Ads 468x60px

S U G E N G - SUkacitanya langGENG

@Buku XXX Family Way (Kanisius)

Cara mencintai sesuatu adalah menyadari bahwa sesuatu itu mungkin saja lenyap. 
-- The way to love anything is to realize that it might be lost.


“Sugeng” adalah nama ketua lingkungan ketika saya masih kecil, yang cukup akrab-dekat dengan keluarga kami. Ketika saya bertugas di Gereja St Maria Tangerang, salah satu karyawannya juga bernama, Sugeng. Bagi saya, Sugeng bisa mempunyai arti sederhana, “Sukacitanya langgeng.” 

Ada sebuah cerita yang bisa mengajari kita untuk memiliki sukacita yang langgeng. Begini kisah pendeknya: Adalah seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap bersukacita. Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab, "Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup di tanah seberang. Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga". Dkl: kita diajak belajar memafhumi kebijakan ibu itu: “Aku tak selalu mendapatkan apa yang kusukai, oleh karena itu aku selalu menyukai apapun yang aku dapatkan.” 

Jelas bahwa setiap keluarga diajak mempunyai sukacita yang langgeng, yang abadi dan sejati setiap hari. Tapi kadang kita malahan asyik berkeluh dan lupa untuk bersyukur bukan? Persis disinilah, kalau kita sebagai orang kristiani banyak mengenal Yesus dengan “Ucapan Bahagia", ternyata ada juga “Ucapan Bahagia versi Iblis", yang membuat kita sulit mempunyai sukacita yang langgeng dalam keluarga. Bunyinya kira-kira seperti ini:

---Berbahagialah orang yang terlalu capek karena kesibukan mereka, sehingga mereka tidak punya waktu untuk bersekutu dengan Tuhan dan keluarganya. Mereka adalah anak-anakku yang mengerti kerinduan hatiku yang terdalam.
---Berbahagialah orang yang selalu mengharapkan pujian atas apa yang 
mereka perbuat. Aku bisa memperalat dan menunggangi ambisi mereka melalui pujian palsu.
---Berbahagialah orang yang memelihara hati yang terlalu sensitif. Dengan sedikit "sentilan" saja mereka tersinggung. Mereka akan kurang bersemangat di dalam bekerja dan akan segera menghilang dalam pelayanan. Mereka ini adalah fansku yang setia. 
---Berbahagialah mereka para pembuat masalah. Mereka akan disebut anak-anakku.
---Berbahagialah orang yang selalu mengeluh. Aku senang karena benih sungut-sungut yang kutabur bertumbuh subur di hati dan lidah mereka.
---Berbahagialah mereka yang egois, suka mementingkan diri sendiri dan tidak peduli pada orang lain. Mereka adalah pengikut-pengikutku yang setia.
---Berbahagialah mereka yang suka menggosip, karena mereka akan menimbulkan perpecahan dan pertengkaran. Ini sungguh sangat menyenangkan hatiku.
---Berbahagialah orang yang mengaku mengasihi Tuhan, tetapi membenci saudara-saudaranya. Mereka akan hidup bersamaku selamanya sampai ke kekekalan.
---Berbahagialah orang yang membalas kebaikan dengan kejahatan, penganiayaan dengan penganiayaan dan kebencian dengan kebencian. Mereka akan mendapat upah yang sama denganku di kegelapan.
---Berbahagialah orang yang membaca tulisan ini dan merasa isinya pas untuk orang lain dan bukan untuk dirinya sendiri. Dia ada dalam tanganku. He he he.....

Mengingat betapa banyaknya godaan iblis seperti di atas, yang kerap membuat kita lupa bersukacita, baiklah kita endapkan sebuah ajakan populer ini: “Kurangi ucapan dengki, perbanyak ucapan mengasihi. Kurangi kata yang mengejek, perbanyak kata yang menghargai Kurangi kata yang melemahkan, perbanyak yang mendorong. Kurangi kata yang negatip, perbanyak yang positip. Kurangi kata-kata kritik, perbanyak yang membangun. Kurangi kata-kata kasar, perbanyak yang lemah lembut.” 

Pada kenyataannya, ada dua hal yang sering membuat kita tak mudah bersukacita, yakni: 

Pertama, kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki. Katakanlah kita telah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik. Tapi kita masih merasa kurang. Pikiran kita dipenuhi berbagai target dan keinginan. Kita begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang. Dalam bahasa Doraemon: “aku ingin begini, aku ingin begitu, ingin ini –ingin itu, banyak sekali.” Kita dapat mengubah rasa-perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki. Dalam bahasanya seorang psikolog Jerman, Maria Kallen, “jika kita tak punya apa-apa yang kita cintai, maka cintailah apa-apa yang kita punyai.” Cobalah lihat keadaan di sekeliling kita, lalu pikirkan yang kita miliki, dan bersyukurlah. Pusatkanlah perhatian kita pada sifat-sifat baik atasan, pasangan, anak-anak, para sahabat dan orang-orang di sekitar kita. Dalam sebuah konteks pernikahan, ingatlah ini:“kerap kita menikah dengan orang yang kita cintai, tapi kerap kita lupa mencintai orang yang kita nikahi, bukan?'' 

Kedua, kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita. Dalam bahasa populer: rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau daripada rumput di pekarangan sendiri. 

Sebuah kisah: 
Seorang samurai yang gagah dan termashur mendatangi Guru Zen di padepokan yang tenang dan indah. Si samurai tiba-tiba merasa amat minder memasuki situasi yang indah dan hening itu. Dia tanyakan hal itu pada sang Guru, kenapa ada perasaan minder seperti itu, padahal sehari-hari ia merasa hebat, besar, kuat, berani. “Aku akan jelaskan alasannya padamu”, kata Guru, “tapi setelah semua orang pergi”. 
Di petang hari, tatkala tamu-tamu tidak ada lagi dan si samurai mulai kesal dan gelisah menunggu, Guru mengajak si samurai ke taman. Di temaram bulan purnama, Guru berkata, 
"Lihat dua pohon itu! Yang satu menjulang tinggi, dan yang satu di sampingnya pendek. Kedua pohon itu sudah tahunan ada di sebelah jendela kamar tidurku, dan belum pernah kudengar pohon kecil mengeluh merasa minder melihat pohon menjulang itu. Menurutmu, kenapa?” 
Si Samurai menjawab, “Karena mereka tidak bisa dibandingkan.”
“Nah”, kata Guru, “kau tak usah tanya aku lagi. Kau sudah tahu jawabannya." Banyak di antara kita kerap seperti samurai itu, bukan? Kita terlalu sibuk membandingkan diri dengan orang lain sampai mata hati tertutup, sehingga lupa untuk senantiasa bersyukur.

Di akhir tulisan inilah, saya mengangkat sebuah kisah kasih populer antara pohon Apel bernama Tini dan seorang anak kecil bernama Tono. Begini penggalan kisah kasihnya: Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar bernama Tini, dan anak lelaki kecil bernama Tono, yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Tono senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Si Tono itu sangat mencintai Tini, si pohon apel itu. Demikian pula sebaliknya.

Waktu terus berlalu. Tono kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan Tini, si pohon apel itu. Suatu hari, Tono mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta Tini, si pohon apel itu. "Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi." jawabnya. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya." Tini itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang...tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu." Tono sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon itu dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Tini pun kembali menjadi sedih.

Suatu hari , Tono datang lagi. Tini tentu sangat senang melihatnya datang. "Ayo bermain-main denganku lagi," katanya. "Aku tak punya waktu," jawab Tono. "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?" "Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu." kata Tini. Kemudian Tono menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Tini, si pohon apel itu juga merasa bahagia melihat Tono senang, tapi Tono tak pernah kembali lagi. Tini sungguh merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, Tono datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. "Ayo bermain-main lagi denganku," katanya. "Aku sedih," kata Tono. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?" "Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.” Kemudian, Tono segera memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang didambakannya selama ini. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui Tini, si pohon apel itu.

Akhirnya, Tono tua datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. 
"Maaf Tono," kata Tini. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu." 
"Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu." Jawab Tono. 
"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat." Kata Tini.
"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu." jawab Tono 
"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini." Kata Tini si pohon apel itu sambil menitikkan air mata. 
"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang." kata Tono. "Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu." 
"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tuaku ini adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang." Tono pun akhirnya berbaring di pelukan akar-akar pohon apel itu. Tini, si pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya. 

Disinilah pernyataan Erich Fromm mendapat kontekstualisasinya: “Cinta murahan berkata: ‘Aku mencintainya karena aku butuh kau’, cinta sejati berkata: ‘Aku butuh kau karena aku mencintaimu’. -- "Immature love says: 'I love you because I need you.' Mature love says 'I need you because I love you.” Sepenggal cerita populer di atas bisa jadi adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang-orang di dekat kita, yang setia memberi kasih dan hatinya buat setiap masalah dan gulat geliat hidup kita. Bisa jadi, pohon apel itu adalah bapak atau ibu kita, kakak atau adik kita, sahabat-sahabat dekat atau juga kekasih hati kita, yang banyak kita minta tanpa pernah kita sempat mau memberi kepada mereka. Baiklah kita mengingat pesan Yesus, “hendaklah kalian saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kalian.”

Kita juga bisa bertanya lebih dalam, kalau begitu siapakah keluarga yang sukacitanya langgeng? Memang sudah terbukti bahwa keluarga yang sukacitanya langgeng bukan melulu mereka yang berlimpah materi. Banyak juga keluarga yang mengartikan sukacita sebagai rasa dicintai dan mencintai, gembira, kenikmatan, kerukunan, kepasrahan, kesehatan. 

Berikut ini ada 10 kutipan dari pelaku sejarah, penulis, filsuf yang baik untuk kita renung-menungkan kembali:
1. Membuat mutu hari ini lebih baik: itulah seni hidup -To affect the quality of the day; that is the art of life.

2. Kebahagiaan terletak pada sukacita pencapaian dan pada ketegangan usaha kreatif. -- Happiness lies in the joy of achievement and the thrill of creative effort. 

3. Mereka yang benar-benar mau bahagia, hanya mereka yang telah mencari dan menemukan bagaimana cara melayani. – The only ones among you who will be really happy are those who will have sought and found how to serve. 

4. Kebahagiaan adalah ibarat kupu-kupu, bila dikejar susah mendapatnya, tapi bila kau duduk tenang, ia mungkin akan menghinggapimu. -- Happiness is as a butterfly which, when pursued, is always beyond our grasp, but which if you will sit down quietly, may alight upon you. 

5. Pikiran yang terbuka dan mulut yang tertutup merupakan suatu kombinasi kebahagiaan. – Open mind and closed mouth is a combination of happiness. 

6. Bukan apa yang terjadi padamu yang menentukan kebahagiaanmu, tetapi bagaimana kau berpikir tentang apa yang terjadi padamu. -- It's not what happens to you that determines your happiness. It's how you think about what happens to you.

7. Kebahagiaan datang jika kita berhenti mengeluh tentang kesulitan-kesulitan yang kita hadapi, dan mengucapkan terima kasih atas kesulitan-kesulitan yang tidak menimpa kita. – Happiness is when you stop complaining on the troubles you get, and start saying ‘thanks’ for the troubles you do not get. 

8. Sukses adalah mendapatkan apa yang kau inginkan. Kebahagiaan adalah menginginkan apa yang kau dapat.

9. Orang akan menjadi bahagia begitu mereka memperbaiki pikiran mereka. – One will find happiness at the time he puts right his thoughts. Abraham Lincoln

10. Hidup diperkuat oleh banyak persahabatan. Mencintai dan dicintai adalah kebahagiaan terbesar dalam keberadaan kita. – Life is to be fortified by many friendships. To love and to be loved is the greatest happiness of existence. 

Kita bisa belajar apa dari banyak pernyataan bijak di atas? Satu hal yang terpenting, mulai sekarang sebelum terlambat, sampaikanlah dan katakanlah kepada mereka semua, kepada “pohon-pohon apel” kita masing-masing, betapa kita mencintainya dan kita berterima kasih atas seluruh hidup dan kasih yang telah diberikannya pada kita. Sebuah kebijakan dari Tuhan, kalau ingin hidupmu tenang, pasrahkanlah kepada Tuhan. Namun kalau ingin hidupmu bahagia, bersyukurlah kepada Tuhan atas apa yang terjadi. Mari bersyukur dan ucapkanlah terima kasih kepada semakin banyak pribadi. 

Sebuah kisah nyata tentang Patricia Smith kiranya bisa menginspirasi kita untuk belajar mempunyai rasa sukacita yang langgeng. Patricia kehilangan kedua kakinya dalam suatu kecelakaan. Dalam usia belia ia benar-benar merasa hancur. Diilhami oleh suatu ayat Alkitab yang berbunyi ‘bahkan kau bisa melempar gunung ini ke laut, asal saja kau percaya’, ia pelan-pelan bangkit. Pertama ia selalu merasa bersyukur karena ia dianugerahi Tuhan dengan dua tangan yang indah dan kuat’. 

Berikutnya ia mulai membangun kepercayaan bahwa ia bisa. Kendati seorang perempuan, sejak kecil ia sudah tertarik pada masalah-masalah mekanik otomotif. Ia pikir dan yakin ia bisa meneruskan bakat itu. Ia melamar pada beberapa bengkel otomotif dan semua menertawakan atau menolaknya dengan halus. Sampai seorang pemilik bengkel, Andre, menerimanya itupun setelah tak henti-hentinya didesak Patricia. 

Dalam film yang ditayangkan ‘Believe it or not’, dipertunjukkan bagaimana Pat yang ‘tingginya’ hanya 70 cm tanpa kaki dapat membuka lemari, lemari es dan pintu. Bagaimana Pat bisa berenang, berjalan dengan kedua tangannya, memperbaiki mobil di tempat Andre bahkan lebih baik dari rata-rata mekanik. Dokter sejak kecelakaan sudah mengatakan bahwa ia tak bisa mempunyai anak dan tak boleh bekerja fisik. Tetapi si gadis itu tetap maju. Akhirnya, Andre jatuh cinta padanya, mengawininya dan mempunyai anak yang normal dan dirawat-besarkannya sendiri.

Per tutto stato di gratia - 
untuk semua yang sudah terjadi katakanlah terima kasih.

Sebuah Doa Syukur
Bapa,
kami bersyukur kepada-Mu, untuk bunga-bunga yang
bermekaran di dekat kakiku, untuk rumput-rumput yang
lembut, begitu segar dan manis.
Bapa kami berterimakasih kepada-Mu atas kicauan burung-
burung dan suara lebah, dan atas apa saja yang pantas kami
dengar dan lihat pada hari ini.

Bapa di surga, kami bersyukur kepada-Mu untuk laut dan langit
yang biru. Bapa kami berterimakasih kepada-Mu atas naungan
dahan pohon yang indah di atasku atas udara yang semerbak
serta angin sepoi yang sejuk, dan atas kecantikan pepohonan
yang penuh bunga.

Bapa di Surga, kami bersyukur kepada-Mu untuk pagi ini dengan
sinar cerahnya dan untuk istirahat serta perlindunganku tadi malam.

Bapa kami berterimakasih kepada-Mu atas kesehatan, makananan,
Cinta kasih dan semua teman, dan atas semua yang telah Kau berikan
Karena kebaikan-Mu. Amin.

Mengucap syukurlah dalam segala hal,
sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.
Rasul Paulus, 1 Tesalonika 5:18

0 komentar:

Poskan Komentar