Ads 468x60px

“Utak Atik Gatuk: 30 Telaah Angka”

(Buku “TANDA”, Kanisius)

1. Tujuh Arus Dosa
Bicara soal angka tujuh, saya jadi teringat-kenang buku legendarisnya Stephen Covey, “Seven Habits” yang saya baca ketika masih duduk si bangku kuliah di bilangan Rawasari Jakarta Pusat. Ia mencandra, ada tujuh kebiasaan manusia yang berkualitas, yakni: 1. Menjadi Proaktif: ber-tanggung jawab/berinisiatif: menentukan Tindakan Sendiri. 2.Memulai dengan Tujuan Akhir: Visi/Nilai-Nilai/Fokus. 3.Mendahulukan yang Utama: Integritas/Pelaksanaan Prioritas Tindakan. 4.Berfikir Menang-Menang: Manfaat Bersama/Saling Menghormati, Mental Berkelimpahan. 5.Berusaha Memahami, Baru Kemudian Dipahami: Saling Memahami, Pertimbangan dan Keberanian. 6.Bersinergi: Kerjasama kreatif, menghargai Perbedaan. 7.Mengasah Gergaji: Pembaharuan pribadi secara utuh.

Tapi ternyata di lain matra, ada juga “Seven Habits” yang membuat kualitas manusia menjadi menurun. Tujuh kebiasaan yang saya sebut sebagai “tujuh arus dosa” ini juga mungkin yang membuat Maria dari Magdala harus dibebaskan dari tujuh roh jahat yang ada di hatinya (Lukas 8:2).

Arus pertama, adalah kesombongan. Lihatlah, legenda sederhana kisah sang Lucifer. Lucifer dulunya adalah salah satu malaikat agung, selain trio Mikael, Rafael dan Gabriel. Lucifer ini pintar bermain musik, piawai memimpin koor dan elegan bernyanyi. Tapi ternyata kelebihannya ini juga sekaligus menjadi kelemahannya: karena ia merasa pintar, maka ia merasa sombong dan ingin mengalahkan Tuhan. Dan, ternyata Tuhan tidak berkenan pada orang sombong, maka Tuhan pun mengusir Lucifer dari surga. Lucifer akhirnya dibuang ke dalam api neraka bersama para setan yang lainnya.

Arus kedua, kemarahan. Lihatlah sepenggal kisah kakak beradik, Kain dan Habel dalam Kejadian 4:1-16, terlebih ayat 5, “tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram.”

Arus ketiga, kemalasan. Lihatlah kisah asmara terlarang antara Raja Daud dan Batsyeba binti Eliam, isteri Uria orang Het itu (2 Samuel 11:1-27). Dikatakan dalam kitab itu: “pada pergantian tahun, pada waktu raja-raja lain biasanya maju berperang, Daud, (seorang raja Israel terbesar, yang sampai hari ini, makamnya dihormati di Bukit Sion oleh banyak orang Yahudi) menyuruh Yoab maju beserta seluruh orang Israel untuk memusnahkan bani Amon dan mengepung kota Raba. Tapi, Daud sendiri malahan asyik bermalas-malasan tinggal di istananya di Yerusalem. Dan, sekali peristiwa pada waktu petang, ketika Daud asyik bermalas-malasan di atas sotoh istananya, tampaklah seorang perempuan yang sangat elok rupanya, sedang mandi; maka Daud pun jatuh pada tujuh lingkaran dosa yang lebih besar, berzinah dengan isteri orang, berusaha menyuap dan membuat mabuk Uria, membunuh Uria dengan sengaja, dsbnya. 

Arus keempat, iri hati. Kisah populer dalam Injil Lukas 15: 11-32 tentang anak yang hilang. Ternyata bukan hanya anak bungsu yang hilang, tapi anak yang sulung juga hilang karena hatinya penuh iri. “Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: “Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia.”(Luk 15:28-30). Atau tentang Yusuf, anak bungsu yang disayang ayahnya, ternyata dibuang oleh kesepuluh kakaknya yang iri hati padanya, juga bisa menjelaskan arus keempat ini dengan lugas dan jelas. Atau tentang orang Farisi dan Saduki yang iri terhadap Yesus. Atau imam kepala dan pengikutnya yang iri hati dengan para murid Yesus, akhirya memenjarakan para rasul juga, tanpa alasan yang jelas. 

Arus kelima, kerakusan. Sebuah film kartun animasi dari negerinya Oshin, ‘Doraemon’ dengan marsnya, “aku ingin begini, aku ingin begitu, ingin ini ingin itu banyak sekali” menggambarkan secara tidak langsung tentang manusia yang rakus, yang tidak pernah bisa berkata cukup

Arus keenam, ketamakan. Sekarang banyak terdengar istilah trendi, cewek matre atau cowok borju, atau UUD, Ujung Ujungnya Duit. Atau, we can not do it without du it”. Padahal sejak dulu, Yesus sudah mengingatkan, dalam Matius 19: 24, “Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."

Arus ketujuh, yakni percabulan. Maraknya praktek seks bebas, selingkuh di antara keluarga, budaya pornografi dan pornoaksi, aneka kasus perkosaan dan pelecehan seksual menjadi contoh nyata menjamurnya arus dosa yang ketujuh ini. Pernah jatuh pada arus dosa ini? Ingatlah pesan Yesus dari Nazareth,: "Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya." (Matius 16:27). Sudahkah kita bertobat hari ini?



2. Tujuh Jurus Cinta
Ada yang jadi pemimpin, ada juga yang jadi pemimpi. Ada yang suka bersyukur, ada juga yang suka berkeluh. Dalam setiap LDK atau aneka retret yang saya bimbing, hal di atas biasa saya sebut dengan giver atau taker. Giver, sebuah sebutan bagi orang yang suka memberi, sedangkan Taker, sebuah sebutan bagi orang yang suka meminta/menuntut. Bagi saya, Bunda Maria adalah seorang giver. Mengapa Maria bisa menjadi seorang GIVER bagi Allah dan bagi manusia. Ada tujuh jurus cinta, yang bisa kita petik dari Bunda Maria, al: 

Pertama, Ia senantiasa bersyukur (Luk 1:46-47), “Aku mengagungkan Tuhan, hatiku bersukacita karena Allah penyelamatku”. Sebenarnya kita diajak untuk terus senantiasa bersyukur. Hidup kita dan setiap nafas yang kita hirup dan hembuskan sebetulnya adalah sebuah undangan untuk bersyukur bukan? Sudahkah kita mengagungkan Tuhan dan punya hati yang bersukacita? 

Kedua, Ia sadar diri (Luk 1:38a), “Aku ini adalah hamba Tuhan” (ecce Ancilla Domini). Kita diajak untuk sadar diri, bahwa kita hanyalah hambanya Tuhan, bukan tuannya Tuhan...kita ibarat keledai yang ditumpangi Yesus memasuki kota Yerusalem. Atau bahasanya Bunda Teresa dari Calcutta, aku hanyalah pensil di tangan Tuhan, instrumentum cum Deo. 

Ketiga, Ia pasrah (Luk 1:38 b), “Jadilah padaku menurut perkataanMu”, 
(fiat mihi secundum tuum). Kerap orang yang pasrah membuat karya Allah lebih mudah dilaksanakan. 

Keempat, Ia punya jiwa misioner (Luk 1:39), “berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda”. Maria datang dari sebuah tempat di sekitar Galilea, kemudian melahirkan Yesus di sebuah kandang hewan di daerah Betlehem, mengungsi ke Mesir, kembali ke Nazareth dan akhirnya menjalani masa tuanya bersama Yohanes rasul di Bukit Maria, Efesus Turki. Kata ‘Misioner’ sendiri berasal dari bahasa Latin: Mittere: pergi, diutus). Kita diajak untuk mau pergi diutus ke setiap tempat dan saat, membongkar (habitus) yang lama membangun (habitus) yang baru. 

Kelima, Ia peduli pada orang lain (Yoh 2:3), “Yesus, mereka kehabisan anggur”. Kepedulian dalam bahasa Inggris lebih diartikan sebagai “caring” (care=cor=hati), lebih tepat sebetulnya diartikan sebagai perHATIan. Maria peduli karena ia punya hati terhadap orang lain, berani memberi. Singkatnya, Maria tidak egois! 

Keenam, Ia berhati-hati (Lk 2:51), “Maria menyimpan semuanya dan 
merenungkannya dalam hati”. Kita diajak belajar dari Maria supaya berhati-hati dalam setiap kata dan tindakan kita. Bagus juga untuk direnungkan, bahwa dalam Injil, sebetulnya tidak banyak pembicaraan tentang Maria. Intervensi Maria dalam Injil, hanya tampak pada masa-masa awal kelahiran sampai Yesus remaja (melahirkan, mengungsi, mengantar sunat, mengantar dan menjemput ke bait Allah). Sekali di acara perkawinan Kana. Maria juga tampil lagi ketika berdiri di kaki salib Yesus (Yoh 19:245). Maria adalah simbol (wo)man behind the scenes. Dia tidak banyak muncul, tapi setiap kemunculannya selalu berarti, dialah tanda yang penuh arti, a significant sign. Di sinilah persis kita diajak untuk berhati-hati dalam kata dan tindakan kita, karena kita bukanlah pepesan kosong. 

Ketujuh, Ia sabar (Yoh 2:5), “Apa yang dikatakanNya kepadamu, buatlah itu”. Maria sabar dalam menantikan saat Tuhan. Ia setia menunggu jawaban Tuhan atas hidup dan masalahnya. 
Ada sebuah penggalan kalimat dari film “Laskar Pelangi” besutan Riri Riza dan Mira Lesmana, “hiduplah untuk memberi, dan bukan untuk meminta”. Seperti Maria sang giver, sudahkah kita juga mau belajar memberi?


3. Empat “M” Bunda Maria
Mengacu pada dogma (dogma: ajaran resmi Gereja yang dinyatakan secara meriah dengan kekuasaan Bapa Paus), iman gereja Katolik, ada empat “M“ yang telah dikenakan pada pribadi Bunda Maria. Pertama, Mater Dei, (Theotokos, Bunda Allah, Konsili Efesus, 431 M, Yoh 20:28), Kedua, Maria Virginis, (Maria Sang Perawan, sebelum, selama maupun sesudah kelahiran Yesus, dimaklumkan dalam Sinode Lateran pada tahun 649 M), Ketiga, Maria Immaculata, (Maria Dikandung Tanpa Noda, sejak tahun 150 M dan Penampakan Bunda Maria kepada St.Catherine Laboure di Paris dan St.Bernadette Soubirus di Lourdes, dimaklumkan oleh Paus Pius IX pada tanggal 8 Desember 1854). Keempat, Maria Assumpta, (Maria Diangkat ke Surga, sejak tahun 400 M dan Penampakan Maria di Guadalupe, dimaklumkan oleh Paus Pius XII pada tanggal 1 November 1950). 

Saya sendiri mencoba melihat “4 M” yang ternyata juga ada dalam diri Bunda Maria, yakni: 

Pertama, Mediator, (Mediator: in medio: di tengah-tengah). Lewat Maria, 
Allah semakin mudah menjumpai manusia dan lewat Maria jugalah, manusia semakin mudah menjumpai Allah. Ingat pepatah Latin, per Mariam ad Jesum? Jelasnya, Maria bisa menjadi seorang mediator, semacam “makelar/mak comblang“, jelasnya sebagai perantara ulung bagi Allah dan bagi manusia, semacam pintu atau jembatan bagi surga menuju dunia, juga sebaliknya. Semacam link – ex officio – jembatan antara manusia dan Tuhan. Dan St. Anselmus, penuh sukacita atas pemikiran ini, berseru guna membesarkan hati kita, “Oh, sumber kepercayaan yang terberkati! Oh, tempat pengungsian yang aman! Bunda Allah adalah bundaku juga perantaraku kepada Tuhan.”

Kedua, Model, (moda, modus: contoh, cara). Banyak orang yang menjadikan Maria sebagai model atau contoh dalam hidup berimannya. Kita bisa meneladani Bunda Maria sebagai model hidup beriman, bahwa Ia adalah tanah terbuka, mutlak terbuka kepada Allah. Maria, seorang perempuan biasa ciptaan kecil dan lemah menjadi luar biasa dan tak terbatas karena “Ya”-nya kepada Allah adalah “Ya” tanpa batas. Sebuah penggalan dari Kisah Para Rasul, “Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus.” (Kis 1:14). Gereja biasa menggambarkan Maria bersama para rasul, yang berkumpul bersama pada hari Pentakosta yang pertama. Bunda Maria sendiri adalah model ketekunan dalam doa yang dipersatukan dalam kesatuan akal budi dan hati dengan para anggota pertama Gereja. Itulah sebabnya St. Bonaventura mengatakan, ketika Maria melihat kasih Bapa yang kekal bagi manusia, yang merelakan Putra-Nya wafat demi keselamatan kita, dan kasih Putra yang bersedia wafat bagi kita, Bunda Maria juga, dengan segenap kesediaannya, mempersembahkan Putranya dan `fiat'-nya bahwa Ia wafat agar kita diselamatkan, memberikan diri dalam ketaatan pada kasih tak terhingga Bapa dan Putra kepada umat manusia.

Ketiga, Mother (ibu, bunda). Saya kerap bilang, saya bersyukur punya dua ibu. Satu di dunia, ibu yang melahirkan dan setia mengasihi saya. Satu lagi di surga, yaitu ibu Maria yang juga setia mengasihi seperti ibu saya di dunia. Ingatlah pesan Bunda Maria di Guadalupe, kepada St. Juan Diego pada tahun 1531, tepatnya pada tanggal 12 Desember, “Dengarkanlah dan camkanlah dalam hatimu, puteraku terkasih: janganlah kiranya sesuatu pun mengecilkan hatimu, melemahkan semangatmu. Janganlah kiranya sesuatu pun membimbangkan hatimu ataupun tekadmu. Juga, janganlah takut akan segala penyakit ataupun pencobaan, kekhawatiran ataupun penderitaan. Bukankah aku di sini, aku yang adalah bundamu? Bukankah engkau ada dalam naungan dan perlindunganku? Bukankah aku ini sumber hidupmu? Bukankah engkau ada dalam naungan mantolku, dalam dekapan pelukanku? Adakah sesuatu lain yang engkau butuhkan?” Seperti anak-anak lari kepada ibunya ketika menghadapi bahaya untuk minta perlindungan, demikian juga patutlah kita lari segera dengan keyakinan tak terbatas kepada Maria. St. Bernardus dan banyak para kudus lainnya mengatakan bahwa tak pernah sekali pun terdengar pernah terjadi di suatu waktu atau pun tempat bahwa Bunda Maria menolak mendengarkan doa anak-anaknya yang di bumi.

Keempat, Messenger (message: pesan, pembawa pesan). Dalam setiap penampakannya, Maria selalu tak lupa membawa pesan kasih dan perdamaian, juga pesan pertobatan bagi umat manusia, bukan? Keyakinan ini dengan sangat indah dijelaskan melalui pesan Bunda Maria di Guadalupe, 9 Desember 1531, Bunda Maria mengatakan, “Ketahuilah dengan pasti, engkau yang terkecil dari antara anak-anakku, bahwa akulah Santa Perawan Maria yang tak bercela, Bunda Yesus, Allah yang benar, yang melalui-Nya segala sesuatu beroleh hidup, Tuhan atas segala yang dekat maupun yang jauh, Tuan atas surga dan bumi. Merupakan kerinduanku yang terdalam bahwa sebuah kapel dibangun di sini untuk menghormatiku. Di sini aku akan menunjukkan, aku akan menyatakan, aku akan melimpahkan segenap cintaku, kasih sayangku, pertolonganku dan perlindunganku kepada segenap manusia. Akulah bundamu yang berbelas kasih, bunda yang berbelas kasih dari kalian semua yang hidup rukun di negeri ini, dan dari segenap umat manusia, dari segenap mereka yang mengasihiku, dari mereka yang berseru kepadaku, dari mereka yang mencariku, dan dari mereka yang menaruh harapannya padaku. Di sini aku akan mendengar isak-tangis mereka, keluh-kesah mereka, dan aku akan menyembuhkan serta meringankan segala beban derita, kesulitan-kesulitan dan kemalangan-kemalangan mereka.”



0 komentar:

Poskan Komentar