Ads 468x60px

DESI - DEwasa dalam relaSI


@Buku "XXX - Family Way" (Kanisius)

Dengan memberi, bukan dengan menerima, kita bisa menjadi kaya.
– It’s by giving, not by receiveing, we become rich. 

Desi Dwi Susanti. Itulah nama adik perempuan saya satu-satunya. Desi panggilan akrabnya sejak ia berkuliah di FMIPA Universitas Indonesia. Bagi saya sendiri, Desi bisa berarti: “dewasa dalam relasi.” Bagaimana kita bisa juga dewasa dalam sebuah relasi? Disinilah, saya menyadari bahwa setiap orang sebagai makhluk sosial tak lepas dari gado-gado relasi: relasi dengan Tuhan, dengan masyarakat, dengan keluarga, rekan sahabat, juga relasi dengan dirinya sendiri. 

Secara khusus, perhatikanlah bagaimana kebudayaan memandang secara dewasa, relasi seorang isteri dalam sebuah institusi keluarga: 

1. Budaya Jawa menyebut isteri sebagai sigaraning nyawa (belahan jiwa) 
2. Orang Tapanuli menyebut isteri sebagai ‘jolma’ yang artinya kehidupan. 
3. Alkitab menyebutnya: ‘tulang dari tulangku, badan dari badanku’, 
4. Kitab Suci menyebutnya: ‘pembantu yang setara/ sepadan’.
5. Bahasa Inggris menyebutnya: ‘wife’ yang berarti ‘partner’ atau pasangan
6. Orang Barat menyebutnya: kawan seiring (consort), teman kerjasama. 
7. Bahasa Inggris menyebutnya: spouse yang berarti “diriku yang lain.
8. Juga disebut ‘woman’ yang berarti pemilik rahim, sumber/ akar kehidupan. 
9. Bahasa Sanskerta menyebut isteri sebagai ‘mitra’ yang artinya pasangan.

Dari ke-9 pandangan kebudayaan yang positif soal relasi yang dewasa di atas, kita jelas diajak melihat orang lain, terlebih orang yang kita cintai, bukan melulu sebagai obyek, tetapi juga sebagai subyek, bukan sebagai ‘milikku’ tetapi ‘milik kehidupan’, bukan sebagai hanya sebagai pendamping tetapi pasangan, bukan sebagai pembantu tetapi alter ego (diriku yang lain), bukan sebagai benda (it) tapi sebagai pribadi (she/he), dengan segala kelebihan juga yang pasti dengan segala kekurangannya. Nah, bagaimana sekarang kita juga belajar mempunyai sikap seperti “desi, dewasa dalam relasi”?

Cerita di bawah ini tentang Siao Min dan Siao Cien, bisa memberikan sedikit ilustrasi tentangnya indahnya sebuah relasi yang dewasa. Cerita ini sendiri merupakan terjemahan dari versi China. Begini kisahnya: Namaku Siao Min. Tahun itu, seorang lelaki mendadak muncul memberi warna dalam hidupku, tampangnya tidak seberapa, namanya Siao Cien. Secara perlahan, aku bersahabat denganya, dan mendapati bahwa dia adalah orang yang penuh pengertian dan lemah lembut. Hari berlalu, hubungan kami semakin dekat, perasaan di antara kami semakin menguat, dan juga mendapat dukungan dari teman-teman. Pada suatu hari di tahun kelulusan kami, dia berkata padaku: "Aku telah mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi tetapi di Amerika, dan aku tidak tahu akan pergi berapa lama, kita bertunangan dulu, bolehkah ?"

Mungkin dalam keadaan tidak rela melepas kepergiannya, aku mengangguk. Oleh karena itu sehari sesudah hari wisuda, hari itulah merupakan hari pertunangan kami berdua. Setelah bertunangan tidak berapa lama, bersamaan dengan ucapan selamat dan perasaan berat hati dalam hatiku, dia menaiki pesawat dan terbang menuju sebuah tempat yang jauh, sebuah negara yang kerap disebut negeri Paman Sam. Aku juga mendapatkan sebuah pekerjaan yang bagus, memulai hari bekerja dari jam 09.00 hingga jam 17.00. Telepon interlokal merupakan cara kami untuk tetap berhubungan dan melepas kerinduan. 

Suatu hari, sebuah hal yang naas terjadi pada diriku. Pagi hari, dalam perjalanan menuju tempat kerja, sebuah taksi, mendadak menikung tajam. Tidak tahu setelah berapa lama, saat siuman aku telah berada di rumah sakit, anggota keluarga yang melihatku telah siuman, lantas bergegas memanggil dokter. "Pah, Mengapa ? Ada apa?” Kataku singkat tapi aneh tidak ada suara keluar dari mulutku.

Dokter mendatangiku dan memeriksa, suster menyuntikkan sebuah serum ke dalam diriku, mempersilahkan orang lain untuk keluar terlebih dahulu. Ketika siuman kembali, yang terlihat adalah raut wajah yang sedih dari setiap orang di sekitarku. Sebenarnya apa yang terjadi, mengapa kini aku tidak dapat bersuara? Ayah dengan sedihnya berkata : "Siao Min, dokter bilang syaraf kamu mengalami luka, untuk sementara kamu tidak dapat bersuara, tapi lewat beberapa waktu kamu akan membaik." 
“Aku tidak mau! Aku tidak mau!!!!!" Aku memukul ranjang, sambil berusaha membuka mulut lebar-lebar sambil berteriak, tapi hanya merupakan sebuah protes yang tidak bersuara. Setelah kembali ke rumah, kehidupanku berubah. “A nightmare”, sebuah mimpi buruk: Suara telepon yang kudambakan sewaktu dulu, merupakan suara yang sangat menakutkan bagiku sekarang ini. 

Aku tidak lagi keluar rumah, juga menjadi seorang pendiam yang murung, yang menyia-nyiakan diri, dan ayah juga mulai berpikir untuk pindah rumah. Dan pacarku? Dia ada di belahan bumi yang lain, yang diketahui hanyalah aku mungkin telah membatalkan pertunangan, karena setiap telepon darinya tidak mendapatkan jawaban, setiap surat yang ditulisnya bagaikan batu yang tenggelam ke dasar lautan. 
Dua tahun telah berlalu, aku secara perlahan telah dapat keluar yang masa gelap ini, memulai hidup baru, juga memulai belajar bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan orang lain. Suatu hari, Siao Cien memberitahu kepada keluargaku bahwa ia akan datang ke rumah merayakan ulang tahunku. Ia juga memberitahukan bahwa dia sekarang bekerja di sebuah perusahaan sebagai seorang insinyur. Aku hanya berdiam diri, tidak mengatakan apapun ketika keluargaku memberitahukan tentang rencana kedatangan Siao Cien ke rumahku. 

Sorenya, bel pintu berbunyi, suaranya berbunyi berulang-ulang dan terdengar tergesa-gesa, sehingga ayahku bergegas menyeretkan langkah kakinya yang berat, hendak membuka pintu. Saat itu, suasana di dalam rumahku menjadi hening. Yah, dia telah muncul, dia telah berdiri di depan pintu rumahku. Dia mengambil napas yang dalam, dengan perlahan berjalan ke hadapanku, dan,.....dengan bahasa isyarat yang terlatih, dia berkata: "Maafkan aku! Aku terlambat satu tahun baru menemuimu. Dalam satu tahun ini, aku berusaha dengan keras untuk mempelajari bahasa isyarat, demi untuk satu hari ini, Tidak peduli kamu berubah menjadi apapun, selamanya kamu merupakan orang yang paling kucintai. Selain kamu, aku tidak akan mencintai orang lain, Marilah kita segera menikah!" Cerita cukup sampai disini.

Dari penggalan cerita populer di atas, kita bisa melihat bahwa Siao Cien tidak terhanyut oleh relasi cinta asmara saja, tapi dia mengajak kita dewasa dalam relasi cinta: berani menerima kekurangan orang yang dicintainya. Kalau cinta hanya berhenti pada relasi cinta asmara saja kerap menjadi cinta yang kekanak-kanakan dan sekaligus bisa menyesatkan. Cinta jenis itu kerap menjadi cinta yang buta dan tidak bermakna. Sebab itu kita sering perlu ‘memberi mata hati’: melihat pribadi yang kita cintai sebagai seorang pribadi lengkap dengan kekurangan dan kelebihannya. 

Di lain matra, ada beberapa pandangan atau pengertian sederhana seputar relasi, dalam hal ini relasi antara suami isteri, seperti dinyatakan berikut ini:

1. Pertalian cinta dan komitmen 
2. Perpaduan antara dua pribadi berbeda dalam ikatan persahabatan.
3. Kombinasi antara individu dan karakter yang berbeda
4. Pasangan cinta
5. Pasangan seumur hidup
6. Pasangan jodoh (doublet)
7. Pasangan nikah (sah secara hukum, diakui masyarakat)
8. Pasangan kawin (bersetubuh) dan meneruskan keturunan
9. Pasangan bertumbuh bersama
10. Pasangan dalam suka dan duka

Dari kesepuluh arti sederhana dari makna relasi di atas, kita juga semakin menyadari bahwa ada banyak sekali cara untuk memahami sekaligus membangun kembali, menguatkan dan memperbaiki relasi yang kadang kurang dewasa. Ada juga pelbagai cara praktis, cara jangka panjang, langsung dan tidak langsung. 

Perhatikan juga, kadang relasi juga tidak berjalan dengan begitu baik, maka memang diperlukan kesabaran dan waktu. Waktu dan kesabaran adalah pemecah soal nomor satu dalam relasi. Ungkapan cinta dengan kata kata juga sering menjadi hambar dalam sebuah relasi. Yang selalu diinginkan dalam sebuah relasi, adalah ungkapan-ungkapan cinta dengan perbuatan, terlebih juga dengan sikap sabar. Hal itu biasanya mulai dari hal-hal kecil, dan kemudian hal-hal yang pokok. Tindakan-tindakan kecil seperti murah senyum, memberikan bunga, mengingatkan hari-hari pentingnya bisa terasa naif tetapi bila dilakukan dengan sepenuh hati, hasilnya amat efektif dalam membangun sebuah relasi yang dewasa, bukan?

Sebuah kisah tentang kepiting: 
Kami menggunakan sebatang bambu, mengikatkan tali ke batang bambu itu, di ujung lain tali itu kami mengikat sebuah batu kecil. Lalu kami mengayun bambu agar batu di ujung tali terayun menuju kepiting yang kami incar, kami mengganggu kepiting itu dengan batu, menyentak dan menyentak agar kepiting itu marah, dan kalau itu berhasil maka kepiting itu akan 'menggigit' tali atau batu itu dengan geram, capitnya akan mencengkeram batu atau tali dengan kuat sehingga kami leluasa mengangkat bambu dengan ujung tali berisi seekor kepiting gemuk yang sedang marah. Kami tinggal mengayun perlahan bamboo ini agar ujung talinya menuju sebuah wajan besar yang sudah kami isi dengan air mendidih karena di bawah wajan itu ada sebuah kompor dengan api yang sedang menyala. Kami celupkan kepiting yang sedang murka itu ke dalam wajan tersebut, seketika kepiting melepaskan gigitan-nya dan tubuhnya menjadi merah, tak lama kemudian kami bisa menikmati kepiting Rebus yang sangat lezat. Kepiting itu menjadi korban santapan kami karena kemarahannya, karena kegeramannya atas gangguan yang kami lakukan melalui sebatang bambu, seutas tali dan sebuah batu kecil. 

Bukankah kadang kita mirip sekali dengan kepiting. Dalam relasi, kerap menjadi tidak dewasa. Baiklah kita mengingat terdapat 5 kelemahan utama manusia: 
1. Disaat sembarangan, mudah membunuhnya. 
2. Disaat takut, mudah menangkapnya. 
3. Disaat marah, mudah menghasutnya. 
4. Disaat sensitif, mudah menjadikannya terhina. 
5. Disaat emosional, mudah membuatnya gelisah. 

Tampak jelas juga bahwa sebuah relasi yang dewasa adalah arena pendidikan dan pelatihan seumur hidup. Memang wajar, jika dalam sebuah relasi ada pelbagai macam warna: ada banyak keajaiban, penderitaan, kelucuan, keindahan, kebahagiaan, kebosanan, konflik di dalamnya. 

Berikut ini ada 12 pernyataan yang nyeleneh, mungkin bisa membuat kita sedikit tersenyum, ada benarnya bila direnungkan, dan semoga juga bisa meringankan beban batin yang sedang rusak atau tidak harmonis karena kurang dewasanya sebuah relasi.

1. Tiap orang mengakui bahwa cinta adalah mengagumkan dan perlu, tetapi tak seorang pun sepakat apa sebenarnya cinta itu -- Everyone admits that love is wonderful and necessary, yet no one agrees on just what it is. Diane Ackerman
2. Dalam cinta, tiap orang memainkan peran yang disukai, sekaligus yang dicintainya -- In a great romance, each person plays a part the other really likes. ElizabetAshley
3. Kekasih adalah anggur sebotol, isteri adalah botol anggur. – 
A sweetheart is a bottle of wine, a wife is a wine bottle. Baudelaire
4. Dunia menderita lebih banyak karena nestapa akibat perkawinan yang tak beres daripada derita karena keperawanan. -- The world has suffered more from the ravages of ill-advised marriages than from virginity. Ambrose Bierce
5. Cintailah melalui teleskop; cemburuilah melalui mikroskop -- Love looks through a telescope; envy, through a microscope. Josh Billings
6. Dalam ikatan perkawinan, meragukan kadang-kadang adalah penyelamatan -- In matrimony, to hesitate is sometimes to be saved. Samuel Butler
7. Mayoritas suami mengingatkan aku akan orang-utan yang sedang mencoba bermain biola --The majority of husbands remind me of an orangutan trying to play the violin. Honore de Balzac
8. Dalam proses mencintai: kau harus ‘jual mahal’ pada awalnya, karena kalau tidak, bila kau tersandung kau akan menjadi bahan tertawaan; lagipula cinta itu mahal, kan? Anonim
9. Perkawinan adalah petualangan, ibaranya maju perang -- Marriage is an adventure, like going to war. G.K.Chester Ton
10. Bersikap manis pada satu orang setiap hari? Itu merusak keberanianmu. -- It destroys one's nerves to be amiable everyday to the same human being. Bnjamin Disraeli
11. Lebih daripada ciuman, surat memadukan jiwa-jiwa. -- More than kisses, letters mingle souls. John Donne
12. Gravitasi tidak bisa diminta bertanggung-jawab atas peristiwa jatuh cinta. -- Gravitation can not be held responsible for people falling in love. Albert Einstein

Dari 12 pernyataan di atas, satu hal lain yang perlu diingat adalah, setiap relasi menjadi lebih baik jika selalu dilandasi oleh perasaan (afeksi) dan tidak melulu oleh pikiran (kognisi). Ini perlu dilatih karena orang sudah terlatih dan dibiasakan untuk hanya memakai ‘otak kiri’ yaitu bagian otak yang lurus, vertikal (atas-bawah), logis, sistematik, berhitung (aku dapat berapa, apa untungnya). Kita perlu sekali berlatih mengandalkan otak belahan kanan dalam membangun sebuah relasi yang dewasa. Otak kanan adalah saraf-saraf otak yang mengaktivasi perasaan, intuisi, spontanitas, imajinasi, cinta, keterpesonaan, humor, kebebasan, keajaiban. 

Intinya adalah bahwa dalam setiap relasi yang dewasa, kita diajak belajar berbagi rasa (sharing) bukan melulu berbagi pendapat atau berdiskusi, berdebat kusir (Bhs Betawi: nyolot: asal sewot dan ngotot padahal bolot dan lemot). Perlu diingat juga, bahwa setiap relasi yang bertahan dalam jangka waktu yang lama, dimulai dengan perasaan bukan melulu dengan rasio. Tentu ada resiko bahwa relasi kita malahan menjadi cengeng atau melebih-lebihkan perasaan. Itu sebenarnya tak apa-apa. Perasaan pada dasarnya adalah netral, tidak memihak, jujur dan manusiawi. Bukankah ada sekitar dua ratusan lebih macam perasaan bahagia, sedih, marah, terluka, takut, berani, tertarik, ragu, ingin-tahu yang dapat kita ekspresikan dalam setiap relasi kita bukan?

Di lain matra, baik jika kita mengingat juga sebuah kalimat bijak ini, cinta terjadi bukan "karena", tetapi "walaupun", ("L'amour n'est pas parce que mais malgre" -- I love u no matter what..... not I love u because......), dalam sebuah cerita di awal tulisan ini, kita melihat, walaupun pasangannya kini menjadi gagu dan bisu, hanya bisa berkata-kata dalam bahasa isyarat, tapi Siao Cien tetap mengasihinya, tetap memberikan hatinya buat pribadi yang sungguh dikasihinya, bahkan dengan begitu kasih, ia berusaha belajar bahasa isyarat secara diam-diam, supaya bisa berkomunikasi dengan, orang yang dikasihinya. 
Sekarang, bagaimanakah dengan relasi kita sendiri? Sudah dewasakah atau masih kekanak-kanakan?

Saudara-saudara,
janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu.
Jadilah anak-anak dalam kejahatan,
tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu!
Rasul Paulus, I Korintus 14:20

0 komentar:

Poskan Komentar