Ads 468x60px

Bicara soal "KOH AHOK"


Selayang Pandang
Audaces fortuna iuvat!! 
Nasib baik menolong mereka yang berani!! 
(Kutipan karya Vergilius, Aeneid 10:284).

“Urip Iku Urup - Hidup itu nyala!” Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentulah akan lebih baik. Dalam bahasa pemazmur: "Kami berpegang teguh pada tangan-Nya, dan gelap pun menjadi cahaya!" Biarlah cahaya wajah-Mu menyinari kami, ya TUHAN!” (Mz 4:7)

Itulah filosofi hidup banyak orang baik yang terlibat di ruang publik, seperti Koh Ahok yang bernama asli “Basuki Tjahaja Purnama” yang splendor veritatis – penuh dengan warna warni pelangi kemanusiaan - dan kini masih menjadi petahana sekaligus calon gubernur DKI dalam putaran kedua nanti.

Dari banyak kandidat di seantero nusantara, bisa jadi KOH AHOK adalah salah satu “martir” dalam mendobrak dan meng-antitesa politik pasca-reformasi, yang senantiasa memoles kemasan agar terlihat indah, namun isi-nya sangat busuk dan berbau. Ia tampil apa adanya, “jurdil – jujur dan adil”, berpenampilan spontan dan apa adanya, berbicara apa adanya, tanpa diksi atau gaya bahasa yg indah-indah, tanpa dibuat-buat.

Figur dan tuturnya “down to earth”, jauh dari sosok seorang pejabat kebanyakan dan tidak tersilaukan oleh gilang gemilang harta yang coreng moreng dan kekuasaan yang mentereng. Pendapatannya- pun kerap digunakannya untuk membantu pelbagai karya sosial dan kebutuhan masyarakat di sekitarnya. Mugkin ia terkesan "kasar", namun sekaligus ia “besar”, sangat substantif dan hatinya mulia alias integratif. Koh Ahok ini memang benar-benar low profile. Ia berani “blusukan” karena tidak pernah takut mati. Baginya, hidupnya itu sederhana saja: hadir dan terus mengalir. Mungkinn relung hatinya kerap berkata: “Don't worry Be happy God will make a "WAY". I have special security guards. They are the "Father, the Son, and the Holy Spirit.”

Optimis. Itulah kesan yang lain. Di balik kesederhanaan sikap dan karakternya yang ceplas ceplos , hidupnya sendiri penuh keyakinan iman dan harapan yang tanggap zaman. Dari figurnya yang teruji oleh banyaknya gesekan dan tekanan dari “liane”, tertegaskan bahwa bermimpi itu perlu dan kita harus terus berusaha untuk mewujudkan mimpi itu dengan sikap optimis, dimana ia menampilkan hati nurani yang diimani sekaligus akal sehat yang diyakini sebagai bagian integral dari perpolitikannya yang berpola trilogi “BTP” – “Bersih Transparan Profesional.”

Ya, lewat figur dan tuturnya yang akhir-akhir ini banyak menghiasi media, entah dipuji atau dicaci, politik janganlah menjadi banal/dangkal, tapi haruslah menggunakan hati nurani dan hati nurani sendiri juga haruslah di-“politik”-kan untuk mencapai “bonum commune/kesejahteraan bersama”, karena sejatinya politik akal sehat bukan cuma apa yang mengenyangkan "perut" dan menyamankan "mulut" tapi apa yg "mengenyangkan" nurani: otak watak dan akhlak.

Selain apa adanya dan optimis, berpikir positif juga melekat pada dirinya: "Fluctuat nec mergitur" Terombang-ambing tapi tdk tenggelam. Baginya, politik itu tidak abu-abu, tidak jahat dan tidak busuk. Politik itu adalah cara-cara sportif untuk meraih kebaikan umum secara cerdas: Politik tidak kotor.Yang kotor adalah pelakunya. Politisinya. Karena itu, politik harus “dibaptis” dan tidak menjadi alat untuk korupsi, melainkan penyucian”. Ibarat tokoh Bima dalam cerita wayang, bisa jadi ia adalah salah satu tokoh tegas-lugas-jelas-kontras dalam pergerakan Pandawa melawan kesewenang-wenangan Kurawa, walaupun dia memang bukanlah orang Jawa. Terkenang juga sebuah pepatah bestari jawani, “Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara” - Manusia hidup di dunia itu harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak – yang seakan menjadi refrain dalam hidup kesehariannya.

Tercandra, baginya politik itu “tremendum sed fascinosum” (menakutkan tapi menarik). Ya, meski para pelaku politik cenderung membuat politik menjadi sesuatu yang negatif di mata masyarakat, sesungguhnya politik itu (pada dirinya sendiri) bagus, dan lewat “interupsi” yakni kehadiran keterlibatan seorang “double minority” (kristen dan tionghoa), kita sebagai orang Indonesia apapun agama dan suku budayanya diajak untuk bekerjasama secara tuntas - “kerja keras-kerja cerdas-kerja ikhlas” - menciptakan kehidupan bersama yang lebih baik guna mencapai masyarakat yang lebih adil dan sejahtera.

Disinilah, ia mengajak kita melihat politik secara positif dan arif sebagai “sakramen”: tanda dan sarana keselamatan. Mungkin saja, tanpa ia sadari, ia juga mengejawantahkan ungkapan Jawa tentang kekuasaan, yakni “manunggaling kawula-Gusti” (kesatuan hamba dan Rajanya yakni Tuhan). Persis! Keutamaan dasar inilah yang juga ditawar-segarkan oleh kehadirannya di tengah hingar-bingarnya dunia perpolitikan di kota Jakarta pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya. Ya, salah satu kriteria sang pemimpin adalah leburnya tubuh jasmani dengan batinnya: “ Kang ingaran urip mono mung jumbuhing badan wadag lan batine pepindhane wadhah lan isine.”

Baginya, jabatan adalah anugerah Tuhan, karena hal yang mulia ini menantangnya untuk selalu “bersih - transparan - profesional”, bersadar diri dan berjuang total dalam memberi kesaksian iman kepada masyarakat umum karena iman baginya adalah tindakan yang membuat manusia menjadi lebih manusia, menjadi lebih punya hati nurani, menjadi lebih budiman/berbudi dan beriman, menjadi lebih berbudaya/berbudi dan berdaya. Jelasnya: sebuah kerja nyata dan tidak hanya kata-kata hampa haruslah terus dilakukan seraya Tuhan sudah rapi tersimpan dalam sebuah iman yang dpt digunakan bagaikan sebuah peta perjalanan.

Bisa jadi, pesan Mgr. Soegijapranata mendapatkan aktualitasnya lewat kesaksian dan kehadiran seorang bernama Koh Ahok ini: “Kita memang bukan bagian yang lebih besar (pars major), tetapi kita harus berusaha menjadi bagian yang lebih baik (pars sanior).”

Akhirnya:
Aku bukan tim sukses pilkada, dan tak pernah berminat untuk menjadi tim sukses pilkada. Aku juga bukan simpatisan atau kader salah satu partai politik tertentu. Aku juga bukan konsultan politik yang dibayar untuk memenangkan kandidat tertentu.

Namun...
Sebagai warga negara di republik “kaya raya” – tanah air beta yang gemah ripah loh jinawi, dan sangat kucintai ini, aku berkentingan: berharap, berdoa dan turut berusaha, agar "orang-orang baik dengan niat baik" mendapatkan kesempatan dan menemukan momentum untuk dapat memimpin daerah, juga dapat meraih momentum emas untuk memimpin daerahnya, bangsanya dan rakyatnya.

Di lain matra, ada banyak orang yang terlalu lelah, dan nyaris putus asa, karena kerap hidup di “republik bandit”, yang kadang dipimpin oleh orang-orang jahat, rampok, maling, garong, preman yang terpilih karena dikemas dengan berbaju malaikat. Bisa jadi, dulunya mereka terpilih karena membeli suara rakyat dengan menggunakan uang rampokan, yang mereka peroleh dari merampok uang rakyat: “Remota itaque iustitia quid sunt regna nisi magna latrocinia - Negara yang tidak menyelenggarakan pemerintahannya secara jujur dan adil adalah seperti komplotan bandit atau rampok bagi rakyatnya.” Dalam bahasa Butet Kertaredjasa: “Menjadi politikus busuk itu sulit, .....saya harus pura-pura tuli-meski telinga saya sehat. Kan susah, punya pendengaran bagus, tapi harus terus menerus pura-pura tidak mendengar aspirasi rakyat” (Butet Kertaredjasa, "Monolog Tukang Kritik", Tuan Politikus Sowan Raja Jin, hal.151).

Nah, bukankah, kita harus senantiasa menciptakan setiap momentum agar ada kesempatan bagi "orang-orang baik, dengan niat baik untuk bangsa dan rakyat", dapat memimpin kota ini. Kewajiban kita adalah menaruh "hati yang hangat dan budi yang sehat" dalam kehidupan bersama karena politik tanpa "hati dan budi" adalah malapetaka bagi bangsa besar ini

Janganlah cuma terbang bergoyang seperti seekor ayam kalau kita mampu terbang tinggi melayang seperti seekor rajawali, yang punya jiwa dan punya nyali. “V A M O S” (Bhs Spanyol: “mari kita pergi”). Kita sebagai satu bangsa juga mesti “VAMOS”, “pergi“ dari “will to affair” ke “will to fair” dan dari “will to power” ke “will to truth”
Lenyapkanlah jalan-jalan yang menjadi buruk karena ditaburkan 
oleh penyebar kebencian. Terangilah jalan-jalan yang akan menjadi baik dengan “TJAHAYA” yang ditabur subur-penuh-utuh, “purnama” dan paripurna dalam hati-budimu
Jangan biarkan hidup kita menjadi sia-sia Jadilah manusia yang berguna, yang nyala, yang “urup”. Tinggalkan jejak tapak tjahaya. 
Pancarkan terus teduhnya sinar purnama harapan iman dan kasih
Semoga kita mau menghidup-kembangkan iman sebagai "interupsi" (keterlibatan - keberpihakan)
Semoga kita mencari Tuhan
Semoga kita menemukan Tuhan
Semoga kita mencintai Tuhan
Semoga muncullah orang-orang yang sungguh benar benar mencintai negaranya, dan dari rasa cinta tersebut sungguh benar benar berani bicara sebagai "hati nurani bangsa", bukan yang berpola “isis – ikut sana ikut sini” tapi yang “taktis” - punya otak watak dan sungguh humanis sekaligus kritis:
dalam ruang dan waktu
dalam hidup yang bersekutu
dalam pilihan yang bermutu
KOH AHOK adalah ARUS BARU POLITIK:
ARUS POLITIK AKAL SEHAT.
ORANG BAIK DENGAN NIAT BAIK HARUS DIBANTU UNTUK MENJADI YANG TERBAIK.
POLITIK AKAL SEHAT MENGALAHKAN SI JAHAT
POLITIK YANG PUNYA ESENSI DAN SUBSTANSI MENGALAHKAN 
POLITIK YANG PENUH IMITASI DAN DEKORASI
POLITIK DEMI KESEJAHTERAAN SEMUA INSAN
MENGALAHKAN POLITIK KEMASAN.

Selamat ber- PILKADA kembali
PIL ih calonmu
KA sih suaramu 
DA mai negrimu
Membangun Jiwa Membangun Raga
When we're dreaming alone, it's only a dream
When we're dreaming with others, its the beginning of reality

Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)

0 komentar:

Poskan Komentar