Ads 468x60px

Generasi Pasca Aksara

Dalam dunia modern sekarang, sebenarnya tak ada lagi penonton. Setiap orang telah menjadi anggota pelakon. Dalam ‘pesawat angkasa bumi’ ini, tak ada lagi penumpang. Semua dari kita adalah kru. Itulah ucapan Marshall McLuhan, seorang teoritikus sosial berkebangsaan Kanada. 
Tak dapat dipungkiri bahwa realitas dunia modern hadir menemani konteks masyarakat kita. Dunia modern, yang identik dengan alat-alat transportasi dan komunikasi up to date itu, kini mempunyai dampak yang sangat luas terhadap kehidupan manusia, bisa baik bisa buruk lagi-lagi kembali kepada faktor manusianya.

Kita memang sudah hidup di dunia pasca-aksara, di sebuah dunia di mana image (citra) menjadi acuan kesadaran kita. Dalam ajang dunia seperti inilah, mimpi dan kenyataan berlapis-lapis. Membuat sesuatu yang nyata kadang seperti maya atau yang sebaliknya, yang maya menjadi nyata. Dengan itu semualah, masyarakat masa kini hidup. 
Efek dari konteks ini, sebagaimana “pesan”nya, menurut istilah McLuhan sebenarnya terletak pada bentuknya, bukan pada isinya. Di situ bisa lahir seperti yang terjadi hic et nunc, (kini dan di sini), ketika banyak kelas masyarakat, khususnya kelas menengah yang tergila-gila pada pelbagai merek mobil pribadi yang kerap terpampang di pelbagai media massa, baik elektronik maupun media tulis.

Semua paradigma di atas itu ada kait-mengkaitnya dengan pemahaman (baru) mengenai waktu dan ruang yang disebut time-space compression (pemampatan waktu-ruang). Konsepsi mengenai waktu dan ruang ini berjalan seiring dengan semakin canggih dan berkembangnya teknologi transportasi yang lahir dari rahim kapitalisme.

Di lain matra, orang Latin berpetuah: ‘Tempus mutatur et nos mutamur in illud’ (Waktu berputar dan kita diubah olehnya). Kini, waktu ternyata tak hanya berputar, tapi juga berlari (menyitir istilah para pemikir postmodernisme). Secara jujur, kita sudah memasuki pelbagai realitas baru: kaya warna-kaya nuansa dan kaya citra. Maka, merupakan sebuah kenyataan juga bahwa banyak dari kita yang lebih suka menggunakan kendaraan pribadi dibanding kendaraan umum. Bisa jadi, alasannya selain karena banyak dipengaruhi faktor eksternal. Misalnya, ketidaknyamanan dan ketidakefeketifan ketika menggunakan kendaraan umum, fenomen ini juga bisa berangkat karena pengaruh dari sebuah gaya hidup modern. 

Berkenaan dengan ini, seorang profesor dari Harvard University, Harvey Cox menggambarkan adanya pergeseran dalam tata kehidupan masyarakat modern karena praksis urbanisasi. Urbanisasi meninggalkan kultur agraris dan menggerakkan roda perubahan hingga tercipta karakter masyarakat urban yaitu anonimitas (orang tidak lagi saling kenal) dan mobilitas (begitu cepatnya orang berpindah tempat). Masyarakat yang awalnya dalam tradisi agraris terikat kental dengan alam dan Allah, bergeser ke suatu kondisi, dimana peran manusia begitu ditonjolkan. 
Tentunya, di tengah modernitas ini, disadari atau tidak, kerap terasa bahwa pada diri kita tetap terdapat suatu kerinduan mendalam akan eudaimonia: rasa damai dan tenteram dalam mengarungi kehidupan. Hal ini kiranya merupakan suatu perumusan lain dari pengalaman akan kondisi “selamat”. 

Maka, merupakan sebuah kewajaran, ketika banyak simbol-simbol tradisi lama, tidak memenuhi kerinduan itu, bisa jadi kerinduan hati kita akan “keselamatan” tersebut mendorong kita untuk berusaha menemukan atau bahkan menciptakan simbol-simbol baru: yang lebih mengena, kena di hati. Bahkan kerap kita menjadikan barang-barang ciptaan (mobil pribadi) serta perbuatan kita (life style) seakan menjadi jawaban atas kerinduan ini. Hal ini lebih tepat kiranya jika dikenakan kepada kaum metroseksual.


Tentunya kita juga sepakat bahwa media transportasi pribadi, yang kerap membuat hidup kita menjadi lebih luas, intensif dan massif sebagai ‘global village’ merupakan fakta umum dan bagian hakiki dalam keseharian kita. Di balik semua fenomen yang serba tunggang langgang ini, sebenarnya ada formasi yang oleh pemikir kebudayaan kontemporer, Theodor Adorno, terbentuk dari seluruh praktek culture industri atau ‘industri kebudayaan’. Sebuah praktek yang mengintegrasikan nilai kultural. Yang sedang banyak diintegrasikan secara simultan dalan hidup kita sekarang adalah mimpi-mimpi indah dan keinginan kita yang kerap tak melulu sesuai dengan realita. 

Satu hal yang perlu diperhatikan, dalam masyarakat yang maju, dengan kemajuan teknologi transportasi, di situ kerap muncul suatu masyarakat yang tidak sehat. Herbert Marcuse, dalam bukunya: “One Dimensional Man” mengkritik pola hidup masyarakat industri modern sebagai masyarakat yang berdimensi satu, karena segala segi kehidupan hanya diarahkan untuk dan demi berlangsungnya sistem kapitalisme. 

Maka, menanggapi betapa dahsyatnya kekuatan alat-alat tranportasi sekarang ini, wajar jika banyak dari kita “merasa bersalah” jika tidak memakai sarana ini, yang dari hari ke hari disempurnakan oleh kepandaian manusia, tapi di lain segi kita diajak untuk tidak begitu saja menjadi budak teknologi transportasi modern, yang mendangkalkan arti dan nilai kemanusiaan yang multidimensional.

0 komentar:

Poskan Komentar