Ads 468x60px

" R E Q U I E M " - Sebuah Permenungan Tentang Kematian -




Sendiri Berjalan
Jalan setapak itu tidak tampak
Semua kabur semua kelam
Hanya cerita hanya bayangan
Tidak ada petunjuk arah
Tidak ada peta
Tidak ada bimbingan
Tidak ada pelatihan
Bahkan jalan itu benar ada...?!
Tidak seorang pernah tahu

Saat itu datang,
Tidak ada pilihan selain melangkah
Sendiri dalam gelap
Sendiri dalam terang
Sendiri dalam perjalanan
Yang tak mungkin dielakkan

Kau atau aku....
dia atau mereka...
tak seorang pernah tahu

The Last Missing Piece
Like making a puzzle
One lives from day to day
Each piece marks a new step in one’s journey

Like making a puzzle...
One has to imagine the blurry future
Each new found piece
Adds new excitement in one’s heart

As days go by
Years roll in a certain circle
The puzzle will show itself more and more
the picture reveals itself piece by piece

Just like a puzzle....
One’s life will not be complete
Without the last missing piece
To fill in ...
To make a perfect picture
To show its beauty
To reveal its purpose
To make one’s life worth to fight for
But also..
To put one signature
The sign of a happy ending

Just like a puzzle....
Death is the last missing piece
........one will find at the end of the journey

Lukisan Kehidupan
Memandang kematian bukanlah hal yang ada dalam agenda kegiatan yang direncanakan secara matang. Mendengarnyapun kadang membuat telinga serasa pekak, hati serasa beku. Tapi itulah kematian, selalu datang dan tak terelakkan. Tidak memilih, tidak menolak, tidak mempan sogokan, tidak mengenal nepotisme, tidak terima cicilan.

Bukankah hidup memang berjalan dalam lingkaran?, sebentar kita tertawa karena lahirnya anggota baru, naiknya jabatan, bertambahnya simpanan, tapi sebentar kemudian kita menangis, hilangnya satu anggota, lenyapnya simpanan, sia-sia semua pengorbanan. Kematian tidak berjalan dalam lingkaran, melainkan membawa kita ke titik yang tertinggi, yang tidak pernah kita capai dalam hidup, kematian membuat hidup menjadi sempurna, bayangkan..saat seseorang meninggal, semua kaum kerabat berlomba-lomba mengucapkan kata-kata indah tentang kesempurnaan orang yang telah meninggal itu selama hidupnya. Bukankah tanpa kematian, kesempurnaan itu tidak pernah terungkap?

Pandanglah kematian seperti permainan puzzle, setiap hari keping demi keping niloi-nilai hidup kita masukkan, keping demi keping warna-warni kehidupan kita lengkapi, sampai akhirnya kepingan itu tinggal beberapa potong lagi, dan permainan menjadi semakin lambat dan menegangkan....karena kita ditarik pada dua kutub, keinginan untuk segera menemukan kepingan terakhir yang berarti akhir dari permainan yang mengasyikkan, dan keinginan untuk terus bermain dan menendang jauh kepingan terakhir ke kolong ranjang, sehingga tak terlihat. Pada akhirnya, gambar pada puzzle itu tidak pernah menjadi sempurna, ada bolongan di tengah, menganga tepat di bagian dimana seharusnya terlukis bunga bakung yang indah, akankah kita membingkai lukisan puzzle bolong itu? Tuhan di surga pun tidak akan rela jika kanvas kehidupan kita bolong di tengahnya, hanya karena kita takut untuk melangkah ke titik yang tertinggi itu. 

Pandanglah kematian sebagai sahabat yang datang berkunjung, membawa kepingan terakhir dari puzzle kita, setelah gambar itu sempurna, sahabat kita membingkainya, membungkusnya dengan kertas kado yang indah, meletakkannya di tas punggung kita. Bersamanya kita berjalan....membawa lukisan kehidupan kita, menghadap kepada sang sumber kehidupan itu sendiri.
MelihatNya tersenyum, karena kita telah melukis kehidupan kita dengan sempurna, ada jurang yang dalam, tapi ada juga gunung yang tinggi menjulang, ada lumpur di sawah, tapi ada padi menguning di atasnya, ada batu-batu kerikil tajam di jalanan terhampar, tapi ada batu permata di bawah bantal, ada bunga bangkai di hutan, tapi ada bunga bakung indah di taman. Semua sempurna, maka Ia pun akan mengundang kita untuk masuk ke rumahNya, membiarkan kita memilih tempat untuk menggantungkan lukisan kehidupan kita. Bukankah itu menyenangkan?



Yang Meninggalkan atau Yang Tertinggal
Mungkin masih sering kita mendengar lagu indah, lagu lama yang kemudian dilambungkan kembali oleh salah satu diva. Bait-bait awalnya kurang lebih demikian...

Terlalu indah dilupakan
Terlalu sedih dikenangkan
Semenjak aku jauh berjalan
Dan kau...kutinggalkan
Betapa hatiku bersedih
Mengenang kasih dan sayangmu
Setulus pesanmu kepadaku
Engkau kan menunggu

Bait-bait berikutnya agak kurang cocok untuk cerita kita yang bagian ini. Setiap kali mendengar lagu itu, batinku selalu bertanya, sebenarnya di saat perpisahan, yang lebih sedih itu siapa sih? Yang meninggalkan atau yang ditinggalkan? Pasti semua berlomba-lomba mengacungkan jari, yang lagi patah hati karena ditinggal kawin oleh pacarnya, pasti langsung bilang..yang ditinggalkan dong yang paling sedih. Yang lain dengan sumringah berkata, yang meninggalkan dong yang sedih, meninggalkan kursi empuk, meninggalkan selingkuhan yang aduhai, meninggalkan harta, ah..pokoknya sedih deh....

Sebenarnya aku gak mau bicara itu kok. Lho...lantas ngapain nanya-nanya segala?. Yah...namanya juga iseng, malem-malem gini, gak bisa tidur, pikiran melayang....jadi terbayang-bayang wajah-wajah arif yang murah senyum, yang sekarang sudah tak terlihat lagi, yang sudah habis masa berlaku Ijin tinggal nya di bumi ini.

Saat menemani ayahku sakit beberapa tahun yang lalu, dan saat memandang nya semakin memudar dari hari ke hari, aku teringat pertanyaan seorang sahabat, Sebenarnya yang lebih menderita si sakit atau si penunggu ya?. Saat itu aku merasa tidak adil jika aku bilang ayahku yang menderita, aku sih fine-fine aja, atau sebaliknya. Karena sebenarnya kita sama-sama menderita. 
Melihatnya menghembuskan nafasnya yang terakhir, ada sedikit perasaan lega bahwa dia telah terbebas dari belenggu sakitnya, tapi perasaan terluka, perasaan sepi, perasaan ditinggalkan, berkecamuk di dada ini, saling mendahului untuk naik ke permukaan. 

Bukanlah saat yang mudah untuk menjadi tegar dan menjadi pundak yang menopang seorang ibu yang tidak lagi muda, sementara hatiku sendiri tidak pernah secara tuntas menerima dan mengamini setiap perasaan yang muncul. Sampai akhirnya lagu ini muncul kembali, membuat aku duduk diam, membiarkan airmataku terkuras, orang yang melihat mengira aku baru patah hati. Ya....memang hati ini terluka, tapi bait di lagu ini membuat aku membayangkan ayahku, ayah-ayah orang lain, atau siapa saja yang sudah meninggal, mereka berjalan sendirian...benar-benar sendirian, mungkin nyasar-nyasar atau kecemplung ke dalam got, atau diseruduk babi binal, kita gak tahu dan kita gak bisa menolong. Karena jalan yang mereka tempuh sungguh berbeda dari jalan tol kita yang macet padet merayap, tapi ada juga kesamaannya, jalan mereka gak ada tanda-tandanya, jalanan kita juga gak ada namanya lo....tapi paling tidak kita bisa nanya kiri kanan....mereka tidak. Totally alone.

Mungkin saat itu mereka melihat kita di bawah sini....menangis....meratap. Mungkin mereka saat itu juga merasakan hal yang sama, pedih berpisah dari kita, merasa bersalah karena meninggalkan kita melolong –lolong dalam ratap tangis. Mungkin mereka juga membisikkan kata-kata hiburan, tapi kita tidak bisa lagi mendengarnya. Mungkin mereka mengelus rambut kita, mengatakan betapa mereka berterima kasih atas kasih dan sayang kita selama ini, tapi kita terlalu egois...terlalu sedih untuk dihibur, terlalu kaku untuk dipeluk. Bahkan kita sering membayangkan..ah seandainya dulu saya lakukan ini, lakukan itu,pasti dia tidak akan secepat itu pergi.... Mungkin di saat yang sama, mereka juga berandai, seandainya aku masih diberi kesempatan 1 hari lagi, aku akan mengatakan I love you seribu satu kali pada anak-anakku, pada pasanganku...

Lagu ini sekarang berlanjut..
Andaikan kau datang kembali
Jawaban apa yang kan kuberi
Adakah kau temui
Jalan kita...tuk kembali lagi

Terus terang aku sih takut kalau sekonyong-konyong pintu kamarku diketuk, dan waktu kubuka, ayahku tersenyum di hadapanku dan dengan diiringi tawanya yang khas, berkata “I am back...” Makanya jangan suka berandai-andai.

Tapi kadang aku merenung, seandainya ayahku datang kembali, apa yang akan kukatakan, dan apa yang akan dia katakan?. Rupanya pertanyaan ini membawa aku kepada keheningan yang mendalam. Bagaimana aku menjalani hidupku selama ini, apakah aku telah membuat dia di atas sana tersenyum bangga? Atau dia menjadi malu dan terpaksa menyembunyikan mukanya dari tertawaan malaikat-malaikat iseng? Jika dia saja menjadi malu, bagaimana dengan sang sumber kasih itu sendiri? Pasti Dia lebih malu. Atau jika dia menjadi bangga, pastilah sang sumber kasih itu pun akan tersenyum bahagia. Betapa aku membayangkan, seandainya benar dia datang kembali, dia akan memelukku erat, dan kemudian mengajakku duduk di taman, seperti waktu aku kecil dulu, dan mulai membacakan sebuah buku cerita untukku. Tapi bukan lagi cerita tentang si Upik Abu atau si Pinnochio, tapi cerita tentang diriku. Dia akan tertawa bersamaku, menangis bersamaku, dan pasti dia akan menawarkan dadanya untuk kuletakkan kepalaku, menyandar kelelahan atas semua beban hidup yang tak mampu kutanggung sejak dia pergi. Mungkin dia akan berkata seperti dulu dia selalu katakan “Don’t worry, I will make everything well again”. Mungkin dia akan mengecup luka di lututku karena aku sering terjatuh, tapi yang jelas, dia tidak akan membuat aku khawatir lagi karena penyakitnya, dia tidak akan membuat aku melek bermalam-malam karena deritanya. Dia akan tersenyum karena dia bahagia, dan dia akan terus membacakan cerita tentang kehidupanku sampai aku terlelap di pelukannya.

Menyadari begitu banyak keindahan yang dia ajarkan selama dia hidup, aku tahu bahwa aku memang harus membagikan renungan ini kepada kamu, orang yang aku cintai, karena ayahmu pun pasti akan melakukan sama seperti ayahku, seandainya dia datang kembali.

Lanjuuut....

Bersinarlah bulan purnama
Setulus seindah cintanya
Bersinarlah terus sampai nanti
Lagu ini...kuakhiri.....

Aku selaliu kagum dengan bulan purnama, sering aku berbicara pada bulan di saat aku sepi, dulu ayahku sering bilang sebelum dia pergi jauh.”Besok malam pandanglah ke langit, pandanglah bulan yang bulat, pada saat yang sama, ayah akan memandang bulan yang sama. Maka kita akan merasa dekat, kamu tidak akan kesepian”

Sekarangpun aku yakin, dia dan teman-temannya di atas sana pasti sering memandangi wajahnya bulan, dan berbisik kepada kita yang tertinggal atau ditinggalkan ini, “Pandanglan bulan, akupun sedang memandangnya”.

Jadi...siapa yang lebih sedih....? loh kok nanya lagi.... 
Rasanya setelah merenung-renung seperti di atas, gak ada lagi yang perlu disedihin... dan cerita ini memang perlu diakhiri, karena lagunya juga sudah berakhir tuh.....
Requescat in pace..

0 komentar:

Poskan Komentar