Ads 468x60px

Memoar Retret Agung


Oleh-Oleh Refleksi
 
“Ambillah Tuhan, dan terimalah seluruh kemerdekaanku,
ingatanku, pikiranku dan segenap kehendakku,
segala kepunyaan dan milikku.
Engkaulah yang memberikan, padaMu Tuhan kukembalikan.
Semuanya milikMu, pergunakanlah sekehendakMu.
Berilah aku cinta dan rahmatMu, cukup itu bagiku”
(St.Ignatius Loyola, LR no. 234)



Pengantar

Latihan Rohani adalah kumpulan doa dan meditasi serta “manual” untuk membangun olah-alih hidup rohani yang disusun-rukun oleh St.Ignatius Loyola, khususnya selama masa-masa formatif pembentukan hidup rohaninya (tahun 1522-1524). Buku ini sendiri ditulis dengan tujuan untuk memajukan dan memperkuat pengalaman rohani melalui suatu jalan yang khas dengan unsur-unsur ajaran Gereja Katolik Roma. Dalam latihan rohani selama 30 hari ini, ada berbagai permenungan yang dilakukan setiap hari, terkait-paut dengan “Manusia dan Dunia”, “Psikologi Hidup Manusia sebagaimana dipahami Santo Ignatius”, serta “Relasi Personal dengan Tuhan”. Ada juga berbagai macam cara berdoa, seperti: doa kehadiran, doa pernafasan, doa meditatif,          doa kontemplasi, doa fantasi, pemeriksaan batin, doa afektif tanpa kata, doa membaca Kitab Suci dan lain‑lain.

Nah, persis bersama dengan program bina lanjut sebagai imam muda dan rasa syukur atas perjalanan lima tahun rahmat sakramen imamat yang boleh saya terima pada 15 Agustus (Hari Raya Maria Diangkat ke Surga), maka saya memberanikan diri “pergi ke padang gurun” dengan segala kedosaan dan kerapuhan, kekuatan dan ketegaran untuk membenam-larutkan diri dalam retret agung pribadi di pertapaan Trappist Rawaseneng.

Tentunya bukan sengaja lari dari kenyataan dan masalah hidup yang pasti semua orang juga mengalami, tetapi saya merasa harus menarik diri dari tegangan dan tekanan nyata dari roh jahat, entah itu lewat orang lain, sesama rekan imam atau bahkan kemelut-kusut diri saya sendiri, agar tidak dihanyut-larutkan oleh afeksi, emosi, friksi dan ambisi serta terpaan dan gosipan, baik yang halus tak kentara maupun yang terang-terangan terbuka. Disinilah, bersama dengan rasa syukur atas HUT tahbisan imamat yang kelima, saya ingin mendekati teras hati, sebuah pusat kepribadian. Saya ingin membawa relung hati untuk kembali disentuh, diraba dan dibelai oleh Allah sendiri. Dan, bukankah itu menjadi lebih ranum dan harum dalam kesunyian?

“Segera sesudah itu Roh segera memimpin Dia ke gurun” (Mrk. 1,12). Yah, Yesus dibawa  ke gurun oleh Roh untuk menghadapi masalah besar hidup dan misiNya. Saya juga memasuki “retret” untuk semakin berhati-hati menghadapi pelbagai gerak-polah masalah hidup dan pikatan-pikatan jahat yang tercampur baur serta semakin peka pada ajakan-ajakan Allah. Dalam keheningan “gurun” inilah, saya hendak berdaya-upaya untuk semakin yakin menemu-kenangkan kejelasan serta kekokohan yang pastinya saya butuhkan dalam kekacauan roda kehidupan yang sebenarnya. Bukankah seorang empu pembuat keris, tidak hanya membuat pisau tajam berkelak-kelok belaka, tapi harus ada pamor nya? Bukankah seorang penari tidak hanya menari dengan baik, tapi harus memiliki greget nya? Harapannya: In nomine Dei feliciter, dalam nama Tuhan semoga makin berbuah.  



Doa Sebelum Retret
Tuhan Yesus Kristus, yang hadir disini,
aku bersyukur kepadaMu atas kemuliaan kebangkitanMu;
aku bersyukur kepadaMu karena Engkau telah memanggilku
untuk berkumpul disini;
aku bersyukur karena Engkau memuji Bapa
secara sempurna
di dalam diriku.

Aku bersyukur kepadaMu karena di dalam diriku
Engkau merupakan keadilan sempurna terhadap saudara-saudariku;
Engkau yang ada di dalam dirikulah yang selalu
memperbaiki ketidakadilanku,
memulihkan ketidakpercayaanku,
dan menyembuhkan ketakutanku.

Aku bersyukur kepadaMu, Tuhan Yesus,
atas kemuliaanMu yang besar,
dan aku mempersembahkan kepadaMu
apa yang segera akan kulakukan,
segala yang kupikirkan,
segala yang kulakukan,
segala yang kualami selama hari-hari ini
dan hari berikut
demi keluhuranMu dan demi Engkau sendiri.

Aku juga mempersembahkan keletihanku sore ini
karena aku memang sedikit letih akibat berbagai hal
yang kualami pada hari ini seperti yang juga
kualami pada hari-hari lain.
Tuhan, aku sungguh senang dapat mempersembahkan kepadaMu
keletihan ini
karena ini memang merupakan hiasan hidupku sehari-hari.

Selanjutnya, perkenankanlah aku mohon agar
betapapun letih dan capeknya diriku,
aku dapat memulai retret ini
Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, Amin

(Carlo Maria Martini, SJ, Uskup Agung Milan,
pernah menjadi profesor Kitab Suci di Biblicum dan rektor Universitas Gregoriana, Roma)






01.      
Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair. ( Mz. 63:2)

Salve, Regine, Mater misericordiae!
Vita, Dulcedo, et Spes nostra! salve.
Ad te clamamus, exsules filii Evae.
Ad te suspiramus, gementes et flentes in hac lacrymarum valle.
Eia ergo, Advocata nostra! illos tuos misericordes oculos ad nos converte.
Et Jesum, benedictum Fructum ventris tui, nobis post hoc exsilium ostende,
o clemens, o pia, o dulcis Virgo Maria!


Spes nostra! Salve. Maria, harapan kita! Doa completorium dengan alunan lagu Salve Regina sebagai gong pamungkasnya mengawal-gawangi retret latihan rohaniku pada malam pertama ini. Yah, di kapel Trappist Rawaseneng,  persis jam 19.45 – 20.10 ini, aku sedikit melankolis, menangis haru. Dengan lampu yang sedikit suram-temaram, hanya wajah Bunda Maria, sang pelindung pertapaan inilah yang disinari cahaya lampu pada akhir ibadat penutup. Terasa jelas, Bunda Maria sungguh dekat-akrab dan hangat-bersahabat. Dia seakan mengerti sesaknya hati dan perihnya budi ketika merasa disakiti dan dihakimi, dan aku hanya ingin termenung dan terpekur sendiri. Ada rasa kecewa, tak percaya, sakit, terluka bahkan terhadap ocehan satu dua rekan imam dan segelintir umat yang asal omong mewarnai rintihan hati insani ini: ”Ad te suspiramus, gementes et flentes in hoc lacrymarum valle: kepadamu kami berkeluh-kesah, meratap dan menangis, di lembah airmata ini.”

Perlahan, aku tak mau larut-hanyut pada melankolis picisan ini. Aku merasakan sebuah keyakinan dasar bahwa imamat adalah sebuah proses penuh kerendahan HATI. Itu nyata sekali ketika kuikuti langkah tenang para rahib yang berbaris lurus-menunduk dan meminta percikan air suci dari  abas (pemimpin pertapaan) persis di depan tabernakel Rawaseneng. Asperges Me ! Malam ini, aku menyadari diri sebagai pendosa, ya pendosa (sinner) yang mau belajar menjadi pendoa (saint). Malam di hari pertama ini, aku juga mulai berniat belajar berdoa lagi. Yah, maunya sih 1 jam dengan frekuensi 3 kali sehari, jam 09-10, jam 13-14, jam 16-17, layaknya seperti meminum obat, bukan? Ada tambahan bacaan rohani pada jam 19.00-19.30. Itu yang kuharapkan. Itu juga yang seakan ditawarkanNya tanpa sengaja. Yang pasti sebuah harapan iman yang kudapat-erat dari Luk 11:1-13 menceruat, “Tuhan ajarlah aku berdoa.”

Malam ini, tercandra bagiku juga bahwa Latihan Rohani Ignasian seperti sebuah alat deteksi aneka tanda, mengajakku untuk lugas membuka pintu hati dan jendela budi. Yah, aku diajak untuk menjadi seperti sebuah nama suster Dominikan yang juga berkarya di sekitar pertapaan Rawaseneng, yakni Sr. Diana – “Diam-Diam mempesona.” Aku diajak belajar diam dalam Tuhan, mencecap dan merenungkannya dalam hati yang terpesona pada kerahiman Tuhan dan kehangatan Bunda Maria. Aku diajak menjauhkan diri dari lingkungan biasa, dimana aku merasa kerasan; menjauhkan diri dari semua orang yang biasa menemaniku dengan pelbagai motivasi dan intensi; dari pekerjaan rutin serta kesibukan yang kerap memenuhi  jadwal hidup harianku.

Sebaliknya, aku diajak mendekati diri pada wajah Tuhan dan pasrah Bunda Maria, yang memberikan suasana hati serta rasa plong terbebas dari tekanan, ketegangan dan kedukaan yang berlebihan. Aku mengalami semacam “istirahat” yang dikatakan oleh Kitab Suci yakni istirahat Allah sendiri setelah mengadakan karya penciptaan (Kej.2:1-3). Bagiku, pada refleksi malam pertama ini, saat ini adalah “sabat”, yang aku gunakan untuk turut ambil bagian dalam hadirat hening Allah: “Bagi umat Allah tersedia hari istirahat, yakni hari ketujuh.  Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat istirahatnya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya (Ibrani 4:9).  Ini adalah istirahat yang diberikan Yesus kepada murid-murid-Nya: “aku akan memberi kamu istirahat” (Mat.11:28)

Ya Tuhan Allah alam raya, ciptakan dalam diriku
kesetiaan yang menggerakkan Engkau,
aku pasti akan percaya selalu padaMu
dan aku pasti mendambakan Engkau
seumur-umurku.
(Joseph Tetlow, SJ, guru besar teologi kerohanian)

02.
“Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.” (Mz. 51:3-6)

Ya Roh Allah, aku mohon kepadaMu;
sudilah Engkau membantuku mengarahkan
segala ulah tindakanku
dengan ilham-ilhamMu
serta melaksanakannya
dengan bantuan rahmatMu
agar setiap doa dan karyaku
selalu dimulai dari Dikau
berlangsung lewat Dikau,
serta berakhir selamat kepada Dikau.

Aku memasuki retret dengan kebulatan tekad untuk menerima “situasi gurun”: kesunyi-heningan, sepi dan sendiri, konfrontasi dan intimasi dengan diri dan segala yang ada dalam relung diri, serta kesediaan untuk sungguh membuat komitmen penuh dan utuh kepada Allah. Hari ini adalah  hariku di “padang gurun”: mencari oase Allah bersama kemurahan hati Yesus dan kepasrahan diri Bunda Maria. Yah, inilah pagi hari pertamaku! Kumulai minggu pertama LR Ignasian, bertema pokok tentang “pengalaman dicintai dan kedosaan yang menyertai”. Selama minggu pertama ini, aku diajak untuk menyadari bahwa aku sungguh dicintai oleh Allah. Sejalan dengan itu, aku juga sekaligus diajak untuk memahami bahwa aku kerap tidak benar-benar menanggapi cinta dan kebaikan Allah itu. Oleh karena itulah, aku diajak menghadapi keberdosaan diriku dengan tiga sikap seperti nama seorang frater dari Kentungan, yang sehabis berkarya pastoral di Seminari Mertoyudan kutemui di pertapaan Rawaseneng dan suka meminjam novel Pramudya Ananta Toer dari kamarku ini. Fr JOko namanya. “Jujur, Obyektif dan ber-KOmitmen” itu artinya.

Yah, dengan bermodal tiga sikap: “Jujur, Obyektif dan ber-KOmitmen”, kubuka fajar hari baru dengan mengikut-runtut untaian brevir dan perayaan misa pagi di kapel, yang dipersembahkan oleh “three musketter” dari Trappist Rawaseneng. Lewat brevir dan misa pagi inilah, aku teringat sejenak sebuah kearifan dalam 1 Samuel 3:1-10, “Berbicaralah Tuhan, sebab hambaMu ini mendengarkan.” Seiring waktu yang seakan membatu pada awalnya, kubaca Catatan Pengantar” serta  Tujuan sambil berjalan sendiri-sepi di dekat kebun kopi dan “kamar baruku”. O res mirabilis!

Sebuah kesengajaan: Aku memilih “kamar baruku” di sebuah tempat sederhana di kawasan yang jarang dilewati, kurang diminati dan tak pernah ditempati para peziarah. Ia terletak di atas kapel pertapaan, yah jalannya jejak-menanjak kalau dari kapel sekitar 200-an meter. Sst…. katanya, konon sewaktu digali, di bawah ruanganku ini ada tulang-tulang yang berserakan. Adapun nama tempat tinggalku ini: Wisma Nazareth. Aku sendirian di situ. Sunyi sepi sendiri dan gelap-senyap sedikit pekat. Aku teringat sepenggal lagu musim Natal bertajuk, “Malam Kudus”. Harapku, ada limpahan rahmat pun cucuran berkat dari Keluarga Kudus Nazareth: Doa dan kepasrahan Bunda Maria, ketulusan hati Santo Yosef serta kemurahan dan kelembutan kanak-kanak Yesus.

Lewat tempat baru inilah, aku berharap boleh dilahirkan dan hidup kembali bersama dengan teladan dan kesederhanaan tiga orang suci ini: Yesus, Maria dan Yosef. Tiba-tiba, aku juga terkenang pesan bijak-bestari St. Arnoldus Janssen, seorang imam diosesan Jerman dan pendiri tarekat SVD: “Permulaan yang sederhana ini jangan mengecilkan hati kita. Pohon yang raksasa mulai dengan benih kecil dan orang yang paling perkasa pada mulanya adalah seorang bayi yang lemah dan tak berdaya.”

http://www.indocell.net/yesaya/pustaka4/1x1.gifDi Wisma Nazareth yang sederhana ini jugalah, aku terfokus pada LR 21-22, tujuan dan korelasi antara pembimbing, yakni Tuhanku sendiri dengan yang dibimbing, yakni aku sendiri, sebagai seorang imam muda dari metropolit Jakarta yang merasa terkukung noda dan terkekang nestapa karena dusta sesama. Satu penghiburanku, ternyata seorang rahib Trappist dan suster Dominikan yang juga tinggal berdekatan dengan kamarku pernah “mengenalku”. Yah, walaupun hanya dari tulisanku yang tersebar-pencar dalam beberapa bukuku yang diterbitkan Kanisius. Dengan suaranya yang khas dan badannya yang agak gembul, rahib berbadan pendek yang suka tersenyum, dan berasal dari daerah asalnya Tan Malaka, yakni di Payakumbuh Sumatera Barat ini begitu antusias bahkan tergopoh dan selalu “bersemangat 45 “ untuk meminta tanda tanganku bagi beberapa koleksi buku yang dimilikinya. Kadang ketika berdoa completorium bersama di kapel, dia malahan membawa buku itu: Entah dibacanya. Entah dicoret-moret dengan pulpennya. Entah hanya dipegang saja sambil senyam-senyum - lirak-lirik, seperti kuda andong yang baik hati di kawasan Malioboro. Yah, aku mengenal nama lain hari ini, Blasius. “BLAjar kesederhanaan, SIapkan pelayanan, USahakan pertobatan”.  


03
“Banyak orang berkata: "Siapa yang akan memperlihatkan yang baik kepada kita?" Biarlah cahaya wajah-Mu menyinari kami, ya TUHAN!” (Mz 4:7)


Yesus, semoga segala yang ada padaMu
tertuang ke dalam diriku.
Semoga tubuh dan darahMu menjadi
makanan dan minumanku.
Semoga sengsara dan wafatMu menjadi
kekuatan dan kehidupanku.
Yesus, jika Engkau ada di sisiku, cukup sudahlah
apa yang diberikan kepadaku.
Semoga naungan yang aku cari
ialah bayang-bayang salibMu.
Semoga aku tidak lari dari cinta yang Engkau tawarkan
dan Engkau anugerahkan kepadaku.
Dan semoga aku selalu Engkau bebaskan dari kuasa jahat,
dan dalam detik-detik aku mendekati kematianku
curahkanlah cahaya dan cintaMu.
Panggillah aku selalu sampai datang saatnya
aku, bersama para suciMu, Engkau perkenankan
memuji Dikau untuk selamanya.
Amin
(David L Fleming, SJ, pernah menjadi provinsial Yesuit di Missouri
dan editor majalah dwi-bulanan, “Review for Religious”)
 

Setelah kubuka dengan doa gubahan David L Fleming, yang merupakan  sebuah parafrase kontemporer dari doa kesayangan St.Ignatius Loyola, “Anima Christi – Jiwa Kristus”, hari ini aku termenung-renung soal figur Nabi Musa yang bertemu dengan Allah di semak yang terbakar api (Keluaran 3:1-12). Sungguh aneh, semakin jauh Musa menggembalakan dombanya, semakin dekat ia pada tempat suci Tuhan, yakni Gunung Horeb. Disanalah, Tuhan “menghancurkan” rutinitas hidup Musa. Ia memanggilnya dari tengah-tengah semak menyala. Dari sejak jaman dulu, api adalah lambang Allah dengan kekuasaannya yang membinasakan, bentuknya berubah-ubah serta kekuatannya yang tak dapat dikuasai. Api ini tampaknya berlainan, api ini tidak merusak dan tidak membinasakan, api ini menyala-nyala diantara cecabangan duri tapi tak ada yang binasa.  Ini adalah misteri Allah yang harus dipelajari oleh diriku: Belajar menerangi tapi tidak menyakiti, tegar menghangatkan tapi tidak membinasakan.

Satu kalimat imperatif yang kuingat dalam kisah ini, “lepaskan kasutmu!“. Yah, satu-satunya cara bagi Musa untuk mendekat kepada Tuhan adalah dengan “menanggalkan kasutnya”. Inilah sebuah tindakannya untuk mendekati Tuhan: Ia melepaskan diri dari kecemasan, rasa kuatir, egoisme dan ambisi pribadi yang menghalangi jalan untuk mendekati Tuhan. Bersama Musa, aku juga harus melepaskan diri dari kecemasan, dosa, egoisme dan pelbagai friksi, ambisi serta emosi. Aku harus semakin mau belajar menerima hidupku dalam sikap jujur sepenuh-seutuh dan seluruhnya. Di hadirat Allah, aku belajar “melepaskan kasut”:  tidak ada gengsi, tidak ada status dan kebohongan, terbebas-lepas dari topeng kedosaan dan selubung kepalsuan yang kadang kubuat. Hari ini, aku bertemu muka dengan Allah seperti apa adanya: “Inilah aku”. Disinilah, aku teringat John Powell yang pernah mengatakan, “membeberkan diri secara terbuka dan tulus menuntut keberanian mendasar.“ Itu juga yang kurasa dan alami sekarang, bukan?

Bermenung-renung  soal figur Nabi Musa lebih lanjut, aku juga melihat bahwa ia punya kebiasaan untuk pergi dan sendirian bersama Allah di tempat yang sunyi. Setiap kali kembali dari “persembunyiannya”, wajahnya menjadi bercahaya. Harus kuakui bahwa diriku pasti memerlukan kesendirian, yah hanya bersama Allah yang sangat mencintai aku saja, supaya “wajahku” juga bisa memancarkan cahaya Allah yang mendamaikan, menghangatkan sekaligus menyejukkan hati sesama.


Hari ini juga kubuka LR 23, dan aku kembali tertegun-kagum pada Anggaran Dasar. Bagiku, inilah fundamen, semacam dasar kokoh untuk “melepaskan kasut,“ untuk percaya seutuh-penuhnya pada Tuhan. Di hari inilah, aku diajak untuk mengingat sekaligus mendalami lagi tujuan hidupku, yakni memuliakan  dan memuji, mengabdi Tuhan serta menyelamatkan jiwanya sendiri. Dalam bahasa Ignatius Loyola: “Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati, serta mengabdi Allah Tuhan kita dan dengan itu menyelamatkan jiwanya. Ciptaan lain diatas permukaan bumi diciptakan bagi manusia untuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan. Karena itu manusia harus mempergunakannya sejauh itu menolong untuk mencapai tujuan tadi; dan harus melepaskan diri dari barang-barang tersebut sejauh itu merintangi dirinya. Oleh karena itu kita perlu mengambil sikap lepas bebas terhadap segala ciptaan tersebut, sejauh pilihan merdeka ada pada kita dan tak ada larangan. Maka dari itu dari pihak kita, kita tidak memilih kesehatan  lebih daripada sakit, kekayaan  lebih daripada kemiskinan, kehormatan lebih daripada penghinaan, hidup panjang lebih dari hidup pendek. Begitu seterusnya mengenai hal-hal lain yang kita inginkan dan yang kita pilih ialah melulu yang lebih membawa ke tujuan kita diciptakan.”Hal inilah yang terus menggema dan membahana dalam relung hatiku.

Malam menjelang tidur, aku bertemu ingatan kecil akan perjumpaan tadi siang dengan Sr. Lisa, OP yang selalu mengenakan tongkat ketika hendak menuju atau pulang dari mengikuti misa pagi dan brevir di kapel Rawaseneng. Yah, dia mengajak dan mengingatkanku untuk belajar “Lihat  Indahnya Salib Allah”. Walau pastinya tidak mudah, bukan?


04.
“Kasihanilah aku, TUHAN, sebab aku merana; sembuhkanlah aku, TUHAN, sebab tulang-tulangku gemetar.” (Mz. 6:3)


“Dikau telah membuat diriku tak terhingga, demikian itulah perkenan-Mu. 
Bejana ringkih ini Engkau kosongkan berkali-kali berulangkali,
dan senantiasa Engkau isi dengan hidup baru.
Anugerah-Mu yang tak terbatas datang padaku,
di tanganku yang amat mungil ini.
Abad demi abad berlalu,
dan masih saja Engkau menuangkan,
dan masih saja ada ruang yang dapat diisi.“
(R. Tagore)

Ketika aku merasa kecewa dan tak mudah percaya dengan segelintir orang yang “bermuka dua”, aku jelas membutuhkan pertemuan pribadi dengan Allah.  Dalam bahasa pembimbingku, Rama Marga, yang “geMAR mencari surGA”, ketika orang yang seharusnya menjadi “payung”, tapi pada kenyataannya justru menjadi “paku, maka hanya Allah yang dapat memberikan “payung yang sejati“. Disinilah, aku mengalami dan memaknai sapaan Allah dalam doa. Ia menjadi “payung“ yang sejatinya meneduhkan gundah dan resah hatiku pada awal retret ini.

Aku juga tersadar bahwa aku bukanlah seekor kupu-kupu di taman bunga yang mencecap nikmatnya setiap bunga, tetapi tidak hinggap pada satu bunga. Yah, aku bertekun dalam doa bukan untuk sekedar mencari manisnya Allah tetapi untuk semakin menemukan Allah dan untuk semakin rela menyerahkan diri kepada-Nya secara sungguh mendalam. Bukankah John Chapman pernah menulis dalam Spiritual Letters, "semakin engkau kurang berdoa, maka semakin buruk yang terjadi"?

Aku juga membaca dan mendalami Mazmur 139, permenunganku ini sekaligus mengajakku bertanya, seberapakah sebenarnya pengetahuanku tentang Allah? Sebagai seorang imam yang banyak belajar ilmu tentang Dia, mungkin aku tahu banyak mengenai Dia, tetapi apakah aku benar benar mengetahui dan mengalamiNya, menemukanNya dan menyadari hadirat kuasaNya? Mungkin aku banyak berbicara tentang Dia, tapi apakah aku juga banyak berbicara dengan Dia? Aku mengamini apa yang diperjuangkan oleh St. Bonaventura untuk menjadikan teologi sebagai bagian yang tidak terpisah dari spiritualitas. Bukankah teologi yang hanya menekankan segi intelektual hanya menghasilkan orang yang tahu bicara tentang Allah tetapi tidak pernah berbicara dengan Allah? Dan, itulah sebenarnya yang kualami sendiri.  Mea culpa, mea culpa, mea maxima culpa!

Tanpa sengaja, hari ini, Fr.Stefanus OCSO, salah seorang bekas muridku di Seminari Menengah Wacana Bhakti Jakarta, yang sekarang menjadi salah satu rahib di pertapaan Trappist ini, memberi-pinjam sebuah buku bacaan rohani ”APOPHTHEGMATA PATRUM”, semacam antologi sabda dan renungan para bapa padang gurun. Satu keyakinan dasarku menceruat, tidak ada sesuatu yang kebetulan, bukan? Hari ini lewat sabda dan renungan para bapa padang gurun, aku diyakinkan bahwa banyak pengalaman rohani yang mendalam terjadi di “padang gurun”. Disinilah, aku disadarkan sesungguhnya siapa yang mengendalikan hidupku. Disinilah, aku diajak untuk lebih sering menyembah Allah, dengan mendaraskan mazmur dan turut dalam persembahan ekaristi. Disinilah, aku juga belajar menyederhanakan diri bahwa tidak ada gunanya membawa hal-hal yang tidak esensial karena bukankah disini, aku ingin melihat pekerjaan Allah dan bukan pekerjaan manusia? Seperti kata Paulus kepada jemaat di Efesus, “kita ini buatan Allah!” (Efesus 2:10)

Di “padang gurun” inilah,  aku juga menyiapkan hati dalam pergumulan, seperti Yakub dan Ayub yang bergumul dengan Allah. Bukankah pergumulan akan menyingkapkan siapa diriku dan siapa Allah itu? Bukankah tepat kata Anthony de Mello bahwa, “baik yang aku jauhi maupun yang aku dambakan, ada semua dalam diriku?” Di dalam keheningan, di mana aku berhenti berbicara, bukankah aku menemukan hal-hal yang tidak kutemukan ketika banyak berbicara? Dan di “padang gurun” bukankah tempat yang tepat untuk melakukan segala sesuatu dengan tidak tergesa-gesa? Aku meyakini bahwa Allah berjalan bersamaku. Ia tidak berlari. Ketika kuberlari, mungkin aku sedang berlari di depan Allah atau bahkan sedang menjauh dari Allah. Hari ini aku diajak berpaling pada Yesus yang tergantung-katung di salib dan aku rindu berbicara denganNya. Disinilah,  tiga poros pertanyaan dasar yang juga pernah dibuat St.Ignatius mengetuk ruang hatiku: “Apa yang telah kubuat bagi Kristus? Apa yang sedang kubuat bagi Kristus? Apa yang harus dan akan kubuat bagi Kristus?” Aku dahaga berbincang-jawab dengan Yesus sebagai seoramg sahabat dekat, dan aku akhiri perbincangan ini dengan doa warisanNya, doa Bapa Kami. Sederhana tapi kaya makna sebenarnya, bukan? Ssst... terima KASIH Fr. Stefanus. Gracias!


05.
“Sembunyikanlah wajah-Mu terhadap dosaku, hapuskanlah segala kesalahanku! Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!” (Mz 51:13-16)


Yesus,
Dalam diriku aku merasa ingin sekali menyenangkan Dikau.
Namun, aku juga sekaligus merasa sama sekali
tak mampu berbuat itu tanpa terang dan bantuan khususMu,
yang dapat aku harapkan hanya dari Engkau.
Laksanakanlah kehendakMu dalam diriku
bahkan kendati hanya dalam diriku
(St.Klaudius de la Colombiere,
pembimbing rohani St.Margaretha Maria Alacoque)

Pada permenungan hari ini, aku diingat-tegaskan bahwa noda nestapa dosa bisa terjadi karena pikiran, perkataan dan terlebih karena perbuatan (LR 33-42). Yah, sebagai seorang imam muda yang hidup di perkotaan, kata-kata dan sapa-tawa bisa menjadi sangat berarti, seperti sebuah pedang tajam bermata dua, bukan? Kuingat kenangan para rahib terhadap nasehat bijak bestari St. Bernardus: “Bukankah ada tiga pahala yang bisa kita dapatkan dengan  kata-kata kita? Yah, ketika kita mengaku dosa. Itu yang pertama, yakni: bertobat. Ketika kita setia  memuji Tuhan. Itu yang kedua, yakni bersyukur. Dan yang ketiga, ketika kita rela dan bahagia untuk mensupport orang lain. Itu namanya, berbagi.”

Sebuah pesan tegas dari LR 41 bergema: jangan memfitnah orang lain. Bagaimana dengan hatiku sendiri? Aku ingat, bahwa dosa itu seperti cinta, datang dari hal-hal kecil, bukan? Jakarta kental dengan dosa ini, dosa karena mulut! Dosa ini pun tidak pandang bulu, bisa melanda para pewarta, karyawan gereja bahkan para pastornya juga. Ironis bukan? Aku jadi teringat setiap wajah yang mendua dan bertopeng, seperti pepesan kosong, dangkal tapi riuh. Ada rasa kecewa dan miris, sedih sekaligus perih. Tuhan tahu bahwa bicara lebih mudah daripada mendengarkan, mungkin karena itulah, Ia memberi manusia satu mulut dan dua telinga. Itu pun terlalu sering aku dan sesamaku menjadi besar mulut, daripada lebar telinga. Kalau begitu, seperti ratapan tokoh Wagiyo ketika mendaraskan doa Bapa Kami dalam novel “Malam Basah, “patutkah Allah yang Mahakudus dipersembahi sebutan Bapa“, oleh karakter orang-orang yang terlalu mudah mendua dan hiruk-pikuk seperti pepesan kosong.

Yah keluarga, yah lembaga, yah gereja, yah nama baik sesama bisa rusak dan tercemar karena ada orang-orang yang berkualitas buruk seperti itu, bukan? Salah satu kenalanku, seorang pastor Jesuit mengatakan, itulah orang-orang yang berbakat menjadi anggota “LIPI-Lembaga Intrik Penyebar Isu”. Dalam selorohan orang Jawa, “esuk dele sore tempe, lambe domble mencla mencle. Sst, karena lidah tak bertulang, ini bahan instrospeksi juga buatku pastinya! Berhati-hati dan selalu mawas diri, juga ketika melontar-gulirkan kata-kata kepada sesama. Bukankah pepatah mengatakan bahwa kata itu bisa lebih tajam daripada pedang bermata dua? Bukankah kata-kata dapat mengangkat hati, tapi dapat juga membuat sakit hati? Yah, seperti nuklir: Ia dapat menjadi bom pemusnah, atau ia dapat menjadi sumber energi yang luar biasa. Ia bisa mematikan, tapi ia juga bisa menghidupkan.

Hari ini, aku berpikir dan bermenung, mengapa kata-kata ini tidak kudaya-gunakan untuk hal-hal yang positif? Kenapa tidak kumulai lagi dengan lebih sering memuji atau mencari sisi positif orang lain? Aku berhasrat membuat kebiasaan baru, memilih dan mengucapkan kata-kata berenergi: ucapan cinta, penghargaan dan kedamaian serta mengata-wartakan tentang pelbagai sisi positif orang lain.

Seperti cukilan yang kudapat dari Anthony de Mello, “Lihatlah Allah yang memandang Engkau, dan Ia tersenyum,” kubaca injil Lukas 7:36-50 dan kulihat Yesus yang mengampuni wanita yang membasuh kakiNya. Lewat permenungan hari inilah, aku mengingat nama seorang rahib lain di Rawaseneng, Fr. Paulus yang juga suka tersenyum. Ia yang setia menjaga toko, menyapa dan melayani para pembeli setiap hari. Dari namanya, aku diajak menjadikan mulut dan lidah sebagai berkat. Yah, aku diajak Fr. Paulus untuk belajar “menyaPA dengan tULUS”.


06.
“Biarlah bergirang dan bersukacita karena Engkau semua orang yang mencari Engkau; biarlah mereka yang mencintai keselamatan dari padaMu selalu berkata: "Allah itu besar!" (Mz.70:5)


Ajarilah aku agar aku mampu mendengarkan, ya Allah
Ajarilah aku agar aku mampu mendengarkan, ya Allah penyelenggara
Ajarilah aku agar aku mampu mendengarkan, ya Allah sang pencipta
Ajarilah aku agar aku mampu mendengarkan, ya Allah Roh Kudus,
Mendengarkan suaraMu,
Dalam kesibukan dan kebosanan,
Dalam situasi serba pasti dan serba ragu
Dalam kebisingan dan dalam keheningan.
Ajarilah aku Ya Tuhan, agar aku mampu mendengarkan.
(John Veltri, SJ, staf wisma Loyola di Guelph Ontario)

Le coeur a ses raisons que la raison ne connait pas”. Hati punya alasan yang tidak dikenal akal, bukan? Itu kata Blaise Pascal. Itu juga kataku. Hari ini, aku diajak untuk semakin rutin menyapa hati, dan tidak melulu mengasah budi. Aku mengadakan pemeriksaan batin (LR 66). Examen Conscientiae nama kerennya. Examen atau pemeriksaan batin adalah refleksi dalam suasana doa. Tradisi doa yang kuambil dari tradisi para Jesuit ini sangat membantuku dalam menumbuhkan kepekaan dan relasi personal dengan Tuhan sendiri untuk menemukan gerak roh dalam hidup harian. Bahkan St Ignatius menganggap bahwa examen atau pemeriksaan batin ini sebagai sebuah latihan dasar yang paling penting untuk dilakukan. Aktivitas ini kulakukan kadang setelah makan siang di refter, di kapel, di seputaran kebun kopi, di kamar atau di tempat lainnya. Biasanya pemeriksaan batin ini kulakukan dua kali sehari: satu kali pada saat sesudah makan siang dan satu lagi ketika menjelang tidur di malam hari.

Sepenggal lagu Aa Gym terngiang, “jagalah hati jangan kau nodai, jagalah hati lentera hidup ini.” Jelasnya, hari ini aku diajak untuk semakin mengembangkan kepekaan akan suara atau bisikan Roh Kudus di dalam hidup sehari-hari. Aku disadarkan untuk terbiasa melakukan pemeriksaan batin setiap hari. Terkenang juga, apa yang ditulis oleh Rasul Paulus kepada umat di Galatia: “Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh, dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki” (Gal 5:24 -26).
Aku sadari bahwa keseharian hidup dan panggilan imamatku dapat dipimpin oleh Roh Baik atau Roh Jahat. Adapun buah-buah kalau dipimpin oleh Roh Jahat adalah “percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.”(Gal 5:19-21), sedangkan jika dipimpin oleh Roh Baik, akan menghasilkan buah-buah :”kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22 -23). Dengan jujur, aku mengakui bahwa hidupku tidak sepenuhnya dan tidak seluruhnya dipimpin oleh Roh Baik.  Dalam hidup ini, banyak kemungkinan, yang tidak melulu putih atau tidak melulu hitam melainkan abu-abu, maka menjadi penting kebiasaanku untuk melakukan pemeriksaan batin setiap hari, dengan harapan dan dambaan agar hidup dan pilihanku yang kadang abu-abu karena sarat kepentingan diri, dapat menjadi semakin putih bersih, cerah dan penuh gairah.
Hari ini aku juga sempat membayangkan seandainya aku akan meninggal. Aku coba menyendiri dan membayangkan suasananya. Begitu banyak orang yang dekat, yang baik, yang berharga serta yang kukasihi berseliweran di benakku. Aku banyak tidak menghargai dan tidak mensyukuri kehadiran mereka selama ini. Hari ini kucoba susun-rukun sebuah “wasiat” untuk mereka. Inti pokoknya, aku ingin senantiasa mengasihi, menghargai dan berdamai dengan mereka. Kukatakan tiga hal pokok untuk setiap pribadi yang kuhadirkan: “I love you”, “Thank you” dan “I am sorry.” Bukankah aku kerap lupa mensyukuri setiap perjumpaan, sehingga akhirnya rahmat itu pun hilang tergilas roda bernama waktu yang tidak sudi untuk mundur?

Di lain segi, ketika examen kulakukan, kadang muncul kuasa kegelapan dosa dan kuasa perusak, luka hatiku muncul dengan kekuatan baru, kepahitan dan sakit hati terhadap kebodohanku dan terhadap beberapa orang yang berbuat jahat dan bertindak salah kepadaku. Ada juga perasaan kosong, frustrasi, emosi dan penolakan karena ingatan akan pelbagai dosa yang kubuat. Malu dan merasa kecewa, menyesal dan merasa tawar jiwa. Kusadari nafsu dan fantasi semu yang timbul karena emosi yang labil membanjiri budi dan isi hati.  

Pastinya, dengan latihan examen ini, aku diajak belajar melacak kembali peristiwa-peristiwa hidup harian dari sudut pandang Tuhan. Aku mengucap syukur dan memuji-Nya karena menanggapi kehendak Tuhan yang berkarya. Aku juga menyesal dan memohon ampun atas kegagalan karya Tuhan  dalam hidupku dan sekaligus memohon rahmat untuk semakin tanggap terhadapNya. Yang pasti, seorang suster yang mengajar di sekolah Dasar St Maria Fatima di dekat pertapaan, bernama: Sr. Karina, OP, kurekam hari ini. Walaupun kadang aku kecewa dan terluka dengan segelintir orang lain yang tidak tulus dan lurus hatinya, dari penggalan namanya, aku diajak tetap setia dan bahagia untuk belajar, “berKARya dengan RIang dan sederhaNA.”


07.
“Lindungilah aku terhadap katupan jerat yang mereka pasang terhadap aku, dan dari perangkap orang-orang yang melakukan kejahatan.” (Mz. 141:9)


Ya Yesus-ku, walau aku seorang yang malang dalam begitu banyak hal dan begitu bodoh,
aku telah Engkau pilih sebagai gembala dari kawanan domba-Mu.
Anugerahkanlah kepadaku kasih yang bertambah-tambah
bagi jiwa-jiwa yang telah Engkau tebus dengan Darah-Mu yang Mahasuci,
sehingga aku dapat berkarya demi keselamatan mereka
dengan kebijaksanaan, kesabaran dan kekudusan.
Janganlah kiranya satu pun dari mereka yang telah Engkau percayakan kepadaku
hilang akibat kesalahanku. Ya Yesus-ku,
bantulah aku menguduskan mereka yang Engkau serahkan ke dalam pemeliharaanku.

Ya Bunda Allah yang tersuci,
sudi doakanlah aku dan mereka semua yang ada dalam kebun anggurku.
Para malaikat pelindung yang kudus dari jiwa-jiwa terkasih,
ajarilah aku bagaimana bersikap terhadap mereka
sehingga aku dapat menanamkan ke dalam hati mereka pokok-pokok iman dan kasih sejati Allah. Tuhan, ajarilah aku bagaimana hidup dan jika perlu mati,
sehingga semuanya dapat diselamatkan,
sehingga semuanya dapat mengasihi dan memuliakan Engkau sepanjang kekekalan masa;
agar semuanya dapat pula mengasihi dan menghormati BundaMu terkasih.
Amin.

Udara di sekitar Rawaseneng, pada pertengahan tahun ini sangat dingin, apalagi ketika aku hendak menuju kapel untuk sesekali mengikuti ibadat bacaan jam 03.30 dan pastinya menutup hari dengan doa malam bersama para rahib pada jam 19.45. Sebuah kenangan akan “a quality time”, waktu yang berharga buatku, yakni ketika aku selesai berdoa malam di kapel dan hendak kembali sendiri ke Wisma Nazaret: Gelap dan menanjak, dingin dan sangat sepi. Tak ada lampu di kiri-kanan. Kadang hanya terpaan suara angin yang semilir membelai serta goyangan manja ranting pinus yang tersapa dinginnya udara malam dan kicauan jangkrik dan serangga hutan. Pada waktu seperti inilah, seperti biasa aku berjalan sendiri dan sepi, bermodal senter kecil yang kudapat dari bilangan ITC Mangga Dua dan selembar jaket hijau tua yang pernah kubeli dulu di daerah Pasar Ular Tanjung Priok. Kadang anginnya begitu dingin, kadang jalannya begitu sunyi dan kadang hatiku juga pedih. Bagiku, setiap kali berjalan, berjejak-pijak dan menanjak-tapak, jajah-menjelajah dari kapel menuju kamar yang tersamar, inilah sebuah jalan salib kecilku, via dolorosa, sebuah jalan yang pernah juga dilewati olehNya. Bukankah ini bagian kehidupan yang harus dilewati dan dimaknai terus? Bukankah untuk mencapai “Nazareth” dan mengalami kehangatan Keluarga Kudus, aku harus rela melewat-gulati ratapan jalan salib sebagai jembatan perantara rahmat? Bukankah tidak ada kemuliaan tanpa pergulatan? Bukankah tidak ada kebangkitan dan kebahagiaan tanpa kematian dan penyaliban?

Bersama Ignatius, hari ini juga aku diingatkan tentang tiga ciri karakter iblis. Ia seperti perempuan. Ia seperti playboy. Ia seperti  panglima. Iblis bersikap seperti perempuan, yaitu lemah bila dilawan dan kuat bila dibiarkan. Iblis juga bersikap seperti playboy atau buaya darat, yaitu ingin agar segala usaha penipuannya tetap dirahasiakan dan tak dibukakan kepada orang yang bijak. Iblis juga bersikap seperti panglima atau komandan tentara dalam usahanya untuk menundukkan serta merebut apa yang diinginkannya. Ia mengelilingi benteng pertahananku dan kemudian menyerang dan mencoba menguasaiku lewat bidang-bidang dimana aku kedapatan paling lemah dan rapuh dalam mempertahankan iman. Disinilah, aku tersadar begitu  banyak terhasut-larut oleh rayuan, ajakan dan godaan si “perempuan”, “playboy” dan “panglima” ini. Itulah sebabnya, aku terkenang mitos kisah cinta segitiga  Roro Mendut-Pronocitro-Wiroguno: walaupun diketahui bahwa Roro Mendut sudah punya pacar, yakni: Pronocitro, Wiroguno sebagai panglima terus menempuh segala macam cara untuk menaklukkan kuda binal “Roro Mendut. Bukankah itu juga yang diperbuat oleh iblis/setan di tengah hidup dan penghayatan imamatku? Ia terus-menerus berupaya memperdaya dan menyeretku ke jalan kegelapan. Disinilah, aku diajak semakin ber-compotio loci, mengacu pada Kitab Wahyu 12:7-10, tentang adanya sebuah “pertempuran” Mikael versus Naga besar alias si Ular tua, alias Iblis atau  Setan (Luciver). Aku harus jelas-jelas tegas-cerdas-bernas memiih kebaikan dan bukan kejahatan. Aku harus tegas memilih Mikael dan bukan Luciver.

Tak sengaja, hari ini, aku berjumpa dengan seorang lain, bernama Ester. Seorang peziarah dari Jakarta yang nyantrik di pertapaan Rawaseneng. Ester sendiri bisa dibaca dan dimaknai sebagai “East-star” – “Bintang Timur”. Kebetulan juga, setiap malam, langit di atas kapel dan kamarku selalu bersih sehingga ditaburi oleh pelbagai bintang yang tak jemu untuk terus berkelip bagi dunia. Yah, aku terpana: Bukankah aku juga diajak untuk tetap bersinar walau kecil, jauh, kadang redup dan tidak seterang matahari? Bukankah aku bisa belajar dari sebuah bintang timur, yang tetap mau belajar menghangatkan, mendamaikan dan mencerahkan?

Hari ini, kuterkenang-riang sebuah lagu yang kadang kunyanyikan ketika memberi session pencerahan, “Lilin Lilin Kecil”. Lewat lagu itulah, aku ditantang-garang untuk menanggalkan “gelap” dan mengenakan “terang”. Yah, terang benderang sebuah bintang kecil yang tak mau diperdaya tapi berani terus menerus berdaya: berdaya guna, berdaya makna dan pastinya tetap berdaya tahan, karena bukankah tepat kata Yeremia bahwa, aku ini berharga di mataNya? (Bdk: Yer 29:11-14).


08.
“TUHAN itu penopang bagi semua orang yang jatuh dan penegak bagi semua orang yang tertunduk.” (Mz. 145:14)

Ya Allahku, aku cinta padaMu melampaui segala sesuatu
Dan aku dengan seutuh jiwa membenci dosa-dosa
karena dengan dosa, Engkau telah kuhina,
karena Engkau memang tidak berkenan ada dosa di hadirat
Dikau yang mahabaik dan pantas dicinta.

Aku akui, aku harus mencintai Engkau
dengan cinta yang melampaui segala
dan aku harus mencoba membuktikan cintaku padaMu.

Aku terima Engkau di hati dan pikiranku sebagai
yang jauh tak terhingga lebih besar
daripada segala yang ada di dunia
tak peduli betapapun bernilai dan indahnya.

Oleh karenanya, dengan tekad bulat aku berketetapan
Tak pernah aku akan setuju Engkau terhina
atau melakukan sesuatu yang tak berkenan di hatiMu
yang baik dan berkuasa
ataupun menempatkan diri dalam bahaya
akan jatuh dari rahmatMu yang suci.

Sekuat daya yang ada padaku,
aku bertekad untuk tetap dalam rahmat sampai hembusan nafas terakhir
pada saat aku mati. Amin.

(St Fransiskus Xaverius, 1506-1552 adalah salah satu teman awal Ignatius,
Ia menghabiskan masa hidupnya sebagai misionaris di India, Indonesia, Malaya dan Jepang)

Hari ini, lewat pertanyaan Yesus dalam Yohanes 5:1-9, “Maukah engkau sembuh?” secara spontan memunculkan terus kesadaranku akan jati diri sebagai ciptaan yang berharga. Tuhan sekaligus menumbuhkan kebahagiaan dan rasa syukur pada identitas diriku (sense of identity) sebagai seorang imam, dan hari inilah aku berniat mengadakan pengakuan dosa pribadi pada sesama imam. Mengacu pada Mat 18 :12-14, aku merasa seperti domba yang hilang, tersesat dan sendirian sekaligus seorang ”gembala” (imam) yang berlumur dosa dan samsara. Aku membutuhkan ”correctio fraterna” sekaligus ”rekonsiliasi” dari Tuhan, Sang Gembala Baikku, juga dari sesama, dan pastinya dari diriku sendiri. Lewat sakramen pertobatan hari ini: aku ingin dimurnikan sehingga jiwaku selalu berada dalam semangat lepas-bebas dan tidak tercekam oleh kelekatan tidak teratur (via purgativa); aku ingin dicerahkan, selalu terbuka akan turunnya inspirasi, aspirasi dan insight kontemplasi dari sang Gembala Baik (via illuminativa); dan aku juga ingin disatukan,  mampu mengatur hidup dan karyaku secara arif, selaras sehati sepikir dengan kehendak dan rencana Allah sendiri (via unitiva). Satu nama lain lagi kukenal hari ini di pertapaan Rawaseneng, pak Hidayat, seorang peziarah dari Surabaya. Yah, lewat dialah, aku diajak terus-menerus berjuang untuk”HIlangkan noDA sampai akhir haYAT.”

Perlahan tapi pasti, setelah sakramen pertobatan dan kesadaran sebagai seorang imam, ada keunikan yang semakin kutangkap dengan menjadi seorang imam diosesan, yaitu bahwa  dengan mempersembahkan diri  sepenuhnya kepada Tuhan, imam diosesan adalah imam yang jiwa raganya untuk keuskupan, hidup untuk keuskupan, mati untuk keuskupan. Dalam bahasa Oscar Romero, “sentire cum ecclesia, sehati dengan Gereja.” Untuk menghayati panggilan  seperti ini, bukankah dituntut kehidupan rohani yang kerap kali dalam pelbagai perjumpaan, dibahasakan oleh Mgr Sunarko: “mengakar, membatang, menyabang, mendaun, berbunga dan berbuah”  dalam dan bagi keuskupan?

Hari ini, aku juga mengingat-kenang teman-temanku, sesama imam diosesan yang kadang terlupa dan terluputkan entah karena kesibukan dan kesombonganku sendiri ataupun karena memang perjumpaan yang tidak terlalu mendalam. Aku disadarkan lagi bahwa mengembangkan nilai komunio (kebersamaan) dan kooperatio (kerja-sama) adalah dua hal yang mendasar dalam hidupku sebagai seorang imam. Disinilah, aku panjatkan doa untuk kesatuan budi dan hati terlebih sebagai seorang imam dalam kesatuan Unio KAJ:

·          Agar di dalam ketersebaran perutusan yang luas dan di dalam perbedaan sosial dan kultural, kami menjaga kesatuan hati dan budi dengan uskup dan di antara kami sendiri.

·          Agar saling kesatuan kami didasarkan pada kesatuan masing-masing dan bersama dengan Allah di dalam Kristus, agar masing-masing dari kami, merelakan diri dibimbing lewat sebuah proses penjernihan berkelanjutan dari semua kepentingan pribadi dan kesombongan supaya terbuka terhadap semua orang dan semua karya,  dalam kerendahan hati dan kasih, agar persahabatan kami didasarkan pada jawaban kami kepada panggilan Tuhan.

·          Agar dalam krisis rohani zaman sekarang, kami boleh memperoleh kembali dan memperdalam keakraban dengan Allah dalam doa dan karya sebagai dasar yang mutlak untuk keberadaan persahabatan imamat kami.

·          Agar cinta bakti kami kepada Allah boleh meluap lewat cinta dan karya kepada sesama, agar kami terus menerus dibersihkan dari semua cinta diri dan cinta kedagingan dan cinta duniawi yang menghalangi kami menjadi alat indah di dalam tangan Allah dalam membangun suatu kerajaan cinta kasih dan persaudaraan di tengah dunia.

Dalam doa-berdoa inilah, aku kembali diyakinkan bahwa mewartakan kabar gembira dan menyelamatkan jiwa-jiwa lewat kerja bersama– satu kata, satu tindakan – selalu akan memberikan buah yang lebih melimpah, bukan? Kesatuan mendalam dari seluruh anggota – unión de los ánimos – menjadi sikap penting yang mesti kuusahakan dari diri sendiri bagi Unio. Hari inilah, aku terkenang wajah Unio dan terngiang-kenang sosok “Rasul Paulus kedua”, yakni: Fransiskus Xaverius. Lebih dari sepuluh tahun, ‘Sang FX” melanglang-buana. Ia bekerja dan berjalan sendiri, tanpa rekan anggota serikatnya yang secara fisik dekat dengannya. Ia membawa nama-nama rekan kerjanya, yang juga berada tersebar-pencar. Ia senantiasa mendoakan mereka. Dalam surat-suratnya, ia merasakan kesatuan spiritual mendalam dengan mereka. Theopile Verbist bilang, “cor unum et anima una – sehati dan sejiwa”. Ia juga yakin bahwa mereka terus mendoakan dirinya dan apa yang dikerjakannya di negeri yang sangat jauh itu. Dari “Sang FX” lah, aku meyakini bahwa ikatan yang menyatukan semuanya tidak lain adalah “saling mencintai” dan “saling menghargai”, dengan sikap dan perasaan mencintai Allah sebagai pondasi dasarnya. Ssst, bukankah pimpinan ikut berperanan untuk mewujudkan iklim positif seperti ini?  


09.
“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” (Mz.90:12)


Lihatlah ya Allah Maharahim, apa gerangan
balasan hambaMu yang tak tahu terimakasih
terhadap anugerah-anugerahMu yang tak terhitung banyaknya,
dan betapa menakjubkan cinta yang Engkau perlihatkan kepadaku!
Betapa banyak kesalahan yang aku perbuat!
Betapa banyak kebaikan yang tak terselesaikan!

Aku mohon, basuhlah kesalahan dan noda-noda ini
dengan darahMu yang tak ternilai harganya
ya Penebus yang amat baik hati
dan menutup kepapaanku dengan jasa-jasaMu

Berilah aku perlindungan yang aku perlukan
untuk memperbaiki hidupku.
Aku menyerahkan diriku sepenuhnya kepadaMu
dan aku menghaturkan kepadaMu
semua yang kumiliki, dengan permohonan
semoga Engkau menganugerahkan rahmat kepadaku
sehingga aku dapat membaktikan
dan memanfaatkan seluruh daya pikir budiku
serta kekuatan tubuhku untuk pengabdian suci kepada Dikau.
Dikau Allah terberkati untuk selama-lamanya.

(St.Petrus Kanisius, 1521-1597, konsultan teologi di Konsili Trenete dan provinsial Yesuit di Jerman).

Intersisi! Aku menjalani intersisi seharian. Aku mau sendirian berjalan, ber-peregrinatio pro Christi. Aku memilih lima tempat untuk kudatangi, dengan tema besar, “Requeim”. Kelima tempat itu adalah sebuah kompleks pemakaman: Kentungan, Muntilan, Girisonta, Gejayan dan Ambarawa.

Di Kentungan, ada lima makam yang hendak kudatangi: Makam Rama Mangun “sang Burung Manyar” yang banyak menginspirasi dan mengaspirasiku. Makam Rama Darmawijaya pembimbing rohaniku, sang begawan kitab suci yang bijak lagi bersahaja, yang selalu berkirim surat jika aku menulis dan menerbitkan buku baru. Makam Rama Purwo, ahli moral, seksualitas dan pembimbing tingkatku di awal tahun studi di Yogyakarta yang pernah meminjamkan sequel film “Thorn Bird” kesayangannya. Makam Rama Eko Wijayanto, salah satu teman dekatku di Seminari Tinggi, yang baru saja meninggal karena kecelakaan motor di pagi hari. Dulu, dia sering menemaniku menjajah dan menjelajah bakmi godog dan tempat-tempat seni budaya di seputaran kota Yogya dan Magelang. Tak terluputkan juga, makam Rama Krismanto, kolega unio di Projo Jakarta, seorang imam yang aktif dan reflektif, yang meninggal karena kecelakaan mobil pada tahun 1998.

Di Muntilan, ada empat makam yang kukunjungi secara khusus: Ada makam Rama Van Lith, Kardinal Darmayuwana, Mgr. Willkens dan pastinya makam Rama Sandjaya. Di Girisonta, “rumah masa depan” para Jesuit di Indonesia, ada tiga makam yang ingin “kusapa”: “Menteri Pendidikan” Rama Drost, Mgr. Leo Soekoto dan Rama Kurris alias “Sukri Kaslan”. Di Gejayan, persisnya di daerah pemakaman para suster CB, ada dua makam yang kudatangi. Disanalah, aku “menyapa” dua budeku, Sr. Ignatia dan Sr. Luisi, CB yang sudah beristirahat dalam damai. Dan terakhir, aku pergi ke kerkof di Ambarawa. Kutengok makam eyangku yang paling muda, Sr. Clarisa OSF yang baru saja meninggal pada medio November 2011. Dialah pribadi yang sangat dekat dalam hidup dan riwayat panggilanku sebenarnya.

Mungkin intersisi ini terasa menghamburkan waktuku, tapi kuingat Leo Rock, SJ, seorang imam Jesuit di California yang mengatakan, “Yesus tidak menghamburkan waktu. Ia memberikan kehidupanNya kepada waktu, yakni kehidupanNya sendiri.” Pada intersisi pertama inilah, aku juga berkenalan dengan seorang bapak tua di buskota menuju Ambarawa. Dia mengaku bekerja sebagai dosen FISIP di Universitas Diponegoro dan ternyata sorang umat Katolik. Heribertus namanya, seorang umat dari paroki Bongsari Semarang. Tentunya, dia tak mengenaliku sebagai imam, tapi aku terkesan karena dia yang malahan membayar ongkos buskotaku dan menunjukkan jalan dan rute yang harus kutempuh. Bagiku, dari namanya itu, aku diajak untuk terus, “HEbat membeRI BERsama KrisTUS”.  Yah, dengan intersisi minggu pertama bertema “Requiem” ini, aku berharap bahwa Tuhan juga berkenan memberi limpahan berkatNya untuk membantuku menguburkan dosa-dosa manusia lamaku dan semakin bangkit dari kubangan kubur secara utuh, penuh dan menyeluruh.

Aku mohon kepadaMu, ya Tuhan,
agar Engkau menyingkirkan segala sesuatu
yang memisahkan aku dari Engkau
dan Engkau dari aku.

Singkirkan segala sesuatu yang membuat aku tak pantas
Engkau pandang
Engkau kuasai
Engkau cela
Engkau bicarakan
Engkau baiki
Engkau cintai

Buanglah dari diriku setiap kejahatan
yang menghalangi aku untuk melihat Engkau,
mendengar, mengecap, menikmati,
dan menyembah Engkau,
takut dan memperhatikan Engkau;
mengenal, percaya,mencintai dan memiliki Engkau,
sadar akan hadiratMu, dan sedapat mungkin
mengenyam Engkau

Ini adalah apa yang aku minta untuk diriku
dan yang aku inginkan sekali dari Engkau

(B.Petrus Faber, 1506-1546, salah satu sahabat awal Ignatius.
Ignatius menganggap Faber sebagai orang yang paling berbakat dalam membimbing Latihan Rohani)



10.
“Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel! Sebab pada TUHAN ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan.” (Mz.130:7)


Hanya dalam cinta aku dapat menemukan Engkau,ya Allahku
Dalam cinta, pintu-pintu jiwaku terbuka sehingga aku dapat bernafas
menghirup udara segar, udara kebebasan dan melupakan diri kerdilku.

Dalam cinta seluruh apa adaku mengalir terbebas dari kungkungan kepicikan
dan keinginan untuk mengungkapkan diri,
yang membuat diriku menjadi penjara kemiskinan dan kehampaanku sendiri.

Dalam cinta, semua kekuatan dan daya jiwaku mengalir keluar menuju Engkau,
tak mau lagi kembali, tetapi melebur diri sepenuhnya dalam Engkau,
karena dengan cintaMu, Engkau adalah pusat teras hatiku,
yang lebih dekat dengan Engkau daripada aku dengan diriku sendiri.

Tapi apabila aku mencintai Engkau,
apabila aku dapat mendobrak keluar dari diriku yang picik
dan meninggalkan kegelisahan serta remuk redamnya hati
akibat berbagai pertanyaan yang tak dapat dijawab,
apabila mataku yang kesilauan tak lagi hanya melihat dari jauh dan dari luar
kecerahan-Mu yang tak terhampiri, dan lebih-lebih apabila Engkau sendiri,
ya Allah yang tak dapat kutangkap dengan budiku,
lewat cinta telah menjadi pusat teras kehidupanku,
maka aku dapat mengubur seluruh diriku dalam Dikau, Ya Allah Maha gaib,
dan dengan mengubur diriku terkubur pula pertanyaan-pertanyaan satu-persatu.

(Karl Rahner, SJ, Yesuit Jerman
yang memberikan banyak kosakata pada teologi pasca Konsili Vatikan II)


Setapak demi setapak, aku diajak untuk mendalami keadaan hidup dan tujuan hidupku lewat proses pemurnian diri dari dosa dan nestapa pada latihan di minggu pertama. Selagi aku mengalami kesedih-perihan yang semakin besar dan mendalam terhadap dosaku, aku dihibur karena dibukakan kepada kerahiman, kebaikan dan cinta Allah. Itulah  sebabnya permenungan minggu pertama kuakhiri dengan pengakuan dosa. Aku seakan didorong untuk memohon rahmat kebebasan yang cukup untuk menjawab kehendak Allah dan menghayatinya dengan sepenuh kebesaran hati.

Yang pasti, setelah intersisi pertama bertema “Requiem” kulakukan, kubuka minggu kedua Latihan Rohani, dengan mendalami tema seputar “Misteri Hidup Yesus”. Tahap demi tahap, aku diajak dan dikenalkan tentang misteri kehidupan Yesus Kristus. Aku berkontemplasi mengenai Yesus pada saat penjelmaanNya, kemudian mengenai kelahiranNya, mengenai kehidupan Yesus di rumah orangtuaNya, pembaptisanNya di sungai Yordan dan pelbagai saat lain yang sesuai dengan karya-pelayananNya bagi orang banyak.  

Yah, pada minggu kedua ini aku memasuki proses pembaruan hidup dengan merenung-menungkan hidup, warta dan karya Kristus secara utuh, penuh dan menyeluruh. Dengan kata lain: aku diajak semakin masuk ke dalam proses penyerahan hidup untuk diubah agar belajar mengikuti dan menyerupai Kristus. Tujuan perjalanan seperti itu dapatlah kurumuskan, mengikuti pandangan  Igna­sius: "Untuk memuji, menghormati serta mengabdi Allah (LR 23), seperti Kristus atau sejalan dengan teladan Kristus (LR 95‑98), di dalam Gereja, sesuai dengan panggilan serta pilihan panggilanku (LR 171, 177).

Hari ini, aku juga disadarkan bahwa Latihan Rohani pada minggu kedua erat berhubungan dengan hidup kesadaranku, yang dibangun oleh pengertian afektif maupun oleh pengertian kognitif diriku. Pintu masuk yang membawaku ke dunia itu ialah daya jiwa manusia, yang kusebut: “ingatan” (eling), dengan segala daya-daya dinamis, seperti imajinasi-fantasi, kreativitas, menghadirkan dan menghidupkan pengalaman. Bagiku, ingatan juga merupakan daya yang menghantarku ke pengenalan akan keadaan secara lebih jernih dan jelas. Ingatan juga mampu membawaku kepada pengambilan sikap yang benar, seperti syukur, pujian, rasa sesal dan lain sebagainya.

Berkaitan dengan ingatan itu, pada minggu kedua ini, aku menggunakan daya imaji­nasi serta fantasiku yang kerap disebut oleh St.Ignatius sebagai ‘kontemplasi’. Bukankah fantasi serta imajinasi merupakan titik temu antara rasa manusia dan kebenaran obyektif  yang kurenungkan? Bukankah dengan daya ingatan serta imajinasi itu, aku bisa lebih masuk dalam dunia inkarnasi, yaitu bagaimana karya Allah itu mewujud-nyata dalam hidupku setiap  hari? Maka berkaitan dengan ini, aku bisa jadi dihadapkan pada dunia bawah sadarku, dunia simbol pengalaman, yang juga merupakan tempat Allah berkarya. Bukankah Allah juga berkarya dalam alam bawah sadarku?


11.
“Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi.” (Mz.139:2-3)

Tuhan anugerahkanlah kepadaku
agar aku mendapatkan pengertian yang lebih mendalam
mengenai Engkau,
lebih mencintai Engkau,
dan mengikuti Engkau lebih dkat lagi
(LR. 104)

Kuawali hari ini dengan membaca isi kitab suci seputar penjelmaan dan kehidupan awal Yesus. Kubaca juga Luk 1:26-38, pemberitahuan tentang kelahiran Yesus, lalu beranjak ke Luk 2:1-20 tentang kelahiran Yesus  serta Mat 2:1-12 tentang penyembahan oleh para majus dan Luk 2:2238 ketika Yesus dipersembahkan di Bait Allah. Hari-hari awal dalam minggu kedua ini kujalani dan kumaknai sebuah proses yang dialami Yesus sendiri yang hidup dalam asuhan bapak Yosef dan ibu Maria di Nazareth, bahwasannya suasana dan nuansa keluarga sungguh berperan besar (Luk 2:39-40, 51-52). Disinilah, aku seakan kembali diajak melihat dan mengingat “akar”, semacam indikasi awali sebuah panggilan, yang bermula dari sebuah tempat hangat dan bersahabat bernama, “keluarga”, yang kadang disebut Paus Yohanes Paulus II sebagai “gereja mini”.
Aku mengingat suasana keluarga “Nazareth” yang aku jalani bersama orangtua dan kedua adikku seperti ‘seminari dasar’. Aku bersyukur boleh lahir dalam keluarga Katolik yang sederhana dengan budaya Jawa yang bersahaja. Lewat hidup bersama dalam keluarga, khususnya lewat kasih Bapak yang kuat dan kesederhanaan Ibu yang tabah itu, sungguh aku mengalami eccelesia domestica, rumah bagaikan sebuah gereja, di mana masih ada tradisi berdoa malam bersama, misa harian, makan bersama dan pastinya ikut terlibat di lingkungan/kring, mengenal para romo paroki serta seluk-beluk lingkungan paroki dsbnya. Dan semuanya memang memberikan kesan yang indah mengenai figur sebuah keluarga. Yah, aku mensyukuri bahwa keluargaku adalah Gratia Domini, anugerah dari Tuhan.
Lebih lanjut, kuingat dan fantasikan pelbagai wajah keluargaku, bapak, ibu, kedua adikku, para kerabat, sahabat dan keluarga besarku: Ada yang tua, muda, kristiani, muslim, kaya terpelajar, ada juga yang bersahaja dan tetap dermawan. Setiap kuingat tentang keluarga, pelbagai bunga dan romansa syukur berlimpah ruah dalam relung hati. Disinilah, aku mengingat seorang warga di lingkungan Rawaseneng, yang kerap mengikuti misa pagi di kapel dengan motor bebeknya. Ari namanya. Konon kabarnya, almarhum ayahnya adalah supir kepercayaan para rahib di Rawaseneng. Dari nama “Ari” inilah, aku diajak untuk setia mensyukuri keluargaku yang “Ada untuk membeRI”. Yah, mereka memberi banyak penghiburan, peneguhan dan kehangatan bersahaja lewat pelbagai hal sederhana dan biasa-biasa dalam perjalanan panggilan imamatku selama ini.   


12.
“Dia yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya; yang tetap setia untuk selama-lamanya, yang menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas, yang memberi roti kepada orang-orang yang lapar. TUHAN membebaskan orang-orang yang terkurung.“ (Mz. 146:6)


“…Tuhan tunjukkanlah cara-caraMu!”
(St.Alfonsus Rodriguez)

Hari ini kubuka dengan pembacaan kisah tentang pembaptisan Yesus pada Mat 3:13-17, dimana Allah Bapa memaklumkan sebuah “proklamasi”: ‘Inilah AnakKu yang Aku kasihi, kepadaNya Aku berkenan.’ Lebih daripada itu, lewat LR minggu kedua ini, aku diajak mengenal panji-panji. Yang pasti, ada dua panji:  Panji Kristus dan Panji Luciver: Ada pertarungan. Ada pergulat-geliatan. Ada pergumulan. Semuanya punya kepentingan. Yang aneh, kadang masing-masing panji tidak kukenal secara jeli, kadang tertukar dan salah memilah dan memilih. Sebuah hal yang tiba-tiba muncul, mengapa kadang orang yang seharusnya sepanji denganku, malahan asyik “melempar batu dari belakang”. Mengapa mereka lagi-lagi tidak menjadi “payung” tempatku berteduh, tapi malahan menjadi “paku” yang begitu menyakitkan hati? Atau jangan-jangan, apakah ada jenis panji ketiga, sebuah panji yang “setengah-setengah’, yang berkarakter seperti bunglon: kadang menjadi Panji Kristus, tapi kadang juga menjadi Panji Luciver, tergantung kebutuhan, kepentingan dan keadaan yang ada. 

Hari ini, tercandra juga pelbagai godaan iman yang dialami Yesus dalam masa “nyepi”nya. Satu hal yang kumaknai bahwa kisah “nyepi” 40 hari di padang gurun dan godaan yang menyertainya (Mat.4:1-11, Luk.4:1-13) menandai peralihan dari hidup yang tersembunyi ke hidup yang tersingkap. Ia mulai go-public - memberikan pelayanan di depan umum, dan Ia juga harus siap menerima pelbagai kemungkinan konflik dan intrik pebagai orang dengan pebagai karakter dan parameternya. Satu peneguhan kudapatkan ketika merenung-kenangkan sebuah kisah dalam Luk 4:14-22: “Roh Tuhan ada padaku.”

Berangkat dari figur Yesus yang mulai go-public inilah, sebuah slogan pedagogis yang pernah kudengar dari Rama Sigit, SJ, “reflekSInya menggiGIT”, ketika menjalani tahun pastoral di Kolese Gonzaga, yakni “3C”: “Competence-Conscience-Compassion” terkenang di benakku. Aku seakan diajak menjadi murid Yesus yang punya kecakapan, kesadaran sekaligus juga kedalaman perasaan di tengah peradaban dan pergulatan sesama. Yah, kesediaan untuk menerima tugas-tugas apapun atau sekurang-kurangnya keinginan untuk selalu bersedia untuk itu, merupakan salah satu ciri khas orang yang memiliki ”3C”. Hari inilah, dengan bangga aku turut mempersembahkan diriku di bawah panji-panji salib Kritus, “yang menghampakan diri dengan mengambil rupa hamba, taat sampai mati, bahkan mati disalib.” Satu nama rahib lainnya kukenal hari ini di pertapaan Rawaseneng, Fr.Albert(us). Yah, lewat dialah, aku diajak memaknai semua hidup, karya dan warta dengan cara: “ALami semua BERsama krisTUS.”


13.
“TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya, yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya.” (Mz. 15:1-3)


Tuhan,
berilah aku rahmat agar dapat
berkarya bersamaMu
tanpa mencari diriku sendiri
tetapi menghayati kerajaanMu
sepenuhnya
(John Futrell, SJ, pengarang dan dosen kerohanian Ignasian)
 
Hari ini kudapatkan penegasan bahwa tugas seorang murid (“disciple” dan bukan “student”) adalah memaklumkan Kerajaan Allah. Seorang murid bukan sekedar tukang misa, seperti yang kadang juga menggoda kualitas seorang imam di kota besar, bukan? Aku diyakinkan bersama dengan teks Kotbah Bahagia dalam Mat 5:1-12 yang merupakan semacam “tata nilai Yesus”, bahwa aku jelas dipanggil menjadi loudspeaker bagi setiap pesan Tuhan, walau kadang kurang halus dan kurang jelas suaranya.
Yah corong ilahi bagi manusia insani, yang dalam bahasa Rama Mangun pada novel “Burung-Burung Rantau”nya, disebut ‘generasi pasca-Indonesia’ di tengah konteks dan era globalisasi.

Satu keyakinan kembali kudapatkan: Bukankah sejak awal, pesan kristiani yang harus disebar-wartakan adalah kabar gembira? Bukankah malaikat Gabriel datang kepada Maria dengan salam gembira: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau” (Luk. 1:28)?  Bukankah bagi Elisabeth, kedatangan Maria merupakan salam kegembiraan yang unik sekaligus menarik? Lihat saja penggalan kalimatnya: “Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang didalam rahimku melonjak kegirangan” (Luk. 1:44). Bukankah Maria juga menyanyikan magnificat, semacam kidung lagu pujian dan kegembiraan karena keajaiban Allah yang boleh dialaminya (Luk. 1:46)? Ketika Yesus lahir, gembala gembala di padang Betlehem menerima pesan: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa” (Lk. 2:10). Bahkan, Yesus mengawali misi-Nya dengan pesan kegembiraan, bukan? “Waktunya telah genap.  Kerajaan Allah sudah dekat.“ (Mrk.1:14). Ketika Ia berbicara kepada kerumunan orang banyak, sabda-Nya jelas membangkitkan kegembiraan orang banyak:  “Berbahagialah hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah“ (Lukas 6:20). Bahkan, ketika bayangan kematian menimpa hidupNya dan kekuatiran mencekam hati para murid, sekali lagi Ia memberikan jaminan hidup dan sukacita kepada mereka:  “Semuanya itu, Aku katakan kepadamu supaya sukacita-Ku ada didalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh“. (Yoh.15:11).

Yah, hari ini aku semakin diyakinkan bahwa pesan keselamatan yang  dipercayakan dan diwartakan kepada Gereja dan kepadaku sekarang ini juga adalah pesan kegembiraan bagi seluruh dunia, untuk membangkitkan banyak orang dari sikap menyerah pada nasib dan sikap berputus-asa atau bermuram-durja. Intinya:  pesan Yesus adalah pesan Kerajaan Allah, yakni memberi harapan, terlebih bagi orang kecil, seperti yang pernah dipapar-ujarkan oleh Rama Mangun dalam “Balada Becak“ nya, yang menampil-wakili potret indah banyak masyarakat kelas bawah yang kerap terbingung-linglung dalam pelbagai khayalannya, yang jauh dari realitas.

Memang walaupun pada kenyataannya, aku juga kadang menghadapi beberapa pribadi yang malahan mematahkan harapan orang lain, seperti mentalitas tak pantas golongan “Farisi“ dan “Saduki“ yang merasa lebih baik tapi sesungguhnya hanya  karena iri hati dan sentimen belaka. Disinilah aku mengingat seorang karyawan pertapaa yang setia menyiapkan makanan di refter. Pak Samuji namanya. Dari dialah, aku belajar segar dan tegar menyampakan kabar gembira dengan cara: “SAbar dan suka meMUJI.“Yah, kesabaran dan kebiasaan untuk melihat orang lain dari kacamata positif sehingga mudah terkagum pada keunikan setiap sesama adalah awal dari sebuah usaha menyebarkan kabar gembira juga, bukan?


14.
“Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku.” (Mz. 19:15).


Ya Tuhan, tunjukkanlah kepadaku jalan-jalanMu
Dan ajarilah aku menapaki jalan-jalanMu
Bimbinglah aku dalam kebenaranMu
dan ajarilah aku – karena Engkau adalah Allah sang Juru Selamatku
(B.Petrus Faber)

Hari ini kubaca dan renungkan isi dari Mrk.10:28-31, bahwa: “Setiap orang yang karena Aku dan karena Injil  meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, ia akan mendapat upahnya 100 kali lipat!” Janji Yesus kepada para murid seakan menggemakan janji Yahwe kepada Abraham: Abraham meninggalkan segalanya demi tanah yang akan ditunjukkan Tuhan dan para murid Yesus melepaskan segalanya demi Yesus dan Injil Suci. Aku bermenung renung apa yang dijanjikan Yesus bagi orang yang meninggalkan segalanya? Seratus kali lipat! Seorang yang menyerahkan hidupnya demi Kerajaan Allah tidak hanya memperoleh kebahagiaan tetapi juga persahabatan dan berkat yang berlimpah dan tak terduga, benarkah? Bagaimanapun jawabannya, panggilan imamat yang kujalani ini adalah suatu tanggapan dan komitmen hidupku kepada tawaran Yesus: “Ikutlah Aku.” (Bdk: Mark 1:16-20).

Hari ini, aku juga menyadari bahwa kadang aku mengalami pengertian yang keliru serta penafsiran  subyektif yang terjadi dalam perjalanan panggilanku, yaitu:

      a.    Pengertian yang keliru tentang diriku sendiri: Aku kadang merasa seluruh diriku negatif dan merasa begitu tidak pantas, menderita, malang, seakan berjuang sendiri dan tak ada siapa-siapa.
      b.    Pengertian yang keliru tentang sesama: Aku mudah menilai, menyelidik, kadang menolak sesama secara spontan atas dasar pengandaian apakah sesama mampu memuaskan kebutuhan psikologisku atau tidak, melihat sesama sebagai sumber pemenuhan kebutuhan psikologis atau bahkan kadang sebagai saingan dan batu sandungan. Aku menyadarai bahwa hal inilah yang malahan menjadi penghambat pertumbuhan penghayatan hidupku dalam berkomunitas.
      c.    Pengertian yang keliru tentang Tuhan: Aku kadang menggambarkan Tuhan hanya sebagai proyeksi dari kelemahan pribadiku, ketika aku merasa gagal, kecewa dan terpuruk.
      d.    Pengertian yang keliru tentang kenyataan dan situasi: Aku kadang keliru mengartikan maksud hidup panggilan imamat dan sarana-sarana rohani yang disediakan, keliru menangkap Sabda Allah, tidak mampu sepenuhnya memahami dan menghayati perayaan liturgi dan doa-doa ofisi atau doa-doa devotif dengan mendalam. Aku menyadari bahwa kekeliruan ini kerap mewarnai pengalaman hidupku: hatiku tidak mudah peka, mudah terluka atau tersinggung kalau ditegur, kadang tertutup dan tidak mampu menghargai orang lain dengan sesungguhnya.

Dari keempat pengertian keliru yang kadang kuperbuat ini dan berangkat dari sebuah kesadaran bahwa imamat adalah anugerah, maka hari ini aku sungguh memohon rahmat kebebasan yang dewasa dan kepekaan yang bijaksana dalam penghayatan panggilan imamatku setiap harinya, sehingga harapannya: nama Tuhan semakin dimuliakan dan keselamatan sesama semakin diwujudnyatakan. Sebuah ajakan Yesus yang kudapatkan dalam Luk 5:1-11, “bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan” teringat sungguh dalam benakku. Berkenaan dengan kesadaran diri bahwa imamat yang terus harus dimaknai secara mendalam adalah sebuah rahmat, sebuah nama seorang karyawan lain di pertapaan kukenal hari ini kuingat. Pak Suwi namanya. Dia mengajakku untuk semakin memiliki, “SUkacita yang manusiaWI” dalam keseharian hidup imamatku.





15.
“Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan.” (Mz.8:2)

Viva Cristo Rey
Hidup Kristus Raja
(St.Miguel Augustin Pro, )

Bahan permenungan hari ini kubuka dengan “Panggilan Raja”, yang tertulis demikian: “KehendakKu ialah menaklukkan seluruh dunia serta semua musuh, dan dengan demikian masuk ke dalam kemuliaan Bapa. Barangsiapa mau ikut Aku dalam usaha itu, harus bersusah payah bersama Aku, supaya karena ikut Aku dalam penderitaan, kelak dapat ikut pula dalam kemuliaan” (St.Ignatius Loyola, LR no 95). Disinilah, aku semakin mendapatkan penegasan bahwa menjadi murid-murid atau sahabat Yesus memang harus meneladan dan mengenakan cara hidupNya, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib”(Fil 2:6-8).
Aku ditantang untuk semakin mengenal Yesus secara pribadi, terlebih  lewat pertanyaanNya dalam Mat 16:13-20, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini? “ Yesus adalah Rajaku, dan aku harus belajar seperti Dia: rela hidup ‘miskin, sederhana, menyatukan diri dengan yang dilayani, mau turun ke bawah, rendah hati dan menyerahkan diri pada yang dilayani maupun pada yang mengutus’, tentunya dengan rasa bahagia, walau kadang ada terselip rasa sakit dan nylekit.
Di lain segi, aku juga melihat dan mengingat pelbagai karya Yesus sang Raja. Markus 7:31-37, Ia menyembuhkan orang tuli. Lukas 5:17-26, Ia menyembuhkan orang lumpuh dan Yohanes 9:1-41, Ia menyembuhkan orang yang buta sejak lahirnya. Sebuah kekuatan mendalam kudapat ketika Yesus berkata kepadaku, “Kamu bukan lagi hamba, melainkan sahabat, dan kamu adalah sahabatku.....” (Yoh 15:15-17)  
Hari ini juga, aku berjumpa dengan seorang frater muda dari Keuskupan Medan yang sedang menjalani retret di Rawaseneng. Adapun namanya, Fr.Antonius Sinaga. Lewat marga Batak (“Bersama Allah Tambah Aku Kuat”) inilah, aku juga diajak untuk berani mengikuti panggilan Raja, sehingga aku bisa menjadi orang yang Sinaga, “SIap NAik ke surGA.”  Bukankah aku siap naik ke surga jika aku mau lebih mencintai dan menjadi unggul dalam hal pengabdian kepada Tuhan sebagai Raja? Disinilah, aku tidak hanya mempersembahkan diriku seutuhnya untuk berjuang, tetapi lebih lanjut dengan bertindak melawan hawa nafsu, cinta kedagingan dan duniawi dalam diri. Aku ingin memberi persembahan yang lebih luhur dan lebih berharga  dengan berdoa demikian:
“O Tuhan semesta abadi, dengan karunia pertolongan-Mu
kuhaturkan persembahanku di hadapan kebaikanMu yang tak terhingga,
di hadapanMu teramat mulia dan semua santo santa di istana surgawi,
aku berkehendak  berhasrat dan bertekat bulat
asal menjadi lebih besarnya  pujian dan pengabdian bagiMu,
akan meneladan Engkau tuk menanggung segala kelaliman,
segala penghinaan dan segala kemiskinan
baik lahir maupun batin,
bila keagunganMu yang Mahakudus
berkenan memilih dan menerima diriku untuk hidup sedemikian itu.
Amin.


16.
“Tetapi Engkau, TUHAN, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku.” (Mz 3:4)


Bagaimanakah pandanganMu tentang diriku ya Tuhan?
Apakah perasaan hatiMu terhadap diriku?

(John Eagan, SJ, 1925-1987, dosen di Universitas Marquette)

Hari ini kubaca kisah dalam Mat 8:23-27 tentang badai di telaga. Sebuah pertanyaan Yesus meneguhkan hatiku: “Mengapa kamu takut?” Disinilah, aku diajak untuk menyerahkan semua rasa takut, ragu dan kekuatiranku pada Yesus semata. Aku juga diajak kembali mengenal pembedaan roh sebagai salah satu pedoman dasar LR Ignasian. Bukankah setiap hari aku dihadapkan pada suatu pilihan dan aku harus merumus-putuskan sesuatu? Pergi ke “padang gurun” Rawaseneng juga adalah sebuah pilihan bebas yang kutawarkan kepada Bapak Uskup dan beliau menerimanya.

Berangkat dari sebuah kesadaran sederhana bahwa saat ini aku hidup di dunia yang sangat materialistik. Senang atau tidak senang, hidup dan dunia karyaku di Jakarta banyak dipengaruhi oleh imbas globalisasi, mobilisasi dan transportasi komunikasi di pebagai sisi. Segala sesuatu kini menjadi sangat komersial sekaligus banal (dangkal): Uang menjadi seakan ”hosti”, mall menjadi seakan “gereja”, komputer dan televisi menjadi seakan “tabernakel”, bahkan ego-diri seakan menjadi “Tuhan” bagi sesamanya, terlebih sesama yang lebih kecil, lemah, miskin dan tersingkir.  

Di tengah carut-marut dunia yang tunggang langgang inilah, diri dan panggilan imamatku kadang turut masuk dalam pusaran dan lingkaran kebingungan. Hidup dan karya menjadi seolah seperti komedi putar, makin cepat dan makin cepat, namun tidak bisa keluar dari putaran itu sendiri. Nah, untuk menjaga keseimbangan dalam perputaran yang semakin cepat itu, bukankah aku perlu memelihara kehidupan rohani melalui waktu sendirian dengan Allah (Alone with God)?

Terlebih lagi adanya kesadaranku bahwa dunia yang kutinggali adalah dunia yang instan: ambil uang tinggal tekan tombol, ingin makan tinggal pesan di KFC atau Mc D, malas mencuci pakaian-langsung bawa ke laundry. Pelbagai hal yang serba instan kerap mengajarkanku untuk ingin serba cepat juga. Nah, bukankah dengan “AWG” inilah, ketrampilan dan sekaligus kesabaran untuk mengambil keputusan secara tepat, bijaksana dan tenang lebih bisa dimungkinkan? Aku juga sadar, setiap pembelajaran membaca kehendak Allah, tentunya dengan memperhatikan empat keadaan dasar yang kusebut “metode 4 S”, yang kadang kuabaikan di tengah hiruk-pikuk hidup karya, yakni: "solitude” (kesendirian), "silence” (keheningan); "stillness” (ketenangan), serta "simplicity” (kesederhanaan).

Hari inilah, bersama dengan “metode 4 S” tadi, aku juga seakan diajak melihat dua unsur utama sebuah proses discernment, yakni: mempertimbangkan secara matang serta memutuskan secara tepat. Aku pertimbangkan secara matang pelbagai karya dan wartaku selama ini serta memutuskan dengan tegas dan jelas bahwa menjadi imam adalah sebuah komitmen yang harus diperbarui terus-menerus sepanjang hayat dikandung badan. Yah, keberpihakan dan komitmen sebagai imam Kristus itu tidak berhenti menjadi slogan, jargon dan program belaka, tetapi sesuatu yang real, aktual dan operasional, sesuatu yang bersifat action. Walaupun untuk mewujudkannya, aku mesti tekun mengadakan pembedaan roh, kadang bahkan menderita dan disalahkan, harus kehilangan segala-galanya, bahkan kehilangan diri sendiri. Sulit, tapi bukankah untuk itu aku ditahbiskan? Untuk itulah, aku mengingat nama seorang rahib lain lagi di Rawaseneng. Fr. Anton namanya. Ia mengajakku untuk: “ANdalkan Tuhan dan OmonganNya.”


17.
“Berilah telinga kepada perkataanku, ya TUHAN, indahkanlah keluh kesahku. Perhatikanlah teriakku minta tolong, ya Rajaku dan Allahku, sebab kepada-Mulah aku berdoa.” (Mz.5:2)


Tuhan, perkenankanlah Aku mengetahui Dikau,
Perkenankanlah aku mengetahui diriku.
Tuhan, laksanakanlah kehendakMu,
dan bukan kehendakku.
Sebentar, sebentar, aku segera datang menyambut Dikau
Ya Tuhan

(St.Alfonsus Rodriguez, bruder penjaga pintu pada Kolese Yesuit di Mayorka, Laut Tengah)

Kusadari kadang aku ragu akan sesama, akan nilai dan bahkan akan keberadaan diriku sendiri. Karena “keragu-raguan adalah sebentuk penghormatan kepada kebenaran” itulah yang pernah kubaca dalam novel “Romo Rahadi”nyaMangunwidjaya, maka hari ini aku menegas-tegaskan LR sebagai sebuah eleksi, proses pemilihan dalam tiga waktu. Waktu pertama adalah proses pemantapan. Waktu kedua adalah proses pengalaman. Waktu ketiga adalah semacam proses pro-kontra, dimana kognisi atau budiku turut ambil bagian, bukan hanya emosi dan perasaanku. Disinilah aku mengenal-ulang tiga macam kerendahan hati, yang membawaku ke tujuan hakiki, yang kurenungkan pada hari-hari pertama yang lalu dalam Asas dan Dasar: Tujuan hidupku apa?

Adapun dalam LR St. Ignatius, tiga macam kerendahan hati tersebut, yakni: Kerendahan hati I; Syarat mutlak untuk memperoleh keselamatan kekal. Ini tercapai bila aku sudah menundukkan dan merendahkan diriku sedapat mungkin sampai dalam segala hal aku taat kepada Hukum Tuhan. Kerendahan hati II : lebih sempurna daripada yang pertama, yakni bila aku sudah ada pada suatu taraf jiwa tertentu, sampai tak mencari-cari atau menginginkan kekayaan melebihi kemiskinan, tak menghendaki kehormatan melebihi penghinaan, atau mengharap-harapkan hidup hidup panjang melebihi hidup pendek, asalkan semua itu sama artinya bagi pengabdian kepada Allah dan keselamatan jiwaku sendiri; sekalipun  aku akan diberi segala barang ciptaan  atau ada bahaya aku akan kehilangan nyawa, tak akan terjadi aku sampai mempertimbangkan mau melakukan dosa ringan saja. Kerendahan hati III : Paling sempurna : setelah kerendahan I dan II tercapai, asalkan sama artinya bagi kehormatan dan kemuliaan Allah yang Maha Agung, supaya dapat meneladan dan lebih Kristus Tuhan kita dalam kenyataan, aku menghendaki dan memilih kemiskinan bersama Kristus yang miskin melebihi kekayaan; lebih memilih penghinaan bersama Kristus yang dihina  melebihi penghormatan; aku memilih dianggap bodoh dan gila demi Kristus yang lebih dahulu dianggap begitu daripada dianggap pandai dan bijaksana di dunia ini.

Aku merasa inilah waktu pemilihan yang tepat: aku sungguh digerakkan Tuhan, aku juga mendapat terang karena mengalami pelbagai hiburan rohani yang sederhana, dan di saat –saat seperti inilah, aku lebih tenang memikirkan alasan dan pertimbangan secara lebih mendalam. Satu pilihan dan keputusanku adalah menjadi imam sebagai sebuah cara untuk berusaha menjadi link, semacam pontifex/jembatan – ex officio – antara manusia dan Tuhan dan antar manusia sendiri. Sebagai seorang imam, aku harus menyuarakan hati nurani kolektif, sabda, wahyu ilahi, kemanusiaan, dan jawaban manusia, sehingga apa yang diharapkan Yesus dan Gerejanya sungguh menjadi kenyataan bagi dunia: “gaudere cum gaudentibus, et fiere cum fientibus” (Bersukacitalah dengan yang bersukacita, dan menangislah dengan yang menangis).

Hari ini, aku juga terkesan lagi dengan kata “magis”. ”Magis” itu tidak hanya salah satu ciri, tetapi seharusnya menyangkut keseluruhan hidupku sebagai seorang imam yang berhasrat untuk menjadi pontifex atau jembatan – ex officio – antara manusia dan Tuhan. Aku melihat lebih dalam, dari waktu ke waktu, kehidupan Yesus juga merupakan dinamika peziarahan mencari dan menemukan, menjalani arah kehidupan yang Magis, kemuliaan Allah Bapa yang selalu lebih besar, pelayanan kepada sesama yang makin purna, usaha-usaha yang makin umum, dan sarana-sarana pewartaan Kerajaan Allah  yang lebih efektif sekaligus lebih afektif. Sifat dan karakter, sikap dan parameter yang cenderung mediocritas (yang setengah-setengah) tidak nampak dalam laku hidup Yesus. Inilah juga yang ingin kudapatkan, belajar terus menjadi imam yang total, sepenuh dan seutuhnya. Bukankah seorang imam yang ingin bersemangat magis terus menerus rela dibimbing bahkan kadang dibentur-hancurkan untuk menemukan dan meneruskan kembali apa yang lebih dan apa yang magis dalam karya dan wartanya?

Aku terkenang lagi untuk bertanya tentang arti seorang imam, yang kadang diharapkan menjadi manusia setengah dewa. Ya Tuhan, inikah imamMu? ”Inikah Manusia Andalan Mu?”Kuingat sebuah nama seorang anak muda dari daerah Parakan yang berziarah beberapa hari di pertapaan. Adi namanya. ”Andal mengabDI” artinya. Semoga aku juga semakin andal mengabdi Tuhan selamanya.  


18.
“Kasihanilah aku, ya TUHAN; lihatlah sengsaraku, disebabkan oleh orang-orang yang membenci aku, ya Engkau, yang mengangkat aku dari pintu gerbang maut.” (Mz.9:14).


Anugerahkanlah kepadaku ya Tuhan,
kemampuan untuk dapat melihat segala sesuatu
kini dengan mata baru;
untuk memilah-milah, memilih-milih lalu
menguji roh yang dapat membantu diriku
membaca tanda-tanda jaman;
untuk mencecap nikmat segala hal yang menjadi milikMu
dan untuk mewartakan segala ini kepada pribadi-pribadi
di luar diriku
Berilah aku kejernihan pemahaman yang Engkau berikan kepada Ignatius

(Pedro Arrupe, 1907-1991, pemimpin umum/Jenderal Serikat Yesus pada 1965-1983)

Sejarah. “SEtia JAbarkan anugeRAH.” Itulah kata yang terkenang ulang di hari ini. Dari Injil Lukas, hari ini aku mencoba mengenang sejarah panggilan. Dari Lukas 18:15-17: aku belajar dari seorang anak kecil: "Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.” Lukas 18:18-27: orang kaya juga mengajarkanku banyak hal: "Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan: juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." (Luk 18:22). Berlanjut ke Lukas 18:28-30, aku diingatkan kembali tentang upah mengikuti Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Kerajaan Allah meninggalkan rumahnya, isterinya atau saudaranya, orang tuanya atau anak-anaknya, akan menerima kembali lipat ganda pada masa ini juga, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal." Dari janji Yesus yang kembali kurenung-menungkan pada dua hari ini, aku diajak bertanya bersama Yohanes 12:24-36, maukah aku juga ikut sengsara dan mati bersama Yesus?

Berkaca dari sejarah panggilanku sendiri, aku ingin mewartakan Injil dalam “kerendahan hati”: Aku, sebagai orang yang terpanggil, sadar bahwa ada banyak karya dan usaha, besar artinya dan sangat penting dalam Gereja dan dunia, tapi tak dapat kujalankan sendiri. Pun pula dalam karya-karya  yang dapat dan harus kulayani, aku sadar bahwa aku harus bekerja sama dengan rekan-rekan lain : dengan sesama saudara seimam, seiman bahkan dengan penganut agama-agama lain yang tidak seiman. Intinya: aku harus bekerjasama dengan semua orang yang berkehendak baik, bukan? Kadang aku harus sedia memainkan peranan kedua, atau sebagai pembantu, bukan sebagai orang tanpa nama; dari mereka yang ingin kulayani, aku harus bersedia belajar bagaimana cara mereka melayani. Yang pasti, aku tercerahkan bahwa hidup seseorang dikategorikan magis, kalau ia tak henti-hentinya mohon rahmat untuk menjadi lebih baik. Perwujudannya terjadi dalam proses tentunya, bukan?

Menceruat juga sebuah pertanyaan kecil, mengapa kadang aku kurang bisa sungguh melayani dengan rendah hati? Kubaca teks dari Lukas 9,43-62. Ada beberapa kemungkinannya: Kadang aku sulit untuk memahami jalan dan ajaran Yesus karena seakan-akan ter­sembunyi dan penuh misteri (ayat 45). Kesulitan itu juga timbul karena aku dan sesama imamku kadang masih “bertengkar” soal siapa yang paling besar (ayat 46-48). Kesulitan juga muncul ketika aku bersikap tertutup: seakan-akan berbuat baik itu hanya hak seorang imam (ayat 49-50). Kadang terselip juga semangat keras hati dan ingin membalas, semangat yang setengah-setengah dan tidak mantap (ayat 57-62), bahkan semangat tawar-menawar dengan Tuhan. Akhirnya, permenungan hari ini membawaku ingat akan nama seekor sapi di pertapaan bernama, “Santi”. Yah dia mengajakku belajar untuk “berSANdar sepenuh haTI” pada Tuhan dalam pelbagai karya dan warta pelayananku.


19.
“Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.” (Mz.16:11).


Ya Allah, berikanlah kepadaku
keberanian dan kekuatan
untuk pantas disebut orang kristiani

(Karl Rahner, SJ)

Aku membaca sepenggal injil Luk 9:22-27. Sebuah perikop tentang pemberitahuan pertama seputar derita dan syarat-syarat mengikuti Yesus. Berlanjut pada Luk 9:28-36: mengenangkan peristiwa transfigurasi: Yesus yang mengajakku bersukacita sebelum berdukacita. Dia mengajakku meyakini bahwa jalan sengsara adalah sesuatu yang memang menjadi konsekuensi yang secara sadar dipilih dan bahkan bayangan seperti itu telah sejak awal Ia nyatakan. Itulah mungkin sebabnya Yesus menolak dengan tegas ketika murid-murid, termasuk aku menjadi malas  untuk “turun gunung”. Aku berupaya untuk mengurung Yesus dalam tenda di gunung kemuliaan: kemapanan, kenyamanan dan kemakmuran. Tapi hari inilah, aku melihat Yesus justru sungguh turun dan meninggalkan gunung kemuliaan itu untuk dengan rela hati “kotor”: menempuh lembah penderitaan di Yerusalem.  “Turun gunung” sendiri tidak selalu menyenangkan. Aku harus menghadapi realitas. “Panas dan berdebunya” dunia harus kurasakan ketika aku mau menghidupi “impian-impian” saleh seperti yang kurasakan di “Gunung Tabor”. Kerinduan akan nostalgia di tengah umat dan sahabat, kesepian batin, sampai akhirnya keinginan untuk lari, acuh serta mendendam kadang muncul. Satu hal pokok kudapatkan, ternyata keinginan untuk hidup baik, mewujudkan impian serta mewujudkan harapan dan tekad dalam doa-doa bukanlah sesuatu yang mudah dalam realitas harian ketika aku “turun gunung”.

Setelah pemaknaan transfigurasi dan kekuasaan Yesus yang dengan gagah perkasa bisa mengusir roh ayan (pada Luk 9:38-43), pada ayat 46-48, aku juga melihat figur anak kecil yang berbicara banyak soal pelayanan: "Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar." (Luk 9:48). Terbersit sepenggal sindiran dari Rama Mangun yang teringat di benakku: “Kelakar adalah kelakar, tak perlu diambil serius. Namun, setiap rohaniwan gereja Katolik (yang notabene terkenal sebagai agama yang kaya raya dan kuasa) sedikit banyak telah “terperangkap” dalam suatu sistem yang memang memberinya kesempatan dan fasilitas besar untuk memberi kepada kaum miskin, tetapi sangat menghalangi dia untuk menjadi kaum miskin.”

Yah, aku semakin tersadar bahwa di satu pihak, aku ingin mengikuti Kristus dengan setia, di lain pihak aku hanya mau mengikuti diriku, kehendakku dan kepentingan diriku sendiri (LR: 135-148; 313-336). Dalam istilah Rama Mangun, aku seperti “Puteri Duyung yang mendamba.“ Disinilah lewat pengalaman “turun gunung” bersama Yesus, aku semakin diajak untuk berani berjuang terus menjadi seperti nama seorang rahib lainnya di pertapaan, yakni, Fr.Johan, “JOdohnya TuHAN.”


20.
“Allahku, kepada-Mu aku percaya; janganlah kiranya aku mendapat malu; janganlah musuh-musuhku beria-ria atas aku.” (Mz. 25:2)


Semoga kemahabaikan Allah Mahaagung
memberikan kepada kita
segala rahmat berlimpah untuk senantiasa
mengetahui kehendakNya yang paling suci
dan menjalankannya  dengan sempurna.

(St.Ignatius Loyola)


Intersisi. Aku diingatkan oleh nasehat bijak bestari Rm Purwa di tahun awal studiku di Yogya, “Seandainya kamu terlalu sibuk dalam hidup karya, paling tidak milikilah sebuah devosi yang melekat-erat dalam hidup harianmu.” Sejak itulah, aku semakin meyakini untuk menjadikan devosi kepada Bunda Maria sebagai gerak polah hidup rohani dan imamatku. Aku yakin bahwa devosi yang benar mampu menumbuhkan niat dan tekat untuk semakin berbakti kepada Tuhan. Oleh karena itulah, maka intersisi keduaku bertema, “Maria Way”. Aku berniat “menjajah” dan “menjalajah” lima goa Maria: di Kerep-Ambarawa. Sendangsono. Pakem. Jatiningsih dan Sriningsih.

Dari lima tempat yang kukunjungi pada intersisi kedua ini, aku mengangkat  profil seputar Goa Maria Sendangsono. Adapun asal usul devosi Marianya bermula pada tahun 1903. Waktu itu, Rama Van Lith dikunjungi katekisnya, yang membawa seorang bekas pengikut Kyai Sadrach dengan empat bekel (Kepala Desa) dari daerah Kalibawang. Tanggal 20 Mei 1904, semua orang itu dibaptis oleh Rama Van Lith. Kemudian mereka mengajar agama bagi umat di sekitar daerah Sendangsono. Tanggal 14 Desember 1904, terjadi peristiwa besar: sekitar 173 orang dibaptis di mata air Sendangsono. Kenyataan sejarah itu menjadi awal dan pembuka pewartaan Injil bagi orang-orang Jawa. Lalu, pada tanggal 8 Desember 1929, diadakanlah perayaan ekaristi dan prosesi sebagai ucapan syukur atas dibaptisnya sejumlah orang Jawa di Sendangsono 25 tahun yang lalu. Sendangsono diberkati dan diresmikan sebagai tempat perziarahan umat beriman. Kemudian ditegaskan pula oleh Rama Prentheler waktu itu bahwa peran Yesus dan Maria jauh mengatasi peran “Den Rara Lantangsari” dan “Den Bagus Samijo”, yang dipandang oleh masyarakat sekitar sebagai “pepunden masyarakat” (pribadi yang dihormati dan dijunjung tinggi). Yesus dan Maria tidak jauh tetapi tetap dekat pada umat dan masuk ke dalam hati mereka.

Pada intersisi kedua inilah, dengan berziarah ke lima goa Maria, aku berniat untuk senantiasa membawa hati dan diriku lebih dekat lagi pada hati dan diri Bunda Maria: Ad te clamanus, exsules filii Evae - kepadamu aku berseru, anak-anak Hawa yang malang dan terbuang. Sebuah permenungan kembali terkenang: di Taman Eden, di kaki pohon, ada seorang wanita “wajah indah penuh dusta”, yakni Hawa (bdk. Kejadian 3). Oleh bujuk rayu Si Jahat, ia mengambil apa yang ia pikir adalah kehidupan ilahi. Sebaliknya, yang diambilnya adalah benih maut yang kemudian masuk ke dalam dunia melaluinya (bdk. Yakobus 1:15; Roma 6:23). Sedangkan, di Kalvari, di kaki pohon salib, ada seorang wanita lain “wajah indah penuh cinta”, yakni Maria (bdk. Yohanes 19:25-27). Dengan menerima rencana Allah, ia ikut ambil bagian secara intim dalam pemberian diri Putra kepada Bapa demi hidup dunia dan, dengan menerima amanat Yesus yang mempercayakannya kepada Yohanes Rasul, ia menjadi Bunda segenap umat manusia. Harapanku, semoga lewat intersisi dan ziarah ini, Bunda Maria senantiasa menjadi Bundaku yang senantiaa setia mendengarkan dan meneguhkan peziarahan diri serta hidup imamatku untuk seterusnya, sehingga perbuatan-perbuatan dari Yang Maha Kuasa juga bisa terjadi dalam hidupku. Di intersisi inilah, kuingat seorang suster tua di Rawaseneng yang rajin merebuskan telor ayam kampung dan bakwan goreng untukku. Sr.Marta, OP namanya. Dia mengajakku untuk mengingat, “MARia itu penuh cinTA”


Santa Maria, Ratu junjunganku, aku menyerahkan diriku
kepada perlindunganMu yang suci dan pemeliharaan khususmu
serta pangkuan belas kasihmu, hari ini dan setiap hari serta pada saat aku mati.
Aku serahkan jiwa ragaku kepadamu. Aku percayakan kepadamu harapan dan hiburanku, kesedihan dan kesengsaraanku, seuruh hidup dan akhir hayatku.

Melalui perantaraanmu yang paing suci dan melalui jasa-jasamu, semoga segala tindakanku diarahkan sesuai dengan arah kehendakmu dan kehendak Puteramu.

(St.Aloysius Gonzaga, 1568-1591, berasal dari keluarga bangsawan dan menjadi Jesuit)



21.
“Janganlah menyembunyikan wajah-Mu kepadaku, janganlah menolak hamba-Mu ini dengan murka; Engkaulah pertolonganku, janganlah membuang aku dan janganlah meninggalkan aku, ya Allah penyelamatku!” (Mz. 27:9)


Ya Tuhan,
aku berharap
agar
dari sekarang ini juga
aku menjadi orang pertama yang sadar
akan segala yang dicintai, dicari, didamba,
dan dibela oleh dunia;

agar aku menjadi orang pertama yang mencari Engkau,
bersimpati, sanggup menderita,
menjadi orang pertama yang membuka diri
dan mengorbankan diri;

agar aku menjadi lebih manusiawi,
menjadi berbangga
daripada segala abdi dunia

(Pierre Teilhard de Chardin, SJ, 1881-1955, paleontolog Prancis
yang banyak memadukan relasi ilmu dan agama dalam tulisan-tulisannya)

Dalam Minggu II yang baru saja kulewati, aku mengalami buah dan penerangan rohani dari meditasi “Panggilan Raja dan Dua Panji”. Pada awalnya, pengalaman begitu berat dan melelahkan terjadi saat eleksi atau proses pemilihan. Aku kerap merasakan bahwa roh buruk menggunakan segala cara untuk menjauhkan diriku dari Tuhan dan menghilangkan panggilan imamatku. Tapi, akhirnya dengan memperhatikan pengalaman konsolasi dan desolasi juga diskresi, hatiku mulai terarah dan teratur lagi.

Hari ini, perjalanan retretku memasuki minggu ketiga dalam Latihan Rohani, bertema pokok: “Kisah Sengsara Yesus”. Renungan mengenai kehidupan Yesus tetap dilangsungkan tapi sekarang lebih terpusat pada kontemplasi sengsara dan wafat Yesus. Tidak mudahlah bersama seseorang yang sedang menderita, bukan? Tetapi jika yang sedang menderita itu adalah seorang sahabat, kerabat dan bahkan anggota keluarga terdekat, bukankah bagiku tidak ada tempat yang lain yang menjadi pusat perhatianku selain berada dekat di sisinya? 

Sebagai orang yang mencintai Yesus dan yang telah menginginkan hidup bersama Yesus, aku amat merindukan hidup bersama Yesus, dimanapun Dia berada. Oleh karena itu, bila Dia yang telah lama aku cintai ini sedang menderita sengsara, aku tahu bahwa aku harus berada di dekat Dia juga. Walau kusadari ada rasa takut, sakit, berat dan hati terasa sesak. Rahmat yang kuminta selama minggu ketiga ini adalah anugerah agar dapat merasakan “kesedihan, rasa belas-kasih dan malu” karena Tuhan bersedia menderita demi silih atas dosa dan dustaku. 

Perlahan tapi pasti, aku mulai masuk dalam adeganNya dan melihat apa yang muncul-timbul dalam hatiku ketika kubaca Luk 22:1-6, sebuah rencana untuk membunuh Yesus. Aku terkenang, bukankah aku juga harus siap untuk mengalami “pembunuhan”. Bukankah dunia yang carut marut ini juga didiami oleh orang-orang yang munafik dan “suka membunuh”? Mungkin tidak berarti membunuh secara fisik, tapi bisa jadi membunuh karakter dan parameter orang lain.  Di pasar ini terjadi, wajar. Tapi bisa jadi merambah ke mimbar bahkan ke altar. Ironis! Aku mungkin pernah mengalaminya dan ada juga orang lain yang mungkin sedang mengalaminya. Secara manusiawi, aku merasa kecewa dan menyesal mengapa mengenal orang-orang seperti itu. Tapi di lain segi, aku juga merasa ada baiknya mengenal orang-orang bermental seperti itu untuk memurnikan jiwa dan hidupku sendiri, supaya tidak seperti itu. Kuusahakan berpikir positif model Stefanus: "Tuhan ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan!" Hal ini jugalah yang kuingat dikatakan Yesus sebagai wasiat pertamanya di atas kayu salib (Luk 23:34).

Berangkat dari permenungan hari inilah, sebuah kalimat sederhana menceruat di awal minggu ketiga ini; “Tinggalkan munafik dan gantikan dengan munajat”. Munafik diwakili oleh segerombolan imam Farisi dan Saduki. Munajat diwakili oleh Maria dan para perempuan dari kaum anawim. Munajat sendiri berarti: doa sepenuh hati kepada Tuhan. Sedangkan munafik, sebuah sifat buruk dan palsu, yang menurut saya terindikasi dengan tiga hal nyata: “MUlutnya pedas, NAlurinya iri dan FIKirannya negatif?” 

Mengacu pada Matius, Yesus pernah mengkaitkan kemunafikan dengan rumah ibadat. Aku yakin bukanlah maksud Yesus untuk mengatakan bahwa di rumah ibadat itulah sumber kemunafikan manusia - walaupun, kebetulan kadang benar adanya. Yah, karena di tempat-tempat seperti itu,  bukankah banyak kesempatan untuk bermunafik ria? Cara dan gaya berdoa yang sok khusuk. Cara  maju ketika memberi atau menyambut komuni, atau saat tampil di mimbar atau di panti imam, bahkan ketika berkotbah atau menghunjukkan persembahan di altar.

Satu hal baik yang meneguhkan hati, kubaca Injil Yoh 16:1-33, dan kuingat ada sebuah kata dalam bahasa Yunani, parakleitos, semacam roh penghibur, penyegar yang hadir untuk menyertai dan mengiringi, menemani dan melindungi: Roh Bapa yang mencipta-lahirkan kebaikan, Roh Putra yang menawarkan penyelamatan dan penebusan, dan terlebih Roh Kudus yang setia menyertaiku dalam ruwet renteng dunia. Sebuah nama kenalan baruku, seorang imam dari tarekat MSF yang berkarya di Gereja Temanggung kuingat di hari ini.  Rama Santosa namanya. Namanya seakan mengajakku untuk, “berSANdar pada cinta, berTObat dari doSA.” Yah lewat nama inilah, aku diingatkan tentang pesan Rasul Paulus, “mencintailah seperti Yesus telah mencintaimu.” (Ef 5:1-2)  

Buatlah agar aku menghayati sengsara-Mu, ya Yesus.
http://www.indocell.net/yesaya/pustaka/1x1.gif
Sengsara-Mu memisahkan aku dari dunia
http://www.indocell.net/yesaya/pustaka/1x1.gif
dan mengangkat aku ke surga.
http://www.indocell.net/yesaya/pustaka/1x1.gif
Sengsara-Mu menjelaskan hidup,
http://www.indocell.net/yesaya/pustaka/1x1.gif
mendorong aku untuk menjadi kurban,
http://www.indocell.net/yesaya/pustaka/1x1.gif
mengajar pengampunan,
http://www.indocell.net/yesaya/pustaka/1x1.gif
dan menjadikan manis setiap penderitaan.
http://www.indocell.net/yesaya/pustaka/1x1.gif
Buatlah agar aku menghayati sengsara-Mu, ya Yesus,
http://www.indocell.net/yesaya/pustaka/1x1.gif
dan mengenal keindahan kebenaran serta kasih abadi
http://www.indocell.net/yesaya/pustaka/1x1.gif
agar iman kepercayaanku penuh tanpa keraguan.
http://www.indocell.net/yesaya/pustaka/1x1.gif
Buatlah pada saat terakhir hidupku di dunia ini,
http://www.indocell.net/yesaya/pustaka/1x1.gif
aku semakin menghayati sengsara-Mu,
http://www.indocell.net/yesaya/pustaka/1x1.gif
agar aku dekat pada-Mu, ya Yesus,
http://www.indocell.net/yesaya/pustaka/1x1.gif
dan dengan demikian memperoleh kedamaian yang Engkau janjikan.
http://www.indocell.net/yesaya/pustaka/1x1.gif



22.
“Jiwa kita menanti-nantikan TUHAN. Dialah penolong kita dan perisai kita! Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya. Kasih setia-Mu, ya TUHAN, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu.” (Mz. 33:20-22)


Ya Yesus Kristus,
Semoga berkat wafatMu aku peroleh hidup,
Berkat jerih payah karyaMu aku peroleh istirahat,
Berkat kelemahanMu sebagai manusia aku peroleh kekuatan,
Berkat Engkau dicemooh, aku peroleh keluhuran.

(B.Petrus Faber)

Aku terkenang-menang sebuah kisah dalam injil tentang pembasuhan kaki di saat Perjamuan Terakhir. Inilah sebuah bukti kerendahan hati sekaligus “permintaan maaf”. Terkenang, ketika Sri Paus membasuh kaki para imamnya dan ketika para imam membasuh kaki para umatnya. Semoga bukan sekedar ritus yang menjadi kultus, tapi sungguh menjadi sebuah kenyataan harian.

Aku berjuang memaafkan beberapa pribadi yang pernah menyakiti dan menghancurkan hidup dan panggilanku: Ada seseorang yang dengan sengaja membuat pelbagai iklan fiktif (jual rumah, jual tanah, jual mobil, jual sex toys bahkan jual diri) memakai namaku di “toko bagus” internet. Dia juga membuat berita-berita palsu dan kontroversial memakai namaku di dunia maya lewat pelbagai situs dan kaskus. Bahkan dia juga sempat-sempatnya membuat akun facebook palsu, email, twitter bahkan Yahoo Messenger dan bahkan alamat dan keterangan palsu memakai namaku, demi satu tujuan: menghancurkan nama baik. Ada banyak orang yang tertipu, wajarlah karena konteks dunia sekarang membuat banyak hal menjadi tidak jelas lagi, bukan? Yang salah bisa benar, yang benar bisa salah. Diriku dibuat “geleng-geleng dengkul” saking tidak habis pikir, kog ada orang sejahat, senekat dan se-psikopat ini.

Belum lagi, seseorang yang tanpa kejelasan masalah yang utuh, begitu saja lalu “membabi buta” melaporkan, memperguncingkan bahkan menjadi “hakim” yang ber-asas dasar “EGP”: Emang Gue Pikirin tanpa berani untuk bertemu langsung empat mata dan berbicara dengan baik baik, dewasa serta terbuka. Ada saja juga orang lain dengan motifnya masing-masing, yang sering “mengambil keuntungan”, dan yang hobinya melebar-luaskan berita miring atau gosipan picisan, “bad news is a news”, yang biasanya dilebih-lebihkan, bernuansa buruk dan lepas dari konteks utuhnya membuatku juga belajar untuk lebih berlapang dada, ber-instrospeksi: mengambil segi baiknya dan bersikap lebih hati-hati dan tidak ingin menjadi orang seperti itu, yang “bahagia” kalau berbicara melulu tentang orang lain dan melulu hanya tentang pelbagai keburukannya yang memang ada atau yang memang seakan dicari-cari. Yah dalam bahasa Rama Mangun, “keganasan” mulut mereka seperti “ikan homa, ido dan ikan hiu” yang saling mengincar dan tega menghabisi lawannya tanpa ampun.

Seperti penyelesaian yang tergerak-tampak dalam novel “BBM – Burung Burung Manyar“, aku meyakini bahwa akhir dari “teror dan horor” ini  adalah adanya campur tangan Tuhan, deus ex machina.  Satu keyakinanku, aku tak pernah bermaksud jahat terhadap orang lain, aku tak punya intrik, taktik tiktak, apalagi konfik dan maksud politik yang tersembunyi. Aku mengingat wajah segelintir orang ini satu-persatu, wajah manusia yang seakan bahagia ketika membuat orang lain tidak bahagia, yang tertawa penuh cibir ketika membuat sesamanya terpuruk. Seolah mereka lebih  baik, lebih suci dan lebih bijaksana. Padahal, bukankah Yesus pernah berkata, ‘tidak semua kalian bersih?” Bukankah Yesus juga pernah mengatakan, “Barangsiapa tidak berdosa, silahkan melempar batu terlebih dahulu.”  Masalahnya, kecenderungan orang untuk melihat keburukan sesamanya dan malas meng-instrospeksi dirinya sendiri begitu menceruat pada jaman sekarang, bukan? Semua seakan mau menjadi “hakim”, tanpa mau membaca “naskah pleidoi” dan “BAP” - nya secara arif dan bijaksana.

Lepas dari semua gejolak rasa-perasaan itu, kutampil-kenangkan segelintir wajah manusia yang seakan kubenci tapi berusaha sebisa-mungkin kuampuni. Secara manusiawi, aku sangat ingin bertemu satu-persatu, empat mata dan melihat bagaimana sebuah fairness dihargai. Tapi, secara ilahi, aku diajak walau kadang begitu berat untuk mengakui bahwa aku harus menerima ini sebagai sebuah kenyataan dan pengalaman hidup dan sangat mungkin, hal ini terjadi karena salah sikap dan perilakuku juga secara tidak langsung. Yang pasti: hanya rahmat pengampunan dan hati yang besar kuminta dariNya pada permenungan ini.

Oh ya, hari ini, aku teringat seorang eks muridku di kampus UI Depok yang kebetulan tak sengaja bertemu lagi ketika makan siang di pertapaan Rawaseneng. Ternyata, dia sedang menyiapkan hati dan melegakan budi untuk berpasrah diri menjadi seorang suster di kongregasi BKK (Biarawati Karya Kesehatan), yang didiri-bentuk-rintis oleh Ibu Anna Dengel. Nama panggilan calon suster ini: Ida. Darinya, aku belajar mengampuni dan memaknai sebuah proses, “Indahnya Damai Allah.”   

Satu kekuatan lain kudapatkan ketika kulihat Yesus membasuh kaki para muridnya: Petrus yang “kuman-kurang beriman”: pengecut dan menyangkal tiga kali, Yudas yang “kutu-kurang bersatu”: laknat-berkhianat, Thomas yang “kuper-kurang percaya”: skeptis, sinis dan tidak mudah percaya, Yakobus dan Yohanes yang “kudis-kurang disiplin”: tertidur ketika diminta berjaga dan berdoa di Taman Getsemani, dan gerombolan para murid lainnya yang “kuli-kurang peduli”, “kurap-kurang berharap” dan “kutang-kurang tanggungjawab”: mudah lari dan kabur tanpa empati ketika Gurunya harus menghadapi penderitaan dan penolakan, disakiti dan dilukai. Bagiku, pada moment inilah, Yesus tidak sekedar menjadi guru yang menunjukkan dan mengajarkan sesuatu tapi Ia sekaligus menjalani dan mempraktekkan apa yang diajarkanNya itu: Ia tetap mencintai walau disakiti. Ia terus menghargai walau dikhianati.” Ia mengajarkan sekaligus melaksanakan pengampunan, kasih dan kesetiaan yang penuh komitmen. Tidak ada ambivalensi dan dikotomi antara perkataan dan tindakan Yesus; tak ada paradoks; artinya keduanya bersifat integral. Apa yang Ia ajarkan, itu juga yang Ia lakukan. Di sinilah keunggulan dan kekuatan Yesus. Dia bukan tipe “Nato: No Action Talk Only”. Dia tipe: “Just do it”. Dari sinilah, terkenang sebuah kalimat latin: “verba movent exempla trahunt, kata kata itu menguap tapi teladan hidup itu menyentuh hati.”

Walaupun pada awalnya, ratapan-pemazmur (Mz. 22) sekaligus ratapan Yesus juga menjadi ratapanku, “Ya Allah, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” tapi persis pada hari ini jugalah, aku seakan ditantang seperti bunyi sebuah ikan rokok, “Tunjukin Rasa Loe! Yah, rasa hati yang tangguh dan jiwa yang besar untuk berani menerima penyaliban dan rela memberi pengampunan. Satu pengharapanku, semoga rasa sakit yang kusatukan bersama Yesus ini memiliki sumbangan berarti agar mereka yang menyakitiku dapat menjadi orang yang lebih baik dan lebih benar. Dalam hal ini, aku yakin pharmakos dapat diubah menjadi pharmakon (racun telah menjadi obat). Ada efek samping yang mendatangkan kebaikan, beneficial effect, dalam  lakon  ini, bahwa hal yang chaos ditransformasikan menjadi hal yang kosmos karena pengorbanan dan pemaknaan salib bersama Yesus sendiri, karena keyakinanku: ”aku telah disalib bersama Kristus.” (Gal 2:19-20)

  
23.
“Cukup lama aku tinggal bersama-sama dengan orang-orang yang membenci perdamaian. Aku ini suka perdamaian, tetapi apabila aku berbicara, maka mereka menghendaki perang.” (Mz. 120:6)


Tuhan,
liputlah aku dalam lubuk hatiMu.
dan dalam lubukMu
peganglah aku,
murnikan aku,
bersihkan aku,
bakarlah aku,
angkatlah aku,
sampai
yang aku sebut diriku
luluh lebur

(Pierre Teilhard de Chardin, SJ)


Kukenangkan lebih dalam lagi kisah sengsara Yesus, sebuah hari biasa yang membuat relung hati sedih luar biasa. Sinisme, hujatan, kecaman, olok-olok dan cemooh sembarangan dari banyak orang yang seharusnya menjadi panutan mewarnai saat-saat Yesus menjalani penderitaan dan kesendirian di kayu salib. Mahkota duri dipajang di atas kepala-Nya, sebatang buluh diletakkan pada tangan kanan-Nya, lalu orang-orang mengejek-Nya, meludahi-Nya, membuang undi atas jubahNya, memukul kepala-Nya dengan buluh, mencambuk, memaku tangan dan kakinya, menusukkan tombak dan menyalibkannya. Ia mengalami secara aktual sebuah “trilogi penyaliban”: dicap buruk (stigmatisasi), disingkirkan (marginalisasi), serta dikorbankan (viktimisasi).

Hari ini, hatiku diajak bertanya: sadarkah aku, bahwa  yang menyalibkan Yesus dulu adalah para pemuka agama dan pemuka ibadat, para tua-tua, imam dan ahli kitab suci? Bisa jadi karena agama lebih diwartakan daripada iman! Padahal jelaslah bahwa yang dilakukan Yesus adalah pendidikan iman, bukan agama. Itulah sebabnya, dengan jelas dan tegas Yesus mengkritik 'agama' dan seluruh perangkatnya, bukan? Sungguh lekat dalam benakku, Yesus ditolak oleh para ahli taurat, imam dan tua-tua, para pemuka agama dan ibadat, andalan 'agama' Yahudi yang seharusnya lebih mengenal Yesus. Bisa jadi, bukan karena mereka adalah orang jahat, tapi mungkin mereka tidak bisa melihat Tuhan yang datang dalam diri Yesus. Hatinya tumpul, telinganya tuli dan matanya buta karena tertutup kebisingan dan kepentingan pribadi atau kelompok. Jangan-jangan di jaman sekarang,  banyak orang beragama, termasuk aku dan rekan imam juga tak sanggup melihat Tuhan yang datang dalam sesama yang kecil, lemah, miskin dan menderita, yang kerap dianggap buruk dan jahat di tengah ruwet renteng keseharian di sebuah kota bernama Jakarta?

Aku ingat penggalan kata Goenawan Mohammad, “Gereja Katolik memiliki mistik, tapi juga politik dan intrik”. Sebuah kesadaran bahwa institusi ilahi ini masih diurus oleh orang-orang yang insani, dan bisa jadi mungkin pernah salah urus, bukan? Paus Yohanes Paulus II pun pernah mengatakan bahwa Gereja juga pernah salah dan itulah sebabnya sang paus dari tanah Polandia ini dengan rendah hati berani meminta maaf: Ketika Gereja menghukum Galileo Galilei. Ketika Gereja tidak banyak bicara dalam holocaust-nya Hitler terhadap ribuan orang Yahudi. Ketika Gereja membakar hidup-hidup orang yang senyatanya baik, tapi yang dianggap bidaah. Ketika Gereja marak oleh praktek ‘simoni’: menjual surat pengakuan dosa kepada para umatnya. Ketika praktek kumpul kebo dan nepotisme serta perebutan tahta kepausan terjadi semarak diantara para kaum berjubahnya. Ketika pelecehan seksual terhadap perempuan dan penyimpangan seksual terhadap anak-anak terbuka di ruang publik dan lain sebagainya.

Hari ini, kucoba membangun sebuah rekonstruksi dari Luk 20:1-8, pertanyaan mengenai kuasa Yesus: "Katakanlah kepada kami dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu, dan siapa yang memberikan kuasa itu kepada-Mu!" Ada saja orang yang mudah menyangsikan sesamanya, bahkan menghakimi tanpa tahu duduk permasalahan secara utuh dan menyeluruh. Ada banyak kepentingan, manipulasi dan sarat sikap ketidaktulusan yang tidak adil kerap terjadi di balik gembar-gembornya semangat suci mewartakan Kerajaan Allah. Kadang dibuat oleh kami, para imamnya. Kadang juga dibuat oleh para umat yang mengaku pengikutNya. Padahal, bukankah tujuan Kerajaan Allah adalah mendirikan kebenaran dan keadilan yang menyeluruh?

Hari inilah, lewat pembacaan ulang teks Luk 20:1-8, aku semakin terkenang bahwa Yesus pastilah seorang pribadi yang memiliki pelbagai pengalaman konflik, dengan batinnya maupun dengan orang lain, tentunya dengan pelbagai macam intensi, motivasi dan friksi. Itu juga yang kualami. Konflik disini lebih kuartikan sebagai sebuah perjuangan. Kulihat ternyata seluruh hidup Yesus adalah sebuah konflik, suatu perjuangan tak kenal lelah melawan kuasa kegelapan, melawan  kuasa kejahatan yang berurat-berakar di tengah hidup manusia dan yang sekutunya menetap di setiap hati manusia. Dalam situasi konflik inilah, Yesus nampaknya mengalah serta kalah, dan kendati demikian semua konflik itu berakhir dalam kemuliaan Paska.

Artinya apa buatku? Aku yang ingin berjuang sebagai murid Yesus yang sejati harus ambil bagian dalam konflik ini, sehingga tetap akan beserta Dia dalam kemenangan akhir-Nya: “Barangsiapa menang, ia akan Aku dudukkan bersama Aku diatas tahtaku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama Bapa-Ku diatas tahta-Nya.“ (Wahyu 3,21).

Disinilah  persis teologi salib mendapatkan ruang aktualisasinya. Salib yang diwartakan oleh Yesus tidak boleh kutafsirkan secara negatif, karena salib termasuk dimensi pokok dari panggilanku sebagai imam. Aku diyakinkan bahwa Yesus mewartakan salib sebagai tanda cinta (simbol progresif kedewasaan) dan bukan tanda ketakutan (simbol regresif kekanak-kanakan). Dengan kata lain, salib menjadi tanda cinta terbesar dan menjadi jaminan cinta yang benar, dan ini merupakan simbol khas bagi usaha hidup imamatku untuk mencintai Allah secara radikal dengan hati yang tidak terbagi. Karena salib, menjadi jelaslah betapa otentik dan mendalam pemberian diri Yesus. Hal ini perlu dikonfrontasikan dengan panggilan imamatku sendiri. Bukankah aku harus berani juga mengalami proses “tri-DI”: dipilih, dipecah dan dibagi-bagi?

“Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:14-15), demikian sabda Yesus. Jadi, apakah gerangan yang kulihat ketika aku memandang kepada salib di mana Yesus ditinggikan (bdk. Yohanes 19:37)? Aku merenungkan tanda kasih Allah yang tak terhingga kepada hidupku, bahwa ia mengajar aku tentang cinta dan dengan cinta. (Bdk. 1 Yoh 3:16, “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.”

Injil St. Yohanes juga menceritakan bahwa 'dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena, dan murid yang dikasihi-Nya.' (Yoh 19:25-26). Bukankah aku harus juga berani berdiri tegar di bawah kaki salib Yesus seperti Bunda Maria, Maria istri Klopas, Maria dari Magdala dan Yohanes rasul (sebagai lambang Gereja)?  Oh ya, hari ini, aku mendapat teman baru dari Bali, yang kebetulan singgah di pertapaan Rawaseneng ini. David nama panggilannya. Yah, aku diajak memiliki semangatnya, “DAmai walau terjeVID.”


24.
“TUHAN membuka mata orang-orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang-orang benar.”  (Mz.146:8)


Pada hari Jumat,
(kita menyebutnya “Agung”)
Yesus dipakukan
pada kayu yang kaku keras.

Di bawah salib-Nya,
Bunda-Nya berdiri
menangis melihat apa yang telah mereka lakukan.
“Oh, andai aku dapat memeluk-Nya,” katanya pilu,
“Memeluk Putraku satu-satunya!”

“Bapa, terimalah Aku,” kata Yesus,
“Terimalah Aku dalam tangan-Mu.”
Allah Bapa membungkuk
lalu menerima-Nya,
dan memeluk Putra Tunggal-Nya itu.

“Aku Allah yang membangkitkan,
“hidup-Mu baru saja dimulai.
“Aku Allah dari yang hidup,
tak ada makam yang boleh menahan Putra-Ku.”


O Crux, ave spes unica! Salam, ya Salib, satu-satunya pengharapan kami! Hari ini aku mengingat Yesus yang tidak menyerah kalah oleh sinisme, cemooh, olok-olok dan hujatan massa. Ia tetap tegar dan konsisten. Pilihannya joss, kokoh dan tidak berubah: jalan kematian mesti ditempuh, supaya manusia dapat merengkuh kehidupan. Penderitaan dan kematian Yesus adalah kematian yang real dan faktual, bukan maya tapi sungguh nyata terjadi. Hari ini, ingatanku melayang pada sebuah nama, Ignacio Martin Baro, salah satu dari enam imam yang dibunuh bersama koki dan anaknya di Universitas San Salvador, Amerika Tengah pada pagi hari tanggal 16 November 1989. Ia pernah mengatakan, “ada kebenaran-kebenaran yang hanya dapat ditemukan lewat penderitaan atau titik krisis dari pelbagai situasi gawat.”

Persis lewat pengalaman salib yang dialami oleh Yesus dan Ignacio Martin Baro bersama teman-temannya, aku kembali disadarkan bahwa menjadi imam berarti juga berani menghadir-nyatakan Yesus, termasuk Yesus yang siap dan rela menderita disalib: diperguncingkan, disingkirkan dan dikorbankan. Kebetulan selama retret ini, aku membawa sebuah patung Pieta, sebuah patung yang aslinya merupakan karya tersohor Michaelangelo, yang menggambar-kenangkan perasaan Maria yang berduka-hati memangku jenazah Yesus yang wafat. Adapun patung “pieta” kecil yang kubawa ini adalah sebuah hasil karya sederhana anak-anak “SOCIUS”, rumah singgah untuk para mantan narapidana yang kudampingi selama tiga tahun terakhir ini bersama dua sahabatku, Ferry dan Bambang. Lewat pemaknaan terhadap patung Pieta inilah, aku diajak untuk berani tegar memangku penderitaan salib, seperti Bunda Maria sendiri. Aku diyakinkan bahwa aku tidak berjalan sendirian, terkenang sebuah lagu yang biasa kuputar ketika memberi retret untuk anak-anak sekolahan: “I will never forget u my people. I will never forget you my son…”.

Kubaca juga Yohanes 19:16-42, Yesus rela disalibkan walaupun dia tak bersalah. Spontan kuterkenang tujuh wasiat Yesus di atas kayu salib. Sebuah wasiat pertamaNya kubenamkan dalam-dalam di relung hatiku: “Ya Bapa ampunilah mereka sebab mereka tak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). Dendam tak berlaku bagi Yesus, malah Ia berdoa bagi mereka yang menyalibkannya. Bukankah membalas kejahatan dengan kebaikan lebih besar peluang bagi musuh untuk bertobat daripada membalas dengan kejahatan yang sama akan mempertajam permusuhan? Sulit!

Aku juga diajar untuk sadar bahwa aku tidak bisa hadir di bawah salib dengan teori-teori teologi atau psikologi belaka. Aku mesti mengalami penyaliban itu sendiri. Itulah memang sakit dan perih, banyak pertentangan dan konflik batin.  Kontemplasiku berkembang pada sebuah kisah ketika Yesus ditangkap dan dianggap jahat. Banyak muridnya yang kabur, tapi indahnya justru para perempuanlah yang setia. Bukan dengan budi, tapi dengan hati, tidak efektif memang karena tidak membawa banyak pengaruh, tapi sungguh afektif karena membawa ketulusan hati yang luruh. Kuterkenang beberapa novel Rama Mangun yang mengangkat-kenang hebat dan kuatnya afeksi perempuan: figur menawan gadis bule Prancis Hildegard dan kecerdas-bernasan dokter Rosi dalam “Romo Rahadi”, eloknya Larasati dalam “Burung-Burung Manyar”, cekatan dan piawainya Loema Dara dan Mioti Lamo dalam “Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa”, serta pastinya keluwes-gesitannya Roro Mendut, Ni Semongko, Nyai Ageng Permaisuri Wiroguno, Nyai Singobarong, Duku, Lusi Lindri, dan Kanjeng Ratu Ibu dalam Trilogi “Roro Mendut-Genduk Duku-Lusi Lindri”. Belum lagi tokoh penuh karakter bernama Iin Sulinda Pertiwi Nusamusbida dalam “Durga Umayi”, kesederhanaan Riri dan Bu Dullah dalam “Balada Becak”, modernitas serta semangat menyala-nyala dari Neti-Agata dan Anggi dalam “Burung-Burung Rantau”, kebijakan Eyang Dwidjosudarmo, keteguhan Rukmi dan kehangatan Sr Pancratia dalam “Balada Dara-Dara Mendut” serta kepolosan Lusi Kisminingsih dalam “Pohon-Pohon Sesawi” dan pastinya juga gerak-polah si pelacur miskin Ruyem dalam cerpen “Tak Ada Jalan Lain.”

Yah, semua figur perempuan dalam pelbagai novel dan cerpen Rama Mangun yang tersebar-pencar itu adalah wajah-wajah pejuang kehidupan yang penuh ide dan trampil, penuh afeksi dan intimasi, dan pastinya berhati tangguh serta berjiwa besar. Hari ini juga, sebuah nama biarawati dari tarekat SSpS yang berkarya di Lombok dan kebetulan berziarah di pertapaan Rawaseneng kuingat lagi: Sr Magdalena, SSpS. Lena panggilannya. “LEmah lembut dan sederhaNA” artinya.


Kristus, sengsaraMu yang pahit
Ditatap mantap dari jauh oleh para perempuan
Mampukan kami mengikuti teladan mereka
Dan mengasihi dengan tekun
Bertahan di hadapan siksa
Agar kami pun boleh
Mengenal kebangkitan-Mu
Demi namaMu
Amin.



25.
“Jika aku berada dalam kesesakan, Engkau mempertahankan hidupku; terhadap amarah musuhku Engkau mengulurkan tangan-Mu, dan tangan kanan-Mu menyelamatkan aku. TUHAN akan menyelesaikannya bagiku! Ya TUHAN, kasih setia-Mu untuk selama-lamanya; janganlah Kautinggalkan perbuatan tangan-Mu!” (Mz. 138:7-8).


Belum pernahlah selama ini aku merasakan diriku
Ada ditangan Allah.
Inilah yang aku dambakan sepajang hayat
sejak masa mudaku.

Tetapi sekarang ini ada perbedaan memang –
yakni inisiatif seluruhnya berasal dari Tuhan

Sungguh merupakan pengalaman rohani yang dalam –
dapat mengetahui dan merasakan diriku
sedemikian penuh
ada di tangan Allah

(Pedro Arrupe, doa ini disusun setelah ia menderita lumpuh yang melemahkan, yang membuatnya menderita dengan sabar selama 10 tahun akhir hidupnya).


Jalan penderitaan, jalan sengsara, duka dan air mata, tak pernah menjadi cita-citaku. Aku yakin banyak orang juga merindukan hari-hari bahagia, penuh canda dan tawa-ria. Setiap orang pada level apapun, obsesinya tak lain, kecuali dalam hidupnya ia berhadapan dan berpadanan dengan kisah sukses, lorong kebahagiaan dan jalan penuh sukacita, bukan? Tapi, hari ini, permenunganku lebih lanjut tentang kisah sengsara Yesus di akhir minggu ketiga ini mau tidak mau membawaku untuk menempatkan diri pada disposisi “dimanakah tempat bagi Tuhan dalam diriku, terlebih ketika derita nestapa menimpa?”.

Pertanyaan ini secara lebih mendalam mengajakku untuk melihat sedalam apa peran dan karya Allah benar-benar kusadari dalam hidup dan panggilan imamatku ini: Apakah aku cukup berserah kepada Allah? Apakah aku sungguh mempersembahkan diriku kepada Allah, segala suka duka, tangis dan tawa juga aku bawa kepadaNya? Apakah benar bahwa Allah adalah penyelamatku satu-satunya? Bukankah disposisi penyerahan diri inilah yang memampukan Yesus untuk bergerak maju menuju Yerusalem, yang adalah salib berat dan sengsaraNya? Aku sepintas-kilas teringat-kenang wasiat Yesus yang ketiga di atas salib, “Ya Bapa ke dalam tanganMu, Kuserahkan nyawaKu.” (Luk 23:46). Apakah hatiku tidak tergerak dan tersulut oleh cinta dan penyerahan Yesus yang begitu mendalam ini? Dalam Ekaristi yang setiap pagi kurayakan di kapel bersama para rahib, aku diajak untuk semakin mendalam membenamkan diri terus menerus dalam misteri penyerahan diri dan kasih Allah dalam diriku.

Hari ini juga kutemukan empat makna dari sebuah pengalaman salib dalam kisah sengsara Yesus pada akhir minggu ketiga ini, yaitu:

1.    Makna keberadaan (eksistensial), yaitu sesuatu yang tidak dapat kuhindari  oleh karena memang terlekat pada hakekat pilihan hidupku dan mengingat kondisi diriku sendiri yang kadang memang lemah. Ini analog dengan penderitaan dan salib Kristus yang pada hakekatnya merupakan keharusan dari Bapa yang diterima Yesus dengan sukarela justru bukan agar "kehendakKu yang terjadi melainkan kehendakMu".
2.    Makna penebusan, seperti penderitaan Kristus yang menghasilkan penebusan bagi banyak orang, maka beratnya hidup imamat kulihat sebagai ikut ambil bagian dalam memanggul salibNya.
3.    Makna pertumbuhan, yaitu semakin meningkatkan dan menumbuhkan kebebasan batinku untuk mencintai Kristus lebih mendalam lagi. Penderitaan dan kesulitan hidup dapat menjadi berkat kalau dilihat dalam dimensi iman, tetapi akan menjadi kutukan kalau dilepaskan dari iman, bukan?
4.    Sumber kegembiraan, di mana penderitaanku ini mampu menyiapkan hatiku untuk menyambut kegembiraan yang telah dijanjikan oleh Kebangkitan Kristus nantinya.

Keempat segi pemaknaan dari salib ini, yakni “keberadaan-penebusan-pertumbuhan dan kegembiraan”, menumbuhkan keyakinan pribadiku yang tak tergoyahkan bahwa Allah selalu membantu diri dan hidup imamatku dalam rahmatNya dan bahwa kesetiaan Allah dalam Kristus itu menjadi kekuatan terdalam bagi hidup iman dan sekaligus perjuangan idealisme imamatku untuk terus menjadi seperti nama seorang karyawan yang mengurusi perkebunan kopi disini, Sugimin, “SUkacita dan GIat bilang aMIN.”


 “Tahta-Nya bukan sebuah singgasana yang indah dan megah
tetapi sebuah SALIB yang hina.
Pakaian-Nya bukan dari bahan halus berkilau-kilau
tetapi tubuh telanjang berlumur darah.
Mahkota-Nya bukan dari emas tetapi duri.
Tongkat pemerintahan-Nya adalah sebatang buluh
dan minum-Nya cuka dan empedu-asam.”



26.
“Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya!” (Mz. 128:1)


Tuhan, aku tak berbalik,
Semua yang aku miliki sekarang
Aku berikan kepadaMu.
Mintalah apa saja dariku
Aku tak pernah akan mau mengkhianatiMu

(Carlo Maria Martini, SJ).

Hari ini aku memasuki minggu keempat, sebuah minggu terakhir dan terpendek dalam Latihan Rohani. Adapun temanya seputar kebangkitan Yesus. Ignatius mengarahkan pandanganku pada suatu kegembiraan Kristus. Aku telah merenung-menungkan pengorbanan diri Kristus secara total dalam kisah sengsaranya selama minggu ketiga. Dalam minggu keempat inilah, aku merenungkan Yesus yang berbagi kegembiraan kepada para muridNya berkat kebangkitanNya. Aku diajak membiarkan kenyataan kebangkitanNya meresapi kehidupan harianku sendiri.

Kubaca 1 Kor 15:1-58, tentang kebangkitan orang mati. Kubaca juga Markus 16:1-20, tentang kebangkitan Yesus, yang mengajakku pergi kembali ke Galilea, juga kubaca Mat 28:1-20, Luk 24:1-12 serta Yoh 20:1-31. Tak ada yang dangkal mengenai kegembiraan ini. Apa yang kumulai dengan kejujuran dan “ketelanjanganku” pada minggu pertama bertumbuh dan bertambah matang lewat perjalananku bersama Yesus dalam minggu kedua dan terlebih dalam minggu ketiga dan kini memuncak dalam peristiwa kegembiraan yang mendalam, yakni: kebangkitan: “yang lama sudah pergi, yang baru sedang datang, yang mati hidup dan bangkit kembali dengan jaya!” Disinilah, aku juga disadarkan untuk bersedia “mati”, yah mati dari dosa, supaya sungguh bangkit dalam kehidupan yang baru. 'Scimus Christum surrexisse a mortuis vere.' Ya, aku tahu dengan pasti bahwa Kristus sungguh telah bangkit dari antara orang mati: Engkau, Raja Pemenang, kasihanilah kami. Amin! Alleluia!

Kontemplasiku pada awal minggu keempat juga mengarah ke penghayatan hidup selibat, ketika Yesus bertemu  Maria Magdalena dan mengatakan, “Noli Me Tangere”- “Jangan Sentuh Aku”. Ia mengajakku memiliki keterpesonaan hanya pada dan bagi Kerajaan Allah (Mat 19:12c). Hari ini, aku semakin menyadari bahwa menjadi seorang imam tidaklah membuat segalanya mudah dan baik bagi dirinya sendiri pun tidak berarti terpisah dari berbagai macam ancaman dan godaan, bukan? Hal tersebut tentu saja tidak bisa dilepaskan dari situasi dunia global-mondial saat ini yang semakin menawarkan pelbagai “keindahan”. Artinya bahwa dunia yang semakin menekankan nilai-nilai yang positif tentang cinta antara laki-laki dan perempuan sekaligus memurnikan hatiku untuk terus menjaga kesucian diri dengan semakin menghayati dan mencintai hidup imamat secara sehat dan dewasa. Panggilan ini sendiri bermuara kepada kesempurnaan, Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." (Matius 5:48).

Untuk sampai kepada kesana tentu saja hanya ada satu jalan, ialah jalan cinta kasih sebab di sinilah ajaran Kristus yang paling tinggi. Oleh karena itu, hidup imamatku hanya bisa kumengerti dalam kerangka cinta, yah cinta kepada Kristus sendiri. Jawabanku merupakan pemberian diri seutuhnya sebagaimana Kristus sendiri sudah memberikan diri seutuhnya kepadaku. Pemberian diri seutuhnya ini adalah cinta itu sendiri. Singkat kata: hidup imamatku hanya bisa dimengerti oleh karena dan hanya karena cinta yang total kepada Allah, kesetiaan untuk terus menerus menyerahkan diri secara total pada Allah, dan pastinya berjuang hidup di dalam Allah, dalam bahasa Thomas A Kempis: semakin ber-“imitatio Christi. Semoga ini terus kubatinkan, seperti nama seorang rahib lain, Fr.Domi. Dia mengajakku mengingat dua bantuan dasar untuk semakin menginternalisasikan paham imamatku, yakni: “DOa dan MIsa”.

Pada hari Minggu,
ketika pekan telah berakhir,
Yesus bangkit dari antara orang mati.
“Puji Tuhan! Alleluia!”
Bangkitlah sang Putra Tunggal Allah.

Terima kasih, Tuhan atas Terang,
karena memberi kami terang untuk melihat.
Terima kasih, Tuhan atas Hidup
karena memberikan Yesus untukku.


27.
“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam”. (Mz. 19:2-3).


Bapa Abadi, kuatkanlah aku;
Putra Abadi, kuatkanlah aku;
Roh Kudus, kuatkanlah aku
Tritunggal kudus, kuatkanlah aku
Tuhanku yang Maha Esa, kuatkanlah aku.
(buku harian St. Ignatius Loyola)

Arus dasar yang menggerakkan hatiku pada hari ini ialah semakin bertumbuh-mekarnya hidupku dalam kesadaran afektif, bahwa segala sesuatu itu datang dari Allah dan menuju kepada Allah karena adanya "cinta ilahi". Dalam kesadaran itulah, aku semakin dalam mengalami betapa Allah sungguh mencin­tai diriku, dan karena itulah aku merasa terdorong untuk membalas cintaNya tersebut. Membalas cinta ini tidak sekedar secara manusiawi belaka, seperti menjadi orang yang baik, ramah, terhormat dalam tutur kata dan perilaku, tetapi seperti Kristus dengan pilihan jalan salib‑Nya, dengan kerendahan hati dan kemiskinan salib. Seperti harapan Carlo Martini, “Tuhan, bantulah aku untuk memasuki kedamaian yang terdiri dalam meletakkan kehidupanku di dalam tanganMu,” begitu jugalah harapan hatiku berkata hari ini.

Kubaca pula Luk 24:15-53, tentang kisah perjalanan dua murid di Emaus. Hatiku berkobar-kobar, terlebih ketika mengenangkan kisah ini, bahwa Yesus sungguh “tampak” juga setiap kali aku merayakan ekaristi dan membaca kitab suci. Bukankah mereka mengenali Dia pada waktu “memecah-mecah roti”? Aku juga menyadari kelesuan para murid Emaus pada awalnya. Dari merekalah, aku mendapatkan sebuah pemahaman bahwa iman tidak pernah menutup kemungkinan untuk ragu-ragu, bukan? Hari inilah, aku mengenali perjalanan rohaniku dengan bercermin pada dua murid Emaus: Aku diajak berani berhadapan dengan tantangan dan ketidakpastian, sebagai tanda kesiap-sediaan diri dan bahwa aku ingin semakin mengarah kepada Yesus dan berani dengan mantap berharap: “Mane Nobiscum Domine”- “Tuhan tinggallah bersama kami”.

Hari ini, aku juga mengingat karunia Roh Kudus: minyak yang menguatkan, angin yang menyegarkan, merpati yang melembutkan serta api yang menghangatkan. Aku mencandra bahwa tugas Gereja dan para imam sejatinya digerakkan oleh kuasa Roh Kudus sendiri, yang menghasilkan damai, kesabaran, kegembiraan, kebaikan, percaya kepada Tuhan, lemah lembut dan penguasaan diri (Gal 5:22).  Disinilah, aku semakin merasa diajak untuk masuk dan hidup dalam pengabdian kepada Kristus, juga di saat‑saat yang sulit dan penuh derita, yang kadang menyesakkan tapi aku yakin akhirnya melegakan, seperti kata Anthony de Mello, “sesal mencapai titik puncak apabila aku diangkat ke tingkat syukur berkat dosa-dosaku.”

Yah, meski kadang lelah, cemar, takut, pelan-pelan tapi aku tetap kokoh berjalan sebagai abdi Tuhan, menghadapi masalah kehidupan dengan keyakinan, ketekunan dan tentu ketahanan sebagai seorang abdi. Seperti nama seorang rekan pastorku yang dulu berkarya bersama di Gereja Pasar Minggu dan pernah menjengukku, Rama Hadiwijoyo, Rama Hadi panggilannya, “HAdir untuk mengabDI.


28
“Dia yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya; yang tetap setia untuk selama-lamanya, yang menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas, yang memberi roti kepada orang-orang yang lapar. TUHAN membebaskan orang-orang yang terkurung. TUHAN membuka mata orang-orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang-orang benar. TUHAN menjaga orang-orang asing, anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya. TUHAN itu Raja untuk selama-lamanya, Allahmu, ya Sion, turun-temurun! Haleluya!” (Mz.146:6-10)

Jika kita mencari Allah dalam segala hal,
kita akan mendadak terhenyak menyadari
Allah ternyata ada di samping kita!

(St.Petrus Claver, berkarya di Kartagena sekarang Kolumbia,
mengajar dan melayani budak belian Afrika. Konon, ia membaptis 300.000 orang).

Menjelang hari-hari terakhir retret, aku sadar, aku bukanlah seperti Batari Umayi yang dikutuk menjadi Durga. Aku adalah aku yang lahir baru dan dipenuhi rahmatNya. Hari inilah, aku merasa semakin diajak keluar dari "hidup dalam sema­ngat kegelapan" seperti rasa benci, keinginan pembalasan, hidup dalam kekerasan, kelicikan, kebohongan dan lain sebagainya. Aku juga semakin diajak keluar dari hidup yang hanya mengikuti "kenikmatan daging", seperti mencari enak sendiri, mudah kompromi dan hanya berpusat pada diri sendiri, kurang peduli akan keadaan dan kesulitan serta nasib orang lain. Aku juga merasa diajak untuk keluar dari hidup yang hanya ber­lan­daskan "manusiawi" belaka, yang kerap diwarnai oleh indi­vidualisme yang pada akhirnya hanya menguntungkan diriku sendiri. Inikah efek Roh Kudus, semacam karunia Roh Kudus? Aku baca nats Yesaya 11:2, tentang karunia Roh: Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN.” Kubaca lagi teks Galatia 5:22, tentang buah-buah Roh serta 1 Kor 12:1-31 tentang rupa-rupa karunia.

Dari ketiga bacaan inilah, hatiku bertanya: “Bukankah kebangkitanNya terarah bagi semua umat manusia, bukan hanya untuk sekelompok orang? Bukankah kebangkitanNya melintasi batas-batas ikatan primordial?  Bukankah sikap seperti ini yang seharusnya menjadi nada dasar serta gaya hidup  pelbagai komunitas kristiani, bahkan masyarakat dan bangsa dalam sebuah masyarakat majemuk bernama Indonesia? Yah, dalam semangat inklusif itulah, aku diajak berjuang terus untuk membangun rumah besar bernama Gereja Indonesia yang di dalamnya semua orang dari berbagai suku, agama, ras dan golongan dapat tinggal bersama dengan penuh persaudaraan dan saling menghargai, tentunya tanpa ada rasa takut, curiga dan was-was. Seperti nama salah satu makanan kesukaanku disini, maka sebuah semangat iman kubatinkan lagi pada hari ini, yaitu: lotis, “LOving-mencintai, TransformIng-mengubah dan Serving-melayani”. 

Lewat permenungan hari ini juga, aku dimutlakkan untuk memiliki semangat kerendahan hati yang utuh. St. Yohanes Salib pernah mengatakan bahwa: “lebih banyak orang yang jatuh dan salah arah, dari pada mereka yang berkembang. Untuk sampai pada kesempurnaan hidup rohani, orang yang demikian harus mengalami proses 'dark night of the soul'. Satu sikap yang paling utama untuk bisa berkembang mengatasi situasi itu adalah 'humility', kerendahan hati.” Maka, hari inilah aku memohon rahmatNya. kalau aku mau belajar dari Bunda Maria, segala permintaan ini kusimpulkan dengan: “Fiat voluntas Tua - fiat mihi secundum verbum Tuum: Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut kehendakMu”. Aku ingat, Yesus pun meniru Bunda Maria, ketika berharap dengan rendah hati: “Ya Bapa, jika  mungkin singkirkanlah piala ini, namun jika itu kehendakMu, jadilah kehendakMu!” Santo Ignasius Loyola lain lagi modelnya. Ia mengajarkanku untuk mengharapkan dua hal saja: “cinta dan rahmatNya”.

“Tuhan memang tinggi sekali, namun ia melihat ke bawah,
ke tempat yang rendah.
Sebab itu janganlah mencari gunung yang tinggi
untuk bertemu dengan Tuhan.
Bila engkau meninggikan dirimu setinggi-tingginya,
Tuhan akan menarik Diri-Nya sejauh-jauhnya darimu.
Namun jika engkau merendahkan diri serendah-rendahnya,
Ia akan tunduk mendekatimu sedekat-dekatnya.”
Kalau kita datang kepada Tuhan karena cinta,
kalau kita hidup saling mengasihi, maka Tuhan hadir bersama dengan kita,
karena di mana orang saling mengasihi di sana Allah hadir.
Mari kita hadirkan Allah di tengah dunia ini
dengan mengasihi - mengasihi - dan mengasihi dengan lebih sungguh.”
(St. Agustinus)



29.
“Besarlah Tuhan kita dan berlimpah kekuatan, kebijaksanaan-Nya tak terhingga. TUHAN menegakkan kembali orang-orang yang tertindas, tetapi merendahkan orang-orang fasik sampai ke bumi. Bernyanyilah bagi TUHAN dengan nyanyian syukur, bermazmurlah bagi Allah kita dengan kecapi!” (Mz. 147:5-7)


KepadaMu ya Allah Bapa kerahiman,
Cahaya dan Sumber segala kebaikan,
Tuhan penguasa sejarah dan alam semesta
Paran seluruh perjalanan insani,

Kami panjatkan puji.
KepadaMu, Bapa, puji di gereja dan di jagat raya
Dalam sejarah bumi dan dalam surga.

Semoga Maria, Bunda Yesus memuji Engkau;
Semoga malaikat memuji Engkau;
Semoga jiwa-jiwa orang meninggal memuji Engkau;
Semoga kita semua dapat bersatu dalam madah
Mengakui penuhnya kemuliaan
Yang disampaikan PutraMu kepada kami
Dalam rahmat Roh yang menjiwai hati kami

(Carlo Maria Martini, SJ)

John F Kennedy, seorang umat Katolik keturunan Irlandia, yang menjadi presiden termuda di Amerika Serikat, ketika dadanya ditembus peluru dan jantungnya hampir berhenti berdetak, dia memegang tangan isterinya, Jackie dan berkata, “Saya cinta”. Bernadette Soubiroes, gadis yang mengalami penampakan Bunda Maria di Lourdes, ketika menghadapi ajalnya masih bergumam, “Saya cinta”. Maria Goretti setelah ditikam dengan pisau oleh Alexandro, masih dapat berkata, “Jangan ada dendam padanya”. Andreas ketika dipilih menjadi rasul hanya punya cita-cita “berkorban agar semakin banyak orang bertemu dengan Yesus”. Bunda Teresa dari Kalkuta bersolider dengan melayani “Orang-orang termiskin di antara orang-orang miskin”.

Masih ada banyak pribadi lain yang bisa kukenang dengan ungkapan kasih mereka yang sangat mendalam dan terkenal. Tetapi pada hematku, semua kata-kata itu mau mengungkapkan keyakinan cinta kasih mereka yang sedemikian tinggi. Dan keyakinan cinta kasih yang sedemikian tinggi itu hanya bisa dimiliki oleh orang yang dalam dirinya mengalir semangat kasih yang sejati, bukan?

Pada hari inilah, Ignatius membimbingku dengan apa yang disebut: “contemplation ad amorem” - sebuah kontemplasi untuk mendapatkan cinta. Yah, sebuah usaha iman untuk semakin membenamkan diri dalam kenyataan luar biasa bahwa Allah sungguh sangat mencintai diriku yang biasa-biasa ini. 

Aku teringat sebuah kalimat dari St.Theresia Kanak-kanak Yesus , bahwa “cinta hanya dapat dibalas dengan cinta.” Aku berhasrat membalas dan semakin menanggapi cinta kasih Tuhan. Aku bertanya terlebih di hari ini, sebenarnya kekayaan apa yang tersimpan dalam sebuah kata “cinta”? Bukankah cinta pada Tuhan tidak pernah berdiri sendiri? Bicara soal cinta, aku menangkap dua esensi dalam LR (230-231). Pertama, cinta harus diungkapkan dalam tindakan; kedua, cinta diperagakan lewat saling memberi: “kebebasan, ingatan, pengertian dan kehendak, serta seluruh apa yang aku miliki” (LR 234). Satu hal yang pasti, cinta ini adalah rahmat, gratia yang gratis, cuma-cuma diberikan kepadaku. Sebuah contoh yang paling jelas kualami ialah pengalaman keterlemparanku dalam indahnya kehidupan di dunia, lahir dan akhirnya nanti mati.  Bukankah dunia adalah media komunikasi Allah dan bukankah di dalam dunia, Allah juga mengekspresikan diri? Seperti St Ignatius yang berkata dalam LR 233, aku juga berharap kepada Tuhan: “untuk memberikan kepadaku pengetahuan yang mendalam atas banyak anugerah yang telah kau terima, supaya dengan adanya kesadaran penuh syukur atas hal itu, aku dapat mencintai dan mengabdi Yang Maha Agung dalam segalanya.”

Lewat 2 Kor 1:3-5: “Demikian pula oleh Kristus, kami menerima penghiburan berlimpah-limpah,” hari ini aku sungguh disadarkan betapa banyak kelimpahan cinta yang boleh kucecap dan kualami selama ini. Aku melihat bahwa keanekaragaman ciptaan Allah sekaligus adalah penjelmaan (inkarnasi) dari keindahan, kemuliaan, dan keagungan Allah. Aku mencintai segala ciptaan, sebab setiap ciptaan berbicara tentang Allah pencipta dan penyelamatnya. Kesadaran akan rasa dicintai ini menyadarkanku: “aku hanyalah sinar dari matahari. Aku hanyalah air yang mengalir dari sumbernya.”

Yah, hari ini aku juga bertemu dengan Rama Vikjen KAS,  Rama Riana Prabdi, bakal Uskup Ketapang yang akan dilantik-tahbiskan pada awal September 2012 nanti menjadi Mgr Riana. Dari pribadi dan namanya yang bersahaja, aku mendapatkan tiga keutamaan di hari-hari terakhir retret ini: “RIang, Andal dan tetap sederhaNA.”  


30.
“Haleluya! Nyanyikanlah bagi TUHAN nyanyian baru! Pujilah Dia dalam jemaah orang-orang saleh.” (Mz.149:1)


Intersisi. Aku berniat mengunjungi lima gereja di intersisi terakhirku ini. Bicara soal gereja, orang Yahudi menyebutnya sebagai Bait Allah, yakni sebutan untuk pusat peribadahan Yahudi di Yerusalem kuno. Dalam bahasa Ibrani, tempat ini disebut Bait Suci/Beit HaMikdash בית המקדש. Bangunan ini digunakan untuk beribadah dan mempunyai fungsi utama untuk mempersembahkan kurban. Sebenarnya, semua gereja mempunyai arti yang sama, yakni:  kumpulan umat Allah yang beriman (Portugis: Igreja, Latin: Ecclesia, Ibrani: qahal, Bdk: Mat.16:18 dan Mat.18:17-18). Kali inilah,  saya kembali mau mengangkat pandangan St.Paulus tentang gereja. Baginya, gereja adalah “Bait Allah”, yaitu yang tidak dibuat dengan tangan manusia (1 Korintus 3:16, 17; Kisah Rasul 7:48). Gereja itu adalah rumah tetapi bukanlah bangunan. Gereja adalah rumah tempat Allah bertahta. Gereja itu adalah sebuah keluarga Allah yang dibangun atas landasan batu penjuru yaitu Yesus Kristus dan batu-batu yang hidup yaitu kita. Maka, bagiku, gereja sendiri bisa berarti sebuah usaha terus menerus untuk, “GEmakan Tuhan (dengan karya), REsapkan iman (dengan cinta) dan JAuhkan setan.
(dengan doa)”.

Ada lima gereja yang sengaja kukunjungi, yakni: “Gereja Bintaran”, sebuah gereja tua dan pastinya menyimpan banyak kenangan sejarah bagi banyak orang Jawa, dimana aku juga pernah kesana ketika masih studi teologi dan kerap membantu penulisan di majalah PRABA yang kebetulan berkantor disana. “Gereja Ganjuran” dengan Candi Hati Kudus Yesusnya seolah sayang untuk kulewatkan begitu saja. Disanalah aku mengenal sebuah praktek inkulturasi yang mengena, dari segi bangunan sampai pemahaman iman umatnya. “Gereja Antonius Kotabaru, Yogyakarta” yang bersebelahan dengan Kolese St Ignatius milik para Yesuit, di gereja inilah dulu aku terkesima betapa banyak orang muda Katolik datang dengan pelbagai antusiasmenya dari pelbagai penjuru kota Yogya dan tumpah ruah untuk mengikuti misa setiap minggu sore. Ada “roh” apa di gereja tengah kota ini?

Selain itu, “gereja” atau semacam kapel sangat kecil di rumah Rama Mangun di gang Kuwera”, yang membuatku sering membayangkan ketika Rama Mangun mempersembahkan misa kudus dengan duduk lesehan dan menimba inspirasi dan aspirasi dalam pelbagai karya dan wartanya, kadang mungkin ia merayakan misa sendirian, kadang mungkin dengan beberapa sahabat dan relawan dekatnya. Yah, tempat sederhana ini juga menjadi tempat kunjunganku di intersisi kali ini.  Dan yang terakhir, aku juga mengunjungi sebuah “kapel indah para trapistin di pertapaan Gedono, Salatiga”. Disanalah, aku merasakan sebuah kekuatan dan keteguhan hati dan budi untuk semakin mensyukuri rahmat imamat. Lewat pelbagai lantunan doa, kidung mazmur dari para rubiah dan perjumpaan dengan tempat yang begitu mengena dan menggema bagiku seakan menambah aura kesucian kapel di pertapaan Gedono ini.

Itulah lima “gereja” yang kusinggahi pada intersisi terakhirku ini, yang mengajakku lagi-lagi belajar “GEmakan Tuhan, REsapkan iman dan pastinya JAuhkan setan,” sehingga aku sungguh bisa menjadi seperti nama seorang kenalanku di kota Temanggung yang mempunyai banyak kambing dan kebun tembakau, dan pernah mengajakku ikut berburu celeng (babi hutan) di daerah Dieng dan Pegunungan Wonosobo dengan mobil Land Rover kesayangannya. Agus, “Andalan GUSti Yesus!” Agus juga adalah sebuah nama yang kutemukan diantara para rahib sederhana yang tinggal di pertapaan Rawaseneng ini.    


“Saya sangat percaya
bahwa tahun-tahun kita yang singkat di bumi ini
merupakan bagian dari suatu peristiwa yang jauh lebih besar,
yang membentang melewati segala batas kelahiran maupun kematian.
Saya memikirkan hidup saya sebagai sebuah misi di dalam waktu,
sebuah misi yang sangat menyegarkan dan menggairahkan,
meskipun diselingi ketakutan,
terutama karena Dia yang mengutus saya ke dalam misi,
sesungguhnya tengah menanti saya untuk pulang
dan menceritakan tentang apa yang telah saya alami.”
(Henri Nouwen)



31.
“Biarlah semuanya memuji-muji TUHAN, sebab hanya nama-Nya saja yang tinggi luhur, keagungan-Nya mengatasi bumi dan langit. (Mz. 148:13)


Tuhan Yesus, kini aku mohon kepadaMu:
bantulah aku
agar tetap bersamaMu selalu,
agar tetap dekat padaMu dengan hati berkobar,
agar tetap gembira mengemban perutusan yang
Engkau percayakan kepadaku, yakni:
melanjutkan kehadiranMu,
dan menyebarkan berita gembira –
Engkau telah bangkit!

(Carlo Maria Martini)


Ketika Kristus yang bangkit mengatakan: 'Jangan takut', Ia hendak menjawab sumber ketakutanku yang terdalam. Yang Ia maksudkan adalah jangan takut akan “kejahatan”, karena lewat kebangkitan-Nya, kebaikan telah menyatakan diri lebih kuat daripada kejahatan. Injil-Nya adalah kemenangan kebenaran dan kebaikan, bukan? Beberapa kalimat maklumat juga terkenang dibenakku, pada hari terakhir retret ini: “Pikirkanlah perkara yang diatas, bukan yang di bumi” (Kol 3:1-2). “Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur” (Kol 2:6-7). Kristuslah yang akhirnya menjadi satu-satunya dasar bangunan hidup  dan cara berpikirku, cara merasa dan cara bertindakku.  

Hari inilah, aku diajak back to reality”, turun gunung bahwa  perihal hidup rohani itu sesuatu yang nyata dalam hidup sehari‑hari. Maka pengalaman retret ini aku maksudkan untuk semakin menghayat-maknai hidup sehari‑hari terlebih sebagai seorang imam. Aku semakin diajak untuk menemukan Tuhan dalam segala kata Ignatius atau dalam bahasanya Jerónimo Nadal: Contemplatio In Actione, yang memperlihatkan relasi antara kontemplasi mendapatkan cinta di dalam LR (230-237) dengan soal menemukan Allah di dalam segala. Oleh karena itulah, aku perlu terus-menerus menerjemahkan dan mengartikulasikan pengalaman rohani selama retret agung ini ke dalam hidup sehari‑hari, baik yang sifatnya pribadi (hidup personal dalam hubungan dengan Allah), bersama (hidup persaudaraan dalam sebuah “komunitas”, keluarga, gereja dan keuskupan),  serta pelbagai karya kerasulan (hidup pengabdian, yakni karya pelayanan bagi sesama).

Hari terakhir retret ini, kuterkenang riang seorang tukang bangunan di sekitar pertapaan, yang seringkali jujur berbagi cerita kasih dan kisah sederhananya, dan kemana-mana selalu menaiki motor kesayangannya. Namanya: Jendul: “JENdela yang tidak amburaDUL”. Mas Jendul inilah juga yang pernah sekilas-pintas bercerita padaku soal indah dan gagahnya berburu celeng (babi hutan) di daerah pegunungan sekitar Temanggung. Harapanku, semoga olah rohani selama retret agung ini, membuat hidup dan penghayatan imamatku menjadi “JENdela yang tidak amburaDUL” tapi semakin mau dan mampu ber-aggiornamento: menjadi “jendelanya Tuhan”, dalam bahasanya Rama Mangun: “mengangkat manusia dan memuliakan Tuhan.” Yah, bersama dengan permenungan dari Mat 28:16-20, dimana kutemukan Yesus yang berkata, “Pergilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir jaman”, aku sungguh diajak untuk siap terlahir dengan semangat baru, seperti nama seorang suster dari tarekat SPC yang berkarya pada sebuah sekolah di Banjarmasin yang juga sedang menjalani retret di pertapaan Rawaseneng. Sr Yosinta namanya, “aYO SIap menciNTA” itu artinya. 


Akhirullalam, bukankah tepat nubuat Yesaya bahwa, “TUHAN Yang Mahatinggi mengajar aku berbicara, supaya perkataanku menguatkan orang yang lesu. Setiap pagi Ia membangkitkan hasratku untuk mendengarkan ajaran-Nya bagiku. Sebab TUHAN Allah menolong aku, maka aku tidak dipermalukan. Aku menguatkan hatiku supaya tabah; aku tahu aku tak akan dipermalukan” (Yesaya 50:4,7). Deo Gratias!




A HOLLOWED SPACE TO BE FILLED

A cup must be empty before it can be filled.
If it is already full, it can't be filled again
except by emptying it out.
In order to fill anything, there must be
a hollowed-out space.
Otherwise it can't receive.

This is especially true of God's word.
In order to receive it, we must be hollowed out.
We must be capable of receiving it,
emptied of the false self and its endless demands.

When Christ came, there was no room in the inn.
It was full.
The inn is a symbol of the heart.
God's word, Christ, can take root only in a hollow.
(William Breault)





0 komentar:

Poskan Komentar