Ads 468x60px

In Te Confido

Inilah judul film karya KOMSOS KAS, yang beberapa hari lalu kami putar di aula Gereja Cililitan bersama crew dan beberapa hikers. Adapun judul film ini merupakan semboyan dari kardinal pertama di Indonesia, Justinus Darmojuwono yg kerap dipanggil Imin/Djamin. Menurut alm. Rm Sumaryo, ketika menjadi Ekonom KAS, dia belajar banyaksoal kejujuran dalam pengurusan/pengelolaan harta benda dari sosok kardinal. Ketika kardinal meninggal, dan ia diminta membongkar kamar almarhum, ia terkesan dengan ketertiban dan pengelolaan uang yg dilakukan Kardinal. Tercandra, semua pemasukan dan pengeluaran uang kas dicatat setiap hari, misalnya biaya cukur, biaya bayar jalan tol, biaya membeli obat nyamuk, penerimaan stipendium, dana pensiun sebagai Uskup dll.

Bahwa hal itu dikerjakan setiap hari tampak terlihat dlm tulisan tangan. Atau juga, ketika Kardinal hendak berpindah ke Banyumanik dan Keuskupan Agung Semarang berniat memberikannya mobil, dia malahan dengan lembut menolaknya: “Kalau saya mau ke Semarang, bisa jalan kaki lalu naik angkutan umum.”


Masih banyak lagi hal baik, yang bisa dipetik, tapi dalam HIK (Hoidangan Istimewa Kristiani) kali ini saya hanya akan mengangkat 4 pernyataan beliau yang juga tercatat dalam buku saya, "XXI-Interupsi" (Kanisius)

Secara kronologis, beberapa titik peristiwa hidupnya, antara lain:
2 Nov 1914: lahir di Godean, Yogya.
25 Mei 1947: Ditahbiskan sebagai Imam KAS.
10 Dec 1963: Ditetapkan sebagai Uskup Agung Semarang.
6 Apr 1964: Ditahbiskan sebagai Uskup Agung Semarang
8 Jul 1964: Ditetapkan sebagai Uskup Militer diIndonesia.
26 Jun 1967: Diangkat menjadi Kardinal.
26 Jun 1967: Ditetapkan sebagai Kardinal-Imam dari SS. Nome di Gesu e Maria in Via Lata.
3 Jul 1981: Pensiun sebagai Uskup Agung Semarang.
1982: Pensiun sebagai Uskup Militer.
3 Feb 1994: Wafat.

Adapun Kardinal dimakamkan di Kerkof Muntilan bersama makam Rm Van Lith, Rm Sanjaya dkk.

Pernyataan beliau yg pertama:
“Sesungguhnya, baptis itu tidak menjamin seseorang untuk naik surga. Tatkala saya masih belajar di Seminari, dilaksanakan Natalan yg bagus sekali. Kalau ibu saya (waktu itu belum dibaptis), menyaksikan peristiwa itu, tentu saja, tidak akan bisa merasakan menghayatinya.
Karena ya dunianya lain. Tapi, kalau ada surga, tentu, ayah ibu saya naik surga. Tidak hanya saya yg mengatakan bahwa ayah ibu itu orang baik. Para tetangga dulu, menyanjung ayah-ibu saya memang orang baik.
Hampir semua tetangga saya beranggapan demikian. Jadi, bagi saya, Kerajaan Allah bukan hanya ikut Gereja. Kerajaan Allah adalah untuk siapa saja yg melakukan kehendak Allah. Kalau orang itu baik berbudi luhur, tentu, akan masuk Kerajaan Allah.Yang dilihat Tuhan itu bukan yg sorbanan, bukan pula yg jubahan, tapi hati yg berkenan. Kerajaan Allah lebih luas dari agama Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha, dll. Karena Tuhan tidak bisa diukur dengan semua itu.
Apakah semua orang yang ke gereja masuk surga? "Kok, enak. Kok koyo ono karcis neng suwargo!" (Kok, enak. Kok, seperti ada tiket masuk surga!). Artinya, ya, semua itu, yg penting hati. Jika orang sungguh berbudi luhur, berbuat baik, sudah melaksanakan kehendakTuhan, itu berarti sudah “dipermandikan” secara batin. Ia juga berhak masuk surga. 

Sebaliknya yang secara formal beragama dibaptis segala macam, pakai atribut ini itu segala macam. Namun, prakteknya sehari-hari malahan menjadi batu sandungan. Lha, yang demikian, apa ya, berhak masuk surga?” Adapun pernyataan pertama ini tak lepas dari konteks waktu ia menjadi Kardinal yakni adanya fakta bahwa peristiwa G30S baru terlewati dan adanya ketentuan pemerintah RI bahwa semua orang harus memeluk salah satu dari lima agama yang diakui dan gencarnya pembangunan waktu itu.

Pernyataan kedua:
“Sering saya katakan dalam berbagai kesempatan, jangan sampai ada kejadian seperti zaman dulu, sewaktu sebuah gereja dibangun oleh para imam sendiri, bahkan oleh para imam asing.
Jangan sampai ada “gereja tiban”: tanpa berbuat apa-apa jadi gereja besar. Akibatnya, nanti kalau ada atapnya yg bocor, kalian tidak bisa naik membetulkannya.Buatlah gereja dari usahamu sendiri. Gereja berbentuk rumah biasa, itu juga baik. Supaya nanti kalau rusak, kalian bisa memperbaiki sendiri. Ini lebih bermanfaat karna keluar dari keringat sendiri, bukan?”

Pernyataan ketiga:
“Masalah kawin campur bisa terjadi asal dengan cara yg baik. Artinya, kelak bisa menjadi keluarga yg baik.Jangan sampai nanti cerai dsb. Toh, dalam kehidupan, masyarakat itu campur. Jadi, kawin campur itu sangat mungkin terjadi. Sangat bisa terjadi, org Katolik kawin dengan org Islam/Kristen, tapi hanya satu untuk selamanya. Tidak boleh berpoligami. Tidak boleh ada istri kedua, ketiga, apalagi cerai. Bagaimanapun, perceraian itu tidak akan membahagiakan. Ini sungguh sangat perlu dipertimbangkan dan diteliti, supaya nantinya tdk terjadi perceraian. Saya bisa memberi dispensasi kawin campur sehingga kawin campur bisa dilaksanakan di Gereja.
Tidak ada kewajiban membaca syahadat Katolik, apalagi masuk agama Katolik, bagi calon istri/suami yg bukan Katolik. Kalau dia mau masuk Katolik, ya hrs belajar dulu, setahun dua tahun, itu baru bisa. Kalau hanya datang, terus masuk, itu tidak ada artinya. Agama harus sungguh dihayati."

Pernyataan keempat:
“Saya pernah mensinyalir adanya 2 golongan minutes yg berbeda mencolok dari latar belakang sosial ekonominya tapi bisa sama-sama melupakan Tuhan.
Yang pertama: orang yang kaya, mereka sibuk memikirkan harta sehingga kerap melupakan Tuhannya dan lupa kepada sesamanya.
Yang kedua: orang yg miskin, mereka sibuk memikirkan perut sehingga lupa berdoa, lupa kepada Tuhan dan sesamanya.”

Setelah 16 tahun menjadi Uskup, Darmojuwono minta mengundurkan diri kepada Tahta Suci Vatikan pada Januari 1980. Alasannya, keadaan kesehatan. Permintaan itu baru dikabulkan Paus setahun kemudian. "Saya tidak ingin tergolek begitu saja, seperti dalam museum. Saya tidak bisa menganggur." Begitu pengakuannya. Oleh karena itu, lepas dari jabatan sebagai uskup agung, rohaniwan sederhana ini tetap menyibukkan diri. Ia bangun pagi-pagi, membaca surat kabar Kompas, Suara Merdeka, dan majalah Time.
"Kalau tidak ada kerja, saya merenung, bersamadi, kadang berkorespondensi, atau mengunjungi umat dengan berjalan kaki, hitung-hitung sambil berolah raga.”
Sesekali, ia juga memberi konferensi bagi para suster-suster Fransiskanes(OSF), yg sudah berusia senja.

Jelasnya, bangun pagi adalah kebiasaan rutinnya, karena pukul 05.00 dia harus mempersiapkan misa untuk umat. Setelah selesai, lalu dia membaca koran dan buku-buku, sampai makan siang. Setelah makan siang, dia beristirahat sebentar.Pukul 14.30 dia sudah siap menerima tamu lagi dan menyelesaikan pekerjaan yg belum rampung. Pada malam hari, biasanya dia habiskan dengan membaca buku sampai pukul 21.00, lalu menonton siaran “Dunia dalam Berita” TVRI. Kemudian istirahat.

Memang, tatkala memasuki masa pensiun dan berpindah ke Banyumanik, dia tidak membawa apa-apa. Semuanya masih ditinggal di keuskupan. Bahkan pakaian kardinal juga masih tersimpan di sana. Selama tinggal di Banyumanik, dia sering menjadi langganan orang-orang yang minta sumbangan dan bantuan: "Eee, memang ada yg menipu. Tapi kan tidak semua orang yg datang itu menipu? Andaikata ada yg menipu, toh tidak banyak juga. Kan lebih baik ditipu, daripada menipu?”

Saat memasuki masa pensiun, waktunya lebih banyak terpakai untuk membaca buku. Ia membeli buku sendiri dari toko. Setiap ada buku baru yg bagus, dia pasti membelinya.
Ruang pribadinya merupakan ruang kerja sekaligus perpustakaan.

“Djamin alias Imin alias Darmoyuwono” adalah seorang imam diosesan dari Keuskupan Agung Semarang.  Dialah kardinal pertama di Indonesia, yang diangkat pada tanggal 29 Juni 1967.
Ia sendiri lahir di Klewonan, Godean, Yogyakarta, pada tgl 2 November 1914, kira-kira 13 kilometer sebelah barat Kota Yogyakarta, tak jauh dari desa kelahiran Pak Harto, mantan Presiden RI.

Darmojuwono, Uskup Agung Semarang, yang adalah alumnus Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang, dan Universitas Gregoriana, Roma, Italia ini, pernah mengatakan, “Seumur-umur, saya tidak pernah memimpikan menjadi uskup agung apalagi kardinal. Sejak pertama saya masuk seminari, cita-cita saya hanya mau menjadi pastor biasa. Sinting apa, berpikir untuk menjadi uskup, uskup agung, atau kardinal.”
Dia menjadi imam selama 46 tahun 7 bulan, menjadi uskup selama 29 tahun 8 bulan, dan menjadi kardinal selama 26 tahun 6 bulan.

Apa cita-citanya?
Darmojuwono, yang pernah menjadi pastor tentara pada 1950-an, sejak kecil bercita-cita menjadi guru. Oleh karena itu, setelah lulus dari sekolah dasar Ongko Loro pada 1931, kemudian dia masuk di asrama sekolah guru Normallschool, Muntilan, Jawa Tengah.
Tapi, setelah lulus dari sekolah guru dan melihat teladan para pastor Belanda, ia malahan masuk asrama seminari.

Satu hal yang diinginkannya hanyalah menjadi pastor biasa. Baginya, menjadi pastor biasa bisa lebih akrab dengan rakyat kecil. Inilah juga yang mendorongnya menetap di kompleks Perumnas, setelah pensiun sebagai Uskup Agung Semarang: "Ingin hidup di tengah pergolakan hidup,’’katanya.

Memang benar, sejak Desember 1981, ia tinggal di sebuah rumah di Banyumanik, bagian selatan Kota Semarang. Di situlah sebagai pastor biasa, ia memimpin sebuah paroki kecil, Gereja St. Maria Fatima, dengan umat empat ribu orang.


Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux!@RmJostKokoh.

0 komentar:

Poskan Komentar