Ads 468x60px

TRIHARI PASKAH (Sacrum Triduum Paschale)


KAMIS PUTIH

Pada Hari Kamis Putih, gereja secara khusus mengenangkan lima Misteri Iman kita. 
Misteri pertama adalah Yesus membasuh kaki para Rasul-Nya. Dengan tindakan-Nya ini Yesus hendak mengajarkan kepada kita untuk melayani sesama dengan rendah hati. 

Misteri kedua, Yesus bersabda bahwa kita harus saling mengasihi seperti Ia telah mengasihi kita. 

Misteri ketiga, pada Hari Kamis Putih kita juga mengenangkan sengsara maut Yesus di Taman Getsemani, di mana Ia meneteskan butir-butir keringat darah dari Darah-Nya yang Sangat Berharga itu bagi kita sementara Ia berdoa. 

Misteri keempat, pada Perjamuan Malam Terakhir Yesus juga meletakkan dasar Sakramen Imamat, Ordo-ordo Kudus. Yesus memilih para rasul-Nya sebagai imam-imam dan uskup-uskup pertama, serta memberi mereka kuasa untuk mempersembahkan kurban Misa.

Misteri kelima, yang merupakan rahmat terbesar dari semua rahmat yang telah Yesus berikan kepada kita, ialah Perayaan Misa: menerima Tubuh, Darah, Jiwa serta Ke-Allahan Yesus dalam Komuni Kudus. 

“Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” (1 Kor 11:23-26).

Kata-kata ini dengan jelas menunjukkan tujuan Kristus: dalam rupa roti dan anggur, Ia hadir dengan Tubuh-Nya 'diserahkan' dan Darah-Nya 'dicurahkan' sebagai korban Perjanjian Baru. Pada saat yang sama, Ia menetapkan para rasul dan para penerusnya untuk merayakan sakramen ini yang Ia anugerahkan kepada gereja-Nya sebagai bukti paling agung dari kasih-Nya.

Inilah pokok utama Kamis Putih. Kiranya Putra Allah menjadikan kita mampu menghayati hari ini sesuai madah doa Byzantine yang indah ini: 'Izinkanlah aku hari ini mengambil bagian dalam perjamuan mistik-Mu, ya Putra Allah. Aku tidak akan mengkhianati rahasia ini kepada musuh-musuh-Mu, dan juga tidak memberi ciuman seperti Yudas, tetapi seperti penyamun itu aku berseru kepada-Mu: Tuhan, ingatlah aku dalam kerajaan-Mu!' (Liturgi Ilahi St. Yohanes Krisostomus).

Pada Misa Kamis Putih, imam juga mengkonsekrasikan cukup hosti agar dapat dibagikan juga pada umat saat Komuni Kudus keesokan harinya, karena pada hari Jumat Agung tidak dipersembahkan Misa. Setelah Misa berakhir, Sakramen Maha Kudus, yaitu Yesus Sendiri, diarak secara khidmat menuju tempat pentakhtaan-Nya, dimana akan diadakan Jam Suci (= malam berjaga, tuguran) di hadapan Sakramen Mahakudus. 

Pada hari Kamis malam, 
(“Kamis Putih”)
Yesus makan bersama para sahabat-Nya.
Sekarang, kalian harus tahu
bahwa pada malam yang sama,
dulu, di masa silam,
Tuhan membebaskan umat-Nya
dari belenggu Firaun.

Roti dan anggur
Yesus berikan kepada mereka:
“Inilah Tubuh-Ku,
“Dan inilah Darah-Ku.
“Yang akan membebaskan kamu.
“Apabila kalian melakukan ini,” kata-Nya,
“ingatlah akan Aku.”

Mereka pergi ke sebuah taman,
setelah santap malam,
dan Yesus berlutut serta berdoa:
“Bapa, Bapa-ku,
“tolonglah Aku.
“Tolonglah Aku, Aku takut.”

Kemudian datanglah Yudas,
dan prajurit-prajurit juga,
yang mengikat tangan-Nya,
dan membawa-Nya pergi
menghadap Pontius Pilatus
yang duduk di atas singgasana.
“Ia berbahaya!”
“Ia harus mati!” teriak mereka.

Dan Pilatus, tanpa alasan, menjawab:
“Ia harus disalibkan!”
Lalu mereka mendera-Nya,
dan menyeret-Nya
ke suatu tempat bernama Kalvari.
Kadang-kadang Ia terjatuh,
tertimpa salib yang dipanggul-Nya,
salib yang dibuat dari sebuah pohon yang besar.




JUMAT AGUNG

Pada hari Jumat Agung kita merenungkan salib di Kalvari. 'Ecce lignum Crucis': 'Lihatlah kayu salib di mana tergantung Kristus Juruselamat dunia.' Kita mengenangkan kembali 'misteri sengsara' Yesus Kristus. Misteri Salib tak terpahami oleh akal budi manusia. Mendaki bukit Kalvari sungguh merupakan sengsara yang tak terlukiskan, berpuncak pada sengsara salib yang dahsyat. Betapa tak terselami misteri Allah! Tuhan, menjadi manusia, menderita sengsara demi menyelamatkan umat manusia, menimpakan tragedi umat manusia pada Diri-Nya Sendiri. 

Jumat Agung mengingatkan kita akan rangkaian pencobaan yang tak kunjung henti dalam sejarah, di antaranya kita tak dapat melupakan tragedi-tragedi yang terjadi di jaman kita. Sehubungan dengan ini, bagaimana kita dapat melupakan peristiwa-peristiwa tragis yang hingga kini masih menodai sebagian bangsa-bangsa di dunia dengan darah?

Secara liturgis, pada Hari Jumat Agung, Gereja mengadakan tiga pokok, yakni:

a. Mengenangkan Sengsara dan Wafat Yesus Kristus lewat pembacaan kisah sengsara Yesus. 

b. “Cium Salib”, semacam penghormatan salib merupakan salah satu pokok Ibadat pada hari Jumat Agung itu. Kita berterima kasih kepada Tuhan atas karya penyelamatan yang telah dikaruniakan-Nya kepada kita dengan pengorbanan yang sangat besar. 

c. Menerima Yesus dalam Komuni Kudus sebagai buah-buah salib. 
Adapun pada hari Jumat Agung, perhatian kita lebih dipusatkan pada kurban Yesus yang berdarah di Kalvari, sementara pada hari Kamis Putih perhatian kita lebih dipusatkan pada kurban tak berdarah dalam Perayaan Ekaristi.

Mengapa kita menyebut hari wafatnya Yesus sebagai Hari Jumat Agung? Karena pada hari itulah Yesus wafat untuk menebus dosa-dosa kita. Dengan kematian-Nya, Yesus memulihkan kembali hubungan kita dengan Tuhan dan membuka kembali pintu gerbang surga yang telah tertutup karena dosa Adam dan Hawa. Santo Petrus, Paus kita yang pertama, mengatakan: “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilurNya kamu telah sembuh.” (1 Petrus 2:24). 

Pada hari Jumat,
(Kita menyebutnya “Agung”)
Yesus dipakukan
pada kayu yang kaku keras.
Di bawah salib-Nya, 
Bunda-Nya berdiri
menangis melihat apa yang telah mereka lakukan.
“Oh, andai aku dapat memeluk-Nya,” katanya pilu,
“Memeluk Putraku satu-satunya!”

“Bapa, terimalah Aku,” kata Yesus,
“Terimalah Aku dalam tangan-Mu.”
Allah Bapa membungkuk
lalu menerima-Nya,
dan memeluk Putra Tunggal-Nya itu.
“Aku Allah yang membangkitkan,
“hidup-Mu baru saja dimulai.
“Aku Allah dari yang hidup,
tak ada makam yang boleh menahan Putra-Ku.”




SABTU PASKAH

Di makam kita dapat merenungkan tragedi umat manusia yang, terlepas dari Allah, secara tak terelakkan dikuasai oleh kesepian dan keputusasaan. Mengandalkan dirinya sendiri, manusia merasa sesak dalam setiap tarikan napas pengharapan menghadapi penderitaan, kegagalan hidup dan, teristimewa, maut. Apakah yang harus kita lakukan? Kita harus menunggu kebangkitan.

Pastinya, Gereja merayakan Paskah dengan sukacita yang luar biasa! Yesus telah bangkit dari antara orang mati dan tidak akan pernah mati lagi. Ia hidup abadi sebagai Tuhan dan Penyelamat kita yang mulia. Semangat Paskah ini di mulai pada Hari Sabtu Malam Paskah dengan Upacara Cahaya yang melambangkan Terang Kebangkitan. Lilin Paskah mengingatkan kita bahwa Yesus adalah terang dunia dan kita semua dipanggil untuk membagikan terang-Nya kepada siapa saja yang kita jumpai. Warga baru dibersihkan dari dosa dan disambut kedatangannya dalam Gereja. Kaum beriman yang telah dibaptis diajak memperbaharui Janji Baptis. Artinya: sebagaimana Kristus wafat, lalu bangkit, demikian pula kita mati terhadap dosa dan bangkit untuk hidup baru sebagai anak-anak Allah. 



MINGGU PASKAH

Minggu Hari Raya Paskah Kebangkitan Tuhan adalah hari raya terbesar dari segala hari raya. Yesus telah bangkit dari antara orang mati! Yesus telah mengalahkan dosa dan maut dengan kebangkitan-Nya. Ia telah membuktikan bahwa Ia sungguh-sungguh Putera Allah seperti yang dinyatakan-Nya. Yesus memberi kita pengharapan akan surga jika kita telah meninggalkan dunia ini. “Andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.” (1 Kor 15:14) 

Ya, ketika Kristus mengatakan: 'Jangan takut', Ia hendak menjawab sumber ketakutan manusia yang terdalam. Yang Ia maksudkan adalah jangan takut akan kejahatan, karena lewat kebangkitan-Nya, kebaikan telah menyatakan diri lebih kuat daripada kejahatan. Injil-Nya adalah kemenangan kebenaran.

Sekarang, kita juga adalah saksi-saksi dari Kristus yang telah bangkit dan kita mengulangi pewartaan damai-Nya kepada segenap umat manusia. Kita menjadi saksi atas wafat dan kebangkitan-Nya, terutama kepada pria dan wanita dari masa kita, yang terjebak dalam perang saudara dan pembunuhan yang membuka kembali luka-luka lama pertikaian antar etnis. Dan di bagian-bagian lain di setiap benua, sekarang tertabur di bumi benih-benih kematian dan konflik-konflik baru menyongsong masa depan yang suram. 

Pewartaan damai ini diperuntukkan bagi mereka semua yang mengalami Kalvari yang seolah-olah tanpa akhir, yang terhalang cita-cita mereka dalam menghormati martabat dan hak asasi manusia, demi keadilan, demi lapangan kerja, demi kondisi hidup yang lebih adil. Semoga pewartaan damai ini menjadi inspirasi bagi para pemimpin negara dan bagi setiap orang yang berkehendak baik, di mana perdamaian dipertaruhkan dalam keputusan-keputusan politik yang berbahaya. Semoga pewartaan damai ini membangkitkan keberanian baru bagi mereka yang percaya dan masih percaya pada dialog sebagai cara untuk menyelesaikan ketegangan-ketegangan nasional maupun internasional. Semoga pewartaan damai mengisi hati setiap orang dengan keberanian akan pengharapan yang bersemi dari kebenaran yang dikenali dan dihormati, sehingga prospek-prospek baru yang menjanjikan akan solidaritas dapat terwujud di dunia. 

O Kristus yang Bangkit, Penebus umat manusia, terangilah dan bimbinglah mereka semua yang mengusahakan perdamaian, setiap hari dan di setiap pelosok dunia, dengan pengorbanan yang besar. O Pemenang atas maut, kuatkanlah para tokoh keadilan dan perdamaian di mana harapan-harapan akan tercapainya hidup berdampingan dalam damai masih dibayangi oleh jalan adu kekuatan dan kekerasan. Hiburlah mereka yang menolak pertikaian antar etnis yang tak terelakkan. Pulihkan penderitaan mereka yang menjadi korban keganasan senjata. Semoga pengharapan tak pernah padam dalam diri mereka yang percaya bahwa pada akhirnya aspirasi mereka yang logis terhadap lapangan kerja, tempat tinggal, keadilan sosial yang lebih baik dan kebebasan sejati dalam mengungkapkan hati nurani serta kebebasan beragama akan didengarkan.

Surrexit Dominus: Kristus telah bangkit dan menganugerahkan kepada mereka yang ikut ambil bagian dalam kemenangan-Nya atas maut, keberanian serta kekuatan untuk melanjutkan karya membangun umat manusia baru dengan menolak segala jenis kekerasan, kepicikan dan ketidakadilan. Tuhan atas hidup telah bangkit dengan kuasa, membawa serta bersama-Nya kasih dan keadilan, hormat, pengampunan dan rekonsiliasi. Ia yang dari ketiadaan telah menjadikan dunia, hanya Ia yang dapat mendobrak meterai makam, hanya Ia yang dapat menjadi sumber Hidup Baru bagi kita, yang ditundukkan oleh hukum alam maut.

'Scimus Christum surrexisse a mortuis vere.' Ya, kita tahu dengan pasti bahwa Kristus sungguh telah bangkit dari antara orang mati: Engkau, Raja Pemenang, kasihanilah kami. Amin! Alleluia!

Pada hari Minggu,
ketika pekan telah berakhir,
Yesus bangkit dari antara orang mati.
“Puji Tuhan! Alleluia!”
Bangkitlah sang Putra Tunggal Allah.

Terima kasih, Tuhan atas Terang, 
karena memberi kami terang untuk melihat.
Terima kasih, Tuhan atas Hidup 
karena memberikan Yesus untukku.



Jam Suci (Holy Hour)

Jam Suci (Holy Hour) bertujuan untuk menemani Yesus dalam doa dan sakrat maut-Nya di Taman Getsemani. Pada malam terakhir itu Yesus berkata kepada ketiga rasul-Nya yang terpilih: Petrus, Yohanes dan Yakobus. “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.” (Mat 26:38). Tetapi ketiga rasul itu gagal memenuhi permintaan Yesus. “Mata mereka sudah berat” lalu mereka tertidur. Apa reaksi Yesus? Dia menegur mereka katanya, “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam saja dengan Aku!” (Mat 26:40).

Dalam suatu penampakan kepada Santa Margareta Maria Alacoque pada tanggal 2 Juli 1674, Yesus mengatakan kepadanya, “Setiap Kamis, malam Jumat, Aku akan membuat engkau ikut ambil bagian dalam kesedihan sampai mati seperti yang Ku-rasakan Sendiri di Bukit Zaitun. Kesedihan itu akan memasukkan engkau dengan cara yang tak terpahami bagimu dalam sakrat maut yang lebih berat rasanya daripada maut itu sendiri. Maka, hendaknya engkau bangun malam hari antara jam sebelas dan tengah malam untuk menemani Aku dalam doa yang Ku-panjatkan dengan penuh kerendahan hati kepada Bapa dalam keadaan takut dan ngeri yang hebat. Dalam doa itu engkau akan sujud bersama-Ku sampai ke tanah untuk meredakan murka Ilahi sambil memohon belas kasihan bagi orang-orang berdosa. Juga untuk sekedar mengurangi kekecewaan-Ku ketika ditinggalkan oleh para rasul-Ku, sehingga terpaksa menegur mereka karena tak sanggup berjaga-jaga satu jam saja bersama-Ku. Selama satu jam itu hendaknya engkau melakukan apa yang akan Ku-ajarkan kepadamu.”

Sekarang Jam Suci biasa dilakukan pada malam Jumat Pertama, dimulai jam 23.00 atau jika perlu, lebih awal. Jam Suci bisa dilakukan sebagai devosi pribadi ataupun devosi kelompok. Sedapat mungkin dilakukan di gereja atau di kapel, di depan tabernakel atau di depan pentahtaan Sakramen Mahakudus.

Acara pokok Jam Suci adalah merenungkan sengsara Kristus, baik lahir maupun batin, serta merenungkan segala dosa dan penderitaan dunia yang telah ditebus oleh-Nya. Dalam kelompok, Jam Suci diawali dengan pembacaan Kitab Suci yang sesuai, renungan, saat hening untuk doa batin para peserta, serta biasanya diselingi dengan doa dan nyanyian bersama.

Dalam liturgi, Jam Suci dilakukan pada hari Kamis Putih, sesudah Upacara Mengenangkan Perjamuan Tuhan serta pemindahan Sakramen Mahakudus ke tempat penyimpanan. Umat diberi kesempatan mengadakan tuguran di depan Sakramen Mahakudus hingga tengah malam.



“INRI, Gambar Tengkorak dan Dua Tulang Bersilang.” 

Banyak gambar-gambar kuno penyaliban memang memperlihatkan tengkorak dan dua tulang saling bersilang di kaki salib. Menurut tradisi, Adam dimakamkan di Kalvari. Ketika Tuhan kita wafat, Darah-Nya yang Mahasuci menetes ke atas tengkoraknya. Lagi, dalam Gereja Makam Suci di Yerusalem, orang mendapati Kapel Adam di bawah Kapel Golgota.

INRI maupun tengkorak dan tulang bersilang, disebut-sebut dalam kisah sengsara Tuhan. Pertama-tama, INRI adalah singkatan dari istilah Latin: “Iesus Nazarenus Rex Iudaeorum” yang artinya “Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi.” Ketika menjatuhkan hukuman mati pada Tuhan kita, Pontius Pilatus menyuruh agar prasasti yang ditulis dalam bahasa Ibrani, bahasa Latin dan bahasa Yunani (Yohanes 19:20) ini dipasang di atas kayu salib di atas kepala Tuhan kita. Masing-masing Injil memberikan kesaksian mengenai prasasti ini, meski dengan versi yang agak sedikit berbeda. Dalam Injil St Yohanes: “Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi”; Injil St Matius: “Inilah Yesus Raja orang Yahudi”; Injil St Markus: “Raja orang Yahudi”; dan Injil St Lukas: “Inilah raja orang Yahudi”. Karena Yohanes berdiri bersama Bunda Maria di kaki salib, injilnya adalah yang paling tepat, meski pada intinya semua Injil saling bersesuaian mengenai apa yang ditulis.

Point menarik lainnya muncul dalam karya-karya seni yang menggambarkan kisah penyaliban. Terkadang prasasti ini dieja lengkap (tak sekedar INRI), tetapi dengan ejaan dari belakang ke depan. Para seniman sadar bahwa tulisan Ibrani dibaca dari kanan ke kiri, bukan dari kiri ke kanan seperti tulisan Latin.

Akhirnya, penggunaan ketiga bahasa - Ibrani, Latin dan Yunani - berfungsi ganda. Pertama-tama, ketiganya adalah bahasa yang dipergunakan di Yerusalem pada masa penyaliban. Kedua, Ibrani adalah bahasa umat terpilih dari Perjanjian Lama; Latin dan Yunani adalah bahasa-bahasa kaum kafir dan Kekaisaran Roma. Yesus datang untuk menyelamatkan bukan hanya orang-orang Yahudi melainkan juga orang-orang kafir, sehingga pemakluman itu mengingatkan kita bahwa Kurban adalah untuk segenap umat manusia. Sementara kuasa-kuasa dunia ini menganggap-Nya sebagai seorang raja duniawi, Yesus, yang disalibkan dan bangkit, adalah Raja yang menaklukkan dosa dan maut, dan yang kerajaan-Nya tak akan berakhir.

Selanjutnya, tengkorak dan tulang bersilang bermakna ganda. Pertama-tama, Yesus disalibkan di luar kota lama Yerusalem di Golgota, yang dalam bahasa Ibrani berarti “Tempat Tengkorak”. Keempat Injil semuanya memberikan kesaksian atas fakta ini: Matius 27:33, Markus 16:22, Lukas 23:33, dan Yohanes 19:17. Kata “Golgota” adalah bentuk Aram dari kata Ibrani “gulgoleth”, artinya “tengorak”. Kata Latin “calva”, juga berarti “tengkorak”, adalah akar kata dari “Kalvari”.

Kedua, tradisi kuno mengisahkan bahwa tempat ini adalah juga tempat Adam dimakamkan, karenanya digambarkan dengan tengkorak dan tulang bersilang. Sekarang, di Gereja Makam Suci di Yerusalem, Orthodox Yunani mendirikan sebuah kapel di atas bukit batu Kalvari itu sendiri, dan tempat di mana salib berdiri ditandai dengan cakram perak tepat di bawah altar. Di sebelah kanan altar terdapat retakan di bukit batu. Injil St Matius mencatat bahwa ketika Kristus wafat disalib, “terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah, dan kuburan-kuburan terbuka” (Matius 27:52). Retakan terjadi dari atas sampai ke bawah ke Kapel Adam (dalam Gereja Makam Suci) di mana menurut tradisi Adam disemayamkan dan di mana Darah Mahasuci Yesus menetes di atas tulang-tulang dan tengkoraknya. Di sini, Darah Mahasuci Kristus yang memancar dari Hati Kudus Tuhan kita akan menjadi suatu aliran penebusan, yang menyentuh semua, bahkan Adam sendiri. Kristus, Adam yang baru, yang taat pada kehendak Bapa Surgawi hingga mati, menaklukkan dosa yang dilakukan ketika Adam yang pertama tidak taat pada Allah. Pintu-pintu surga yang ditutup akibat dosa Adam, sekarang dibuka oleh kurban Tuhan kita.

Kedua simbol ini yang ditempatkan pada salib membantu kita ingat bahwa kurban Tuhan kita di salib merupakan tindak kasih teragung Allah yang dinyatakan kepada kita. Sebab itu, setiap kali kita memandang Tuhan kita yang tersalib, sepatutnyalah kita digerakkan oleh kasih mengatakan sebagaimana dikatakan St Fransiskus dari Assisi, “Kami menyembah Engkau, ya Kristus, dan memuji-Mu, sebab dengan Salib Suci-Mu Engkau telah menebus dunia.”

0 komentar:

Poskan Komentar