Ads 468x60px

Carpe Diem 1

CARPE DIEM 1 - Reguk Hari Bersama Bunda Maria (Kanisius 2009)

Sed fugit interea,
fugit inreparabile tempus
Sementara waktu yang tak tergantikan lekas berlalu
(Kutipan dari karya Vergilius, Georgicon III:284).

Suatu ketika, Dalai Lama ditanya, “apa yang paling membingungkan di dunia ini?” Dia menjawab, ”manusia.” Yah, karena ketika muda, manusia mengorbankan kesehatannya hanya demi uang. Lalu ketika tua mengorbankan uangnya demi kesehatan, dan sangat kuatir akan masa depannya, sampai tidak sempat menikmati masa kini.” Yah, kadang orang kurang mensyukuri hari ini (hic) dan disini (nunc) bukan? Wajarlah, orang Romawi kerap mengatakan, “Diem perdidi” - Saya telah kehilangan satu hari! Kalimat ini diucapkan oleh Kaisar Titus, kala ia menyadari bahwa satu hari terlewatkan tanpa kesempatan untuk melakukan hal-hal yang baik/berguna.

Disinilah, baik kita mengingat slogan orang Romawi, “Carpe Diem”, yang dalam bahasa Inggris kerap diartikan, “Seize the Day”, secara lugas berarti, “Reguklah Hari Ini”. Kalimat lengkapnya adalah, “Carpe diem, quam minimum credula postero”, yang berarti, "reguklah hari ini, dan percayalah sesedikit mungkin akan hari esok."

Kutipan filosofi dari karya Horatius Carminum ini dimaksudkan agar setiap orang belajar memaknai hidup dengan arif, duc in altum - bertolak lebih dalam, untuk “hidup lebih hidup” dari hari ke hari. Dalam kacamata iman yang lebih positif, seperti nats pemazmur yang mendaraskan, “Tuhan ajarilah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” (Mazmur 90:12)

Dalam edisi tetralogi “Carpe Diem OBOR” ini, ditampil-kenangkan secara terpisah “365 kata-kata wasiat Orang Kudus setiap hari”, “365 kata-kata Bunda Maria dan nubuat santo/a dan Gereja tentang Bunda Maria”, “365 Otak Atik Gathuk”, seperti: Bambang: Bersama Allah Makin Berkembang, Sinaga: Siap Naik ke Surga, Astuti: Asal Tuhan ada di hati, Johan: Jodohnya Tuhan, Wagiman: Wajah Giat Beriman, dsbnya. Dan terakhir, adalah “365 kata-kata seputar Requiem (kematian), dari para santo/a, satrawan, budayawan dan ilmuwan.


Harapannya, semoga tetralogi “Carpe Diem OBOR” ini, seperti namanya, “OBOR”, bisa juga menjadi obor, semacam lentera atau pelita yang menyala, terus menerangi serpihan lika-liku hidup dan carut-marut perguatan iman kita.

0 komentar:

Poskan Komentar