Ads 468x60px

Pengantar Kitab Suci Umum

Historiografi Biblis

APA ITU ALKITAB 
Kata Alkitab berasal dari bahasa Arab yang berarti Sang Kitab (Kitab itu; the Book). Kata ini dipakai oleh orang Arab untuk menunjuk pada kitab suci orang Yahudi dan Kristen. Namun ini kurang tepat karena Alkitab tidak hanya terdiri dari satu kitab, melainkan banyak, sehingga dalam bahasa Yunani disebut ‘ta biblia’ yang artinya kitab-kitab.

Buku Sejarah Karya Allah, Kesaksian tentang Allah dan Jawaban Manusia 
Semua kitab dalam Alkitab memberikan kesaksian mengenai karya Allah dan reaksi umat baik secara keIompok maupun perorangan atas karya Tuhan. Dalam Perjanjian Lama dikisahkan sejarah perjanjian Allah dengan bangsa lsrael, sedangkan dalam Perjanjian Baru dituliskan sejarah perjanjian Allah dengan seluruh umat manusia lewat Yesus Kristus. Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru muncul dari pengalaman umat. Penulisan Alkitab dimaksudkan agar ingatan akan perjanjian itu dikekalkan (bdk Yos 24:25-28), diteruskan dari satu generasi ke generasi lain (Ul 6:4-9; 32:45- 47) sehingga mengikat juga generasi zaman sekarang (Ul 5:3). 

Buku Gereja dan Buku Iman
Gereja ada lebih dulu daripada Alkitab. Gereja sekarang ini adalah pewaris, penerus dan pengaku iman yang tidak terputus dari suatu umat yang mengalami pernyataan diri Allah. 

Gerejalah yang mengumpulkan kitab-kitab yang beraneka ragam ini menjadi satu karena Gereja melihat di dalamnya terkandung kesaksian yang otentik. Alkitab kita terima dari Gereja. Gerejalah yang menyaksikan bahwa buku ini adalah Kitab Sucinya. 

Alkitab adalah buku Gereja, buku iman dan santapan kehidupan Gereja. Gereja menemukan ungkapan imannya di dalam Alkitab. Bagi Gereja, Alkitab adalah buku suci dan ilahi karena di dalamnya terdapat Sabda Allah. Alkitab merupakan ‘hukum dan kaidah tertinggi dari iman Gereja’. Ini berarti perkembangan Gereja bergantung pada penghayatannya akan Sabda Allah (Dei Verbum 26; Ad Gentes 15:21). 

Sabda Allah dalam Bahasa Manusia
Alkitab disebut Sabda Allah karena pertama, Alkitab memberi kesaksian tentang Allah. yakni tentang Allah yang menyatakan diriNya melalui perbuatan, perkataan, peristiwa hidup manusia dalam sejarah; kedua, kitab yang memberi kesaksian tentang Allah ini ditulis atas dorongan, hembusan dan ilham Roh Kudus. 

Kitab Suci adalah Sabda Allah dalam bahasa manusia, artinya melalui Kitab Suci Allah berbicara kepada orang beriman dengan perantaraan manusia dan memakai cara berkata manusia. Oleh karena itu ungkapan-ungkapan dalam Kitab Suci tidak dapat dipisahkan dari zaman, waktu dan budaya tertentu. 

KANON ALKITAB 

Pengertian Kanon 
Kanon adalah kata Yunani yang berasal dari kata ‘qane’ (bahasa Ibrani), yang berarti galah atau tongkat pengukur. Kata kanon dalam Gereja diartikan sebagai daftar resmi kitab-kitab yang diakui sebagai Sabda Allah. lnilah yang menjadi ukuran, pedoman dan kaidah iman Gereja.

Terjadinya Kanon Alkitab 
Proses terjadinya kanon Alkitab ini sangat panjang dan rumit. Pada awalnya orang Yahudi belum mempunyai daftar resmi dari kitab-kitab yang diakui sebagai Kitab Suci. Pada zaman Yesuspun belum ada ketentuan yang pasti mengenai jumlah Kitab-kitab (Perjanjian Lama) yang diakui oleh semua jemaat Yahudi, sebab selain kitab-kitab berbahasa Ibrani, beredar juga kitab berbahasa Yunani yang jumlahnya tidak sama. 

Kanon Yahudi / Kanon Yamnia / Kanon Ibrani 
Sekolah Yamnia pada tahun 91-100 memutuskan kitab-kitab yang termasuk kanonik adalah: 
1. Kitab Taurat: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan 
2. Kitab-kitab para nabi (Nebiim) : mengenal pembagian nabi-nabi awali dan nabi-nabi kemudian 
3. Kitab-kitab lain (Ketubim) yaitu: Mazmur, Amsal, Ayub, Kidung Agung, Rut, Ratapan, Pengkhotbah, Ester, Daniel, Ezra, Nehemia, dan 1-2 Tawarikh. 
lnilah yang disebut kanon lbrani yang kemudian diikuti oleh orang Kristen Protestan. 

Septuaginta yang berbahasa Yunani memuat lebih banyak kitab daripada yang terdapat dalam kanon Yamnia. Selain kitab-kitab yang termuat dalam kanon Yamnia (Ibrani), Septuaginta juga memuat kitab-kitab berikut: 
1. Tobit 
2. Yudit 
3. 1-4 Makabe 
4. Doa Manaseh 
5. Kebijaksanaan Salomo 
6. Yesus Bin Sirakh 
7. Mazmur Salomo 
8. Barukh 
9. Surat Yeremia. 

Jelas dari daftar ini bahwa tidak semua kitab yang terdapat dalam Septuaginta kemudian diterima oleh Gereja Katolik sebagai kanonik. 

Gereja Para Rasul menggunakan Kitab-kitab (Perjanjian Lama) berbahasa Yunani yaitu diakui Septuaginta karena perkembangan Gereja ke arah internasional. Sementara itu di bagian barat dunia Kekristenan yang tidak berbahasa Yunani, Septuaginta diterjemahkan kedalam bahasa Latin dan disebut Vetus Latina. 

Karena naskah terjemahan Vetus Latina sangat beragam, maka tahun 382 St. Hieronimus diperintahkan oleh Paus Damasus untuk membuat terjemahan yang lebih kritis langsung bahasa dari Kitab berbahasa Ibrani. Tidak semua kitab yang terdapat dalam kanon Yahudi diterjemahkan. Lama kelamaan terjemahannya ini dipakai bersama Vetus Latina dan disebut Vulgata. 


PENETAPAN KANON PERJANJIAN LAMA DAN BARU GEREJA KATOLIK 

KANON PERJANJIAN LAMA 
Kanon Perjanjian lama ditetapkan secara definitif oleh Gereja Katolik dalam Konsili Trente pada sidang yang keempat tanggal 8 April 1546. Konsili mengambil sikap ini karena orang Protestan menolak semua kitab yang tidak terdapat dalam kanon Yamnia/Yahudi. Kitab-kitab yang diakui dalam konsili Trente tapi ditolak oleh orang Protestan sejak Sixtus dari Siena (abad 16) disebut Deuterokanonik. Deuterokanonik artinya yang diterima kemudian dalam kanon. Kitab-kitab yang lain disebut protokanonik, yang artinya diterima pertama dalam kanon. Kedua istilah ini tidak tepat karena tidak mengungkapkan secara benar sejarah terjadinya kanon. 

Dasar atau tolok ukur penetapan kanon Perjanjian Lama pada Konsili Trente adalah penggunaan kitab-kitab tersebut secara terus-menerus dalam Gereja baik dalam ibadat, teologi maupun dalam katekese. Penetapan Konsili Trente bersifat definitif, artinya kanon AIkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian baru sudah ditutup, tidak mungkin ditambah lagi. 

Cara menghitung jumlah kitab PL menurut kanon 

1. Kej 
2. Kel 
3. Im 
4. Bil 
5.Ul 
6. Yos 
7. Hak 
8.RUt 
9. 1 Sam 
10. 2 Sam 
11. 1 Raj 
12. 2 Raj 
13. 1 Taw 
14. 2 Taw 
15. Ezr 
16. Neh 
17. Tob 
18. Ydt 
19. Est dan tamb ESt 
20. 1 Mak 
21. 2 Mak 
22. Ayb 
23. Mzm 
24. Ams 
25. Pkh 
26. Kd 
27. Keb 
28. Sir 
29. Yes 
30. Yer 
31. Rat 
32. Bar dan S. Yer 
33. Yeh 
34. Dan dan tamb Dan 
35. Hos 
36.Yl
37. Am 
38. Ob 
39. Yun 
40. Mi 
41. Nah 
42. Hab 
43. Zef 
44. Hag 
45. Za 
46. Mal 


Pengurutan ini (yang diikuti oleh Alkitab terbitan Nusa lndah dan Bimas Katolik dalam 3 jilid) dibuat berdasarkan kelompok menurut jenis kesusasteraannya dan isinya: 
1. Kelompok I (no. 1-5) disebut Pentateukh, artinya Panca Gulungan. Kitab-kitab ini memandang ke masa lampau, ke awal mula dunia dan Israel. Pada umumnya berbentuk ceritera dan hukum. Kelima kitab ini disebut Taurat Musa. 
2. Kelompok II (no. 6-21) disebut Kitab-kitab Sejarah. Pada dasarnya kitab-kitab ini menceritakan karya-karya Allah di masa lampau kepada bangsa Israel dan reaksi Israel terhadap karya Allah itu. Bentuknya prosa. 
3. Kelompok Ill (no. 22-28) disebut Kitab-kitab Kebijaksanaan dan Nyanyian. Kitab-kitab ini pada dasarnya merefleksikan hidup, yakni bagaimana menghayati hidup secara benar. Ciri pengajaran amat menonjol. Umumnya berbentuk puisi. 
4. Kelompok IV (no. 29-46) disebut Kitab-kitab Kenabian. Kita-kitab ini berbicara tentang karya Allah di masa mendatang berdasarkan kenyataan dan pengalaman sekarang dan karya Allah di masa lampau. Umumnya berbentuk puisi. 

Kita perlu mengetahui urutan dan pengelompokkan ini bukan saja untuk mempermudah mencari tempatnya dalam Alkitab tetapi juga untuk menyadari sifat dan hakikatnya masing-masing.

KANON PERJANJIAN BARU 
Proses Terbentuknya Kanon Perjanjian Baru 
Kanon Perjanjian Baru mengalami proses lebih sederhana. Pada mulanya tidak ada kesepakatan mengenal jumlah kitab. Antara tahun 40 sampai 120 para murid Yesus menyebarkan ajaran lisan. Setelah di banyak tempat terjadi hubungan, maka mulailah ditulis surat-surat, terutama bila para rasul melihat adanya masalah khusus dan mendesak (bdk 2 Tes 2:2,15; 1 Kor 5:9). Lama-kelamaan dengan adanya pergantian generasi, mulailah juga ditulis pokok-pokok iman yang penting termasuk ajaran dan wejangan Yesus. Dari situlah mulai berkembang penulisan kisah Yesus yang disebut Injil dan Kisah Para Rasul.

Menjelang akhir abad pertama banyak beredar tuhsan-tulisan. Ada juga tulisan yang menyesatkan, sehingga menimbulkan keresahan di kalangan umat. Pada akhir abad kedua sejumlah tokoh penting menyusun daftar tulisan yang berwibawa. Tahun 190 ada Kanon Muratori, tahun 254 Origenes menyusun daftar juga, tahun 303 Eusebius menyusun daftar kitab yang dterima, yang masih diperdebatkan dan ditolak. Hanya melalui proses yang perlahan-lahan, kumpulan kitab orang Kristen itu menjadi Perjanjian Baru yang sekarang. 

Sejarah singkat terbentuknya kanon Perjanjian Baru adalah sebagai berikut: 
• Kesaksian tertua tentang jumlah Perjanjian Baru yang 27 kitab itu berasal dari Athanasius, Uskup Alexandria (dalam surat Paskah tahun 367). 
• Suatu sinode di Roma dalam dokumen yang disebut ‘Dekrit Damasus’ (tahun 382) menetapkan 27 kitab untuk PB, yakni seperti yang kita miliki sekarang. Keputusan sinode ini sama dengan ajaran Athanasius dan Hieronimus. Dekrit Damasus menyatakan dengan jelas bahwa kanon Kitab Suci itu ditetapkan oleh Gereja Katolik yang universal. Perlu diingat primat dan otoritas Gereja Roma yang diakui oleh gereja-gereja lokal lainnya. 
• Pada akhir abad IV banyak gereja lokal menerima keputusan dekrit Damasus tersebut, yakni konsili di Hippo (Afrika) pada tahun 393; konsili Kartago (Afrika) pada tahun 397 dan 419. 
• Konsili umum di Firenze (ltalia) pada tahun 1441 juga meneguhkan kanon tersebut.

Keputusan yang definitif bagi Gereja Katolik terjadi dalam Konsili Trente (tahun 1546) yang menetapkan kanon seluruh Alkitab, yaitu 45 kitab untuk Perjanjian Lama dan 27 kitab untuk Perjanjian Baru. 

Isi Kanon Perjanjian Baru 
Perjanjian Baru terdiri dari 27 kitab dan surat yang diatur dengan urutan sebagai berikut: 
1. Injil terdiri dari Matius, Markus, Lukas, Yohanes yang memberi kesaksian tentang ajaran dan karya Yesus selama hidupNya di dunia. 
2. Kisah Para Rasul yang berbentuk cerita dan wejangan seperti terdapat dalam Injil. Kisah yang mendapat sorotan utama adalah apa yang terjadi setelah Yesus tidak lagi berkarya di dunia. 
3. Surat-surat yang terdiri dari: 
a. 13 surat Pulus dengan menempatkan surat-surat kepada jemaat pada tempat pertama disusul dengan surat-surat kepada tokoh-tokoh tertentu. 
b. Surat kepada Orang Ibrani ditempatkan menyusul setelah surat-surat Paulus karena gaya bahasanya memang mirip dengan gaya bahasa Paulus. Namun diragukan sebagai benar-benar karangan Paulus. 
c. Surat-surat Katolik yang terdiri dari 7 karangan. Disebut Katolik yang berarti umum ada karena tidak ditujukan kepada jemaat tertentu. Surat-surat Katolik terdiri dari 1 Ptr (ditujukan kepada sejumlah jemaat), 1 Yoh (kepada umum), Yak, 2 Ptr, Yud (tanpa alamat), 2 Yoh dan 3 Yoh (ditujukan kepada orang tertentu). 
4. Wahyu Yohanes ditempatkan paling akhir sebab kitab ini berbicara tentang akhir dari seluruh sejarah manusia. 



PENGANTAR KITAB SUCI PERJANJIAN LAMA 

I. SEJARAH ISRAEL 
Perjanjian Lama adalah buku sejarah yang amat khusus. Buku ini tidak hanya berbicara tentang sejarah Israel tapi juga tentang sejarah keterlibatan Allah dalam sejarah tersebut. Perjanjian Lama memuat buku-buku yang dihasilkan Israel dalam perjalanan sejarahnya. Buku ini menyebut banyak peristiwa yang terjadi dalam ruang dan waktu serta menyusunnya menurut urutan dan peredaran waktu, khususnya dalam Penteteukh dan kitab-kitab sejarah. Buku-buku lain haruslah juga dimengerti menurut latar belakang sejarahnya. Buku-buku yang bukan merupakan buku sejarah juga mempunyai hubungan dengan sejarah Israel. Contohnya adalah Kitab-kitab Kebijaksanaan dan nyanyian di mana ditunjukkan keterkaitan buku-buku ini dengan raja Yehuda, Daud, Salomo.

Sejarah Israel dapat dibagi atas lima periode yaitu: 

1 Periode Awal Mula 
Periode awal mula dihitung mulai dari Abraham sampai dengan zaman para hakim. Ada yang menyebut periode ini zaman para hakim dimulai pada zaman pasca pemukiman dan pendudukan tanah Kanaan sampai munculnya sistem kerajaan pada 10 SM. Ada 12 hakim yang disebut dalam Kitab Suci. Umumnya kedua belas hakim itu dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu kelompok yang berperang dan kelompok yang memerintah.

Periode awal mula dapat dibagi lagi dalam beberapa fase yaitu: 
• Fase Bapa Bangsa (Kej 12-50) 
Israel menyebut nenek moyang mereka dengan “mereka”. Nama nenek moyang mereka adalah Abraham, Ishak dan Yakub. Ketiganya sangat kerap disebut sejajar. Mereka ini kita sebut bapa-bapa bangsa, namun hanya Yakublah yang dikatakan sebagai bapa dari kedua belas suku Israel.
Cerita tentang bapa-bapa bangsa ini terdapat dalam Kitab Kejadian dengan perincian sebagai berikut: Abraham (Kej 12-25), Ishak (Kej 26), Yakub (Kej 25-36). Cerita tentang Yakub ini dilanjutkan dalam cerita tentang Yusuf (Kej 37-50) sehingga bagian ini juga dimasukkan dalam fase bapa bangsa.
Bagian Kitab Suci yang berbicara tentang bapa-bapa bangsa Israel bukanlah dokumen sejarah, melainkan cerita-cerita iman. Sulit sekali menempatkan cerita-cerita ini dalam konteks sejarah Timur Tengah Purba karena teks-teks ini tidak selalu mengandung data-data sejarah dalam pengertian modern. 
• Fase Eksodus (Kel 1-15) 
Eksodus berarti keberangkatan atau berjalan keluar. Dalam hal ini berarti keberangkatan atau pembebasan Israel dari perbudakan Mesir. Kel 1-15 ini bukanlah sejarah yang terjadi sesudah bapa-bapa bangsa. Dari sudut sejarah kita hanya dapat mengatakan bahwa teks-teks ini memberikan kesaksian bahwa Israel juga punya awal sejarah di Mesir. 
Kel 1-15 ini bukanlah suatu dokumen sejarah. Seluruhnya adalah cerita iman. Kel 1-15 ini mengandung teologi yaitu bahwa Tuhan mengubah jeritan bangsa Israel menjadi nyanyian sukacita. 
• Fase Padang Gurun (Kel 15-UI) 
Fase ini berbicara tentang perjalanan Israel melalui padang gurun, akan tetapi tidak seluruhnya berbicara tentang perjalanan Israel melainkan juga berbicara tentang hukum, peraturan dan pendudukan suatu daerah. 
Kel 15-UI adalah suatu dokumen iman dan bukan dokumen sejarah. Dokumen-dokumen yang berbicara tentang “wilayah” padang gurun ini praktis tidak ada dan pengenalan kita tentang semananjung Sinai amatlah terbatas. Dari penelitian yang dilakukan terhadap dokumen-dokumen ini, muncullah hipotesa yang mengatakan bahwa letak Gunung Sinai itu di semenanjung Arab, antara Edom dan Midian. Menurut hipotesa ini Midian terletak di sebelah tenggara teluk Aqaba. Kesimpulan selanjutnya adalah bahwa letak Gunung Sinai amat sulit dipastikan. Gunung ini Iebih mempunyai arti teologis daripada historis.
• Fase Pemukiman dan Pendudukan (Yos-Hak 1) 
Pemukiman dan pendudukan adalah dua istilah yang berdekatan artinya tetapi tidak persis sama. Pemukiman bisa terjadi tanpa kekerasan sedangkan pendudukan selalu disertai kekerasan. 
Fase ini menurut Kitab Suci merupakan tahap baru dalam sejarah Israel. Pemukiman dan pendudukan tanah Kanaan oleh suku-suku Israel tidak begitu saja dapat dikatakan terjadi sesudah kelompok yang dipimpin Musa (yang dikenal dengan kelompok orang-orang apiru) bebas dari Mesir. Ada berbagai kelompok atau suku yang memasuki Kanaan dan mungkin tidak terjadi dalam waktu bersamaan. 
Dokumen pertama yang menjadi sumber untuk mempelajari sejarah pemukiman dan pendudukan tanah Kanaan adalah kitab Yosua. Kitab ini berbicara tentang pendudukan tanah Kanaan yang dilakukan oleh semua suku Israel secara bersama-sama di bawah pimpinan Yosua. Setelah seluruh Kanaan ditaklukkan, lalu diadakan pembagian tanah Kanaan di antara suku-suku Israel dan disebut pula batas-batas tanah untuk masing-masing suku (Yos 13-19). Kitab ini ditutup dengan berbagai ketetapan, keputusan, nasihat dan perjanjian untuk menjamin hidup bersama dan kesetiaan kepada Tuhan (Yos 20-24). 

Terdapat kesulitan dari segi arkeologi Palestina karena tidak semua tempat yang dsebut dalam Kitab Suci dapat ditentukan dengan pasti. Data-data arkeologis bersifat ambigu (mendua arti), misalnya kehancuran suatu kota bisa disebabkan oleh banyak hal dan kita tak dapat memastikan penyebabnya. Namun bagaimanapun juga, penemuan-penemuan arkeologis menunjukkan bahwa pada abad ke 13-12 SM Palestina mengalami pergolakan sosial dan politik yang sangat besar. 

2 Periode Kerajaan 
Periode kerajaan (1030-586 SM) mulai dari pendirian kerajaan sampai keruntuhan kerajaan Yehuda. Ada dua kekuatan besar yang sangat mempengaruhi sejarah Israel dalam periode ini, yaitu Asyur (mulai pertengahan abad ke-8 sampai tahun 622 SM) dan Babel (mulai tahun 622 SM sampai keruntuhan kerajaan Yehuda). Di samping kedua kerajaan besar ini, Israel juga menghadapi kerajaan-keraaan kecil tetangganya, yaitu kerajaan kota orang Filistin di pantai barat dan kerajaan Edom, Moab, Amon dan Aram di perbatasan timurnya. Israel yang pada zaman para hakim terdiri atas suku-suku, mulai awal abad 10 SM berubah menjadi Israel yang mempunyai kerajaan dan kekuasaan pusat dengan raja, ibu kota dan politik luar negerinya sendiri. Kitab yang berbicara tentang periode ini adalah 1-2 Sam, 1-2 Raj, 1-2 Taw.

Dalam sejarah Israel pada periode ini, yang pada umumnya memegang peranan adalah tokoh-tokoh politik utama, yaitu para raja. Di samping mereka ada tokoh lain, yaitu para nabi. Mereka berada di luar lingkungan kekuasaan tetapi sangat vokal melontarkan kritik-kritik tajam atas situasi politik zamannya. Para nabi ini akan kita bicarakan secara Iebih khusus di bawah. 
Kitab-kitab Samuel dan Raja-raja termasuk buku-buku di mana Israel menuliskan sejarahnya. Peristiwa-peristiwa diurutkan menurut urutan kronologisnya. Sumber-sumber penulisan sejarah ini kadang-kadang dituliskan khususnya dalam kitab Raja-raja. Akan tetapi, perlu kita perhatikan bahwa bahan-bahan yang digunakan tidak selalu bersifat sejarah, ada yang bersifat cerita-cerita rakyat. Sejarah yang dituliskan di sini sudah mendapat penafsiran teologis. 

Sekilas mengenal Raja-raja Pertama Israel 
• Saul 
Kerajaan pertama Israel terbentuk di bawah kekuasaan raja Saul (1 Sam 1-15). Kitab Suci memberikan tiga versi tentang bagaimana Saul menjadi raja. Ketiga versi itu adalah: 
o pertama, melalui Samuel dengan urapan secara rahasia (1 Sam 9:1-10:16); 
o kedua, melalui undian dalam suatu rapat rakyat di Mizpa (1 Sam 10:17-27); 
o ketiga, melalui rapat rakyat di Gilgal setelah Saul menyelamatkan Yabesy-Gilead dari orang Amon (1 Sam 11:1-15). 
Tentu saja ketiga hal ini bukan bersifat laporan tetapi masing-masing cerita mau menyampaikan arti dari peristiwa Saul menjadi raja. 
• Daud 
Selanjutnya, kerajaan Israel berada di tangan Raja Daud. Di bawah pemerintahan Daud, Israel mengalami kejayaan dan kekuasaan yang amat besar. Teologi yang diberikan pengarang Kitab Suci tentang pemerintahan Raja Daud adalah bahwa kebesaran Daud terjadi karena pertolongan Tuhan. Kita hanya dapat mengerti teologi ini bila kita memahami latar belakang pandangan pengarang tentang kedudukan raja dalam hubungannya dengan Tuhan. Bangsa-bangsa TimurTengah Purba memandang raja sebagai wakil Tuhan di dunia; oleh karena itu kerajaannya bersifat sakral. 
• Salomo 
Raja yang tidak kalah pentingnya dalam sejarah Israel adalah Raja Salomo, yang dikenal sebagai raja pembangun. Salomo membangun banyak sekali, antara lain bait suci, kompleks istana, tembok kota Yerusalem; memperkuat kota-kota: Hazor, Megido dan Gezer, Bet Horon hilir, Baalat dan Tamar di Yehuda; membangun 4000 kandang kuda untuk 12000 kuda, gudang-gudang perbekalan/kota-kota perbekalan dan membuat kapal-kapal di Ezion-Geber. Dampak dari semua proyek pembangunan ini sangat besar. Rakyat harus memikul seluruh bebannya. Semua demi kepentingan raja dan diatur dari pusat. Salomo memang memiliki perangkat kekuasaan pusat yang lengkap. Dia membagi kerajaannya atas dua belas wilayah yang masing-masing dikepalai oleh kepala daerah. Salomo mengerahkan orang-orang pekerja rodi dari seluruh Israel. Dapat diduga bahwa penindasan ini kemudian membangkitkan suatu perlawanan/pemberontakan, salah satunya dipimpin oleh Yerobeam bin Nebat dari suku Efraim. 
Israel pada masa ini banyak menggalang hubungan dagang internasional yang cukup luas (1 Raj 9:26-10:29). Bahasa dalam teks ini bersifat hiperbolis namun juga mengandung kebenaran historis. Hubungan dagang dilakukan melalui laut dan darat. Mungkin untuk urusan dagang ini pula, ratu Syeba datang berkunjung ke Yerusalem menemui raja Salomo. 
Setelah kematian Salomo, maka kerajaan Daud-Salomo pecah menjadi kerajaan Israel (bagian utara) dan kerajaan Yehuda (bagian selatan). Sejarah kedua kerajaan terdapat dalam kitab-kitab Amos, Hosea, Yesaya, Mikha, Nahum, Zefanya, Yeremia, Habakuk, Obaja, Yehezkiel dan dokumen-dokumen sejarah TimurTengah Purba, terutama dokumen kemaharajaan Asyur. 

3 Periode Pembuangan 
Setelah Salomo meninggal dunia, anaknya Rehabeam seharusnya menggantikannya. Tetapi pada pertemuan pertama dengan wakil suku di Sikhem, sebagaimana diceritakan dalam 1 Raj 12:1 -24, Rehabeam tidak mau mengindahkan tuntutan yang wajar dari suku-suku di Palestina Tengah dan Utara. Suku-suku ini menuntut agar ia memperingan beban pajak dan kerja paksa. Akhirnya Rehabeam ditolak oleh suku-suku itu dan mereka mengangkat Yerobeam menjadi raja. Rehabeam hanya diakui sebagai raja oleh suku Yehuda dan oleh sebagian dari suku Benyamin karena terpaksa. Suku Benyamin terpaksa mengakui Rehabeam sebagai raja karena sebagian dari wilayahnya diduduki oleh raja tersebut. 

Sejak tahun 930 SM timbul kedua kerajaan mini, yaitu Kerajaan Yehuda (selatan) dan Kerajaan Israel (utara). 

Sepanjang abad ke-9 SM kerajaan Israel (utara) mengalami ancaman dari tetangga sebelah utara, yaitu bangsa Aram. Sering terjadi peperangan melawan bangsa itu. Raja Omri (886-875 SM) tidak berdaya melawan Aram. Ia mendirikan ibu kota yang baru, yakni Samaria. Tahun 724 SM raja Salmaneser V datang dan menghancurkan kota-kota kerajaan Israel (utara). Samaria dikepung selama kurang Iebih tiga tahun dan jatuh pada tahun 722 SM. Dengan ini berakhirlah kerajaan Israel dan Samaria menjadi salah satu propinsi Asyur. Sargon II (722-705 SM) yang menggantikan Salmaneser V mengangkut banyak orang Israel ke pembuangan. Masyarakat lapisan atas dibawa sebagai orang buangan ke Mesopotamia. Sebagai gantinya orang dari Mesopotamia dipindahkan ke wilayah bekas kerajaan Israel itu. Demikianlah lama kelamaan muncul suatu bangsa campuran yang terdiri dari unsur Israel, unsur Kanaan dan unsur Mesopotami. Di kemudian hari orang campuran ini tidak diterima lagi sebagai “sisa Israel yang sah” oleh kaum Yahudi sesudah masa pembuangan. Mereka itulah yang selanjutnya disebut orang-orang Samaria. 

Sejarah kerajaan Yehuda selama 20 tahun terakhir sebelum kehancurannya diwarnai oleh perbuatan dan tindakan bodoh para raja di Yerusalem. Hal ini terjadi karena adanya dua kelompok penasihat istana, yang satu pro-Babel dan yang lain pro-Mesir (2Raj 23:31-25:26 dan Kitab Yeremia). Sekitar tahun 604 SM Babel menguasai seluruh wilayah Siria-Palestina. Kota Yerusalem dikepung selama satu setengah tahun dan dihancurkan total pada tahun 587 SM. Dalam perang melawan Babel ini banyak sekali orang tewas. Lapisan atas penduduk yang tersisa, antara lain raja, pangeran, tukang besi, dibuang ke Babel. lnilah yang disebut pembuangan kedua atau pembuangan besar. Periode ini singkat tapi sangat menentukan dalam perjalanan iman Israel. 

Para penulis Kitab Suci merenungkan peristiwa ini dan melihatnya sebagai akibat dari pengkhianatan Israel dan kekerasan hati mereka yang tidak mau mendengarkan para nabi yang memanggil mereka kembali pada pertobatan.

4 Periode sesudah Pembuangan 
Periode sesudah pembuangan (538-332 SM) mulai dari kembalinya orang-orang buangan ke Palestina sampai dengan keruntuhan kekuasaan Persia. Ada yang menyebut periode ini zaman Persia dan yang lain menyebutnya zaman pembaharuan. 

Raja Koresy memberikan izin kepada orang-orang buangan di Babel untuk pulang ke Yehuda (Ezr 1:2-4). Namun tidak semua orang mau menggunakan kesempatan ini. Sebagian yang tidak mau kembali adalah orang-orang yang keadaan sosial ekonominya di Babel sudah baik. Mereka itulah yang menjadi asal-usul kelompok Yahudi di Mesopotamia yang selanjutnya berperan penting dalam perkembangan Yudaisme. Kelompok yang pulang ke Yehuda adalah orang-orang yang tidak terlalu berhasil di wilayah pembuangan, atau mereka yang sangat dipengaruhi oleh pewartaan Yeremia, Yehezkiel dan terutama Deutero Yesaya mengenai masa keselamatan yang akan datang sesudah pembuangan di Babel. Mereka pulang dengan semangat yang besar. 

5 Periode Yudaisme 
Periode Yudaisme (332-63 SM) merupakan zaman kekuasaan Yunani sehingga ada yang menyebutnya periode Yunani. Disebut Yudaisme karena mulai zaman ini agama Yahudi menunjukkan ciri-cirinya yang menonjol. Pada intinya agama Yahudi yang berkembang sesudah pembuangan Babel ini amat mengagungkan Taurat sebagai pusat hidup keagamaan. 

II. GEOGRAFI PALESTINA 
Tuhan telah menyatakan diriNya melalui sejarah Israel. Bangsa ini berdiam di suatu negeri yang diberikan Tuhan sebagai hadiah. Dengan demikian bahasa pernyataan diri Allah ditentukan dalam banyak hal oleh keadaan daerah itu, yakni letak geografisnya, struktur fisik dan iklimnya serta flora dan faunanya. Jadi untuk mengerti Iebih baik bahasa Kitab Suci, kita perlu mengenal keadaan tempat bangsa Israel berdiam. Kita perlu mengenal geografi Kitab Suci. 

Kitab Suci mempunyai beberapa nama/sebutan untuk negeri yang didiami oleh orang Israel yaitu: 
1. Tanah Filistin (Kel 15:14) atau tanah Filistea (Yes 14:29,31) 
2. Negeri Israel yang kadang-kadang menunjuk seluruh negeri (1 Sam 13:19; 1 Taw 22:3) tetapi kadang-kadang hanya menunjuk wilayah utara yakni kerajaan Israel. 
3. Tanah Kanaan atau negeri Orang Kanaan (Kej 12:5; 13:12; Kel 13:5,11) 
4. Tanah Perjanjian merupakan sebutan yang sering digunakan khususnya dalam kitab Ulangan. 

Palestina terletak di antara tiga benua, yaitu Asia, Afrika dan Eropa, di antara dua laut, yakni Laut Tengah dan Laut Merah serta di antara dua lembah yang sangat subur dan luas, yakni Iembah Mesopotamia dan lernbah sungai Nil. Perjalanan sejarah Israel tidak bisa tidak amat dipengaruhi oleh perkembangan politik, ekonomi dan kebudayaan daerah itu. 

Batas-batas Tanah Perjanjian 
Sungai Yordan adalah perbatasan timur Tanah Perjanjian. Tradisi tentang penyeberangan sungai Yordan (Yos. 3-4) membuktikan hal itu. Batas barat adalah Laut Tengah. Akan tetapi perlu dicatat bahwa Israel sama sekali tidak dapat menguasai seluruh pantai Palestina karena bagian selatannya dikuasai oleh orang Filistin. Sedangkan batas selatan adalah Mesir dan padang gurun Negeb. Tradisi tentang pengintaian tanah Kanaan dan Selatan (Bit 13) menunjukkan hal itu. Jarak utara-selatan biasanya disebut “dari dan sampai Bersyeba” (Hak 20:1; 1 Sam 3:20). 

Dari catatan yang ada kita dapat melihat bahwa Tanah Perjanjian tidaklah luas, hanya 13.000 km persegi. Bangsa yang berbatasan dengan Palestina adalah Edom, Moab dan Amon. 

Geografi Fisik (Topografi) 
Menurut keadaan permukaan tanahnya, Palestina terbagi atas empat daerah, yaitu: 
• daerah dataran pantai 
• daerah pegunungan 
• daerah Lembah Yordan 
• daerah pegunungan, dataran tinggi seberang timur Sungai Yordan (=Transyordania) 

Iklim 
Palestina mempunyai dua musim, yaitu musim panas dan musim dingin. Musim dingin berarti musim menabur dan musim panas sama dengan musim menuai. Musim dingin juga berarti musim hujan. Hujan awal yang turun pada bulan Nopember (8 hari hujan) dan hujan akhir yang turun dalam bulan Maret-April (14 hari hujan) sangat penting dan menentukan untuk berhasilnya tanaman. Kesuburan Palestina tergantung melulu dari hujan seperti terdapat dalam UI 11:10-12: 
“Memang negeri ke mana engkau masuk dan mendudukinya bukanlah negeri yang seperti tanah Mesir, dari mana kamu keluar; di sana engkau menabur benih kemudian kau airi dengan kaki seakan-akan kebun sayur. Tetapi negeri, kemana engkau pergi untuk mendudukinya ialah negeri yang bergunung-gunung dan berlembah-Iembah, yang mendapat air sebanyak hujan yang turun dari Iangit; suatu negeri yang dipelihara Tuhan, Allahmu. Mata Tuhan, Allahmu, tetap mengawasinya dari awal sampai akhir tahun”. 

Selama musim kering (7 bulan) praktis sama sekali tidak pernah turun hujan. Tanaman bisa bertahan hidup dari embun. Kelaparan yang kerap disebut dalam Perjanjian Lama diakibatkan terutama karena tidak ada hujan dan embun (1 Raj. 17:1, Kej 12:10; Rut 1:1; 2 Sam 21:1; Yer 14:1-6). Embun adalah tanda berkat dari Tuhan (Kej. 27:28; UI 33:13). 

Flora 
Palestina mempunyai 2600 jenis tumbuh-tumbuhan. Jumlah ini sangat besar mengingat wilayahnya sebagian terdiri dari padang gurun. Jenis tanaman yang beraneka ragam ini disebabkan jenis tanahnya yang sangat bervariasi. 

Dari 2600 jenis tumbuh-tumbuhan yang ada, Kitab Suci hanya menyebut 110 jenis. Hal ini bukan berarti bahwa Kitab Suci tidak mempunyai perhatian terhadap alam. Dan semua Kitab Suci agama-agama di dunia, Kitab Suci kita yang paling besar perhatiannya terhadap alam. Tumbuh-tumbuhan sering dihubungkan dengan ritus-ritus keagamaan, dengan hidup manusia. Membaca Kitab Suci tanpa sedikit mengenal flora Palestina akan menimbulkan banyak kesulitan. 

Kitab Suci tidak mengenal istilah tumbuh-tumbuhan atau “tanaman”. Kata yang dekat dengan ini ialah “yereq” atau yang hijau (bdk. Kej 1:30). Kej 1:11-12 membagi tumbuh-tumbuhan atas dua jenis, yaitu tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji. 

Tujuh jenis tanaman pokok yang menjadi berkat bagi orang Israel adalah: 
1. Gandum dan jelai 
Makanan pokok orang Israel adalah roti yang dibuat dari gandum dan jelai. Kedua tanaman berbiji ini ditanam hampir di seluruh Palestina: “Lembah-Iembah berselimutkan gandum” (Mzm 65:14). 
2. Pohon anggur 
Anggur termasuk tanaman pokok tanah Kanaan dan menjadi tanda kekayaan. Wilayah Yehuda adalah penghasil utamanya (Kej 49:11-12). 
3. Pohon ara 
Pohon ara adalah pohon pertama yang disebut dengan namanya dalam Kitab Suci. Cawat pertama dibuat dari daun pohon ara (Kej 3:7). Pohon ara sangat kerap disebut bersama dengan pohon anggur. 
4. Pohon delima 
Pohon delima adalah tanaman pokok tanah Kanaan dan menjadi tanda dari kekayaan (Bil 13:23). Dalam Kidung Agung si tampan dan si jelita kerap mengungkapkan cintanya dengan kiasan yang diambil dari pohon delima. 
5. Pohon Zaitun 
Pohon Zaitun adalah pohon yang paling luas ditanam di tanah Kanaan. Pohon ini bisa mencapai umur ratusan tahun, bahkan menurut para ahli sampai seribu tahun. Batangnya bisa mencapai 3 meter dan tinggi tajuknya antara 5-10 meter. Pohon yang subur bisa menghasilkan 110-120 kilogram buah zaitun tiap dua tahun. Minyak zaitun dipakai untuk menghormati Allah dan manusia (Hak 9:9). Minyak zaitun biasa digunakan dalam ibadat untuk menghormati Allah, untuk mengurapi raja serta para imam. Buahnya dapat dimakan begitu saja atau dipakai sebagai lauk pada roti. Minyaknya dipakai juga untuk menggoreng dan berurap sesudah mandi. Minyak zaitun dipakai pula sebagai bahan pelarut untuk bermacam-macam jenis wangi-wangian dan jamu. Minyak zaitun dipakai untuk menerima tamu terhormat dengan menuangkannya di atas kepalanya (Mzm 23:5, Mrk 14:3) atau untuk mengobati (Yes 1:6, Luk 10:34) 
6. Pohon Kurma 
Para ahli berpendapat bahwa yang dimaksud dengan madu (=‘debasy’) adalah gula-gula ini yang diambil dari sari buah pohon kurma atau pohon ara. Tetesan madu yang berasal dari lebah hanya disebut 5 kali. Madu adalah lambang firman Allah karena firman Allah merupakan puncak kemanisan (Sir 11:3) dan lebih manis daripada madu bahkan daripada madu tetesan dari sarang lebah (Mzm 19:11). 
7. Tanaman lain 
Masih ada 25 tanaman lain yang ditanam orang Israel di kebun atau pekarangan mereka. Beberapa di antaranya adalah: pohon badam, apel, pohon besaran, berbagai jenis bawang, berbagai jenis kacang, mentimun, semangka, sayuran, dll. 

Selain tujuh tanaman pokok orang Israel, Perjanjian Lama juga banyak menyebutkan hutan, seperti : hutan Efraim (2 Sam 18:5), hutan Yehuda (2 Raj 27:4), hutan di selatan (Yeh 21:3) hutan dekat Betel (2 Raj 2:22) dan beberapa pohon besar seperti pohon aras (Yes 35:2), pohon sanobar (Hos 14:9), pohon tarbantin (1 Raj 13:14). Juga disebutkan tentang semak duri, bunga dan kebun Tuhan. 

Fauna 
Kitab Suci banyak menyebut hal binatang. Manusia diberi kuasa atas binatang, akan tetapi binatang juga dapat menjadi musuh manusia. 

Kitab Suci membagi binatang atas lima kelompok yang tentu saja bukan merupakan pembagian ilmiah, yaitu: 
1. Binatang ternak yang meliputi: kambing, domba, lembu, keledai, anjing, kuda, unta. 
2. Binatang buas yang meliputi: serigala, anjing hutan, rubah, beruang, singa, macan, banteng, keledai liar. 
3. Burung yang meliputi: burung-burung di udara, merpati dan tekukur, elang, burung gagak, burung ranggung, burung unta. 
4. Ikan-ikan di Taut yang tidak disebutkan namanya. 
5. Binatang melata yang meliputi: ular dan buaya. 

Ada sejumlah binatang yang tidak bisa dimasukkan dalam kelompok tersebut, antara lain rusa, kijang, belalang, kalajengking, lebah dan tabuhan. 

PARA NABI DALAM PERJANJIAN LAMA 
Berbicara tentang Perjanjian Lama tidak dapat dilepaskan dari para nabi dalam sejarah Israel. Kenabian adalah suatu fenomena yang paling menggetarkan dan mempesona dalam seluruh sejarah lsrael. Berabad-abad mereka telah menjadi hati nurani Israel dalam pergolakan sejarahnya. Akan tetapi kenabian adalah suatu fenomena yang kompleks, artinya citra atau gambaran nabi itu tidak satu tetapi majemuk. 

Pada umumnya para ahli membagi fenomena ini atas tiga kategori besar yaitu: 

1 Nabi-nabi Perintis 
Nabi-nabi Perintis adalah para nabi sebelum Amos, yakni sejak akhir abad ke 11 SM sampai awal abad ke 8 SM. Cerita tentang mereka terdapat dalam 1-2 Samuel dan 1-2 Raj 13. Mereka muncul bersamaan dengan lahirnya sistem kerajaan. Beberapa dari antara mereka dekat dengan raja, tapi mereka bukan pelayan keinginan raja. 

2 Nabi-nabi Klasik 
Para Nabi Klasik terbagi lagi dalam tiga bagian yaitu: 
1. Para Nabi sebelum Pembuangan 
Para nabi sebelum pembuangan adalah Amos, Hosea, Yesaya, Mikha, Nahum, Zefanya, Yeremia, Habakuk, Obaja. Selama hampir dua abad mereka secara tak terputus menggetarkan Israel dengan pewartaan bahwa Tuhan akan datang untuk menghukum Israel. Hal ini disebabkan Israel begitu tegar hati dalam dosa dan meninggalkan Allahnya. 
2. Para Nabi dalam Pembuangan 
Para nabi, selama pembuangan termasuk Yesaya dan Deutero Yesaya. Pembuangan Babel merupakan titik balik dalam pewartaan kenabian. Sebelum penghancuran Yerusalem dan keruntuhan kerajaan Yehuda pada tahun 586, Yehezkiel tampil sebagai nabi yang mewartakan murka Tuhan. Sesudah keruntuhan ini dia dan kemudian nabi Deutero Yesaya mewartakan kerahiman Tuhan. Perubahan ini terjadi karena apa yang diwartakan nabi-nabi sebelum pembuangan sudah dipenuhi.
3. Para Nabi sesudah Pembuangan 
Para nabi sesudah pembuangan adalah Trito Yesaya, Hagai, Zakharia, Maleakhi dan Yoel. Mereka mewarisi semangat nabi-nabi sebelum pembuangan dan masa pembuangan. Yang tidak lagi muncul dalam pewartaan mereka adalah hukuman Israel. 

Di antara ketiga kelompok ini yang paling berpengaruh adalah nabi-nabi sebelum pembuangan dan nabi-nabi dalam pembuangan, yaitu Amos, Hosea, Yesaya, Mikha, Nahum, Zefanya, Yeremia, Habakuk, Yehezkiel. Obaja. Deutero Yesaya. 

3 “Nabi-Nabi” atau Penulis Apokaliptis 
Setelah fenomena kenabian berakhir pada abad ke-5 SM, muncul fenomena baru yang meskipun mengandung unsur-unsur kenabian, mempunyai tekanan ciri-ciri tersendiri. Fenomena baru ini ialah munculnya kesusasteraan Apokaliptis (misalnya Yes 24-27, Za 12-14 dan kitab Daniel). Berbeda dengan para nabi, penulis-penulis Apokaliptis tidak tampil di depan umum. Mereka sepertinya berbicara dari kesunyian dan persembunyian. Perhatian mereka melulu ke masa depan, ke karya Allah pada akhir sejarah yang menyangkut seluruh umat manusia. 

Di antara tiga kategori besar ini, yang paling berpengaruh dan praktis menentukan arti panggilan kenabian ialah para nabi klasik.

Para nabi mewartakan firman Allah bukan hanya dengan kata-kata, melainkan pula dengan perbuatan-perbuatan tanda atau simbolis. Bentuk pewartaan melalui tindakan termasuk dalam hakekat firman Allah itu sendiri. Perbuatan tanda kenabian dapat melibatkan seluruh pribadi seorang nabi dan berlangsung selama seluruh perutusannya. Hosea diperintahkan Tuhan untuk mengawini seorang perempuan sundal (Hos 1:2-9) dan harus tetap setia kepadanya meskipun dia berlaku tidak setia. Betapa Hosea harus menderita seumur hidupnya Yeremia diperintahkan Tuhan supaya jangan mengambil istri dan supaya jangan mempunyai anak (Yer 16:1-9) karena seluruh hidupnya harus menjadi tanda dari malapetaka yang akan datang. Dalam perbuatan tanda kita dapat melihat pula bahwa hidup para nabi tidak dapat dipisahkan dari firman yang diwartakannya. 

PENGANTAR KITAB SUCI PERJANJIAN BARU 

NAMA 
Istilah “Perjanjian Baru” dapat mengacu pada dua hal, yaitu pada hubungan baru antara Allah dan manusia yang terjadi berkat kurban Yesus Kristus, dan pada bagian khusus Kitab Suci orang kristen yang mengungkapkan seluk-beluk hubungan baru tersebut. 

Sesuai dengan namanya, pada hakekatnya si Perjanjian Baru adalah kabar baik mengenai Perjanjian Baru yang telah diikat Allah melalui Puteranya Yesus Kristus dan dalam darahNya (bdk. Luk 22:20). Perjanjian Baru yang diikat oleh darah Yesus itu menciptakan hubungan baru antara Allah dan manusia. Perjanjian Baru ini menggantikan Perjanjian Lama, yang terjadi melalui perjanjian Sinai, suatu hubungan perjanjian yang bersifat kontrak timbal balik. Perjanjian Lama ini rapuh dan berulang kali putus karena ketidaksetiaan umat terpilih. Melalui Nabi Yeremia (Yer 31:31-34) Allah menjanjikan suatu Perjanjian Baru yang tidak lagi bergantung pada kesetiaan manusia melainkan pada kasih Allah yang bersedia mengampuni dosa-dosa manusia melalui PuteraNya, Yesus Kristus. Bagaimana Allah menggenapi nubuat Yeremia itulah yang diwartakan oleh kitab Perjanjian Baru. 

Perjanjian Baru merupakan pewartaan tentang perbuatan dan ajaran Yesus Kristus sejauh itu diimani dan ditafsirkan oleh Gereja Rasuli. 


SEJARAH RINGKAS TERBENTUKNYA KITAB SUCI PERJANJIAN BARU 

1. Tradisi Lisan 
Pertama-tama yang ada hanyalah pewartaan lisan para rasul lewat khotbah tentang Yesus kemana-mana. Pengalaman bersama Yesus masih sangat hidup dalam ingatan para rasul. Berdasarkan ingatan itulah mereka mengajar umat. 

2. Tradisi Tertulis 
Dalam perjalanan waktu timbullah tulisan-tulisan sebagai pembekuan tradisi lisan. Sebagian lainnya seperti surat-surat Paulus bukanlah perkembangan tradisi lisan melainkan langsung ditulis. 

Ada dua hal yang mendorong terbentuknya tulisan-tulisan Perjanjian Baru, yaitu: 
1. Timbulnya masalah dan kebutuhan di kalangan jemaat Kristen yang sudah tersebar dimana-mana, misalnya pertikaian dan perpecahan dalam tubuh umat, perlunya pembinaan iman umat yang baru bertobat atau yang mengalami pengejaran dan penganiayaan, timbulnya persoalan-persoalan teologis, dsb. Namun karena para rasul atau para pembantu mereka tidak dapat datang secara pribadi, maka bentuk tulisanlah yang dapat dipakai sebagai ganti pewartaan lisan para rasul dan pembantu mereka. lni nampak nyata pada surat-surat Paulus atau surat keputusan konsili di Yerusalem kepada umat di Antiokhia, Siria dan Kilikia (Kis 15:22-29). 
2. Karena para rasul dan saksi mata wafat satu demi satu, maka jemaat Kristen mulai merasakan kebutuhan untuk menuliskan ajaran Yesus yang diteruskan oleh para rasul itu sebagai pegangan/pedoman tertulis. 

3 Pengumpulan Tulisan-tulisan Perjanjian Baru 
Dari data Perjanjian Baru dapat disimpulkan bahwa surat-surat Paulus itu dibacakan kepada jemaat dan diteruskan juga kepada jemaat lain (Kol 4:16). Ada pertukaran surat antara jemaat yang satu dengan yang lain, paling tidak di tiga gereja, yaitu di Tesalonika, Kolose dan Laodikia. Khususnya surat-surat Paulus sudah dikumpulkan dan disimpan sejak semula (2 Ptr 3:15-16). Surat Paulus yang terbentuk paling awal dari antara tulisan-tulisan PB yang lain adalah 1 Tes. 

Selain surat-surat Paulus, ada banyak tulisan lain. Dan antara sekian banyak tulisan perlu disebut secara khusus dua kumpulan, yaitu: 
1. Kisah sengsara Yesus Kristus secara keseluruhan yang merupakan bagian Kitab Injil yang paling tua. 
2. Kumpulan sabda-sabda Yesus yang disebut “Kumpulan Ucapan” (Saying Source) atau Sumber Q (Q adalah huruf depan dari kata Jerman: Quelle). 

Lama kelamaan tulisan-tulisan Paulus dan tulisan-tulisan lainnya yang tersebar di banyak tempat mulai dikumpulkan dan dijadikan satu. 

LATAR BELAKANG PERJANJIAN BARU 

Latar Belakang Politik 
ada waktu Yesus lahir di dunia, Palestina berada di bawah kekuasaan kekaisaran Romawi, namun dalam praktek pemerintahan sehari-hari dipegang oleh penguasa-penguasa setempat yang menjadi raja boneka dari Roma. Raja yang memerintah pada waktu itu adalah Herodes Agung (40 SM - 4 M). Herodes ini adalah seorang licik, penuh curiga pada siapapun dan suka menjilat penguasa Roma. Ia sangat dihantui oleh pemberontakan, maka tidaklah mengherankan bahwa Herodes Agung panik sewaktu mendengar berita kelahiran Raja baru dari orang-orang majus.

Setelah Herodes Agung wafat, kerajaannya dibagikan kepada tiga puteranya, yaitu: 
1. Arkhelaus, yang menjadi pengasa atas Yudea, Samania dan ldumea. 
2. Herodes Antipas, yang menjadi penguasa atas Galilea dan Perea. 
3. Filipus, yang menjadi penguasa atas daerah Iturea, Trakhonitis dan daerah-daerah dekat danau Galilea. 

Latar Belakang Sosio-religius 
Pada masa Yesus, ada dua praktek keagamaan Yahudi yang menjadi ciri utama dan merupakan jati diri umat Yahudi, yaitu: 
1. Sunat 
Merupakan ritus “inisiasi” menjadi anggota umat perjanjian yang telah diikat Allah dengan Abraham (Kej 17:10 dst); dengan sunat seseorang menjadi keturunan Abraham. Begitu pentingnya sunat itu dalam pandangan orang Yahudi, sehingga ritus penyunatan itu tetap bisa dilangsungkan meskipun jatuh pada hari Sabat. Tidak bersunat merupakan suatu hal yang menjijikkan bagi orang Israel. 
2. Sabat 
Hari Sabat dimulai pada hari Jumat petang (setelah matahari terbenam) dan berakhir pada Sabtu petang. Pada awalnya hari Sabat diadakan untuk membebaskan manusia dari perbudakan kerja. Maka teks-teks Penjanjian Lama yang kuno belum menghubungkan praktek Sabat dengan ibadah, melainkan hanya melarang orang mencari nafkah dan pekerjaan Iainnya. Lama kelamaan Sabat dihubungkan dengan ibadat kepada Allah. Hari Sabat dalam Im 19:30 dihubungkan dengan tempat kudus Tuhan dan dalam Im 23:3 dihubungkan dengan pertemuan kudus. Hari itu menjadi hari ibadat, hari sukacita dan hari Tuhan (Hos 2:10). 
Pada zaman Perjanjian Baru peraturan-peratunan yang ada di sekitar hari Sabat begitu rumit. Menjaga hari Sabat adalah salah satu kesibukan ahli Taurat atau rabi waktu itu. Ada 39 kelompok pekerjaan yang tidak boleh dilakukan pada hari Sabat, antara lain: menyalakan api, berjalan lebih dari 900 meter (bdk Mat 24:20), menguraikan tali simpul. Akan tetapi di lain pihak, demi kelangsungan hidup sehari-hari, ada banyak usaha orang menafsirkan peraturan tersebut sedemikian rupa sehingga ada jalan keluarnya. Misalnya menguraikan tali simpul diperbolehkan asalkan dilakukan dengan satu tangan saja, dll.
Hukum Sabat dapat dibatalkan demi kebutuhan yang lebih tinggi nilainya, seperti adanya bahaya maut, penyunatan anak (Yoh 7:22), persiapan pesta Paskah dll.


Latar Belakang Religius-politis 

Ada beberapa kelompok keagamaan dan politis pada zaman Yesus, yaitu: 
1. Kaum Farisi 
Kata Farisi berasal dari kata “paras”, yang artinya memisahkan. Mereka itu kelompok “terpisah” dalam arti terpisah dari orang-orang lain yang mereka anggap tidak setia kepada agama Yahudi yang sejati. Orang-orang Yahudi yang tidak termasuk kelompok mereka mendapat sebutan ‘am ha arets’, suatu julukan bernada negatif yang berarti rakyat dan tanah kafir yang tidak mengenal Taurat. Orang Farisi tidak mau bertamu atau menerima ‘am ha arets’ sebagai tamu. 

Kebanyakan orang Farisi adalah rakyat biasa, meskipun ada juga yang berasal dari golongan imam kelas bawah. 

GoIongan Farisi ini menerima tradisi tertulis, yaitu Kitab Taurat Musa, maupun tradisi Lisan yang mengandung 613 perintah itu. Jadi mereka menerima juga perintah yang merupakan tafsiran Taurat. 

Kaum Farisi menaruh antipati terhadap unsur-unsur asing karena mereka ingin mempertahankan kemurnian agama Yahudi. Mereka menolak bekerjasama dengan penjajah Roma. Mereka ingin dekat dengan rakyat jelata. Rakyat menganggap mereka sebagai penjaga warisan rohani bangsa Israel dan ahli dalam penafsiran Taurat. Mereka populer sebagai pemimpin rohani bangsa. Namun sayangnya banyak kaum Farisi jatuh ke dalam legalisme artinya terlalu mementingkan hukum-hukum yang lahiriah sampai hal sekecil-kecilnya. 

Kaum Farisi cukup lunak dalam prinsip agama karena mereka menerima baik tradisi tertulis maupun lisan, namun dalam menerapkan tafsiran dan tradisi nenek moyang, mereka sangat keras dan kaku. 

2. Kaum Saduki 
Lawan kaum Farisi adalah kaum Saduki. Kata “Saduki” berasal dari nama “Sadoq”, yakni imam besar Sadoq. Mereka itu kebanyakan imam kelas atas. Oleh karena itu kedudukan anggotanya adalah di sekitar Bait Allah. Sesudah kehancuran Bait Allah tahun 70 M kelompok Saduki ini lenyap dari panggung sejarah. 

Dalam hal kepercayaan kaum Saduki bertentangan dengan kaum Farisi. Mereka hanya menerima tradisi tertulis, yaitu Taurat Musa. Tradisi lisan yang sangat diagungkan oleh kaum Farisi mereka anggap sebagai rekayasa manusia saja. Mereka tidak menerima adanya kebangkitan badan karena tidak ditemukan dalam kitab Taurat. Mereka juga tidak menerima adanya malaikat atau roh walaupun jelas disebutkan dalam kitab Taurat (bdk Kis 23:8). 

Orang-orang Saduki keras dalam soal prinsip agama sebab mereka hanya menerima Sabda Allah dalam bentuk tertulis, namun mereka lunak dalam praktek hidup, karena mereka ternyata cukup terbuka terhadap unsur-unsur budaya asing. 

3. Orang-orang Zelot 
Sebenarnya orang Zelot adalah orang-orang Farisi yang amat radikal. Nama “Zelot” berasal dari kata Yunani “zelotai”, yang berarti orang yang semangatnya berkobar-kobar. Menafsirkan Kitab Taurat secara radikal dan bertekad untuk setia padanya, orang Zelot tidak mau mengakui 
penguasa duniawi manapun juga. Satu-satunya penguasa yang harus dihormati hanyalah Yahweh, Allah Israel. 

4 Kaum Sicari 
Kelompok Sicari adalah orang-orang Zelot yang lebih ekstrim lagi dan amat pemberani. Mereka membawa golok kecil yang disembunyikan di balik jubah mereka untuk membunuh orang- orang Roma yang mereka temukan. Golok kecil itu disebut “sica” dalam bahasa Latin. 

5. Kaum Esseni atau Qumran 
Menurut Yosefus Flavius dan Philo dari Alezandria, dua orang penulis Yahudi, kaum Esseni tersebar di seluruh Palestina. Akan tetapi pusat kediaman mereka ada di tepi Laut Mati. Menurut pendapat ahli, kaum Esseni ini identik dengan orang-orang yang tinggal di Qumran. Kaum Esseni termasuk aliran apokaliptik. Kaum Qumran menantikan suatu masa yang baru dimana janji-janji Allah kepada orang-orang kecil terpenuhi. Mereka yakin bahwa dunia sekarang ini sudah rusak di bawah kekuasaan setan. Kaum Qumran didirikan oleh seseorang yang tidak diketahui namanya dan yang mendapat gelar Guru Kebenaran. Dialah yang memimpin imam kelas bawah, kaum Lewi dan orang awam lari ke padang gurun. 

6. Ahli Taurat 
Para ahli Taurat adalah setiap orang Israel yang dianggap mahir dalam soal kitab Taurat. Mereka itu bisa seorang imam, bisa juga awam, bisa penganut aliran Saduki, bisa juga dan kaum Farisi atau aliran lain. Akan tetapi, karena fungsi para imam Iama-kelamaan terbatas pada soal ibadah di Bait Allah, maka tugas mengajarkan Sabda Allah dan membimbing rohani umat hampir seluruhnya ada di tangan kaum Farisi yang mayoritas awam. Maka kebanyakan ahli Taurat adalah orang awam dan golongan Farisi. 

Latar Belakang Ekonomi 
Tanah Palestina kering kerontang dengan hanya sebagian kecil saja di utara dekat Galilea yang cukup subur. Hal ini menyebabkan kemiskinan sebagian besar penduduknya yang kebanyakan bermata pencaharian sebagai pekerja pada kebun-kebun orang lain, petani, dan penggembala. Para pemilik tanah, para imam dan aristokrat adalah golongan orang yang cukup kaya. Rakyat miskin sering harus menganggur karena tenaga mereka digunakan hanya pada musim-musim tertentu atau sebagai pekerja harian. Ketidakadilan sosial terjadi atas kaum miskin. Peraturan pajak banyak menekan rakyat kecil. 

IV. GARIS BESAR ISI PERJANJIAN BARU 
Dalam Perjanjian Baru terkumpul 27 karangan. Masing-masing karangan itu dengan caranya tersendiri berbicara tentang Yesus Kristus, karya-karyaNya maupun ajaran-ajaranNya. Meskipun Perjanjian Baru berpusat pada Yesus Kristus, namun di dalamnya juga tercantum beberapa hal mengenai mereka yang percaya kepada Yesus Kristus, jadi mengenai umat Kristen awali. 

Karangan-karangan dalam Perjanjian Baru dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian menurut corak, ciri dan isinya, yaitu: 

1 Injil-injil 
Injil bercerita langsung mengenai Yesus selagi hidup di dunia, karya-karyaNya, dan wejangan-wejanganNya. Semua Injil berhenti dengan berita atau cerita tentang Yesus yang menampakkan diri setelah wafat di salib dan bangkit dan dunia orang mati. Kecuali Lukas, Injil mengisahkan juga tentang kenaikan Yesus Kristus ke surga. Berdasarkan tulisan Papias, orang pernah beranggapan bahwa Injil yang tertua adalah Matius. Namun dalam perkembangan dewasa ini, sebagian ahli mengatakan bahwa Injil Markus adalah Injil yang tertua. 

2 Kisah Para Rasul 
Sesudah keempat Injil tersebut ditemukan sebuah karangan panjang yang diberi judul: Kisah para Rasul. Bagian ini sebenarnya melanjutkan Injil Lukas. Karangan ini berupa kisah yang memuat beberapa wejangan juga. Kisah ini menuliskan apa yang terjadi setelah Yesus naik ke surga, tentang jemaat perdana, penyebarannya dan mengenal tokoh-tokoh jemaat perdana, khususnya Paulus. Kisah para Rasul berakhir dengan cerita tentang Paulus dalam tahanan di kota Roma. 

3 Surat-surat 
Setelah Kisah para Rasul, dapat kita temukan 21 tulisan yang mempunya ciri dan corak yang berbeda dengan bagian-bagian sebelumnya. Tulisan-tulisan ini lebih berupa surat-surat yang berisi macam-macam nasihat, ada juga yang merupakan kumpulan petuah seperti Yak, 1 Yoh dan Ibr. Panjangnya karangan-karangan itu berbeda satu dengan yang lain. Ada yang panjang seperti Rm, tapi ada juga yang pendek seperti FIm, 1 Yoh, 3 Yoh. 

Dan kelompok surat-surat ini dapat kita bagi dua kelompok besar, yaitu: 
1. Surat-surat Paulus 
Ada 14 surat-surat karangan Paulus. Karangan ini lebih merupakan khotbah tertulis Paulus kepada jemaat-jemaat atau pribadi. Surat-surat yang ditujukan kepada jemaat ditempatkan lebih dulu, barulah kemudian surat-surat kepada orang-orang tertentu. Pengurutan surat-surat ini berdasarkan panjangnya, bukan berdasarkan urutan waktu penulisannya, kecuali surat kepada orang Ibrani, walaupun cukup panjang, diletakkan paling akhir karena orang masih ragu-ragu apakah karangan ini benar-benar tulisan Paulus. Kadang-kadang surat-surat Paulus ini juga dikelompokkan menjadi surat-surat Paulus yang besar (Rm, 1 Kor, 2 Kor, Gal); surat-surat dari penjara (Ef, Flp, Kol, Fim), surat-surat pastoral (1 Tim, 2 Tim, Tit). 
2. Surat-surat Katolik 
Ada 7 surat yang disebut surat-surat Katolik. Surat-surat katolik tidak berarti surat-surat bagi Gereja Katolik, melainkan surat-surat umum (kata “Katolik” berarti umum). Karangan-karangan yang tidak semuanya berupa surat ini ditujukan kepada jemaat atau orang tertentu. Yang termasuk bagian ini adalah Yak, 1-2 Ptr, 1-3 Yoh dan Yud. Surat-surat Katolik ini tidak semuanya sejak semula diterima dalam kanon Alkitab. Ada jemaat yang menerimanya sebagai Kitab Suci, namun ada yang menolaknya. Baru sesudah tahun 400 M semua surat ini diterima sebagai Kitab Suci oleh seluruh umat Kristen, walaupun Luther cenderung membuang Yak, namun semua jemaat reformasi tetap menerimanya. 

4 Wahyu Yohanes
Wahyu 1:1 berjudul “IniIah Wahyu Yesus Kristus.” Di kalangan para ahli, judul Kitab Wahyu itu sudah menjadi istilah untuk menyebutkan suatu alam pemikiran tertentu dengan kesusasteraan apokaliptik. Alam pemikiran dan jenis sastra ini subur berkembang di kalangan orang-orang Yahudi sejak zaman Makabe sampai akhir abad kedua Masehi. 

Umat Kristen perdana cukup dipengaruhi oleh alam pemikiran apokaliptik ini sampai pada abad pertengahan. Salah satu ciri pemikiran apokaliptik adalah tentang penyingkapan “rahasia” yang tersembunyi tentang rahasia sejarah, rahasia masa depan, khususnya tentang akhir sejarah. Tidak dapat disangkal bahwa Why termasuk jenis sastra apokaliptik sebab kitab Wahyu memuat serangkaian penglihatan. Kata yang paling sering dipakai adalah “melihat”. 

Penglihatan-penglihatan itu terutama mengenai akhir zaman yang dianggap sudah dekat. Pada saat itu kuasa jahat mengganas dan menindas umat yang setia, tetapi akan dihancurkan sehingga umat yang tetap setia akan selamat. Kitab Wahyu mau memberi semangat kepada umat agar setia hingga akhir.



0 komentar:

Poskan Komentar