Ads 468x60px

Pro Bonum Commune


Minerva Mirabal


PROLOG
Sosok perempuan muda ini: cantik, baik dan menarik, pintar serta terpelajar. Minerva Mirabal namanya. Ia dibesarkan dalam iman dan pendidikan Katolik yang baik. Bersama para saudarinya, ia dikenal sebagai “Las Mariposas” ("The Butterflies"). Yah, mereka menjadi “kupu-kupu cantik” yang ikut merintis-ciptakan gerakan perlawanan di tahun 1950-an, berjuang melawan salah satu kediktatoran paling represif di Dominika, yakni Rafael Leonidas Trujillo (1930-1961). “Las Mariposas” ("The Butterflies") tegar menghadapi teror, intimidasi, agitasi, hukuman penjara dan penyiksaan berulangkali dan akhirnya pembunuhan. Kisah nyata tentang Mirabal bersaudara ini sendiri pernah diangkat dalam sebuah film “The Time of Butterflies” pada tahun 2001. 


SKETSA PROFIL
“Pergilah menuju tempat di mana kau tak dapat pergi,
menuju yang tak mungkin.
Itulah satu-satunya jalan pergi atau datang” 
(Jacques Derrida, “The Prayers and Tears of Jacques Derrida: Religion without Religion”)

“The Time of Butterflies” adalah judul sebuah film yang saya tonton di awal tahun studi teologi di Yogyakarta bersama dengan teman-teman dari kelompok “JFK”-Jakal Film Kommunity”. Film “The Time of Butterflies” sendiri digarap dari novel dengan judul yang sama karya Julia Alvarez. Ayah Julia Alvarez termasuk salah satu dari mereka yang berusaha menggulingkan Trujillo. Kesaksian sejarah, semacam “oral history” dari mereka yang pernah bersama-sama dengan Mirabal bersaudara menggerakkan Julia Alvarez untuk menulis-kenangkan kisah perjuangan mereka ini.

Sebagai sebuah karya seni, film yang diproduksi pada tahun 2001 dan memperoleh penghargaan ALMA 2002 untuk akting cemerlang Salma Hayek yang memerankan Minerva Mirabal sungguh berhasil menyuguh-tampilkan sketsa muram-kejam sebuah kekuasaan diktator yang meninggalkan prinsip-prinsip moral  sekaligus menampak-nyatakan denyut penuh perjuangan gerakan bawah tanah para aktivis.

Yah, film yang disutradarai Mariano Barroso ini berkisah tentang perjuangan nyata Minerva Mirabal dan saudari-saudarinya yang terlibat dengan gerakan revolusioner bawah tanah di Republik Dominika. Gerakan Mirabal bersaudara ini merupakan perlawanan terhadap rezim diktator Rafael Trujillo (1930-1961) yang menebarkan rasa takut di antara rakyat. Siapakah Mirabal bersaudara ini sebenarnya?

Pada awalnya, Don Enrique Mirabal Fernandez dan istrinya Marcedes Reyes Camillo (Dona Chea) tinggal pada sebuah kawasan peternakan di Ojo de Agua, dekat kota Salcedo wilayah Cibao propinsi Espaillat, di daerah pegunungan Dominika. Mereka dikaruniai empat orang putri, yakni: Patria, Dedé, Minerva dan Maria-Teresa. Mereka adalah sebuah keluarga kelas menengah yang makmur dan memiliki tanah yang luas. Pada awalnya, keluarga Mirabal ini sangat patuh pada Trujillo, hingga mendapatkan simpati khusus dari Trujilo alias “El Jefe” terlebih karena  keluarga Mirabal tak pernah menaruh perhatian terhadap berbagai kasus pelanggaran hak-hak asasi manusia dan korupsi gila-gilaan yang dilakukan El-Jefe” beserta kroninya.

Selain memiliki tanah, keluarga Mirabal juga memiliki usaha penggilingan kopi, toko, pasar daging, dan pabrik penggilingan padi yang cukup besar. Jelasnya, keluarga Mirabal adalah keluarga berkecukupan yang maju dan berpikiran bebas, dengan relasi pergaulan yang luas, layaknya model keluarga kelas menengah di Dominika pada waktu itu. Oleh karena itulah, mereka kemudian sanggup mengirimkan para putri mereka ke sebuah sekolah Katolik yang berkualitas, “Immaculada Concepción” di La Vega. Ini adalah sebuah sekolah khusus putri dengan sistem asrama. Pada tahun 1938, ketiga putri keluarga Mirabal (Patria, Minerva dan Maria Theresa) bersama-sama masuk ke sekolah ber-asrama ini.

Di sekolah dan asrama Katolik inilah, Minerva Mirabal yang terlahir pada tanggal 12 Maret 1926 menemui kenyataan bahwa banyak di antara teman sekolahnya yang mengalami ‘tragedi kemanusiaan”. Mereka kehilangan orang tua, saudara atau kerabat yang lain. Ada yang karena ditahan, disiksa atau dibunuh tanpa alasan yang jelas oleh pemerintahan diktator yang waktu itu dikuasai oleh Jenderal Rafael Leonidas Trujillo. Trujilo sendiri kerap disebut “El Jefe” atau “Tuan Besar”, begitulah diktator Trujilo ini suka menyebut dirinya sendiri. Ia berkuasa dengan tangan besi, ditopang oleh kekuatan polisi rahasianya, “SIM”.

Merupakan sebuah kenyataan bahwa Minerva sejak remaja memang sudah berjiwa “pemberontak”. Ia selalu berani membela dan menjunjung keadilan di sekitarnya, apapun resikonya. Sentimen persahabatan dan solidaritasnya terhadap nasib banyak teman putrinya ini berkembang menjadi sebuah sentimen politik ketika Minerva berkenalan dengan Pericles Franco Ornes di tahun 1940. Ornes adalah salah satu Dewan Pendiri Partai Sosialis Populer. Laki-laki ini memang terkenal sebagai tokoh gerakan “anti-Trujilista” yang sudah kenyang ditangkap dan dipenjara berkali-kali karena aktivitas politiknya.

Suatu ketika, persisnya pada tanggal 12 Oktober 1949, Jenderal Trujillo mengadakan sebuah pesta di rumah peristirahatannya yang megah di San Cristóbal, sebuah kota di propinsi Espaillat. Pesta kebun di “istana”  San Cristobal ini diadakan untuk memperingati penemuan benua Amerika oleh Christopher Columbus dan menghormati masyarakat di Propinsi Espaillat. Undangan untuk keluarga Mirabal diantarkan sendiri oleh Gubernur Moca, Antonio De La Maza, dan senator Provinsi Espaillat, Juan Rojas. Pesta tersebut dihadiri oleh Don Enrique Mirabal, Patria, suami Patria (Pedro Gonzalez), Minerva, Dedé, dan suami Dedé (Jaime Fernandez). Waktu itu, Trujillo yang sudah menikah ini memang terkenal mata keranjang. Ia senang melecehkan gadis-gadis muda dan memiliki banyak perempuan simpanan. Pada kesempatan ini, Trujillo “gagal menaklukkan” Minerva yang cantik dan menarik.

Pesta kebun tersebut akhirnya bubar karena badai, yang menyelamatkan Mirabal bersaudara dari tempat yang tak menyenangkan tersebut. Di tengah derasnya curah hujan, keluarga Mirabal diam-diam menyelinap pulang. Trujillo berang oleh sikap ‘pelecehan’ mereka, karena tradisi feodalisme politiknya tak membenarkan ada yang meninggalkan pesta sebelum dirinya. “El-Jefe” menyuruh anak buahnya untuk menghubungi pos militer dan memerintahkan untuk menghentikan kendaraan mereka. Tapi syukurlah, mobil yang membawa Mirabal sekeluarga sudah terlanjur melewati pos tersebut. Yah, mungkin semangat Mirabal bersaudara, “kita boleh tunduk, tapi tak boleh takluk!

Juan Rojas, senator dari Propinsi Espaillat memberi saran agar Don Enrique mengirimkan surat permintaan maaf pada Trujilo. Don Enrique menurut, namun kemarahan “Tuan Besar” tidak dapat diredakan. Hari berikutnya, Don Enrique ditangkap dan dipenjara oleh Trujillo di ibukota Santo Domingo. Minerva dan ibunya, Dona Chea menyusul ditahan di Hotel Nasional esok harinya. Setiap hari, Minerva dibawa ke Fortaleza Ozama untuk diinterogasi mengenai aktivitas politiknya. Interogasi dilaksanakan oleh dua orang penyidik pribadi kepercayaan Trujillo, yakni Fausto Caamaño Medina dan Manuel de Moya. Minerva kemudian dituduh sebagai seorang komunis dan dipaksa untuk menulis surat permintaan maaf pada Trujillo, namun dengan tegas ia tetap menolak. Beberapa orang teman Minerva; Violeta Martinez dan Emma Rodriguez juga ditangkap beberapa hari kemudian.

Pada akhirnya, setelah keluarga Mirabal menghubungi relasi politik mereka, yakni adik kandung “El Jefe”, Minerva beserta ayah-ibunya dapat dibebaskan. Namun demikian, “El Jefe” telah menjadikan Minerva sebagai musuh pribadinya. Benarlah, kebebasan keluarga Mirabal rupanya tak berumur panjang, dua tahun kemudian, ketiganya (Don Enrique, Minerva dan Dona Chea) kembali ditahan. Kali ini, Don Enrique dibawa ke Fortaleza Ozama sementara Minerva dan ibunya dibawa ke Hotel Presidente. Satu lagi alasan tak masuk akal dari penangkapan ini, bahwa Don Enrique tak berusaha untuk membeli sebuah buku biografi Trujillo. Ketiganya dibebaskan kembali beberapa minggu kemudian. Di balik ini semua, sebenarnya, “El-Jefe” berkeinginan untuk mematikan semangat politik Minerva yang senantiasa kritis dan sinis terhadap kepemimpinan diktatornya. Selama ini semangat perlawanan dan kebencian Minerva terhadap tangan besi Trujillo, membuat “El-Jefe” marah dan merasa terhina.

Ketakutan yang terus menerus dan penangkapan yang berkala, tak sanggup ditanggung oleh Don Enrique yang semakin menua. Ia jatuh sakit dan semakin parah hingga kematian menjemputnya pada tanggal 14 Desember 1953.

Setahun setelah kematian Don Enrique, Minerva mencoba untuk belajar menjadi pengacara di Fakultas Hukum Universitas Santo Domingo. Walaupun peringkat dan nilainya sangat baik, namun Trujillo memerintahkan agar ia tidak diloloskan dikarenakan paper ujian masuknya yang bertema: ”Prinsip Berlaku Surutnya Hukum-hukum dan Jurisprudensi Republik Dominika”, dimana di dalam papernya itu, Minerva sangat mendukung landasan dan penegakan Hak Asasi Manusia serta memberi masukan kritis terhadap reformasi pemerintahan. Sekalipun mendapatkan banyak halangan da Trujillo dan kroninya, Minerva berhasil menamatkan kuliah hukumnya pada 28 Oktober 1957. Di Universitas ini jugalah, ia bertemu dengan Manuel Aurelio Tavarez Justo (yang sering dipanggil Manolo). Manolo adalah seorang anggota bawah tanah dari Partai Sosialis Populer. Sementara itu, Maria-Teresa, adik bungsu Minerva yang wataknya sangat mirip dengan Minerva dan sekaligus begitu mengaguminya, berkenalan dan kemudian menjalin hubungan akrab dengan Leandro Guzmán, seorang insinyur yang juga merupakan anggota gerakan bawah tanah anti-Trujillo. Maria Teresa adalah gadis kedua di Dominika, yang bergabung di sekolah Matematika dan Biologi.

Hubungan persahabatan ini ternyata tidak terhenti pada hubungan politik, melainkan berkembang menjadi hubungan batin yang erat. Minerva menikah dengan Manuel Aurelio Tavarez Justo (Manolo) pada tanggal 20 November 1955, sedangkan Ma-Te (panggilan akrab Maria-Teresa) menikah dengan Leandro Guzmán pada tanggal 14 Februari 1958.
Pada tanggal 14 Juni 1959, “Dominican Liberation Movement” (Gerakan Pembebasan Dominika), yang beranggotakan para pelarian politik dan orang muda Dominika yang tinggal di luar negeri, mengirimkan sebuah pasukan sukarelawan ke kota Constanza, Maimón dan Estero Hondo, kota-kota di selatan Dominika. Penyerbuan ini dipimpin oleh Enrique Jimenez Moya. Penyerbuan yang diberi sandi “Luperion Invasion” ini dapat digagalkan setelah Angkatan Darat dan Angkatan Udara Dominika mengerahkan pasukan besar untuk menumpasnya. Namun, sekalipun upaya ini gagal, benih-benih pemberontakan semakin tertanam di negeri Dominika.

Tidak lama setelah “Luperion Invasion” digagalkan, terbentuklah “Gerakan 14 Juni”. Ini adalah sebuah organisasi perlawanan bawah tanah di Mao, sebuah kota di propinsi Valverde, yang terbentuk pada tanggal 10 Januari 1960. Manolo adalah ketua umumnya, sedangkan seorang bernama Pipe Faxa menjadi sekretaris jenderalnya. Leandro sendiri adalah bendahara organisasi ini. Dalam “Gerakan 14 Juni” ini, bergabung pula Minerva dan Maria Teresa. Patria Mirabal dan suaminya, Pedro Gonzalez menyusul tidak lama kemudian. Karena ketiga kakak-beradik dari keluarga Mirabal ini (Minerva, Maria Teresa dan Patria) telah bergabung, maka mereka bertiga kemudian dikenal sebagai “las Miraposas” (para kupu-kupu). Nama sandi “las Miraposas” (para kupu-kupu), menjadi sebuah simbol keikutsertaan aktif kaum perempuan dalam pergerakan politik melawan kediktatoran. Mereka kerap menjalin koordinasi, kolaborasi dan komunikasi di tengah kelas pekerja Dominika dan beberapa pastor paroki setempat yang concern pada gulat-geliat perjuangan mereka.

Pada 20 Januari, Maria Teresa ditahan di Pangkalan Militer Salcedo dan dibebaskan pada hari yang sama. Dua hari kemudian, 22 Januari, Maria Teresa dan Minerva di tangkap lagi dan dibawa ke La Cuarenta. Kedua bersaudara ini akhirnya dibebaskan pada tanggal 18 Agustus 1960. Sementara itu, Patria Mirabal dan Pedro Gonzales menyediakan rumah mereka untuk dipakai sebagai basis konsolidasi gerakan revolusi. Oleh karena itulah, rumah ini mendapatkan sebuah “julukan” bahwa: di meja makan, selain tersedia telur setengah matang juga terdapat bom rakitan yang siap sedia meledak. Patria Mirabal sendiri memandang pergerakan untuk melawan kediktatoran sebagai perjuangan suci, karena ia sangat peduli terhadap masa depan republik bagi anak-anaknya kelak, seperti yang pernah ia katakan bahwa: “Kita tak boleh biarkan anak-anak kita hidup di bawah rezim yang korup dan tiran, kita harus berjuang melawannya, dan saya siap memberikan segalanya, termasuk jiwa raga saya jika perlu.”

Dalam perkembangan waktu, “Gerakan 14 Juni” di Mao ini akhirnya bocor juga ke telinga rezim “El Jefe”. Tidak lama setelah itu, penangkapan-penangkapanpun dimulai. Lebih dari seratus orang anggota “Gerakan 14 Juni” ditangkap dan ditahan di penjara paling mengerikan di Dominika, La Cuarenta. Di penjara inilah, terdapat fasilitas penyiksaan yang paling lengkap dan paling canggih dari rezim militer Trujillo. Minerva, Maria Teresa dan para suami mereka juga ditempatkan di sini. Belakangan, suami Patria juga ditahan. 

Penangkapan dan penyiksaan yang dilakukan kepada para aktivis muda ini membakar kemarahan rakyat Dominika. Termasuk di antara mereka yang ditangkap terdapat juga orang-orang dari kelas menengah. Tidaklah mengherankan bahwa kemudian kelas menengah juga bergabung dengan gerakan dari kelas-kelas di bawahnya. Aksi-aksi demonstrasi menyala-bakar di kota-kota besar Dominika. Mereka menuntut pembebasan para tahanan politik. Gereja Katolik sendiri mengutuk keras penangkapan-penangkapan ini. Dunia internasional juga menyampaikan kecaman-kecaman keras.

Karena tekanan bertubi-tubi inilah, Trujillo kemudian membebaskan para tahanan perempuan. Setelah itu, ia membebaskan pula tahanan laki-laki yang ditahan hanya berdasarkan kecurigaan. Namun, Manolo (suami Minerva), Pedro (suami Patria) dan Leandro (suami Maria Teresa) tetap berada dalam tahanan. Mereka ditahan di La Victoria, Salcedo beberapa minggu; kemudian Manolo dan Pedro dipindahkan ke penjara San Felipe di Puerto Plata, sementara Leandro tetap di La Victoria, Salcedo.

Di lain matra, mengeras dan membesarnya gerakan perlawanan terhadap “El Jefe” membuat Trujilo semakin marah. Sekalipun ia terpaksa membebaskan Minerva dari penjara karena tekanan dunia internasional, ia tetap menaruh dendam pada Minerva Mirabal ini. Ia berencana menempuh dua langkah nekat sekaligus: Ia berniat membunuh Minerva Mirabal dan Rómulo Betancourt, Presiden Venezuela yang dianggapnya sebagai “duri dalam daging”. Trujillo dua kali mengirim pembunuh untuk menghabisi nyawa presiden Rómulo Betancourt. Namun kedua upaya ini mengalami kegagalan dan justru berbalik menjadi tuduhan politik yang tak dapat dibantah. Organisasi Negara-negara Amerika Latin (“OAS”) mengeluarkan kecaman keras kepada rejim Trujillo dan mendesaknya agar mengundurkan diri.

Di tengah keputus-asaan itu, Trujillo melancarkan strategi terakhirnya, yakni membunuh Mirabal bersaudara. “SIM” digunakan sebagai pelaksana pembunuhan terhadap Mirabal bersaudara. Ia menugaskan Victor Alicinio Peña Rivera, tangan kanannya, dan empat anggota dari pasukan rahasianya  yang dibentuknya ketika ia masih berdinas di dunia kemiliteran, yakni: Ciriaco de la Rosa, Ramon Emilio Rojas, Alfonso Cruz Valeria, dan Emilio Estrada Malleta.

25 November 1960, Patria, Minerva, dan Maria Teresa melakukan perjalanan ke selatan dari Salcedo menuju Puerto Plata untuk mengunjungi suami Patria dan Minerva di penjara La Cuarenta. Mereka meninggalkan penjara pada malam hari. Ketika mereka menyusuri Carretera Santiago -  Puerto Plata, mobil yang dikemudikan oleh Rufino De La Cruz dihentikan secara paksa oleh antek-antek Trujillo dari “SIM”.

Apa yang saat itu terjadi, dinarasikan kemudian oleh salah seorang pembunuh bernama Ciriaco de la Rosa, seperti yang dikutip dari “Encyclopedia Dominica 1997 CD ROM”:
”Setelah memberhentikan mereka, kami membawa mereka pada sebuah tempat di dekat teluk. Kemudian saya perintahkan Ramon Emilio Rojas untuk mengambil beberapa tongkat dan menggiring salah seorang dari ketiga perempuan tersebut. Ia  mengambil salah seorang perempuan muda yang berambut kepang panjang (Maria Teresa Mirabal). Kemudian, Alfonso Cruz Valeria memilih perempuan yang bertubuh paling tinggi (Minerva Mirabal) dan Emilio Estrada Malleta mengamankan supirnya, Rufino de La Cruz. Saya perintahkan supaya setiap orang menuju tanaman tebu yang tumbuh di pinggir jalan. Setiap orang sengaja kami pisahkan, sehingga setiap korban tidak akan melihat dan merasakan proses eksekusi yang lainnya. Saya perintahkan Perez Terrero tetap tinggal di mobil dan mengawasi jika ada orang yang datang dan mencari tahu tentang situasi yang sedang terjadi. Inilah kenyataan dari kejadian tersebut. Saya tak ingin mengkhianati keadilan atau negara ini. Saya mencoba untuk mencegah “bencana” itu, tapi saya tak mampu, karena jika saya lakukan, maka Trujillo pasti akan membunuh kami semua.”

Dengan metode seperti yang diakui oleh Ciriaco de la Rosa itulah, jenazah Mirabal bersaudara dan Rufino de La Cruz dikumpulkan di sepanjang sisi jalan mendaki antara Puerto Plata dan Santiago. Mobil jeep mereka sendiri didorong ke dalam jurang, untuk membuatnya terlihat seakan-akan sebagai sebuah kecelakaan. Waktu tragedi pembunuhan itu terjadi, Patria  berusia 36 tahun, Minerva berusia 34 tahun, dan Maria Teresa, yang paling termuda berusia 24 tahun.

“Ketika saya mengetahui kematian Mirabal bersaudara, saya berkata pada diri saya sendiri: sistem kemasyarakatan konservatif kita saat ini sudah menuju kematiannya” tukas Amen de Mariposas Pedro Mir, seorang penyair nasional Dominika.  Benarlah, pembunuhan Mirabal bersaudara ini membangkitkan eforia kemarahan rakyat Dominika dan merupakan awal bagi kejatuhan rezim Trujillo. “El-Jefe” terguling oleh revolusi dan dibunuh oleh “Pasukan Pembebasan Dominika” setahun setelah kematian Mirabal bersaudara (30 Mei 1961). Gerakan rakyat juga berhasil menggulingkan seluruh struktur militer yang dibangun Trujillo dan menggantikannya dengan sebuah pemerintahan demokrasi yang baru.

Satu hal yang pasti: Mirabal bersaudara menjadi simbol perjuangan kaum feminis paling populer di negeri-negeri Amerika Latin. Bahkan, kisah Mirabal bersaudara dimasukkan ke dalam buku-buku teks pelajaran sejarah Dominika sebagai martir nasional. Nah, berlandaskan pengorbanan dan perjuangan Mirabal bersaudara yang tragis ini, sejak tahun 1981, setiap tanggal 25 November diperingati sebagai “Hari Peringatan Menentang Kekerasan terhadap Perempuan di Amerika Latin”. Hal ini sendiri dideklarasikan pada “Feminist Encuentro for Latin America and the Caribbean” (Konferensi kaum feminis di negara-negara Amerika Latin dan Karibia), yang diadakan pertama kali di Bogota, Kolombia, pada tanggal 18-21 Juli 1981.

Pada peringatan Hari Perempuan Internasional, 8 Maret 1997, sebuah mural pada tugu batu setinggi 137 kaki digelar-pentaskan. Karya seni ini menggambarkan sosok Mirabal bersaudara di Santo Domingo. Tugu batu, semacam obelisk tersebut merupakan penghargaan kemanusiaan bagi perjuangan banyak orang, terlebih kaum perempuan yang diwakili Mirabal bersaudara demi pembebasan negeri Dominika. Hal ini juga menunjukkan kemenangan politik dan gender karena disinilah kaum perempuan diakui sebagai bagian penting dalam sejarah pembebasan dengan “tinta” dan “darah”. Terlukis juga disana “Un Canto a la Libertad” (A Song to Liberty), dimana di puncaknya tertulis ‘Butterflies’, dan di depan area tersebut terpatrilah sebuah kerangka mobil jeep yang ditumpangi Mirabal bersaudara di akhir hidupnya. Pada tanggal 17 Desember 1999, Majelis Umum PBB akhirnya juga menyatakan tanggal 25 November (tanggal pembunuhan Mirabal bersaudara) sebagai “Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan”.


REFLEKSI TEOLOGIS
HAM
“Hangat. Andal. Militan.”
Bicara soal Minerva Mirabal dan para saudarinya tak lepas dari perbincangan seputar HAM (Hak Asasi Manusia). Tapi, disinilah, “HAM” juga bisa berarti lain, yakni tiga sikap dasar yang ternyata dimiliki oleh seorang perempuan beriman, bernama Minerva Mirabal. Adapun tiga sikap dasar “HAM” tersebut yakni: “Hangat, Andal, Militan”.

1.   Hangat. Mengapa namanya adalah Minerva? Bukankah orang Latin berkata, “nomen est omen, setiap nama punya makna?” Yah, Minerva adalah salah satu dewi utama yang dipuja oleh bangsa Romawi. Dalam mitologi Romawi, Minerva dipuja sebagai seorang dewi perang. Meskipun Minerva adalah dewi perang tetapi dia membenci peperangan tanpa tujuan. Ia hanya berperang untuk tujuan yang jelas dan layak atau untuk menyelesaikan konflik. Bukankah hal ini juga yang dibuat oleh Minerva Mirabal. Ia “berperang” demi suatu tujuan yang jelas: melawan rezim diktator Rafael Trujillo (1930-1961) yang menebarkan rasa takut dan pelbagai penderitaan di antara rakyat.

Berangkat dari mitologi kuno, dewi Minerva tidak memiliki pasangan dan tidak menikah, sehingga disebut sebagai parthenos/"perawan" (Hefaistos pernah mencoba memperkosanya namun gagal, dan kuil Parthenon di kota Athena adalah kuilnya yang paling terkenal). Walaupun tidak menikah, tetapi hatinya tetap hangat. Dengan kehangatannya, ia kerap muncul dalam berbagai cerita mitologi sebagai penolong para pahlawan, termasuk OdisseusIason, dan Herakles. Bukankah itu juga yang dibuat oleh Minerva Mirabal? Ia hadir di tengah masyarakat dan membantu perjuangan rakyatnya. Ia bahkan dijuluki kupu-kupu, “the butterflies”. Bukankah kupu-kupu adalah lambang kehangatan sekaligus kebangkitan yang indah? Dengan kehangatannya, Minerva Mirabal tegas menolak tunduk untuk hidup di bawah situasi yang menindas kemanusiaan, dan justru dengan getaran kehangatan hatinya yang terdalam, ia berani melawan gerak-tindakan yang menyimpang dari tujuan penciptaan. Bisa jadi, pilihan hidup yang dijalankannya merupakan perwujudan relasi iman yang hangat dengan Tuhannya.

2.   Andal. Menurut legenda, dewi Minerva adalah putri kesayangan Zeus, dewa terkuat. Ibunya adalah dewi Metis, yang merupakan dewi kepandaian dan kebijaksanaan. Jadi, Minerva diberkahi kekuatan oleh Zeus serta kepandaian dan kebijaksanaan oleh Metis. Yah, Minerva yang dikenal juga sebagai Athena dalam mitologi Yunani, selain dianggap sebagai dewi perang (pengaruh Zeus), ia juga dihormati sebagai dewi  kebijaksanaan, ilmu pengetahuan, seni, puisi obat-obatan, pelindung para pengrajin dan penemu alat musik (pengaruh Metis). Bahkan, Minerva kadang-kadang ditemani oleh seekor burung hantu yang merupakan hewan favoritnya dan lambang dari kebijaksanaan. Pada Abad Pertengahan, Minerva kerap muncul sebagai lambang kebijaksanaan dan kebajikan dan kadang ditemukan pada lambang beberapa keluarga bangsawan. Dia juga melambangkan kebebasan pada masa Revolusi Perancis (patungnya berada di tengah “Place de la Revolution”, di Paris). Karena sifatnya yang andal,  Minerva juga menjadi lambang dari banyak universitas dan akademi. 

Disinilah, kita mencandra bahwa Minerva Mirabal juga jelas memiliki sifat yang andal seperti dewi Minerva. Hal ini nampak dalam sebuah buku “Tres Heroínas y un Tirano”. Penulisnya, Miguel A. García mengutip sekilas-pintas dialog percakapan singkat yang sempat terjadi antara Minerva dan “El-Jefe”, ketika mereka sedang bertemu di sebuah pesta kebun di San Cristóbal, Espaillat:
Trujillo          : “Apakah kau mendukung ideologi politik saya?”
Minerva         : “Politik tidak menarik buat saya.”
Trujillo          : “Dan bagaimana jika saya ajukan pertanyaan untuk menaklukkanmu?”
Minerva         : “Dan bagaimana jika saya yang menaklukkan pertanyaanmu?!”

Yah, sejak kecil, Minerva Mirabal memang sudah terlihat begitu andal. Ia memiliki kecakapan dan kompetensi akal budi. Ketika berusia tujuh tahun, ia sudah mampu menarasikan sajak Perancis. Ia juga mempunyai hobi menulis, melukis dan membaca puisi, khususnya pelbagai karya Juan Pablo Neruda dan  Pablo Picasso. Minerva sendiri adalah gadis pertama di Dominika yang berhasil bersekolah dan lulus dengan mengagumkan dari Fakultas Hukum Universitas Santo Domingo. Dalam diri Minerva Mirabal, menarik sekali diamati bagaimana gerak batin seorang perempuan muda Katolik yang andal dan terpanggil untuk berbuat sesuatu demi  negerinya. Dari seorang gadis manis yang tumbuh di kawasan peternakan, dengan mata yang menatap pada ketidakadilan yang terjadi di muka hidung, lahirlah sebuah kemauan keras untuk menjadi seorang pengacara, suatu ‘profesi haram’ bagi perempuan di Amerika Latin saat itu.

Dalam perkembangan waktu, suatu kali Minerva membuktikan sikapnya yang andal, dengan berkata: “..Merupakan sebuah sumber kebahagiaan yang amat sangat, untuk melakukan apapun yang bisa dilakukan bagi negeri kita yang menderita oleh begitu banyak luka, begitu sedihnya jika kita hanya tinggal dan diam mengingkari ini semua, bukan?”

3.   Militan: Dewi Minerva memang identik sebagai seorang dewi perang yang militan. Ia digambarkan sebagai seorang dewi cantik (sehingga banyak orang dan dewa lain yang jatuh cinta kepadanya), tapi sekaligus gagah seperti lelaki dalam pakaian perangnya. Ia selalu membawa tombak dan perisai serta memakai helm perang. Karena sifat militannya ini, Minerva menjadi simbol Angkatan Laut Wanita Amerika Serikat. Ia juga digambarkan pada medali yang diberikan pada para perempuan yang mengabdi dalam Pasukan Cadangan Angkatan Darat Wanita sejak 10 Juli 1942 sampai 31 Agustus 1943, serta di Pasukan Angkatan Darat Wanita sejak 1 september 1943 sampai 2 September 1945. Sedangkan helm Minerva adalah unsur utama pada lambang Akademi Militer Amerika Serikat.

Satu hal yang kemudian membuktikan bahwa Minerva Mirabal juga memiliki sikap militan seperti dewi Minerva dan lebih menonjol dibandingkan para saudarinya yang lain adalah karena dialah yang paling pertama memutuskan untuk bergabung dalam gerakan bawah tanah penggulingan kediktatoran Trujillo. Ia juga yang pertama-tama mengorganisir kawan-kawannya di “Colegio Inmaculada Concepción” yang keluarga, kenalan dan para saudaranya telah dibunuh, disiksa atau ditahan oleh rejim Trujillo.

Faktor lain yang menarik dan terus menajamkan kesadaran militannya adalah kemauan dan kemampuannya ‘mengeksplorasi’ literatur-literatur kiri serta kritis mendengarkan siaran radio Kuba dan Venezuela yang diterima ilegal, yang secara lebih objektif terus menerus menyiarkan dan menganalisa kondisi ekonomi dan politik Republik Dominika, termasuk berbagai perubahan yang terjadi di negara-negara Amerika Latin lainnya, termasuk Invasi Luperion dan Revolusi Kuba.  

Keteguhan hati dan keberanian tindakannya yang militan juga tercandra ketika  Minerva Mirabal baru saja keluar dari penjara, dan langsung mengatakan: “…mungkin yang begitu dekat dan harus kami hadapi adalah kematian, tetapi hal itu tidak membuat kami takut, kami harus melanjutkan perjuangan untuk sesuatu yang baru saja dimulai…”

Di lain matra, dalam penggalan awal film “The Time of Butterflies”, tercandra di mata rakyat kebanyakan, Trujillo kerap tampil bersama-sama dengan para penguasanya, termasuk para pejabat dan pembesar Gereja. Sepertinya, Gereja tidak berdaya dalam situasi yang jelas-jelas tidak memihak pada kaum dhuafa itu. Betulkah? Di manakah Gereja kaum miskin, yang katanya “option for the poor”? Manakah gaung dan gema pelbagai Ajaran Sosial Gereja yang tebal dan pnuh dengan gudang kata-kata? Akankah Gereja harus dilahirkan kembali? Tapi, oleh siapa? Yah, disinilah Roh Kudus, “sang parakleitos, sang spiritus, sang ruah, seakan terus mencari tempat bertaut. Kalau institusi sudah mati, maka diraihlah hati yang terbuka, yang siap tegak, tergerak dan bergerak. Dari pengalaman nyata satu orang, dua orang, tiga orang…..., dan akhirnya banyak orang sederhana, terbangunlah suatu “batu bangunan” Gereja yang baru, yang berakar - bertumbuh - berbuah, yang hangat - andal dan militan, dan yang menjadi tanda kehadiran Allah yang menyelamatkan di tengah carut-marut dunia.


EPILOG
Belgica Adela alias Dede adalah satu-satunya Mirabal bersaudara yang tetap hidup dan memelihara semua kenangan, termasuk “memoria passionis” tentang perjuangan para saudarinya (Patria, Minerva dan Maria Theresa). Rumah mereka yang terletak di Ojo de Agua Dominika—kini sudah diubah menjadi sebuah museum, tempat semua dokumen perjuangan diabadikan. Mirabal bersaudara telah mempersembahkan banyak buku, puisi, lagu-lagu perjuangan, koleksi-koleksi pribadi masing-masing; koleksi cangkir-cangkir Patria, mesin jahit, berbagai essay Minerva, tas dan sepatu bahkan potongan rambut Maria Teresa juga masih disimpan oleh Dede. Benda-benda keseharian ini seakan membuat begitu sederhananya semangat juang Mirabal bersaudara melawan kediktatoran garang untuk sebuah revolusi: “Dan saya saksikan mereka semua disana, di dalam kenangan indah saya, begitu tenang dan diam selayaknya patung, Mama dan Papa, Minerva, Mate dan Patria, dan saya kira ada yang hilang saat ini. Dan saya menghitung mereka masing-masing dua kali sebelum saya sadari—sayalah, Dede, sayalah, seorang yang tetap hidup untuk mengisahkan perjuangan hidup mereka ini.
Yah, “Las Mariposas”, ketiga kupu-kupu cantik bersaudara ini begitu gigih memberontak, karena mereka mempunyai sebuah mimpi terhadap sebuah masyarakat yang adil dan modern, yang menjunjung tinggi kebebasan dan demokrasi tak hanya bagi keluarga mereka tapi rakyat Dominika secara keseluruhan, bagi sebuah “bonum commune”- kesejahteraan bersama. Bagaimana dengan kita sendiri?


ASPIRASI
Something coming …
Viens.
Something unforeseeable and incomprehensible
Viens.
Tout autre …
Let every one say,
Viens
To every gift,
Viens, oui, oui.
Amen
“Sesuatu datang …
Datanglah!
Sesuatu yang tak teramalkan dan tak terpahamkan
Datanglah!
Yang Sama Sekali Lain
Biarkan setiap orang berkata,
Datanglah!
Kepada setiap pemberian,
Datanglah! Ya, ya.
Amin.”
(Caputo, John D. The Prayers and Tears of Jacques Derrida: Religion without Religion. Bloomington & Indianapolis: Indiana University Press, 1997, hlm. 69).

Sketsa Singkat Mirabal Bersaudara

1.   Patria Marcedez Mirabal, terlahir di saat HUT kemerdekaan Republik Dominika 27 Februari 1924, dinamakan Patria karena berarti “tanah air”. Patria menyukai seni dan melukis. Patria dikirim untuk bersekolah di Colegio Inmaculada Concepción, sekolah asrama katolik di La Vega, di usia 14 tahun. Pada awalnya, Patria berniat menjadi seorang suster biarawati. Namun, akhirnya ia menikah pada 24 Februari 1941 dengan Pedro Gonzalez. Ia tinggalkan bangku kuliahnya dan memilih hidup bersama sang suami di tanah pertanian Conuco. Mereka kemudian memiliki empat orang anak; Nelson Enrique, Noris Mercedes, Raul Ernesto, dan Juan Antonio

2.   Belgica Adela (Dede), lahir pada tahun 1925, adalah Mirabal bersaudara yang paling penggugup. Sejak awal perjuangan, ia memang hanya mendukung tanpa terlibat langsung gerakan revolusi. Ia adalah satu-satunya yang selamat dan tidak dibunuh oleh rezim Trujilo.

3.   Minerva Argentina Mirabal, lahir 12 Maret 1926. Di usia yang sangat muda ia sudah terlihat begitu cerdas dan bernas. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, ia sudah mampu menarasikan pelbagai sajak satra Perancis. Ia dikirimkan ke sekolah (SMP) Katolik yang sama dengan Patria dan Dede di usia dua-belas tahun . Ia lulus pada tahun 1946 setelah menamatkan pelajaran “Penyuratan dan Filsafat”. Ia mempunyai hobi menulis dan membaca puisi, khususnya pelbagai karya Juan Pablo Neruda. Seperti Patria, ia juga menyukai seni, khususnya karya-karya Pablo Picasso. Minerva sendiri adalah gadis pertama di Dominika yang berhasil bersekolah dan lulus dengan mengagumkan dari Fakultas Hukum Universitas Santo Domingo. Dia menikah dengan Manuel Tavarez dan memiliki 2 anak.

4.   Maria Teresa Mirabal (Ma-Te), yang termuda dari Mirabal bersaudara. Ia lahir pada tanggal 15 Oktober 1936. Ia adalah yang belakangan menyusul masuk ke sekolah Katolik setelah kakak-kakaknya. Tahun 1954, ia menyelesaikan studi Matematikanya di Liceo de San Francisco de Macorís, dan melanjutkan ke Universitas Santo Domingo di jurusan Matematika. Maria Teresa adalah gadis kedua di Dominika, yang bergabung di sekolah Matematika dan Biologi. Ia sendiri menikah dengan Leandro Guzmán dan memiliki 1 anak. Mereka juga terlibat dalam gerakan melawan kediktatoran Trujillo.

0 komentar:

Posting Komentar