Ads 468x60px

Tampilkan postingan dengan label Sinemaloka (Film). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sinemaloka (Film). Tampilkan semua postingan

In Te Confido

Inilah judul film karya KOMSOS KAS, yang beberapa hari lalu kami putar di aula Gereja Cililitan bersama crew dan beberapa hikers. Adapun judul film ini merupakan semboyan dari kardinal pertama di Indonesia, Justinus Darmojuwono yg kerap dipanggil Imin/Djamin. Menurut alm. Rm Sumaryo, ketika menjadi Ekonom KAS, dia belajar banyaksoal kejujuran dalam pengurusan/pengelolaan harta benda dari sosok kardinal. Ketika kardinal meninggal, dan ia diminta membongkar kamar almarhum, ia terkesan dengan ketertiban dan pengelolaan uang yg dilakukan Kardinal. Tercandra, semua pemasukan dan pengeluaran uang kas dicatat setiap hari, misalnya biaya cukur, biaya bayar jalan tol, biaya membeli obat nyamuk, penerimaan stipendium, dana pensiun sebagai Uskup dll.

FX Hadi Rudyatmo, Biography Walikota Surakarta



Buku "FX" : Family-Fraternity-Faith, karya Romo Jost Kokoh
SOLO (Spirit Of Love Others); Sketsa Walikota Surakarta
(Buku Biography FX. Hadi Rudyatmo, Walikota Surakarta)

“SOLO”, “Spirit Of Loving Others”
Ad astra per aspera - Sampai ke bintang dengan jerih payah!

”Bagi saya tidak penting berkantor di manapun. Yang penting bekerja!” Inilah sepenggal kalimat dari “FX” Hadi Rudyatmo, Sang Walikota Solo “berwajah Rambo berhati Bimbo”, yang kerap berperan sebagai Gatotkaca dalam kirab budaya dan kini menjadi ikon sekaligus idola baru warga pengunjung Car Free Day (CFD) di kota Solo. Pastinya: Selamat datang di “SOLO”, “Spirit Of Loving Others”

“SOLO”, “Spirit Of Loving Others” adalah sebuah era blusukan,  yakni era horisontal yang selalu “MENDENGAR – MELIHAT dan – BERBUAT, karena ruang dan uang seharusnya memang dibangun dengan “bahasa kemanusiaan, bahasa kasih dan bahasa kejujuran”.

“SOLO”, “Spirit Of Loving Others” adalah sebuah era bahasa, yang mengurangi  instruksi tapi banyak mendelegasi, yang mengurangi perintah tapi banyak berkomunikasi.

“SOLO”, “Spirit Of Loving Others” adalah sebuah era pelayanan dan infra-struktur, dimana pemimpinnya:
Ketika ada masalah – dia ada di paling depan.
Ketika ada kerja - dia ada di tengah-tengahnya.
Ketika ada kemakmuran - dia ada di paling belakang.

Karena pemimpin “SOLO”, “Spirit Of Loving Others”
harusnya menderita dan bukan menikmati,
harusnya penuh cinta dan bukan sekedar kata kata hampa, karena cinta akan menghasilkan sesuatu,
sementara kata - kata kerap hanya menghasilkan alasan.

“Las Mariposas” - "The Butterflies"

“.....Kupu-kupu jangan pergi
Terbang dan tetaplah di sini
Bunga-bunga menantimu
Rindu warna indah dunia
Anak kecil tersenyum manis
Pandang tarianmu indah
Bahagia dalam nyanyian
Kupu-kupu jangan pergi....”
(Melly Goeslaw)


“The Time of Butterflies” adalah judul sebuah film historis yang digarap-serap dari novel Julia Alvarez, dimana kupu-kupu menjadi inspirasi dan aspirasi perjuangan sejati para aktivis. Dan, bersama dengan segelontor orang yang suka membuat tato kupu-kupu (entah pada pinggul, dada, punggung atau bagian tubuhnya yang lain), banyak seniwan-seniwati kita juga ter-inspirasi dengan kupu-kupu. Sebut saja: Ebiet G.Ade dengan “Kupu-kupu Kertas” nya; Titiek Puspa dan Ariel Noah dengan “Kupu-kupu Malam” nya, Iwan Fals dengan “Kupu-kupu Hitam Putih” nya, bahkan kelompok musik Slank dengan Gank Potlotnya juga menaruh-luruh kupu-kupu sebagai simbol komunitas mereka.

"Imagining Argentina": "Teruslah Mengingat dan Teruslah Berharap"

Ada rasa gemetar dan nyinyir setiap kali mendengar kata “korban”. Perasaan itu makin menusuk ketika suatu waktu saya menonton "Imagining Argentina", yang dibintangi oleh aktor kenamaan Antonio Banderas. Film ini bercerita tentang pengalaman seorang warga negara biasa, Carlos Rueda, yang harus kehilangan anak dan istrinya lantaran diculik. Istri Carlos, Cecilia, diculik paksa setelah membeberkan kasus penghilangan sejumlah anak oleh tentara. Selama masa penantian, Carlos dihantui oleh erangan istrinya yang diperkosa dan teriakan anak-anak yang disetrum. Ia merasakan kehadiran para korban di sekelilingnya melalui suara-suara aneh itu. Meski begitu, ia tak tahu pasti di mana mereka berada kecuali melalui jejak-jejak yang ditinggalkan para penculik. Ketika melewati setiap tempat di mana istri dan anaknya dianiaya, Carlos mendengar teriakan sakit melengking di telinganya. Ia mendengar suara korban seolah dia hadir menyaksikan mereka disiksa di depan mata.

Film ini mengambil latar Argentina tahun 1970-an, ketika negeri itu diperintah oleh rezim junta militer Jorge Videla. Masa-masa itu adalah lembaran sejarah paling kelam para korban. Selama tujuh tahun saja (1976–1983), sekitar 30.000 orang tak berdosa hilang diculik karena alasan yang tak jelas; dan lebih separuhnya adalah anak-anak yang sama sekali tidak terlibat dan tidak tahu-menahu tentang politik. Dalam kurun waktu yang singkat, Videla beserta aparatur militernya menjerumuskan negeri itu dalam horor dan ketakutan yang tak terbandingi dalam sejarah manusia. Ketakutan demi ketakutan menumpuk dan menciptakan histeria massal bagi mereka yang hidup. Mereka yang selamat dari incaran maut—para survivor—terpaksa harus menanggung trauma dan kepedihan batin akibat kepergian orang yang mereka cintai.

Rumah Socius


Rumah singgah SOCIUS sebagai wadah penampungan para mantan narapidana untuk mendapatkan pendampingan, pelatihan dan bekal ketrampilan secara gratis.


Runaway Jury


Gejala Anti Sosial Versus Kecerdasan Sosial di dalam Sebuah Film Gary Fleder

Pendahuluan
     Untuk menyimpulkan bahwa film merupakan sebuah manifestasi dari seni, tampaknya terlalu terburu-buru. Sampai dengan saat ini masih terdapat banyak orang yang menyetujui pernyataan diatas. Beberapa diantaranya bahkan menyangkal bahwa film secara general adalah sebuah manifestasi seni dan memilih untuk sependapat dengan pernyataan yang pernah diungkapkan oleh P.A. Sorokin, seorang ahli sejarah dan budaya, pada tahun 1941:

Science gave us the movies, but Hollywood turned them into the most vulgar displays. Like our detective and mystery stories, th eshow are all right for relaxation and momentary thrill, but nobody as yet has made of thrillers great classics or shows of a great art. (Boggs, Joseph M: 1)

Pernyataan Sorokin diatas mungkin memang ada benarnya jika kita mau melihat hampir sebagian besar film-film keluaran rumah-rumah produksi Hollywood yang sifatnya hiburan semata, biasanya film-film dari genre comedy dan mystery. Tapi jika kita mau melihat lebih jauh lagi, kita akan menemukan beberapa film produksi Hollywood yang tidak bisa dipandang sebelah mata, sebut saja film-film seperti Citizen Kane, the Godfather, Apocalypse Now, the Rain Man, Beautiful Mind, Band of Brothers, dan masih banyak lagi untuk disebutkan semuanya disini.

Jesus: Riwayat-Mu Dulu, Kini dan Nanti


(Belajar dari sang KORBAN)

.....Bayangkanlah suatu kali Anda mendapatkan pertanyaan ini, “Siapakah Kristus menurut Anda?” Untuk menjawab pertanyaan ini, kemudian terbukalah memori-memori Anda akan gambaran Kristus yang dalam sejumlah hal jelas tetapi dalam hal-hal lain samar-samar atau sama sekali gelap. Dan, ketika tiba saatnya kata-kata disusun sebagai jawaban, dari manakah Anda akan mulai....?

Jawaban yang Anda berikan mungkin akan ditangkap pendengar sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja, atau mungkin juga sesuatu yang menggelitik keingintahuan lebih lanjut, atau justru sesuatu yang menggelisahkan.

Film The Last Temptation of Christ  (1988) juga mau menjawab pertanyaan “Siapa Kristus?” pula. Pada film ini, YK digambarkan dalam sosok kemanusiaan yang kental dengan desir-desir ketidakpastian dan keraguan. Ia tampil dalam seseorang yang biasa, bahkan mungkin dapat dikatakan seseorang yang lemah. 

Ecce Homo, Yesus, Mel Gibson

Berbicara Tentang Yesus Kristus melalui Film

“Ecce homo!” Itulah salah satu komentar dari antara kita ketika menonton film The Passion of the Christ atau film-film prapaskah seputar Yesus dari Nazaret itu. Apa maksud komentar singkat ini? Di balik kata-kata tersebut kiranya ada endapan pengalaman dan pengertian tertentu, yang menjadi latar belakang.

“Lihatlah manusia itu!” Siapa yang dimaksud “manusia itu”? Tentu saja sosok Yesus dari Nasaret dalam film arahan Mel Gibson itu. Di dalam film, si “manusia” digambarkan begitu rapuh dan tak berdaya. Oleh karena itu wajar kiranya bahwa komentar yang masuk umumnya mengatakan bahwa itu gambaran Yesus yang menderita.

Tapi, gambaran umum ini kemudian menjadi sangat khusus ketika dicermati bahwa masing-masing komentar menyebutkan “keterangan lain” dari sosok Yesus yang menderita itu. Misalnya, Yesus itu tabah, setia, pasrah, bertanggung jawab, tetap bertahan, penuh perjuangan, penuh kepedulian dan cinta, yang menyelamatkan dan menebus manusia, yang penuh gejolak perasaan, dan semacamnya. Ada pula yang memperhatikan segi yang lainnya lagi, yaitu segi “keluarbiasaan” Yesus atau begitu beraninya Yesus. Kita yakin bahwa komentar-komentar ini mempunyai latar belakang endapan pengalaman tertentu dari si pemberi komentar. Bisa juga, di dalam komentar-komentar itu sudah bermain perihal makna. Maksudnya, arti Yesus bagi si pemberi komentar.

Lalu pertanyaannya: Siapa Yesus Kristus? Apakah pengenalan akan Yesus Kristus dapat disimpulkan dari komentar-komentar itu sebagai “Yesus yang umum”? Ataukah Yesus selalu khusus – menyangkut tiap-tiap orang yang mengenalNya? 

Film School Ties


A. KECERDASAN SOSIAL

Manusia ingin dirinya dianggap bernilai, oleh karena itu mereka melakukan banyak cara agar merasa dirinya bernilai. Tidak heran jika kemudian manusia mulai berlomba dalam mencari kekuasaan, kekuatan, kekayaan, ketenaran sampai kecerdasan intelektual yang tergambar dalam skor IQ. Mereka membutuhkan pengakuan dan penerimaan, dan tentu saja hal itu sangat menusiawi, namun perlu diingat pula bahwa nilai manusia tidak melulu diukur dari apa yang telah disebutkan di atas.

Kita dapat melihat nilai manusia berdasarkan kepekaan dan kepedulian mereka akan setiap situasi sosial yang ada. Tentunya bersikap peka dan perduli saja tidak cukup, kepekaan dan kepedulian tersebut harus hadir dalam bentuk tindakan nyata. Wujud nyata dari kepekaan dan kepedulian manusia inilah yang dapat disebut sebagai bentuk sosial kecerdasan sosial. Tindakan nyata bukan berarti harus selalu berupa tindakan heroik, karena sekecil apapun tindakan itu, akan merupakan bantuan yang tidak ternilai dan sangat berarti bagi yang membutuhkan.

Potret mengenai bentuk keinginan manusia dan kecerdasan sosial tergambar cukup jelas dalam film School Ties. Film produksi Paramount arahan sutradara Robert Mandel ini sejak awal sudah mampu menarik perhatian para penikmat film karena didukung oleh bintang-bintang muda berbakat seperti Brendan Fraser (David Greene), Matt Damon (Charlie Dillon), Chris O’Donnell (Chris Reece), Randall Batinkoff (McGivern), Ben Affleck (Chesty Smith) dan beberapa pemain pendukung lainnya. 

The Terminal


Menunggu pasti Membosankan, Apakah Anda Setuju?

A.
Kebanyakan dari kita jika disuruh menunggu sudah tentu akan merasa bosan, mengantuk dan bawaannya cepat emosi. Terus apa jadinya jika kita disuruh menunggu sendirian, tanpa teman, tanpa tahu budaya (terlebih bahasanya) ataupun tanpa tahu segalanya tentang segala aturan yang ada di daerah tersebut. Hal ini diperparah lagi jika disuruh menunggu tanpa batas waktu. Apa yang akan kita lakukan? Apakah merokok (bagi perokok)?Baca Koran? Atau ada kegiatan lain yang lebih bermutu? Nampaknya susah menemukan jawaban yang “bermutu” jika kita mengalami kejadian seperti yang terjadi di atas.

Jika anda ingin tahu jawabannya, ada pada pikiran seorang sutradara film terkenal Steven Spielberg, yang berimajinasi berkat kisah nyata dari seorang warga negara Iran bernama Merhan Karimi Nasseri yang saat itu berada di bandara terkenal di Perancis dan kehilangan paspornya. Dari kisah itu, dia bekerja sama dengan aktor terkenal Tom Hanks untuk ketiga kalinya, setelah mereka berdua sukses dengan film sebelumnya Saving Private Ryan dan Catch Me If You Can. Tom Hanks berperan sebagai Victor Navorski yang tiba di bandara JFK di New York bertepatan dengan aksi kudeta di negara asalnya, “Krakhozia”. Dan pihak pemerintah Amerika Serikat tidak lagi mengakui negaranya sehingga paspor dan visanya tidak berlaku. Hal ini juga diperparah bahwa dia tidak bisa dideportasi ke negara asalnya tapi juga tidak diperkenankan memasuki wilayah Amerika Serikat. 

La Vita e Bella


A.  Hadiah Terindah bagi Orefice

Ini adalah suatu kisah sederhana, tapi tak mudah menceritakannya……
Seperti sebuah fable, ada kesedihan, penuh keajaiban dan kegembiraan……

Pada tahun 1939, kota Arezzo di Italia menjadi awal dari perjalanan Guido Orefice (Roberto Benigni) seorang berkebangsaan Jerman. Di kota inilah Guido bertemu dengan belahan jiwanya. Arezzolah yang akan menjadi saksi dari cinta mereka. Pertemuan Guido dengan Dora (Nicoletta Braschi) sang belahan hati selalu tak disengaja. Pertemuan diawali di sebuah peternakan saat Dora terjatuh dan menimpa Guido.

          Demikian seterusnya selalu terjadi pertemuan tak terduga. Cinta pun datang dan tertanam di hati kedua insane. Tetapi selalu saja ada aral melintang. Dora telah mempunyai tunangan dan akan segera menikah. Pesta pernikahannya terjadi di restoran tempat Guido bekerja. Betapa besarnya derita batin yang harus dialami Guido. Demi cinta, Guido nekat membawa lari Dora dan menikah dengannya.

Pada Mulanya adalah “Citra”


Sebuah bedah atas film “Goodbye Lenin”

Ya, kalau Penginjil Yohanes mengatakan bahwa pada mulanya adalah firman. Maka, saya mengatakan, pada mulanya adalah citra. Yah, citra sebuah negara sosialis, Republik Demokrasi Jerman, yang tentu saja tak membiarkan halaman rumahnya kecipratan produk kapitalis macam Coca Cola pada era 1980-an. Seorang perempuan memandang spanduk raksasa yang berkibar di gedung tepat di sebelah apartemennya. Sebuah spanduk Coca Cola, sesuatu yang tak pernah terbayangkan bagi perempuan itu, karena baginya dunia adalah dunia yang tidak berubah. Dunia sebuah negara sosialis, tidak lain dan tidak bukan! Tapi, spanduk Coca Cola itu?   

Christianne yang malang itu mengangguk ketika mendapat penjelasan yang dianggapnya masuk akal: Coca Cola telah diproduksi secara massal di Jerman Timur. Christianne (Kathrin Sass) mengutuk kapitalisme sejak kepergian suaminya ke wilayah Barat, menyusul perempuan lain. Sejak itu, sosialisme menjadi satu-satunya kebenaran tunggal yang mengalir deras dalam nadinya. Ia tak beringsut, dan memang semuanya begitu, sampai 7 Oktober 1989. Malam itu ia melihat anak laki-lakinya mengikuti demonstrasi menuntut penyatuan Jerman. Dunianya gelap. Ia koma tanpa menyadari pada April 1990, tembok pemisah Jerman runtuh.

Coklatku Sayang, Coklatku Malang


“Katakan cinta dengan coklat, maka dia akan terpikat…”. Kita semua tahu, coklat merupakan makanan favorit banyak orang. Coklat boleh jadi merupakan makanan yang merupakan hadiah paling populer untuk para pasangan yang saling jatuh cint. Sejak lama coklat memang punya reputasi tinggi. Makanan atau minuman yang dibuat dari biji tanaman coklat ini berhasil merebut hati banyak orang, tidak cuma karena kelezatannya, tapi juga nilai plus yang dimilikinya dalam memperbaiki suasana hati dan mempengaruhi munculnya gelora cinta.

Pohon coklat, yang buahnya mengandung biji yang bisa diproses menjadi camilan coklat, pertama kali ditemukan 2.000 tahun lalu di hutan tropis Amerika. Sementara itu, bangsa Maya merupakan bangsa pertama yang mengkonsumsi cokelat (250-900 SM). Mereka mencampur biji coklat dengan berbagai bumbu untuk membuat minuman yang dipercaya mujarab.

Scandal - Kejahatan Altar


El Crimen del Padre Amaro (The Crime of Father Amaro) judulnya. Sebuah film yang sukses meraih box-office sekaligus film yang paling kontroversial pada tahun itu. Banyak pengamat sinema bahkan berani mengatakan bahwa  El Crimen del Padre Amaro (The Crime of Father Amaro) merupakan film yang paling sukses dalam sejarah Meksiko. Sebuah film yang menceritakan potret suram-buram Gereja Katolik, terlebih dengan fokusnya pada pergulat-geliatan sekaligus ‘perselingkuhan’ seorang pastor muda idealis bernama Amaro (Gael Garcia Bernal).

Film yang disutradarai oleh Carlos Carrera ini didasarkan pada sebuah novel dengan judul yang sama (1875) oleh penulis Portugis abad ke-19, José Maria de Eca de Queiroz. Ketika pertama kali dirilis, El Crimen del Padre Amaro sangat controversial. Bahkan, banyak umat Katolik di Meksiko mencoba menghentikan publikasi film tersebut. Mereka gagal dan film ini menjadi box office terbesar di Mexico, mengalahkan pemegang rekor sebelumnya, “Sexo, lágrimas y pudor” (1999). Film ini begitu kontroversial di Meksiko, terutama karena dirilis segera setelah kunjungan Paus Yohanes Paulus II.

Penuh Tanda Penuh Tanya


Film dan novel “The Name of the Rose” sering dianggap serius dan sulit. Akibatnya ia sering ditilik bukan semata-mata sebagai film dan novel pada umumnya, melainkan disertai embel-embel yang berpotensi “menakutkan” calon pembaca. Disebut-sebut film dan Novel “The Name of the Rose” ini bernuansa filsafat, penuh konsep semiotika, dan menggugat keimanan, sampai-sampai membuat sebagian orang ragu untuk mulai menikmatinya. Hal ini mungkin terjadi gara-gara nama besar penulis awalnya, Umberto Eco adalah seorang profesor doktor sastra, filsuf, ahli semiotika di Universitas Bologna, dan pakar Abad Pertengahan. Beberapa karyanya yang lain adalah: “Foucault’s Pendulum, The Island of the Day Before, dan tiga kumpulan esai populer Travels in Hyperreality, Misreadings, dan How to Travel with a Salmon and Other Essays.

Mgr Soegija: Sebuah Interupsi


In necessariis unitas,
in dubiis libertas,
in omnibus caritas:
Dalam kegentingan - bersatu,
dalam keraguan - merdeka,
dalam segala hal – cinta.”


Johann Baptist Metz, seorang pencetus konsep teologi politik, memberi-jelaskan sebuah definisi tersingkat tentang agama. Menurutnya, agama adalah interupsi (Unterbrechung).

Apa itu Interupsi? Pada dasarnya agama berangkat dari interupsi Allah ke tengah dunia yang disalah-urus oleh manusia. Agama hadir sebagai interupsi, semacam campur tangan di tengah dunia yang terpusat hanya pada dirinya. Bukankah setiap agama mengkhianati panggilannya bila mereka berhenti membuat interupsi? Bukankah ketika berhenti ber-interupsi, agama-agama tidak lagi menjadi “anjing yang menyalak” dan “duri yang menusuk, tetapi sebaliknya merupakan obat tidur yang sangat mujarab?
Nomen est Omen. Nama adalah tanda! 7 Juni 2012, nama sebuah judul film diluncurkan kompak-serempak di pelbagai bioskop tanah air. Soegija namanya. Mgr Albertus Soegijapranata, nama lengkapnya. Soegija yang kerap dijuluki “Bung Karno-nya Gereja Indonesia” adalah seorang imam Jesuit, yang hidup dalam masa revolusi kemerdekaan. Beliau diangkat sebagai Uskup Agung Pribumi yang pertama, secara khusus untuk wilayah Semarang di tahun 1940. Situasi negara yang sedang bergolak-gelak di masa perang menuntutnya untuk tidak melulu asyik melakukan kegiatan altar, tetapi juga berani melakukan interupsi di “pasar” dengan segala carut-marutnya.