Ads 468x60px

Seorang Lelaki yang Dihukum Mati

Sebutir peluru menembus lambung kirinya. Darah segera mengalir dari lubang yang ditinggalkannya. Lelaki muda yang penuh luka itu terhuyung dan terempas ke tanah bebatuan. Satu, dua tendangan masih melayang mampir ke mukanya sebelum akhirnya ia hembuskan nafas penghabisan. Ia mati mengenaskan.
* * *
Lelaki itu memang pantas mati, bahkan dengan cara yang paling keji (disiksa, dipukuli, dicambuki, dan ditembak mati). Kurasa itu hukuman yang tepat untuk lelaki seperti ia ini. Lelaki yang tak tahu diri. Mengatakan bahwa ialah pemegang kebenaran tapi ketika ditanya apa itu kebenaran, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Pembohong! Penipu! Hanya lelaki rendahan yang ingin menghancurkan tatanan yang telah beribu tahun ada. (bahkan pada sebuah kesempatan, ia mengatakan hanya butuh tiga hari untuk membangun sebuah dunia…..ah, betapa sombongnya lelaki itu, ingin rasanya aku sobek mulutnya yang menebar kesombongan itu.)

Tak jelas pekerjaannya. Kata orang lelaki muda itu berasal dari desa N. (baik tak usah kusebutkan nama desanya, yang jelas dari desa N ini telah terlahir banyak penjahat, perampok….dan kurasa ia tak jauh dari predikat itu. Mana ada yang baik yang datang dari desa N itu? mustahil, bukan?) Ia hanya sedikit pandai bicara, ini mesti kuakui. Dan dengan sedikit kepandaiannya itu ia mencoba menghasut rakyat, mempengaruhi pola pikir mereka, mencoba mengubah cara pandang dan cara hidup mereka….barangkali ia ajarkan komunisme atau barangkali marxisme, aku tak begitu jelas soal ini. Ia mesti mempertanggungjawabkan semua itu. Ia mesti bertanggung jawab atas keresahan yang mulai menjalar di tengah masyarakat seiring kedatangannya di kota ini. Tidak mungkin tidak, ia adalah satu-satunya tertuduh, dan sepantasnya dipersalahkan. Ia seorang provokator, penghasut rakyat, pencipta kegelisahan dan keresahan di tengah masyarakat. Pantaslah kalau ia dihukum.

Lelaki itu memang pantas mati, bahkan seharusnya dengan cara yang lebih keji lagi agar setimpal dengan kelakuannya. Ia pernah menulis sebuah kritik tajam di sebuah surat kabar lokal. Katanya, aturan-aturan yang ada di kota ini perlu dipertanyakan lagi dan kalau perlu diperbarui. Katanya pemerintah terlalu mencintai birokrasi. Aturan-aturan hanya memihak penguasa, yang di atas, dan cenderung merugikan rakyat kecil. Bahkan, ia mengatakan bahwa semua itu hanya untuk menjamin kelanggengan kapitalisme. Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Menurutku, ia hanya melemparkan tuduhan yang tak berdasar. Lihatlah, betapa ia tak menghargai sebuah tradisi yang beratus bahkan beribu tahun talah terbukti baik dan boleh dikatakan telah teruji.

Pembaharuan....pembaharuan...omong kosong. Ia hanya melemparkan harapan semu. Menebar mimpi-mimpi. Dan mereka yang menyesatkan pikiran dan tindakan masyarakat sepantasnya dihukum.
Sekali waktu aku pernah mendapatkannya sedang bercengkerama dengan para (maaf!) pelacur. Ia tertawa dan terlihat begitu akrab dengan mereka. Bagaimana mungkin orang dapat percaya kepadanya? Tidakkah jelas bahwa ia yang pada sebuah kesempatan bicara tentang Tuhan, tapi di lain waktu bercanda ria dengan para (maaf!) pelacur, adalah lelaki yang munafik? Ia malah menuduh pemerintah, penguasa orang yang munafik, tak menjalankan hukum semestinya, membuat aturan yang berat tapi tak menjalaninya sendiri, dan masih banyak kritik yang lain yang mampir ke telingaku. Lelaki itu harusnya bercermin, Bukankah ia sendiri yang patut dipersalahkan? 
* * *

Sungguh, lelaki itu baik hati. Aku tak tahu mengapa ia dihukum begitu keji, dipukuli, dicambuki, dan kemudian ditembak tepat di lambung sebelah kiri. Aku begitu yakin ia tak pantas menerima semua hukuman itu. Aku tahu ia lelaki yang baik hati, ramah, dan murah senyum. Ketika malam mulai merangkak naik, aku sering menghabiskan waktu bersamanya. Di warung kopi utara pasar itu, ia sering menceritakan kepadaku kisah-kisah yang indah. Di antara sekian temanku yang kutemui di warung kopi itu, hanya lelaki itulah yang pandai merangkai kata-kata (entah dari mana) menjadi sebuah cerita yang bermakna. Ia begitu suka membuat perumpamaan-perumpamaan yang kadang tak kumengerti maksudnya. Kadang aku mesti bertanya agar ia menjelaskan maksud ceritanya.

Aku ingat, ia pernah menceritakan kepadaku (harusnya kami karena waktu itu tak hanya aku yang mendengarkan ceritanya di warung kopi itu. Ada beberapa orang lain yang tak semuanya kuingat) sebuah kisah tentang Bapak yang sangat baik hati. Karena kebaikan hatinya itu, ia tak sanggup marah kepada anaknya yang durhaka. (menurutku, anak itu lebih durhaka daripada malin kundang yang terkenal itu). Tiap senja menjelang, Bapak yang baik hati itu selalu menanti anaknya yang sudah sekian waktu minggat dan menjual barang-barang berharga yang ada di rumah Bapaknya itu. Bapaknya begitu yakin bahwa anaknya ini akan kembali. Sementara anaknya yang pergi itu jatuh dalam kedosaan. Ia menghambur-hamburkan uang dan segala yang dimilikinya untuk berpesta dan bersenang-senang. Suatu kali karena harta yang dihamburkannya habis, dan kehidupannya semakin susah (barangkali karena krisis ekonomi), anaknya itu teringat akan kasih bapaknya yang ia rasakan sewaktu kecil dulu. Anak itu pun akhirnya menguatkan hatinya untuk pulang dan mengaku telah bersalah kepada bapaknya. Dan, akhirnya penantian Bapak tadi tidak sia-sia, sang anak yang pulang dengan penuh rasa penyesalan itu disambut dengan suka cita oleh Bapak yang baik hati itu. Begitulah, cerita-cerita lelaki muda itu masih begitu lekat di dalam pikiranku dan seringkali mengusik diriku. Masih ada banyak cerita lain yang tak kalah mengusik hatiku. 

Lelaki itu sungguh baik hati, kalau aku tak punya uang ia dengan senang hati membayariku untuk sekadar minum kopi di warung itu. Ia juga suka tertawa. Wajahnya selalu menghadirkan kegembiraan bagi yang melihatnya. Aku tak habis pikir lelaki sebaik itu dihukum mati secara keji. Kukira, itu sebuah kesalahan, atau mungkin tuduhan yang dibuat-buat, fitnah. Tak pernah ia membuat orang banyak resah, paling-paling mengajak orang untuk berpikir tentang perumpamaan-perumpamaan yang ia buat. Lalu apa salahnya berpikir? Bukankah itu hal yang biasa? Manusiawi, bahkan Rene Descartes pun pernah bilang cogito ergo sum. Saya berpikir maka saya ada. Begitulah, berpikir itu bagian yang integral dari manusia.
* * *

Semalam kira-kira pukul sebelas, lelaki itu ditangkap dan langsung diadili. Prosesnya berjalan begitu cepat. Tak jelas alasan mengapa ia ditangkap. Aku memang di warung kopi bersamanya ketika semuanya berlangsung. Tiba-tiba segerombolan orang berpakaian dinas, beberapa dari antara mereka polisi, datang ke tempat kami. Lalu, seketika itu juga ia ditangkap. Dimasukkan ke dalam mobil. Anehnya, lelaki muda itu tak melawan, seperti domba yang kelu digiring ke ladang pembantaian. Sepertinya ia tahu, melawan pun tak ada gunanya. Atau barangkali ia sudah tahu bahwa semuanya akan berakhir seperti itu? Aku ingat lelaki muda itu suka meramal. Dan tebakannya seringkali benar. Dia pernah memprediksikan bahwa perekonomian negeri ini akan kacau dan itu terjadi. Persis seperti yang dikatakannya. Selama bertahun-tahun ini perekonomian di negeri ini kacau. Juga tentang kemandegan pengusutan kasus korupsi mantan pemimpin negeri ini, jauh-jauh hari ia sudah menduganya. Ya, lelaki itu tak berontak (bahkan terkesan menyerahkan diri), sedangkan kami yang bersama-sama dengan dia minum kopi, entah mengapa lari, berhamburan tak tentu arah. Semua pergi karena melihat polisi. Barangkali polisi begitu dekat dengan pengalaman traumatis kami, di mana polisi terasa begitu menakutkan, bukan pengayom rakyat, abdi masyarakat, tapi lebih sebagai pengayom pejabat dan pengadi uang. (tentu tak semua polisi begitu, bukan?).

Selanjutnya, proses pengadilan berjalan sangat cepat. Ia tak melawan, tak mendebat, tak menyangkal (meskipun juga tak mengiyakan) tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepadanya. Ia diam saja (celakanya, diam sering diartikan setuju). Maka terjadilah, ia dituduh sebagai penghasut rakyat, pikiran dan segala pendapatnya menyesatkan. Provokator, pembangkang, tak setia pada hukum dan negara, dan sebagainya. Singkatnya, hukuman mati pun dijatuhkan. Dan benar, akhirnya sebutir peluru yang menembus lambung kirinya merenggut nyawanya. Kasihan, lelaki itu...masih muda tapi harus dihukum mati dengan keji.
* * *

Lelaki itu begitu dekat dengan orang-orang kecil dan miskin. Ia senang menghabiskan sore harinya bersama anak-anak di perkampungan miskin dekat sungai itu. Sekali waktu ia bermain sepakbola bersama mereka. Lain waktu, ia mengajak anak-anak kecil itu bernyanyi. Ia lelaki muda yang begitu bergembira. Jarang kutemui sekarang ini lelaki muda yang punya wajah seriang dia. Kebanyakan anak muda sekarang berjalan dengan wajah muram dan dahi berkerut, barangkali beban study, atau membayangkan masa depan yang muram, karena sarjana pun belum tentu dapat pekerjaan, malah sering hanya menjadi pengangguran. Begitu kabur jika berbicara tentang cita-cita. Ah, betapa tak terberkati hidup dalam suasana seperti itu? Seperti terdampar ke dalam sebuah negeri yang sedih saja, di mana hidup hanya menyisakan air mata dan keputusasaan. 

Lelaki itu juga suka memancing ikan di sungai. Bersama teman-teman kecilnya ia duduk, dan sambil menunggu, ia bercerita satu dua kisah kepada anak-anak itu. Dan, anak-anak itu akan dengan senang hati mendengarkan cerita-ceritanya. Lelaki itu juga pandai membuat lelucon yang membuat suasana menjadi begitu meriah, penuh dengan kesukaan dan gelak tawa. Dan semua orang tahu, orang yang tak bisa tertawa adalah orang yang paling celaka dari yang celaka.

Apalagi? Oya, lelaki itu juga dekat dengan banyak perempuan. Barangkali karena wajahnya yang memang ganteng (tapi lihatlah ketika ia disiksa, semaraknya hilang dan wajahnya tak mirip manusia lagi....memandang pun orang akan enggan). Lebih dari itu, ia mempunyai keprihatinan tentang nasib perempuan di tengah budaya yang patriarki ini. De facto tidak sedikit perempuan yang diperlakukan dengan tidak adil. Perempuan dianggap sebagai kelas kedua dalam kehidupan di masyarakat, padahal tanpa perempuan tak akan ada perkembangbiakan, tak ada kehidupan. Ditengah kebiasaan-kebiasaan yang menomorduakan, mengesampingkan kaum hawa ini, ia justru berpihak pada mereka yang banyak menjadi korban. Entah berapa banyak korban kekerasan dalam rumah tangga yang ditanggung oleh kaum perempuan. Barangkali tak terhitung. Dan ia mencoba berempati dengan mereka.
* * *

Bagaimanapun juga lelaki itu harus mati. Entah bagaimana caranya (kalau bisa yang paling keji tentu saja) dan kapan (lebih cepat lebih baik) lelaki itu harus disingkirkan dari kehidupan ini. Ia terlalu berbahaya bagi kelangsungan pemerintahan negeri ini. Ia terlalu mengancam kehidupan Agama di negeri ini. Ia terlalu campur tangan dengan urusan-urusan politik. Dan lagi, pemikirannya tentang agama dan Tuhan terlalu riskan untuk dibiarkan begitu saja. Apa yang sudah bertahun-tahun menjadi sebuah iman kepercayaan, jangan-jangan akan hancur dengan kehadirannya. 

Entah bagaimana caranya, aku tidak mau tahu, yang jelas ia mesti mati. Kalau tuduhan dan bukti-bukti kurang kuat, mudah saja, buat bukti dan saksi palsu. Cukup. Segala sesuatu itu bisa diatur. Uang tak masalah. Yang jelas, ia harus dihukum mati, atau paling tidak, ditahan seumur hidup. Ia telah membuatku gelisah dan resah. Ia telah menghantui pikiranku hari-hari ini. Dan karena kesalahan besar itulah ia harus dihukum mati. Harus, tidak boleh ditawar lagi.

Dan, ketika hukuman dijatuhkan, aku sangat senang hati. Aku menyambutnya dengan gembira. Ia dijatuhi hukuman mati. Semua berjalan sesuai dengan rencana. Tak satu pun meleset dari perhitunganku. Semua sudah kuatur dengan rapi. Bahkan, akhirnya orang banyak yang semula berada dipihaknya, yang tiap hari ia bela berbalik membenci dan memusuhinya. Ah, betapa menyedihkannya nasib lelaki itu. Salahnya sendiri, menjadi pembangkang. Baiklah ini sebagai sebuah pelajaran bagi mereka yang ingin menghancurkan tatanan yang sudah demikian mapan di negeri ini.


* * *

Sebutir peluru menembus lambung kirinya. Lelaki itu terhuyung dan terempas jatuh ke tanah cadas. Wajahnya penuh darah, semarak hilang dari mukanya dan tubuhnya yang rapuh itu penuh luka dan darah. Ah, malangnya lelaki muda itu, aku tak pernah membayangkan semuanya akan berakhir seperti itu. Tapi, peristiwa ini justru mengingatkanku sewaktu senja, di pantai selatan sana, ia pernah berkata kepadaku seperti ini, biji kalau tidak mati dan jatuh ke tanah, ia hanya sebiji saja. Tapi, kalau ia mati dan jatuh ke tanah, barangkali ia akan bertumbuh dan berbuah banyak. Ya, lelaki itu pun barangkali sebuah biji, yang mesti mati agar mampu menghasilkan buah yang melimpah.

0 komentar:

Poskan Komentar