Ads 468x60px

Kunjungan Pastoral Bapa Suci Yohanes Paulus II ke Vercelli dan Turin, Italia (23-24 Mei 1998)


Puncak dari Kunjungan Pastoral Bapa Suci adalah kunjungan ke Kain Kafan Kudus yang disimpan di Katedral Turin. Di sana Paus berlutut dalam doa di hadapan Sakramen Mahakudus dan di hadapan Kain Kafan Kudus. Dalam Liturgi Sabda, sesudah pembacaan Injil (Yohanes 20:3-8), Bapa Suci menyampaikan amanat berikut:


Saudara dan Saudari terkasih,

1. Dengan mata tertuju pada Kain Kafan, saya meyampaikan salam hangat kepada kalian semua, umat beriman Gereja Turin. Saya menyapa para peziarah yang telah datang dari segenap penjuru dunia pada saat pameran umum ini untuk melihat salah satu dari tanda-tanda paling mengguncang hati dari kasih sengsara Penebus.

Sementara saya memasuki katedral, yang masih memperlihatkan bekas-bekas kebakaran dahsyat tahun lalu, saya berhenti sejenak dalam adorasi di hadapan Ekaristi, sakramen yang adalah fokus perhatian Gereja dan, dalam rupa yang bersahaja, mengandung kehadiran Kristus yang sungguh, nyata, dan substansial. Dalam terang kehadiran Kristus di tengah kita, saya kemudian berhenti di depan Kain Kafan, Linen berharga yang dapat membantu kita untuk memahami dengan lebih baik misteri kasih Putra Allah bagi kita. Di hadapan Kain Kafan, gambaran dahsyat kesengsaraan dari suatu penderitaan yang tak terkatakan, saya hendak mengucap syukur kepada Tuhan atas anugerah unik ini, yang meminta perhatian penuh kasih dan kesediaan total mereka yang percaya untuk mengikuti Tuhan.

2. Kain Kafan merupakan suatu tantangan bagi inteligensi kita. Pertama-tama, Kain Kafan meminta dari setiap orang, teristimewa para peneliti, agar ia dengan kerendahan hati menangkap pesan mendalam yang disampaikan Kain Kafan kepada akal budinya dan hidupnya. Daya tarik misterius dari Kain Kafan mendorong diajukannya pertanyaan-pertanyaan mengenai Linen kudus dan sejarah kehidupan Yesus. Karena Kain Kafan bukanlah masalah iman, Gereja tidak secara spesifik memiliki wewenang untuk memaklumkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini. Gereja mempercayakan kepada para ilmuwan tugas untuk terus menyelidiki, agar didapatkan jawaban-jawaban yang memuaskan atas pertanyaan-pertanyaan sehubungan dengan Kain ini, yang, menurut tradisi, membungkus tubuh Penebus kita setelah Ia diturunkan dari salib. Gereja mendesak agar Kain Kafan dipelajari dan diteliti tanpa prasangka-prasangka yang sudah terlebih dahulu memastikan hasil-hasil yang sebenarnya tidak demikian; Gereja mengundang mereka untuk bertindak sesuai kebebasan batin dan rasa hormat baik pada metodologi ilmiah maupun perasaan umat beriman.

3. Bagi mereka yang percaya, yang terpenting di atas segalanya adalah bahwa Kain Kafan adalah cermin Injil. Sesungguhnya, jika kita merenungkan Linen kudus, kita tak dapat menghindari pemikiran bahwa gambar yang disajikannya memiliki pertalian yang begitu erat dengan apa yang dikisahkan Injil mengenai sengsara dan wafat Yesus, hingga setiap orang yang peka merasa tersentuh batinnya dan tergerak hatinya jika memandangnya. Siapa pun yang menghampiri Kain Kafan juga sadar bahwa Kain Kafan tidak memikat hati orang pada dirinya, melainkan menghantar mereka kepada Dia, kepada siapa kasih penyelenggaraan Bapa telah dipercayakan. Sebab itu, adalah tepat untuk mengembangkan suatu kesadaran akan betapa bernilainya gambar ini, yang semua orang melihatnya namun tiada seorang pun sekarang ini yang dapat menjelaskannya. Bagi setiap orang yang bijaksana, Kain Kafan merupakan sumber permenungan yang mendalam, yang bahkan dapat mempengaruhi hidup orang. Dengan demikian, Kain Kafan adalah suatu tanda yang sungguh unik yang menunjuk kepada Yesus, Sabda Bapa yang sejati, dan mengundang kita untuk hidup seturut teladan hidup Dia yang telah memberikan DiriNya Sendiri bagi kita.

4. Gambaran akan penderitaan manusia tercermin pada Kain Kafan. Kain Kafan mengingatkan manusia modern, yang kerap kali terpikat oleh kemakmuran dan kemajuan-kemajuan teknologi, akan situasi tragis dari banyak saudara dan saudarinya, serta mengundangnya untuk bertanya pada diri sendri mengenai misteri penderitaan guna mengenali penyebab-penyebabnya. Gambar yang ditinggalkan oleh tubuh teraniaya dari Dia yang Tersalib, yang menegaskan kemampuan dahsyat manusia dalam mengakibatkan penderitaan dan kematian sesamanya, berdiri sebagai suatu ikon penderitaan dari mereka yang tak berdosa pada setiap abad: dari tragedi-tragedi yang tak terhitung banyaknya yang telah menandai sejarah di masa lampau dan drama-drama yang terus berlangsung di dunia. Di hadapan Kain Kafan, bagaimanakah mungkin kita tidak berpikir akan berjuta-juta orang yang mati kelaparan, akan kengerian yang dilakukan dalam banyak peperangan yang membanjiri bangsa-bangsa dengan darah, akan eksploitasi brutal terhadap perempuan dan anak-anak, akan jutaan manusia yang hidup dalam himpitan hidup dan kehinaan di pinggiran-pinggiran kota besar, teristimewa di negara-negara sedang berkembang? Bagaimanakah mungkin kita tidak cemas dan berbelaskasihan terhadap mereka yang tidak menikmati hak-hak sipil yang mendasar, kurban-kurban aniaya dan terorisme, budak-budak dari organisasi-organisasi kriminal? Dengan situasi-situasi tragis ini di benak kita, Kain Kafan tidak hanya mendorong kita untuk meninggalkan keegoisan diri, melainkan juga menghantar kita untuk menemukan misteri penderitaan, yang, dikuduskan oleh kurban Kristus, mendatangkan keselamatan bagi segenap umat manusia. Kematian bukanlah tujuan utama dari keberadaan manusia.

5. Kain Kafan adalah juga gambaran akan kasih Allah sekaligus dosa manusia. Kain Kafan mengundang kita untuk menemukan kembali alasan utama dari wafat Yesus yang menyelamatkan. Dalam sengsara tiada tara sebagaimana direkamnya, kasih Dia yang “begitu mengasihi dunia sehingga telah mengaruniakan PutraNya yang tunggal” (bdk Yohanes 3:16) dijadikan nyaris nyata dan menyingkapkan dimensi-dimensinya yang menakjubkan. Di hadapan Kain kafan mereka yang percaya hanya dapat berseru dalam segala kebenarannya, “Tuhan, engkau tidak dapat terlebih lagi mengasihiku!”, dan segera menyadari bahwa dosa bertanggung jawab atas penderitaan itu: dosa-dosa segenap umat manusia.

Sementara berbicara kepada kita mengenai kasih dan dosa, Kain Kafan mengundang kita semua untuk mengukirkan pada roh kita wajah kasih Allah, untuk mengenyahkan realita dosa yang mengerikan darinya. Kontemplasi atas Tubuh yang penuh sengsara itu membantu manusia masa kini untuk membebaskan diri dari kedangkalan keegoisan dengan mana manusia kerap memperlakukan kasih dan dosa. Dengan menggemakan Sabda Allah dan abad-abad kesadaran Kristiani, Kain Kafan berbisik: percayalah pada kasih Allah, harta pusaka terbesar yang dianugerahkan kepada umat manusia, dan jauhilah dosa, kemalangan terbesar dalam sejarah. 

6. Kain Kafan adalah juga gambaran akan ketakberdayaan: ketakberdayaan akan kematian, di mana konsekuensi utama dari misteri Inkarnasi dinyatakan. Kain pemakaman mendorong kita untuk mengukur diri kita menghadapi aspek paling menyedihkan dari misteri Inkarnasi, yang juga menunjukkan kebenaran begitu rupa dengan mana Tuhan sungguh menjadi manusia, mengenakan keadaan kita dalam segala hal, terkecuali dosa. Setiap orang terguncang oleh pemikiran bahwa bahkan Putra Allah tidak menghindarkan Diri dari kuasa kematian, melainkan kita semua tergerak oleh pemikiran bahwa Ia ambil bagian begitu rupa dalam kondisi manusiawi kita hingga rela menyerahkan DiriNya dalam ketakberdayaan total kematian. Inilah pengalaman Sabtu Suci, suatu tahap penting dalam perjalanan Yesus menuju Kemuliaan, dari mana seberkas cahaya bersinar atas duka dan kematian setiap orang. Dengan mengingatkan kita akan kemenangan Kristus, iman memberikan kepastian kepada kita bahwa makam bukanlah tujuan utama dari keberadaan manusia. Tuhan memanggil kita pada kebangkitan dan kehidupan kekal.

7. Kain Kafan adalah gambaran keheningan. Ada suatu keheningan tak terkatakan yang tragis, yang menemukan ekspresi terbaiknya dalam kematian, dan ada keheningan yang menghasilkan buah, yang menjadi milik siapapun yang menahan diri dari didengar secara lahiriah demi memahami akar-akar kebenaran dan hidup. Kain Kafan mengungkapkan tidak hanya keheningan kematian melainkan juga keberanian dan kemenangan keheningan atas kefanaan, melalui peleburan total dalam kehadiran Tuhan yang abadi. Dengan demikian menawarkan suatu peneguhan yang menggerakkan hati akan kenyataan bahwa kemahakuasaan kerahiman Tuhan kita tak terhalang oleh kuasa jahat apapun, melainkan sebaliknya tahu bagaimana menjadikan kuasa kejahatan yang paling ngeri sekalipun untuk menghasilkan yang baik. Abad kita membutuhkan penemuan kembali manfaat keheningan, guna mengatasi hiruk-pikuk suara-suara, gambar-gambar dan percakapan-percakapan yang terlalu seringkali menghalangi suara Tuhan terdengar.

8. Saudara dan saudari terkasih: Uskup Agung kalian, Kardinal Giovanni Saldarini yang terkasih, Pelindung Kepausan untuk Kafan Kudus, telah menawarkan kata-kata berikut sebagai motto dari Pameran Khidmad ini: “Semua akan melihat keselamatan kalian”. Ya, para peziarah yang berbondong-bondong datang ke kota ini sesungguhnya “datang untuk melihat” tanda Sengsara yang tragis namun mencerahkan ini, yang memaklumkan kasih Penebus. Ikon Kristus yang ditinggalkan dalam keadaan kematian yang dramatis dan khidmad, yang selama berabad-abad telah menjadi subyek dari gambar-gambar yang menakjubkan dan selama seratus tahun, terima kasih kepada fotografi, telah begitu banyak kali direproduksi, mendorong kita untuk masuk ke dalam inti misteri hidup dan mati, guna menemukan pesan agung nan menghibur yang ditinggalkannya bagi kita.

Kain Kafan memperlihatkan kepada kita Yesus pada saat ketakberdayaan-Nya yang terdahsyat dan mengingatkan kita bahwa dalam kehinaan kematian itu terletak keselamatan seluruh dunia. Dengan demikian, Kain Kafan menjadi suatu undangan untuk menghadapi setiap pengalaman, termasuk pengalaman penderitaan dan ketakberdayaan hebat, dengan sikap mereka yang percaya bahwa kasih kerahiman Allah mengatasi segala kemiskinan, segala batasan, segala godaan untuk berputusasa.

Kiranya Roh Allah, yang tinggal dalam hati kita, membangkitkan dalam diri setiap orang kerinduan dan kemurahan hati yang diperlukan untuk menerima pesan Kain Kafan dan untuk menjadikannya inspirasi pasti bagi hidup kita.

Anima Chrisi, sanctifica me! Corpus Christi, salva me! Passio Christi, conforta me! Intra vulnera tua, absconde me!

0 komentar:

Poskan Komentar