Ads 468x60px

Oscar Romero

In hoc signo - Dalam tanda Salib.
24 Maret Hari Misionaris Martir.

Dalam Misa hari Minggu Prapaskah 22 Maret, Don Enea Cassinari memberikan homili yang amat menyentuh hati. Mengomentari Injil hari ini, Don Enea mengajak umat untuk menyandarkan hidup hanya kepada Tuhan Yesus di dalam GerejaNya yang nyata. Karena hanya Tuhan Yesus, sang Sahabat Sejati, yang direndahkan akibat dosa manusia namun ditinggikan di Salib, yang menyerahkan hidupNya demi menebus dosa-dosa kita. Yang menjadi contoh dari Kasih yang Sempurna, bahkan bagi para musuh. Kepada siapa kita bertanya akan Misteri Kemartiran dari mereka yang menjadi pengikut-pengikutNya, sejak IA sendiri disalibkan, sampai pada hari ini, di mana di dunia ini semua orang yang menyebut nama "Yesus" dianiaya dan dibunuh. Mengapa? Mengapa Yesus terus meminta pengorbanan para pengikutNya? Mengapa Yesus terus memanggil para pengikutNya untuk menjadi Kasih yang Sempurna sampai pada akhir hayat? 

Oleh sebab itu, pada hari Selasa 24 Maret, seluruh Gereja di Italia akan memperingati edisi ke-23 dari Hari Misionaris Martir. Pada hari itu umat beriman diajak untuk berdoa dan berpuasa untuk memperingati para Misionaris yang menjadi Martir.

Inisiatif Hari Misionaris Martir ini lahir pada tahun 1993 oleh Gerakan Misionaris Kaum Muda dari Karya Kepausan Misionaris Italia, yang memilih tanggal 24 Maret, tanggal pembunuhan Mgr. Oscar Arnulfo Romero, Uskup Agung San Salvador (24 Maret 1980), yang pada tanggal 23 Mei tahun ini akan di-beatifikasi.


OSCAR ROMERO 

Prolog
Astari, seorang anak muda Jakarta yang sekarang menjadi staf khusus kepresidenan era SBY adalah seorang gadis sulung yang tumbuh dari latar belakang keluarga Katolik. Bagi saya, “Astari” bisa berarti Asal Cintanya Lestari. Setiap orang beriman yang telah dibaptis juga termasuk uskup dan imam adalah juga manusia. Meskipun kita dipanggil dan dipilih Allah untuk mengabdi Allah dan manusia, tidak berarti kita selalu lestari cintanya, bukan? Seperti kata Santo Paulus kepada jemaat di Korintus, kita kerap tetap seperti bejana tanah liat yang mudah rapuh dan mudah pecah karena kelemahan-kelemahan kita sebagai manusia. Di sinilah kita akan belajar bagaimana menjaga lestarinya cinta kita dengan belajar dari seorang Oscar
Romero, uskup diosesan dan sekaligus seorang martir modern.

Sebuah Sketsa Profil
Oscar Arnulfo Romero y Galdamez - begitulah nama lengkapnya, dilahirkan di Ciudad Barrios pada 15 Agustus 1917. Orang tuanya bernama Santos Romero dan Guadalupe de Jesus Galdamez. Ketika kanak-kanak, Oscar Romero dikenal sebagai seorang anak yang serius, rajin, dan saleh. Setelah cukup berumur, Oscar Romero masuk sekolah umum setempat beberapa waktu lamanya. Setelah itu, Romero belajar pada seorang guru yang bernama
Anita Iglesias sampai berumur dua belas tahun. Kemudian ayah Romero
menyuruhnya untuk magang pada seorang tukang kayu. Di tempat inilah, Oscar Romero belajar membuat meja, kursi, pintu, dan juga pelbagai peti kayu.

Setelah berusia tiga belas tahun, pada tahun 1930, ia mempunyai
keinginan untuk masuk ke seminari. Oscar Romero segera meninggalkan Ciudad Barrios untuk masuk ke seminari di San Miguel. Ia ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1942. Setahun kemudian Oscar Romero belajar teologi di Roma. Pada tahun 1970, ia diangkat sebagai pembantu uskup agung San Salvador dan pada tahun 1977, Oscar Romero diangkat menjadi uskup agung di San Salvador.

Sebagai Uskup Agung, ia hidup dalam konteks situasi kemiskinan dan
ketidakadilan yang dialami rakyat El Salvador, serta tindakan represif rezim militer yang dikomandani oleh Jenderal Maximiliano Hernandez Martinez.

Kemiskinan dan ketidakadilan yang dialami rakyat negara yang paling padat
penduduknya di Amerika Latin itu disebabkan oleh monopoli kepemilikan lahan oleh segelintir konglomerat kopi. Sementara mayoritas penduduk hanya menjadi buruh perkebunan kopi. Kemiskinan dan ketidakadilan diperparah lagi oleh tindakan rezim otoriter dan militeristik. Situasi itu berlangsung pada dekade 1960-an sampai 1980-an. Situasi semakin parah ketika terjadi perang saudara selama 12 tahun sejak akhir tahun 1980-an.

Ketidakadilan, kemiskinan rakyat dan politik kekerasan di El Salvador
ini dilawan oleh para imam, biarawan, dan biarawati. Perlawanan mulai dari lingkup grass root (akar rumput) sampai lingkup akademis. Para imam dan biarawan-biarawati membentuk komunitas-komunitas basis dan memberi pencerahan kepada rakyat agar melawan rezim penyebab ketidakadilan. Para
imam yang mengajar di Universitas Amerika Tengah menggagas teologi
pembebasan yang berorientasi keberpihakkan kepada rakyat yang tertindas.

Dimotori Ignacio Ellacuria dan Jon Sobrino, teologi politik yang memihak kaum miskin bergema dan menghantam rezim militer dan para konglomerat kopi. Cuiusvis hominis est errare - setiap orang bisa berbuat salah (kutipan dari karya Cicero, Philippica XII,5). Pada awalnya, Romero mengambil sikap yang salah. Ia berseberangan dengan gerakan perlawanan itu. Di sinilah, Romero hanya berkutat di altar dan mimbar. Ia melayani umat dengan pelayanan sakramental dan ibadat-ibadat seputar altar. Ia mencambuki dirinya sebagai silih atas dosa-dosa yang dilakukannya. Ia mengembangkan pelayanan karitatif seperti Santa Claus: Ia meminta uang dari orang kaya dan diberikan kepada orang-orang miskin. Ia tidak masuk dalam realitas kemiskinan dan penderitaan mayoritas rakyat El Salvador. Sebaliknya, ia bersahabat karib
dengan para juragan dan konglomerat kopi. Ia bahkan mengkritik para
imam yang terlibat dalam gerakan perlawanan sebagai Neo-Marxis. Teologi pembebasan yang dikembangkan Ellacuria dan Sobrino dituduhnya sebagai Kristologi baru yang berdimensi Marxis. Tetapi sikap itu berubah total, setelah beberapa waktu Romero diangkat sebagai Uskup Agung San Salvador. Ia berubah 180 derajat. Ia mendukung gerakan-gerakan perlawanan yang sudah dibangun para imam sebelumnya.

Ia menantang dan menentang rezim yang berkuasa secara terang-terangan.
Melalui khotbah-khotbahnya yang disiarkan secara langsung saat memimpin Misa di Gereja Katedral San Salvador, ia mengangkat bendera perlawanan. Tafsiran-tafsiran Kitab Suci bercorak teologi pembebasan dikumandangkan dengan tegas dan konsisten dalam setiap khotbahnya: tremens et fascinats, menggetarkan tapi sekaligus membahagiakan.

Romero tampil sebagai uskup yang gigih membela kaum miskin,
berhadapan dengan para penindas di negerinya, yang juga orang kristiani seperti dia. “Seorang gembala tak boleh mencari keamanan di saat umatnya diancam ketakutan,” kata Romero di saat ia diteror habis-habisan. Akhirnya, perlawanan dan pembelaannya terhadap kaum miskin-tertindas berbuah
darah. Ia mati ditembak pasukan bersenjata ketika sedang memimpin misa
di kapel susteran pada tanggal 24 Maret 1980. Melalui Uskup Romero, menjadi nyata bahwa Injil Yesus Kristus mampu mengubah hati manusia untuk rela menempuh jalan hidup sama dengan Yesus beserta opsinya untuk mewujudkan Kerajaan Allah dengan melayani orang yang miskin dan
tertindas. Kesaksian hidup Uskup Romero sedemikian mengesankan sampai
Ellacuria, seorang Jesuit dan pemikir teologi pembebasan mengatakan bahwa dengan Mgr. Oscar Romero, Allah lewat sekali lagi di tengah umat-Nya.


Refleksi Teologis

a. SALIB: Saat Aku Lemah Ingatlah Bapa
Kenapa Oscar Romero berubah total? Apa yang menyebabkan ia berubah
begitu drastis dari sikap diam dan hati-hati terhadap rezim yang berkuasa dan para konglomerat kopi, menjadi perlawanan terbuka? Pengalaman salib, itulah jawabannya. Yah, kematian seorang rekan imam, yakni Rutilio Grande, membuat mata Romero terbuka. Grande yang selama hidupnya
mengabdikan diri untuk membangun kesadaran dan perlawanan rakyat
yang tersalib, terhadap segala bentuk ketidakadilan, dibunuh oleh rezim militer yang berkuasa. Di hadapan jenazah Rutilio Grande, Uskup Romero berikrar dengan keyakinan mendalam, “Mereka membunuh dia karena apa yang dilakukannya, maka saya harus berjalan pada jalan yang sama. Rutilio telah membuka mata saya.” Ikrar itulah yang menjadi api pembakar semangat perlawanan Romero terhadap rezim yang berkuasa. “Saya bersyukur bahwa Gereja kita dikejar-kejar karena memihak kaum miskin dan karena berusaha menginkarnasikan diri bersama kaum miskin. Betapa sedih kita jika di negeri di mana pembunuhan kejam terjadi, tiada imam yang menjadi korban. Imam yang terbunuh adalah saksi bahwa Gereja sungguh menginkarnasikan diri
dalam problem umatnya,” katanya lebih lanjut.

Apakah solidaritas dengan “rakyat tersalib”, akan membuat Gereja
kehilangan identitasnya? Sebaliknya, solidaritas dengan mereka akan membimbing Gereja untuk memahami identitasnya secara lebih baik, yaitu sebagai tanda Kerajaan Allah dalam sejarah. Identitas itu kita temukan ketika kita memilih berpihak pada Allah yang mencintai setiap orang dan berpihak kepada korban. Gutierrez, seorang teolog pembebasan lain, juga pernah menegaskan bahwa cinta akan Allah dan komitmen pada mereka yang tersalib merupakan elemen sentral dalam pengalaman mereka yang percaya pada Allah kehidupan. Cinta akan Allah dan komitmen pada mereka yang tersalib itu kita hidupi dalam solidaritas dengan mereka yang kecil lemah
miskin dan tersingkir. Ia mengkritik hidup keagamaan yang tidak berkontak
dengan realitas dan ketidakpedulian pada orang miskin. Solidaritas kita dengan rakyat tersalib memberikan dasar kuat untuk berbicara tentang Allah. Allah yang juga melewati sebuah jalan salib untuk mengalami kebangkitan paskah. Lewat pengalaman Romero inilah, kita semakin mengerti makna salib, yakni “saat aku lemah ingatlah bapa.”

b. Mati, Mohon Allah Tambahkan Iman
Tentang Romero, Ignacio Ellacuria menulis: “Tudung yang menyelubung kebenaran terhadapnya tersobek dan kebenaran baru mulai menguasai seluruh hidupnya. Penyebabnya bukan keinginan sadar untuk berubah, tetapi lebih merupakan suatu transformasi yang menimpanya. Ia sadar akan apa yang sebelumnya tidak dilihatnya, biar pun ada kehendak baik dan tekad kuatnya, terlepas dari waktu yang dihabiskannya untuk berdoa, terlepas dari imannya
yang benar, terlepas dari kesetiaannya terhadap ajaran Gereja dan Vatikan.
Terang telah menguasainya dan membentuknya kembali. Bukan bahwa ia berubah berdasarkan dorongan batinnya sendiri atau mencari kejelasan dengan dayanya sendiri, sebaliknya ia melihat sesuatu, melihat sesuatu yang secara objektif baru dan hal itu mengubahnya.”

Romero tampil sebagai orang yang berani mati. “Mati” di sini bisa juga berarti Mohon Allah Tambahkan Iman. Saya meyakini bahwa faktor yang paling mendukung Romero berani bersikap radikal adalah karena imannya. Iman yang dimohonkannya dari Allah sendiri. Baiklah kalau kita juga melihat kembali pelbagai intisari surat-surat gembalanya yang berupaya juga
menambahkan iman bagi semua umatnya.

Dalam Surat Gembalanya yang pertama, Oscar Romero melontarkan
gagasannya tentang iman Gereja Paskah. Gereja hidup bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi Gereja berusaha untuk melayani Tuhan dengan menyelamatkan dunia. Gagasan tentang Gereja dipertajam lagi dengan munculnya Surat Gembala yang kedua (Agustus 1977). Baginya, Gereja adalah Tubuh Kristus di dalam Sejarah. Gereja adalah Kristus yang memenuhi 231 x x i i n t e r u p s I misinya untuk menyelamatkan dunia melalui anggota-anggotanya. Implikasinya, Gereja harus bertindak sesuai dengan apa yang diimaninya, yang dilakukan Kristus sendiri, yaitu untuk mewartakan Kerajaan Allah kepada manusia dan secara khusus kepada orang miskin. Oleh karena itu, Gereja mesti menentang segala bentuk dosa, seperti ketidakadilan dan kekejaman yang terjadi dalam masyarakat. Gereja wajib mewartakan Kerajaan Allah kepada semua orang miskin. Tetapi mewartakan kerajaan Allah bagi orang miskin di El Salvador berarti mendukung usaha mereka untuk membebaskan diri dari struktur ketidakadilan. Pembebasan dari kemiskinan, penindasan, keterasingan, dan perampasan hak-hak mereka. Gereja perlu mendukung usaha pembebasan mereka. Kemudian dalam Surat Gembalanya yang ketiga (1978), Romero berbicara tentang hubungan Gereja dengan Organisasi Politik Populer yang berkembang di antara kalangan petani.1 Organisasi yang dibicarakan Romero ini telah dimulai sekitar 1960 dan ketika Oscar Romero menjadi uskup, organisasi tersebut semakin menguat dan berusaha mengadakan perubahan politik. Mereka mengorganisir orang miskin dan mengajarkan politik kepada mereka. Kerap kali organisasi-organisasi itu menggalang sejumlah aksi protes terhadap ketidakadilan dan penindasan yang terjadi di El Salvador.

Melalui Surat Gembalanya yang ketiga ini, Oscar Romero memberikan beberapa prinsip tentang hubungan Gereja dengan Organisasi Politik Populer. Ia menyebutkan tiga prinsip.
Misi Gereja secara khusus bukan terletak dalam bidang politik, ekonomi,ataupun sosial. Misi Gereja bersifat keagamaan. Tetapi dari misi tersebutmuncullah tugas, terang, dan daya kekuatan yang dapat membentuk
dan meneguhkan masyarakat manusia menurut Hukum Ilahi. Sifat dasar Gereja adalah membangun komunitas. Komunitas-komunitas akar rumput yang tumbuh di antara orang miskin adalah dasar Gereja.

Gereja mempunyai misi untuk melayani manusia. Gereja tidak
memihak pada salah satu organisasi politik mana pun, tetapi ia dapat memberi konsiderasi akan seluruh tujuan dan mekanisme dari partai dan organisasi-organisasi politik. Gereja mendukung segala sesuatu yang baik dan adil, tetapi pada kesempatan yang sama Gereja akan mencela segala bentuk ketidakadilan yang terjadi di dalam organisasi mana pun. Gereja harus menerangi setiap usaha dari organisasi untuk pembebabasan dengan cahaya iman dan harapan Kristiani, serta visi pembebasannya yang integral. Pembebasan itu melibatkan semua orang, dalam semua
dimensinya, termasuk keterbukaannya akan Tuhan. Pembebasan itu
berpusat pada Kerajaaan Allah. Pembebasan memerlukan perubahan hati dan pikiran. Pembebasan struktur masyarakat belumlah cukup. Pembebasan tidak perlu kekerasan karena kekerasan pada prinsipnya bertentangan dengan Injil dan semangat hidup Kristiani.

Setahun kemudian muncullah Surat Gembala yang keempat. Pada surat Gembala ini, Romero berbicara tentang misi Gereja dalam situasi krisis Negara. Dalam terang konferensi Puebla dan krisis politik yang terjadi di El Salvador, Romero menambahkan refleksi baru tentang apa yang telah ditulisnya dalam Surat Gembala sebelumnya. Gereja mempunyai misi untuk mewartakan kerajaan Allah di tengah situasi krisis El Salvador. Selanjutnya, Oscar Romero semakin kuat dalam menyuarakan hak dan martabat kaum miskin. Melalui khotbah-khotbahnya yang disiarkan ke seluruh negeri, Oscar Romero berusaha melawan kekerasan yang dilakukan
oleh penguasa. Ia sering mengkritik dan mengutuk setiap ketidakadilan
dan penyelewengan yang terjadi di El Salvador. Ia secara terang-terangan menyampaikan kritik dan kutukannya.
Dalam sebuah wawancara dengan Prensa Latina, Oscar Romero sangat mendukung organisasi-organisasi yang tumbuh di kalangan rakyat. Romero percaya bahwa organisasi-organisasi rakyat adalah kekuatan yang sedang memperjuangkan hak-hak mereka dan akan
membangun sebuah masyarakat sejati. Organisasi-organisasi itu pasti
akan menggantikan sistem masyarakat dan pemerintahan yang terjadi di El Salvador. Maka menurutnya, organisasi itu harus tetap ada dalam masyarakat supaya proses pembebasan tetap terjadi.

Dalam perjalanan sela
njutnya, Oscar Romero juga pernah membuat sebuah surat kepada Presiden Jimmy Carter agar pemerintahan Amerika Serikat tidak lagi mengirimkan bantuan militer dan campur tangan dalam pengambilan kebijaksanaan di El Salvador. Keberanian
Oscar Romero telah membawa dirinya dalam posisi terancam. Ia
menyadari betul akan setiap ancaman yang mungkin dapat terjadi sebagai konsekuensi dari tindakannya. Akan tetapi, Oscar Romero sendiri tidak pernah takut karena dia memiliki iman. Romero yakin kalau mati terbunuh, pasti semangatnya akan bangkit di antara rakyat El Salvador. Menjelang akhir hidupnya Oscar Romero mengajak, memohon, dan memerintahkan kepada semua jajaran tentara untuk
menghentikan penindasan dan menghiraukan setiap perintah atasan
untuk membunuh. Oscar Romero mengajak semua jajaran tentara untuk mengingat kembali Hukum Tuhan. “Saya ingin menyampaikan suatu seruan khusus kepada semua anggota tentara … Saudara-saudaraku, masing-masing orang dari Anda sekalian adalah salah seorang dari kami juga. Kita adalah sama-sama rakyat. Para petani yang kalian bunuh adalah saudara-saudaramu sendiri. Kalau kalian mendengar suara seseorang yang memerintahkan untuk membunuh, maka sebagai gantinya segeralah ingat pada suara Tuhan: ‘Kau tidak boleh membunuh!’ Hukum Tuhan mesti berlaku. Tidak ada serdadu yang diwajibkan mematuhi suatu perintah yang bertentangan dengan hukum Tuhan. Masih ada cukup waktu bagi kalian untuk mematuhi kata hati nurani kalian sendiri, bahkan ketika menghadapi perintah penuh dosa untuk membunuh … Atas nama Tuhan, atas nama rakyat kita yang teraniaya, yang tangis mereka membumbung tinggi sampai ke surga, saya memohon kepada Anda sekalian, saya meminta Anda sekalian, saya memerintahkan Anda sekalian: HENTIKAN PENINDASAN INI!”

Epilog
Dalam khotbahnya dalam Perayaan Ekaristi Penahbisan Mgr. J. Pujasumarta, Pr. sebagai Uskup Bandung, Mgr. Suharyo, Pr. mengatakan, “Untuk membangun sebuah komunitas diperlukan seseorang untuk menjadi martir: menjadi roti yang dipecahpecah, ikan yang dibagi-bagi untuk mewujudkan cita-cita Gereja mewujudkan sebuah komunio.” Sebagai seorang Uskup Agung, Oscar Romero menjadi martir dengan motonya Sentir con la Iglesia juga dengan semangat kenabiannya. Ia jelas ingin menjadi satu pikiran dan hati dengan Gereja. Lewat figur Romero, tampak jelaslah bahwa hakikat Gereja yang satu itu merupakan pemberian Allah, sekaligus tugas yang belum selesai. Pemberian itu memiliki dimensi yang belum selesai, janji,
bahkan dimensi eskatologis. Hakikat Gereja yang bersatu itu tidak hanya harus dibagikan,
melainkan juga harus dicari, terutama ketika berinteraksi dengan pihak lain. Gereja ikut serta dalam riuh rendah untuk mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang mengatur hajat hidup orang banyak. Konteks seperti ini memasukkan Gereja dalam sukaduka dan jerih payah yang sering kali menghasilkan gesekan, benturan, konflik dan bahkan meletus menjadi konflik kekerasan yang tak berujung.

Pelbagai Gereja di dunia ketiga, yang kerap ditandai dengan kemiskinan,
pelanggaran, dan penindasan hak asasi mereka yang lemah, cinta kristiani tak bisa lagi dimengerti hanya sebagai cinta kepada Tuhan dan sesama yang melulu personal sifatnya. Cinta itu harus menjadi political love: cinta yang berpolitik, yang juga sosial sifatnya, untuk membebaskan kaum miskin dari
penderitaannya. Cinta politis ini sebenarnya adalah cinta Tuhan sendiri.
Sebab sepanjang sejarah penyelamatan, Tuhan selalu memperlihatkan diri bukan sebagai Tuhan yang netral, tetapi Tuhan yang memihak kaum lemah dan miskin, bukan?

Romero juga pernah bertutur, kemiskinan spiritual menjadi syarat utama
umat untuk merayakan Natal dalam arti sebenarnya. Eros self-sufficiency, kesombongan, kekayaan dan subordinasi atas yang lain menjadi penghalang utama kita merayakan kelahiran Yesus. Romero jelas mengundang kita untuk tidak melulu mencari bayi Yesus di palungan indah, tetapi di antara
anak-anak yang kelaparan dan tidur berselimutkan koran supaya cinta kita
semakin lestari.
“Menolak kekerasan itulah satu-satunya seruannya (seruan Gereja). Setiap kali tangan terangkat melawan orang lain siapa pun dia, kekerasan adalah tindakan berdosa yang mencemari dunia. Seruan penolakan dan perlawanan tidak pernah menyulut nafsu balas
dendam dan kebencian dalam Gereja …Sebaliknya, suara Gereja selalu menganjurkan persaudaraan yang
dibangun berdasarkan iman dan kebenaran yang diwahyukan oleh
Allah, sebagai sumber ilham untuk ajaran sosial.”
(Oscar Romero).


0 komentar:

Poskan Komentar