalah judul sebuah film historis yang digarap-serap dari novel Julia Alvarez, dimana kupu-kupu menjadi inspirasi dan aspirasi perjuangan sejati para aktivis. Dan, bersama dengan segelontor orang yang suka membuat tato kupu-kupu (entah pada pinggul, dada, punggung atau bagian tubuhnya yang lain), banyak seniwan-seniwati kita juga ter-inspirasi dengan kupu-kupu. Sebut saja: Ebiet G.Ade dengan “Kupu-kupu Kertas” nya; Titiek Puspa dan Ariel Noah dengan “Kupu-kupu Malam” nya, Iwan Fals dengan “Kupu-kupu Hitam Putih” nya, bahkan kelompok musik Slank dengan Gank Potlotnya juga menaruh-luruh kupu-kupu sebagai simbol komunitas mereka.
Bunga-bunga menantimu
Rindu warna indah dunia
Anak kecil tersenyum manis
Pandang tarianmu indah
Bahagia dalam nyanyian
Kupu-kupu jangan pergi....”
(Melly Goeslaw)
“The Time of Butterflies” adalah judul sebuah film historis yang digarap-serap dari novel Julia Alvarez, dimana kupu-kupu menjadi inspirasi dan aspirasi perjuangan sejati para aktivis. Dan, bersama dengan segelontor orang yang suka membuat tato kupu-kupu (entah pada pinggul, dada, punggung atau bagian tubuhnya yang lain), banyak seniwan-seniwati kita juga ter-inspirasi dengan kupu-kupu. Sebut saja: Ebiet G.Ade dengan “Kupu-kupu Kertas” nya; Titiek Puspa dan Ariel Noah dengan “Kupu-kupu Malam” nya, Iwan Fals dengan “Kupu-kupu Hitam Putih” nya, bahkan kelompok musik Slank dengan Gank Potlotnya juga menaruh-luruh kupu-kupu sebagai simbol komunitas mereka.
Label:
Sinemaloka (Film)
"Imagining Argentina": "Teruslah Mengingat dan Teruslah Berharap"
Ada rasa gemetar dan nyinyir setiap kali mendengar kata “korban”. Perasaan itu
makin menusuk ketika suatu waktu saya menonton "Imagining Argentina",
yang dibintangi oleh aktor kenamaan Antonio Banderas. Film ini bercerita
tentang pengalaman seorang warga negara biasa, Carlos Rueda, yang harus
kehilangan anak dan istrinya lantaran diculik. Istri Carlos, Cecilia, diculik
paksa setelah membeberkan kasus penghilangan sejumlah anak oleh tentara. Selama
masa penantian, Carlos dihantui oleh erangan istrinya yang diperkosa dan
teriakan anak-anak yang disetrum. Ia merasakan kehadiran para korban di
sekelilingnya melalui suara-suara aneh itu. Meski begitu, ia tak tahu pasti di
mana mereka berada kecuali melalui jejak-jejak yang ditinggalkan para penculik.
Ketika melewati setiap tempat di mana istri dan anaknya dianiaya, Carlos
mendengar teriakan sakit melengking di telinganya. Ia mendengar suara korban
seolah dia hadir menyaksikan mereka disiksa di depan mata.
Film ini mengambil latar Argentina tahun 1970-an, ketika negeri itu diperintah oleh rezim junta militer Jorge Videla. Masa-masa itu adalah lembaran sejarah paling kelam para korban. Selama tujuh tahun saja (1976–1983), sekitar 30.000 orang tak berdosa hilang diculik karena alasan yang tak jelas; dan lebih separuhnya adalah anak-anak yang sama sekali tidak terlibat dan tidak tahu-menahu tentang politik. Dalam kurun waktu yang singkat, Videla beserta aparatur militernya menjerumuskan negeri itu dalam horor dan ketakutan yang tak terbandingi dalam sejarah manusia. Ketakutan demi ketakutan menumpuk dan menciptakan histeria massal bagi mereka yang hidup. Mereka yang selamat dari incaran maut—para survivor—terpaksa harus menanggung trauma dan kepedihan batin akibat kepergian orang yang mereka cintai.
Film ini mengambil latar Argentina tahun 1970-an, ketika negeri itu diperintah oleh rezim junta militer Jorge Videla. Masa-masa itu adalah lembaran sejarah paling kelam para korban. Selama tujuh tahun saja (1976–1983), sekitar 30.000 orang tak berdosa hilang diculik karena alasan yang tak jelas; dan lebih separuhnya adalah anak-anak yang sama sekali tidak terlibat dan tidak tahu-menahu tentang politik. Dalam kurun waktu yang singkat, Videla beserta aparatur militernya menjerumuskan negeri itu dalam horor dan ketakutan yang tak terbandingi dalam sejarah manusia. Ketakutan demi ketakutan menumpuk dan menciptakan histeria massal bagi mereka yang hidup. Mereka yang selamat dari incaran maut—para survivor—terpaksa harus menanggung trauma dan kepedihan batin akibat kepergian orang yang mereka cintai.
Label:
Sinemaloka (Film)
Rumah Socius
Rumah singgah SOCIUS sebagai wadah penampungan para mantan narapidana untuk mendapatkan pendampingan, pelatihan dan bekal ketrampilan secara gratis.
Label:
Sinemaloka (Film)
Runaway Jury
Gejala Anti Sosial
Versus Kecerdasan Sosial di dalam Sebuah Film Gary Fleder
Pendahuluan
Untuk
menyimpulkan bahwa film merupakan sebuah manifestasi dari seni, tampaknya
terlalu terburu-buru. Sampai dengan saat ini masih terdapat banyak orang yang
menyetujui pernyataan diatas. Beberapa diantaranya bahkan menyangkal bahwa film
secara general adalah sebuah
manifestasi seni dan memilih untuk sependapat dengan pernyataan yang pernah
diungkapkan oleh P.A. Sorokin, seorang ahli sejarah dan budaya, pada tahun
1941:
Science gave us the
movies, but Hollywood turned them into the most vulgar displays. Like our
detective and mystery stories, th eshow are all right for relaxation and
momentary thrill, but nobody as yet has made of thrillers great classics or
shows of a great art. (Boggs, Joseph M: 1)
Pernyataan Sorokin diatas mungkin memang ada
benarnya jika kita mau melihat hampir sebagian besar film-film keluaran
rumah-rumah produksi Hollywood yang sifatnya hiburan semata, biasanya film-film
dari genre comedy dan mystery. Tapi
jika kita mau melihat lebih jauh lagi, kita akan menemukan beberapa film
produksi Hollywood yang tidak bisa dipandang sebelah mata, sebut saja film-film
seperti Citizen Kane, the Godfather, Apocalypse Now, the Rain Man,
Beautiful Mind, Band of Brothers, dan masih banyak lagi untuk disebutkan semuanya
disini.
Label:
Sinemaloka (Film)
Jesus: Riwayat-Mu Dulu, Kini dan Nanti
(Belajar dari sang KORBAN)
.....Bayangkanlah suatu kali Anda
mendapatkan pertanyaan ini, “Siapakah Kristus menurut Anda?” Untuk menjawab pertanyaan ini, kemudian terbukalah
memori-memori Anda akan gambaran Kristus yang dalam sejumlah hal jelas tetapi
dalam hal-hal lain samar-samar atau sama sekali gelap. Dan, ketika tiba saatnya kata-kata disusun sebagai
jawaban, dari manakah Anda akan mulai....?
Jawaban
yang Anda berikan mungkin akan ditangkap pendengar sebagai sesuatu yang
biasa-biasa saja, atau mungkin juga sesuatu yang menggelitik keingintahuan
lebih lanjut, atau justru sesuatu yang menggelisahkan.
Film
The Last Temptation of Christ (1988) juga mau menjawab pertanyaan “Siapa Kristus?” pula. Pada film ini, YK
digambarkan dalam sosok kemanusiaan yang kental dengan desir-desir
ketidakpastian dan keraguan. Ia tampil dalam seseorang yang biasa, bahkan
mungkin dapat dikatakan seseorang yang lemah.
Label:
Sinemaloka (Film)
Ecce Homo, Yesus, Mel Gibson
Berbicara
Tentang Yesus Kristus melalui Film
“Ecce homo!” Itulah salah satu
komentar dari antara kita ketika menonton film The Passion of the Christ
atau film-film prapaskah seputar Yesus dari Nazaret itu. Apa maksud komentar
singkat ini? Di balik kata-kata tersebut kiranya ada endapan pengalaman dan
pengertian tertentu, yang menjadi latar belakang.
“Lihatlah manusia itu!” Siapa yang
dimaksud “manusia itu”? Tentu saja sosok Yesus dari Nasaret dalam film arahan
Mel Gibson itu. Di dalam film, si “manusia” digambarkan begitu rapuh dan tak
berdaya. Oleh karena itu wajar kiranya bahwa komentar yang masuk umumnya
mengatakan bahwa itu gambaran Yesus yang menderita.
Tapi, gambaran umum ini kemudian
menjadi sangat khusus ketika dicermati bahwa masing-masing komentar menyebutkan
“keterangan lain” dari sosok Yesus yang menderita itu. Misalnya, Yesus itu
tabah, setia, pasrah, bertanggung jawab, tetap bertahan, penuh perjuangan,
penuh kepedulian dan cinta, yang menyelamatkan dan menebus manusia, yang penuh
gejolak perasaan, dan semacamnya. Ada pula yang memperhatikan segi yang lainnya
lagi, yaitu segi “keluarbiasaan” Yesus atau begitu beraninya Yesus. Kita yakin
bahwa komentar-komentar ini mempunyai latar belakang endapan pengalaman
tertentu dari si pemberi komentar. Bisa juga, di dalam komentar-komentar itu
sudah bermain perihal makna. Maksudnya, arti Yesus bagi si pemberi komentar.
Lalu pertanyaannya: Siapa Yesus
Kristus? Apakah pengenalan akan Yesus Kristus dapat disimpulkan dari
komentar-komentar itu sebagai “Yesus yang umum”? Ataukah Yesus selalu khusus –
menyangkut tiap-tiap orang yang mengenalNya?
Label:
Sinemaloka (Film)
Film School Ties
A. KECERDASAN
SOSIAL
Manusia
ingin dirinya dianggap bernilai, oleh karena itu mereka melakukan banyak cara
agar merasa dirinya bernilai. Tidak heran jika kemudian manusia mulai berlomba
dalam mencari kekuasaan, kekuatan, kekayaan, ketenaran sampai kecerdasan
intelektual yang tergambar dalam skor IQ. Mereka membutuhkan pengakuan dan
penerimaan, dan tentu saja hal itu sangat menusiawi, namun perlu diingat pula
bahwa nilai manusia tidak melulu diukur dari apa yang telah disebutkan di atas.
Kita
dapat melihat nilai manusia berdasarkan kepekaan dan kepedulian mereka akan
setiap situasi sosial yang ada. Tentunya bersikap peka dan perduli saja tidak
cukup, kepekaan dan kepedulian tersebut harus hadir dalam bentuk tindakan
nyata. Wujud nyata dari kepekaan dan kepedulian manusia inilah yang dapat
disebut sebagai bentuk sosial kecerdasan sosial. Tindakan nyata bukan berarti
harus selalu berupa tindakan heroik, karena sekecil apapun tindakan itu, akan
merupakan bantuan yang tidak ternilai dan sangat berarti bagi yang membutuhkan.
Potret
mengenai bentuk keinginan manusia dan kecerdasan sosial tergambar cukup jelas
dalam film School Ties. Film produksi Paramount arahan sutradara Robert Mandel
ini sejak awal sudah mampu menarik perhatian para penikmat film karena didukung
oleh bintang-bintang muda berbakat seperti Brendan Fraser (David Greene), Matt
Damon (Charlie Dillon), Chris O’Donnell (Chris Reece), Randall Batinkoff
(McGivern), Ben Affleck (Chesty Smith) dan beberapa pemain pendukung lainnya.
Label:
Sinemaloka (Film)
The Terminal
Menunggu
pasti Membosankan, Apakah Anda Setuju?
A.
Kebanyakan dari kita jika disuruh
menunggu sudah tentu akan merasa bosan, mengantuk dan bawaannya cepat emosi.
Terus apa jadinya jika kita disuruh menunggu sendirian, tanpa teman, tanpa tahu
budaya (terlebih bahasanya) ataupun tanpa tahu segalanya tentang segala aturan
yang ada di daerah tersebut. Hal ini diperparah lagi jika disuruh menunggu
tanpa batas waktu. Apa yang akan kita lakukan? Apakah merokok (bagi
perokok)?Baca Koran? Atau ada kegiatan lain yang lebih bermutu? Nampaknya susah
menemukan jawaban yang “bermutu” jika kita mengalami kejadian seperti yang
terjadi di atas.
Jika
anda ingin tahu jawabannya, ada pada pikiran seorang sutradara film terkenal
Steven Spielberg, yang berimajinasi berkat kisah nyata dari seorang warga
negara Iran bernama Merhan Karimi Nasseri yang saat itu berada di bandara
terkenal di Perancis dan kehilangan paspornya. Dari kisah itu, dia bekerja sama
dengan aktor terkenal Tom Hanks untuk ketiga kalinya, setelah mereka berdua
sukses dengan film sebelumnya Saving Private Ryan dan Catch Me If You
Can. Tom Hanks berperan sebagai Victor Navorski yang tiba di bandara JFK di
New York bertepatan dengan aksi kudeta di negara asalnya, “Krakhozia”. Dan
pihak pemerintah Amerika Serikat tidak lagi mengakui negaranya sehingga paspor
dan visanya tidak berlaku. Hal ini juga diperparah bahwa dia tidak bisa dideportasi
ke negara asalnya tapi juga tidak diperkenankan memasuki wilayah Amerika
Serikat.
Label:
Sinemaloka (Film)
La Vita e Bella
A.
Hadiah Terindah bagi Orefice
Ini adalah suatu kisah sederhana,
tapi tak mudah menceritakannya……
Seperti
sebuah fable, ada kesedihan, penuh keajaiban dan kegembiraan……
Pada
tahun 1939, kota Arezzo di Italia menjadi awal dari perjalanan Guido Orefice (Roberto
Benigni) seorang berkebangsaan Jerman. Di kota inilah Guido bertemu dengan
belahan jiwanya. Arezzolah yang akan menjadi saksi dari cinta mereka. Pertemuan
Guido dengan Dora (Nicoletta Braschi) sang belahan hati selalu tak
disengaja. Pertemuan diawali di sebuah peternakan saat Dora terjatuh dan
menimpa Guido.
Demikian seterusnya selalu terjadi
pertemuan tak terduga. Cinta pun datang dan tertanam di hati kedua insane.
Tetapi selalu saja ada aral melintang. Dora telah mempunyai tunangan dan akan
segera menikah. Pesta pernikahannya terjadi di restoran tempat Guido bekerja.
Betapa besarnya derita batin yang harus dialami Guido. Demi cinta, Guido nekat
membawa lari Dora dan menikah dengannya.
Label:
Sinemaloka (Film)
Pada Mulanya adalah “Citra”
Ya, kalau Penginjil Yohanes mengatakan bahwa pada mulanya adalah firman.
Maka, saya mengatakan, pada mulanya adalah citra. Yah, citra sebuah negara
sosialis, Republik Demokrasi Jerman, yang tentu saja tak membiarkan halaman
rumahnya kecipratan produk kapitalis macam Coca Cola pada era 1980-an. Seorang
perempuan memandang spanduk raksasa yang berkibar di gedung tepat di sebelah
apartemennya. Sebuah spanduk Coca Cola, sesuatu yang tak pernah terbayangkan
bagi perempuan itu, karena baginya dunia adalah dunia yang tidak berubah. Dunia
sebuah negara sosialis, tidak lain dan tidak bukan! Tapi, spanduk Coca Cola
itu?
Christianne yang malang itu mengangguk ketika mendapat
penjelasan yang dianggapnya masuk akal: Coca Cola telah diproduksi secara
massal di Jerman Timur. Christianne (Kathrin Sass) mengutuk kapitalisme sejak
kepergian suaminya ke wilayah Barat, menyusul perempuan lain. Sejak itu,
sosialisme menjadi satu-satunya kebenaran tunggal yang mengalir deras dalam
nadinya. Ia tak beringsut, dan memang semuanya
begitu, sampai 7 Oktober 1989. Malam itu ia melihat anak laki-lakinya mengikuti
demonstrasi menuntut penyatuan Jerman. Dunianya gelap. Ia koma tanpa menyadari
pada April 1990, tembok pemisah Jerman runtuh.
Label:
Sinemaloka (Film)
Coklatku Sayang, Coklatku Malang
“Katakan cinta dengan coklat, maka dia akan terpikat…”. Kita semua tahu, coklat merupakan makanan favorit banyak orang. Coklat boleh jadi merupakan makanan yang merupakan hadiah paling populer untuk para pasangan yang saling jatuh cint. Sejak lama coklat memang punya reputasi tinggi. Makanan atau minuman yang dibuat dari biji tanaman coklat ini berhasil merebut hati banyak orang, tidak cuma karena kelezatannya, tapi juga nilai plus yang dimilikinya dalam memperbaiki suasana hati dan mempengaruhi munculnya gelora cinta.
Pohon coklat, yang
buahnya mengandung biji yang bisa diproses menjadi camilan coklat, pertama kali
ditemukan 2.000 tahun lalu di hutan tropis Amerika. Sementara itu, bangsa Maya
merupakan bangsa pertama yang mengkonsumsi cokelat (250-900 SM). Mereka
mencampur biji coklat dengan berbagai bumbu untuk membuat minuman yang
dipercaya mujarab.
Label:
Sinemaloka (Film)
Scandal - Kejahatan Altar
El Crimen del Padre Amaro (The Crime of Father
Amaro) judulnya.
Sebuah film yang sukses meraih box-office sekaligus film yang paling
kontroversial pada tahun itu. Banyak pengamat sinema bahkan berani mengatakan
bahwa El Crimen del Padre Amaro (The Crime of Father
Amaro) merupakan
film yang paling sukses dalam sejarah Meksiko. Sebuah film yang menceritakan potret suram-buram Gereja
Katolik, terlebih dengan fokusnya pada pergulat-geliatan sekaligus
‘perselingkuhan’ seorang pastor muda idealis bernama Amaro (Gael
Garcia Bernal).
Film yang disutradarai oleh Carlos Carrera ini didasarkan
pada sebuah novel dengan judul yang sama (1875) oleh penulis Portugis abad
ke-19, José Maria de Eca de Queiroz. Ketika pertama kali dirilis, El Crimen del
Padre Amaro sangat controversial. Bahkan, banyak umat Katolik di Meksiko
mencoba menghentikan publikasi film tersebut. Mereka gagal dan film ini menjadi
box office terbesar di Mexico, mengalahkan pemegang rekor sebelumnya, “Sexo,
lágrimas y pudor” (1999). Film ini begitu kontroversial di Meksiko, terutama
karena dirilis segera setelah kunjungan Paus Yohanes Paulus II.
Label:
Sinemaloka (Film)
Penuh Tanda Penuh Tanya
Film
dan novel “The Name of the Rose” sering dianggap serius dan sulit. Akibatnya ia
sering ditilik bukan semata-mata sebagai film dan novel pada umumnya, melainkan
disertai embel-embel yang berpotensi “menakutkan” calon pembaca. Disebut-sebut
film dan Novel “The Name of the Rose” ini bernuansa filsafat, penuh konsep
semiotika, dan menggugat keimanan, sampai-sampai membuat sebagian orang ragu
untuk mulai menikmatinya. Hal ini mungkin terjadi gara-gara nama besar penulis
awalnya, Umberto Eco adalah seorang profesor doktor sastra, filsuf, ahli
semiotika di Universitas Bologna, dan pakar Abad
Pertengahan. Beberapa karyanya yang lain adalah: “Foucault’s Pendulum, The Island of the Day
Before, dan tiga kumpulan esai populer Travels in Hyperreality, Misreadings,
dan How to Travel with a Salmon and Other
Essays.
Label:
Sinemaloka (Film)
Mgr Soegija: Sebuah Interupsi
in
dubiis libertas,
in
omnibus caritas:
Dalam kegentingan - bersatu,
dalam keraguan - merdeka,
dalam segala hal – cinta.”
Johann Baptist Metz, seorang pencetus
konsep teologi politik, memberi-jelaskan sebuah definisi tersingkat tentang
agama. Menurutnya, agama adalah interupsi (Unterbrechung).
Apa itu Interupsi? Pada dasarnya agama
berangkat dari interupsi Allah ke tengah dunia yang disalah-urus oleh manusia.
Agama hadir sebagai interupsi, semacam
campur tangan di tengah dunia yang terpusat hanya
pada dirinya. Bukankah setiap agama mengkhianati panggilannya bila mereka
berhenti membuat interupsi? Bukankah
ketika berhenti ber-interupsi, agama-agama
tidak lagi menjadi “anjing yang
menyalak” dan “duri yang menusuk”, tetapi
sebaliknya merupakan obat tidur yang sangat mujarab?
Nomen est Omen. Nama adalah
tanda! 7 Juni 2012, nama sebuah judul film diluncurkan kompak-serempak di pelbagai
bioskop tanah air. Soegija namanya. Mgr Albertus
Soegijapranata, nama lengkapnya. Soegija yang kerap
dijuluki “Bung Karno-nya Gereja Indonesia” adalah
seorang imam Jesuit, yang hidup dalam
masa revolusi kemerdekaan. Beliau diangkat
sebagai Uskup Agung Pribumi yang pertama, secara
khusus untuk wilayah Semarang di tahun 1940. Situasi negara yang sedang bergolak-gelak di masa perang menuntutnya untuk tidak melulu asyik melakukan kegiatan “altar”,
tetapi juga berani melakukan interupsi di “pasar” dengan segala carut-marutnya.
Label:
Sinemaloka (Film)
Langganan:
Postingan (Atom)
















