Ads 468x60px

50 Titik Pencerahan Kebangkitan Gerakan Kiri di Amerika Latin


Benang Merah, Implikasi Teoretis dan Hikmahnya bagi Gerakan Pro-Demokrasi di Nusantara

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

1. AMERIKA Latin kini menjadi etalase dunia yang membuktikan bahwa gerakan Kiri belum mati, bahwa Sosialisme dalam berbagai bentuk baru belum mati, bahkan sedang mengalami kebangkitan. Arus pasang ini bermula dari hutan belantara Lacandon di Mexico sampai ke hutan beton Santiago, ibukota Chile, di mana diperkirakan pernah terpilih presiden Sosialis perempuan pertama di Amerika Latin. Sementara itu, sejumlah pemimpin gerakan Kiri di Uruguay, Argentina, Brazil, Venezuela, dan Bolivia telah merebut kursi kepresidenan lewat jalan parlementer, yang disambut dengan penuh sukacita oleh laki-laki tua dari Sierra Madre, Fidel Castro. 

2. Mula-mula, dunia menyaksikan munculnya gerakan Zapatista di pojok barat daya Mexico. Tepat pada tanggal 1 Januari 1994, ketika negara itu resmi bergabung dengan AS dan Kanada dalam Kesepakatan Perdagangan Bebas Amerika Utara (North American Free Trade Association, NAFTA), sejumlah petani suku Maya di negara bagian Chiapas melakukan pemberontakan bersenjata melalui gerakan Zapatista, yang dapat menguasai sejumlah kota di Chiapas selama berbulan-bulan, sebelum dipukul mundur oleh tentara Mexico ke hutan belantara Lacandon. Gerakan itu meminjam nama gerakan kemerdekaan Mexico dari Spanyol seabad sebelumnya, yang dipimpin oleh Emiliano Zapata. Sampai sekarang, gerakan itu serta komunike-komunike pemimpinnya, Sub-commandante Marcos, tetap punya gaung secara internasional. Seperti juga gerakan-gerakan perlawanan bersenjata yang lain, Ejercito Zapatista de Liberacion Nacional (EZLN), atau Tentara Pembebasan Nasional Zapatista punya ornop-ornop afiliasinya yang diakui oleh pemerintah (Gilbert dan Otero 2005; Fauzie 2005: 50-1). 


3. Setelah gaung Zapatista agak mereda, Brazil mengejutkan dunia – khususnya maskapai-maskapai mancanegara yang sudah lebih dari separuh abad menguasai ekonomi negara-negara Amerika Latin – dengan terpilihnya calon dari Partai Buruh (Partido Trabalhadores ) sebagai Presiden. Brazil, kini dipimpin oleh Luiz Inacio da Silva alias “Lula” (= Gurita), pemimpin Partai Buruh Brazil, yang menggunakan gerakan buruh tani, buruh industri di kota, cendekiawan dan rohaniwan sebagai kendaraan politiknya. Dia sendiri seorang buruh industri besi, dan sempat menjadi ketua serikat buruhnya. 

4. Gerakan buruh tani pendukung Partido Trabalhadores dirintis oleh gerakan buruh penyadap karet di kawasan Amazon, yang kemudian berevolusi menjadi Movimento dos Trabalhadores Rurais Sem Terra atau MST (Gerakan Pekerja Pedesaan Tak Bertanah), organisasi kiri yang paling keras memperjuangkan reformasi agraria di Brazil (Rotella 1997; Wolford 2005). Gerakan ini menjadi tulang punggung Partido Trabalhadores yang mengorbitkan Lula ke kursi kepresidenan Brazil. Kemenangan Lula sedikit banyak mengobati kesedihan akibat kematian Chico Mendes, pemimpin gerakan buruh penyadap karet yang dibunuh tentara bayaran para rancheros, pemilik peternakan besar di kawasan Amazon. Namun Lula kini dikecam oleh MST karena kurang serius memperjuangkan reformasi agraria dan mulai berkompromi dengan para investor asing (lihat Landim 1993: 225; Fauzi 2005: 35). 

5. Kemenangan Lula di Brazil dibarengi naiknya Hugo Chavez, mantan anggota pasukan tentara payung Venezuela ke tampuk kekuasaan di Caracas. Ia mula-mula merebut kursi kepresidenan lewat kudeta di tahun 1998, namun kemudian terpilih secara demokratis lewat pemilu di tahun itu juga saking besarnya dukungan dari kaum miskin kota di ranchitos, kampung-kampung miskin di kota Caracas. Begitu berhasil mengkonsolidasikan kekuasaannya, Chavez memperkuat posisi tawar PDVSA menghadapi maskapai-maskapai migas asing, khususnya dari AS, yang beroperasi di Venezuela, setelah menempatkan orang kepercayaannya, Rafael Ramirez (42), menjadi Menteri Enerji merangkap Presiden Direktur PDVSA. Royalty untuk setiap barel minyak yang diekspor dari Venezuela dinaikkan dari 1% menjadi hampir 17%, pajak atas laba yang sebelumnya hanya 34% dinaikkan menjadi 50%, dan juga mengajukan tagihan pajak yang belum dibayar (back-tax claims ) kepada maskapai-maskapai migas asing raksasa. Shell, misalnya, disodori tagihan pajak yang belum dibayar sebesar 132 juta dollar AS. Dengan keuntungan yang berlipat ganda dari sektor migas itu, Cavez mengalokasikan empat milyar dollar AS untuk program-program kesejahteraan sosial bagi kaum miskin yang meliputi 80% penduduk Venezuela, serta untuk pembangunan infrastruktur seperti jalan raya dan rel kereta api (Schwartz 2005). 

6. Karuan saja pemerintah AS, yang di bawah Bush Jr dan Dick Cheney diketahui sangat dekat dengan maskapai-maskapai migas AS, kebakaran jenggot. Wakil-wakil Partai Republik dalam Kongres AS mengecam Chavez habis-habisan, sampai ada yang mencapnya sebagai “Mussolini Venezuela”. Seorang pendeta beraliran ultra-konservatif, Pat Robertson malah mendorong pasukan khusus AS untuk menculik Chavez dari negerinya, seperti yang telah dijalankan oleh AS terhadap Presiden Panama, Manuel Noriega. Namun secara realistis, apalagi setelah taufan Katrina menghancurkan sejumlah kilang migas AS, ketergantungan AS pada minyak bumi Venezuela semakin besar. Dengan memasok lebih dari 1,6 juta barel minyak per hari ke AS, Venezuela telah menjadi pemasok minyak terbesar bagi AS, mengalahkan Kanada dan Arab Saudi. Makanya maskapai-maskapai AS dengan patuh mengikuti tuntutan setoran bagian keuntungan yang lebih besar kepada pemerintah Venezuela, melalui PDVSA (Schwartz 2005).

7. Minyak bumi merupakan senjata ekonomi dan politik Venezuela yang paling ampuh dalam menghadapi AS, sebab PDVSA berjaya di dua front: Dalam front ekspor, PDVSA memasok lebih dari 1,6 juta barel minyak mentah ke AS setiap hari. Sedangkan di front domestik AS, perusahaan retail milik PDVSA bernama Citgo, memasok BBM melalui 14 ribu SPBU yang tersebar di seluruh daratan AS. Citgo juga memiliki delapan kilang di daratan AS yang menyuling minyak bumi dari PDVSA menjadi BBM. Keberadaan dan operasi bisnis Citgo itu kini sedang menjadi sorotan Caracas. Menurut Chavez, Citgo telah menjual minyak mentah ke AS dengan harga yang kelewat murah, yakni hanya 2 dollar AS per barel, berdasarkan kontrak sejak sebelum Hugo Chavez merebut kursi kepresidenan Venezuela. Berarti, PDVSA telah mengsubsidi anggaran belanja AS. Lalu, berdasarkan laporan keuangan Citgo bulan Desember 2004, dividen yang dibayar perusahaan itu kepada pemerintah Venezuela, yakni 400 juta dollar AS, hampir sama dengan jumlah pajak yang dibayar Citgo kepada pemerintah AS. Itu sebabnya, Menteri Energi Venezuela merangkap Presdir PDVSA, Rafael Ramirez, bermaksud membekukan rencana pengembangan Citgo (Schwartz 2005: 56; Intelijen, 9-22 Sept. 2005: 21). 

8. Ketegangan antara Venezuela dan AS punya dampak regional, bahkan internasional. Kalau sikap bermusuhan Washington terhadap Caracas terus dilanjutkan, harga minyak dunia diperkirakan bisa menembus level 100 dollar AS per barel. Hal itu karena Chavez menentang keras pendudukan Irak oleh AS, dan juga secara terbuka mendukung Fidel Castro, musuh bebuyutan AS. Chavez menopang ekonomi Kuba dengan memasok 100 ribu barel minyak ke Kuba setiap hari, dengan berbagai keringanan. Sebagai imbalannya, Kuba telah menempatkan 17 ribu orang dokter dan dokter giginya di Venezuela. Sebelumnya, Kuba telah menopang program pendidikan di Venezuela, dengan mengirimkan sejumlah penasehat pendidikan dengan membawa maeri baca tulis untuk ditularkan kepada pengajar lokal. Paket pencerdasan Kuba sendiri dirilis pertama-tama setelah revolusi 1959, dengan mengirimkan guru-guru muda ke pelosok negeri. Dengan Iran, yang dituduh oleh Washington DC mendukung gerilyawan anti-AS di Irak, Venezuela juga telah membuka kerjasama. Pelatihan karyawan PDVSA telah dibuka di Iran, yang sudah berpengalaman puluhan tahun di bidang permigasan (Schwartz 2005; Jawa Pos, 1 Jan. 2005).

9. Kerjasama dengan Kuba punya dampak negatif ke dalam negeri. Perlakuan khusus buat Kuba itu menimbulkan protes mogok dari karyawan PDVSA di bulan Desember 2002 sampai awal 2003. Reaksi terhadap para penentangnya itu, los escualidos, istilahnya di sana, sangat keras. Lebih dari 18 ribu orang pekerja perusahaan migas itu dipecat, yang melumpuhkan perusahaan itu untuk sementara. Kemudian, untuk mengontrol para pekerja secara lebih ketat, Chavez menempatkan Ali Rodriquez, seorang mantan gerilyawan Venezuela yang pro-Kuba, di PDVSA. Sebagai ‘penghargaan’ atas tindakan keras Chavez terhadap para penentangnya itu, Kuba kontan mencicil hutangnya senilai 87,2 juta dollar AS, dari total hutangnya kepada Venezuela sebesar 752 juta dollar AS (Intelijen, 9-22 Sept. 2005: 21; Schwartz 2005: 57). 

10. Walaupun menimbulkan polarisasi di dalam negeri, sepak terjang Hugo Chavez menimbulkan efek domino di kawasan Amerika Latin. Paling tidak, berdampak ke Bolivia, negeri di Pegunungan Andes yang diapit oleh Brazil, Chile, dan Argentina. Di negara yang penduduknya 70% pribumi yang terbagi dalam 36 suku – yang terbesar, Quechua dan Aymara --, tanggal 22 Januari mendatang akan dilantik seorang Presiden pribumi, setelah pribumi negeri itu ditaklukkan dan diperintah selama 180 tahun oleh minoritas kulit putih dari Spanyol. Evo Morales, atau lengkapnya Juan Evo Morales Aima, memperoleh lebih dari separuh suara dalam pemilu hari Minggu, 18 Desember lalu, dengan menggunakan Movimiento al Socialismo (MAS), Gerakan Menuju Sosialisme sebagai kendaraan politiknya. Gerakan ini merupakan aliansi yang lebar antara serikat-serikat buruh kiri, serikat petani koka (cocaleros) yang merupakan basis politik awal Evo Morales, dan gerakan-gerakan sosial lain, temasuk gerakan masyarakat pribumi. Platform politik MAS cukup luas: penghapusan sistim ekonomi neo-liberal; partisipasi bangsa-bangsa pribumi yang lebih besar dalam sistem politik nasional; nasionalisasi industri; legalisasi daun koka; pembagian lebih adil sumber daya nasional (Langman 2005: 46; Economist, 17 Des. 2005: 35-7; Kompas, 22 Des. 2005 & 4 Jan. 2006; Seputar Indonesia, 21 Des. 2005). 

11. Evo Morales, yang lahir tanggal 26 Oktober 1959 dari keluarga Aymara di Orinoca, terorbit karena komitmennya memperjuangkan kebangkitan bangsa-bangsa pribumi di Bolivia. Di kalangan orang Aymara dan Quechua, dia dikenal sebagai Apu Mallku, atau Pemimpin Besar. Dia mendapat mandat dari kedua suku asli yang terbesar di Bolivia untuk memimpin jaringan ayllus, dewan-dewan adat di pegunungan Andes yang lebih tua dari kekaisaran Inca, dan kini telah mengalami kebangkitan karena Negara tidak berfungsi meningkatkan kesejahteraan penduduk asli negeri itu (Langman 2005: 46; Kompas, 4 Jan. 2005).

12. Kebangkitan bangsa-bangsa pribumi Amerika Latin bukan hanya gejala khas Bolivia, tapi mengubah petabumi politik sebagian besar negara hasil kolonisasi bangsa-bangsa Spanyol dan Portugis itu. Sejak tahun 2000, gerakan bangsa-bangsa pribumi telah mendorong tergulingnya empat orang presiden di Ekuador dan Bolivia, dua di antaranya dalam tahun 2004 saja. Di Ekuador, Konfederasi Bangsa-Bangsa Asli punya partai politik sendiri, Pachakutik (Kebangkitan, dalam bahasa Quechua), yang ikut mengorbitkan Presiden Lucio Gutierrez. Namun setelah Gutierrez menyetujui paket reformasi ekonomi neo-liberal dari IMF, Pachakutik ikut menjatuhkan Gutierrez di bulan April 2005. Sedangkan di Bolivia, Presiden Carlos Mesa dipaksa turun takhta oleh parlemen jalanan yang dipelopori bangsa-bangsa pribumi di bulan Juni 2005 (Langman 2005: 47-8). 

13. Kebangkitan politik bangsa-bangsa pribumi yang lebih moderat terjadi di Kolombia, Venezuela dan Guatemala, di mana wajah-wajah berkulit coklat semakin mendominasi pemerintahan federal dan lokal, menggantikan wajah-wajah seputih salju Pegunungan Andes yang hampir 200 tahun bercokol di sana. Soalnya, partai-partai pribumi telah bermunculan di Bolivia, Kolombia, Venezuela, Peru, Argentina, Guyana, Mexico dan Nicaragua. Di Chile Selatan, lebih dari selusin kota sekarang dikuasai walikota-walikota dari suku Mapuche. Sedangkan di Kolombia dan Venezuela, walaupun hanya merupakan minoritas, penduduk pribumi telah memilih gubernur dan melengserkan anggota-anggota legislatif dari partai-partai tua. Hal ini dimungkinkan, karena masyarakat luas yang bukan penduduk asli pun melihat kandidat-kandidat partai-partai pribumi lebih committed pada reformasi (idem). 

14. Terpilihnya Alejandro Toledo, seorang mestizo (berdarah campuran pribumi dan Eropa) di Peru tahun 2001, tadinya disambut gembira oleh penduduk pribumi. Namun mereka kini merasa dikhianati. Berbagai perubahan yang dijanjikan Toledo, seperti penguatan hak-hak adat atas tanah, tidak diwujudkan. Saat ini hanya ada seorang wakil penduduk asli dalam parlemen Peru yang beranggotakan 120 orang. Makanya, mata penduduk asli Amerika Latin kini tertuju pada Bolivia, di mana baru setengah abad lalu, tepatnya pada tahun 1952, penduduk pribumi mendapatkan hak suara dan hak untuk mengenyam pendidikan dasar. Hal ini dimungkinkan karena di negara yang menjalankan semacam politik apartheid, satu kelompok cocaleros (penanam koka) dari suku Quechua dan Aymara di tahun 1995 bersepakat mengubah nasib mereka. Di bawah kepemimpinan Morales mereka dirikan MAS, yang dalam tujuh tahun berhasil memenangkan tiket ke kursi kepresidenan dengan 42 ribu suara. Dukungan di parlemen Bolivia juga sangat besar. Dari 154 kursi, 30 persen jatuh ke kandidat pribumi, yang masih mungkin naik sampai 40 persen (Langman 2005: 47-8).

15. Kunci sukses Morales, yang sekaligus merupakan duri dalam daging diplomasi regional AS, adalah pembelaan Morales terhadap hak penduduk asli Bolivia untuk terus menanam koka, daun suci dalam upacara-upacara keagamaan asli Bolivia sejak 3000 tahun Seb. Masehi. Tidak cuma buat penduduk pribumi Bolivia, juga buat suku-suku asli kawasan Pegunungan Andes yang lain, seperti di Kolombia dan Peru, yang sampai hari ini masih punya kebiasaan mengunyah daun koka untuk menahan rasa lapar atau untuk obat. Pembelaan terhadap hak penduduk asli untuk menanam dan memperdagangkan daun koka inilah yang menyebabkan AS menuduh Morales sebagai penyelundup kokaine, narco-trafficker dan narco-terrorist (Langman 2005: 48; Kompas, 22 Des. 2005). 

16. Namun ada yang lebih menjengkelkan pemerintah AS ketimbang penanaman dan perdagangan koka yang dibela oleh Morales. Seperti Hugo Chavez yang secara terbuka dipujinya, Evo Morales juga berencana meningkatkan royalty terhadap industri gas alam yang sedang dan akan beroperasi di Bolivia menjadi 50 persen. Selain itu, seperti juga Chavez, Morales secara terbuka memuji Fidel Castro, yang secara konsisten telah memberikan teladan kepada bangsa-bangsa Amerika Latin untuk melawan dominasi ekonomi dan politik Amerika Serikat, khususnya. embargo perdagangan AS. Kata tokoh perlawanan bangsa-bangsa asli Amerika Latin itu: “Saya berharap pemerintah AS suatu hari mengangkat embargo itu. Saya ingin mengatakan kepada rakyat Kuba, pemerintah dan pemimpinnya, terima kasih untuk menunjukkan bagaimana mengelola Amerika Latin dan bagian dunia lainnya. Salam revolusioner untuk seluruh rakyat Kuba”. Sebagai bukti simpatinya pada Kuba dan Castro, presiden terpilih Bolivia itu memenuhi undangan el commandante -- panggilan akrabnya untuk pemimpin Kuba yang sudah berumur 79 tahun itu – bertandang ke Havana di malam pergantian tahun. Dalam pertemuan dua generasi pejuang pembebasan bangsa masing-masing, Kuba sepakat untuk memberikan beasiswa bagi 5000 pelajar Bolivia setahun (Langman 2005: 49; Seputar Indonesia, 21 Des. 2005; Jawa Pos, 1 Jan. 2005). 

17. Satu hal yang tidak luput dari sorotan pers di Indonesia, yang telah memberitakan kemunculan Evo Morales dengan penuh nada positif (kecuali seorang kolumnis di Suara Pembaruan yang menanggapi kemunculan trio Castro-Chavez-Morales dengan sangat sinis ), adalah janji Morales untuk memangkas gaji presiden, seluruh anggota kabinet, dan 157 orang anggota parlemen dari MAS sebesar 50 persen. Berarti, gaji Presiden Bolivia yang sebelumnya 3600 dollar AS akan dipangkas menjadi 1800 dollar AS, atau sekitar Rp 18 juta saja. Selain itu, Morales mengancam anggota parlemen dari partainya, yang berhalangan menjalankan tugasnya, akan dipangkas hingga nol (Fajar. 29 Des. 2005).

18. Sementara Bolivia mengorbitkan Presiden pribumi pertama di Amerika Latin, tetangga barat dayanya, Chile diperkirakan akan mengorbitkan Presiden perempuan pertama di Amerika Latin dalam pilpres Chile 15 Januari mendatang: Michelle Bachelet (54), yang juga seorang Sosialis. Dia anak perempuan dari Alberto, seorang marsekal Angkatan Udara Chile yang ikut ditangkap oleh rezim Jenderal Augusto Pinochet, yang merampas kekuasaan dari Presiden Sosialis terpilih, Salvador Allende. Makanya, Michelle merupakan saksi mata dari kudeta Pinochet dan epilognya. Ayahnya, Alberto, disiksa dalam tahanan dan meninggal karena serangan jantung pada usia 50 tahun. Tahun 1975, Michelle, yang waktu itu baru berusia 23 tahun dan masih kuliah di fakultas kedokteran, juga ditangkap bersama ibunya dan dipukuli selama sebulan di tahanan rezim militer Pinochet. Untunglah ibu dan anak itu berhasil lolos. Setelah kembali ke Chile tahun 1979, Michelle yang telah menyaksikan bagaimana banyak temannya hilang, dipenjarakan atau disiksa bersumpah akan menegakkan kembali demokrasi yang telah dihancurkan oleh Pinochet (Langman & Contreras 2005: 54).

19. Itulah yang kini ingin dilakukan oleh dokter anak yang punya tiga orang anak, sudah cerai, seorang agnostic dan sekarang memimpin Partai Sosialis Chile. Setelah Pinochet digeser dari kekuasaan mutlaknya di tahun 1990, Michelle menyiapkan diri untuk terjun ke politik. Ia memperdalam pengetahuannya tentang dunia kemiliteran dan hubungan sipil-militer di Inter-American Defense College di Washington, DC dan tahun 1998 diangkat menjadi penasehat Departemen Pertahanan Chile. Tahun 2002 ia malah diangkat menjadi Menteri Pertahanan perempuan pertama di Chile. Walaupun di lubuk hatinya ia membenci para perwira tinggi yang dulu mendukung rezim Pinochet, ia berhasil mencegah konflik langsung dengan mereka. Buktinya ia terpilih menjadi kandidat presiden dari Concertacion, aliansi partai-partai Kiri dan Tengah yang memerintah Chile sejak tahun 1990 (Langman & Contreras 2005: 55). 

20. Agak berbeda dengan Chavez dan Morales, Bachelet tidak mengumbar retorika anti neo-liberalisme atau anti-AS. “Pemerintah-pemerintah sebelumnya berhasil memacu laju pertumbuhan ekonomi [Chile]”, katanya kepada Newsweek di akhir 2005, “sekarang rakyat biasa di Chile menginginkan suatu negeri yang lebih layak huni, dengan jaminan sosial yang lebih baik dan dengan sarana-sarana untuk melindungi golongan masyarakat yang paling rentan”. Itu sebabnya dalam platform kampanyenya, Michelle Bachelette menjanjikan akses penuh ke pendidikan, pelayanan kesehatan, dan gizi yang layak bagi anak-anak miskin di bawah umur sepuluh tahun. Tantangan yang dihadapinya sungguh berat, sebab tingkat pengangguran di Chile tahun lalu telah mencapai sepuluh persen, dan tingkat ketimpangan pendapatan di Chile termasuk sepuluh yang terburuk di dunia (idem). 



BENANG MERAH:
---------------------------

21. Apa benang merah yang dapat ditarik dari berbagai gerakan Kiri di Amerika Latin itu, mulai dari gerakan Zapatista sampai gerakan Partai Sosialis Chile di bawah pimpinan Bachelet? Pertama-tama, dengan perkecualian kampanye politik calon Presiden Chile itu, semangat anti neo-liberalisme di bawah pimpinan AS sangat kentara dalam propaganda politik presiden-presiden yang terorbit di atas gelombang pasang gerakan Kiri di Amerika Latin ini. Baik Hugo Chavez, maupun Evo Morales sangat menyatakan penghargaan mereka kepada Fidel Castro dari Kuba, dan siap untuk membangun suatu blok ekonomi Amerika Latin sebagai kubu pengimbang bagi AS dengan NAFTA-nya. Sehingga, suka tidak suka, mau tidak mau, trio Castro-Chavez-Morales kini dianggap penantang hegemoni AS yang paling kuat di belahan bumi Barat Wibisono 2005; (Seputar Indonesia, 21 Des. 2005). 

22. Kedua, keberanian Venezuela dan Bolivia ‘menantang’ hegemoni AS di kawasan Amerika Latin disebabkan karena masing-masing negara itu memiliki dua komoditi yang sangat strategis: Venezuela memiliki cadangan minyak bumi terbesar di belahan bumi Barat, sedangkan Bolivia adalah pemasok kokaine ketiga terbesar ke AS setelah Kolombia dan Peru (Kompas, 22 Des. 2005). Dengan cadangan minyak buminya, Venezuela menjadi produsen minyak bumi No. 6 di dunia dan pemasok minyak bumi terbesar bagi AS (Schwartz 2005: 56). 

23. Tampaknya leverage Venezuela untuk menantang hegemoni AS itu mengilhami Evo Morales untuk menaikkan royalty gas alam di Bolivia menjadi 50%. Sebelum ia disumpah sebagai presiden, di bulan Mei 2005 parlemen Bolivia – di mana Morales duduk sebagai anggota parlemen waktu itu -- telah menaikkan royalty terhadap ekspor gas alam dari negeri itu, sehingga menambah pemasukan devisa negara itu sebanyak 420 juta dollar AS setahun. Selain itu, konsesi-konsesi asing di bidang enerji akan dinasionalisasi, menurut Morales. Namun maskapai-maskapai multinasional AS belum banyak bergerak dalam eksplorasi dan produksi gas alam di Bolivia, yang lebih banyak dikuasai Repsol/YPF (26%) dari Spanyol dan Petrobras (43,2%) dari Brazil (Langman 2005: 48-9; Economist, 17 Des. 2005: 36; Seputar Indonesia, 21 Des. 2005).

24. Makanya, yang lebih memusingkan AS adalah sikap Evo Morales yang menolak larangan penanaman koka, yang dipaksakan oleh AS dengan iming-iming kredit untuk pembangunan prasarana sebesar 593 juta dollar AS (Economist, 17 Des. 2005: 36-7). Seperti dikemukakannya dalam wawancaranya dengan Newsweek, 12 Desember 2005, hal. 48: 
I want an agreement or a partnership with the United States to reach zero drug trafficking. Not zero coca but, yes, zero trafficking, zero cocaine. Cocaine and narcotrafficking are not part of the Andean culture. But coca is. The World Health Organization has studies that show it is safe. Coca can be industrialized and put to safe uses (Langman 2005: 48).

25. Ketiga, semua gerakan Kiri di Amerika Latin pada dasarnya merupakan konvergensi di antara berbagai gerakan sosial (social movements), dengan platform politik yang cukup lebar, yang diperjuangkan secara konsisten dalam waktu yang cukup lama. MAS di Bolivia, misalnya, baru berhasil mengorbitkan pemimpinnya, Evo Morales, ke kursi kepresidenan, setelah berjuang selama tujuh tahun, melalui tahap pengorbitan Morales ke kursi parlemen. Platformnya cukup lebar, dari hal yang sangat konkrit, seperti dekriminalisasi penanaman dan perdagangan daun koka, sampai hal yang lebih luas, yakni penghapusan semua bentuk penjajahan ekonomi yang dipaksakan oleh lembaga-lembaga pengatur ekonomi dunia, di bawah panji-panji pembongkaran sistem ekonomi neo-liberal. Seperti kata Comacho dan Gonzalez Casanova (1993: 54): 
History does not give a single example in which the urban movement alone, or the religious movement on its own, or the workers’ movement without alliances succeeded in changing fundamentally the existing system of domination. With the exception of the ecological movement (and this occurred outside the continent), none of these movements on their own have even be able to launch an electoral political party. 

26. Keempat, dalam semua gerakan itu, kaum buruh tidak memainkan peranan yang dominan dalam transformasi politik yang diperjuangkan. Peranan yang agak dominan memang dimainkan oleh serikat-serikat buruh kiri yang merupakan anggota MAS di Bolivia, serta serikat-serikit buruh yang mendukung Partido Trabalhadores di Brazil, yang mengorbitkan Lula ke kursi kepresidenannya. Namun yang lebih menentukan dalam sejarah demokratisasi di Brazil adalah buruh penyadap karet (rubber tappers) di kawasan Amazonia, bukan buruh industri manufaktur di kota, yang lazimnya dalam literatur Marxisme klasik dianggap sebagai motor transformasi sosial, kaum proletar sejati (lihat Manifesto Komunis dan Das Kapital). 

27. Selain itu, sebagian besar anggota masyarakat penyadap karet menyadap pohon-pohon karet tua di hutan Amazonia, yang sudah mereka anggap milik mereka sendiri. Jadi dalam pengertian Marxisme klasik, mereka adalah borjuis kecil, seperti petani pada umumnya, yang masih memiliki alat-alat produksi sendiri. 

28. Kelima, dua gerakan Kiri yang dibahas, yakni Zapatista dan MAS pimpinan Evo Morales, bertulang punggung gerakan ‘masyarakat adat’ (istilah yang lazim di Indonesia) alias gerakan ‘bangsa-bangsa pribumi’ (indigenous peoples, istilah dalam literatur internasional). Moda produksi mereka adalah moda produksi petani ladang, di mana praktis tidak ada pemisahan antara pemilik alat-alat produksi dan pemilik tenaga kerja. Dari kacamata Marxis klasik, mereka dapat dianggap sama seperti petani yang dianggap sebagai borjuis kecil yang tidak punya kesadaran kelas, tapi dari tradisi Marxis yang sama mereka dapat dianggap sebagai masyarakat komunis purba maupun masyarakat komunis di masa depan, yang lebih bersifat sama rata sama rasa, di mana tidak ada pertentangan kelas dan tidak ada pemisahan antara kerja otot dan kerja otak (manual and mental work ). 

29. Sub-commandante Marcos, yang terkenal komunike-komunike dan karya-karya sastranya, boleh dikata merupakan contoh dari masyarakat komunis, di mana orang bisa bertani di pagi hari, memancing ikan di siang hari, menggembala ternak sore harinya, dan melakukan kritik sastra di malam hari. Dengan kata lain, praxis bangsa Maya, yang merupakan basis Tentara Pembebasan Nasional Zapatista (Ejercito Zapatista de Liberacion Nacional, EZLN), merupakan prototip masyarakat yang merupakan alternatif dari masyarakat pasar yang dicita-citakan penganjur faham neo-liberalisme. 

30. Keenam, ada juga gerakan Kiri di Amerika Latin yang ikut dipengaruhi oleh gerakan buruh, baik dalam arti positif maupun dalam arti negatif. Venezuela dan Chile merupakan contoh masyarakat Amerika Latin yang sudah lebih didominasi oleh kaum Ladino, yakni turunan Eropa Latin (= Eropa Selatan), terutama turunan Spanyol yang berkulit putih. Moda produksi kedua negara Amerika Selatan itu kapitalis industrialis, sehingga kaum buruhnya juga lebih dominan ketimbang di Bolivia. Makanya, gerakan buruh juga lebih dominan sebagai agen transformasi sosial dan demokratisasi, ketimbang gerakan-gerakan sosial lain. Konsekuensi logisnya, pemerintah-pemerintah yang berkuasa di Venezuela dan Chile sewaktu-waktu juga harus berhadapan dengan gerakan buruh, yang juga punya tuntutan sebagai buruh, yang dalam literatur Marxis-Leninis sering dicap sebagai welfare-ism, economism atau trade unionism. Efek negatifnya telah kita lihat di Venezuela dengan pemecatan 18 ribu karyawan PVDSA yang menentang favoritisme dagang untuk Kuba. 

31. Ketujuh, andil gerakan perempuan dalam mendorong transformasi ekonomi dan politik di Amerika Latin, tidak begitu tampak dalam gerakan-gerakan Kiri tersebut di atas. Baru di Chile kita melihat munculnya seorang kandidat presiden yang tidak hanya Sosialis, tapi juga perempuan. Terpilih karena dirinya sendiri, bukan mewarisi tampuk kepresidenan dari suami yang meninggal atau karena sebab-sebab lain tidak mampu menjalankan tugasnya. Mungkin itu sebabnya, ia berusaha betul-betul memanfaatkan profil gendernya. Ia berjanji bahwa separuh dari jabatan di kabinetnya akan dialokasikan kepada perempuan. Selain itu, sebagai presiden ia akan mendorong keluarnya undang-undang yang akan mewajibkan partai-partai politik mengisi quota tertentu bagi perempuan sebagai kandidat untuk pemilihan jabatan di berbagai jenjang (Langman & Contreras 2005: 55). 

32. Kemunculan Bachelet ke pentas politik nasional tentunya tidak terlepas dari peranan gerakan perempuan di Chile, khususnya Gerakan Perempuan untuk Sosialisme (Movimiento Mulheres por el Socialismo, MMS), yang terbentuk tahun 1984, yang mulai memadukan analisis kelas dengan analisis gender (lihat Chuchryk 2005: 203). Namun kita masih harus melihat, seberapa jauh korban kudeta Pinochet tanggal 11 September 1973 itu akan mengawinkan agenda pemberdayaan perempuan dengan agenda demiliterisasi dan pemberdayaan buruh Chile, di masa kepresidenannya. 

33. Last but not least, gerakan Kiri yang paling unik adalah Zapatista, yang boleh dikata merupakan pemicu gerakan-gerakan Kiri yang lain di daratan Amerika Latin. Gerakan ini memadu cara perjuangan bersenjata dengan cara-cara perjuangan lain yang sudah lazim bagi gerakan-gerakan Kiri lain di Amerika Latin, bahkan di dunia. Dalam hal ini, Zapatista ada persamaan dengan gerakan penumbangan diktator Batista di Kuba yang dipimpin oleh Fidel Castro dan Ernesto “Che” Guevara, serta gerakan Sandinista di Nikaragua. Namun berbeda dengan revolusi Kuba dan Sandinista, Zapatista tidak berusaha merebut tampuk kekuasaan negara di Mexico, tapi lebih memusatkan perhatian mereka pada penegakan demokrasi langsung di negara bagian Chiapas, sambil memperluas ruang politik bagi kemunculan partai-partai oposisi baru di lingkup nasional. 


IMPLIKASI TEORETIS:
---------------------------------
34. APA implikasi teoretis dari pengalaman empiris arus pasang gerakan Kiri di Amerika Latin itu? Saya lihat, ada tiga bidang yang perlu pembahasan yang agak kritis. Pertama, karakteristik gerakan-gerakan Kiri tersebut sebagai gerakan sosial (social movement ). Kedua, karakteristik demokrasi yang ingin diwujudkan oleh gerakan-gerakan tersebut. Dan ketiga, apa yang dapat diharapkan dari masyarakat-masyarakat pasca-revolusi, setelah tokoh-tokoh pemimpin gerakan-gerakan tersebut berhasil merebut tampuk kekuasaan negara. 

35. Seperti yang telah disinggung di atas (lihat butir-butir 25 dan 29), gerakan-gerakan Kiri ini umumnya merupakan koalisi di antara berbagai gerakan sosial (social movement), dengan karakteristik tambahan bahwa gerakan buruh, khususnya gerakan buruh industri manufaktur yang berbasis di kota, tidak memainkan peranan yang dominan atau menentukan dalam gerakan-gerakan Kiri tersebut. 

36. Realitas arus pasang Gerakan Kiri di Amerika Latin itu lebih mendekati teori ‘gerakan sosial baru’ (new social movements) dari pasangan pemikir Post-Marxist, Ernesto Laclau (berasal dari Argentina) dan Chantal Mouffe (berasal dari Perancis). Konsep ‘gerakan sosial baru’ sebagai subyek revolusioner masa kini, merupakan pemberontakan mereka terhadap ajaran Marx yang melihat kaum buruh (proletariat) sebagai subyek revolusioner yang utama. Konsep ini merangkum berbagai gerakan atau perjuangan (struggle ) yang tidak berbasis kelas dan bukan gerakan buruh, seperti gerakan urban, gerakan lingkungan, gerakan anti-otoriterisme, gerakan anti-institusi, gerakan feminis, gerakan anti-rasisme, gerakan etnis, gerakan regional, dan gerakan perdamaian (Laclau and Mouffe 1999: 159-60). 

37. Walaupun disebut gerakan sosial ‘baru’, gerakan-gerakan itu tercetus oleh proses yang mulai mengalami akselerasi di tahun 1940an, yakni Fordisme. Istilah ini dipopulerkan oleh Antonio Gramsci untuk sistem ban berjalan yang dirintis Henry Ford dalam pabrik mobilnya di Detroit (AS), yang ditiru oleh FIAT di Turino, Italia. Sistim ini, menurut Laclau dan Mouffe, merupakan “articulation between a labour process organized around the semi-automatic production line, and a mode of consumption characterized by the individual acquisition of commodities produced on a large scale for private consumption” (1999: 160). Sistem ini punya dampak luarbiasa, sebab “This penetration of capitalist relations of production, initiated at the beginning of the century and stepped up from the 1940s on, was to transform society into a vast market in which new ‘needs’ were ceaselessly created, and in which more and more of the products of human labour were turned into commodities. This commodification’ of social life destroyed previous social relations, replacing them with commodity relations through which the logic of capitalist accumulation penetrated into increasingly numerous spheres. Today it is not only as a seller of labour-power that the individual is subordinated to capital, but also through his or her incorporation into a multitude of other social relations: culture, free time, illness, education, sex and even death. There is practically no domain of individual or collective life which escapes capitalist relations” (Laclau & Mouffe 1999: 160-1). 

38. Masyarakat konsumen ini, kata Laclau dan Mouffe, melahirkan berbagai bentuk perjuangan baru yang menunjukkan perlawanan terhadap bentuk-bentuk subordinasi baru, yang muncul dari jantung masyarakat baru ini. Aksi-aksi menentang pemborosan sumber-sumber daya alam, pencemaran dan perusakan lingkungan, akibat ideologi produksi demi produksi ini, melahirkan gerakan lingkungan. Aksi-aksi menentang hancurnya kawasan kota karena urbanisasi besar-besaran melahirkan gerakan untuk menuntut kehidupan kota yang lebih baik. Sedangkan produksi massal yang menurunkan kualitas barang dan jasa, melahirkan gerakan konsumen. Dari sinilah dapat kita lihat bagaimana habitat (lingkungan tempat tinggal), konsumsi, dan kebutuhan akan berbagai macam jasa, memicu gerakan-gerakan baru yang menentang ketidakadilan dan menuntut hak-hak baru (Laclau & Mouffe 1999: 161).

39. Walaupun menolak gagasan Marx terhadap peranan buruh sebagai subyek revolusioner, agen perubahan sosial utama menuju sosialisme, gagasan ‘gerakan sosial baru’ Laclau dan Mouffe ini tetap berakar di pemikiran Marx, baik secara langsung maupun melalui re-interpretasi pokok-pokok pikiran Marx oleh Gramsci. Dari Gramsci mereka secara khusus meminjam konsep hegemoninya, sebab tugas gerakan-gerakan sosial baru itu, menurut Laclau dan Mouffe, adalah menciptakan suatu hegemoni baru. Mereka tergerak oleh kritik Marx terhadap para filsuf, dalam tesis kesebelas tentang Feuerbach, yang dijabarkan oleh Gramsci menjadi perbedaan antara intelektual tradisional dan intelektual organik. Bahkan kepedulian Marx secara umum tentang berbagai bentuk alienasi (keterasingan), baik di bidang ekonomi maupun di bidang filsafat dan teologi, yang paling eksplisit dituangkan Marx dalam Naskah-Naskah Paris tahun 1844, melandasi ketidakterikatan pada satu kelas atau kategori sosial saja. Akhirnya, mereka juga ‘berhutang’ kepada Gramsci, yang pertama kali berbicara tentang aliansi antara buruh dan petani, dan menciptakan kategori “subaltern classes” yang kemudian mengalir ke dalam konsep ‘gerakan sosial baru’. Secara umum, evolusi pemikiran dari Marx ke Gramsci ke Laclau dan Mouffe dapat dilihat di Lampiran 1. 

40. Gagasan ‘gerakan sosial baru’ ini, telah mulai mengilhami gerakan perempuan di Indonesia (lihat Budianta 2003). Soalnya, gagasan ini berkaitan dengan gagasan demokrasi yang lebih radikal, tapi mengakui pluralitas gerakan. Seperti kata Chantal Mouffe: Democratic discourse questions all forms of inequality and subordination. This is why I propose to call those new social movements ‘new democratic struggles’ because they are extensions of the democratic revolution to new forms of subordination. Democracy is our most subversive idea because it interrups all existin discourses and practices of subordination (dikutip dalam Budianta 2003: 149).

41. Selain pluralitas gerakan, atau “pluralism of subjects”, yang paling penad (relevan) dari teori Mouffe bagi gerakan perempuan, menurut Melani Budianta, adalah “solidaritas” di antara gerakan gerakan-gerakan demokratik itu. Kata Mouffe: A new conception of democracy also requires that we transcend certain individualistic conception of rights and that we elaborate a central notion of solidarity. This can only be achieved if the rights of certain subjects are not defended to the detriment of the rights of other subjects (dikutip dalam Budianta 2003: 150).

42. Secara tidak langsung, kita sudah memasuki persoalan teoretis kedua yang dapat dijabarkan dari realitas empiris kebangkitan gerakan Kiri di Amerika Latin ini, yakni demokrasi. Demokrasi macam apa yang diperjuangkan oleh gerakan-gerakan Kiri yang mengorbitkan pemimpin-pemimpin baru di Brazil, Venezuela, Bolivia, dan Chile itu? Termasuk, demokrasi macam apa yang diperjuangkan oleh Zapatista di Mexico, yang tidak berusaha merebut kekuasaan negara? Yang jelas, yang diperjuangkan itu bukanlah semata-mata demokrasi liberal yang hanya ditandai dengan pergantian kepemimpinan secara periodik dan damai, yang disalurkan lewat partai-partai politik, yang tetap meminggirkan mayoritas rakyat miskin, dan tidak dibarengi dengan demokratisasi alat-alat produksi (lihat Whitehead 1994). 
43. Sebagai alternatif bagi kaum Kanan yang terlalu mengunggulkan demokrasi liberal, maupun kaum Kiri lama (baca: kaum Marxis-Leninis) yang mengunggulkan perebutan kekuasaan Negara oleh satu partai pelopor (vanguard) yang mengatasnamakan kaum proletar, duet Laclau dan Mouffe mengusulkan bahwa tugas gerakan-gerakan sosial baru adalah membangun apa yang mereka sebut “demokrasi radikal pluralis”, dalam konteks munculnya antagonisme-antagonisme sosial baru dalam masyarakat kapitalis maju (lihat Hutagalung n.d). 

44. Istilah “radikal” dalam konsep demokrasi plural ini, menurut Daniel Hutagalung, mahasiswa Ernesto Laclau di Universitas Essex di Inggris dapat bermakna sebagai berikut. Pertama, demokrasi haruslah pluralis-radikal dalam arti, pluralitas dari identitas-identitas yang berbeda tidaklah transeden dan tidak didasarkan pada pasar positifis apapun. Kedua, demokrasi radikal plural adalah di mana demokrasi plural dan perjuangan untuk kebebasan dan persamaan (freedom and equality ) dihasilkan, haruslah diperdalam (deepened ) dan diperluas ke seluruh wilayah kehidupan masyarakat. Ketiga, perjuangan demokrasi radikal plural akan melibatkan di dalamnya sosialisasi produksi, tetapi bukan berarti hanya buruh yang mengatur, tetapi partisipasi sepenuhnya dari semua subyek dalam pembuatan keputusan mengenai apa yang akan diproduksi, bagaimana diproduksi dan format bagaimana produk-produk akan didistribusikan. Keempat, tugas utama demokrasi radikal adalah memperdalam revolusi demokratik dan mengaitkan berbagai perjuangan demokratik yang beragam. Tugas seperti itu mensyaratkan penciptaan posisi-posisi subyek baru yang dapat menerima berbagai artikulasi yang sudah umum, seperti anti-rasisme, anti-seksisme dan anti-kapitalisme (Hutagalung n.d.).

45. Akhirnya, menghadapi era baru di mana semakin banyak posisi politis di tingkat lokal dan nasional di Amerika Latin berhasil direbut oleh gerakan Kiri, kita juga perlu membaca kembali wanti-wanti Samir Amin, seorang Marxis Mesir yang meneruskan teladan Frantz Fanon untuk tetap bersikap kritis terhadap mantan kawan seperjuangan. Khususnya, kritis terhadap jebakan-jebakan yang sudah, atau dapat, dihadapi dalam era pasca-revolusi. Samir Amin menulis (1993), bahwa di banyak negara yang sudah berhasil direbut kepemimpinan nasionalnya oleh partai-partai Kiri, yang terjadi bukan transisi ke Sosialisme, tapi sekedar rekonstruksi nasional demi mempertahankan popularitas rezim yang berkuasa. Ia juga memperkenalkan istilah recompradorization, atau ‘re-kompradorisasi’, yakni penguasaan kembali sektor-sektor ekonomi yang strategis oleh Negara atau kelas yang berkuasa, untuk diintegrasikan kembali ke sistem ekonomi kapitalis global. Kedua gejala tersebut – rekonstruksi nasional populer dan re-kompradorisasi – saling berkaitan, dan tampaknya sudah sedang terjadi di Brazil di bawah Lula. 


HIKMAH BAGI GERAKAN PRO-DEMOKRASI DI NUSANTARA:
-----------------------------------------------------------------------------------------------
46. Walaupun wilayah geografis Indonesia yang jauh lebih luas dari pada masing-masing negara Amerika Latin di atas, dan juga mengingat keragaman moda produksi dan budaya politik di kepulauan ini, ada beberapa hal yang dapat dipetik hikmahnya oleh gerakan pro-demokrasi di Nusantara. Pertama-tama, untuk mencapai tujuannya, gerakan-gerakan Kiri di Amerika Latin berusaha memadu agenda reformasi dari berbagai gerakan sosial, sehingga menjadi platform bersama. Kedua, perjuangan bersama di antara berbagai gerakan sosial dipertahankan sampai cukup lama, lewat tahap-tahap antara di mana lembaga-lembaga pemerintahan lokal, eksekutif dan legislatif dapat dikuasai, kemudian parlemen nasional dikuasai, baru tampuk pemerintahan nasional dikuasai. Ketiga, walaupun platform gerakan Kiri nasional cukup lebar, ketahanan perjuangan jangka panjang ditopang oleh satu gerakan sosial yang cukup solid, yakni gerakan bangsa-bangsa pribumi, yang punya basis geografis yang kuat. 

47. Memang, sudah ada gerakan Kiri di Indonesia, namun gerakan inipun masih terpolarisasi antara mereka yang lebih condong ke tafsiran Marxisme yang lebih dekat ke Marxisme-Leninisme dan yang lebih condong ke Sosial-Demokrasi Bernstein dkk. Lalu, telah muncul pula aliran yang lebih condong ke tafsiran Mao yang memilih gerakan petani sebagai basis dan pelopor perjuangan. Sudah saatnya berbagai aliran Kiri di Indonesia menggantikan perdebatan tentang kebenaran tafsiran mereka, dan memadu perjuangan mereka, bersama gerakan-gerakan sosial di Indonesia, menghadapi musuh bersama, yakni neo-liberalisme, militerisme, dan intoleransi terhadap perbedaan-perbedaan ontologis, sesuai dengan anjuran Marx sendiri dalam tesis kesebelas terhadap Feuerbach: “Sudah banyak filsuf yang menafsirkan dunia, secara berbeda-beda. Tapi sangat sedikit yang berusaha mengubah dunia”. 

48. Gerakan bangsa-bangsa pribumi (indigenous peoples ), yang sudah mencatat beberapa kemenangan dalam merebut kekuasaan eksekutif dan legislatif di berbagai negara di Amerika Latin, dapat menjadi ilham bagi gerakan masyarakat adat di Indonesia, yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) (lihat Murray Li 2005; Fauzi 2005: 121-34). Barangkali, beberapa hal yang perlu direnungkan adalah pembentukan partai-partai politik yang berbasis kelompok etno-linguistik, yang dalam konteks Nusantara sebaiknya diperluas menjadi partai lokal, serta kesepakatan untuk mengawinkan strategi aksi massa, yang sudah banyak dijalankan oleh komponen-komponen AMAN bersama gerakan sosial lain, dengan strategi parlementer. 

49. Selain itu, aktivis-aktivis Kiri dari berbagai aliran, baik Marxis maupun anarkhis, perlu juga turut mempelajari sistem-sistem pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan dari berbagai bangsa pribumi, untuk melihat potensinya sebagai moda produksi yang sudah bercorak sosialistis, di mana tidak ada pemisahan antara pemilik alat-alat produksi dan pemilik tenaga kerja. Karena belum ada istilah lain, saya sebutkan moda produksi begini, sosialisme marga. 

50. Berbicara soal partai lokal, gerakan pro-demokrasi di Nusantara juga dapat belajar dari pengalaman Zapatista di Mexico, yang tidak berupaya merebut tampuk kekuasaan nasional, yang sangat tidak taktis waktu itu, dengan tekanan Zapatista pada demokrasi langsung (direct democracy). Menjadi kelompok tekan yang berfungsi memberikan pendidikan politik pada rakyat mungkin merupakan suatu strategi yang dapat dilakukan di Nusantara, di seputar momen-momen Pilkada dan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Kepala Daerah, yang biasanya sangat dikotori politik uang para pejabat dan konglomerat yang menjadi bandarnya. Ketimbang memberikan dukungan secara langsung kepada salah satu pasangan calon kepala daerah, pengungkapan latar belakang sang calon pejabat itu, bagaimana rekor pelanggaran HAM dan rekor akumulasi kekayaan haram tokoh-tokoh itu dapat memberikan tekanan yang lebih berarti, sekaligus dorongan bagi rakyat untuk memboikot politisi busuk. Saya mengusulkan hal itu, walaupun dengan risiko tidak ada yang pantas untuk dipilih, seperti dalam kasus di Sulawesi Tengah, di mana tiga pasangan calon gubernur semua berasal dari lingkungan keluarga gubernur – atau keluarga bupati -- yang punya cacat dalam memimpin daerahnya sebelum maju ke perlombaan calon kepala daerah provinsi ini.

0 komentar:

Poskan Komentar