Ads 468x60px

“Life Begins At Forty”

Sunyi senyap dan gelap gulita melingkupiku. Selintas waktu aku mengingat-ingat, saat ini aku sedang berada di mana? Tapi sejenak kemudian aku tersadar, seusai makan sore tadi, aku kembali tidur. Maka, aku belum sempat menghidupkan lampu pijar lima watt yang biasa aku nyalakan pada malam hari. Hanya sinar rembulan yang tidak terlalu terang, memberkas masuk ke kamarku melalu lubang jendela yang masih terbuka. 

Dengan berat, aku paksakan tubuhku untuk bangkit dari pembaringan dan menyalakan lampu kamarku. Aku lihat dari jam meja di dekat tempat tidurku menunjukkan pukul 01:37. Kemudian dengan ritme yang perlahan, aku mulai mencuci muka pada wastafel yang ada di sudut kamarku. Dari cermin yang ada di atas wastafel itu, aku pandangi mataku sembab, dan wajahku yang nampak lebih tua dari sebelumnya. Aku amat-amati, di antara dua alisku telah muncul kerut-kerut tipis. Kerut-kerut itu juga telah mulai terlihat di seputar sudut-sudut bibirku. Barangkali, itu adalah jejak dari pergulatan hidupku sampai usiaku menjelang 40 tahun.

Memang, berbagai suka duka hidup telah aku alami. Bisa jadi, kerut di dahiku itu adalah catatan duka derita yang sampai saat ini masih meruyuk di hatiku. Ada yang berkata, apabila orang menyimpan kepedihan di hati, di luar kendali otak, saat tidur dahinya akan berkerut. Untuk semua itu, kerut-kerut di wajah pada orang seusiaku, bukanlah sesuatu yang aku anggap memalukan, tetapi justru sebagai sebuah kebanggaan akan kematangan dan kekayaan berbagai pengalaman hidup yang telah aku alami.

Sedangkan kerut-kerut di seputar bibirku, adalah jejak-jejak gelak tawaku, baik tawa luapan gembira, ataupun tawa karena tuntutan lingkungan. Saat aku kecil dulu, aku hanya tertawa terbahak-bahak saat hatiku gembira, atau ada peristiwa yang lucu. Dan aku menangis, saat hatiku sedih, sakit atau kecewa. Tetapi semenjak beranjak dewasa, tertawaku memiliki makna yang beragam. Sekalipun hatiku sedang sedih, apabila orang-orang di lingkunganku tertawa, aku pun bisa tertawa. Demikianlah, orang dewasa memang pandai bermain topeng, sebagaimana juga sering aku kenakan.

Pandangan kemudian aku alihkan ke rambut kepalaku. Perlahan aku sisir rambutku yang masih terbilang hitam lebat. Tetapi di sana sini telah aku temukan beberapa rambut putih. Agaknya, setiap hari baru yang menyapaku, selalu ditandai dengan bertambahnya uban di kepalaku. Untuk semua tanda-tanda fisikku tersebut, memang aku tak lagi bisa disebut muda yang umumnya berwajah segar bersinar. Haruskah proses ketuaan adalah sesuatu yang disesali? Bukankah semua orang mengalami hal ini?

Setelah menggosok gigi dan minum segelas air putih, aku menutup jendela kamarku. Di luar rumah, aku lihat cahaya purnama menyirami kota pelajar yang sekarang tak lagi nyaman, akibat berjubelnya kendaraan di jalanan. Di bilangan Kotabaru di kota tua inilah, aku tinggal bersama ibuku yang telah renta dimakan usia. Sekalipun demikian, aku boleh berbangga bahwa ibuku adalah sosok wanita yang elegan dan menampilkan diri sebagai seorang wanita yang tangguh. Hanya berdua itulah kami tinggal di rumah tua warisan bapakku yang telah tiada delapan tahun yang lalu.

***
Malam ini bukan untuk pertama kali ini saja aku terbangun. Pak Bowo, sahabatku di kantor, pernah memberikan tanggapan atas pengalamanku ini. Ia mengatakan bahwa aku menderita lunatic, yakni suatu kelainan tidak bisa tidur setiap bulan purnama tiba. Aku tidak tahu mengapa demikian. Juga sejauh ini tidak ada penjelasan medis yang aku dapatkan tentang hal ini. Tetapi begitulah, setiap kali bulan purnama, aku selalu tidak bisa memejamkan mata. Saat aku kanak-kanak, itu menjadi malam yang panjang tetapi indah. Karena, setiap kali terjaga di bawah siraman bulan purnama, nenekku atau ibuku selalu bercerita tentang kisah-kisah kepahlawanan tempo dulu. Tokoh-tokoh, entah dari era kerajaan-kerajaan Jawa pada masa lalu, ataupun dari cerita perwayangan, tanpa sadar telah memberikan banyak inspirasi kepadaku tentang sebuah idealisme yang perlu dipertaruhkan. Bahkan seringkali terjadi, idealisme itu perlu diperjuangkan sampai harus meneteskan darah dan air mata atau nyawa sebagai gantinya.

Aku ingat, di balik kisah percintaan Rama-Shinta, adalah usaha untuk memperjuangkan nilai-nilai keluhuran, kesucian dan keadilan. Aku bersyukur, dari dongeng-dongeng itulah, sekarang aku sadar, idealismeku sebagai orang dewasa di bangun. Pada zaman ini, idealisme merupakan tonggak pegangan di tengah era materialisme yang menawarkan berbagai hal tentang kenikmatan hidup. Sekalipun aku tinggal di kota budaya, di suatu wilayah yang pada masa lalu dikenal sebagai daerah pedalaman, saat ini pun semangat mengumbar kepuasan material telah merasuk dalam diri penduduk kota ini. Malang bagi mereka yang tidak memiliki sebuah idealisme, karena mereka hanya akan menjadi bahan permainan tawaran-tawaran kenikmatan duniawi. Tak jarang, mereka mengorbankan sesuatu yang lebih bernilai, demi sesuatu materi yang sebetulnya hanyalah sarana untuk sesuatu yang bernilai itu. Demikianlah, setiap kali malam purnama, menjadi malam-malam yang indah yang meninggalkan kenangan tak terlupakan tentang masa kecilku.

Akan tetapi setelah menginjak usia remaja, ketika malam terjaga, ternyata merupakan saat-saat yang menyiksa. Terlebih yang aku rasakan pada malam ini. Hatiku terasa pedih teriris, mengenang peristiwa yang baru saja berlalu. Siang tadi sebenarnya merupakan hari yang indah. Bahkan, aku telah merancangnya menjadi hari yang paling indah, karena aku bertemu dengan wanita pujaan hatiku.

Ia adalah Recta! Bapak ibunya adalah orang Jawa, tetapi ia diberi nama demikian karena terlahir dari cinta lurus kedua orang tuanya. Maka, ia diberi nama “recta” yang berasal dari bahasa Latin yang artinya “lurus”. Aku sudah mengenalnya hampir sepuluh tahun yang lalu, saat ia masih menginjak usia di pengujung belasan tahun. Saat itu, ia adalah mahasiswiku di sebuah universitas swasta, tempatku mengajar sampai saat ini. Sekarang, dia telah bekerja di sebuah LSM di Jakarta. Ia sendiri tak mau disebut bekerja. Ia selalu dengan bangga menyebut diri sebagai seorang aktivis, dan semua itu dilakukan sebagai pilihan hidupnya.

Entahlah, saat pandangan pertama, aku langsung jatuh hati setengah mati kepadanya. Ia tidak berpenampilan manja dan menggoda sebagaimana umumnya gadis-gadis yang tampil di layar kaca pada zaman sekarang, tetapi ia menampilkan diri sebagai seorang wanita yang cerdas dan elegan. Sekilas, ia memang menampakkan karakter yang kuat seperti gambaran ibuku. Apakah karena ini aku jatuh hati kepadanya? Entahlah! Tetapi pada waktu itu, sebagai seorang lelaki yang telah menginjak usia tigapuluhan, aku telah mampu melihat dengan naluri yang tajam, mana cinta yang hanya biasa-biasa saja dan mana perasaan cinta yang istimewa.

Perasaanku tehadap gadis itu bahkan bisa dikatakan teramat istimewa. Memang, selama perjalanan hidupku, telah ada begitu banyak wanita yang pernah singgah di dalam hatiku, bukan sebagai pacarku, tetapi hanya sebatas mengagumi saja. Namun seturut dengan perjalanan waktu, satu persatu dari antara mereka aku lupakan. Hanya ada satu yang begitu lama singgah di hatiku dan masih tetap ada sampai sekarang ini. Itulah wanita yang siang tadi aku temui. Demikianlah, sepuluh tahun ini aku menghabiskan waktuku untuk mengaguminya, mencintainya dan merindunya sepanjang waktu.

Hati kecilku selalu mengatakan: “Inilah tulang dari tulangku, dan daging dari dagingku!” Oleh karena itu, seutuh hatiku aku tambatkan kepadanya. Bahkan, sepenuh hidupku sendiri aku persembahkan untuknya. Sejak itu, aku membiarkan diriku diserap oleh pesonanya. Biarlah aku lumat karenanya! Aku merasakan, kebahagiaanku justru apabila aku ada di dalam belenggunya! Aku ingat, Raymond Lull, seorang penyanyi dan penyair cinta yang hidup pada abad pertengahan pernah mengatakan: “Jika seseorang tidak mengerti makna cinta, ia seharusnya mengerti arti percobaan, kesedihan dan derita.” Memang demikianlah, cinta dan derita itu bagaikan dua gambar dalam sebuah mata uang.

Usianya memang terpaut jauh dariku, sekarang usiaku menjelang empat puluh, sedangkan ia belum lagi tiga puluh. Saat usiaku menjelang empat puluh ini, organ-organ reproduksi dalam tubuhku pun seolah-olah tahu, bahwa tidak ada banyak waktu lagi bagiku untuk menjadi ayah. Kalau mau, maka segalanya harus aku lakukan dengan cepat. Maka tubuhku pun menuntut itu. Memang, inilah saat-saat terakhir aku memiliki waktu untuk menemukan isteriku dan mendapatkan anak darinya. Setelah waktu ini lewat, maka tak ada lagi waktu untukku. Begitulah bisikan tubuhku kepada jiwaku. Apakah aku salah sebagai seorang yang telah berusia paruh baya masih dihinggapi derita asmara bagai seorang remaja? Apakah ada yang salah, bahwa di usia paruh baya ini, aku belum menemukan belahan hati yang mendampingi hidupku sebagai istri? Entahlah, selama perjalanan hidupku, cinta selalu datang kepadaku bagaikan seorang perampok yang masuk ke rumah orang dan menghabiskan apa saja yang ada di dalamnya!
“Tapi cintanya bukan untukku, dan hatinya bukan milikku.”

Demikianlah segala malapetaka hidup ini seperti ditimpakan atas diriku, ketika aku tahu itu. Setiap kali, ia selalu mengatakan dengan santun: “Pak Bayu, kita bersahabat saja! Bukankah dengan demikian jalinan cinta kita justru lebih indah dan lebih bernilai?” Demikianlah, kalimat itu selalu ia katakan berulang-ulang. Memang, cinta dan hatinya adalah untuk orang-orang miskin dan tertindas, terlebih di negeri ini yang jumlahnya semakin tak terbilang. Barangkali untuk alasan ini, aku termasuk seorang laki-laki yang egois. Tapi cintaku tak mampu aku hapus dan tetap lestari untuknya. Aku tidak pernah lelah untuk menggapainya. Hari-hariku, malam-malamku selalu dipenuhi ingatan akan dirinya.

***
Siang tadi, memang bukan peritiwa kebetulan. Ia dan tiga orang volunteer di LSM-nya, tengah mengikuti pertemuan di Jogja bersama beberapa orang dari beberapa LSM, untuk merumuskan kembali tentang model advokasi yang lebih tepat, di tengah perubahan cepat di negeri ini. Ia yang memberitahukan informasi ini kepadaku lewat email yang aku terima kemarin lusa.

Terakhir kali, aku bertemu dia tiga tahun yang lalu. Oleh karena itu, kesempatan ini tidak aku sia-siakan. Aku berkunjung ke rumahnya yang asri di jalan Bantul. Jabat eratnya menyambutku, sambil suara lembutnya melantunkan ucapan selamat datang. Dalam sekian waktu aku ternganga. Aduh, betapa bahagianya hatiku! Aku tidak puas-puasnya memandangi wajahnya yang ayu. Jiwaku pun serasa bergetar sampai mengoyakkan relung-relung batinku! Aku bisa membau wangi harum tubuhnya, serta mengagumi putih bening sinar matanya, memandangi sepuas hati keindahan lentik bulu matanya, atau manikmati manis senyumnya dan kelembutan rona wajahnya. Aku tak puas-puasnya memandangi keindahan di dalam keseluruhan dirinya. Sejak dahulu, aku tidak pernah jemu untuk memandang wajahnya. Aku selalu mencuri-curi kesempatan untuk bisa memandangnya. Sungguh, dia benar-benar tiada duanya.

Di dalam hatiku, aku merasakan ketentraman, ketenangan dan kedamaian hati saat duduk di dekatnya. Tetapi, sekaligus hatiku bergemuruh oleh gelora cintaku yang membara. Seandainya setiap pikiran adalah perbuatan, dan seandainya bahasa-bahasa ciptaan manusia mampu mengungkapkan seluruh perasaan manusia. Pasti sudah ada banyak hal yang telah aku lakukan, dan telah ada begitu banyak kata yang telah aku ucapkan. Tapi tidak setiap pikiran mampu diujudkan dalam perbuatan, dan bahasa manusia begitu miskin dan tidak pernah mampu mewadahi seluruh perasaan manusia. Maka, dalam pertemuan itu tak banyak kata. Kami hanya diam seribu bahasa. Aku memang tak butuh kata-kata. Yang aku butuhkan adalah kehadiranya. Cinta adalah tanpa kata.

Ah, aku ingin sekali menggenggam hangat tangannya, mencium indah bibirnya dan memeluknya erat-erat dalam dekapan kasihku. Tapi, asa tinggallah dalam asa. Sebab aku adalah manusia yang terpenjara. Ternyata, tubuhku telah menjadi penjara bagi jiwaku. Tapi, kesadaranku tak ingin dipasung! Dalam kontemplasi, kesadaranku menggapai-gapai, agar asa menjadi realita. Kesadaranku pun bebas berkelana mencari pemuas dahaga. Aku genggam erat hangat tangan kekasihku. Aku peluk dia, aku cium dia dengan seluruh perasaan cintaku yang dalam!

“Silahkan kalau mau bercerita, aku akan mendengarkan!” Suaranya yang terdengar merdu menyadarkanku kembali. Ternyata aku masih tetap tinggal di dalam dunia, dan untuk itu aku harus mematuhi aturan main dunia. Kembali aku terlempar ke dunia nyata. Jiwaku kembali masuk ke dalam sangkarnya.

Ternyata, semuanya hanya ciptaan dari pikiran-pikiranku. Kekasihku pun bahkan aku ciptakan dari pikiran-pikiranku sendiri. Mungkin karena itulah Ludwig Feuerbach pernah mengatakan: “Bukan tuhan yang menciptakan manusia, tetapi manusialah yang menciptakan tuhan melalui pikiran-pikirannya.”

Pada awalnya, manusia menciptakan tuhan dari pohon-pohon besar dan batu-batu keramat. Tetapi, ketika manusia mampu mengalahkan alam, manusia membunuh tuhan-tuhan itu. Kemudian manusia menciptakan tuhan dalam ujud yang lebih besar, seperti matahari, bulan, petir, lautan dan sebagainya. Akan tetapi, ketika manusia berhasil menaklukkannya, sekali lagi manusia membunuh tuhan-tuhan itu. Lalu, manusia menciptakan tuhan yang transenden, yang immaterial, yang tidak tergapai. Dan orang-orang zaman ini, sekali lagi membunuh tuhan, ketika tuhan yang transenden itu seolah tidak lagi mampu menjawab kompleksitas persoalan hidup manusia di dunia ini, seperti kemiskinan dan ketidakadilan. Manusia memang selalu dihadapkan kepada ketidakberdayaan dan untuk melarikan diri dari masalah itu, manusia menciptakan tuhan-tuhan.

Lamunanku kembali terhenti saat dia mengajakku untuk bersantap siang. Tiga jam terasa hanya beberapa detik saja berlalu. Ah, seandainya lajunya waktu bisa aku tahan, aku ingin waktu itu berhenti. Tapi menit-menit melesat bagaikan laju peluru, dan tak terasa tiga jam pun berlalu.

Sekian tahun aku menahan haus, tetapi aku hanya dapat minum setetes air. Aku masih dahaga! Aku masih haus! Apakah aku masih memiliki tenaga untuk melanjutkan perjalanan di padang gurun yang gersang ini? Saat inilah aku merasakan kerapuhanku sebagai seorang lelaki. Teriakku: “Aku butuh seorang penolong!” Dengan langkah gontai dan hati galau aku meninggalkan rumah bercat biru-ungu itu. Selama perjalananku pulang yang hanya tiga puluh menit dengan mengendarai vespa bututku, keringat dingin terus mengucur deras. Pada hal, udara tidaklah gerah. Sesampai di rumah, badanku lemah lunglai. Aku ganti pakaian dan langsung tidur. Hari yang aku tunggu-tunggupun berlalu dengan perasaan sendu.

Aku terjaga menjelang petang hari, ketika ibuku yang baik membangunkanku sambil menghidangkan makanan dan lauk-pauk bermacam-macam. Tapi hanya beberapa sendok saja dapat aku santap, sebab aku tak memiliki nafsu makan. Sejak dulu, ibuku memang teramat baik kepadaku. Kepada ibuku, aku berhutang budi dan tak akan pernah bisa aku lunasi.

“Tapi cintanya bukan untukku dan hatinya bukan milikku.” Manakala aku mengingat semuanya itu, hidupku terasa tak bermakna. Aku seperti masuk dalam lorong gelap tiada ujung. Hatiku gelisah! Sekali lagi cinta datang kepadaku dengan pedang yang terhunus, ia menikamku, dan pergi dengan meninggalkan luka yang menganga.

Ludwig Feuerbach, sang filsuf besar dari Jerman itu pun pernah mengatakan: “Cinta hanyalah dorongan spesies!” Cinta merupakan tipuan spesies untuk mempertahankan dirinya. Tapi, kalau hanya sebatas itu, aku pasti dengan mudah akan mendapatkan cinta-cinta yang lain. Tapi bagiku, cinta adalah sesuatu yang transenden dan aku telah dikuasai olehnya. 

Petang belum lagi pekat, tapi mataku terasa berat oleh kucuran air mata yang tertahan. Segera aku melemparkan tubuhku di tempat tidur. Aku membenamkan wajahku dalam-dalam di antara tumpukan bantal. Aku ingin menangis, tapi tiada air mata yang mengucur. Aku ingin berteriak, tapi tiada kata yang terucap, selain sebuah keluhan yang dalam: “Oh Tuhan Semesta Abadi!” Ternyata, aku masih membutuhkan Tuhan. Cinta telah mengantarkan kesadaranku ke tingkat pengalaman transenden. Melalui pengalaman ini, aku merasakan, ada “Sesuatu” yang lebih besar dari “aku” yang selalu mengarahkanku kepada Yang Transenden. Dalam hati, aku memohon kemurahan Sang Pencipta hidupku. Pikiranku pun melayang-layang di sela mega-mega, sampai aku tertidur karena letih, dan malam ini aku kembali terbangun.

Tiba-tiba lamunanku terjaga, oleh suara azan subuh dari masjid di seberang. Tinggal satu jam lagi mentari pagi akan terjaga dan memberikan sinar terangnya bagi seluruh semesta raya. Dengan beranjaknya waktu dan bertambahnya hari, esok pagi usiaku semakin mendekat ke angka empat puluh. Di usia tengah baya ini, aku akan membangun kembali sebuah optimisme tentang hidupku, agar menjadi lebih bermakna, sebagaimana aku menyongsong cahaya baru di esok hari, seperti yang dikatakan orang bijak: “Life begins at forty.”

0 komentar:

Poskan Komentar