Ads 468x60px

Maria: Dengan Logika Sederhana

MAYONG SURYO LAKSONO, Wartawan
Pengantar untuk buku “TTM” – “Tribute To Mary” (Romo Jost Kokoh, Yogyakarta, 2013).

Saya perhatikan, ujub doa saya berubah sejak ibu meninggal dunia, 10 Juni 1991. Saya tidak tahu sebabnya. Sengaja berubah? Mungkin. Tidak sengaja? Enggaklah. Berdoa kok tidak sengaja.

Tapi benar. Ibu saya, Antonia Maria Sitti Mukadarun, yang meninggal dunia di siang hari setelah paginya membangunkan saya dari tidur karena menunggui beliau yang sakit jantung di Paviliun Maria Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta, tidak lantas menjadi inspirasi doa di masa-masa selanjutnya. Saya sangat sayang dan hormat kepada ibu, ya. Tapi tidak lantas merasa paling dekat, karena ibu memang dekat dengan keenam anaknya – tapi si sulung Mas Ari telah meninggal dunia (karena pembengkakan jantung) sembilan bulan sebelumnya sehingga kami jadi lima bersaudara. Tidak lantas membuat saya sedih tak berkesudahan. Tidak juga membuat saya bermimpi atau merasa seolah-olah ketemu ibu, sementara adik-adik saya beberapa kali bertemu dalam mimpi, dan bapak tak terhitung lagi memimpikan ibu. Saya memang tidak berbakat mimpi bertemu dengan orang yang masih hidup maupun sudah meninggal, orang dekat sekalipun. Sama tidak berbakatnya dengan melihat makhluk gaib atau mengalami hal-hal gaib meski dalam hati ingin juga sesekali seperti adik-adik atau bapak yang bahkan merasa seperti berinteraksi di alam nyata dengan mendiang ibu. Makanya saya tidak pernah yakin dengan aneka cerita gaib seperti penampakan dan sebagainya, termasuk penampakan Bunda Maria.

Dari sebelumnya berdoa selalu dengan (sangat) banyak intensi, sejak ibu meninggal, saya menjadikan beliau perantara dalam doa. Lebih sederhana. Tentu saja tanpa saya tiba-tiba berharap ibu akan hadir dalam imajinasi atau mimpi. Saya hanya percaya ibu telah memiliki keabadian hidupnya di surga. Ibu tetap memiliki kasih sayang dan perhatian, memberi segalanya tanpa diminta. Sebagai salah satu pemiliki keabadian surgawi, ibu tentu mudah menjadi perantara doa kepada para penghuni surga.

Antonia Maria tentu tidak sama dengan Maria bunda Yesus. Tapi dua-duanya sama-sama ibu. Saya tahu bahwa ibu di masa hidupnya telah melakukan apa saja bagi kami, anak-anaknya. Ibu menolong dan membantu kami tanpa diminta. Tentu bapak juga. Tapi bagi saya, bapak lebih berperan dalam soal pemikiran dan penyikapan terhadap hidup, sementara ibu menanamkan dasar-dasar bagi tumbuhnya nurani dan rasa kemanusiaan.

Meski ibu sudah tidak ada, perasaan saya sebagai anak tidak pernah hilang. Setiap kali mengunjungi makam beliau, saya merasa bisa menyampaikan segala maksud dan isi hati. Seperti orang mengobrol tapi satu arah, monolog. Meski sebenarnya hanya menghadapi batu nisan, tapi ya biar saja. Sebab itu yang bisa saya lakukan alih-alih menemuinya dalam mimpi atau bayang-bayang imajinasi.

Kepada Maria bunda Yesus saya juga melakukan hal yang hampir sama, dalam arti saya menempatkan diri sebagai anak. Saya bercerita, “curhat”, bersyukur, atau meminta kepada Bunda Maria. Kalau dipikir-pikir, porsi saya bermonolog kepada Bunda Maria lebih banyak daripada kepada Yesus dan orang-orang kudus lain. Kenapa bisa begitu, logika saya sederhana saja: seorang ibu pasti dekat dengan anak-anaknya, pasti memikirkan anak-anaknya, akan melakukan apa saja untuk anak-anaknya, dan akan membantu anak-anaknya tanpa diminta.

Entah keberhasilan dan kegagalan yang telah terjadi selama hidup saya merupakan akibat dari doa-doa saya atau tidak. Sebab sebagai manusia yang tidak berbakat mengalami keajaiban, saya merasa belum pernah mendapatkan bukti dari setiap permintaan dalam doa. Apalagi yang sifatnya seketika. Tapi itu tidak lantas mengurangi, apalagi menghilangkan, kebiasaan berdoa. Saya tetap meminta, tetap “curhat”, dan tetap bersyukur dan tidak berharap pada hasilnya. Saya hanya merasa harus menyampaikan sesuatu, dan itu hanya bisa dilakukan dalam doa. Bukan dengan cara lain.

Hampir setiap tahun saya terlibat dalam aktivitas devosi kepada Bunda Maria. Saya banyak belajar tentang bunda Yesus itu dari para ahli, juga mendengar pengalaman hidup banyak orang dalam berinteraksi dengan Maria. Ketika sekian banyak pengalaman secara sepotong-sepotong itu disatukan, rasanya bisa menjadi risalah tebal seperti buku “TTM” – “Tribute To Mary” karya Romo Jost Kokoh ini. Memang ada banyak hal yang bisa tersampaikan lewat perbincangan. Tapi banyak pula hal yang hanya bisa disampaikan secara tertulis. Baik karena mendasarkan referensi tertulis maupun sebaliknya, juga bisa menjadi referensi tertulis.

Romo Jost Kokoh tidak hanya menggali bahan-bahan mengenai Bunda Maria, tetapi juga mensintesakannya menjadi rangkaian persembahan ( “tribute”) bagi ibu utama itu. Bagi kita yang awam, buku “TTM” – “Tribute To Mary” ini menjadi pegangan iman yang amat bernilai. Ada historiografi, ada referensi, ada interpretasi dan refleksi. Cukup lengkap, dan itu memperkaya wawasan saya dalam menempatkan diri sebagai anak yang membutuhkan ibu. Selalu. 

Berkah Dalem.
Mayong Suryo Laksono, wartawan.

0 komentar:

Poskan Komentar