Ads 468x60px

Imamku – Idolaku?


Pater Van Lith:
Lebih dari seabad yang lalu, Gereja Katolik di Jawa dirintis oleh Romo Fransiskus Van Lith di daerah Kalibawang. Van Lith juga yang membaptis umat Katolik Jawa yang pertama tanggal 14 Desember 1904 di daerah Sendangsono. Peristiwa baptisan Katolik ini, diakui sebagai tanda kehadiran Gereja Katolik di daerah Jawa. Van Lith sambil belajar bahasa dan budaya jawa, dengan jubah hitamnya selalu bersepeda dan berkunjung ke rumah anak-anak didiknya. Ia mendirikan sekolah dan asrama guru (Kweekschool) di Muntilan (Betlehem Van Java): bukan untuk semata membabtis orang, tapi untuk membentuk rasul-rasul awam yang tangguh. Ia tidak ambil pusing berapa banyak yang bisa dibabtis, ia hanya ingin mewartakan injil seluas dunia. Tahukah anda bahwa figur Van Lith inilah yang membuat banyak orang Belanda ingin menjadi imam dan bermisi di Jawa, seperti yang dikatakan seorang profesor teologi dari Belanda, yang lama tinggal di Yogyakarta, (alm) Tom Jacobs, SJ

Romo Mangun: 
Saya ingin membayar utang kepada rakyat... Inilah ungkapan “si Burung Manyar”, Romo Mangun dalam sebuah wawancara dengan MATRA.” . Atas peristiwa ini, Michael Bodden berkomentar, “Setelah revolusi, Mangunwijaya memutuskan untuk mengabdikan dirinya pada upaya melunasi utang angkatan perang pada rakyat Indonesia atas dukungan dan pengorbanan mereka. namun, karena keinginan untuk menghindari korupsi moral dan spiritual, ia memutuskan untuk menjadi seorang pastor untuk melunasi utangnya sebagai seorang individu yang bebas dari kebutuhan mengejar kekuasaan dan uang.” Selama hidupnya, Romo Mangun memang banyak terlibat dalam ruwet-renteng persoalan dalam masyarakatnya. Ia berkiprah di banyak tempat demi hidup masyarakat yang lebih baik. Pengalaman hidupnya di Code, Gigrak, Gunungkidul, Kedungombo, Boyolali mengungkapkan betapa ia punya HATI terhadap aneka persoalan kemanusiaan. Tentang perjuangan Romo Mangun ini, Julius Kardinal Darmaatmaja. menuliskan: “Cinta dan perhatian beliau kepada kaum papa dan terhadap masalah kemanusiaan seluas kemanusiaan itu sendiri. Inilah yang menyebabkan beliau tak terkurung oleh sekat perbedaan agama, suku, dan budaya. Inilah yang membuat beliau berjuang melawan ketidakadilan bagi siapapun, inilah yang menjadi dasar dan kekuatan bagi perjuangan beliau di hampir segala bidang kehidupan.” 
Di lain segi, sebagai warga Gereja, Romo Mangun kerap lantang menyerukan suara kemanusiaannya juga: “Setiap rohaniwan gereja Katolik (yang notabene terkenal sebagai agama yang kaya raya dan kaya kuasa) sedikit banyak telah “terperangkap” dalam suatu sistem yang memang memberinya kesempatan dan fasilitas besar untuk memberi kepada kaum miskin, tetapi sangat menghalangi dia untuk menjadi kaum miskin.” 

Mgr.Soegijapranata:
Kesadaran berpolitik yang dipunyai oleh Romo Mangun ternyata dipelajari dari sosok yang dikaguminya, yaitu, Mgr. Albertus Soegijapranata. Dalam sebuah wawancara, Romo Mangun pernah mengungkapkan bahwa Soegijapranata adalah gurunya. Ia mengungkapkan, “Kalau harus menyebut guru-guru saya yang berpengaruh, nama pertama yang saya sebut adalah Soegijapranata. Saya jadi begini, antara lain, juga oleh hikmah-hikmah pelajaran yang saya terima dari beliau.” 
Soegijapranata adalah seorang imam dan uskup pribumi pertama yang hidup dalam masa revolusi kemerdekaan. Beliau kemudian diangkat sebagai pemimpin Gereja Katolik untuk wilayah Semarang pada tahun 1940. Situasi negara yang sedang bergolak saat itu menuntutnya untuk tidak hanya melakukan kegiatan seputar altar, tetapi juga memberikan sumbangan bagi kehidupan bersama masyarakat. Keterlibatannya dalam situasi negara ditunjukkan dengan kemauannya mengikuti gerak perjuangan bangsa Indonesia saat itu. Rm Mangun memandang bahwa Mgr. Soegija adalah seorang Gerejawan besar . Uskup yang terkenal dengan aksioma: 100 % Katolik dan 100 % Indonesia, kerap dijuluki: “Bung Karno-nya Gereja Indonesia”. “Saya tidak dapat menggambarkan bagaimana akan jadinya Gereja Katolik Indonesia seandainya dulu Mgr. A. Soegijapranata tidak ada.” 

Menggagas Praktek: Sebuah Otokritik?
Ada sebuah film "Sleepers", sebuah film yang bertutur tentang persahabatan seorang romo paroki, Father Bobby (Robert de Niro), bersama anak-anak misdinarnya di New York’s Hell’s Kitchen. Romo ini kerap bermain basket, berkunjung dan sesekali mentraktir misdinarnya. Romo ini juga mempunyai perHATIan dengan problem yang dihadapi misdinar dan keluarganya. Dan, ketika ke-4 anak misdinarnya di penjara, si romo ini setia berkunjung, membawa oleh-oleh dan mendengarkan pengakuan dosa. Bahkan, si romo membela mereka di depan pengadilan, karena tuduhan yang tidak benar. Karena sikapnya ini, sang romo Bobby ini terus diingat oleh ke-4 anak misdinar itu sampai tua. 

Ya, seperti bunyi iklan Pro-XL, Van Lith, Romo Mangun, Mgr. Soegija dan juga Father Bobby ini ‘tak hanya bicara’. Mereka berkotbah lewat hidupnya. Lewat basket, ice cream, aksi nyata dan option for the poor, mereka mewartakan injil. Mereka menyebarkan kegembiraan dan kedamaian lewat keseharian yang bersahaja. Figur seorang gembala yang sungguh mengenal domba-dombanya. Maka, tepatlah pepatah latin, “Verba Movent, Exempla Trahunt, kata-kata menguap, teladan hidup abadi dan berkesan”. Kita semua, khususnya para pastor sendiri diajak untuk menjadi teladan yang hidup bagi tumbuh mekarnya panggilan khusus dalam benak orang muda kita ini. Demikianlah umpan telah dilempar ke air, adakah ikan akan terpancing, ataukah hanya sekedar gelombang kecil yang menyebar dari jatuhnya umpan itu?



Ite Missa Est.

Misi berarti meninggalkan, pergi, 
Melepas segala sesuatu, keluar dari diri sendiri,
Memecah dinding keegoisan
Yang memenjarakan kita
Dalam ke”AKU”an

Misi berarti berhenti berkisar pada diri sendiri
Seolah-olah kita adalah pusat dunia dan kehidupan
Misi berarti menolak terikat pada masalah dunia yang kecil
Dimana kita termasuk di dalamnya, 
Kemanusiaan itu jauh lebih besar.

Misi selalu berarti meninggalkan, 
Tetapi tidak selalu mengadakan perjalanan

Di atas semua itu, 
Misi berarti membuka diri sendiri bagi sesama, 
Sebagai saudara dan saudari, 
Menemukan mereka, 
Menjumpai mereka.

Dan jika, untuk menemukan mereka, dan mencintai mereka,
Perlu menyeberangi lautan dan terbang mengarungi cakrawala, Maka misi berarti 
Pergi sampai ke ujung dunia.

0 komentar:

Poskan Komentar