Ads 468x60px

Agama dalam Tantangan - Catatan Soe Hok Gie

Seorang aktivis pro demokrasi yang lahir dan tumbuh dari keluarga Katolik Tionghoa, ketika melakukan lawatan selama 70 hari ke Amerika dari 8 Oktober 1968 sampai 3 Januari 1969

Tanggal 24 Oktober 1968, saya keluyuran bersama Dave (Australia) dan Mike (Selandia Baru) di kota Salem. Kami akan pergi ke ceramah Dr. Leonard Adolf tentang Perang Vietnam, tetapi kami harus menunggu kira-kira dua jam. Karena itu kami keluyuran melihat etalase toko, dan makanan murah di cafe dan luntang-lantung biasa. Dekat kampus Universitas Willamate terdapat sebuah toko Hippies yang masih ditutup. Di toko ini dijual macam-macam: poster modern yang artistik, selendang kaum Hippies, juga tas-tas kulit mereka yang sederhana. Mata saya agak terbelalak, ketika saya melihat gambar Yesus pada sebuah poster yang tertempel sebesar jendela. Bukan karena gambarnya, tetapi membaca kata-katanya: Beberapa rumah dari toko Hippies tadi terdapat sebuah gereja Kristen (Christian Science), yang juga menjual brosur-brosur.


Betapa kontrasnya, yang satu membuat lelucon tentang Yesus, karena mereka (orang-orang Hip-pies) merasa muak dengan sistem agama yang ada, sedangkan yang lain mencoba mempengaruhi masyarakat dengan pola-pola agama yang konvensional. Waktu saya berada di Amerika, organisasi-organisasi agama sedang mengalami krisis yang amat hebat. Pastor-pastor di Texas membuat resolusi, meminta agar uskup agung mereka meletakkan jabatan (saya ingat resolusi partai-partai politik).

Gereja Katolik sedang pecah belah, karena kelompok-kelompok yang progresif menentang keputusan Paus yang dianggap kolot dalam soal pembatasan kelahiran. Krisis itu begitu dalam, sehingga diadakan konferensi uskup-uskup di seluruh Amerika di Washing¬ton, agar perpecahan gereja Katolik tidak menjadi-jadi. Dan pada waktu konferensi berlangsung, pastor-pastor progresif mengadakan demonstrasi duduk di lobi hotel, sambil main gitar dan bernyanyi.


Suasana eksplosif ini tambah meledak, ketika Jacqueline Kennedy menikah dengan Onassis, yang telah bercerai dengan istrinya. Menurut peraturan gereja Katolik, perceraian dilarang. Hanya kematian yang dapat menggugurkan perkawinan. Onassis, seorang kakek tua, yang menceraikan istrinya, dan kemudian kawin dengan janda Presiden Kennedy yang beragama Katolik. Menurut pera¬turan gereja, Jacqueline telah melanggar dan harus dikeluarkan (sementara) dari lingkungan gereja. Apakah gereja berani mengambil tindakan ini terhadap seorang tokoh publik, yang secara sadar melanggarnya (kalau yang melanggar seorang petani bukan soal), dan kemudian dibela oleh Kardinal dari Boston, teman pribadinya.

Gereja Kristen Protestan yang memang telah terpecah-pecah itu, juga mengalami hal yang sama. Di beberapa tempat, organisasi gereja adalah refleksi dari masyarakatnya. Dalam suasana masyarakat yang konservatif tadi (seperti di Afrika Selatan, gereja-gereja tertentu membenarkan apartheid. Pernah terjadi, seorang pendeta yang ingin memelopori pendekatan hitam dan putih di sebuah masyarakat yang konservatif, mendapatkan mobilnya terbakar, ketika ia sedang berkhotbah. Ada yang dipecat oleh pimpinan jemaat, karena sikapnya yang progresif. Ketika saya di Salem, saya bermalam di sebuah keluarga Protestan. Pada suatu hari, saya tanyakan pada ‘ibu’, mengapa keluarga mereka tak pernah ke gereja pada hari Minggu. “Gereja saya, gereja yang konservatif. Pendetanya mengajarkan kami untuk membenci orang-orang Katolik. Saya kira bukan ini tujuan dari agama, dan kita harus belajar menghormati orang lain. Di gereja, saya tidak mendapatkan apa-apa, dan saya pikir tidak ada gunanya lagi pergi ke sana.” Keluarga mereka adalah keluarga intelektual, yang merasakan bahwa kebutuhan rohani me¬reka tidak dapat lagi dipuaskan oleh organisasi-organisasi keagamaan yang ada.

Sebagai seorang yang juga mengalami ‘krisis kepercayaan’ pada organisasi agama, saya selalu tertarik untuk bertemu dengan rekan-rekan baru, dan mencoba mengerti apa yang sebenarnya terjadi di Amerika sekarang. Agama Kristen pada awalnya adalah agama pembebasan, karena ia mengajarkan, bahwa manusia pada hakikatnya adalah sama. Di sisi Allah, tak ada orang kaya dan miskin, tak ada penguasa dan budak-budak. Karena itu, agama ini dianut oleh para budak belian, orang-orang rendah yang haus akan keadilan. Akhirnya agama ini tersebar ke Eropa, dan menjadi agama masyarakat, termasuk kaum pe¬nguasa.

Pada saat ini, organisasi-organisasi agama (gereja) mengalami krisis utama. Di satu pihak, ia adalah pelopor keadilan, tetapi di pihak lain ia menjadi alat daripada penguasa. Gereja menjadi tuan tanah, hakim kejam yang membakar orang (inquisiusi), punya tentara pemeras, dan memberikan tafsiran-tafsiran teologis, untuk membenarkan para penguasa. Yang saya maksudkan dengan gereja, adalah organisasi dan manusia-manusianya, bukan teologinya. Saya kira semua organisasi keagamaan, menga¬lami hal yang sama. Budhisme di Tibet, Islam di Turki de¬ngan bunuh-bunuhannya, dan sekte-sekte lainnya. Amerika Serikat dibangun, antara lain oleh pelarian-pelarian agama, dan kaum intelektual yang lari dari Eropa. William Perm yang mendirikan koloni di Pennsylvania, Roger William yang mendirikan Rhode Island, orang-orang Mormon yang mendirikan koloni di Utah, adalah contoh-contoh bagaimana Amerika telah menjadi tempat pelarian orang-orang tertindas batiniah. Tradisi ini amat kuat di Amerika. Tradisi untuk selalu bertanya tentang kebenaran-kebenaran yang mereka yakini. Di dalam proses sejarahnya, organisasi agama adalah refleksi daripada masyarakatnya. Dua puluh tahun yang lalu, bukanlah sesuatu hal yang asing di Amerika, jika ada ge¬reja Protestan melarang orang-orang Negro untuk masuk gereja putih. Orang-orang tahu, bahwa di sisi Tuhan manusia adalah sama. Tetapi manusia di dunia bilang lain, bahwa hitam dan putih adalah berbeda, dan Tuhan tidak bisa bikin apa-apa dari surga. Pemerasan-pemerasan yang paling kejam dan mencolok, dilakukan oleh anggota-anggota jemaat yang terhormat, dan pendeta-pendeta pura-pura tidak tahu, dan tidak menskors anggotanya.

Akhirnya gereja dan organisasi agama, menjadi alat dari masyarakatnya. Gereja Katolik menutup diri, dan mengajarkan bahwa hanya mereka yang beragama Katolik saja, yang bisa masuk surga. Gereja seolah-olah berfungsi menjadi Konsulat Tuhan, yang bisa memberikan visa untuk masuk surga. Disiplin rohaniah ditegakkan dengan kokoh, dan pemberontakan dari dalam hampir-hampir tak mungkin. Sejalan dengan proses perubahan sosial yang terjadi, sistem nilai-nilai masyarakat berubah pula. Orang-orang mulai dipaksa berpikir secara kritis tentang nilai-nilai yang telah diterima oleh masyarakat, antara lain tentang nilai-nilai agama.

Jika Tuhan memang maha pengasih dan maha adil, mengapa di dunia ini terdapat begitu banyak kesengsaraan? Apakah bukan kita yang salah menafsirkan firman-firman Tuhan? Mengapa kita mendiskriminasikan sesama Kristen dalam gedung-gedung gereja kita? Jika Paus wakil Yesus di dunia, apa yang dilakukan oleh Paus Pius XII pada orang-orang Nazi yang beragama Katolik? Jika tidak ke gereja pada hari Minggu, apakah seorang gembel dan pelacur di jalanan berani pergi ke gereja? Mana yang lebih perlu, mencetak brosur-brosur agama berjuta-juta eksemplar, atau memberikan makan untuk mereka yang lapar? Pertanyaan-pertanyaan fun¬damental yang timbul di hati setiap manusia yang berpikir. Sebagian sampai pada kesimpulan, bahwa Tuhan ti¬dak ada, atau sudah mati.

Di kampus Universitas Hawaii, saya membaca di salah satu WC…God is dead. Kemudian ada orang iseng yang menambah….God is not dead but unemployed (Tuhan tidak mati, cuma jadi pengangguran). Tuhan nganggur karena manusia-manusia tidak mau lagi patuh pada ajaran-ajaranNya, dan seenaknya memutar-balikkan sesuai dengan kebutuhan praktisnya. Karena tak ada lagi yang mau mendengarkanNya, akhirnya Ia menjadi penganggur. Tantangan-tantangan terhadap organisasi-organisasi agama, akhir-akhir ini begitu besar dan akhirnya menimbulkan krisis keagamaan di Amerika sekarang (dan dunia umumnya).

0 komentar:

Poskan Komentar