Ads 468x60px

SETIA – SElalu Taat dan Ingat Allah

@Buku XXX Family Way (Kanisius)
“Sifat cinta sama seperti sifat air dalam tanah. 
Apabila anda tidak cukup menggali, yang anda peroleh adalah air yang keruh. 
Apabila anda cukup menggali, yang anda peroleh adalah air yang bersih dan jernih.”


Sepenggal kisah: Toni baru saja lulus SMU dan memasuki Perguruan Tinggi. Suatu hari, ia baru mencari peralatan kuliah di sebuah toko. Ia ditemani pacarnya sejak SMU, Shania. Setelah berbelanja mereka hendak pulang. Waktu Toni men-starter mobilnya ia baru sadar bahwa bensin hampir habis dan ia tak mempunyai uang tunai. Ia bilang pada Shania untuk menunggu di mobil sebentar karena ia akan mengambil uang di bank yang ada di seberang jalan tidak begitu jauh dari situ. Toni masuk bank dan seketika lehernya disekap. Ia segera sadar bahwa bank itu sedang dirampok tiga orang penjahat. Toni mencoba melawan, tapi sebuah tembakan menghabisi geraknya. Toni terkapar. Para penjahat kemudian kabur membawa hasil rampokannya.

Shania melihat orang-orang itu keluar dari bank, dan heran mengapa pacarnya tidak keluar-keluar juga. Kasir bank kemudian bangkit dan segera melihat Toni yang terkapar bersimbah darah. ‘Ah, masih hidup’, serunya lalu memanggil polisi dan ambulans.

Polisi dan ambulans segera datang. Toni dilarikan ke rumah-sakit didampingi Shania yang menangis histeris serta memanggil-manggil nama Toni. ‘Toni, kau harus hidup! Kau bisa mengatasinya!’ hisaknya tak henti-henti. Toni masih mendengar tapi tak mampu berbuat apa-apa. Orangtuanya diberitahu dan datang di rumah sakit. Orangtuanya diberitahu dokter bahwa anaknya harus dioperasi dan harapan hidup adalah 40 banding 60. Toni yang sedang sekarat masih bisa mendengar ucapan dokter itu dan ia perlahan berkata pada dirinya, “aku harus hidup”. Operasi dilakukan dan keajaiban terjadi. Nyawa Toni terselamatkan. Kemudian dokter berkata pada orangtuanya bahwa diperlukan beberapa minggu untuk pemulihan kesehatan dan setelah sehat nanti orangtuanya jangan terkejut karena sebelah badannya akan lumpuh. Shania dan orangtua Toni berdoa sekeras-kerasnya. Ucapan dokter itu juga dalam kondisi setengah sadar didengarkan oleh Toni. Toni masih bisa berpikir dan yakin ia bisa sembuh lebih cepat. Hanya seminggu kemudian Toni sudah bisa pulang di kursi roda. 

Singkat cerita dalam tempo 2 tahun, ia berjuang keras melawan kelumpuhannya. Ia selalu teringat ucapan ayahnya bahwa “Mile by mile it's a trial; yard by yard it's hard; but inch by inch it's a cinch." (Mil demi mil itu adalah cobaan, depa demi depa itu sulit, inci demi inci itu adalah keberhasilan). Siang malam Shania ada di sampingnya. Dan keajaiban pun terjadi. Bertentangan dengan ramalan dokter, Toni sembuh total. Ia masuk kuliah lagi, mencari pekerjaan sampingan dan 4 tahun kemudian lulus dan bekerja. Ia menikahi Shania yang telah memberi inspirasi tak terbatas padanya melalui cinta dan kesetiaan yang tak terbatas.

Nah, disinilah, bicara soal figur Shania yang “setia”, saya jadi teringat-kenang ketika tahun 1998-1999 saya bertugas sebagai frater asistensi di paroki sekaligus mengajar di SMA Theresia, Menteng, saya kerap naik metromini jurusan Senen - Setiabudi. Saya juga mengenal seorang romo diosesan senior di KAJ, yakni Rm. Setya Gunawan. Di bilangan Cilandak, Jakarta Selatan juga terdapat kampus Prasetya Mulya. Orang yang solider dengan sahabatnya disebut sebagai orang yang setia-kawan. Bergurau sedikit soal zodiak, bintang Taurus (21 April - 20 Mei), dianggap sebagai bintang yang paling setia, dan bintang Pisces ( 20 Februari - 20 Maret), dianggap sebagai “si peselingkuh yang mengaku setia.” Saya juga mengingat sebuah kelompok musik dari Jogja bernama Jikustik, yang pernah melantunkan sebaris lirik romantik, “....aku masih disini untuk...setia..” Kebetulan juga adik saya yang paling kecil namanya, JB.Tri Setiabudi.

Disinilah juga, saya menjadi kembali teringat bahwa selama saya berkarya sebagai pastor di paroki Tangerang dan Cilincing, saya sangat mengharapkan bahwa setiap mempelai yang siap saya nikahkan bisa menghafal dan sungguh memahami janji setia pernikahan yang akan dikecap-ucapkan pada hari sakramen pernikahannya. Hal ini juga berlaku ketika adik perempuan saya hendak melangsungkan sakramen pernikahan bersama dengan pasangannya. Kira-kira begini bunyi janji setia mereka berdua: 

P : Di hadapan Allah, imam, dan para saksi, saya menyatakan dengan tulus ikhlas bahwa mulai saat ini (Anastasia Desi Dwi Susanti) yang hadir di sini menjadi istri saya yang sah. Saya berjanji akan selalu setia padanya dalam suka dan duka, dalam untung dan malang, dalam keadaan sehat ataupun sakit. Saya akan mencintai serta menghormatinya sepanjang hidup. Demikian janji setia saya demi Allah dan Injil Suci.
w: Di hadapan Allah, imam, dan para saksi, saya menyatakan dengan tulus ikhlas bahwa mulai saat ini (Ignatius Welly) yang hadir di sini menjadi suami saya yang sah. Saya berjanji akan selalu setia padanya dalam suka dan duka, dalam untung dan malang, dalam keadaan sehat ataupun sakit. Saya akan mencintai serta menghormatinya sepanjang hidup. Demikian janji setia saya demi Allah dan Injil Suci.

Bukankah pernikahan sendiri ibarat sebuah bangunan? Agar suatu bangunan tahan menghadapi angin, hujan, panas, gempa, rayap, longsor, maka bangunan tersebut memerlukan perencanaan yang baik, fondasi yang kuat, dan pemeliharaan terus-menerus. Agar pernikahan bisa menghadapi godaan, gejolak, guncangan, perubahan, longsornya semangat, maka pernikahan memerlukan perencanaan yang baik, fondasi yang kuat, dan pemeliharaan relasi secara terus-menerus juga bukan? Fondasi dari pernikahan adalah janji setia pernikahan. Karena pernikahan adalah komitmen kesetiaan seumur hidup, masihkah kita (bagi yang sudah menikah tentunya), setia pada janji pernikahan di atas? Sungguh tepatlah apa yang dikatakan oleh Joe Sin, “Mendapatkan mawar, berarti juga menerima duri -- To have the rose, you must accept the thorns.”

Berangkat dari aneka pernyataan di atas, sebetulnya apa arti kata setia? Yang pasti, setia bukan berarti, “selingkuh tiada akhir”, bukan? Di dalam kamus, kata ‘setia’ mempunyai beberapa arti dasar, yakni: “taat, patuh; bagaimanapun berat dan susah - tetap melakukan tugas; berpegang teguh dalam perjanjian.” Adalah sebuah kisah nyata: Jake Baysinger (25 tahun) ditemukan tewas di Grasslans National Pawnee, Denver, Amerika Serikat. Di samping jenazahnya, ditemukan anjing jenis gembala Jerman milik Jake Baysinger. Diduga, anjing bernama Cash ini sudah enam minggu dengan setia menjaga tubuh tuannya. Cash terlihat kurus dan mengalami dehidrasi, tapi masih hidup. Anjing itu diduga bertahan hidup. Dengan kesetiaan dan daya tahannya itu, Cash berhasil membawa tim penyelamat untuk menemukan jenazah tuannya. Pihak kepolisian bahkan menduga Cash dengan gagah berani mengusir sejumlah serigala buas yang mendatangi jenazah tuannya itu. Disinilah, Cash mengajarkan kita tentang arti sebuah kesetiaan: “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan memberikan kepadamu mahkota kehidupan.” (Wahyu 2: 10B).

Dalam kosakata Bahasa Inggris, kata setia bisa berarti, “faithful“. “Faithful, dibentuk dari kata dasar, “faith” yang berarti “iman”. Dkl: kesetiaan itu terkait-paut dan terjalin-erat dengan dimensi iman. Di hadapan Tuhan yang maha agung, tentunya kita semua sesungguhnya hanyalah hamba dalam kacamata iman. Martabat seorang hamba itu diukur berdasarkan kesetiaannya, bukan? Jika setia, maka dia akan mendapatkan kepercayaan dari tuannya. Jika didapati tidak setia, maka dia akan dicampakkan oleh tuannya: “Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Matius 25: 21)

Bagi saya sendiri, setia bisa berarti, “Selalu taat dan ingat Allah.” 

Kata “selalu” mengandaikan kontinuitas/konsistensi: sama di setiap tempat dan setiap saat: entah suka maupun duka, pahit dan manis, untung dan malang, sehat ataupun sakit. Baik juga kalau kita mengingat pemazmur yang mendaraskan, “Tuhan adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.” (Mazmur 103:8). Dari hal inilah, wajar seorang novelis, Agatha Christie pernah berkata, “Seorang arkeolog adalah suami terbaik yang bisa didapat perempuan; semakin tua isterinya semakin tertarik suaminya pada dia -- An archaeologist is the best husband a woman can have; the older she gets the more interested he is in her. Pada praksisnya? Orang Jawa berkata, “esuk dele sore tempe – lambe domble mencla mencle:”sekarang bilang yayang-besok bilang peyang, sekarang setia-besok selingkuh, dulu berkata sayang-kini nyatanya suka nendang.

Kata “taat” bisa berarti, pada waktu sukar, orang yang setia akan terus patuh dengan pelbagai perintah Tuhan. Ingatlah sosok Ruth dalam dunia Perjanjian Lama: “Tetapi kata Rut: Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan” (Ruth 1: 16, 17). 

Bicara soal taat, saya jadi teringat sebuah gereja indah di Israel, “Dominus Flevit”, artinya, “Tuhan yang menangis.” Di sinilah, saya pernah juga mempersembahkan misa. Dengan menuruni puncak Bukit Zaitun, melalui jalan di samping Gereja Pater Noster, kita bisa menjumpai gereja indah berbentuk seperti butiran air mata ini. Gereja ini didirikan pada tahun 1891 untuk mengenang tangisan Yesus atas Yerusalem. Dalam Injil Lukas, dapat dibaca bahwa, ketika Yesus hampir sampai di Yerusalem, di jalan yang menurun pada Bukit Zaitun, semua pengikutNya yang banyak itu mulai berseru-seru memuji Allah dan mengucap terima kasih kepadaNya karena semua keajaiban yang telah mereka saksikan (Luk 19:37). 

Beberapa ayat sesudahnya, Lukas menambahkan, ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangis. Kata-Nya penuh makna:”...Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu ! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batupun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau.” (Luk 19:41-44). Di Gereja Dominus Flevit inilah, (yang adalah milik para biarawan OFM, dan didirikan di atas reruntuhan kapel kuno, yang altarnya dihiasi jendela kaca dengan panorama ke arah Yerusalem), Yesus sungguh tampil sebagai sosok yang insani: yang sungguh manusia, yang mempunyai rasa sedih, rasa iba, pergulatan juga kerapuhan dalam mempertahankan ketaatannya kepada Bapa. Lewat jendela di belakang altar gereja tersebut, jika kita melihat ke bawah, akan nampaklah lembah Getsemani dan lembah Kidron. Jika kita melihat ke atas, akan nampaklah bukit Moria. Di bukit inilah Abraham dengan ketaatan yang penuh rela mempersembahkan Ishak kepada Allah. 

Sedangkan, kata “ingat Allah” menandakan sebuah keutamaan iman yang mesti dimiliki dalam sebuah keluarga. Bila keadaan dan segala sesuatu tidak menguntungkan atau mendatangkan hasil, orang yang setia tentu akan terus ingat pada janji-janji Tuhan, bukan? “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, bersukaria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.” (Habakuk 3: 17). Ingatlah juga kisah tentang Yusuf, yang selama bertahun-tahun lamanya mengalami masa-masa yang amat sukar: dibuang ke sumur, di jual oleh saudara-saudaranya, dijadikan budak dan bahkan harus sampai masuk ke dalam penjara karena difitnah. Namun Yusuf tetap ingat kepada Tuhan! Di dalam Kapel St Helena, di dekat Gereja Makam Suci juga terdapat sebuah altar dengan nama altar Dismas. Siapa itu Dismas? Dialah penyamun yang bertobat, yang mengajak kita juga belajar ingat akan Allah (Yoh 23:41). Sikap ingat akan Allah dari diri Dismas ini membuat saya teringat akan sebuah lirik lagu taize Bruder Roger cs, ”...Yesus remember me when You come into Your kingdom...”

Yesus sendiri jelas mengajar kita untuk setia, “selalu taat dan ingat Allah, bukan? Dia pernah berdoa:“Ya Bapa-ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Luk 22:42). Peristiwa ini digambarkan di atas altar utama Gereja Getsemani, Gereja Segala Bangsa. Karena sangat tertekan, Yesus didatangi seorang malaikat yang menguatkannya. Ia sangat menderita secara batin sehingga Ia makin sungguh-sungguh berdoa. Keringatnya seperti darah menetes ke tanah (Luk 22:42-44). Pada saat saya mempersembahkan misa di tahun 2007, di Taman Getsemani ini ada delapan pohon zaitun yang sudah sangat tua sekali, diperkirakan umurnya sudah lebih dari 3000 tahun. Disinilah Yesus mengajarkan bahwa, tujuan hidup adalah melakoni hidup dengan tujuan. -- The purpose of life is to live a life of purpose.

Dalam konteks sebuah rumah tangga, suami-isteri yang mencoba untuk setia dan saling cocok bukan berarti pasangan yang selalu seia-sekata, tetapi selalu mau terus belajar: saling melengkapi, saling menyesuaikan diri bersama Tuhan. Cocok, matching atau ‘compatible’, ibaratnya dua senar kecapi yang berbeda-beda nada dan ketebalannya, tapi bisa dibuat harmonis dan cocok satu sama lain. Ibarat otak kiri dan otak kanan yang amat berbeda tetapi harus berfungsi atau bekerja bersamaan. Intinya, kedua pihak begitu berbeda tetapi begitu sepadan. Seorang konsultan keluarga, Charlie Shedd, pernah mengatakan, “Pernikahan bukanlah mencari yang tepat tetapi menjadi orang yang tepat.

Diakhir tulisan ini, ingatlah juga pesan bijak seorang Bunda Theresa, yang mempunyai banyak keluarga: orang-orang miskin di Calcutta. Dia mengatakan, “kita tidak dipanggil untuk sukses, tapi untuk setia.” Ya, selalu taat dan ingat Allah!

“Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. 
Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, 
atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. "
Matius 6:24


0 komentar:

Poskan Komentar