Ads 468x60px

Novel Everything is Illuminated

Iluminasi….
(Petikan dari Novel Everything is Illuminated)

“Herschel akan menjaga ayahmu ketika aku harus pergi melaksanakan tugas atau ketika nenekmu sakit. Nenekmu sakit sepanjang waktu, tak hanya pada hari-hari terakhir hidupnya. Herschel akan menjaga si bayi, dan menggedongnya seperti anaknya sendiri. Bahkan ia memanggil bayi itu anakku.”
Kuceritakan semua ini pada Jonathan seperti dituturkan Kakek padaku, dan pemuda itu menuliskan semuanya pada buku diary. Ia menulis begini:

“Herschel tak punya keluarga sendiri. Ia tak suka bergaul. Ia keranjingan membaca, juga menulis. Ia seorang penyair dan banyak puisinya ia perlihatkan padaku. Cukup banyak yang kuhafal. Puisi-puisi gila, engkau boleh mengatakannya demikian, dan tentang cinta. Ia selalu di kamarnya menuliskan hal semacam itu, dan tak pernah bergaul dengan orang. Aku sering berkata padanya, Apa gunanya menuliskan cinta pada selembar kertas? Kataku, Biarkan cinta menulis pada dirimu barang sedikit. Tapi ia amat keras kepala. Atau mungkin ia hanya malu.”

“Kau temannya?” tanyaku, meski ia telah mengatakan bahwa ia adalah teman Herschel.
“Hanya kamilah temannya, kata kakek kepada kami pada suatu ketika. Nenekmu dan aku. Ia makan malam bersama kami, dan kadang-kadang berada di rumah kami hingga larut malam. Bahkan kami berlibur bersama. Ketika ayahmu lahir, kami bertiga berjalan-jalan dengan si bayi. Ketika ia butuh sesuatu, ia datang kepada kami. Suatu kali ia bertanya padaku, apakah ia boleh mencium nenekmu. Mengapa, tanyaku, dan ini membuatku marah, benar-benar amat marah, karena ia berhasrat mencium nenekmu. Sebab aku takut, katanya, aku tak ‘kan pernah mencium seorang perempuan. Herschel, kataku, itu semua karena engkau tak pernah mencoba mencium seorang pun.”

(Apakah ia jatuh cinta pada Nenek?)
(Aku tak tahu.)
(Apakah itu mungkin?)
(Mungkin saja. Ia akan menatap nenekmu, dan memberinya bunga pula sebagai hadiah.)
(Apakah ini membuatmu sedih?)
(Aku mencintai mereka berdua.)
“Apakah Herschel mencium Nenek?”
“Tidak,” katanya. (Dan engkau akan ingat, Jonathan, ia mengatakan ini sambil tertawa. Tawa yang pendek dan kasar.) “Ia juga terlampau malu untuk mencium seorang pun, bahkan Anna sekalipun. Kukira ia tak pernah melakukan apa pun.”
“Ia sahabatmu,” kataku.
“Ia sahabat karibku. Tapi kemudian kisahnya menjadi lain. Yahudi, bukan Yahudi. Saat itu kami masih muda, dan perjalanan hidup masih terbentang luas di hadapan kami. Siapa yang tahu?” (Kami tak tahu, itulah yang sedang kuusahakan untuk kukatakan. Bagaimana mungkin kami telah mengetahuinya?)
“Tahu apa?” tanyaku
“Siapa yang tahu bahwa kami kemudian menjalani hidup di atas duri?”
“Duri?”
“Suatu hari Herschel makam malam bersama kami, dan ia menyanyikan lagu-lagu untuk ayahmu yang berada di gendongannya.”
“Lagu-lagu?”

(Di sini ia menyanyikan lagu itu, Jonathan, dan aku tahu betapa senangnya engkau memasukkan lagu-lagu dalam tulisanmu, tapi kau tak dapat mengharuskan aku untuk menuliskan lagu itu. Aku telah begitu lama mencoba memindahkannya dari otakku, tapi lagu itu selalu di sana. Aku mendengar diriku menyanyikannya saat berjalan, dan saat kuliah, dan sebelum tidur.)

“Tapi kami adalah orang-orang bodoh,” katanya, dan ia kembali memeriksa foto itu dan tersenyum. “Amat bodoh.”
“Kenapa?”
“Karena kami percaya pada sesuatu.”
“Sesuatu apa?” tanyaku, sebab aku tak tahu. Aku tak paham.
(Mengapa engkau banyak bertanya?)
(Karena engkau tak berterus-terang padaku.)
(Aku amat malu.)
(Engkau tak perlu malu dekat bersamaku. Sanak keluarga mestinya tak pernah membuatmu merasa malu.)
(Engkau keliru. Keluarga adalah orang-orang yang mestinya membuatmu merasa malu ketika engkau melakukan perbuatan yang memalukan.)
(Apakah engkau mempermalukan mereka?)
(Ya. Aku sedang mencoba mengatakannya padamu.) “Kami bodoh,” katanya,“karena kami percaya pada sesuatu.”
“Mengapa itu bodoh?”
“Sebab tak ada sesuatu yang dapat dipercaya.”
(Cinta?)
(Tak ada cinta. Hanya akhir cinta.)
(Kebaikan?)
(Jangan bodoh.)
(Tuhan?)
(Jika Tuhan ada, dia bukan untuk dipercaya.)
“Augustine?” tanyaku.
“Aku mengimpikannya sebagai sesuatu itu,” katanya. “Tetapi ternyata aku keliru.”
“Bisa jadi engkau tak keliru. Kita memang tak dapat menemukan perempuan itu, tapi kenyataan ini tak menunjukkan apa pun apakah engkau mesti percaya padanya atau tidak.”
“Apa gunanya sesuatu yang tak mungkin kaudapatkan?”
(Akan kukatakan padamu, Jonathan, sampai di bagian percakapan ini, yang terjadi bukan lagi percakapan antara Alex dan Alex, kakek dan cucu. Kami menjadi dua orang lain, dua orang yang tak dapat saling melihat satu sama lain dalam mata kami, dan kami mengatakan sesuatu yang tak terkatakan. Ketika aku mendengarkannya, aku tidak mendengarkan Kakek, tetapi orang lain, seseorang yang belum pernah kujumpai, tapi kukenal dengan lebih baik dibanding Kakek. Dan orang yang sedang mendengarkan orang ini bukalah aku tapi seseorang lain, seseorang yang belum pernah kujumpai tetapi kukenal dengan lebih baik daripada aku mengenali diriku sendiri.)
“Ceritakan lebih banyak lagi,” kataku.
“Lebih banyak lagi?”
“Herschel.”
“Ia seperti anggota keluarga kita sendiri.”
“Ceritakan padaku apa yang terjadi. Apa yang terjadi padanya?”
“Padanya? Padanya dan padaku. Itu terjadi pada setiap orang, jangan salah. Hanya karena aku bukan seorang Yahudi, tak berarti itu tak terjadi padaku.”
“Apa itu?”
“Engkau harus memilih, dan berharap memilih kejahatan yang lebih ringan.”
“Engkau harus memilih,” kataku pada Jonathan,“dan berharap memilih kejahatan yang lebih ringan.”
“Dan aku memilih.”
“Dan ia memilih.”
“Ia memilih apa?”
“Ketika mereka mengepung kota kami—“
“Kolki?”
“Ya, tapi jangan katakan padanya. Tak ada alasan untuk mengatakan padanya.”
“Kita dapat pergi ke sana pada pagi hari.”
“Tidak.”
“Mungkin itu bermanfaat.”
“Tidak,” katanya. “Hantuku tidak di sana.”
(Engkau punya hantu?)
(Tentu saja aku punya hantu.)
(Seperti apa tampang hantumu?)
(Mereka ada di balik kelopak mataku.)
(Di situ pula hantuku berdiam.)
(Engkau punya hantu?)
(Tentu saja aku punya hantu.)
(Tapi engkau masih bocah.)
(Aku bukan bocah.)
(Tapi kau belum mengenal cinta.)
(Inilah hantuku, ruang di antara cinta.)
“Kau dapat menunjukkannya pada kami,” kataku. “Engkau dapat mengantar kami ke tempat dulu engkau tinggal, dan tempat neneknya dulu tinggal.”
“Tak ada gunanya,” katanya. “Mereka tak berarti apa-apa bagiku.”
“Neneknya.”
“Aku tak ingin mengetahui namanya.”
“Ia mengatakan, tak ada gunanya kembali ke kota asalnya,” kataku pada Jonathan. “Kota itu tak berarti apa-apa untuknya.”
“Mengapa ia meninggalkan kota itu?”
“Mengapa engkau meninggalkan kota itu?”
“Karena aku tak ingin ayahmu tumbuh besar begitu dekat dengan kematian. Aku tak ingin ia mengenal kematian itu, dan hidup bersamanya. Itulah alasan mengapa aku tak pernah mengatakan padanya apa yang terjadi. Aku sangat mengharapkan ia menjalani hidup yang lurus, tanpa kematian, tanpa pilihan, tanpa rasa malu. Tapi aku bukanlah ayah yang baik, aku harus mengatakan itu padamu. Aku adalah ayah yang paling buruk. Aku ingin menyingkirkan darinya segala hal yang buruk, namun sebaliknya aku memberinya keburukan di atas tumpukan keburukan. Seorang ayah selalu bertanggungjawab atas menjadi apa anaknya. Kau harus mengerti.”

“Aku tak mengerti, tak mengerti sedikit pun. Aku tak mengerti, bahwa engkau berasal dari Kolki dan mengapa aku tak pernah tahu. Aku tak mengerti mengapa engkau menempuh perjalanan ini, jika engkau tahu betapa dekat kita nantinya. Aku tak tahu siapakah hantu-hantumu. Aku tak mengerti bagaimana salah satu fotomu bisa berada di kotak milik Augustine.”

(Ingatkah kau apa yang ia lakukan kemudian, Jonathan? Ia memeriksa foto itu lagi, lalu meletakkannya kembali di meja, dan kemudian berkata, Herschel orang baik, begitu juga aku, dan karena itu tak adillah ini terjadi, sama sekali tidak adil. Lalu aku bertanya padanya, Apa, apa yang terjadi? Ia mengembalikan foto itu ke kotak, kau pasti ingat, dan ia menuturkan kisah itu pada kita. Tepat seperti itu. Ia meletakkan foto di kotak, dan ia menuturkan kisah itu pada kita. Tak satu kali pun ia menghindari tatapan mata kita, dan tak satu kali pun ia menaruh tangannya di bawah meja. Aku membunuh Herschel, katanya. Atau apa yang kulakukan sama baiknya dengan membunuhnya. Apa maksudmu? tanyaku padanya, sebab perkataannya begitu keras untuk dikatakan. Tidak, ini tak benar. Herschel akan tetap dibunuh dengan atau tanpa aku, tapi masih saja sepertinya aku telah membunuhnya. Apa yang terjadi? Tanyaku. Mereka datang pada saat yang tergelap di malam hari. Mereka baru saja datang dari kota lain, dan akan pergi ke kota lain lagi setelahnya. Mereka tahu apa yang sedang mereka lakukan, mereka sangat logis. Aku ingat persis, tempat tidurku bergetar ketika tank-tank itu datang. Ada apa ini? Ada apa ini? tanya Nenek. Aku bangkit dari tempat tidur dan dari jendela mengamati situasi luar. Apa yang kau lihat? Aku melihat empat tank, dan aku dapat melihat tiap-tiap bagiannya. Empat tank hijau, orang-orang berjalan di sisi kanan dan kiri tank-tank itu. Mereka ini membawa bedil, aku katakan padamu, dan mereka mengacungkan bedil itu ke pintu dan jendela rumah kami seakan-akan seseorang akan mencoba melarikan diri.

Ketika itu gelap, tapi aku masih dapat melihat kejadian ini. Apakah engkau merasa ngeri? Aku ngeri, meski aku tahu, aku bukanlah orang yang mereka cari. Bagaimana engkau tahu? Kami tahu tentang mereka. Setiap orang tahu. Herschel tahu. Kami tak mengira itu akan terjadi pada kami. Kukatakan padamu, kami percaya pada sesuatu, kami sangat bodoh. Lalu? Lalu aku menyuruh Nenek mengambil si bayi, ayahmu, dan membawanya ke ruang bawah tanah tanpa membuat kegaduhan, tapi tanpa pula merasa terlalu takut, sebab kami bukanlah orang yang mereka inginkan. Lalu? Lalu mereka menghentikan semua tank dan sesaat aku amat bodoh mengira bahwa semuanya telah berakhir, bahwa mereka memutuskan untuk kembali ke Jerman dan mengakhiri perang, sebab tak seorang pun senang perang, juga mereka yang selamat, bahkan mereka yang menang sekalipun. Tapi? Tapi tentu saja tidak demikian yang terjadi, mereka hanya menghentikan tank di depan sinagoga dan mereka keluar dari tank lalu bergerak membentuk garis yang logis.


Sang Jenderal berambut pirang mengangkat mikrofon ke depan wajahnya dan berbicara dalam bahasa Ukraina ia berkata bahwa setiap orang harus datang ke sinagoga setiap orang tanpa kecuali. Tentara menggedor setiap pintu dengan bedil dan memeriksa rumah-rumah untuk memastikan bahwa setiap orang telah berada di depan sinagoga aku menyuruh Nenek kembali ke lantai atas bersama si bayi sebab aku ngeri kalau-kalau tentara itu menemukan mereka di ruang bawah tanah dan menembak mereka karena bersembunyi. Pikiranku pada Herschel Herschel harus melarikan-diri bagaimana ia mesti lari ia harus lari sekarang lari ke dalam kegelapan mungkin ia telah lari mungkin ia mendengar tank dan lari tapi ketika kami tiba di sinagoga aku melihat Herschel dan ia melihat aku dan kami berdiri berdampingan sebab inilah yang dilakukan oleh para sahabat di hadapan bencana atau pun cinta. Apa yang akan terjadi tanyanya padaku dan sesungguhnya tak seorang pun dari kami tahu apa yang akan terjadi meski setiap orang dari kami tahu akan terjadi bencana. Tentara butuh waktu lama untuk menyelesaikan penyelidikan mereka atas rumah-rumah amat penting bagi mereka memastikan bahwa semua orang telah berada di depan sinagoga. Aku sangat takut kata Herschel kukira aku akan menangis. Kenapa kubertanya kenapa tak ada yang perlu ditangisi karena tak ada alasan untuk menangis sebab akan kukatakan padamu aku pun ingin menangis dan aku pun takut tapi bukan demi diriku sendiri melainkan demi Nenek dan si bayi. Apa yang mereka lakukan? Apa yang terjadi kemudian? Mereka memerintahkan kami berbaris dan aku di samping Anna pada satu barisan dan Herschel pada barisan lain di samping para perempuan yang menangis mereka menangis karena sangat takut pada bedil-bedil yang dipegang tentara dan mereka pikir kita semua akan dibunuh.

Sang Jenderal bermata biru mengangkat mikrofon ke depan wajahnya. Kalian harus mendengarkan baik-baik katanya dan melakukan semua yang diperintahkan atau kalian akan ditembak. Herschel berbisik padaku aku sangat ngeri dan aku ingin mengatakan padanya agar lari peluangmu lebih banyak jika engkau lari sekarang gelap lari kau tak punya peluang jika tak lari tapi aku tak dapat mengatakan itu padanya sebab aku takut ditembak karena berbicara dan aku juga takut menyebabkan Herschel mati karena membiarkannya pergi beranilah kataku dengan volume suara selirih mungkin kau perlu berani kini kutahu itu merupakan perkataan tolol untuk diucapkan perkataan paling tolol yang pernah kuucapkan berani untuk apa? Siapa rabi di sini tanya Jenderal dan rabi mengangkat tangannya.

Dua tentara mencokok rabi dan mendorongnya masuk ke sinagoga. Siapa pemazmurnya tanya Jenderal dan pemazmur pun mengangkat tangannya tetapi ia tak setegar sang rabi dalam menghadapi kematian ia menangis dan mengatakan tidak pada isterinya tidak tidak tidaktidaktidak dan perempuan itu memeluk suaminya dua tentara mencokoknya dan memasukkannya pula ke sinagoga. Siapa orang Yahudi tanya Jenderal lewat mikrofon semua orang Yahudi maju tapi tak seorang pun bergerak maju. Semua orang Yahudi diharuskan maju katanya lagi dan kali ini ia berteriak tapi lagi tak seorang pun maju dan akan kukatakan padamu seandainya aku seorang Yahudi aku pun tak akan bergerak maju Jenderal menuju barisan pertama dan berkata lewat mikrofon kau menuding seorang Yahudi atau kau dianggap sebagai seorang Yahudi orang pertama yang iadekati adalah seorang Yahudi bernama Abraham.

Siapa orang Yahudi tanya Jenderal padanya dan Abraham menggigil Siapa orang Yahudi tanya Jenderal lagi dan ia menodongkan bedilnya ke kepala Abraham Aaron seorang Yahudi Aaron dan ia menunjuk Aaron yang berada di barisan kedua tempat kami berdiri. Dua tentara mencokok Aaron dan ia pun meronta-ronta sehingga mereka menembaknya pada kepala dan saat itulah aku merasakan tangan Herschel menyentuh tanganku. Lakukan seperti diperintahkan kepada kalian kata Jenderal dengan muka berkerut lewat mikrofon atau. Ia mendekati orang kedua di barisan itu, Leo, seorang temanku, dan bertanya siapa orang Yahudi dan Leo menunjuk Abraham dan ia mengatakan laki-laki itu seorang Yahudi kasihan Abraham dua tentara mengamankan Abraham ke sinagoga seorang perempuan di barisan keempat mencoba meloloskan diri dengan bayi di gendongannya tapi Jenderal meneriakkan dalam bahasa Jerman kata-kata yang paling mengerikan kasar jelek jorok jahat dan seorang tentara menembak perempuan itu pada bagian punggung kepala lalu mereka menyeretnya ke dalam sinagoga beserta si bayi yang masih hidup.

Jenderal menuju orang berikutnya pada barisan itu dan berikutnya lagi dan setiap orang menunjuk seorang Yahudi karena tak seorang pun ingin dibunuh seorang Yahudi menuding sepupunya dan seorang yang lain menuding dirinya sendiri karena ia tak ingin menuding orang lain. Mereka mengamankan Daniel ke dalam sinagoga juga Talia serta Louis dan setiap orang Yahudi ada beberapa alasan yang tak pernah kutahu mengapa Herschel tak dituding mungkin ini karena akulah satu-satunya teman Herschel dan karena ia tak senang bergaul dan karena banyak orang bahkan tak tahu bahwa ia ada akulah satu-satunya orang yang mengenalnya sehingga dapat menudingnya atau mungkin ini karena saat itu begitu gelap sehingga ia tak terlihat lagi.

 Namun ini hanya berlangsung hingga ia ia menjadi satu-satunya orang Yahudi yang tersisa di luar sinagoga Jenderal kini berada di barisan kedua dan berkata kepada seorang laki-laki sebab ia hanya bertanya pada laki-laki aku tak tahu mengapa siapa orang Yahudi dan laki-laki itu berkata mereka semua telah berada di sinagoga sebab ia tidak mengenal Herschel atau pun tahu bahwa Herschel adalah seorang Yahudi Jenderal menembak laki-laki ini pada kepalanya dan aku dapat merasakan tangan Herschel menyentuh tanganku dengan amat ringan dan aku bertekad untuk tidak memandangnya Jenderal mendatangi orang berikutnya siapa Yahudi tanyanya dan orang ini mengatakan mereka semua berada di dalam sinagoga percayalah padaku aku tak bohong bagaimana aku akan bohong engkau dapat membunuh mereka semuanya aku tak peduli tapi mohon kasihanilah aku mohon jangan bunuh aku kemudian Jenderal menembaknyapadakepala dan mengatakan aku mulai lelah karena semua ini dan ia menuju orang berikutnya pada barisan itu dan orang itu adalah aku siapa orang Yahudi tanyanya dan aku merasakan lagi tangan Herschel dan aku tahu tangannya mengatakan tolong, tolong,  Eli tolong aku tak ingin mati tolong jangan tuding aku aku takut mati aku amat takut mati.

Siapa orang Yahudi tanya Jenderal padaku lagi dan aku merasakan pada tanganku yang satu tangan Nenek dan aku tahu ia sedang menggendong ayahmu dan ayahmu menggendongmu dan engkau menggendong anakmu aku amat takut mati dan aku mengatakan ia seorang Yahudi siapa orang Yahudi tanya Jenderal dan Herschel mendekap tanganku dengan amat kuat dan ia adalah sahabatku ialah sahabat karibku aku akan memperbolehkannya mencium Anna dan bahkan bercinta dengannya tapi aku adalah aku dan isteriku adalah isteriku dan bayiku adalah bayiku mengertikah engkau apa yang kututurkan padamu aku menuding Herschel dan aku mengatakan ia seorang Yahudi orang ini Yahudi tolonglah kata Herschel padaku dan ia mengatakannya sambil menangis ini siksaan tolonglah Eli tolong dua tentara mencokoknya dan ia tak melawan tapi ia menangis lebih keras dan lebih keras lagi dan ia berteriak katakan pada mereka tak ada lagi orang Yahudi tak ada lagi orang Yahudi dan engkau hanya mengatakan bahwa aku seorang Yahudi sehingga engkau tak dibunuh aku mohon padamu Eli engkaulah temanku jangan biarkan aku mati aku amat takut mati semuanya akan baik kataku padanya semuanya akan baik jangan lakukan itu katanya lakukan,  semuanya akan baik semuanya akanbaik siapakah aku dan mengatakan itu kepada siapa lakukan sesuatu Eli aku amat takut mati kau tahu apa yang akan mereka lakukan engkau sahabatku kataku padanya meski aku tak tahu mengapa aku mengatakannya pada saat itu dan tentara menempatkannya di sinagoga bersama orang Yahudi dan orang yang tersisa berada di luar untuk mendengarkan jeritan  bayi dan jeritan  orangdewasa dan untuk melihat kilatan hitam ketika batang korek api pertama dinyalakan oleh seorang pemuda yang tak mungkin lebih tua dari aku atau Herschel pada saat itu atau engkau pada saat ini nyalanya menerangi mereka yang tidak berada di dalam sinagoga mereka yang tak akan mati dan pemuda itu melemparkannya ke ranting yang didorong ke arah sinagoga pemandangan ini begitu menyedihkan karena api itu bergerak begitu lambatnya dan bahkan padam berapa kali sehingga harus dinyalakan lagi aku memandang Nenek dan ia menciumku  pada kening dan aku menciumnya pada mulut dan air mata bercampur dibibir kami lalu aku mencium ayahmu berkali-kali aku mengambilnya dari gendongan Nenek dan aku merengkuhnya dengan begitukeras sehingga ia mulai menangis aku berkata aku mencintaimu dan aku tahu aku harus mengganti semua dan meninggalkan semua di belakang dan aku tahu aku takkan pernah dapat membiarkannya mengetahui siapakahaku atau apayangtelahkulakukan sebab bagi dialah Herschel dibunuh aku membunuh Herschel dan inilah alasan mengapa ia ada bagaimana ia ada ia adalah bagaimana ia ada karena seorang ayah selalu bertanggungjawab atas anaknya dan aku adalah aku dan aku bertanggungjawab bukan bagi Herschel tapi bagi anakku karena aku mendekapnya begitu keras karena aku begitu mencintainya maka aku membuat cinta menjadi tak mungkin dan aku bersalah padamu dan bersalah bagi Iggy dan engkaulah yang harus memaafkan aku ia mengatakan hal ini kepada kami dan Jonathan akan ke mana kita pergi sekarang apa yang akan kita lakukan dengan apa yang telah kita ketahui Kakek berkata bahwa aku adalah aku tapi ini tak mungkin benar yang benar adalah bahwa aku juga menuding Herschel dan aku pun mengatakan ia Yahudi dan kukatakan padamu engkau pun menuding Herschel dan mengatakan ia Yahudi dan tak hanya itu Kakek pun menudingku dan mengatakan ia Yahudi dan engkau juga menudingnya dan mengatakan iaYahudi dan nenekmu dan Little Igor dan kita semuanya menudingsatusamalain maka ia telah melakukan apa yang seharusnya ia lakukan ia tolol jika melakukan hal lain tapi apakah yang telah ia lakukan itu termaafkan dapatkah ia dimaafkan atas jarinya atas apa yang dilakukan jarinya atas apa yang ia tuding dan apa yang tak ia tuding atas apa yang ia sentuh sepanjang hidupnya dan apa yang tak ia sentuh sepanjang hidupnya ia tetap bersalah aku adalah aku?)
“Dan sekarang,” katanya, “kita mesti tidur.”

NB:
Everything is Illuminated merupakan novel pertama Jonathan Safran Foer (1997), seorang penulis kreatif yang juga menerbitkan cerpen-cerpennya di The Paris Review dan The New Yorker. Karya ini memenangkan The National Jewish Book Award dan The Guardian First Book 2002, serta dipuji-puji berhasil menggabungkan komedi dan tragedi, kelucuan yang mengelakkan dan kesedihan yang mencekam. 

“Hero” dalam novel ini juga bernama Jonathan Safran Foer, seorang Yahudi Amerika, kolumis dan novelis muda. Berbekal selembar foto yang sudah mulai menguning, ia pergi ke Ukraina untuk mencari Agustine yang telah menyelamatkan kakeknya dari kejaran NAZI. Ia ditemani oleh Alex Perchov dan kakeknya yang bernama Alex pula. Alex (Junior) menjadi penerjemah bagi Jonathan dan sang kakek menjadi sopir. Sementara si pemuda Yahudi membayangkan desa kakeknya dan mencari inspirasi untuk novelnya, perjalanan ini mengingatkan kakek Alex pada peristiwa serangan Nazi ke desanya, Kolki. Si kakek selamat, sehingga Alex Junior dapat terlahir ke dunia, namun hidup orang tua ini dihantui oleh rasa bersalah yang tak kunjung berakhir. Hal ini diceritakannya kepada Alex dan Jonathan dalam petikan bab berjudul “Iluminasi ”.

Dalam edisi aslinya, novel ini sering ‘mempermainkan’ bahasa Inggris dengan menampilkan ‘kesalahan’ yang dibuat oleh Alex. Permainan ini menghasilkan efek aneh dan lucu. Namun, pada bagian-bagian tragis pengarang sengaja menorobos tanda baca dan aturan penulisan. Maka, kita pun masuk dalam sebuah tuturan yang mencekam, serta tersadar betapa kita seringkali gagu ketika mesti berbicara mengenai kekejaman dan kejahatan.

0 komentar:

Poskan Komentar