Ads 468x60px

Diakon: Dulu, Kini dan Nanti

.Selayang Pandang

Diakon (bahasa Latin: diaconus; juga disebut "Syamas"; bahasa Inggris: deacon) adalah suatu peranan dalam Gereja Kristian yang umumnya diasosiasikan dengan pelayanan dalam beberapa bidang yang berbeda-beda menurut tradisi teologis dan historis. Kata Diakon sendiri berasal dari kata Yunani diakonia (pelayanan), diakonein (melayani), dan diakonos (pelayan). Dalam banyak tradisi Katolik, diakonat (jabatan diakon) merupakan suatu jabatan klerus (berbeda dengan istilah “pro diakon” atau awam pembantu imam). 

Kata diakon berasal dari kata Yunani diakonos (διάκονος), yang kerap diterjemahkan sebagai pelayan atau lebih khusus lagi “pelayan meja”. Diyakini bahwa jabatan diakon berawal mula dari pemilihan tujuh pria (di antaranya Stefanus) untuk membantu menangani urusan-urusan pastoral dan administrasi dari Gereja perdana (Kisah para Rasul pasal 6). 

Kisahnya sebagai berikut:
“ Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari. Berhubung dengan itu kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata: "Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja. Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman." Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia. Mereka itu dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itupun berdoa dan meletakkan tangan di atas mereka. ”
—Kisah Para Rasul 6:1-6

Uraian Alkitab mengenai kualitas-kualitas yang dituntut dari seorang diaokon dapat dibaca dalam 1 Timotius 3:8-13.
Diakon-diakon ternama dalam sejarah antara lain:
• Santo Stefanus, martir Kristen pertama;
• Santo Laurentius, seorang martir Romawi; dan
• Santo Fransiskus Asisi, sang tokoh Gereja abad pertengahan.

Diakonat sendiri adalah salah satu dari tiga jabatan imamat dalam Gereja-Gereja Katolik. Dua jabatan imamat lainnya adalah imam dan uskup. Meski diakonat permanen ada sejak awal zaman apostolik sampai sekarang dalam Gereja-Gereja Timur (Ortodoks dan Katolik), jabatan ini umumnya menghilang dalam Gereja Barat (dengan sedikit perkecualian) selama milenium pertama. Diakonat melemah menjadi suatu jenjang sementara, batu loncatan terakhir dalam tahap menuju pentahbisan sebagai imam. 

Pada abad ke-20, diakonat permanen dipulihkan dalam banyak Gereja Barat, teristimewa dalam Gereja Katolik Roma.Dalam Gereja Katolik, Anglikan , dan Ortodoks, diakon membantu imam dalam tugas-tugas penggembalaan umat dan administrasi, namun bertanggung jawab secara langsung kepada uskup. Mereka memiliki peran khusus dalam liturgi, tugas utama mereka dalah membacakan Injil dan membantu dalam penyelenggaraan Ekaristi dengan mengenakan dalmatik.

Sebelum Konsili Vatikan II, hanya para seminaris (mahasiswa seminari) yang ditahbiskan menjadi diakon. Mereka menjadi diakon hanya beberapa bulan sebelum akhirnya ditahbiskan menjadi imam. Sejalan dengan rekomendasi dari konsili (dalam Lumen Gentium 29), pada tahun 1967 Paus Paulus VI mengeluarkan motu proprio (keputusan pribadi) Sacrum Diaconatus Ordinem, memulihkan praktek kuno untuk mentahbiskan menjadi diakon para pria yang bukan calon imam. Para pria tersebut dikenal sebagai para diakon permanen; orang-orang yang ditahbiskan menjadi diakon dan berniat melanjutkan menjadi imam, atau sementara dalam proses belajar di seminari untuk ditahbiskan menjadi imam, disebut para diakon transisi. Diakonat permanen populer di Amerika Serikat. Rincian mengenai diakonat permanen tercantum dalam dokumen tahun 2005 dari Konferensi Waligereja Amerika Serikat (United States Conference of Catholic Bishops), "National Directory for the Formation, Ministry and Life of Permanent Deacons in the United States."

Pelayanan sebagai diakon dalam Gereja Katolik digambarkan sebagai suatu kesatuan pelayanan dalam tiga bidang: Sabda, Altar dan Amal. Pelayanan diakon dalam bidang Sabda mencakup membacakan Injil dalam Misa, berkhotbah dan mengajar. Dalam bidang Altar meliputi berbagai tugas khusus bagi diakon dalam Misa, termasuk menjadi pelayan cawan Ekaristi (menerimakan anggur Ekaristi kepada umat saat komuni). Dalam bidang Amal meliputi pelayanan bagi kaum miskin dan kaum yang termarjinalkan serta bekerja sama dengan umat paroki guna membantu mereka untuk semakin terlibat dalam pelayanan serupa.

Diakon dapat melayankan sakramen Pembaptisan dan bertindak selaku saksi dari pihak Gereja dalam sakramen Pernikahan, karena sakramen pernikahan (dalam tradisi Gereja Ritus Barat) dilayankan oleh mempelai pria kepada mempelai wanita dan sebaliknya. Diakon dapat memimpin upacara pemakaman, liturgi harian, berbagai pelayanan seperti Pemberkatan Sakramen Maha Kudus dan boleh memberi berkat. Diakon tidak dapat memberikan absolusi (pengampunan dosa), mengurapi orang sakit, ataupun mempersembahkan Doa Syukur Agung. Dalam liturgi, peranan diakon adalah membacakan Injil (dalam kenyataannya, seorang imam, uskup, atau Paus sekalipun tidak boleh membacakan Injil apabila hadir seorang diakon) dan membagikan Komuni Suci. Baik diakon transisi maupun permanen berwenang memberikan homili (khotbah) sesuai dengan hak yang diterima dari tahbisannya kecuali bila imam memutuskan untuk menyampaikan sendiri homili dalam liturgi tertentu.

Vestimentum yang khusus diasosiasikan dengan diakon Katolik Roma adalah dalmatik. Diakon, sebagaimana imam dan uskup, mengenakan stola; akan tetapi, diakon menyampirkannya pada bahu kiri lalu menyilangkannya ke pinggul kanan, sedangkan imam dan uskup menggantungkannya pada leher.

Para diakon kerap melayani di paroki atau melaksanakan pelayanan lain jika waktunya memungkinkan, karena biasanya mereka memiliki pekerjaan full-time lain. Mereka dapat pula menjadi administrator paroki. Seiring berlalunya waktu, makin banyak diakon yang melayani sepenuh waktu di paroki-paroki, rumah-rumah sakit, penjara-penjara, dan kantor keuskupan. Diakon sering terjun langsung dalam pelayanan bagi kaum termarjinal baik di dalam maupun di luar Gereja: orang-orang miskin, orang-orang sakit, orang-orang yang kelaparan, dan orang-orang dalam penjara.

Seorang diakon tidak disapa dengan sebutan "Romo" sebagaimana seorang imam, tetapi dengan sebutan "Diakon," disingkat "Dn." atau "Dkn." Metode sapaan ini diatur dalam dokumen tahun 2005 dari Konferensi Waligereja Amerika Serikat, "National Directory for the Formation, Ministry and Life of Permanent Deacons in the United States." 

Secara sederhana, tugas diakon dapat dipetakan seperti ini: 
menerimakan baptis secara meriah; 
menyimpan dan membagikan ekaristi; 
atas nama Gereja menjadi saksi perkawinan dan memberkatinya;
mengantar komuni suci terakhir kepada orang yang mendekati ajalnya;
mmbacakan Kitab Suci kepada kaum beriman,
mengajar dan menasehati umat;
memimipinn ibadat dan doa kaum beriman;
menerimakan sakramentali-sakramentali;
memimpin upacara jenazah dan pemakaman. (LG.29)

Jejak-jejak adanya diakon:
1. Kisah Para Rasul 6:1-7: Tujuh orang diantara umat dipilih sebagai diakon untuk melayani orang miskin.

2.Paulus:
Filipi 1:1: ...dengan para penilik jemaat (Uskup) dan diaken.
1 Tim 3:8-13: Syarat-syarat bagi diaken.
1 Tes 3:2 Kami (Paulus) mengirim Timotius, saudara yang bekerja dengan kami untuk Allah dalam pemberitaan Injil,...
Kol 1:7 ... Epafras, kawan pelayanan yang kami kasihi.
Kol 4:7 (Ef 6:21) ... Tikhikus, saudara kita yang kekasih, hamba yang setia dan kawan pelayanan dalam Tuhan.

3.Jaman Patristik:
- Ignatius dari Antiokia: Ia menyebutkan bahwa pelayanan seorang diakon tidak lain adalah ”pelayan Yesus Kristus, ...” Maka bukan pelayan untuk makan dan minum, tapi pelayan Gereja Allah.
- Didascalia Apostolorum melanjutkan tradisi tersebut diatas.
Sampai Abad ke 5 pelayanan diakon amat subur di gereja barat, tapi setelah itu diakon banyak dipraktekan sebagai tahap sebelum tahbisan imam.
- Konsili Trente mencoba mendorong adanya diakon permanen seperti masa kuno tapi tak banyak pengaruhnya.

(The Permanen Diaconate, CATHOLIC TRUTH SOCIETY, Publishers to The Holy See)

0 komentar:

Poskan Komentar