Ads 468x60px

Tujuh Kata-kata Wasiat Yesus di atas salib


(3 Bulan, 5 Bintang, 7 Matahari, RJK )

Berdasarkan Injil Lukas 9:22-25, Yesus pernah mengatakan kepada murid-muridNya, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikuti Aku.”

Dengan kata lain: Mengikuti Yesus berarti berani memanggul kukNya di atas bahu kita”, sehingga kita dapat “datang kepadaNya, “memikul salibNya” serta “belajar” daripadaNya. Bdk. Mat 11:28-29). 
Dan, pada kali ini, kita akan melihat dan memaknai tujuh kalimat wasiat Yesus di atas kayu salib, yang tercatat-ketat dalam pelbagai Injil, antara lain:


1. “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23:34). 
Wasiat ini menunjukkan keagungan jiwa-Nya untuk memberikan pengampunan: “Quoniam bonus, quoniam in saeculum misericordia eius - Sebab Dia baik, dan kasih setianya untuk selama-lamanya.”Pada saat yang paling menyengsarakan, Ia mengajak kita memiliki cinta kasih ilahi kepada orang lain, bahkan terhadap para musuh.

Di sini belas kasih Allah sedemikian besarnya sehingga Dia mengampuni dosa umat Israel yang berbuat jahat padaNya: 1 Ptr 4: 8: “Kasih menutupi banyak sekali dosa.”
Sungguh cinta yang sangat mengherankan dan tak tergoyahkan, bahkan di tengah-tengah kebiadaban mereka. Ia ingin mengajak kita mempunyai banyak cinta kasih penuh pengampunan, seperti kata pemazmur:“Tapi Allah mengasihani dan mengampuni umatNya dan tidak membinasakan.” (Mzm 78:38).


Mengapa harus memiliki semangat pengampunan?
Karena inilah salah satu pesan Yesus: "Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." (Mat 5:44).
Mengapa harus demikian? ayat selanjutnya menjelaskan alasannya.
"Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar."(Mat 5:45)
Alasannya adalah, karena dengan mengampuni, maka kita menjadi anak-anak Bapa.
Seorang penulis Kristen bernama Alfred Plummer (1841–1926) pernah menulis: “To return evil for good is devilish; to return good for good is human; to return good for evil is divine. To love as God loves is moral perfection."

Plummer benar, membalas kebaikan dengan kejahatan berarti membiarkan iblis memasuki hati kita.Membalas kebaikan dengan kebaikan adalah sesuatu yang insani, sedangkan membalas kejahatan dengan kebaikan adalah sifat ilahi.

Untuk kehidupan kita pun, sebuah rasa sakit hati dan kebencian akan musuh tidaklah sehat. Kita tidak akan pernah bisa hidup bahagia dalam damai dan sukacita jika kita masih menyimpan dendam dan kebencian.

Satu kalimat klasik yang membuat saya tidak mudah lupa, yakni jalan sederhana ala Bunda Teresa, “Berikanlah pada dunia hal terbaik yang kamu miliki dan kamu akan mendapatkan kekecewaan. Bagaimanapun juga berikanlah pada dunia hal terbaik yang dapat kamu berikan.”

Lihatlah sepenggal kisah di tanah Vatikan, ketika Paus Yohanes Paulus II ditembak oleh seorang Turki bernama Megmed Ali Aqca persis perayaan Maria Fatima, tanggal 13 Mei 1981, pukul 17.19. . Wajar, dalam kacamata manusiawi, jika sang Paus sedih, kecewa, terluka, marah dan sakit hati.Tapi lihatlah yang terjadi: persis 27 Desember 1983, Paus Yohanes Paulus II mengunjungi Megmed Ali Aqca di penjara Rebibia Roma. Dia mengunjungi, mendoakan sekaligus mengampuni orang yang nyaris merenggut nyawanya itu.
--------------------------------------------------



2. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan aku di dalam Firdaus.” (Lukas 23:43).
Wasiat Yesus yang kedua di kayu salib ini, merupakan sikapnya yang memberikan ”belas kasihan” terhadap salah seorang penjahat, bernama Dismas, yang turut disalibkan dengan-Nya: “Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.” (Mat 5:7).

Dengan itu, kita bisa melihat bahwa Yesus sungguh mencintai para pendosa yang bertobat. Dia datang sebagai Tuhan yang penuh belas kasih. (Bdk: 1 Yohanes 1:9).
Sebenarnya, seluruh rencana dan pelayanan Allah adalah pelayanan belas kasihan. Dia melayani sampai kepada orang-orang yang tidak layak untuk dilayani (bdk. Mzm 145: 8, “Tuhan itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setiaNya”).
Tak perlu diragukan bahwa Yesus mengasihi umatNya. Namun demikian ada saat-saat bahwa Alkitab mengatakan secara khusus Dia tergerak oleh belas kasihan. (bdk. Mat 9:36 & 14:14).

Ini merupakan reaksi Yesus terhadap kebutuhan yang dihadapi oleh banyak orang.
Dalam intensi inilah, baik jika kita melihat sebuah contoh sikap berbelas kasih dari perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati (Luk 10). 

Dalam kasus ini, orang yang telah dirampok dan dianiaya sangat membutuhkan pertolongan. 
Pertama Yesus memperlihatkan kurangnya belas kasihan dalam diri Imam dan orang Lewi. Padahal Imam dan Lewi adalah dua golongan masyarakat yang dekat-lekat dengan Bait Allah bukan? Kemudian Dia menampilkan Allah yang berbelas kasih lewat kehadiran seorang tokoh dari Samaria, yang kerap dicap kafir, pendosa dan penyembah berhala. Ia memperlihatkan cara bagaimana belas kasihan harus dilakukan.
Perhatikanlah contoh orang Samaria.

Dia membuktikannya dengan 7 hal pokok yang dibuat secara nyata, antara lain:
Dia membahayakan dirinya sendiri: Ia berhenti sendirian di tengah padang pasir yang sepi, dan mungkin saja ada perompak lain yang siap merampok semua hartanya. 
Dia mengalahkan kecurigaan-kecurigaan/prasangka buruk: Orang Samaria di-cap kafir, sesat dan penyembah banyak dewa oleh orang Yahudi, tapi dia tetap saja berinisiatif untuk berbuat baik, tak peduli terhadap pelbagai asumsi buruk/prasangka orang lain yang bisa muncul. 
Dia mengorbankan kenikmatan fisik: Dia turun dari kudanya dan membantu membersihkan luka dan rasa sakit si korban perampokan. 
Dia menanggung ketidaknyamanan fisik: Dia menaiki kuda dan menaruh si korban di belakangnya, otomatis bebannya bertambah berat, bukan? 
Dia mengorbankan waktu: Dia berhenti, dia membantu si korban dan bahkan dia mencarikan rumah penginapan buat si korban itu. Itu pasti butuh waktu, bukan?
Dia menyumbangkan uangnya untuk menginap dan perawatan si korban. 
Dia tetap memberi perhatian, kalau-kalau uang yang dia berikan masih kurang. Dia berjanji akan kembali dan menambahkan uangnya.
Dari tujuh hal di atas inilah, suatu kebenaran pokok dari Yohanes dalam I Yoh 3: 17 bisa dicanangkan: “Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?”
-------------------------------------------------------



3. “Ya Bapa ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu” (Luk 23:46). 
Disini Yesus menegaskan kembali wasiatnya yang mengajarkan suatu “kepasrahan”.
Dalam bahasa medis, kerap kita mendengar kalimat ini: “ Homo proponit, sed Deus disponit -Manusia berencana, Tuhan yang memutuskan”.

Sepanjang hidupNya, Yesus selalu mempercayakan dirinya ke dalam tangan BapaNya. Di akhir hidupNya, Ia pun menyerahkan diriNya kepada Bapa.Ucapan tersebut sendiri bersumber dari keyakinan-Nya bahwa melalui kematian, Ia akan datang kepada Bapa. Kepasrahan sendiri berarti membiarkan Tuhan menjadi Tuhan atas kita, dan bukannya menjadikan diri sebagai Tuhan.

Kepasrahan berarti membiarkan Tuhan menuliskan skenario hidup kita, dan bukannya memaksakan skenario kita sendiri.Kepasrahan juga berarti kita menepati janji luhur yang kita ucapkan dalam Doa Bapa Kami, “Jadilah kehendak-Mu (bukan kehendakku); di atas bumi seperti di dalam surga”. 

Kepasrahan berarti bahkan di saat-saat menderita, kita berseru seperti Yesus di Taman Getsemani, “Bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Luk 22:42).
St. Fransiskus Asisi melihat kepasrahan disini sebagai suatu kebajikan dari segala kebajikan, berpasrah merupakan pucuk dari cinta kasih, bau harum dari kerendahan hati, jasa-jasa dari kesabaran dan kesetiaan dari ketekunan.

Berpasrah tidak sama dengan nasib, tetapi keyakinan akan penyelenggaraan Allah, kebaikan Allah, bahwa Tuhanlah yang secara aktif memelihara dan membimbing kita.
St. Fransiskus lebih lanjut mengajarkan suatu sikap pasrah di hadapan Tuhan, supaya kita tidak meminta sesuatupun, namun juga tidak menolak apa yang diberikan.
Tidak mau meminta sesuatu bukan karena sombong tetapi percaya bahwa Tuhan Mahabaik, Ia memelihara hidup dan memberikan yang terbaik bagi kita: “Bila saya mengasihi Allah, saya hanya menginginkan apa yang dikehendaki Allah”. 
----------------------------------------------------



4. “Eloi, Eloi, lama sabakthani?” (Mrk 15:34, Bdk: Mat 27:46). 
Kalimat yang dikutip dari Mazmur 22:2 ini, dalam bahasa Ibrani berarti, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
Hal ini merupakan sebuah seruan yang menyayat hati.
Setiap kali saya mengingat wasiat yang keempat ini, saya terkenang sebuah antifon mazmur dari ibadat Completorium di Seminari Menengah beberapa tahun yang silam: “dari jurang yang dalam, aku berseru kepadaMu ya Tuhan – Tuhan dengarkanlah seruanku - De profundis clamavi ad te, Domine! Domine, exaudi vocem meam!”
Ucapan perih ini sebenarnya mengikuti sebuah peristiwa ajaib, “Pada jam dua belas, kegelapan meliputi seluruh daerah itu dan berlangsung sampai jam tiga” (Markus 15:33).
Selama hidupNya, Yesus tahu apa artinya ditinggalkan, begitu pedih, perih. Disinilah, kita diajak untuk lebih berani mengalami sekaligus memaknai pergulatan secara pribadi, terlebih ketika kita ada dalam pengalaman salib dan ‘malam gelap’. 

Ingatlah, ketika kita berani mengalami pergulatan bersama Tuhan, bisa jadi pharmakos (“racun,” karena dilukai atau dikecewakan) diubahNya menjadi pharmakon (“obat” karena dicintai dan diampuni):

“Karena kasih Allah yang begitu besar pada dunia ini sehingga ia memberikan anaknya yang supaya yang percaya tidak binasa tetapi beroleh hidup kekal.” (Bdk. Yoh 3:16).
Menyitir kutipan Paus Yohanes Paulus II pada 7 Juni 1997, dimana ditegaskan, “di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan”, (1Yoh 4:18), kiranya itulah buah dari wasiat keempat, yang mengajak kita mengingat bahwa Yesus itu hadir sebagai teman sepergulatan dan seperjalanan dengan segala ruwet rentengnya.
Bukankah tepat perkataan pemazmur: “Cor contritum et humiliatum, Deus, non despicies - Hati yang patah dan remuk redam, tidak akan Kau pandang hina,
ya Allah.”
-----------------------------------------------------------



5. “Ibu inilah, anakmu!” Anak, Inilah ibumu!” (Yoh 19:26-27). 
Wasiat Yesus yang kelima ini dialamatkan pertama-tama kepada ibuNya, Maria: “Ibu, inilah, anakmu”, dan murid yang dikasihiNya, “Inilah ibumu!”.
Dikatakan dalam Kitab Suci, “Dekat salib Yesus, berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Kleopas dan Maria Magdalena” (Yoh 19:25)

Dengan kata lain: Yesus mengajak kita memaknai iman sebagai sebuah “persaudaraan”. Kita dipanggil untuk melihat sesama umat beriman sebagai saudara. Baiklah kalau kita kembali memaknai sebuah lagu rohani populer berjudul, “Hari Ini Kurasa Bahagia.” Ada sebuah lirik sederhananya berkata seperti ini: “Kau saudaraku, kau sahabatku, tiada yang dapat memisahkan kita.”

Jelaslah, bahwa Tuhan memanggil kita dalam semangat persaudaraan dan persahabatan yang penuh kehangatan: antara kita dengan Dia, antara kita dengan sesama, antara kita dengan alam semesta dan yang pasti antara kita dengan diri kita sendiri, bukan?
“Oh, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya? Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya…” (Roma 11:33-36).
-------------------------------------------------



6. “Aku haus!” (Yoh 19:28).
Tampaklah Yesus juga sangat membutuhkan cinta kita.
Bunda Teresa dari Calcutta mengatakan, hausNya tak pernah berkesudahan. Disinilah, Yesus mengajak kita untuk “bersolider”, karena Yesus jelas hadir lewat sesama kita yang haus: yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difable (Bdk.Mat 25:35-45), soal Penghakiman Terakhir).

Seorang budayawan, cendekiawan sekaligus rohaniwan bernama Romo Mangun pernah mengatakan, Gereja Katolik itu bisa “admiranda (dikagumi), sed non amanda” (tapi tidak dicintai).

Nah, menurut hemat saya, jika Gereja mau dikagumi sekaligus dicintai (admiranda et amanda), aktualitas wasiat keenam ini mendapatkan ruang geraknya.Gereja diajak memiliki semangat solidaritas dengan masyarakat dan dunia sekitarnya. 
Secara teoretis, ada tiga tahapan solidaritas, yakni:
1. perbuatan solidaritas, apa pun jenisnya. 
2. ucapan solidaritas, bila kita tak dapat mewujudkannya dalam perbuatan. 
3. doa; kita selalu dapat menunjukkan solidaritas kita dengan doa.
Baiklah kita juga melihat kembali apa yang telah diajarkan Gereja mengenai karya-karya kasih solidaritas sosial, yang bisa kita buat kepada sesama :
* Karya-karya Jasmani:
* memberi makan kepada yang lapar
* memberi minum kepada yang haus
* memberi tumpangan kepada tunawisma
* mengenakan pakaian kepada yang telanjang
* mengunjungi orang miskin
* mengunjungi orang tahanan
* menguburkan orang mati
* Karya-karya Rohani:
* mengajar
* memberi nasehat
* menghibur
* membesarkan hati
* mengampuni
* menanggung dengan sabar hati
* mendoakan mereka yang hidup dan mati
---------------------------------------------------



7. “Sudah selesai” (Yoh 19:30,“Tetelestai”).
Jauh sebelum menjalani penderitaan di kayu salib, Yesus berkata, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh 4:34).

Dan, kalimat inilah bukti nyatanya, purna karyanya sebagai utusan Allah yang memaknai sebuah ”pertanggungjawaban.”Ia melakukan juga menyelesaikannya. Bukti cintanya kepada kita.Ini merupakan sebuah pekik kemenangan. 
Dengan berkata demikian, Ia menegaskan, bahwa Ia telah menyelesaikan seluruh tugas kemesiasanNya secara utuh dan penuh. Bahwa Ia sudah menerima secara penuh hukuman ilahi atas segala dosa dan kejahatan umat manusia.

Karena itu, bagi mereka yang percaya kepada Kristus, tidak ada satu dosa pun tersisa untuk dihukum oleh Allah. Ia juga mengajarkan bahwa hidup pada hakekatnya ialah pengabdian sepenuh hati dan seutuh hati kepada Allah sang pemberi hidup: "Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi," (2 Petrus 1:4)
.
Pastinya, dari ketujuh kalimat wasiat Yesus, kita diajak semakin menghayati penggalan pernyataan ini,
”Benar, mengikutiMu bukan langit biru yang Kau janjikan, juga bukan bunga-bunga indah yang bertebaran, tetapi jalan penuh lika-liku, karena jalan itu pula yang pernah Kau lewati…..”



Salam HIKers,
@RmJostKokoh

0 komentar:

Poskan Komentar