Ads 468x60px

Bintang Samudera

Sebuah Tinjauan Historiografi
Patung keramat Maria “Bintang Samudera” yang sekarang berada di basilik Bunda Maria di-angkat ke Surga adalah milik para imam Fransiskan “Minderbroeders” dari St. Pieterstraat. Mere-ka mempunyai devosi besar pada Bunda Maria. Hal ini tidak mengherankan karena mereka menerima hadiah patung Maria (sangat mungkin kurang lebih tahun 1470) dari seorang saleh Nicolaus van Harlaer, ketika dia dalam usia lanjut masuk biara itu.

Patung kayu Bunda Maria dari abad ke-15 ini buatan Jerman, sesuai dengan gambaran klasik “Schöne Madonna”: Maria yang berdiri, membo-pong Kanak-kanak Yesus tak berbaju, tangan me-nunjuk pada buah (appel, peer atau seuntai anggur) yang dipegang oleh Bunda Maria.(lihat patung di kamar Bunda Elisabeth).


Dalam abad ke XV, muncullah devosi umat pada Bunda Maria lewat patung milik para imam “Minderbroerders” ini; bahkan untuk selanjutnya devosi umat ini berkembang di St. Servaas. Pada hari Senin Paskah tahun 1532 untuk pertama kalinya patung ini diarak dalam prosesi.
Dalam waktu singkat patung ini diberi mantol lebar, sesuai dengan model Eropa Selatan, sehing-ga ikonografinya juga disesuaikan: buah yang dipegang Maria menjadi semacam alas bunga leli dan Kanak-Kanak Yesus yang tak berpakaian mendapat mantol serta mahkota.
Patung Maria milik para imam Fransiskan ini menjadi pusat ibadat umat Maastricht. Terkabul-nya doa-doa dan terjadinya mukjizat penyembuh-an semakin memperkokoh devosi umat. Devosi ini berkembang pesat pada jaman Spanyol, yaitu anta-ra saat perebutan kota pada tahun 1579 sampai penutupan biara “Minderbroeder” pada tahun 1639. Rangkaian penyembuhan yang terjadi menarik sejumlah besar para pejiarah ke biara Fransis-kan tersebut. 

Prosesi pada hari Senin Paskah merupakan sukses besar; misalnya pada tahun 1621, jumlah pejiarah mencapai kurang lebih 19 sampai 20 ribu orang. Prosesi ini merupakan awal prosesi doa yang berlangsung sampai kini.

Setelah kota Maastricht diambil alih oleh jenderal kota pada tahun 1632, terjadilah apa yang di-sebut “pengkhianatan” oleh Pater Vink dan kawan -kawannya pada tahun 1638. Mereka ini rupanya menjadi mata-mata bagi Spanyol. Setelah ditang-kap dan disiksa, mereka dipenggal dan kepalanya ditancapkan pada lima tonggak yang sejak saat itu disebut “de Vief Köp”. Gedung-gedung biara disita dan para imamnya diusir dari kota pada tahun 1639.
Untuk beberapa saat patung keramat Maria disimpan di biara para suster Annuncia di Wijck, kemudian dipindahkan ke biara Slavante di St. Pietersberg, Akhirnya patung ini dibawa ke biara “Minderbroerders” di Tongeren.

Pada masa yang disebut “Frans Intermezzo” (1673-1678) patung ini berhasil dkembalikan ke Maastricht dan pada tahun 1675 ditempatkan di kapel St. Yakobus (sekarang sudah tidak ada), yang terletak di sudut Vrijthof dan Bredestraat. Setelah perjanjian damai di Nijmegen pada tahun 1678, para imam Fransiskan mendapatkan kemba-li sebagian gedung-gedung biara mereka dan me-reka mulai membangun kapel darurat. Pada tahun 1700, ketika para imam Fransiskan menghuni bia-ra baru dengan gereja di “Minderbroedersweg”, patung keramat juga dipindahkan ke sana. Mulai saat itulah patung ini mendapat nama “Sterre der Zee” (Stella Maris). Julukan “Sterre der Zee” ini berasal dari St. Hironimus, Bapa Gereja yang men-terjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa Latin. Dalam upaya mencari arti nama “Maria”, dalam bahasa Hibrani ‘Mirjam’, dia membaca nama ini sebagai gabungan dua kata Hibrani: ‘Mar’ = tetes-an dan ‘Jam’ = laut.

Jadi: “tetesan air laut” yang dalam bahasa Latin “Stilla Maris”. Akibat salah baca, “Stilla Ma-ris” menjadi “Stella Maris” yang berarti “Bintang Laut/Samudera” dan nama inilah yang muncul dalam Doa Litani Maria. Dalam abad pertengahan, julukan kehormatan bagi Maria “Bintang Laut / Samudera” menjadi nama favorit. Kita bersyukur bahwa kita memiliki hymne gregorian yang indah dalam Bahasa Latin “Ave Maris Stella”. 

Julukan “Bintang Samudera” patung keramat milik Fransiskan ini sejak tahun 1701, sebagai kenangan syukur akan mukjizat yang terjadi pada ta-hun 1684. Pada waktu itu, seorang saleh, bangsawan dari St. Pieter de Yette, baron Rivieren, selamat dari mengalami bencana laut.Ia berdoa pada Maria, di hadapan gambar Maria milik Fransiskan, dan berjanji akan membangun altar Maria, bila ia selamat. Ketika ia sungguh luput dari bencana laut dan tiba di rumah dengan selamat, dia memenuhi janjinya membangun altar Maria yang indah. Sejak itu patung ini disebut “Bintang Samudera”.

Pada akhir abad XVII, Maria dinyatakan un-tuk pertamakalinya sebagai pelindung kota Maas-tricht. Pada tahun 1796, penguasa Perancis menu-tup semua bangunan gereja dan biara serta me-rampas harta milik mereka. Pada waktu itu tidak diketahui dengan jelas, di mana patung ini berada selama masa yang penuh kekacauan itu. Kita ha-nya tahu bahwa pada tangal 31 Maret 1804, para imam Fransiskan yang tertinggal menyerahkan patung ini pada Pastor Partouns dan Dewan Paroki Gereja St. Nicolaas dengan syarat mutlak: patung akan diserahkan kembali apabila para imam Fransiskan kembali ke Maastricht dan membangun bia-ra mereka lagi. Patung ini ditempatkan di Gereja St. Nicolaas (sekarang menjadi Hotel Derlon) dan pada tahun 1837 dipindahkan ke Gereja “Onze Lieve Vrouw”, yang saat itu oleh Kementerian Urusan Perang diserahkan kembali ke Dewan Ge-reja. Di bawah penguasa Perancis, Gereja “Onze Lieve Vrouw” pernah dipergunakan untuk kepen-tingan militer, antara lain untuk kerja pandé besi. Kemudian Gereja St. Nicolaas dirobohkan.

Pada tahun 1853, para imam Fransiskan kem-bali dan menetap di Maastricht dan pada tahun 1859 gereja dan biara mereka di Tongeren diber-kati. Mereka merasa sekaranglah saatnya untuk meminta kembali patung keramat. Pada tahun 1864-1865, pimpinan biara mereka, Theodorus Pe-ters berkali-kali memohon dan mendesak pastor dan Dewan Gereja “Onze Lieve Vrouw” untuk mengembalikan patung Maria tersebut, sesuai dengan persyaratan yang tercantum dalam akte tahun 1804. Sayangnya, mereka tidak mempunyai bukti otentik dalam arsip mereka sehingga pastor dari “Onze Lieve Vrouw” tidak mau menghiraukan per-mintaan mereka. Para imam Fransiskan naik ban-ding, namun Uskup Paredis yang tidak menghen-daki terjadinya konflik dalam keuskupannya me-minta Fransiskan “me-lemari-eskan” hal ini.
Demikianlah, sampai saat ini patung Maria “Bintang Samudera” tetap barada di Gereja Onze Lieve Vrouw di kota Maastricht, di sayap Utara, yang sekarang menjadi altar St. Yosef. Pada tahun 1905, patung keramat ini dipindahkan ke tempat-nya sekarang yaitu di kapel “Merode”.
Dewasa ini patung Maria mengenakan pel-bagai mantel. Mantel biru yang baru dikenakan pada pesta-pesta besar. Mantel biru lama untuk se-panjang tahun dan yang merah untuk pesta biasa dan masa Paskah; dalam masa puasa dan Advent tanpa mantel dan justru saat inilah tampak wujud aslinya. Juga dalam masa-masa ini, kisi-kisi altar Maria ini ditutup.


LEGENDA BINTANG SAMUDERADalam kota tua seperti Maastricht dengan begitu banyak sejarah, pasti memiliki juga kekayaannya sendiri, seperti cerita rakyat sage dan legenda, ba-gaikan tanaman panjat liat dan merambat lekat se-panjang tembok kuno. Juga sekitar Gereja Maria “Bintang Samudra” dengan patungnya yang begitu indah, penduduk Maastricht yang saleh dan penuh syukur ini, memiliki legenda yang indah dan alami. Kita menganggap legenda-legenda ini seba-gai cerita rakyat yang puitis, yang lahir dan ber-kembang dari rakyat dan diturunkan secara lisan dari ayah ke anak. Kita tidak harus mempercayai cerita-cerita ini, tetapi banyak legenda memuat in-ti kebenaran. Lebih-lebih kita menganggap cerita-cerita ini sebagai ungkapan kepercayaan besar dan penghormatan secara lugas dan jujur kepada Ma-ria yang selalu disemarakkan oleh penduduk Maastricht. Orang mempersembahkan ikat bunga taman yang segar diletakkan pada kaki Maria. Ti-ap anak Maria sejati boleh menikmati keharuman ini dengan hati yang bersih dan sederhana. Berkaitan dengan kenyataan dan cerita - cerita mukjizat ini kita mempercayakannya kepada Dekrit Santo Bapa Paus Urbanus VIII.


Penyerahan
Buku kecil ini dengan penuh hormat dan syukur dipersembahkan kepada Bunda Maria “Bintang Samudra” dan kepada semua pemuja yang setia; kepada para rohaniwan, pengurus tempat suci yang selalu banyak pengunjungnya ini.
Dipersembahkan juga kepada para anggota perhimpunan yang setia berdoa di kaki Bunda Maria; kepada mereka yang dari pagi hingga malam da-tang untuk bertanya dan menyampaikan keluhan-keluhan mereka; kepada para pekerja yang berdoa bagi tugas mereka; kepada para ibu yang berlutut bersama anak-anak mereka; kepada mereka yang berdoa hingga larut malam di depan gerbang yang terkunci.Dipersembahkan kepada segenap penduduk Maas-tricht dan kepada mereka yang datang dari jauh untuk berdoa kepada Maria; kepada mereka yang lewat di sini yang tidak pernah melupakan untuk menyampaikan salam”
AVE MARIA


I. BINTANG PADA MANTOL
Senin Paskah! Senin Paskah sejak dulu merupakan hari besar “Bintang Samudra”. Gerbang-gerbang kota terbuka lebar dan berdatanganlah para pezia-rah dari segala jurusan.
Dalam antrean panjang di jalan-jalan, tampak gerobag-gerobak bertutup atap putih. Namun di si-tu banyak juga orang-orang dengan gerobak hitam berdatangan ke luar dari penginapan mereka.

Sejak pagi ketika matahari musim semi meman-tulkan cahayanya keemasan salib-salib dan alat pe-nunjuk arah angin berbentuk ayam jantan di me-nara, gerbang sempit sudah dipenuhi kesibukan. Orang - orang dari luar kota dalam kelompok me-ngadakan prosesi yang didahului dengan vandel berwarna-warni menuju tempat keramat Maria yang sudah terkenal luas. Lebih-lebih di sekitar Ja-lan St. Petrus dan Lapangan Maria “Bintang Sa-mudra” amat sibuk. 
Sejumlah besar orang memba-wa tongkat dan bungkusan merah berisi bekal ma-kan sudah berdiri di depan Gereja Fransiskan di Jalan St. Petrus. Di situ disimpan Patung Keramat “Bintang Samudra”. Orang-orang datang pergi, bernyanyi dan berdesakan seperti lebah berde-ngung di depan sarangnya. Dan di tengah-tengah sana berdirilah Sang Ratu, sebagai titik-pusat. Di tengah-tengah gereja berdirilah patung itu dikeli-lingi banyak bunga dan lilin bernyala. Mahkota perak bercahaya di kepala yang tunduk miring de-ngan mantol lebar biru ditaburi bintang-bintang emas dengan lipit panjang. 

Demikianlah setelah Perayaan Ekaristi Meriah, patung itu akan diarak dengan meriah keliling kota. Di keliling patung itu duduklah orang-orang tuna netra, tuna wicara, lumpuh dengan tongkat penopang mereka, ibu-ibu dan anak-anak mereka yang pucat. Ada juga orang yang berjalan dengan merangkak dengan lutut. Mereka terus berdoa rosario dengan penuh keper-cayaan. Karena hari itu Hari Senin Paskah, ba-nyaklah terjadi mukjizat kesembuhan. Dalam ta-hun lalu seorang anak lumpuh mendadak sembuh dan kemudian tongkat penopangnya digantungkan pada “Bintang Samodra” setelah prosesi. Jalan-jalan yang dilewati prosesi sudah dihiasi dengan bendera-bendera dan lengkung-lengkung hijau di belakang jendela-jendela hijau sudah ada bunga-bunga dan kandelar kuningan di sekitar patung-patung suci dan banyak peziarah yang akan turut prosesi. Mereka sekarang mulai berjalan. 
Untuk matiraga, mereka berjalan tanpa sepatu lewat jalan -jalan kasar berbatu-batu tajam, berpakaian putih panjang atau dalam pakaian abu-abu kasar. Bah-kan di sana-sini tampak beberapa orang laki-laki berkeliling mengenakan baju zirah/baja dan helem tertutup. Itu merupakan jumlah besar orang-orang yang berulah-tapa, yang dalam prosesi nanti, me-reka membawa serta dengan cara menarik rantai dan peluru besi, sehinga usaha ulah-tapa mereka ditandai dengan ceceran darah. Juga ibu-ibu berdiri dekat gereja dalam pakaian matiraga, rambut lepas terurai menutupi punggung sambil menggen-dong anak-anak mereka yang sakit. Mereka juga akan mengikuti prosesi itu di belakang patung. 

Namun dalam kesibukan itu, perlahan-lahan awan hitam menutupi matahari. Matahari hilang, kadang -kadang ada di balik awan gelap. Penduduk Maas-tricht yang baru saja bangun dan membuka jende-la, memandang langit dengan cemas, “asal tidak hujan saja”, begitulah terdengar suara dari rumah ke rumah, “asal tidak hujan hingga prosesi sele-sai”. Tetapi hujan turun mambasahi dan meretak-kan tanah berbatu keras ... yang pada saat yang bersamaan, Perayaan Ekaristi Meriah dengan mu-sik terdengar hingga di jalan-jalan. 

Baru saja para pembawa vandel dan tandu, para imam serta para penguasa setempat menanggalkan pakaian upaca-ranya, jatuhlah hujan musim semi kemerosak. Air mengalir deras dari atap-atap terjal, para peziarah dan orang-orang yang bergabung dalam prosesi mencari naungan berjejal-jejal di penginapan-penginapan dan losmen-losmen, di bawah tenda-tenda putih Pasar Malam dan di bawah gerbang-gerbang bangunan, masuk ruang besar gedung gereja karena sudah tidak ada tempat untuk bernaung lagi. Semua merasa tak berdaya.

Dengan berlinang air mata, orang - orang berdiri di jendela-jendela hijau melihat ke luar, memandangi genangan air di jalan-jalan. Air turun terus dari awan gelap. Hujan hari itu terus turun hingga lewat tengah hari. Para petani yang datang dari jauh, setelah memberi salam terakhir kepada “Bintang Samudra”, mereka berkemas memasang kembali gerobak beratap putih untuk segera pulang agar tidak kemalaman tiba di rumah masing-masing. Prosesi tidak lagi berlangsung pada hari itu dan setiap orang merasa sedih dan kecewa, dan merasakan hal itu sebagai bencana. Sekarang datanglah berkat dari “Yang Maha Suci” dan senyum manis dari Maria “Bintang Samudra”. 

Lihatlah sekarang! Begitu mendadak berdatangan orang-orang berkelompok. Pasti terjadi sesuatu yang mengherankan karena wajah mereka tampak pucat dan tegang. Di sela-sela ketidakberdayaan mereka, mendadak berembus kabar misterius dari mulut ke mulut, da-ri rumah ke rumah, dari jalan ke jalan ... Di Jalan Lenculen, para peziarah menemukan sebuah bin-tang emas di antara taburan bunga prosesi, sebuah bintang dari mantol Maria “Bintang Samudra”. Orang-orang ke luar dari rumah untuk melihat ... 

Lihatlah, orang-orang datang membelok, berdoa rosario keras dan seorang laki-laki dengan sangat berhati-hati, bagaikan membawa bara api, penuh perasaan ... sebuah bintang emas! Orang pergi ke gereja, mencari mantol dan membuka lipitnya yang lebar milik Maria. Di situ terdapatlah lubang empat bintang itu. Serempak sepuluh jari menunjuk tempat itu dan berseru “Magnifikat” dengan gembira, memenuhi gereja terus bergema ke luar ke jalan-jalan ramai. Mereka bernyanyi dan bersyukur sampai larut malam, bersyukur dan memuji Maria, yang walaupun hujan Maria berjalan ke luar, sendiri, tidak tampak serta memberkati orang-orang yang sedih. 

Dan untuk membuktikan bahwa Maria benar-benar lewat jalan doa itu, maka ia menjatuhkan bintang emas itu. Sejak itu, orang tidak berani meninggalkan Patung “Bintang Samudra” sendiri di situ, walau hujan lebat sekali pun. Inilah legenda Bintang yang hilang. 


II. PUKULAN DARI SEORANG MILITER Peristiwa-peristiwa yang akan dikisahkan di sini sudah lama sekali terjadi. Tetapi sejarah ini masih segar dalam ingatan penduduk Maastricht. Penduduk kota mengalami tahun-tahun kecemasan disebabkan oleh peperangan secara terus menerus dan perkelahian. Sekarang benteng kuat ada dalam kuasa raja. Pada saat itu musuh-musuh agama ka-tolik duduk dalam dewan dan mengutamakan aga-ma Protestan serta menekan sejumlah besar biara dan gereja, sehingga rakyatnya sendiri yang ber-agama Katolik di kota merasa sedih . Bahkan para iman Fransiskan diusir dari biaranya dan harus mengungsi karena dipaksa dengan kasar Mereka mengungsi ke Slawanta di jalan St . Petrus Pada waktu itu para imam menyimpan patung “Bintang Samudra “ dalam gereja mereka di jalan St. Petrus dan dengan tetesan air mata mereka terpaksa meninggalkannya di situ serta dipercayakan kepada para pemuja Maria. Dan sungguh para pemuja Maria merawat Patung Keramat itu dengan penuh tanggung jawab. Karena takut bahwa orang-orang penghancur patung akan menemukan dan merusakkan, maka orang-orang laki-laki saleh mengambil patung itu diam – diam pada malam hari dari gereja dan dibawa ke rumah sendiri agar aman. “Bintang” mereka pasti akan lebih cemerlang, pikir mereka, bila awan gelap hilang. Betapa giat para penghancur patung mencari dan terus bertanya serta menjanjikan uang bagi mereka yang menemukannya. 

Namun para pemuja Maria dengan hati-hati memindahkan patung itu dari tempat yang satu ke tempat yang lain untuk tetap disembunyikan. Terjadilah bahwa patung keramat itu pada malam hari yang sepi dipindahkan ke bia-ra suster-suster di Nieuwenhof dekat tembok kota. Patung itu dibungkus dalam manto bersulamkan emas yang indah, tersembunyi dalam peti di loteng. Siapa yang akan datang ke sana? Tetapi tidak lama kemudian, biara itu untuk sementara ditempati Militer. Gerbang dan tembok-tembok harus dijaga dengan ketat. Seorang dari para militer ini sangat menginginkan hadiah yang dijanjikan kepa-da yang menemukannya. Ia mencari terus di biara. Semua kamar, kapel dan lemari-lemari diobrak-abrik, diteliti. Ia terus mencari di ruang bawah dan ruang atas, tetapi ia tidak menemukannya. Ia kecewa usahanya sia-sia. Lalu mencari lagi dari ruang atas terus ke bawah. Lalu tiba-tiba Ia melihat peti besar di belakang pintu. Masih ada usaha terakhir, ia mencoba dengan pedangnya mencoba membuka peti itu. Dengan satu pukulan, kuncinya terbuka. kuncinya terbuka. Ia melepaskan renda-renda berharga dan menyingkapkan mantol yang disulam indah. Mendadak ia terkejut menatap Patung “Bintang Samudra” yang berharga itu. Maria ter-senyum melihat perusak itu dan Yesus kecil mengeluarkan lengan-Nya, seolah-olah Ia ingin mengatakan, “Jangan sentuh ibu-Ku!” sekejap, militer itu heran atas keindahan penampakan itu. Ia gemetar dan takut melihat wajah patung yang banyak disayangi itu. 

Namun perlahan-lahan, pembawaan sebagai militer muncul dan ia ingat akan hadiah bagi penemunya. Darahnya naik bagaikan orang kesetanan karena kebenciannya kepada orang-orang katolik, ia mengayunkan pedangnya dan memenggal kepala patung itu. Dengan tebasan hebat, pedang tajam itu mengenai leher patung, hingga kepala patung itu miring. Begitulah posisi kepala miring itu tetap sampai sekarang. Dan hal itu menjadi saksi kebengisan pukulan militer itu. Tetapi pada saat yang sama, bersamaan dengan pukulan militer pada patung itu, ia seperti mendapat pukulan berat dari besi, hingga militer itu berteriak kesakitan. Pedang terlepas dari gagangnya dan lengannya tetap terentang dan tidak dapat bergerak, kaku seperti tongkat. Itu upah kejadiannya. Ia terhuyung-huyung ke tanah, mengerang karena kesakitan. Ia menemui atasannya dekat tangga. Dengan susah payah ia menceritakan bagai-mana ia menemukan Patung “Bintang Samudra”. Tetapi atasannya sang kapten, mengumpat, me- ngatai bahwa militer itu sebagai pengecut dan penakut. Maka ia sendiri akan menunjukkan bah-wa ia lebih berani menghadapinya. Kapten naik dan pada mulanya, ia kagum akan kecantikkan-nya. Tetapi mengapa ia seorang perusak dan peng-hancur serta sudah banyak membakar patung-patung, sekarang ia takut pada patung itu? Ia menarik pedangnya dan menebas patung itu ... tetapi pedang terlepas dari tangannya dan ia juga berteriak dengan lengan terentang kaku. Dalam pada itu para suster dari Nieuwenhof takut dan sedih mendengar bahwa Patung “Bintang Samudra” yang disimpannya dengan baik dapat ditemukan.

Orang berdoa dengan keras bahwa Bunda Maria tidak dapat dinodai atau dicuri. Tetapi lihatlah! Itu datanglah dua orang militer dengan anggota badan kaku serta mengerang kesakitan. Mereka marah-marah dan mencaci - maki di hadapan pimpinan biara dan menceritakan kejadian atas patung “tersihir” itu. Pemimpin biara itu memahami bahwa Maria sendiri membela patungnya sendiri dan ber-harap kepada militer itu untuk merahasiakan pene-muan mereka itu. Ia dan para suster akan berdoa demi kesembuhan mereka. Terpaksa, tetapi de-ngan gembira mereka menyetujui permintaan dan harapan yang disampaikan oleh pimpinan suster. Semua berdoa memohon penyembuhan bagi kedua militer itu. Dan lihatlah!Mukjizat satu diikat mukjizat yang lain! Berkat doa mereka, kedua lengan militer itu kembali pu-lih dan dapat digerakkan lagi. Mereka sembuh di tempat itu juga Mereka memberikan jaminan de-ngan mempertaruhkan jabatan mereka untuk tetap merahasiakan tempat penemuan itu. Dalam ma-lam yang sama, demi kehati-hatian, Patung “Bintang Samudra” diikat dengan tali dibawa keluar tembok dibawa ke luar kota demi keamanan



III. BAGAIMANA RUTE DOA DITEMUKAN KEMBALI
Pada waktu itu Patung Maria “Bintang Samudra” disimpan di Biara Fransiskan. Waktu itu merupa-kan masa gelap, namun kini tibalah kembali kebe-basan agama, termasuk bebas memberikan peng-hormatan kepada “Bintang Samudra”. Awan gelap peperangan dan pertengkaran agama telah membu-at sinar “Bintang” gelap, sehingga orang dalam hari-hari kegelapan itu tidak tahu lagi tempat di-sembunyikan patung keramat itu. 

Untunglah sekarang terjadi perubahan jaman. Ki-ni, terutama orang-orang tua yang sejak kecil me-ngenal kemuliaan “Bintang Samudra” kembali menghormatinya dengan cara-cara lama yang te-lah bisa mereka lakukan. Hanya anak-anak hampir tidak mengenal jalan menuju patung keramat itu, karena disembunyikan terpencil di daerah pegu-nungan. Tetapi dengan berkembangnya kebaktian ini, muncul pula dari banyak pihak pertanyaan ba-gaimana memulihkan rute doa lama atau rute Bun-da Maria. Namun begitu kebiasaan lama atau a-sing sudah lama tidak digunakan atau bahkan per-nah dilarang, sehingga kini tiba-tiba terjadi perpe-cahan besar untuk memastikan rute doa ini. Para penghuni setempat beranggapan bahwa akan me-rupakan suatu kehormatan apabila rumahnya di-lewati prosesi. Lebih-lebih sekarang patung keramat itu disimpan di tempat lain sehingga menam-bah kesulitan besar. Sulit untuk menemukan nase-hat yang tepat! Bahkan para rohaniwan kota pun tidak dapat menemukan jalan ke luar. ]

Dalam bulan Desember kelam, seorang wanita terkenal dengan nama Ibu Anna, miskin, berlutut di depan pa-tung keramat. Pada waktu itulah berhembus angin di atas atap, lewat jendela gereja yang tinggi Bah-kan lilin-lilin di depan patung bernyala bergoyang keras dan mengeluarkan bunyi kemeratak dalam gereja gelap sepi. Tetapi Ibu Anna hanya memper-hatikan senyum mengagumkan dari wajah Maria yang murni dan terus berdoa dengan rosario tua yang telah usang, satu-satunya warisan dari ibu-nya. Ia sudah berdoa lama dan terus memohon agar segera ditemukan jalan keluar untuk menga-tasi keraguan soal rute doa. Ia masih ingat dengan jelas cerita-cerita yang pernah didengarnya pada waktu ia masih kanak-kanak tentang Mukjizat-mukjizat yang mengharukan seusai prosesi. Prose-si begitu panjang diikuti oleh penghuni setempat, orang-orang asing, orang-orang sakit dan sehat, muda dan tua. Mereka berdoa siang dan malam, berdoa melewati rute doa. Dan sekarang ... air me-leleh dan setelah sepuluh Salam Maria, ia mengu-langi doa dengan polos, “Bunda Maria, Bintang Samudra, tunjukkan kami jalanmu yang baik!” Ia berdoa begitu terus tidak terganggu, tidak terlihat dalam gereja kosong. Pada waktu ia tepat memu-lai dengan sepuluh Salam Maria yang ketiga, “misteri mulia” ... lihatlah ... dekat patung ke-ramat ada sesuatu bergerak ... sepertinya, Maria perlahan-lahan membuka lipit mantol birunya ber-bintang-bintang, menyelimuti Yesus kecil .... rosario berjangkar perak bergelincing lembut meng-gantung pada lengannya. Ibu Anna tidak percaya pada penglihatannya. Ia mengira bahwa ia ber-mimpi. Tetapi tidak! Lihat saja itu! Maria memeluk Yesus kecil erat-erat, kemudian melayang tu-run perlahan-lahan ke luar dari relung-relung tembok. Dan dengan senyum dan pandangan penuh pengertian kepada ibu saleh itu, patung keramat itu bergeser dari altar melalui gereja kosong yang remang-remang terus keluar. Cahaya kemilau mengikutinya bagai pendorong dan Ibu Anna mengikutinya dalam cahaya cerah menakjubkan. Menjelang sore hari salju turun. Melalui salju itu sekarang Maria bergeser maju keluar hingga sepa-tu emasnya yang indah terbenam dalam wol yang putih. Ia terus berjalan melalui Jalan Bouillon dan Jalan Papen, terus ke Jalan Breed dan lapangan Maria. Ia melangkahkan kakinya menuju tempat suci dan terhormat Gereja Maria “Bintang Samudra”. Tetapi pada waktu itu sudah larut malam, pintu gereja sudah dikunci dan tak seorang pun tampak di jalan dalam udara seperti itu. 

Dan dalam kemuliaan bintang bagaikan api, Maria berlu-tut di depan gerbang yang berat, berdoa. Juga Ibu Anna, berlutut dalam salju dan berdoa ... hingga Mari berdiri lagi. Kemudian ia juga terus mengi-kuti patung keramat kembali ketempat semula, lewat Jalan Corten, Jalan Witmaker, Jalan Kapoen dan Jalan Lenculen, menuju Biara Bruder Fransiskan. Patung keramat itu kembali berdiri dalam relung tembok di Gereja/Altar tanpa bergerak lagi. Sekarang rute doa sudah ditunjukkan oleh Bunda Maria sendiri. Tak seorang pun yang begitu berterimakasih pada sore hari ini, kecuali Ibu Anna. Ia menceritakan seluruh kejadian mengenai perjalanan Maria melewati jalan-jalan bersalju. Orang-orang berkumpul, berkelompok membicarakan hal itu. Ada orang yang ragu-ragu, tidak percaya. Tetapi banyak orang mengenal Ibu Anna yang beriman dalam dan saleh. Para rohaniwan juga mendengar cerita itu, bagaimana Maria menunjukkan sendiri rute doa itu. Orang segera ke gereja ... kapel Maria diterangi dengan banyak lilin, orang memeriksa patung keramat itu ... Dan lihatlah! Seluruh mantol bercahaya oleh salju dan lumpur. Mantol itu menggeser tanah sepanjang jalan. Orang segera keluar dan melihat salju putih bersih terserak di mana-mana di jalan. Ternyata terlihat oleh mereka ada jejak geseran mantol yang dikenakan Maria. Di mana-mana orang dapat mengikuti jejak -jejak kecil yang mengarah dari Gereja Maria “Bintang Samudra” kembali ke Biara Fransiskan. 

Orang mencocokkan telapak sepatu runcing pada salju dan tepat sama. Tidak seorang pun memiliki sepatu sehalus dan sekecil sepatu milik Bunda Maria. Sejak itu dan sejak terjadi keanehan dalam musim salju pada sore hari itu, kembalilah rute doa lama yang sudah lama terlupakan. Kini rute doa dihor-mati dan melingkar kini karangan bunga mawar segar pada rute yang disucikan serta melingkari tembok abu-abu kota tua/lama Tricht. 

IV. TUSUKAN PADA MANTOL 
Dalam Bulan Desember gelap yang sama, ketika Bunda Maria melintasi jalan-jalan bersalju untuk menunjukkan rute doa yang sudah dilupakan, ter-jadilah peristiwa yang akan diceritakan di bawah ini. Di tengah jalan, begitulah cerita dari tradisi kuno, terjadilah peristiwa ini. Ketika patung kramat itu diam dan dengan megah meninggalkan gereja, ter-bungkus dengan sinar keperakan, berpakaian man-tol berbintang biru. Ibu Anna mengikutinya sambil berdoa. Bunda Ma-ria dengan kepala agak miring mengenakan mah-kota perak, seolah-olah ingin mengatakan, “Ikuti aku!” Demikianlah, lewatlah kelompok kecil di depan Kantor Gubernur yang selalu dijaga oleh prajurit berjaga di depan gerbang. Pada sore itu, ibu Anna tidak keluar, angin menderu di atas atap tinggi dan taufan salju mendesis-desis sepanjang jalan, hingga prajurit penjaga tetap tinggal dalam gardunya. Tidak ada makhluk hidup ada di jalan-jalan, kecuali seekor anjing atau kucing liar lewat di situ, tenang dan cepat. Ia tiba-tiba terkejut, di belokan jalan tampak sinar jelas bersih. Di dalam-nya berdiri seorang wanita, begitu cantik, berpa-kaian indah datang mendekat. Ia belum pernah melihat keindahan seperti itu sebelumnya. Cahaya itu bagaikan lentera jalan yang besar dalam angin taufan, bagaikan nyala biru mengelilinginya. Se-dangkan mahkota perak milik Maria dan Yesus kecil seperti oreol berkilau dalam cahaya. Prajurit penjaga segera ke luar dari gardu-jaga dan menga-mbil senjatanya. Terbengong-bengong oleh kekaguman meman-dang penampakan yang menakjubkan. Ia mende-katinya. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan menghadapi peristiwa ini, apakah penampakan ini berbahaya atau tidak. Tetapi mendadak ia melihat penampakan baru di belakang patung itu, hitam dan kecil, berjalan maju. Ialah ibu Anna yang me-ngenakan mantol bertopi, sehingga prajurit itu ti-dak mengenalnya. Sekarang sosok putih itu lewat di depannya; bayonetnya berkilat, namun tidak ta-hu apa yang harus dilakukan, sehingga ia hanya berteriak hingga suaranya menembus kesunyian jalan, “Berhenti, siapa kau?” Dengan senyum yang tidak dapat dilukiskan, patung itu berjalan terus, menggeresik dengan mantolnya sepanjang salju. Sekali lagi prajurit penjaga mengulangi teriakan-nya, tetapi ibu tua itu dengan setia mengikuti patung itu berjalan terus. Untuk ketiga kalinya ia berteriak, “Berhenti, siapa kau?” Suaranya keras hingga mengatasi bukit. Tetapi Patung itu berjalan memasuki Jalan Papen, gelap dan sempit. Tetapi penjaga itu merangsek ke depan, karena ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan demi tugas-nya, ia maju mendekati patung dan menusukkan bayonetnya yang tajam itu dengan keras menusuk masuk ke mantol biru itu. Sekejap, ibu Anna ter-kejut, menyisih, tetapi karena Maria juga tidak terganggu dan tidak bergerak dan berjalan terus, maka timbul lagi keberaniannya untuk mengikuti patung dan berdoa. Dan pada saat lain orang - orang membicarakan perjalanan ibu Anna bersama “Bintang Samudra” menjelajah kota malam hari, maka kini prajurit penjaga Kantor Gubernur dapat menjadi saksi bahwa ibu Anna berbicara benar. Hingga sekarang, begitulah cerita orang, Maria “Bintang Samudra” yang ada di gereja Maas-tricht, tampak mengenakan mantol yang teriris lebar (terbelah) karena ulah prajurit jaga. 

V. PENAMPAKAN DI RUANG MARIA
Di jalan yang disebut “Belakang Komedi” terletak sebuah gedung tua dan terhormat. Melalui sebuah pintu kecil, orang dapat sampai ke gang gelap, me-nuju tangga pilin (tangga berbelit memutar). Di dekat gedung ini ada sebuah menara kecil indah dilengkapi dengan dua jam matahari. Terasing da-ri kebisingan luar dan terpisah dari kesibukan du-nia, di tingkat atas gedung terdapat ruang yang in-dah, terkenal, tetapi jarang dikunjungi tamu, yaitu Ruang Maria. Foto-foto dan piagam-piagam kuno serta lukisan-lukisan kuno menghiasi ruangan yang diliputi rahasia ini. Di sinilah tempat kedu-dukan Persaudaraan Maria yang sudah amat tua dan terhormat dengan nama Bruder Maria yang tak Bernoda (FIC) “Bintang Samudra”. Juga dicerita-kan bahwa pada suatu ketika, Bunda Maria me-nampakkan diri pada para bruder yang sedang ra-pat dalam kemilau keluhuran dan cahaya. Oleh sebab itu, ruang yang tersembunyi dan penuh ra-hasia ini selalu disebut: Ruang Maria.

Pasti terjadi bahwa Patung “Bintang Samudra” di-sembunyikan di situ karena bahaya mengancam a-kan penghancuran patung-patung. Tak seorang pun tahu tempat patung itu disembunyikan kecuali para pimpinan para bruder. Mereka disumpah un-tuk tetap merahasiakan tempat persembunyian patung itu hingga keadaan aman. Para pimpinan kadang-kadang mengadakan pertemuan, tetapi apa yang dibicarakan? Sekarang sudah tidak ada lagi patung, tidak ada lagi prosesi atau pesta-pesta. Masa itu merupakan masa kelam, kerajinan para bruder surut dan cintanya pada Maria dingin. Bah-kan perhimpunan ini terancam mati, tidak ada lagi calon yang mendaftarkan diri. Pada masa sema-ngat para bruder melemah ini, ketika para bruder mengadakan rapat secara diam-diam, Bunda Maria menampakkan diri dalam kemilau cahaya dan ke-milauan. Para pimpinan bruder yang sedang rapat gemetar karena terkejut dan hormat menyaksikan penampakan itu, yang datang dan pergi secara te-nang tanpa suara, bagai sinar matahari menembus kegelapan ruang. Betapa bersinar wajahnya, tampak bergembira dan berbahagia dalam gerak mulutnya. Kini, pengharapan para bruder hidup kembali, cinta mereka membara; perhimpunan para bruder ini ber-kembang setelah terjadi penam-pakan. Hal ini belum pernah ter-jadi sebelumnya.

VI. MAHKOTA YANG DICURI
Pada hari itu diselenggarakan prosesi besar. Di bawah sinar Agustus perarakan besar ter-jadi. Orang-orang membawa vandel, salib, patung-patung dan torso, kuningan dan perak, semua ber-kilau bagaikan api. Ketika patung “Bintang Samu-dra” lewat dalam pakaian mantol biru disulam bunga-bunga dan bintang-bintang, dengan rosario perak dan mahkota emas penuh permata dan intan Maria sendiri lewat turun dari surga. Ia berjalan sepanjang desakan orang-orang yang ingin meng-hormatinya. Orang-orang Maastricht dan orang-orang asing bergembira pada hari itu, merasa ter-hibur mendapat kunjungan dari ibu yang baik. Te-tapi di antara masyarakat yang padat itu, ada seo-rang dengan sinar mata yang lain, hatinya berdetak dengan keinginan lain. Ia adalah orang asing. Ma-tanya menyinarkan kerakusan hatinya, ketika ia melihat mahkota menakjubkan itu kemilau kena sinar matahari. Mahkota penuh intan permata! Be-gitulah dengung dalam kepalanya selama upacara suci berlangsung. Seusai prosesi, ia berjalan-jalan dalam kapel, melewati patung Maria “Bintang Sa-mudra”, melihat langit-langit, dan bangku-bangku belakang serta altar, tetapi ia tidak berdoa “Bapa Kami” dan tidak berlutut di depan tabernakel. Ia keluar dari gereja, tetapi pada sore harinya setelah pujian, ia berdiri lagi di balik bayangan tiang gereja dan menghitung orang-orang yang masih ada di gereja. Dan ketika Pak Koster memadamkan lampu ia beringsut dari tiang ke tiang ke depan dan cepat bersembunyi di belakang satu dari altar-altar di situ. Dari jauh terdengar pintu ditutup dan terdengar uliran kuncinya, tanda sudah dikunci dengan baik. Kemudian, diam, amat sunyi dalam kapel yang gelap dan dingin. Di depan tabernakel bernyalalah lampu tabernakel merah bergerak naik dan turun. Di luar terdengar orang-orang bernya-nyi, tetapi di gereja amat sepi. Kemudian orang a-sing itu merangkak dari belakang ke depan, dan mendengarkan, meraba-raba sepanjang tembok be-sar dan tiang-tiang, seperti seorang ada di penjara disepanjang trali. Ia beringsut dari gereja yang ge-lap menuju kapel “Bintang Samudra” untuk mencuri mahkota berhiaskan ratna mutu manikam, meraba-raba sepanjang kursi dan bangku ia beringsut masuk kapel. Di situ berdiri patung dengan mahkota berkilau bagaikan sebuah bintang pada malam hari. Satu lompatan, ia duduk dengan lutut di altar, dengan sepatu yang berlumpur ia berdiri di atas taplak putih altar yang halus. Namun ia ter-kejut, ketika lengan putih kecil kanak-kanak Yesus diulurkan tertuju kepadanya, seolah-olah ia berkata, “Jangan sentuh ibu-Ku!” Tetapi pencuri itu mendekat lagi, penuh nafsu dan rakus untuk mengambil mahkota, emas, mahkota berhiaskan intan pertama. Perlahan-lahan ia mengulurkan tangannya, mencengkeram dan dengan cepat ia melepaskan mahkota patung kemudian permata berkilau bagaikan api. 

Tetapi Maria berjaga. Perlahan -lahan, Maria mengulurkan tangannya dengan kekuatan besi disa-rangkan tangannya dalam rambut hitam sang pencuri. Suatu teriakan mengerikan menembus gereja yang gelap. Teriakan yang menakutkan bergaung di sepanjang langit-langit gereja. Seolah-olah di sana terjadi pergulatan dua orang untuk memper-tahankan hidup. Namun tiba-tiba diam, seperti ter-jadi seorang di antaranya mati. Hanya terdengar kadang-kadang keluhan mendalam ... di malam sepi itu. 

Pada pagi harinya pukul lima, datanglah bapak Koster membuka pintu, mendadak ia mundur kare-na terkejut. Dalam kapel “Bintang Samudra” ter-geletak seorang laki-laki dengan wajah mengerut, tidak sadar. Di dekatnya terletak mahkota emas dengan perhiasan intan permata berkemilau dari patung “Bintang Samudra”. Dalam relung bunga di altar Maria sendiri seperti biasanya berdiri tak bergerak dengan senyumnya abadi menghiasi bi-birnya. 



VII. MANIK-MANIK YANG HILANG 
Tanggal 15 Agustus merupakan saat yang selalu dinanti-nantikan masyarakat Maastricht karena tanggal itu adalah tanggal diadakan prosesi besar menghormati Maria “Bintang Samudra”. Betapa indah matahari menyinarkan cahaya panasnya ber-taburan di atas menara indah kota Maastricht. Dari desa-desa tercium bau semerbak wangi aneka ma-cam bunga menembus tembok-tembok abu-abu kota dan bau khas jerami kering. 
Lonceng-lonceng dari menara gereja dan biara, besar kecil berdentang bersahut-sahutan meramai-kan suasana kota. Sejak pagi kota sudah penuh de-ngan pendatang-pendatang asing; banyak orang mondar-mandir dengan tongkat dan bekal di ta-ngan. Malaekat-malaekat kecil membawa bunga berarak menuju gereja Maria “Bintang Samudra”. Mereka mendapat tempat khusus di antara kelom-pok-kelompok pembawa patung, vandel, pemain musik. Anak-anak yatim piatu tidak ketinggalan. Mereka mengenakan pakaian biru untuk anak-anak laki-laki, sedangkan untuk anak-anak perempuan, pakaian hitam dengan selendang putih. Misa Agung telah usai. Musik orgel terdengar dengan anggunnya terdengar hingga ke jalan-jalan. 
Prosesi berlangsung amat meriah diikuti berbagai kelompok dari seluruh kota. Dan di mana-mana berdiri sepanjang rute doa orang-orang membawa patung-patung, karangan bunga di belakang jende-la dengan lilin bernyala. Di sudut-sudut jalan orang menerima berkat dan koor menyanyikan “Tantum Ergo”. Perlahan-lahan prosesi kembali ke gerbang memasuki gereja yang dingin dan sejuk. Di sana-sini orang meraup bunga-bunga tabur yang sekarang berserakan di mana-mana di jalan-jalan yang dilalui oleh patung-patung keramat. Se-karang prosesi sudah purna. Lonceng-lonceng ber-goyang untuk beristirahat di tempatnya. Juga pa-tung keramat “Bintang Samudra” kembali berdiri di tempatnya. Tetapi ketika Pak Koster akan mele-takkan rosario perak di lengan Maria sebelah ka-nan, tiba-tiba ia melihat satu manik-manik dari se-puluh salam Maria tidak ada. Ia terkejut dan pu-cat, mencari manik-manik itu di mana-mana. Ia menceritakan kejadian itu kepada imam setempat dan segera diadakan pencarian di sekitar patung, di gereja, tetapi tidak ada. Masyarakat turut mencari-nya; mereka turut prihatin. 

Di mana-mana terdengar orang ramai membicarakan, “Sebuah manik-manik Rosario Bunda Maria hilang”. Betapa orang berdoa “Rosario” keras-keras, mereka hanya kece-wa karena tidak dapat menemukannya. Orang takut, jangan-jangan manik-manik itu terinjak-injak masuk tanah. Maka orang mulai mencari manik-manik itu dengan sekop. Seorang di antara para imam datang membawa sekop untuk turut men-carinya. Dan lihatlah ... dekat di depan pintu masuk gereja ia memasukkan sekop ke tanah dan li-hatlah benda mengkilat di antara kerikil dan tanah, benda berkilau terkena sinar matahari, ... manik-manik yang hilang itu. Dengan penuh kegembi-raan orang-orang berlutut, bersyukur dan berdoa karena manik-manik itu telah ditemukan kembali. Hingga sekarang orang dapat melihat tepat dide-pan pintu masuk gereja Maria “Bintang Samudra” sebuah lubang. Lubang itu ditutup dengan lem-peng besi, dan orang tidak boleh menginjaknya, sebab orang percaya, di situlah ditemukan manik-manik yang hilang itu. Inilah legenda manik-manik yang hilang. 

VIII. WAJAH BERSIH TAK BERNODA 
Tanpa noda Santa Perawan Maria dikandung, tan-pa noda pula ia hidup, sehingga kita semua me-nyebutnya secara istimewa dan khas, “Bunda Tak Bernoda”. Tubuhnya tak pernah bernoda walau-pun Maria menjadi ibu. Jiwanya yang murni ber-sinar ke luar lewat netranya yang bersih dan indah, jendela hatinya. Seluruh jiwanya memantul dalam wajahnya yang bersinar. Bahkan patungnya juga tidak bernoda, bersih, tak sebutir debu pun me-nempel pada wajah Patung “Bintang Samudra”. Bila debu masuk oleh banyaknya orang keluar masuk gereja, debu beterbangan karena gereja dan bangku-bangku dibersihkan, wajah patung tetap bebas dari debu, tetap bersih tak bernoda. Apabila banyak patung rusak karena usia tua dimakan ngengat dan cacing, patung “Bintang Samudra” tetap bersih. Wajah Bintang tidak pernah terjamah oleh debu dan kotoran dunia. 


IX. TEMBOK BERNYANYI 
Seorang tukang kayu dari Maastricht tinggal lama di sebuah jalan kecil yang sunyi. Ia hidup miskin. Setiap hari ia harus menghidupi istri, anak-anak dan dirinya sendiri dengan imbalan sepotong roti keras. Ia tidak pernah mengeluh mengenai nasib-nya. Ia mempercayakan hidupnya kepada Tuhan dan terus berdoa. Ia berdoa kepada Maria Bintang Samudra. Apabila pada musim panas, jendela ka-mar kerjanya terbuka, maka ia menyanyikan lagu-lagu Maria yang dipelajarinya ketika ia masih ke-cil. Orang-orang di sekitarnya datang mendekati jendela dan mendengarkan ia bernyanyi dengan indah. 

Sebagaimana orang-orang Maastricht, anak-anak Maria, penghormat ”Bintang Samudra”, ia pun de-mikian. Tetapi tukang kayu kita ini, dalam tahun-tahun terakhir begitu pendiam; mungkin ia mera-sakan sakit pada badannya. Bukan oleh kemiskin-annya, ia menjadi pendiam, karena ia sendiri me-rasa cukup, namun tentu ada sesuatu yang lain. 

Sering sekali ia duduk diam di depan perapian dan tetap terus memandang lidah-lidah nyala api yang panjang, nyala api dapat meloncat bagaikan lebah, namun ia tidak mempedulikannya. Kadang-ka-dang ia tiba-tiba meloncat lalu bekerja lagi, karena orang harus makan. Isterinya tidak dapat mema-hami tingkah suaminya itu. Demi penghematan, lampu minyak dimatikan dan mereka berdoa ro-sario bersama. Tiba-tiba suaminya bertanya, “Ibu, di mana sebenarnya “Bintang Samudra itu?” sudah lama gereja dikunci, sehingga orang-orang tidak tahu di mana itu. Para imam dikejar-kejar, lon-ceng-lonceng tergantung diam, orang tidak dapat mendengar panggilan lonceng untuk pergi ke gereja. Orang-orang asing berkuasa, rakyatnya sendi-ri hanya menonton. 

Dan yang menyebabkan mere-ka merasa tertekan, ialah bahwa mereka tidak me-ngetahui tempat menyimpan “Bintang Samudra”. O, mari kita berdoa dan percaya saja!” 
“Ibu kita yang manis pasti tidak meninggalkan ki-ta, walaupun Bintangnya disembunyikan di balik awan. Tetapi kita mempunyai rencana. Mari kita berdoa dengan rute doa delapan hari pada sore ha-ri. Mungkin itu akan menolong !” Mereka mela-kukannya setelah pekerjaan usai dan anak-anak sudah pergi tidur. Mereka berdoa rosario, selama delapan hari. Kadang-kadang turun hujan lebat, mereka basah kuyup. Terjadi sesuatu setelah itu? Ketika tukang kayu itu mendekati bangku penge-tam kayu, tiba-tiba terdengar olehnya nyanyian indah, merdu bagaikan seribu nyamuk terbang me-layang-layang dekat tempat-kerjanya. Ia terdiam, meletakkan palunya dan mendengarkannya de-ngan mulut ternganga. Perlahan-lahan ia mende-kati jendela agar ia tidak kehilangan suara musik yang ajaib itu. Ia melongok ke luar, mungkin anak-anaknya yang bernyanyi itu. Tetapi tidak! Mereka bermain-main di emperan yang lain. Maka ia me-manggil istrinya. Mereka diam dengan wajah ter-kagum-kagum mereka mendengarkannya dan ber-tanya dalam hati dari mana datangnya musik itu. Semua kamar, ruang atas, ruang bawah dilacak-nya, tetapi tak terdapat sesuatu di sana.
Mereka kembali ke tempat kerjanya dan tukang kayu itu menempelkan telinganya pada dinding, mungkin tetangga sedang bermain musik. Tetapi tidak! Seolah-olah nyanyian itu bertambah jelas, apabila ia berjalan pada sebagian tembok tempat ia bekerja ... Dan mendadak, ia teringat akan rute doanya. Tak dapat tiada pasti doanya terkabul. Bunda Maria ada dekat mereka dan ia segera men-ceritakan prasangkanya pada istrinya. Ia meraih palu dan pahatnya, dan dengan kuat dipukulnya tembok putih itu, hingga potongan-potongan tem-bok berserakan di tempat kerjanya.

Bunda Maria dekat! Demikianlah hatinya dan nya-nyian itu semakin jelas saja, ketika ia meremuk-kannya batu merah tembok itu. Ia menyisihkan re-mukan-remukan batu itu dan terjadilah lubang di situ cukup untuk dimasuki satu kepala manusia. Tetapi dengan amat terkejut, ditariknya kembali kepalanya, karena di dekatnya bersinarlah cahaya kemilau mahkota Maria “Bintang Samudra”. Ia melihat seolah-olah seluruh tembok itu bersinar. Di dinding itu Patung “Bintang Samudra” ditempatkan di tembok tak seorang pun tahu, paling sedikit ia mengira bahwa Bunda Maria begitu dekat. Pada waktu ia membongkar dinding tembok itu, satu persatu anak-anak berdatangan masuk rumah. Semua heran terkagum-kagum ketika me-nyaksikan dan melihat patung keramat yang masih tampak utuh ketika dibongkar tukang kayu itu. 

Mereka berlutut dan bersyukur kepada Tuhan Yesus beserta ibu-Nya demi kehormatan rumah mereka dan segera seluruh tetangga menyaksikan penemuan besar itu. Dengan penuh hormat, pada hari itu juga patung itu dibawa ke gereja. Rute doa kepada Bunda Maria ini semakin ramai, lebih dari biasanya demi penghormatan kepada Bunda Ma-ria. Inilah legenda dari tembok bernyanyi. 


X. PENYANYI CILIK BUNDA MARIA 
Waktu itu adalah masa jaya bagi penghormatan Bunda “Bintang Samudra”. Tak terhitung banyak-nya para pesiarah yang menyewa penginapan-penginapan untuk bersiarah, terutama pada hari Senin Paskah. Tidak ada tahun terlewatkan para pemuja Maria untuk menyaksikan serta menga-lami mukjizat dari doa yang dikabulkan. Mereka percaya bahwa Maria adalah penolong orang Kris-ten. Dari segala penjuru negeri, kota dan desa ber-datangan peziarah ke kota tua Tricht, kota rahmat. “Bintang” itu berkilau dan berkelap-kelip menu-jukkan keindahannya. Tetapi kemudian tibalah awan gelap dari jauh dan kembali masa kejayaan “Bintang” ini di bawah tekanan perkelahian agama dan peperangan. Di bawah pemerintahan protes-tan, orang-orang katolik praktis agamanya dite-kan. Kegiatan prosesi dan berziarah ke tempat suci dilarang, para biarawan yang tak bersalah yang melaksanakan tugas mereka dibunuh sebagai mar-tir di lapangan Vrijthof. Di mana “Bintang Samu-dra” berada? Orang-orang hanya melihat duri ta-jam pada “Mawar Mistik” ini. Dengan demikian, patung ini juga harus menghilang, hingga peng-hormatan kepada Maria dibinasakan. Besok pagi gereja harus dikunci. Tetapi pada malam itu ba-nyak anak berjaga. Mereka berjaga sepanjang ma-lam sebelum ”Bintang Samudra” dibawa dalam peti besar ke Biara suster Annunciates di Wijk de-mi keamanan. Berbulan-bulan lamanya para suster menjaganya dengan setia dan merasa sedih karena orang-orang mengira bahwa di sini pun tidak aman. Kemudian dicari tempat yang aman karena tempat di sekitar Wijk ini diperkirakan tidak aman lagi. Pada suatu sore yang sepi, patung dibawa ke luar kota ke biara di Slavante di jalan Petrus. Be-tapa perasaan takut meliputi para pembawa peti mati yang berisi patung kerahmat itu. Para penjaga gerbang menganggapnya yang dibawa itu peti mati kosong yang akan dibawa ke rumah duka, sebab itu mereka dibiarkan lewat tanpa diperiksa sama sekali. Mereka tiba di biara Slavante menjelang sore dengan penuh syukur dan gembira. Begitu berhati-hati orang menyembunyikan patung kera-mat itu, sehingga tak seorang pun tahu bahwa pa-tung “Bintang Samudra” itu di tempat itu, kecuali pimpinan biara dan Bapa Vikaris. Dengan sangat berhati-hati kedua pimpinan itu membawa Patung Bintang Samudra ke kapel biara. Betapa mereka sedih, karena patung yang selalu dihormati itu se-karang berada di bawah tempat kediaman mereka. Mereka merasa bagaikan seorang ibu yang dipuja-puja tinggal di bawah tempat kediaman anak-anaknya. Sekarang Slavante diliputi salju karena musim salju dalam bulan November sangat di-ngin. Pohon - pohon besar kering dan gundul, dahan-dahannya bagaikan tangan-tangan pengemis mengulurkan tangan mereka. Angin taufan mende-ru di atas St. Pieters Berg dan menghembus kuat dalam lubang-lubang gua dan pipa-pipa, sehingga berbunyi seperti sebuah orgel besar yang ditiup. Pada keesokkan harinya atau pagi berikutnya tiba-tiba semua itu berhenti, seolah-olah tak terjadi apa-apa, salju berserpih-serpih tebal ... bagaikan bulu-bulu besar, tidak ada lagi. Sedemikian sunyi di sekitar tempat itu. Tak seorang pun lewat di jalan-jalan sekitar sungai Maas. Tetapi di dalam kesunyian jalan-jalan putih karena salju, kadang-kadang terdengar dentang jam biara, terjadilah ke-ajaiban/mukjizat. Setiap pagi pada saat/jam yang sama muncullah seekor burung kecil di jendela kapel tempat patung disembunyikan. Dengan pa-ruhnya yang runcing, burung itu mematuk-matuk jendela seolah-olah meminta perhatian dan menge-pakkan sayap-sayapnya seperti berdansa dengan gembira. Kemudian burung itu terbang melayang di depan jendela, naik turun, bernyanyi menyanyi-kan lagu-lagunya musim semi, dalam musim salju dari Slavante. 

Seorang bruder petugas kandang biara, dengan se-patu kayunya yang besar, kebetulan pergi keluar, ia berdiri terdiam, menggosok matanya dan men-dengarkan ... dengan mulut terbuka dan berpikir, ”maka segeralah datang musim semi”. Dan se-orang imam seusai Perayaan Ekaristi pagi berdiri mematung ... dan sambil berguman, “burung-burung kecil, begitu pagi kalian bernyanyi, jadi sarapan kucing”.

Tiap pagi pada jam yang sama, di jendela yang sama, burung kecil itu bernyanyi. Seluruh biara membicarakan burung kecil yang bernyanyi pagi-pagi pada musim salju yang dingin. Ketika para bruder dan pastur mendengarkan nyanyian burung itu, pemimpin biara dan Bapa Vikaris saling berpandangan dengan pandangan penuh pengertian. Berminggu-minggu selama patung Maria “Bintang Samudera” disembunyikan di situ burung kecil itu datang bernyanyi untuk memberikan silih karena orang tidak dapat datang untuk bernyanyi dan ber-doa bagi Maria. Biara diliputi kegembiraan, dan pemimpin biara hanya senyum saja, seolah-olah ia lebih mengetahuinya. Tetapi pada suatu hari da-tang sebuah kapal mengikuti arus S. Maas ... dan berlabuh di pangkalan Slavante. Dua orang naik serambi yang tinggi dan menghilang secara rahasia di belakang gerbang biara. Menjelang sore hari dua orang itu meninggalkan biara, membawa peti yang berat, dibawa ke kapal tanpa suara. Mereka menghilang di perairan sambil berucap, “Valde! O Valde decora! “Selamat berpisah, o patung kera-mat Bintang Samudera”! Apakah karena burung kecil itu terlalu keras bernyanyi? Apakah musuh-musuh bisa menemukan jejak “Bintang”. Bagai-mana sebenarnya hal itu dapat terjadi? Pada pagi berikutnya, ketika pada malam hari patung kera-mat dibawa berlayar ke Vise, para pastur sudah ti-dak dapat lagi mendengarkan suara penyanyi cilik Bunda Maria ... Dan kesepian musim salju dapat dilihat kembali biara terasing yang ada dalam kesunyian dari Slavante.


XI. KETIKA LONCENG-LONCENG BERDENTANG
Inilah masa jaya Maria “Bintang Samudra”. Pada waktu itu gereja dibuka kembali, setelah revolusi usai. Agama katolik kembali bebas. Rumah-rumah Tuhan yang terbengkelai bertahun-tahun lamanya, bagaikan taman yang tidak terurus, kini berkem-bang dan hidup lagi. Lonceng - lonceng bersuara lagi, bunyi orgel yang berat dapat didengar lagi di gereja-gereja. Sementara gereja-gereja biara rusak tak terurus, sehingga air hujan masuk melalui atap yang rusak, angin meniup langit-langit yang ber-lubang. Demikian juga Gereja St Nikolas tua yang setia itu, kini merupakan puing-puing, setelah ba-dai revolusi berakhir. Di antara gumpalan–gum-palan batu merah tembok abu-abu, bagaikan ma-war merah, bertumbuh kembanglah penghormatan kepada Bunda Maria “Bintang Samudra”. 

Di sini di tempatkan patung keramat setelah para pater OFM diusir, dan kini berdatanganlah para pemuja Maria tua dan muda untuk mengeluh dan mohon rahmat. Karena gereja St Nikolas sede-mikian rusak, maka orang mencari gereja lain se-bagai pengganti yang lebih layak bagi patung ke-ramat itu. Di seluruh Maastricht tidak ada lagi ge-reja lama. Sudah sejak lama Gereja Kapitel Bunda Maria ini sudah dibuat sebuah altar sebagai sing-gasana, dihiasi kain-kain indah dan relikwi ber-hiaskan relung-relung bunga dan nyala lilin-lilin. Ratu Putri hanya tinggal masuki saja. 

Akhirnya tiba hari yang telah ditentukan, untuk mengarak patung keramat secara meriah dari ge-reja lama St. Nikolas ke gereja Maria “Bintang Samudra”. Perarakan dikehendaki agar panjang dan meriah, tetapi jarak antara dua gereja itu sa-ngat kecil. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk memperpanjang jarak itu, agar perarakan da-pat dinikmati dengan semarak. Dalam bulan Ok-tober pagi hari, para rohaniwan dalam pakaian hitam dan putih dengan megah meninggalkan ge-reja St. Servas dengan salib perak di depan menu-ju Gereja St. Nikolas tua. Ada tiga kelompok ro-haniwan dari tiga paroki, yaitu paroki St. Servas, paroki St. Methias, dan paroki St. Martinus yang berangkat ke Gereja St. Nikolas. 

Dan di situ para rohaniwan dari gereja Maria “Bintang Samudra” menunggu untuk dijemput. Di sekitar gereja ini terjadi kesibukan. Kelompok-kelompok sejumlah perhimpunan menanti dengan vandel berwarna-warni. Kepala prosesi sudah ber-ada di jalan Wolf, ekornya yang merah karena nya-la liln-lilin masih jauh di ujung sana. Orang meng-ambil jalan-jalan melalui jln. Wolf, belakang Vleeshuis (rumah daging), Hondstraat (Jalan Anjing) dan Jln. Cort menuju Gereja Maria “Bin-tang Samudra”.

Dan ketika lonceng-lonceng dari Gereja St.Nikolas yang telah rusak itu mulai berdentang untuk ter-akhir kalinya, terasa mengharukan, seolah-olah menangis, berlalulah arak-arakan para malaikat yang gemerlapan indah, para pemusik, penyanyi, para rohiwan dan para pembesar perlahan-lahan dengan megah. Inilah merupakan prosesi yang isti-mewa. Para penonton dari rumah-rumah menga-mati dengan cermat. Harta benda dari gereja St. Nikolas dibawa serta lewat di situ, yaitu, salib, pi-ala, sibori dan monstran, relikwi dan buku misa. Dan di tengah-tengah sebagai pusatnya, ialah Ma-ria “Bintang Samudra”, dikitari oleh malaikat-ma-laikat kecil dalam pakaian satin putih dan biru sambil menyebar bunga-bunga dari keranjang yang dibungkus indah. Sebentar lagi akan dilangsung-kan perayaan Ekaristi agung, yang pertama, sete-lah bertahun-tahun tidak dapat diadakan misa di situ. Sekarang untuk pertama kalinya “Tuhan kita” ditahtakan, Ia kembali memiliki altar-Nya dan Gereja-Nya di bawah konsekrasi suci. Perarakan dengan tenang, perlahan-lahan lewat. Kali ini para militer seluruh garnisun dikerahkan untuk turut mengamankan jalannya perarakan, karena prosesi pada waktu ini istimewa dan sangat khusus. Para pimpinan militer dan pemerintahan dalam pakaian kebesaran mereka untuk hadir menjadi saksi upara yang jarang terjadi ini. Demikianlah perarakan bergerak memasuki Gereja Maria “Bintang Samu-dra”. Hingga sekarang lonceng–lonceng tua St. Ni-kolas berdentang untuk seluruh kota sebagai se-buah “Miserere” (kesengsaraan, kesedihan), tetapi mendadak berhentilah suaranya, seperti seutas tali putus oleh hentakan yang kuat. Dentangan terakhir seperti tangisan karena sedih.

Tetapi pada saat patung keramat “Bintang Samudra” masuk melalui gerbang diiringi oleh para ma-laikat kecil dan rohaniwan, tiba-tiba mulailah lon-ceng-lonceng Gereja St. Nikolas berbunyi hingga terdengar di kota yang sedang berpesta. Lonceng besar, kecil bersama-sama berbunyi bersahut-sa-hutan dengan indah, membuat orang-orang heran dan melihat ke atas. Burung-burung merpati di atas menara kota beterbangan karena terkejut dan turut bergembira.Belum pernah orang-orang Maas-tricht sedemikian bergembira karena mendengar suara lonceng Gereja Maria “Bintang Samudra” seperti pada saat itu, pada saat patung keramat itu dibawa masuk. Ketika orang mencari yang menye-tel lonceng hingga membunyikannya lagu “Sela-mat Datang” yang indah, orang hanya menemukan tali temali panjang yang ditarik oleh tangan-tangan yang tidak tampak. Bagaimana pun orang mencari siapa yang membunyikannya lonceng itu, tidak di-temukan. Oleh kegembiraan, lonceng itu berbu-nyi, dan tidak akan berhenti sebelum patung kera-mat itu ditempatkan di relung bunga dari emas di altarnya, di Gereja Maria “Bintang Samudra”. 

Bunda Maria tersenyum menyaksikan putra putranya kembali berdatangan melalui gang gereja yang temarang. Bunda Maria merasa krasan sudah kembali di rumahnya sebagai ibu.


0 komentar:

Poskan Komentar