Ads 468x60px

“Utak Atik Gatuk: Telaah Kata”

(Buku “TANDA”, Kanisius)

1. Tomasku Sayang, Tomasku Malang
“Tuhan Omong Maka Aku Sadar”

Tomas anak Didimus adalah seorang Yahudi yang termasuk dalam bilangan 12 rasul. Tomas muncul ketika Yesus mau kembali ke Yudea untuk mengunjungi sahabatnya, Lazarus (Yoh 11). Menjelang perjamuan terakhir (Yoh 14), ketika Yesus memberitahu para muridNya bahwa Ia akan pergi, Tomas pesimis dan tak langsung mengerti. Tomas juga disebut dalam peristiwa penampakan Yesus di tepi danau Tiberias (Yoh 21). Namun yang kerap kita ingat dari Tomas yaitu keragu-raguannya akan Kebangkitan Yesus (Yoh 20:19-20) bukan?

Menurut tradisi, setelah para rasul berpisah pasca Pantekosta, Tomas mewartakan Injil di berbagai tempat dari Laut Kaspia, Parthian, Medes, sampai Teluk Persia dan akhirnya mencapai India dimana banyak penduduk asli di negara bagian Malabar menjadi Kristen dan menyebut diri mereka sebagai “umat Kristen Thomas”. Rasul Tomas sendiri menjadi martir di sekitar kota Madras, India di tempat yang bernama Calamine; mati dengan cara ditombak.

Dalam dunia seni, Thomas digambarkan berlutut dihadapan Kristus yang
bangkit dengan mulia, dan lambangnya adalah sebuah penggaris-siku tukang kayu dan sebilah tombak, alat yang digunakan untuk membunuhnya. Ia dimakamkan di San Thome Basilica di kota Chennai India. Tomas sendiri adalah santo pelindung para arsitek, karena ia adalah tukang kayu bahkan sangat mahir. 

Menarik untuk mencari tahu seperti apakah Tomas Rasul yang dirayakan setiap 3 Juli ini. Bagi saya, Tomas adalah satu murid Tuhan, yang dikenal paling sinis, skeptis dan kritis, karena ia bukan pribadi yang mudah percaya pada perkataan orang lain tanpa bukti yang nyata. Dan, jika direnung-menung, nama Tomas ini punya akronimnya, yakni: “Tuhan Omong Maka Aku Sadar.” 

Mengapa begitu? Ingatlah kisah ini, ketika teman-temannya bersaksi tentang kebangkitan Yesus, Tomas tidak langsung percaya dan berkata, “Sebelum aku melihat bekas paku pada tanganNya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambungNya, sekali-kali aku tidak akan percaya” (Yoh 20: 25). Sosok ini mewakili orang-orang yang rasionalis, yang tidak mudah percaya, tanpa bukti yang jelas. 

Namun, demi orang-orang seperti inipun, Tuhan mau merendahkan diri.
Karena itu, delapan hari kemudian, saat Tuhan menemui para murid, Ia mengulurkan tanganNya dan berkata, (“omong”) kepada Tomas, “Taruhlah jarimu disini dan lihatlah tanganKu, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambungKu dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah” (Yoh 20:27). ‘Omongan’ Tuhan dalam menghadapi ketidakpercayaan Tomas, membuat Tomas sadar, “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh 20:28). Pernyataan yang mengandung sebuah kesadaran bahwa Tuhan memiliki kuasa yang melebihi akal budi manusia. 

Di tengah carut marut kesibukan hidup kita, bolehlah kita ingat pesan Tuhan kepada Tomas dan kita, yang kadang menjadi “tomas-tomas modern”, “….karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya (Yoh 21:29). Memang sulit percaya tanpa melihat. Tapi lebih sulit lagi percaya akan kehadiran Tuhan, tanpa pengalaman akan sentuhan kasih Tuhan. Pertanyaannya, ingatkah kita, kapan cinta Tuhan menyapa secara pribadi, seperti ketika Dia menyapa Tomas?



2. Paskah, Riwayatmu Dulu, Kini dan Nanti
“Perempuan adalah Saksi Kebangkitan Allah”

Puncak liturgi Gereja Katolik sebetulnya adalah Paskah. Paskah sendiri adalah peringatan kebangkitan Yesus. Masa Paskah dimulai dari Pekan Suci sampai Pentakosta. Pekan Suci sendiri terdiri dari lima bagian:
• - Minggu Palma, saat Yesus masuk kota Yerusalem dan disambut serta dielu-elukan sebagai seorang raja. 
• - Kamis Putih, saat Yesus mengadakan Perjamuan Malam terakhir bersama para muridNya. 
• - Jumat Agung, saat Yesus diadili dan dijatuhi hukuman mati oleh Pontius Pilatus, disalibkan, wafat, dan dimakamkan. 
• - Sabtu Suci, saat Yesus turun ke tempat penantian, ke dunia orang mati, untuk mengabarkan Injil. 
• - Hari Minggu Paskah, saat Yesus bangkit kembali dari antara orang mati. 

Dengan ini, umat Kristen menggantikan perayaan Paskah umat Yahudi, yang disebut Pesakh (dari bahasa Ibrani). Pada saat itu umat Yahudi memperingati keluarnya bangsa Yahudi dari tanah Mesir yang dipimpin oleh Musa, sebagaimana tertulis dalam kitab Keluaran. Tapi, bagi saya, kalau direnung-menung, Paskah ini juga punya akronimnya, yakni: Perempuan Adalah Saksi Kebangkitan Allah. Mengapa? 

Sebab perempuanlah, yang pada hari Minggu Paskah menjadi orang pertama yang mendapati makam kosong dan kemudian orang pertama yang melihat Kristus yang Bangkit (bdk Yoh 20:1-18). Perempuan itu adalah Maria Magdalena! Ia adalah salah seorang dari para perempuan yang menyertai Yesus dan para rasul: “Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.” (Luk 8:1-3). 

Perlu diingat bahwa Magdalena berasal dari kata Magdala. Magdala, terletak di pesisir Danau Galilea dekat Tiberias, merupakan kota makmur yang terkenal akan hasil perikanannya. Bangsa Romawi menghancurkan kota ini karena kebejatan moral masyarakatnya. Yang menarik, dalam Talmud (ikhtisar undang-undang dan ajaran Yahudi), dari kata Magdalena terbentuklah istilah “rambut keriting wanita,” yang berarti seorang pezinah. Injil St. Markus menegaskan bahwa Kristus telah mengusir tujuh setan dari Magdalena, seorang pezinah ini (Mrk 16:9). Ia juga berdiri di kaki salib pada saat penyaliban (bdk Mrk 15:40, Mat 27:56, dan Yoh 19:25) dan menjadi saksi pada pemakaman Kristus.

Dkl: Maria Magdalena adalah perempuan berdosa yang telah bertobat, yang memperoleh pengampunan sekaligus persahabatan dengan Kristus, yang berdiri dengan setia di bawah kaki salib, dan yang melihat Kristus yang bangkit. Gereja menghormati Maria Magdalena sebagai seorang kudus, pendosa yang bertobat dan menjadikannya teladan bagi setiap orang Kristen yang dengan tulus hati berjuang mengejar kekudusan. Bagaimana dengan kita?


3. “KING” segala King
“Kasih, Iman, Nubuat dan Gay Hidup
.

Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" (Matius 16:15). Bisa jadi muncul banyak aneka ria jawaban. Tapi, bagi saya sendiri, selain sebagai gembala yang baik, Yesus adalah seorang sahabat yang mempunyai sifat-sifat seorang raja (Bhs. Inggris: KING). Adapun keempat sifat Yesus, al:

- Kasih: Yesus pasti punya kasih, karena Ia banyak bicara soal kasih, dan hidupNya pun penuh kasih bagi setiap orang. "Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi," (2 Petrus 1:4)

- Iman: Setiap mukjijat Yesus, terjadi karena manusia punya iman. Bartimeus di Yerikho, Marta di Betania, Seorang perwira di Kapernaum, dan Bunda Maria di Kana menjadi contohnya. Yang pasti, Yesus pasti penuh iman, terlebih ketika Ia mau mentaati BapaNya sampai rela mati di kayu salib yang hina dina. 

- Nubuat: Banyak perumpamaan, dan pernyataan nubuat Yesus yang dicatat dalam Injil, bahkan yang masih bergema sampai sekarang. NubuatNya banyak menginspirasi orang, dari Presiden sekaliber Ronald Reagan, sampai bahkan mungkin seorang ahli psikologi dan motivasi sekelas Andri Wongso dkk. 

- Gaya Hidup: Yesus memiliki gaya hidup yang khas. Dalam setiap hidupNya, ternyata Ia selalu memilih kelompok yang KLMTC, Kecil Lemah Miskin Tersingkir dan Cacat. Ketika Ia datang ke dunia, saksi pertama bukan Raja Herodes di Yudea, atau Kaisar Agustus di Roma,tapi kawanan gembala sederhana yang sedang tidur di padang rumput. Ketika Yesus memulai karyaNya pada usia 30 tahun, murid pertama yang dia pilih bukan para ahli kitab suci atau mahasiswa cerdik pandai di kota Yerusalem, tapi Yesus memilih Simon Petrus dan Andreas, seorang nelayan, penjala ikan yang miskin dan tidak pintar. Ketika Yesus bangkit dari mati, saksi pertama bukan wartawan Metro TV atau jurnalis majalah TEMPO, tapi Maria Magdalena, mantan pelacur yang bertobat. 

“….Oh, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya? Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya…” [Roma 11:33-36]. Sudahlah kita juga belajar dari sang “KING” ini?


0 komentar:

Poskan Komentar