Ads 468x60px

"Imagining Argentina": "Teruslah Mengingat dan Teruslah Berharap"

Ada rasa gemetar dan nyinyir setiap kali mendengar kata “korban”. Perasaan itu makin menusuk ketika suatu waktu saya menonton "Imagining Argentina", yang dibintangi oleh aktor kenamaan Antonio Banderas. Film ini bercerita tentang pengalaman seorang warga negara biasa, Carlos Rueda, yang harus kehilangan anak dan istrinya lantaran diculik. Istri Carlos, Cecilia, diculik paksa setelah membeberkan kasus penghilangan sejumlah anak oleh tentara. Selama masa penantian, Carlos dihantui oleh erangan istrinya yang diperkosa dan teriakan anak-anak yang disetrum. Ia merasakan kehadiran para korban di sekelilingnya melalui suara-suara aneh itu. Meski begitu, ia tak tahu pasti di mana mereka berada kecuali melalui jejak-jejak yang ditinggalkan para penculik. Ketika melewati setiap tempat di mana istri dan anaknya dianiaya, Carlos mendengar teriakan sakit melengking di telinganya. Ia mendengar suara korban seolah dia hadir menyaksikan mereka disiksa di depan mata.

Film ini mengambil latar Argentina tahun 1970-an, ketika negeri itu diperintah oleh rezim junta militer Jorge Videla. Masa-masa itu adalah lembaran sejarah paling kelam para korban. Selama tujuh tahun saja (1976–1983), sekitar 30.000 orang tak berdosa hilang diculik karena alasan yang tak jelas; dan lebih separuhnya adalah anak-anak yang sama sekali tidak terlibat dan tidak tahu-menahu tentang politik. Dalam kurun waktu yang singkat, Videla beserta aparatur militernya menjerumuskan negeri itu dalam horor dan ketakutan yang tak terbandingi dalam sejarah manusia. Ketakutan demi ketakutan menumpuk dan menciptakan histeria massal bagi mereka yang hidup. Mereka yang selamat dari incaran maut—para survivor—terpaksa harus menanggung trauma dan kepedihan batin akibat kepergian orang yang mereka cintai.

"Imagining Argentina" menggambarkan dengan dramatis bagaimana korban menyikapi kekerasan politik dengan harapan dan ingatan. Selama kehilangan Cecilia dan seorang putrinya, Carlos tak pernah sedikit pun menunjukkan keputusasaannya. Ia, bersama orang-orang lain yang juga korban kekerasan negara, menggalang semacam “ingatan kolektif”, yang memaksa mereka untuk terus mengingat secara detail semua peristiwa tragis di masa lalu. Tapi rupanya tekad dan upaya mereka tak disukai penguasa. Seorang intel dikirim untuk memata-matai pertemuan Carlos. Di kemudian hari diketahui bahwa orang itulah yang memperkosa Cecilia. Ia menelanjangi perempuan malang itu dan memperlakukannya dengan brutal.

Harapan dan ingatan. Mungkin cuma itu modal korban. Menghadapi kekerasan dan tekanan hidup yang begitu mengerikan, para korban tak hilang keberaniannya. Perlawanan mereka dilakukan dengan sesuatu yang sebenarnya sangat intim dan merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari: mengingat dan berharap. Tapi di situlah terletak kekuatan sejati para korban yang tak mungkin dihapus, bahkan oleh kekerasan paling represif dan mengejikan sekalipun dari negara. Karena itu wajar jika rezim takut dengan harapan dan ingatan para korban. Mereka berupaya meruntuhkan harapan itu dengan meningkatkan siksaan terhadap korban dan mencoba dengan segala cara menghapus memori kolektif. Melalui manipulasi sejarah, misalnya, rezim menyudutkan korban sebagai kambing hitam atas segala bencana yang terjadi. Korban distigmatisasi, diasingkan dari sanak-famili dan masyarakat, sementara kutukan terhadapnya sebagai penyebab kekacauan sosial terus disebarkan melalui lembaga-lembaga politik, media, sekolah, dan keluarga.


Walaupun begitu, teruslah mengingat dan teruslah mengharap!

0 komentar:

Poskan Komentar