Ads 468x60px

GIE - Riwayatmu dulu


Cerita dari Tetangga (Cericau Respati)


Jika malam telah larut, di kamar itu selalu terdengar suara mesin ketik. Sebuah kamar sederhana, penerangannya buruk akibat voltase yang turun naik, nyamuk berlalu lalang mendengung. Di situlah Soe Hok Gie menulis. Apa saja. Dari mulai keluh kesah, puisi, atau artikel.

Rumah itu terletak di Jakarta, tepatnya di kawasan Kebon Jeruk IX. Sejajar jalan Hayam Wuruk. Rumah itu dihuni tujuh orang, Soe Lie Pit alias Salam Sutrawan, dan isrtinya Nio Hoei An atau Maria Sugiri. Mereka mempunyai tiga orang putri dan dua orang putra; Dien, Mona dan Jeanne, serta Arif Budiman dan Soe Hoek Gie.

Soe mengenyam pendidikan dasarnya di Sin Hwa Scool, sekolah Cina berbahasa Inggris. Namun akhirnya pindah ke SR/SD yang berlokasi di Gang Komandan, kini terletak di belakang Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Setelah lulus, Soe melanjutkan sekolah menengahnya di Strada dan Kolese Kanisius sekolah katolik yang dikelola oleh para imam dan bruder dari Ordo Jesuit.

Di sekolah Katolik itulah, kepekaan Soe pada dunia luar mulai menajam. Siswa sekolah datang dari berbagai golongan, sehingga ia bisa mengenal mereka dengan berbagai latar belakang. Semua itu tergambar jelas dalam catatan hariannya. Ia mengisahkan pertemuannya dengan seorang lelaki, bukan pengemis, namun mengais kulit mangga untuk dimakan. Ia cegah orang itu, ia berikan beberapa uang kepadanya.

Sejak kejadian itu nampaknya Soe mulai gusar pada pemerintah,ketika itu Soekarno masih menjabat sebagai presiden. Kesenjangan sosial memang tengah berkecamuk antara pejabat dengan rakyatnya. Perekonomian Indonesia kala itu tergoncang, rakyat terus menjerit. Namun elite politik justru berlainan.

Sikap kritis Soe juga tercermin dalam catatan hariannya, ia sempat beradu mulut dengan gurunya hanya karena nilai ulangannya rendah, padahal ia yakin nilainya tidak seburuk itu. Hal itu dilakukannya semata-mata karena ia ingin kebenaran ditegakkan.Sedang bakat menulisnya, diturunkan dari ayahnya, wartawan harian Tionghoa ” Sunday Courrier”.

Pemuda keturunan Cina, kelahiran Jakarta 17 Desember 1942 ini, sangat suka pelajaran sejarah. Hingga pada tahun 1961 ia melanjutkan kuliah di jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia, dulu di Rawamangun. Hari-harinya dihabiskan di FS-UI. Soe mempunyai kegemaran naik gunung, dia tergabung dalam Mapala-UI. Soe sama seperti mahasisiwa umumnya, dia berpenampilan sederhana. Dijuluki temannya” Si Cina Kecil”.

Ia seorang aktivis, ia ikut andil ketika Orla tumbang. Satu hal yang mengagumkan dari Soe, ia memiliki kesadaran sebagai kaum intelektual di negaranya. Ia harus bisa mengawasi pemerintah termasuk membela rakyat yang waktu itu terlunta-lunta akibat politik Mercusuar. Soekarno menginginkan Indonesia melakukan perubahan,tapi di sisi lain rakyat menderita. Kemiskinan merajalela, sedang PKI semakin besar.

Soe sadar, masyarakat tertindas akan melakukan perlawanan, dan bila rakyat sudah turun, ditakutkan akan terjadi benturan hebat. Di situlah mahasiswa harus mengambil peranan sebagai pembela rakyat. Mahasisiwa harus tetap menjaga independensinya, artinya mahasisiwa jangan sampai berada di lingkaran Pemerintahan. Mahasisiwa tak boleh berdamai dengan pemerintah yang korup. Itulah pemikiran Soe.

Di sisi lain, Soe kecewa terhadap sebagian mahasisiwa yang tergabung dalam Organisasi Ekstra, yang ditunggangi kepentingan pribadi. Soe tidak setuju hal itu, mahasisiwa harus independen, ia memobilisasi dan membentuk aliansi gerakan mahasiswa, “Kami”. Mereka gencar melancarkan kritik, berpropaganda lewat media-media kampus, serta berdemonstrasi di jalan.

Soe seorang yang jujur dan bersih. Ketika mahasiswa berhasil menumbangkan Orla, Soe malah menghindar dari kekuasaan. Soe menyayangkan sikap teman-teman seperjuangannya yang masuk lingkaran kekuasaan.

Seperti film barat yang Soe tonton, ia ingin seperti seorang yang datang menyalamatkan sebuah bangsa, dan setelah bangsa itu bersih dari bandit-bandit, maka pahlawan itu pergi tanpa mau dipuja. Menurutnya, setelah mahasiswa menyelesaikan tugas membela rakyat, maka sejak itu pula mereka harus kembali menjadi mahasiswa biasa, namun tetap bisa mengawasi pemerintah yang hendak mangacau.

Soe hidup kembali menjadi mahasiswa seutuhnaya ketika Orla tumbang. Dia aktif memajukan kampus melalui Organisasi Intra, dengan kegiatan yang bermanfaat untuk mahasiswa. Salah satunya adalah Mapala-Ui, Soe dan teman-teman memajukan Mapala.

Menurutnya, dengan kita cinta kepada alam, manusia akan mempunyai rasa patriot yang tinggi, mengajarkan kita menjadi manusia yang tidak sombong. Sebab, di alam bebas manusia sungguh akan merasa kecil, dan kita akan tahu betapa besar keagungan Tuhan menciptakan jagad raya.

Mapala telah menaklukan gunung-gunung di Jawa. Gunung yang paling sering didaki oleh Soe Pangrango, terletak di sebelah selatan Jakarta. Di sana Soe mencari ketenangan sejenak, melepaskan segala persoalan-persoalan.

Soe hanyalah manusia biasa, dia bukan dari golongan atas. Secara sosial. bahkan dia berada di status minoritas, Tionghoa. Tapi ia punya semangat, tak henti mengajak serta mengingatkan temannya untuk selalu jujur dan bersih. Ia sangat dicintai rakyat lewat tulisannya, penuh dukungan terhadap rakyat kecil.

Dia anak muda penentang kesewenang-wenangan, dia penikmat folk Song, dia pecinta alam, dan dia orang yang tidak pernah berhenti berlatih. Tidak berhenti membaca,berdiskusi, menulis.

Dia aktivis yang tidak hanya terampil bergerak, tetapi kerap mengambil jarak, memikirkan kembali apa yang dia lakukan, mengolah kembali pengalamannya. Pergi ke gunung adalah caranya mengambil jarak dan kemudian mengolah jiwanya. Mungkin kombinasi dua hal itu,aksi dan refleksi, yang membuat dia jadi aktivis dan pemikir yang tajam.

Soe tak menduga jika usahanya dengan kawan-kawan justru menimbulkan masalah baru bagi bangsanya, Orba yang diharapkan bisa melakukan perubahan ternyata lebih mengecewakan.

Pelarangan PKI, menjadi penyelesaian yang tak masuk akal. Menurut Soe, pemerintah tak bisa menegakkan hukum secara adil.Tahanan-tahanan Komunis yang tertangkap tidak segera diadili, pembunuhan masal terjadi di mana-mana.

Soe mengatakan di berbagai surat kabar bahwa pemerintah menjadi sangat semena-mena, mereka yang mantan komunis tiada diberi ruang dalam masyarakat. Mereka tak bisa hidup layak seperti orang lain. Bukan hanya itu, Orba pun sedemikian picik mengemas sejarah komunis dengan lembaran yang sangat suram.

Mereka, orang PKI, berharap lebih baik mati daripada harus disiksa. Padahal mereka hanyalah simpatisan. Simpatisan itu awalnya para buruh yang harus menyumbang SOBSI(semacam iuran yang tak jelas,dan jika tidak mengikuti maka sulitlah mereka disegala hal) , kemudian data itu dimasukan dalam data komunis. Secara otomatis, para buruh itu masuk dalam daftar PKI.

Sekolah-sekolah atau instansi-instansi pemerintah masa Orba, selalu menanyakan “JIMAT” atau surat tanda bukan komunis, jika masyarakat hendak mengurus sesuatu. Pungutan liar pun kerap terjadi di mana-mana. Buku-buku yang dianggap karya orang komunis seperti Pramoedya Ananta Toer, tidak boleh diedarkan bahkan sampai dibakar Angkatan Darat. Padahal isinya tak menyangkut komunis sama sekali.

Pemerintah saat itu semakin ”mistik” , dalam arti mereka berpikir tanpa menggunakan akal sehat. Hal ini berdampak pada para mahasiswa yang merasa bahwa mimbar kebebasan mereka, kian dibatasi, pemerintah mulai menekan.

Mahasiswa merasa kebebasan mimbar adalah sesuatu yang fundamental bagi hidup mereka di kampus. Seorang dosen Marxis, akan ditantang oleh mahasiswanya dengan literatur yang non atau anti-Marxisme. Sebaliknya, seorang dosen anti-komunis, akan dihujani pertanyaan yang bersumber dari buku komunis. Saat itulah mimbar menjadi hidup, demokrasi mahasisiwa terlaksana.

Soe seorang humanis, peduli nasib manusia lain. Ketika kunjungannya ke luar negeri, berdiskusi dengan pelajar Internasional, Soe selalu menawarkan solusi-solusi cerdas. Misalnya saat berdiskusi tentang diskriminasi kulit dan kaum hippies di AS.

Tahun 1968, dia mengakhiri masanya sebagai mahasisiwa, banyak jasa-jasanya untuk kampus, hingga kini peninggalannya masih terjaga dengan rapi dan berkembang. Dia meninggal di usianya ke-27 kurang satu hari. Dia meninggalkan dunia selama-lamanya, saat dirinnya menginjakkan kaki di tanah tertinggi pulau Jawa—Mahameru.

Di gunung Semeru, tanggal 16 Desember 1969, Soe dan Idhan, teman mendakinya meninggal. Gas racun yang berbahaya membuatnya tak bisa melawan maut. Teman sependakiannya(Herman, Rudy Badil,Tides, Maman, Wiwiek, Freddy ) sangat kehilangan,semua orang kehilangan.

Soe memang tak begitu dikenal, tidak banyak orang tahu sosok Soe .Hanya kebanyakan mengenal lewat tulisannya yang tajam dan jujur. Seorang penjual peti mayat di Malang, pun menangis ketika diketahui petinya diperuntukkan bagi penguburan Soe yang disemayamkan secara Katolik. Juga seorang pilot yang membawa jenazahnya, sangat merasa kehilangan. Tak ada yang menyangka bila tulisannya dibaca banyak orang; dari seorang penjual peti mati sampai seorang pilot. ”Dia orang yang jujur, . Sayang meninggal” ucap si penjual peti mati.

Soe dimakamkan di Menteng Pulo, sebelumnya dibawa ke rumah dan setelah itu di kampus Fakulstas Sastra-UI untuk didoakan. Tetapi, tak lama kemudian jenazahnya dipindahkan, karena keluarga Soe direpotkan oleh pemerasan kecil-kecilan di Menteng Pulo. Arief Budiman memindahkan jenazah Soe di bekas makam kolonial di Tanah Abang, yang lebih dekat dengan rumahnya. Di sini makam Soe ditandai dengan nisan putih sederhana yang tertulis kutipan, dari ungkapan spiritual rakyat Barat favoritnya ”Nobody knows I see, nobody knows my sorrow”.

Empat tahun kemudian, pada bulan Desember 1973, Sekelompok kecil Mapala melakukan pendakian ke Semeru, mendirikan batu pualam untuk tanda peringatan serta penghormatan kepada Soe dan Idhan. Pada tahun 1975, ketika pemerintah Jakarta mengumumkan bahwa makam Tanah Abang akan digusur untuk keperluan pembangunan, keluarga Soe merencanakan tulang-belulang Soe dikremasi, abunya disebarkan oleh teman-temannya pada peringatan hari ulang tahunnya. Yaitu di salah satu tempat favoritnya jika ia ingin mencari ketenangan dan menyendiri, lembah Mandalawangi, dekat gunung Pangrango, sekitar 90 km dari sebelah selatan Jakarta.

Banyak sekali kenangan yang ditinggalkan Soe, dia terkenal sangat baik dengan teman-temannya. Sehingga banyak yang merasa nyaman dengannya, tak terkecuali teman wanitanya. Sebelum sepeninggalannya, dia sempat memberi perkakas rias kepada teman-temannya yang baru duduk di DPR. Katanya, itu untuk berbenah diri mereka. Meski teman seperjuangan, Soe tidak segan mengkritik .Dan berharap mereka menjalankan yang terbaik untuk Rakyat.

Arah pemikiran Soe bisa diketahui ketika catatan harian miliknya ditemukan, juga puisi-puisi melankolis untuk para wanita, catatan hatian itu di kenal CATATAN SEORANG DEMONSTRAN(1983) . Banyak orang yang menerbitkan karangan-karangannya untuk mengenangnya, antara lain; ORANG-ORANG DI PERSIMPANGAN KIRI JALAN(1997), DI BAWAH LENTERA MERAH(1999). Ada juga yang divisualisasikan dengan film layar lebar berjudul GIE (2005) yang disutradarai oleh Riri riza. Dan yang terbaru adalah “SOE-HOK-GIE Sekali Lagi”(2009 ) yaitu buku untuk memperingati 40tahunan sepeninggalannya.

Banyak orang berpendapat bahwa Soe adalah wajah mahasiswa / pemuda Indonesia yang seharusnya patut diteladani. Kritik tajamnya seolah mengingatkan dan menyemangati, mahasiswa merupakan golongan intelektual terdepan yang siap memangkas habis pemerintah korup. Tidak pandang bulu.

Sendja ini, ketika matahari turun
Kedalam djurang2 mu
Aku datang kembali
Ke dalam ribaanmu, dalam sepimu
Dan dalam dinginmu…..

Walaupun setiap orang berbitjara
Tentang manfaat dan guna
Aku bitjara padamu tentang tjinta dan keindahan
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku…

Aku tjinta padamu,Pangrango jang dingin dan sepi
Sungaimu adalah njanjian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Tjintamu dan tjintaku adalah kebisuan semesta…

Malam itu ketika dingin dan kebisuan
Menjelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali
Dan bitjara padaku tentang kehampaan semua…

“Hidup adalah soal keberanian,
Menghadapi jang tanda tanja
Tanpa kita bisa mengerti,tanpa kita bisa menawar
Terimalah,dan hadapilah”….

Dan ransel-ransel kosong
Dan api unggun jang membara
Aku terima itu semua
Melampaui batas2 hutanmu
Melampaui batas2 djurangmu
Aku tjinta padamu Pangrango
Karena aku tjinta pada keberanian hidup..



0 komentar:

Poskan Komentar