Ads 468x60px

Allah, Alam dan Peng’alam’an akan Allah - Sebuah Potret Dialektika

1. Prolog: Alam, Sebuah Kebutuhan Dasariah
Setiap saat, mungkin banyak hati kita yang sedih-perih, karena hampir selalu ada berita tentang kerusakan lingkungan hidup di nusantara. Segarnya alam Indonesia: indah-bestarinya flora dan genit-manjanya fauna, hijaunya bukit dan lembah yang masih perawan-permai, berganti dengan rentengan krisis lingkungan. Bumi Indonesia makin panas terbakar kecanggihan zaman. Sepertinya, tak ada batas lagi bagi manusia dalam menguras kekayaan alam. Pesatnya pertambahan penduduk, terbatasnya sumber daya alam, meluasnya penerapan teknologi modern (yang kerap bersifat polutif-eksploitatif terhadap alam), mengakibatkan semakin merosotnya kualitas lingkungan hidup. Bumi makin ruwet: udara-sungai-laut pun atmosfer makin kotor, rusak-teracuni. Pengurasan sumber alam dan mineral, perusakan dan pengotoran lingkungan-yang menghasilkan ketidakseimbangan ekosistem - merupakan persoalan serius yang sedang dan akan terus menyibukkan umat manusia. 
Dari bingkai historis, pelbagai problema lingkungan hidup yang muncul seperti di atas, bukan suatu hal baru. Sudah sejak zaman Yunani kuno ada sejumlah orang yang tertarik pada pelbagai masalah alam. Mereka dikenal sebagai “filsuf pertama”, yaitu: Thales, Anaximandros, serta Anaximenes. Atas pelbagai perubahan yang kerap terjadi di alam, mereka berusaha mencari jawabannya bukan secara mistis atau magis, tetapi secara rasional. Tiga pandangan mereka, yakni: Alam semesta merupakan keseluruhan yang bersatu (maka harus diterangkan dengan satu prinsip saja); Alam semesta dikuasai suatu hukum (maka pelbagai kejadian alam tidak terjadi begitu saja, tapi ada sebabnya); dan alam semesta adalah suatu kosmos (artinya dunia yang bersatu).

Dalam era globalisasi kini, permasalahan ekologi makin kompleks. Banyak faktor yang menjadi causa prima-nya, bahkan faktor itu tidak terlihat secara jelas. Alam semesta yang dalam pemikiran Yunani kuno merupakan suatu cosmos kini telah menjadi chaos. Dalam pemikiran Yunani kuno, pelbagai kejadian alam, perubahan dan masalah yang terjadi disekitar alam semesta mempunyai sebabnya sendiri. Demikian halnya, krisis ekologi yang makin merumit di tengah dunia modern ini mempunyai akar penyebabnya juga. Pelbagai krisis itu tak hanya menggejala, melainkan juga hakiki, semenjak manusia tak lagi menguasai teknologi, namun terkesan dikuasai oleh teknologi. 

Suatu kisah lama…., mungkin kita spontan tersentak ketika mendengar bahwa di Pantai Parangtritis, Bantul-Yogyakarta sudah diterima proposal untuk pembangunan mega proyek seluas 203,6 hektar yang menelan biaya hampir 100 milyar rupiah. Dari segi keuntungan yang diterima Pemda, konon kabarnya proyek raksasa itu sangat menjanjikan. Tapi bagaimana dari sudut ekologi? Banyak pihak resah, proyek itu akan merusak keaslian alamnya. Lebih dari itu, hal ini akan menghancurkan gumuk pasir (sand dune), yang sekarang dijadikan laboratorium alam. 
Sebuah kisah lain dari lokasi pertambangan Freeport, Papua. Dari segi keuntungan, tentu perusahaan yang berinduk di negeri Paman Sam itu tidak hanya menambang tembaga, perak dan emas, tapi juga dolar. Namun bagaimana dengan ekosistem disana? Sudah banyak keluhan bahwa di sana terjadi banyak perusakan alam besar-besaran. Konsesi 50 tahun yang diperoleh Freeport dengan lahan 1,3 hektar itu menguras dan merusak kekayaan alam kita. Belum lagi, limbah atau sisa hasil pertambangan yang dibuang begitu saja melalui sungai-sungai ke dataran rendah di kawasan Timika. Kini, yang tertinggal adalah lubang-lubang besar bekas penggalian.

Cerita lainnya: Perjanjian internasional untuk melindungi atmosfer dan keanekaan hayati tidak terealisasi, jumlah penduduk dunia bertambah terus dan lebih dari satu milyar orang tidak bisa memberi makan diri sendiri (Kompas, 13 Januari 1997). Menurut Patricia Martinerie dari Environmental Geophysiscs and Glaciology Laboratorium (LGGE) di Grenoble: emisi gas CO2 meningkat terus karena peningkatan kegiatan manusia yang menggunakan bahan bakar fosil (Kompas, 26 Desember 1996). Sampai sekarang, khususnya di kota-kota besar, asap kendaraan bermotor, asap pabrik dan lain-lain telah menimbulkan polusi yang semakin tebal. Penyaring polusi yang berupa hijau dedaunan telah semakin menipis seiring dengan semakin rusaknya hutan di dunia. Lobang ozon juga semakin luas (Bdk. Tahun 1995, lobang ozon di atas Antartika telah mencapai 20 juta km2 atau sekitar 2 kali benua Eropa. Selain itu masih banyak lagi kehancuran ekositem di bumi ini yang semakin memperburuk lingkungan hidup kita.

Gambaran di atas menunjukkan betapa kepentingan manusia secara ekonomis tidak seimbang dengan lingkungan hidup. Dalam kehidupan rumah tangga, hal ini bisa diidentikkan dengan pepatah ‘besar pasak dari pada tiang’. Pelbagai macam cerita nyata ini, kiranya menunjukkan betapa perusakan alam di dunia memang sudah keterlaluan. Siapa tahu, ketika guruh dan petir menyambar-nyambar, mungkin saja saat itu, Tuhan dan penghuni surga lainnya sedang terbatuk-batuk terkena polusi! Tampak jelas, relasi manusia dengan bumi, antarmanusia, dan Allah saling terkait. 
Untuk pemekaran komunitas manusia di bumi, semua relasi tersebut harus dipikirkan kembali secara bersama dalam visi holistik. Kita hendak membahas problem ini dalam tiga tahap. Pertama, situasi ekologi sekarang pada konteks lokal. Kedua, Pemetaan pemahaman bahwa kerinduan akan Allah mendorong banyak orang kembali ke alam: Kembali ke alam berarti juga kembali kepada Allah. Ketiga, perlunya sebuah gerakan universal dan peran agama terhadap kompleksitas permasalahan ekologi.


2. Mengartikan Peng’alam’an: Bicara dari Konteks Lokal
Penghancuran ekologi ini nampak bergerak dalam tempo lambat jika kita menghitungnya saat demi saat. Namun, penghancuran ekologi itu sesungguhnya bergerak dalam tempo cepat. Bumi sebagai habitat kehidupan berada dalam bahaya karena kerusakan atmosfer, penebangan hutan, polusi laut, kekacauan ekosistem, perusakan habitat, pemusnahan spesies, hilangnya keanekaragaman hayati, ledakan penduduk, pengurasan sumber-sumber daya alam, dan pelipatgandaan nuklir. Waktu yang ada pada kita pendek karena sistem yang mendukung kehidupan memburuk. Kecuali mengadakan transformasi radikal, kehidupan kita dan generasi manusia mendatang juga sejumlah besar ciptaan hidup, akan berkurang secara sia-sia bahkan menghilang.

Indonesia (dengan 210 juta penduduk, yang 60 persennya tinggal di wilayah pesisir, memiliki sekitar 17.500 pulau), memang negara kepulauan terbesar di dunia (dan paru-paru dunia). Bila diukur, panjang pantai di wilayah Indonesia kurang lebih 81 ribu kilometer. Lautannya, yang luasnya kurang lebih 5,8 juta kilometer persegi, merupakan 70 persen dari luas Indonesia-sisanya daratan. Indonesia dikenal kaya dengan jenis kehidupan laut, hutan bakau dan hutan terumbu karang. Namun, kabar buruk kerap menampar wajah Indonesia. 

Sebagai contoh, dalam simposium Internasional terumbu karang di kawasan Nusadua, Bali, sebagian besar terumbu karang di Indonesia dinyatakan rusak. Hanya tinggal 6 persen dari keseluruhan terumbu karang seluas 65 ribu kilometer persegi-terluas di dunia-yang berada dalam kondisi bagus. Bentuk pencemaran lain, juga terjadi di banyak daerah lain. Misalnya, hilangnya sebagian hutan bakau di pulau Bali dan pencemaran sampah di sekitar Taman Nasional Bunaken, Sulawesi Utara. Soal kerusakan terumbu karang hanya salah satu persoalan pencemaran laut dan pesisir Indonesia. Soal lain, kegiatan konvensi lahan pesisir menjadi lahan persawahan dan tambak, serta penebangan hutan bakau dijadikan potongan kayu. 

Sebagian dari kita mungkin pernah berharap adanya program Langit Biru dan program Laut Biru, atau intinya program pembersihan alam, seperti yang mungkin terjadi di Kepulauan Seribu. Kita bersama-sama membersihkan sampah-sampah yang berserakan di pulau dan juga pantai serta di dalam laut. Bukan cuma sepatu bekas atau ban bekas seperti di cerita-cerita kebanyakan, tapi juga semua sampah, karena terumbu karang dan ikan-ikan pasti tidak menyukai sampah-sampah itu. Sebab, bukannya jadi rumah atau hiburan buat mereka, tapi justru jadi penghambat ruang gerak mereka, dan bahkan mungkin meracuni mereka. Menyedihkan dan memalukan. 

Dari fakta di daratan dan lautan Indonesia ini, kita bisa belajar dari sebuah film nyata: “In Grave Danger of Falling Food”. Film berdurasi 50 menit ini, mendokumentasikan bagaimana Bill Mollison berjuang untuk melestarikan alam. Bill Mollison adalah seorang pencinta lingkungan hidup yang berasal dari Stanley, Tasmania. Dulu, dia adalah seorang penebang hutan profesional, tapi pada tahun 1972, ia ‘bertobat’. Dia tinggal di hutan selama beberapa tahun. Setelah memperoleh banyak inspirasi, ia terjun ke tengah masyarakat untuk menyelamatkan dunia. Ia mengadakan kampanye tentang permaculture. “Kita bisa belajar banyak dari hutan. Hutan mengandung banyak kebijaksanaan. Kalau kita kehilangan semua universitas, kita tidak kehilangan apa-apa, tapi kalau kita sampai kehilangan hutan, kita kehilangan hidup”, katanya. Tahun 1982, ia mendapat Alternative Nobel Prize di Melbourne.


3. Back to Nature: Back to God!!! 
“Jika kulihat langitMu, buatan jariMu, 
bulan dan bintang-bintang yang Kau tempatkan, 
Apakah manusia sehingga Engkau mengingatnya? 
Apakah manusia sehingga Engkau mengindahkannya?“ (Mazmur 8:6-7). 

Saya tidak tahu apa reaksi si pemazmur, seandainya ia menatap lubang ozon yang makin mengangga, sehingga terbunuhlah banyak jenis kehidupan di bumi. Seandainya ia menatap danau Victoria yang indah, namun dipenuhi dengan mayat suku Tutsi dari Rwanda. Seandainya ia menatap sungai Kanal, Sunter, Jakarta yang tercemar berat dan pernah menjadi ajang meninggalnya sebagian besar penumpang metromini yang tercebur ke dalamnya. Seandainya ia melihat banyak hutan dan gunung di bumi nusantara kita sekarang menjadi gundul tak hijau lagi. Seandainya ia melihat betapa sampah dan limbah memenuhi permukaan bumi ini. Seandainya ia melihat banyak ikan di Muara Karang mati karena keracunan limbah kimia. Apakah ia akan mampu langsung mendaraskan mazmurnya kepada Alah?

Setiap dari kita, kini banyak mencandra pelbagai fenomen tentang bumi yang sedang sakit dan menjerit. Tangan kitalah yang membuatnya begini. Masihkah kita merasa sebagai ciptaan yang hampir setara dengan Allah dan telah dimahkotai hormat - kemuliaan? Apakah kita punya sikap sebagaimana Allah bersikap terhadap alam ciptaannya? 

Dalam sejarah spiritualitas agama-agama, ada suatu warisan yang sangat memanusiawikan alam. Dia adalah Fransiskus dari Asisi. Bulan disapanya sebagai saudari, burung sebagai saudara (Bdk: Gita Sang Surya-sebuah maha karya yang digubah dua bulan sebelum wafatnya, Agustus 1226). Sejumlah legenda dari abad ke-13 berkisah: pertemuan akrab Fransiskus dengan serigala ganas di Gubio mendatangkan damai, kelinci tak lagi merasa kikuk, keluarga burung asyik-genit mendengarkannya. Dalam pertemuan dengan Fransiskus, alam menemukan diri dan keberadaannya. Warna ini kiranya tak bisa dilepaskan dari keadaan alam di kampungnya. Hal ini sangat mungkin muncul karena pengalaman transparansi (tinarbuka) berhadapan dengan alam yang indah: gunung-gunung, jalan yang berkelak-kelok seperti ular gurun, tanah datar yang menghampar seperti karpet Persia, dan sebagainya. Tidaklah mengherankan di tahun 1986, kota Asisi dipilih sebagai tempat perjumpaan orang dari pelbagai agama. 

Sekarang, kita bisa bertanya: Bagaimana reaksinya, kalau si Fransiskus ini masih hidup pada zaman sekarang, pada saat dimana manusia dipusingkan oleh alam yang dirobek-robek oleh teknologi - hasil karyanya sendiri? Bagaimana menjamin supaya tak akan ada negara yang ‘ngawur’ seperti Irak yang pernah memuntahkan minyaknya ke lautan? Bagaimana menjamin supaya betonisasi di Pulau Jawa ini terkendali? 

Di tengah krisis ekologis sekarang ini, visi dunia alam sebagai sakramen kemuliaan Allah memberikan motivasi kepada setiap pribadi untuk meluaskan model keadilan ini untuk menjangkau seluruh bumi. Jika kemuliaan kreatif Allah meresapi seluruh dunia yang adalah sakramen kesuburan dan keindahan ilahi, maka penyalahgunaan ekologi yang melemahkan atau merusakan pemekaran bumi itu berlawanan dengan maksud Allah. Sikap mementingkan diri, rakus, tak bertanggung jawab, dan pengabaian yang merupakan pemiskinan alam perlu dihadapi baik secara konkret maupun struktural. Preferential option for the poor harus mencakup spesies yang mudah terserang, lemah, tak bersuara, non-manusia, dan dunia alam sendiri yang telah dirusakkan.

Umat manusia dirajut ke dalam tenunan planet kehidupan. Tidak ada komunitas manusia tanpa bumi, tanah, udara, air, dan spesies hidup lainnya. Menyampahkan dunia memiliki konsekuensi mengerikan bagi kesejahteran generasi manusia sekarang dan masa depan, juga merupakan praktek tak bertanggung jawab antargenerasi. Degradasi pada bumi juga terajut erat dengan ketidakadilan sosial di antara umat manusia, karena yang menanggung pukulan berat dari eksploitasi tanah, sumber-sumber daya, dan kerja mereka sendiri untuk manfaat negara-negara kaya, industri adalah orang miskin. Faktanya, struktur-struktur dominasi sosial itu utama dalam eksploitasi bumi. Namun mendegradasikan ekosistem planet juga memiliki signifikansi melampaui kerusakan yang dihasilkan manusia. Dunia merupakan hasil jutaan tahun proses kreatif yang masih berlangsung. Mencederai atau merusak alam berarti menjepit masa depannya.

Sebagai ciptaan Allah dan umat beragama, alam merupakan misteri yang berbicara tentang rahasia Allah. Misteri itu bukanlah sesuatu yang angker, tapi adalah saudara. Seseorang tidak akan mengeksploitasikan apa yang diakuinya sebagai ciptaan Tuhan yang penuh rahasia. Seorang tidak akan menuangkan cairan beracun ke dalam sungai bila sungai itu diakuinya sebagai saudarinya, atau menuang sampah ke jalanan, kalau tanah dihormati sebagai ibunya. Dalam alam, orang mengalami ketenangan, kedamaian, kesejukan, dan semuanya itu berasal dari Allah sendiri. Maka, alam telah menjadi media pewahyuan Allah kepada manusia dan sebaliknya menjadi sarana manusia untuk sampai pada Allah. Kerinduan akan Allah mendorong banyak orang kembali ke alam: Kembali ke alam berarti juga kembali kepada Allah. 



4. Gerakan Universal: Sebuah Keterlibatan
Jose Antonio Lutzenberger, mantan Menteri Lingkungan Brasil, pernah mengatakan: “Masyarakat industrial modern bagaikan suatu agama yang fanatik, yang sedang menghancurkan, meracuni, membinasakan seluruh sistem kehidupan di atas planet... Kita bertindak seakan-akan kita adalah generasi terakhir di planet ini. Tanpa perubahan radikal di dalam hati, pikiran, visi, maka bumi ini akan berakhir seperti halnya Venus, hangus dan mati.” 

Sepenggal kisah nostalgia, waktu saya masih getol aktif di Pencinta Alam sebuah sekolah negeri di pinggiran Jakarta, saya ikuti banyak kegiatan back to nature: camping/berkemah, caving/menyusuri gua bawah tanah, hiking/mendaki gunung, climbing-rapeling/naik-turun tebing, diving/menyelam di pantai, taman laut dan outward bound sambil melantunkan lagu-lagu pembebasan ala Joan Baez, Bob Dylan pun Iwan Fals bersama rekan muda. Dari antara kegiatan tersebut, yang paling kami gandrungi adalah jalan-jalan di gunung atau bukit yang sunyi-indah. Di sana, kami bisa duduk, lalu melihat dan mendengar (lebih daripada apa yang dapat dilihat dan didengar oleh mata dan telinga kami yang biasa). 

Dengan kata lain, alam adalah liber naturae, yang berarti kami menemukan tanda tangan serta tulisan Allah dalam alam. Atau bahasanya Soe Hok Gie: ’Gunung adalah tempat belajar, hanya dipuncak gunung, aku merasa bersih’. 
“….Dari puncak gunung Merapi yang tingginya 1959 meter, kita bisa melihat pemandangan yang susah disebutkan dengan kata-kata. Keajaiban alam! Kawah Merapi mengeluarkan asap tak henti-henti, lalu tampak pula gunung-gunung lain, seperti gungung Merbabu, gunung Lawu, dan gunung Sindoro-Sumbing. Hamparan hijau di bawah serta pemandangan kota Magelang dan Boyolali bisa juga dilihat dari sini. dinginnya yang 5 hingga minus 8-an derajat membuat aku merasa seperti di negeri asing entah berantah…..” (Novel BIRU, Fira Basuki, Grasindo, 2003)

Kiranya memang benar bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Pengalaman akan penginderaan, memang syarat mutlak dalam mengerti sesuatu dan mengambil sikap, termasuk juga terhadap alam. Dengan pengalaman ketersentuhan lewat alam, hati kita senantiasa berkobar, penuh dengan kerinduan membara. Bukankah ini suatu benih religiositas seseorang terhadap alam? Hati kita kerap harus diperciki oleh sesuatu yang fascinans, harus diberi insentif yang menggugah, agar bisa tumbuh rasa numinus: kagum dan rindu akan suatu alam yang indah. Dari sinilah kita bisa memunculkan kecintaan terhadap alam dan tergerak untuk bergerak bersama mengatasi pelbagai krisis ekologi.

“….Apa yang terjadi jika anda merusak alam? Banyak teori, seperti jika seseorang menusuk tubuh anda dengan pisau sehingga mengirimkan informasi tampungan massa energi yang memaksa mengatakan tubuh anda untuk merasa sakit. Jika ini dilakukan terus-menerus, sudah pasti anda selain bosan dengan perbuatan teman anda dan rasa sakit itu, sehingga anda berusaha memikirkan bagaimana menghentikan perbuatannya. Bisa jadi anda balas menusuk dan marah bukan?
Sama dengan alam kita….Setelah bertahun-tahun, begitu lamanya perbuatan kita yang mengusiknya, planet bumi menjadi terganggu dan capek. Ia pun mulai kesal dan tidak heran kemudian jika ngambek dan mulai membalsa dengna angin ributnya, gempa bumi, gunung meletus….
Menjaga bumi bisa pula dilakukan dengan menjaga pemikiran kita. Pemikiran positif bisa dimulai dari dalam hati sehingga orang lain akan merasakan dan bumi kita pun akan merasakannya… “ 
(Novel BIRU, Fira Basuki, Grasindo, 2003)

Di lain segi, kita juga hidup bersama banyak suku, sebut saja misalnya suku Asmat atau Dani di Papua. Sepintas kesan kita, mereka adalah sosok makluk peninggalan zaman batu. Suku terasing yang tak mau maju. Lebih tajam lagi, kaum yang anti-modernisasi. Lihat saja: pakaian mereka koteka. Teknologinya, paling-paling mencari ikan, membuat ukiran, mengayau. Singkatnya, mereka bukan orang modern. Benarkah? 
Sebenarnya orang-orang yang hidup di pegunungan Jayawijaya itu lebih bisa menghayati cara hidup yang dekat dengan alam. Mereka sungguh-sungguh mau belajar dari dan kembali ke alam (“......di tengah-tengah ladang-manusia belajar tuk mencintai dan melayani kemanusiaan.....”, J.J. Rousseau, 1778). Orang-orang seperti mereka justru lebih bisa menghayati karunia Yang Ilahi sebagaimana mereka rasakan di alam bebas. Dengan merefleksikan kehidupan mereka, mestinya kita malu karena sebagai generasi yang mewakili peradaban modern justru tidak mampu menghormati kehidupan di alam

Berangkat dari kisah di atas, selama ini, memang jarang sekali dipikirkan bahwa doa-sharing pengalaman religius terhadap alam dapat menjadi sarana pendidikan etika lingkungan yang sangat efektif. Kalau orang ingin membahas soal lingkungan hidup, yang biasanya muncul adalah soal seminar, diskusi ilmiah, observasi dan konservasi (yang butuh tingkat pengetahuan tertentu dan percakapan serius yang analitis, sistematis, filosofis). Dialog dalam doa-sharing pengalaman religius tentang alam tidak perlu pendidikan etika ekologi atau pemikiran ilmiah kelas wahid. Dialog ini menekankan pengalaman mistik yang biasa. Dialog model ini hanya butuh keterbukaan hati. Ketika kita berdoa bersama, dengan sepenuh hati, akan muncul getaran batin yang bisa mempersatukan. (Menurut William Johnston, inilah yang disebut “inner dialogue”). 
Menyitir Rosemary Ruether, kita harus mulai memikirkan realitas (termasuk ekologi) sebagai suatu tarian dimana setiap bagian setara vitalnya pada keseluruhan. Realitas hendaknya tidak dipikirkan dalam model kompetitif linear dalam mana yang diatas maju dengan mengalahkan dan menekan yang ada di bawah. Alam telah melahirkan semua yang hidup, dan menjaga kita semua. Inilah matriks awal kita, pertumbuhan, dan kepenuhannya. 

Sikap kita adalah hormat pada bumi dan semua ciptaan hidup termasuk pada diri kita sendiri sebagai manifestasi dari energi kreatif Roh, tindakannya bekerja sama dengan Roh dalam membantunya bertumbuh. Krisis ekologi menuntut kita untuk memikirkan kembali gagasan kita tentang Allah dan relasi dengan dunia untuk mengarahkan tindakan kita dalam harmoni dengan perhatian Ilahi.

Dipandang melalui lensa teologi, perusakan terus-menerus terhadap alam merupakan tindakan dosa berat. Sikap rakus, mementingkan diri dan tidak adil manusia membawa perusakan dan kematian pada bumi, karya kreatif Allah. Ecocide, biocide, dan geocide merupakan beberapa terminilogi yang digunakan untuk menamai pembunuhan ekosistem dan spesies. Alam merupakan salah satu buku yang dimaksudkan Allah untuk merefleksikan kemuliaan-Nya. Dalam terang perusakan bahkan pemusnahan alam ini, kembali ke surga dan bumi menandai pertobatan budi dan hati kita, dengan sesal atas hilangnya cinta dan munculnya kekerasan di planet kehidupan ini 

5. Epilog: Sebuah Pekerjaan Rumah
Situasi khas posmodernisme sekarang menuntut kita peka melihat tanda jaman. Oikos kita sekarang sedang sakit dan menderita karena kepongahan manusia. Kerap, manusia mengolah oikos dan kandungannya sesuai dengan vested interests mereka, tanpa memperHATIkan efek sampingnya. Manusia kerap menjadi pragmatis dan utilitarian dalam mengolah oikos. Maka, manusia pulalah yang menjadi kunci penyelesaian masalah ini, baik secara personal pun komunal. 

Manusia sebagai imago et similitudo Dei dipanggil tuk bergerak menjadi kolaborator dan co-creator Tuhan-dengan alam sebagai partnernya. Hal ini akan terwujud kalau dalam diri setiap manusia ditumbuhkan benih-benih kesadaran akan kedudukan, peran dan pengaruh lingkungan hidup terhadap kita dan generasi anak-cucu kita semuanya. Demikianlah umpan telah dilempar ke air, adakah ikan akan terpancing, ataukah hanya sekedar gelombang kecil yang menyebar dari jatuhnya umpan itu?

0 komentar:

Poskan Komentar