Ads 468x60px

Konsili Vatikan II tentang Kitab Suci dan konteks aktual

Ada dua dokumen yang secara langsung membahas tentang Kitab Suci atau Sabda Allah yaitu Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi (Dei Verbum, disingkat DV) dan Konstitusi tentang Liturgi (Sacrosanctum Concilium, disingkat SC). Bagian besar dari Dei Verbum menguraikan peranan sentral Kitab Suci dan memberi angin baru tidak hanya mendorong umat untuk membaca Kitab Suci tetapi juga anjuran kerjasama dengan jemaat-jemaat Kristen untuk menerjemahkan Kitab Suci dalam bahasa-bahasa daerah setempat. Usaha terakhir ini telah dilakukan oleh LBI dan LAI dengan terbitan Alkitab bersama (ekumenis). 

Pada pokoknya Konsili Vatikan II menegaskan kembali apa yang sudah ditegaskan konsili-konsili sebelumnya dengan menyatakan, “berdasarkan iman para rasul, Bunda Gereja yang kudus memandang kitab-kitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru secara keseluruhan beserta semua bagiannya, sebagai buku-buku yang suci dan kanonik, karena ditulis dengan inspirasi Roh Kudus dan mempunyai Allah sebagai pengarangnya, serta diteruskan kepada Gereja dengan ciri yang demikian” (DV. No. 11). 

Kemudian ditegaskan lagi, “Melalui Alkitab, Bapa di surga yang penuh kasih itu mendatangi anak-anak-Nya, dan berbicara dengan mereka. Begitu besar daya dan kekuatan firman Allah, sehingga merupakan topangan dan tenaga Gereja, kekuatan iman, santapan jiwa, sumber jernih dan kekal hidup rohani” (DV. No. 21b). 

Setelah 30 tahun? 
Konsili Vatikan II berakhir pada tahun 1965. Sudah 30 tahun angin baru di dalam Gereja dihembuskan, namun sudahkah nampak buah-buahnya? Apakah umat sudah akrab dan terbiasa membaca Kitab Suci? Rupanya dibutuhkan waktu cukup lama untuk mengubah pola dan tidak biasa menjadi suka membaca Kitab Suci setelah sekian abad umat tidak tahu menahu tentang Kitab Suci. 

Mengapa orang Katolik tidak biasa membaca Kitab Suci? 
• Pertama, barangkali memang di rumah tidak ada Alkitab. 
• Kedua, karena orang Katolik takut salah tafsir. Kekawatiran ini bisa dipahami karena munculnya sekte-sekte Protestan mulai menafsir secara pribadi atas Kitab Suci. 
• Ketiga, karena isi Kitab Suci toh sudah ditemukan dalam ajaran-ajaran Gereja, jadi tidak perlu lagi membaca Kitab Suci. 
• Keempat, dan inilah kiranya yang paling pokok, warisan sejarah masa lampau di mana kebiasaan membaca Kitab Suci tidak semaju saudara-saudara kita Protestan. 

Dunia percetakan semakin berkembang dan kemampuan membaca semakin merata. Tidak ada alasan bahwa Alkitab sulit didapat. Yang dibutuhkan adalah kehendak kuat untuk memiliki dan membacanya. George Washington, presiden pertama Amerika Serikat pernah mengatakan, “tidak mungkin mengatur dunia dengan benar tanpa Tuhan dan Injil”. St. Hieronymus yang hidup sekitar abad 5 M juga mengatakan, “tidak mengenal Alkitab berarti dengan tidak mengenal Kristus”. Kalau orang Katolik tidak cinta dengan Alkitabnya sendiri, apakah mungkin mengharapkan orang lain untuk mencintainya? 

TERJEMAHAN KITAB SUCI 
Dewasa ini Alkitab seluruhnya atau sebagian sudah diterjemahkan ke dalam 1.549 lebih bahasa. Kiranya tidak ada buku manapun yang dari segi alih bahasa dan penjualannya bisa menandingi Alkitab. Di Indonesia Alkitab (seluruhnya atau hanya sebagian) sudah diterjemahkan ke dalam 83 bahasa daerah. Sedangkan terjemahan ke dalam bahasa Indonesia sendiri terdapat macam-macam. 

• Yang pertama, Alkitab terjemahan yang dikerjakan oleh Katolik antara tahun 1954 dan 1975 (membutuhkan waktu sekitar 20 tahun!). Terjemahan ini terdiri dari 2 jilid: Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dan pernah diterbitkan dan diedarkan oleh Pemerintah RI, lewat kementerian Agama/ Bimas Katolik. Kitab Suci ini disertai dengan catatan kaki! 
• Yang kedua, Alkitab terjemahan baru sebagai hasil kerjasama Katolik/LBI dan Protestan/LAI (ekumenis) yang memuat kitab-kitab Deuterokanonika. Ini terjemahan standar yang bisa dipakai baik oleh Protestan maupun Katolik. Alkitab jenis ini dengan mudah kita dapati di setiap toko buku Katolik dan Kristen. 
• Yang ketiga, terjemahan yang disponsori LBI dan LAI dengan judul, “Kabar Baik. Kitab Suci dalam Bahasa Indonesia sehari-hari”. Terjemahan ini agak bebas dan memang dimaksudkan untuk orang kebanyakan. Hanya kalau orang ingin mempelajari Alkitab secara serius terjemahan ini kurang cocok; lebih cocok pakai yang terjemahan standar (meskipun agak kaku dan tidak mudah dimengerti). 
• Yang keempat, terjemahan “sederhana” yang dimaksudkan untuk anak-anak dan orang dewasa yang hanya menguasai sedikit bahasa Indonesia. Terjemahan ini disebut “Terjemahan untuk pembaca baru”. 

LEMBAGA KITAB SUCI DI INDONESIA 
LAI 
• Singkatan dari Lembaga Alkitab Indonesia 
• Lembaga Gereja Protestan yang berdiri tahun 1952. Lembaga ini di bawah PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia). 
• LAI bekerjasama dengan LBI menerbitkan Alkitab bersama (dengan Deuterokanonika) sejak tahun 1975. 
• Alamat: Jl. Salemba Raya 12, Jakarta Pusat 10430 Tip. (021) 332890. 

LBI 
• Singkatan Lembaga Biblika Indonesia; Lembaga Gereja KATOLIK yang dirintis pada tahun 1956 oleh imam-imam Fransiskan, antara lain Almarhum Rm. Dr. C. Groenen OFM, untuk: 
o mengusahakan terjemahan, 
o penerbitan Kitab Suci & 
o buku-buku tentang Kitab Suci 
o Tahun 1971 menjadi lembaga MAWI (Majelis Waligereja Indonesia, waktu itu) dan sampai sekarang menjadi salah satu lembaga KWI (Konferensi Waligereja Indonesia) di samping Lembaga Penelitian dan Pembangunan Sosial (LPPS) dan Lembaga Katolik untuk Kesejahteraan Keluarga di Indonesia. 
• LBI menjalin kerjasama dengan LAI dan World Catholic Federation for Biblical Apostolate di Stuttgart, Jerman. 
• Alamat: JL Kramat Raya 134, Jakarta Pusat 10430 Tlp. (021) 3909727. 


KITAB SUCI DAN KESAKSIAN 


Koinoonia (persaudaraan/persekutuan) 

Pengalaman kristiani terjadi dalam persekutuan atau persaudaraan. Gambaran persaudaraan umat ini dengan sangat bagus dilukiskan dalam Kis 2: 44-47. Gereja Perdana saat itu hidup sehati-sejiwa, segala sesuatu kepunyaan mereka bersama. Mereka saling mengasihi dalam kelompok tersebut. Mereka saling mengenal dan diterima sehingga tidak merasa asing. Fungsi Kitab Suci ialah menjadi dasar terbentuknya kelompok jemaat yang kemudian kita kenal dengan Gereja hingga sekarang ini. 

Kerygnia (pewartaan) 
Pengalaman perjumpaan dengan Yesus Kristus menjadi kerinduan setiap orang dan setiap kelompok. Pewartaan kabar gembira bukan hanya memberi informasi tetapi juga memberi kesaksian. Dan memberi kesaksian mengandalkan pengalaman pernah ada di sana. Saksi adalah orang yang mengalami dan terlibat sendiri. Pengalaman perjumpaan dengan Tuhan entah secara sendiri maupun dalam kelompok diperlukan dalam pewartaan. Nah, di sini Kitab Suci menjadi sumber pokok tertulis pewartaan kabar gembira tentang Yesus Kristus. 

Leitourgia (peribadatan) 
Dalam liturgi, umat merayakan warta penyelamatan Yesus Kristus yang telah diterima dan diimani. Iman itu kini diungkapkan dalam doa bersama. Melalui liturgi iman juga dipelihara dan dipupuk, karena iman (sikap pribadi) yang tidak pernah dieksplisitkan akan cenderung mandeg. Kitab Suci dalam liturgi dibacakan, direnungkan dan diterangkan dalam homili. Umat menimba kekuatan dan Sabda Allah dalam ibadat. 

Diakonia (pelayanan) 
Persaudaraan yang kuat dan liturgi yang meriah, hanya akan berarti bila umat atau kelompok mempunyai keterarahan ke luar pada pelayanan: penegakan keadilan dan pada orang-orang yang membutuhkan. Kelompok umat bukanlah kelompok yang dibangun untuk dirinya sendiri dan tertutup dan masyarakat. Justru alasan keberadaan kelompok umat (Gereja) karena pelayanan ini. Pelayanan dijiwai dan didasari oleh Sabda Allah dan Kitab Suci. 

Dilihat arah geraknya, koinoonia dan leitourgia lebih terarah ke dalam: membangun persaudaraan dan mengungkapkan iman dalam kelompok. Sedangkan pewartaan dan pelayanan lebih mengarah ke luar: pelayanan pada orang lain. 

Secara singkat hubungan ke empat unsur penghayatan iman ini sebagai berikut: 
1. Dalam persaudaraan umat (koinoonia), 
2. Mewartakan injil: kabar gembira penyelamatan Yesus Kristus (kerygma), 
3. dan merayakan penyelamatan itu (leitourgia), 
4. serta melaksanakan dalam pelayanan (diakonia), 
5. terlaksana kesaksian hidup iman (martyria). 

Dalam seluruh gerak PERSAUDARAAN, PEWARTAAN, PERIBADATAN dan PELAYANAN itu, Gereja BERSAKSI dalam hidup nyata: lewat KATA dan TINDAKAN dan Kitab Suci menjadi titik pusat bagi kegiatan hidup jemaat kristiani.

0 komentar:

Poskan Komentar