Ads 468x60px

Pembicara Kitab Suci yang menarik bersama orang muda

Semua orang pernah menjadi orang muda. Bicara dengan orang muda adalah suatu hal yang menarik, persoalannya bagaimana menjadi pembicara yang menarik dan disenangi kaum muda. Ada juga pembicara yang membosankan namun ada pula yang cukup menarik bahkan bisa saja kita pernah mendengar pembicara anak muda yang sangat menarik sehingga bila kita mendengar bahwa orang itu yang akan menjadi pembicara dalam pertemuan anak muda maka kita akan lebih semangat untuk datang.

Untuk menjadi pembicara yang menarik, kita dapat belajar dari banyak pembicara yang ada. Dengan membuat suatu daftar dari para pembicara tersebut dengan membaginya menjadi 3 bagian: membosankan, cukup menarik dan sangat menarik, kita kemukakan alasan mengapa pembicara yang ini membosankan, dan yang itu cukup menarik, sementara yang lain sangat menarik. Apa kelebihan dan kekurangan mereka. Tujuan dari semua ini adalah agar kita bisa belajar dari kekurangan dan kelebihan orang lain sambil melihat dimana kekuatan dan kelebihan kita.
Kunci dari keberhasilan untuk dapat berbicara dengan menarik adalah:
1. Seberapa besar peran kita bagi mereka untuk lebih mengenal dan mengasihi Tuhan.
2. Apakah ada rasa kasih yang besar dalam hati kita untuk mereka?
3. Rendah hati: mau belajar, kita tidak tidak tahu semua hal
4. Hidup yang seimbang dan sehat: surgawi dan duniawi
5. Jujur dan wajar: be yourself
6. Roh Kudus!!
7. Persiapan yang baik.

Tentu saja adalah hal-hal praktis yang perlu kita perhatikan untuk melengkapi dasar yang sudah kita miliki (kehidupan doa yang baik dan Firman Tuhan yang kuat) dan kita akan mencoba untuk melihat itu satu per satu.

Tips untuk menjadi pembicara yang menarik

1. Persiapan pribadi 
Bertanya pada diri sendiri:
Pesan apa yang akan disampaikan?
Mengapa pesan ini harus disampaikan?
Siapa yang mendengar / hadir?
Dengan cara apa mereka akan mendengarkan saya?

Komitmen pada diri sendiri: 
Berusaha menjadi diri sendiri
Memuliakan nama Tuhan
Berusaha mencapai yang terbaik.

2. Persiapan bahan
Buat tema pokok yang lebih spesifik?

Uraikan tema yang dipilih tadi dengan memperhatikan
- Kalimat pembukaan yang menarik
- Pertanyaan2 sehubungan dengan tujuan / tema itu
- Jawab pertanyaan dengan “mengapa” dan “ bagaimana”

Sumber-sumber pendukung
Mencari sumber-sumber:
- Pengalaman pribadi sebagai illustrasi yang sangat baik
- Buat daftar contoh atau materi yang mendukung
- Contoh / illustrasi / lelucon yang dipersiapkan akan mendukung / menguatkan pesan yang akan disampaikan?
- Contoh / illustrasi / lelucon / yang disampaikan akan menarik perhatian dan mendukung peserta dalam mengerti materi yang disampaikan?

Periksa kembali:
- Apa yang saya sudah pertimbangkan tentang kebutuhan peserta?
- Apa yang akan saya sampaikan sesuai dengan kebutuhan anak muda?
- Apa topik yang menarik minat anak muda?
- Apa saya menguasai materi ini? Atau butuh persiapan lagi?
- Apa ini sudah sesuai dengan tema acara / topik yang diminta?
- Apa saya membatasi pemikiran hanya pada beberapa point saja atau saya mencoba mengambil terlalu banyak materi?
- Apa saya sudah menghidupkan materi dengan contoh / illustrasi / anekdot yang menarik?

3. Persiapan fisik
Buat catatan :
Semakin sedikit catatan semakin baik
Catatan harus diletakkan di alkitab atau tempat yang sedikit tersembunyi: alkitab, lantai, meja, musik stand / microphone stand
Bisa menulis garis besarnya pada over head projector
Jadikan waktu sahabat terbaik
Yakinlah bahwa anda mampu menyampaikan pikiran2 secara lisan
Berlatihlah menyampaikan materi, gunakan tape recoder 
Mengenakan pakaian yang tepat

3. Persiapan lingkungan sekitar
Mengurangi gangguan yang mungkin terjadi:
a. penerangan yang kurang
b. ruangan yang keliru
c. interupsi dan sumber2 yang dapat mengalihkan perhatian suhu yang tidak nyaman
Penggunakan microphone: kawan atau lawan?
Belajarlah untuk tidak menggunakan podium

Presentasi

1. PERHATIKAN 50 KATA PERTAMA: Apa, mengapa?
Kata pembukaan dapat berupa: cerita, lelucon, gambar yang unik, cerita pendek yang menarik dan “membangun”, pernyataan atau pertanyaan.

2. PERCAYA DIRI DAN PEKA dengan tanda2 non verbal dari peserta
3. BUATLAH TUBUH BERBICARA:
Kontak mata: “lihatlah saya ketika saya berbicara”
a. Para peserta harus dapat melihat langsung mata anda
b. Pandang mereka pada matanya

Gerakan tubuh:
c. Berpindah tapi jangan terlalu banyak
d. Bergerak dengan mantap tapi jangan gemetaran
e. Bayangkan diri kita sebagai sales yang sedang berusaha menyakinkan pembeli untuk produk yang kita tawarkan

Ekspresi wajah dan tubuh: alis mata yang dinaikkan, diam sejenak, mata melebar karena terkejut, ekspresi karena kita memberikan perhatian / konsentrasi

Suara yang sesuai dengan sasaran:
f. Volume yang tepat
g. Intonasi yang tepat: meninggi, datar, rendah
h. Mulailah dengan menghirup udara yang cukup
i. Kecepatan: jangan berbicara terburu-buru seperti ada kebakaran
j. Variasi: dialek yang membumbui

Bahasa: jelas, tidak bertele-tele, dan mudah dimengerti

Pengembangan bahan pembicaraan

a. Pengembangan humor:
• apa adanya
jangan membuat humor yang mengaburkan pesan yang ingin disampaikan
• carilah cerita-cerita lucu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari

b. Menghidupkan cerita Kitab Suci:
• Mengajak membaca dengan keras dan berintonasi
• Presentasikan karakter-karakter dalam Kitab Suci sebagai sesuatu yang nyata
• Jangan terlalu me ‘rohanikan’ segala sesuatu
• Sediakan contoh-contoh aplikasi dari kebenaran Kitab Suci.






Ice Breaking

Dalam setiap kesempatan, apakah dalam pertemuan formal ataupun informal, anda harus membantu orang-orang disekitar untuk lebih relaks dan menjadi diri mereka sendiri apa adanya. Hal ini diperlukan agar supaya terjadi suasana menjadi tidak kaku serta terjadi kekompakan antara satu dengan yang lainnya. Untuk ini diperlukan pencair suasana yang bias disebut dengan ice breakers.

Mengapa perlu Ice breaking?
• Karena Ice-breaking membuat orang relax dan membantu orang menjadi dirinya sendiri. Semakin orang merasa relaks didalam kelompoknya, semakin mudah ia untuk masuk dalam suasana belajar.
• Karena membuat “Ice-breaking”, tidak diperlukan keahlian tertentu dan umumnya tidak memalukan. Diharapkan bahwa semua orang dapat bertingkah laku sedikit konyol, supaya sifat ego yang ada dapat dihancurkan dan menjadi diri sendiri apa adanya, dengan kata lain, tidak menutupi sifat asli dengan bertopeng.
• Karena menggunakan “Ice-breaking” didalam kelas dapat membantu membuang pikiran-pikiran kaku dalam suasana belajar. “Ice-breaking” juga membuat orang sadar bahwa kita juga dapat berpikir secara serius meskipun dalam suasana menggembirakan.

Kapan menggunakan “Ice Breaking”?
• Pada awal program : hal ini membuat orang lebih dekat satu dengan yang lainnya dan memberikan suasana kekeluargaan.
• Pada pertengahan program : hal ini membuat orang menjadi tidak bosan dan dapat meningkatkan semangat kelompok dalam peran serta secara aktif dalam acara selanjutnya.

Jenis-jenis “Ice breaking”:
• Permainan : suatu kgiatan bersama yang melibatkan semua anggota untuk mencapai suasana tertentu.
Misal : permainan perkenalan (“ping-pong), permainan campuran (“dipikir-pikir”), permainan khayalan (“pantomin”), 

• Sorak-sorai (yell): minta anggota kelompok untuk meneriakan kata-kata tertentu (bicara keras) mengikuti ucapan pemimpinnya.
Misal : mengundang semua untuk tertawa “ha…ha…ha…” dengan volume suara yang berbeda mengikuti pemimpinnya.

• Lagu : menyanyikan lagu yang sederhana dalam kelompok

• Bersahut-sahutan: menyanyikan lagu yang dengan selang beberapa menit. Setiap kelompok akan diberitahukan kapan untuk mulai nyanyi dan pemimpin acara akan memberitahukan kapan berhenti nyanyinya. Misalnya : “Dari terbit matahari “

• Gerak & Lagu : lmenyanyikan lagu yang disertai dengan gerakan badan dan dilakukan bersama-sama

• Olah raga : merenggangkan badan, membungkuk, memutar., dll. Kegiatan ini dapat dilakukan bersama-sama , secara per kelompok atau berdua-dua. Olah raga dengan musik atau aerobik adalah kegiatan yang menggembirakan dan dapat memberi semangat lebih ke kelompoknya

• Puzzles : teka-teki silang , quiz, teka-teki , jigsaw, puzzle, permainan intelektual, dll.

• Eskpresi yang kreatif : setiap kelompok dapat diberikan waktu beberapa menit untuk dapat mempraktekan gaya (dramatisasi) atau membuat daftar dari apa yang telah dipelajarinya. Kegiatan ini dapat mencairkan acara monoton yang terjadi pada saat belajar atau jika sedang dalam diskusi kelompok. 

Setelah acara “Ice breaking”
• Setelah kelompok sudah mulai relaks dan santai jangan meneruskan lagi atau memusatkan pembicaraannya pada lelucon yang muncul pada saat “ice-breaking” tadi. Tetapi kita harus meneruskan secara bertahap kedalam program selanjutnya.

0 komentar:

Poskan Komentar