Ads 468x60px

Soe Hok Gie – Demonstran Katolik Peranakan

Selayang Pandang


“Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I?
Saya telah menjawab
bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa
tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran.
Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: KEBENARAN.”
(Soe Hok Gie)


John Maxwell berkomentar, “Gie hanya seorang mahasiswa dengan latar belakang yang tidak terlalu hebat. Tapi dia punya kemauan melibatkan diri dalam pergerakan. Dia selalu ingin tahu apa yang terjadi dengan bangsanya. Walaupun meninggal dalam usia muda, dia meninggalkan banyak tulisan. Di antaranya berupa catatan harian dan artikel yang dipublikasikan di koran-koran nasional”


Soe Hok Gie sendiri adalah seorang keturunan China yang tumbuh dalam keluarga Katolik (juga kritis terhadap agama Katolik) dan terlahir pada 17 Desember 1942. Ia adalah seorang putra dari pasangan Soe Lie Pit —seorang novelis— dengan Nio Hoe An. Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan, merupakan adik dari Soe Hok Djie yang juga dikenal dengan nama Arief Budiman (, dosen Universitas Kristen Satya Wacana yang juga dikenal vokal dan sekarang berdomisili di Australia). Sejak masih sekolah, Soe Hok Gie dan Soe Hok Djin sudah sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di pinggir-pinggir jalan di Jakarta.
Soe Hok Gie yang meninggal di Gunung Semeru, 16 Desember 1969 pada umur 26 tahun ini adalah salah seorang aktivis Indonesia dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962–1969. Ia menamatkan pendidikan SMA di Kolese Kanisius. Nama Soe Hok Gie adalah dialek Hokkian dari namanya Su Fu-yi dalam bahasa Mandarin (Hanzi: 蘇福義). Leluhur Soe Hok Gie sendiri adalah berasal dari provinsi Hainan, Republik Rakyat Cina. Ia adalah seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya dan rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam buku harian. Buku hariannya kemudian diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran (1983).

Sejak masih sekolah, Soe Hok Gie dan Soe Hok Djin memang sudah sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di pinggir-pinggir jalan di Jakarta. Menurut seseorang peneliti, sejak masih Sekolah Dasar (SD), Soe Hok Gie bahkan sudah membaca karya-karya sastra yang serius, seperti karya Pramoedya Ananta Toer. Mungkin karena Ayahnya juga seorang penulis, sehingga tak heran jika dia begitu dekat dengan sastra.

Sesudah lulus SD, kakak beradik itu memilih sekolah Katolik yang berbeda, Hok Djin (Arief Budiman) memilih masuk SMP Kolese Kanisius Jakarta, sementara Soe Hok Gie memilih sekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Maria de la STRADA di daerah Gambir. Konon, ketika duduk di bangku ini, ia mendapatkan salinan kumpulan cerpen Pramoedya: “Cerita dari Blora” —bukankah cerpen Pram termasuk langka pada saat itu?

Pada waktu kelas dua di sekolah menangah ini, prestasi Soe Hok Gie buruk. Bahkan ia diharuskan untuk mengulang. Tapi apa reaksi Soe Hok Gie? Ia tidak mau mengulang, ia merasa diperlakukan tidak adil. Akhirnya, ia lebih memilih pindah sekolah dari pada harus duduk lebih lama di bangku sekolah.

Selepas dari SMP, ia berhasil masuk ke Sekolah Menengah Atas (SMA) Kolese Kanisius Jakarta jurusan sastra (A4). Sedangkan kakaknya, Hok Djin, juga melanjutkan di sekolah yang sama, tetapi lain jurusan, yakni ilmu alam (A1).

Selama di SMA Kanisius inilah minat Soe Hok Gie pada sastra makin mendalam, dan sekaligus dia mulai tertarik pada ilmu sejarah. Selain itu, kesadaran berpolitiknya mulai bangkit. Dari sinilah, awal pencatatan perjalanannya yang menarik itu; tulisan yang tajam dan penuh kritik.

Ada hal baik yang diukurnya selama menempuh pendidikan di SMA Kanisius, Soe Hok Gie dan sang kakak berhasil lulus dengan nilai tinggi. Kemudian kakak beradik ini melanjutkan ke Universitas Indonesia. Soe Hok Gie memilih ke fakultas sastra jurusan sejarah, sedangkan Hok Djin masuk ke fakultas psikologi.

Di masa kuliah inilah, Gie menjadi aktivis kemahasiswaan. Banyak yang meyakini gerakan Gie berpengaruh besar terhadap tumbangnya Soekarno dan termasuk orang pertama yang mengritik tajam rezim Orde Baru.

Hok Gie juga dikenal sebagai penulis produktif di beberapa media massa, misalnya Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Sekitar 35 karya artikelnya (kira-kira sepertiga dari seluruh karyanya) selama rentang waktu tiga tahun Orde Baru, sudah dibukukan dan diterbitkan dengan judul Zaman Peralihan (Bentang, 1995).
Juga skripsi sarjana mudanya perihal Sarekat Islam Semarang, tahun 1999 diterbitkan Yayasan Bentang dengan judul Di Bawah Lentera Merah. Sebelumnya, skripsi S1-nya yang mengulas soal pemberontakan PKI di Madiun, juga sudah dibukukan dengan judul Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan (Bentang, 1997).


Sebagai bagian dari aktivitas gerakan, Soe Hok Gie juga sempat terlibat sebagai staf redaksi Mahasiswa Indonesia, sebuah koran mingguan yang diterbitkan oleh mahasiswa angkatan 66 di Bandung untuk mengkritik pemerintahan Orde Lama.

Selain itu juga Gie ikut mendirikan Mapala UI. Salah satu kegiatan pentingnya adalah mendaki gunung. Pada saat memimpin pendakian gunung Slamet dengan ketinggian 3.442m, ia mengutip Walt Whitman dalam catatan hariannya, “Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth”.

Pemikiran dan sepak terjangnya tercatat dalam catatan hariannya. Pikiran-pikirannya tentang kemanusiaan, tentang hidup, cinta dan juga kematian. Tahun 1968, Gie sempat berkunjung ke Amerika dan Australia, dan piringan hitam favoritnya Joan Baez disita di bandara Sydney karena dianggap berhaluan komunis. Tahun 1969, Gie lulus dan meneruskan menjadi dosen di almamaternya.

Bersama Mapala UI, Gie berencana menaklukkan Gunung Semeru di Jawa Timur yang tingginya 3.676m. Sewaktu Mapala mencari pendanaan, banyak yang bertanya kenapa naik gunung dan Gie berkata kepada teman-temannya:
“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

8 Desember sebelum Gie berangkat, ia sempat menuliskan catatannya: “Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat.” Hok Gie meninggal di gunung Semeru tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup asap beracun di gunung tersebut. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis. Selanjutnya catatan selama ke Gunung Semeru lenyap bersamaan dengan meninggalnya Gie di puncak gunung tersebut.

Inilah sepenggal kisah yang merupakan menit-menit menjelang kematiannya: “Man (Herman Lantang), entar turunnya bareng gue. Lu, gue tunggu di sini”, kata Soe Hok Gie. Soe Hok Gie beristirahat di sebuah ceruk. Ia menggigil kedinginan. Udara Gunung Semeru sangat menusuk waktu itu pada tanggal 16 Desember 1969. Dari Ranu Kumbolo, sebuah danau di Gunung Semeru, Herman Lantang, Aristides Katoppo, Soe Hok Gie, Idhan Lubis, Freddy Lasut, Rudi Badil, Abdurachman, dan Wiyana bergerak menuju Arcopodo yang terletak pada ketinggian 3.200 meter di atas permukaan lautpos terakhir sebelum puncak. Perjalanan agak tersendat. Sebulan sebelumnya, hutan di kawasan Arcopodo terbakar. Mereka harus melalui jalur puing-puing kayu yang tertutup abu licin. Target sampai pukul 10 pagi meleset menjadi pukul 2 siang. Setelah membuka bivak (tenda darurat), mereka rehat. Kabut tampak tebal di puncak Mahameru. Aristides, Hok Gie, Rudi, Freddy, dan Wiyana berjalan di depan. Herman, Idhan, dan Maman menyusul belakangan.




“Man, jangan lama-lama di puncak, ya, cuacanya nggak bagus”, kata Aristides. Kata-kata Tides itu ditujukan kepada Herman tatkala ia, Badil, Lasut, dan Wiyana telah turun dari puncak dan berpapasan dengan Herman yang baru naik. Saat menuju puncak itulah, Herman melihat Gie berjongkok di sebuah ceruk. Gie kelihatan lelah. Herman, Idhan, dan Maman tiba di puncak pukul 5 sore. Angin kencang, dan tiba-tiba mereka merasa pening. Maman setengah berlari turun. Idhan dibimbing Herman.


Ketika tiba di tempat Soe Hok Gie menunggu, Herman mendapati Gie terlihat lunglai. Herman yang memapah Idhan lalu juga memapah Gie. Tiba-tiba, Hok Gie seolah ingin melepaskan diri dari kekangan. Meronta-ronta liar seperti ayam yang disembelih, kenang Herman. Herman mencoba menenangkan, tapi Hok Gie terus meregang-regang tak terkendali, lalu diam. Herman yang memeluknya kemudian mengecek denyut nadi Hok Gie. Tak berdenyut lagi.

Herman shock dan panik. Sementara Idhan Lubis (keponakan Mochtar Lubis) juga tampak lunglai, dan ternyata meninggal pula. Herman makin panik. Setengah berlari, ia turun ke Arcopodo: “Waktu itu saya berpikir saya juga mau mati. Dua teman saya telah tewas. Saking paniknya, ketika tiba di bivak, saya langsung minum air sebanyak-banyaknya. Satu veldples langsung tandas”, kata Herman.


“Memento mori, manusia mesti mati!” Ya, akhirnya tanggal 24 Desember 1969 Gie dimakamkan dengan tata cara iman gereja Katolik di pemakaman Menteng Pulo, namun dua hari kemudian dipindahkan ke Pekuburan Kober, Tanah Abang. Tahun 1975, Ali Sadikin membongkar Pekuburan Kober sehingga harus dipindahkan lagi, namun keluarganya menolak dan teman-temannya sempat ingat bahwa jika dia meninggal sebaiknya mayatnya dibakar dan abunya disebarkan di gunung. Dengan pertimbangan tersebut, akhirnya tulang belulang Gie dikremasi dan abunya disebar di puncak Gunung Pangrango.

Adapun selain Catatan Seorang Demonstran, buku lain yang ditulis Soe Hok Gie adalah: “Zaman Peralihan, Di Bawah Lentera Merah dan Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan” serta riset ilmiah DR. John Maxwell berjudul “Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani.”


Sejarah mencatat sosok Soe Hok Gie, aktivis pro dem Katolik, seorang tokoh muda kritis, non partisan, non ormasan, kolomnis, tionghoa dan kerap menyuarakan suara-suara kritis kepada bangsa. Termasuk kritis kepada teman-teman aktivis Katolik yang masuk parlemen (termasuk Harry Tjan Silalahi, Cosmas Batubara dkk) adalah suatu pilihan dan gaya berpolitiknya. Bagaimana Sekarang?

Pemikiran, keteguhan dalam menjalani prinsip hidup, berjiwa besar dan juga keberanian Soe Hok Gie untuk ber-”suara” seharusnya perlu dilahirkan kembali dalam dan oleh semua kaum muda Indonesia, terlebih kaum muda Katolik. Sebagai seorang aktivis mahasiswa angkatan 60-an, Soe Hok Gie (17 Desember 1942 – 16 desember 1969) adalah sebuah fenomen. Ia ikut bergabung dan berjuang dalam menjatuhkan rezim Soekarno, namun tidak mau ambil bagian dalam menikmati ”hasil perjuangan” seperti yang dilakukan rekan sesama aktivis pada masa itu. Yang terjadi adalah sebaliknya, Gie tetap kritis, Gie tetap ber-”suara” lantang pada saat melihat ketidaksewenangan dan ketidakadilan. Gie terus menentang, walaupun yang ditentang adalah komunitas di mana dirinya pernah bergabung dan ikut ambil peranan.

Berdasar catatan hariannya, sosok sederhana Gie tergambar sebagai pribadi yang senantiasa berpikir dan mengalami pergolakan jiwa. Seorang yang menginginkan sebuah kebebasan dalam arti universal. Kebebasan yang terealisai dalam konteks demokrasi dengan tidak mengindahkan unsur ras, agama, golongan dan yang utama adalah partai politik. Terlihat bagaimana Gie senantiasa berposisi netral tatkala terjadi benturan-benturan internal organisasi kampus di masanya, terlebih dari mereka yang mengatas namakan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI). Gie lebih menyukai ber-
suara” seorang diri, dengan menulis segala yang dia rasakan, untuk mencipta dan mengaruskan sebuah opini.

Sebagian besar tulisan Gie adalah bernada protes, ledakkan dari keprihatinan yang dia rasakan, dan terkesan tanpa ada rasa takut terhadap pihak-pihak ”penguasa” yang dia kritisi. Berjuang dengan pemikiran yang sebagian besar adalah melawan arus, mengupayakan sebuah keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan untuk masyarakat luas dan bahkan komunitas minoritas dengan cara sendiri dan terkesan jauh dari sebuah konsep yang jelas. Itulah Gie yang pernah mengalami sebuah paradoks dalam dirinya dengan pernah mempertanyakan pada diri sendiri perihal ujung perjuangan yang sedang dia lakukan. Apabila kita melihat usia Gie pada saat itu, maka pergolakan yang terjadi di dalam diri seorang bisa menjadi adalah hal yang wajar dan biasa, namun segala macam pemikiran besar Gie dan keberaniannya untuk bersuara adalah hal yang luar biasa. Bagaimana Sekarang? Kader atau keder?

“Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan
Yang kedua dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah berumur tua
Berbahagialah mereka yang mati muda
Mahluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada
Berbahagialah dalam ketiadaanmu!”



0 komentar:

Poskan Komentar