Ads 468x60px

Kedewasaan Rohani

Selayang Pandang

LATIHAN PERTAMA: Tuntutan Kedewasaan Rohani.
Baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru terus menerus kita temukan ajakan kepada kemajuan rohani (Yer. 6: 16; Mzm 26: 12; 2 Kor 4: 16; Ibr. 3: 7. 4: 10; 2 Ptr. 3: 18. Kedewasaan dan kesempurnaan Kristen merupakan perkembangan penuh segala potensialitas rahmat. Kedewasaan rohani ini telah memperoleh orientasi, arti serta dorongannya dalam iman (cf. Yo. 6: 29; Ef. 3: 17). Secara hakiki kedewasaan itu terealisir dalam cinta kasih (Mt. 5: 44; 1 Kor. 13: 1; Yo. 17: 21). Iman, harapan dan cinta kasih haruslah tumbuh bersama, merupakan daya hidup dan kesempurnaannya.

Santo Paulus berbicara mengenai iman, harapan dan kasih sebagai kekuatan dinamis yang memiliki peranan menentukan dalam pertumbuhan kedewasaan hidup rohani (1 Tes. 1: 13; 5: 6; dst.) Paulus melawankan tingkah laku Kristen yang infantil dengan tingkah laku yang betul-betul “dewasa”, atau “yang sempurna dan tidak sempurna” (1 Kor 2: 6; 13: 10; dst.14: 20; Fil. 3: 15; Kol. 1: 28).

Menurut Paulus, “kanak-kanak” adalah mereka yang masih berada dalam awal hidup Kristen, dan yang pada langkah-langkah permulaan masih belum aman, “yang dewasa” atau “sempurna” adalah orang Kristen yang benih-benih hidup barunya (yang diterimanya dalam permandian) telah berkembang dan telah mencapai kepenuhan. Yang dulu dimilikinya baru secara potensial. Orang yang dewasa adalah orang yang berkepribadiannya selalu dalam keterbukanaan kepada pendalaman lebih lanjut. 

Suatu langkah yang menentukan dalam pendewasaan kepribadian Kristen adalah dilepaskannya tingkah laku kanak-kanak untuk bertindak sebagai orang dewasa, yaitu mengambil tanggungjawab atas iman dan rahmat (Gal. 4: 1 dst.; 1 Kor 13: 11).

a. Apakah anda merasa semakin diajak keluar dari "hidup dalam semangat kegelapan" seperti benci, pembalasan, hidup dalam kekerasan yang destruktif, kelicikan, kebohongan dan lain sebagainya.

b. Apakah anda semakin diajak keluar dari hidup yang hanya mengikuti "kenikmatan daging", seperti mencari enak sendiri, mudah kompromi dan hanya berpusat pada diri sendiri, kurang peduli akan keadaan dan kesulitan serta nasib orang lain. Dengan kata lain anda diajak keluar dari hidup yang bernormakan keenakan dan kesenangan diri.

c. Apakah anda merasa diajak untuk keluar dari hidup yang hanya berlandaskan "manusiawi" belaka, pokok hidup jujur, terhormat, setia, loyal demi nilai nilai manusiawi, tetapi masih diwarnai oleh individualisme dan rasialisme yang ada akhirnya hanya menguntungkan diri sendiri.

d. Apakah anda semakin merasa diajak untuk masuk ke dalam hidup Kristus, seperti damai, kesabaran, kegembiraan, kebaikan, percaya kepada Tuhan, lemah lembut dan kuasa diri (Gal 5,22), "terutama di saat saat yang sulit dan penuh derita".




LATIHAN KEDUA: Tanda-tanda “Infantilisme” Spiritual
Manakah ekspresi-ekspresi infantilisme rohani yang harus dibebaskan? Bagaimana kita bisa mengetahuinya? Dari PB kita bisa melihat cirri-ciri sebagai berikut:

(a) Ketidak-mampuan menenrima Injil dalam totalitas tuntutan dan isi (1 Kor 3: 1 dst). Orang-orang Korintus yang berlaku sebagai “kanak-kanak” adalah “mereka yang mencari hikmat manusia” dan bukan “hikmat Allah”. 

(b) Gerakkan oleh “daging” dan bukan oleh Roh. Pertentangan antara manusia Roh dan manusia daging, di dalam Paulus adalah sejajar dengan pertentangan “kanak-kanak” dan “orang dewasa” (1 Kor 3: 1; 1: 10 dst.). Dasar-dasar bangunan rohani kompak. Tanda-tanda “infantilisme” ini yaitu tingkah laku yang bermotifkan iri-hati dan perselisihan. “Sebab, jika di antara kamu ada irihati dan perselisihan bukanlah hal itu menunjukkan bahwa kamu manusia duniawi (daging) dan bahwa kamu hidup secara manusiawi” (1 Kor. 3: 3).

(c) Tidak mengetahui kedudukannya yang benar sebagai orang beriman di hadapan Allah: percaya bahwa sudah mengetahui jalan dan rahasia Allah; maka merasa tidak perlu belajar memahaminya. Tidak mengetahui bahwa rahasia Allah bukanlah “manusia yang menyatakannya” (Mt. 16: 17), tetapi Allahlah yang mewahyukannya kepada yang rendah hati (Mt. 13: 11). Yang menyatakan adalah Bapa-Ku di surga.

(d) Autosufisiensi (keingnan mencukupi sendiri), terlalu percaya kepada kekuatannya sendiri dan tidak mengakui bahwa semuanya adalah rahmat Tuhan. Dewasa dalam iman berarti memiliki aspek-aspek positif dari semangat anak: kesederhanaan, dengan gembira menerima anugerah-anugerah Allah, rendah hati, tidak menghitung-hitung, generositas, ketulusan (Mt. 19: 14; 18: 3 dst; Lk. 12: 32)

(e) Memberi perhatian pada dirinya sendiri dan tidak pada Alla; affektivitas yang berpusat pada diri sendiri, dan bukan affektitivitas yang bebas dan memungkinkan dirinya menyerahkan dirinya kepada Yang lain yang “mencintai kita lebih dulu” (1 Jo. 4: 10). Orang semacam ini tidak egocentris, melainkan terbuka kepda yang lain.

(f) Memahami kebebasan sebagai kebebasan “liar” (1 Kor 8: 9; 9: 4; 10: 29), kebebasan semacam ini bisa menjadi batu sandungan dalam relasi dengan sesame. Sedang seharusnya kita mmmpu untuk membedakan manakah tindakan yang sesuai dengan kriteria Kristus. “Semuanya kamu punya. Tetapi kamu adalah milik Kristus dan Kristus milik Allah” (1 Kor 3: 22-23).

(g) Membiarkan dirinya tercengkam oleh kharisma-kharisma yang nampak, dan tidak menginginkan kurnia-kurnia yang lebih luhur dan melibatkan diri dalam “jalan yang lebih utama lagi” ialah cinta kasih (1 Kor 12: 31; 13: 11).

(h) Tidak stabil terombang-ombing karena iman yang belum berakar secara kuat dalam Injil (Ef. 4: 14).


LATIHAN KETIGA: Tanda-tanda Kedewasaan Rohani
Mengatasi sifat-sifat infantilisme hanyaklah merupakan aspek negatif dari pedewasaan rohani. Kedewasaan bukan hanya menyangkal apa-apa yang tiak sempurna, tetapi perkem-bangan positif menuju kepada vitalitas yang lebih penuh dan ekspresi rahmat yang lebih penuh. Tanda kedewwasaan itu banyak. Di sini hanya ditrunjuk beberapa saja.

(i) “Keyakinan yang mantap” (Rom 14: 5) Atau keyakinan yang penuh (1 Tes 1: 5). Dengan demikian manusia memperdalam relasinya dengan Allah. Secara progreasif semakin sadar akan rencana penyelamatan Allah, yang diaktualisir dalam dirinya.

(j) Perubahan dan pembaharuan pikiran dan hati, yaitu kepribadian dalam pusatnya yang terdalam (Rom 12: 2), sedemikian rupa sehingga mampu “membedakan yang baik dan yang jahat” ((Ibr 5: 14; 1 Kor 14: 20) – mampu membuat “discernment of spirits”, manakah yang menjadi kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan pada Allah dan yang sempurna” (Rom 12: 2). Kesempurnaan Kristus di sini bukanlah ketaatan pada hukum. Kesempurnaan Kristus adalah docilitas pada kehendak Allah yang harus terus menerus dicari dan dibedakan (“to discern”).

(k) Keterbukaan pada Roh Kudus merupakan langkah pertama untuk membuat penegasan sehingga “menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengerti kehendak Tuhan dengan sempurna”, sehingga berkenan kepadaNya dalam segala hal … dan memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah” (Kol 1: 9). Demikian akhirnya membawa “buah roh”: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaiakan, kesetiaan, kelemah-lembutan, penguasaan diri” (Gal 5: 2223).

(l) Orang Kristen yang dewasa adalah mereka yang memiliki kemampuan spiritual untuk mendalami misteri Kristus dan menerimanya (1 Kor 2: 6 dst; Ef. 1: 9; Kol 1: 27) dan kaarenanya terbuka untuk usaha membangun Gereja, yang merupakan sakramen Kristus (ef. 2: 20 dst) Kedewasaan berarti kemampuan untuk masuk dalam dialog yang konstruktif dengan orang lain, dan dengan dunia.

(m) Dalam kedewasaan Kristen, “seluruh manusia” terlibat secara radikal dan total dalam karya keselamatan dunia; keluar dari visi egocentris: hidup tidak lagi bagi dirinya sendiri tetapi bagi Dia yang memberinya panggilan pada keselamatan dan yang menuntut kerja sama dalam penyelamatan dunia.


LATIHAN KEEMPAT: KONTEMPLASI ATAS MISTERI PASKAH
Misteri paskah Tuhan biasanya dimulai dengan pencobaan-pencobaan yang dialami Yesus dalam usaha meluruskan kecenderungan naluriah manusia terhadap materi, cinta dan kebebasan. Sikap lepas bebas yang ditunjukkan Tuhan ini sekaligus juga merupakan disposisi yang kita butuhkan untuk mengikuti jalan Yesus, karena di dalamnya terkandung unsur formatif dan askesis hidup, yaitu pematangan disposisi dan kemampuan untuk merelakan hal-hal yang tidak terkandung dalam pilihan panggilan. Karena itu merenungkan misteri paskah bagi kita adalah permenungan mengenai peziarahan formatif dan askesis hidup. Kemampuan askesis dan kematangan disposisi ini yang akan mendasari kemampuan kita untuk ikut jalan suka dan duka dari Kristus, yang karena digerakkan oleh cinta, maka dapat dengan rela ikut memanggul salib Kristus, serta ikut dalam kebangkitan Kristus.

Dasar pengharapan dan iman kristiani terletak dalam kebangkitan Yesus karena entousiasme iman dibangun atas dasar misteri ini. Kita masuk dalam misteri Allah yang luas dan dalam, lebar dan panjang terlebih Allah yang senantiasa menyertai hidup kita dalam suka dan duka sampai akhir jaman. Di sini kita dapat mengkontemplasikan seluruh realita cinta Allah lewat pengalaman akan Allah sepanjang hidup, yaitu Allah yang hidup. Renungan ini tiada lain adalah asas dan dasar hidup bakti dalam praktek yang diharapkan mulai menjadi suatu devosi, kalau kita ingin setia pada cara hidup kongregasi, untuk mengembalikan misteri-misteri religius yang mulai memudar di jaman post modern ini.

Rahmat yang dimohon: agar semakin memiliki cinta penuh bakti pada Yesus Penebus yang rela mencurahkan darahNya, ditikam dan wafat untuk kita.

(a) Pencobaan Yesus dan pencobaan hidup kita
Mt 4: 1-11
Mrk 4: 35-41
Yoh 17: 9-17 1 Kor 9: 24-27
2 Kor 2: 6-16 Fil 1: 27-30
Ef 6: 10-18

(b) Tiada lain dari kedewasaan adalah “ketetapan pertobatan pikiran dan hati”. Keterlibat-an seorang dewasa tidak seperti keterlibatan yang dijanjikan oleh anak kecil, yang mudah goyah. Tetapi mutu pengambilan keputusan dan sikap untuk tidak berbalik ke belakang. Suatu komitment yang bukan didasarkan pada paksaan, tetapi pada pilihan bebas. Suatu tanda kedewasaan Kristen adalah “integrasi” kepribadiannya dalam Kristus: “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2: 20).

(c) Seorang Kristen yang dewasa menyatakan hidupnya dalam tindakan lahir, tindakan kesaksian, kerasulan, dan hidup moral (Kis 4: 20). “kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata” (2Kor 4: 13). Dengan demikian yang tumbuh bukan hidup pribadi masing-masing orang Kristen, tetapi seluruh Gereja sebagai keseluruhan. Seluruh Gereja secara progresif sadar akan implikasi injil begi penyelamatan dunia. Ini dapat dinyatakan sebagai “pengadilan dan pelayanan”.

0 komentar:

Poskan Komentar