Ads 468x60px

YUNUS (Terapung di Lambung Ikan Besar)

Refleksi Komunitas Basis Seniman 

I. Pengantar: 
Matahari telah lama tenggelam di Kota Niniveh
Kota menjelma lubang hitam,
Tanpa bulan dan bintang-gemintang,
Tanpa langit yang kehilangan cakrawala. 
Memasuki Niniveh, seperti memasuki lambung raksasa,
tahta bagi kegelapan yang disembah ratusan jiwa.
Orang-orang hanya bisa mengenyam kecemasan, 
sebelum akhirnya digeris menjadi nista 
Jentera kehidupan berputar terbalik,
mengiris jiwa-jiwa tercabik.
Purba-prasangka telah menggantikan cinta, 
menjelma pisau, menikam lambung siapa saja. 
Komunitas basis seniman melihat bahwa kehidupan berbangsa dan bernegara di negara kita ini layaknya zaman nabi Yunus saat diutus ke kota Niniveh. Indonesia adalah 'Niniveh baru' yang mengalami masa kritisnya akibat ulah manusia. Realitas hidup menggereja di tengah hiruk pikuk kehidupan berbangsa dan bernegara ikut terkena 'imbas'nya akibat situasi dan kondisi sosial politik yang kacau di negara kita. Gejala-gejala ini dapat kita lihat saat negara kita mengalami krisis di segala bidang: Ketika KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) makin mengakar dan membumi di Indonesia. Ketika lembaga-lembaga kontrol pemerintah menjadi mandul. 

Demikianpun nasib yang sama juga diterima Gereja, dengan sikap Gereja yang hanya menutup mata saja ketika terjadi ketidak-adilan dan kesewenang-wenangan membuat fungsi kenabian gereja menjadi mati. Krisis ternyata tidak hanya terjadi di bidang ekonomi saja akan tetapi di segala aspek kehidupan, misalnya; krisis kepercayaan, krisis iman, krisis kepemimpinan, dan berbagai macam lainnya. Melihat kehidupan masyarakat sehari-hari kita dapat mengetahui bahwa hal ini nampaknya semakin hari-semakin memburuk. Kita pernah melihat maupun mendengar bagaimana masyarakat saling bantai-membantai karena perbedaan SARA. Kasus penjarahan, pemerkosaan, tawuran antar warga, obat-obatan seringkali menghiasi berita harian di negara ini. Generasi anak-anak sekarang terlahir dalam keadaan 'ibu pertiwi' sedang dalam penganiayaan.

Masyarakat tidak dapat dipersalahkan begitu saja, karena kita semua turut mendukung atas kejadian-kejadian yang baru terjadi. Maka umat basis perlulah melakukan refleksi atas kejadian yang baru-baru saja kita alami. Komunitas basis adalah merupakan kumpulan dari kelompok orang yang bersatu karena memiliki keinginan yang sama, tujuan yang sama, dan yang utama adalah keinginan mewujudkan iman bersama. Kalau kita melihat konteks kekristenan pada zaman Gereja Perdana, komunitas basis terlihat dalam suasana mengucap syukur bersama karena telah diselamatkan Allah.

Maka komunitas basis sebenarnya muncul karena ada perasaan kebersamaan untuk berbuat sesuatu. Jadi unsur kebersamaan sangatlah penting. Maka sangat mungkin terjadi komunitas basis lintas agama, dan lintas suku. Namun yang komunitas basis yang berkembang sekarang adalah komunitas basis yang eksklusif. Komunitas basis yang eksklusif itu adalah kolompok yang berbasis pada identitas yang sama, kepentingan yang sama, dan tujuan yang sama. Hal ini tidak hanya terjadi dikalangan umat Katolik saja tapi juga dikalangan umat lainnya. Jika hal ini terlalu ditonjolkan secara mencolok maka yang akan terjadi adalah benturan-benturan yang hebat untuk saling menghancurkan satu sama lain.

II. Kisah Yunus bin Amitai 
Theater ini dibuka dengan sebuah Overtur yang diangkat dari karya komposer besar Ludwig van Beethoven: Sympony No.5 dalam nada C-Minor, karya ke-67. Simponi ini terkenal sebagai 'Simponi Nasib', mengisyaratkan kehidupan sang komposer saat dia menuliskan komposisi ini pada tahun 1707 hingga 1708: miskin, tidak punya "rangking" dalam masyarakat, sudah mulai tuli dan tidak punya pekerjaan tetap. Tema pertama dari komposisi ini berasal dasri sebuah ketukan pintu: "tok, tok,tok….tok!!!". Tentang tema pertama ini, Beethoven pernah berkata kepada temannya, Schindler: "begitulah nasib mengetuk pintu!!!" Ketokan pintu adalah juga ketukan pada "pintu hati" kita masing-masing yang hadir dalam pagelaran ini. Semoga kita dan Gereja untuk "berbicara" agar Indonesia luput dari firman Tuhan.

Suasana panggung menghadirkan kota Niniveh yang hiruk pikuk dengan suasana hingar bingar orang-orang yang saling menjatuhkan satu sama lain. Adegan perkelahian orang-orang menampilkan keadaan yang kacau dan situasi 'khaos'. Orang saling gontok-gontokan, saling sikat dan saling libas demi kejayaan masing-masing.. Yang lain nampak mendominasi, menciptakan kekacauan dengan membakar, menjarah dan membunuh. Dari keremangan itu pula muncullah seorang ibu membawa lentera yang menyala cukup terang, ia gelisah mencari anak-anaknya.

Dari mulutnya keluarlah senandung:
"Berabad-abad sudah,
aku tak pernah istirahat
menyusuri perjalanan panjang
Mencari anak-anakku yang hilang 
Tak ternilai cinta kutumbuhkan
Tak ternilai kasih kuberikan
Tapi kenapa kalian datang
Dengan berjuta tikaman 

Lampu yang padam semakin lama merambat menyala, meski masih tetap remang. Selingkar cahaya nampak mengurung Yunus. Yunus terpuruk dan membeku dalam lingkaran cahaya itu. Terdengar suara Tuhan: Bangunlah, pergilah ke Niniveh, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku." 

Yunus menolak perintah Tuhan kepadanya. Ia akhirnya pergi ke Tarsis untuk berdagang namun dalam perjalanan kapalnya diombang-ambing badai. Seluruh penghuni kapal yakin bahwa salah seorang penumpang kapal telah melakukan dosa besar sehingga bencana menimpa mereka. Mereka akhirnya membuang undi dan ternyata Yunuslah sumber bencana. Maka setelah mereka mengetahui bahwa orang tersebut adalah Yunus, mereka langsung membuang Yunus dari kapal yang mereka tumpangi itu. Yunus terombang-ambing oleh ombak yang bergulung-gulung tiada hentinya. Mulut ikan Paus menghampirinya untuk menelan Yunus.

Di dalam perut Yunus bertemu dengan penjaga yunior dan penjaga senior. Para penjaga ini kembali meminta Yunus untuk mau menuruti perintah Allah agar Yunus pergi ke Niniveh. Yunus tetap menolak perintah Allah tersebut. Namun ternyata yang tinggal dalam perut ikan itu tidak hanya Yunus saja tapi juga ada mahasiswa, politikus, perempuan penghibur, pedagang, nahkoda, aktivis LSM, calo surga, serdadu, dan juga pastor. Yunus menjadi sadar bahwa apa yang dia lakukan salah tak kala ia melihat sendiri kebobrokan dari orang-orang tersebut. Ia akhirnya mau juga diutus Tuhan untuk pergi ke Niniveh.

Yunus pergi ke kota Niniveh dan langsung memberitahukan rencana Tuhan terhadap kota Niniveh. Mendengar perkataan Yunus maka orang-orang di kota Niniveh dan juga pemimpin kota itu langsung bertobat. Tuhan membatalkan niatnya untuk menghukum kota Niniveh karena seluruh kota itu melakukan rekonsiliasi besar. Yunus yang telah mengetahui bahwa akhirnya Tuhan akan mengampuni langsung saja marah akan sikap Tuhan ini. Dia kesal sekali karena alasan utama ia menolak adalah karena hal ini. Ia merenungi hal ini dibawah pohon yang rindang. Dan ia amat menyukai pohon yang rindang ini. Namun dalam sekejab mata ia memandang pohon itu menjadi kering, kembali Yunus marah-marah. Tuhan menyetakan Yunus dengan berkata. "Engkau sayang terhadap pohon jarak itu, yang untuknya sedikutpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan yang binasa dalam satu malam pula. Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniveh, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari 120 ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya uang banyak?"

III. Yunus Dalam Konteks Zaman Sekarang
Yunus bin Amitai, seorang nabi yang dipanggil Tuhan untuk mewartakan pertobatan di Niniveh, menolak perintah itu dan lebih memilih pergi ke Tarsis. Ternyata penolakannya atas tugas kenabian itu, menimbulkan kesengsaraan bagi orang-orang disekitarnya, awak perahu yang bersama dengannya harus mengalami badai dahsyat. Didalam meditasi dan pergulatan batin yang menyengsarakan- yang dilambangkan dengan masuknya Yunus ke dalam perut ikan besar- akhirnya Yunus sadar bahwa dia tak bisa memangkiri perintah Allah.

Yunus adalah seseorang yang merasa tidak mempunyai kekuatan, Yunus adalah saya! Yunus adalah Anda, Yunus adalah kita semua, bahkan kita boleh mengatakannya bahwa Yunus adalah Gereja! Gereja di Indonesia yang diutus Tuhan untuk mewartakan pertobatan, akan tetapi lebih memilih "tidur" selama bertahun-tahun dan membiarkan badai dahsyat menghantam "bahtera" Republik Indonesia.

Kini Bangsa Indonesia sedang berada dalam "meditasi" bersama untuk membangun masyarakat baru. Inilah salah satu simbol lambung ikan besar. Gereja Indonesia berada dalam lambung ikan ini dan mengalami pergulatan batin. Pada saatnya nanti Gereja Katolik Indonesia akan "dimuntahkan" bersama dengan komunitas basis lainnya untuk berjuang membangun Indonesia Baru. 

Kisah Yunus adalah kisah Perjanjian Lama yang selalu aktual hidup dalam kehidupan nyata kita sehari-hari. Komunitas Basis Seniman Indonesia dengan amat jelas memaparkan dan merekatkannya dengan instrumen musik dan peran setiap tokoh melalui teater Musikalnya. Sejenak mereka mengajak kita berbahagia dengan keberagaman yang kita miliki sebagai Gereja Katolik yang universal. Sedangkan tujuan teater ini diselenggarakan adalah bersifat Komprehensif dan Edifikatif.

Ketika badai itu datang menerpa bumi pertiwi ini tak ayal lagi bumi itupun hancur porak-poranda. Siapakah yang dapat dipersalahkan akibat kehancuran ini? Maka untuk inilah komunitas basis seniman menawarkan sebuah refleksi yang patut kita selami jauh lebih dalam lagi. Akankah kita berpaling seperti Yunus ketika melihat kota Niniveh ingin dihancurkan Allah! Kita dapat menjawabnya bersama-sama lewat dialog dan bekerjasama satu sama lain.

Komunitas Basis Seniman menyumbangkan buah refleksinya atas kehidupan berbangsa, bernegara, dan beragama yang dirasakan keluar dari jalurnya. Di dalam 'meditasi'nya orang dapat melihat segala kebobrokan yang ada di dalam dirinya. Semua lapisan keanggotaan masyarakat mendapat kritikan, dari politikus, mahasiswa, jaksa, pedagang, sampai pastor (mestinya Uskup). Kritikan yang diajukan serasan butiran-butiran peluru yang menghujam jantung setiap orang, namun hal ini disampaikan dalam bentuk humor yang segar.

IV. Maksud dan Tujuan
Maksud dan Tujuan Pentas Yunus (Terapung di Lambung Ikan Besar): 
Vision dan message yang dicari bersama, direflekesikan bersama di dalam kelompok basis dengan bantuan literatur, rekan sahabat yang menguasai bidangnya: artistik, estetik (filsafat dan moral seni), teologik dan ilmu-ilmu sosial. Usaha bersama untuk menjelmakan vision dan message yang telah direfleksikan itu ke dalam karya seni yang indah, proporsional dan bertanggungjawab, melalui proses melingkar: 1) latihan, 2) diskusi atas latihan, 3) refleksi teoritik, 4) dialog teks artistik dan konteks sosial, 5) insight demikian seterusnya masuk ke point pertama lagi! 

Beberapa Alasan:
1. Alasan Artistik 
Teks bisa memberikan kelenturan interpretasi. 
Tidak terlalu dibebani pada bahaya-bahaya salah tafsir sehingga bisa dituduh: bida'ah! 
Dengan mudah ke dalam teks seniman benar-benar dapat memuntahkan kreatifitasnya secara sungguh-sungguh! 

2. Alasan Sosio-politik 
2.1. Ciri profetis 
Teks berkaitan erat dengan keadaan bangsa yang sedang krisis. problem-problem aktual. Teks harus tajam, jelas pesannya, mendapatkan bukti-buktinya dalam masyarakat. Persoalan yang diangkatnya mampu menggugah nurani umat dan rakyat. Singkatnya melalui teks itu (teks dalam arti luas, bukan hanya teks tertulis, pementasan itu sendiri sebuah teks bahkan masyarakat dapat dikatakan juga sebagai sebuah teks yang interpretable), umat dan rakyat sedang merefleksikan persoalannya, sedang menelusuri nuraninya, pilihan nilai-nilai moral di tengah-tengah kebutuhan-kebutuhan hidupnya yang mendesak. Dengan kata lain, teks dapat membantu para penonton entah yang berstatus penguasa entah itu sipil maupun eklesial maupun seluruh komponen bangsa dan gereja lainya dengan aneka peran dan jabatannya. 
2.2. Teks Bukan Pemihakan Politik 
Teks bukan dukungan untuk kelompok A dan makian kelompok B. Ini tidak mudah! Yang pasti kami menghindar segala simbol yang mengarah kepada personalitas tertentu. Kritik kepada lembaga-lembaga dan simbol-simbolnya diarahkan lebih kepada substansi persoalan dan bukan pemihakan golongan, partai dan ormas! Kritik vulgar dan bersifat menyerang lembaga apalagi personal sungguh-sungguh diusahakan dihindari. 'Yunus' memihak perdamaian dan ikut mencipta 'kesejukan'. Sesama orang Indonesia sedang bunuh-bunuhan! Sementara itu pagelaran ini ada dalam suasana intrik-intrik politik yang sangat tajam! Di sini fungsi HUMOR dalam arti yang paling dalam sangatlah besar. Humor bukanlah slapstick murahan yang hanya mengelaborasi sisi-sisi dangkal dan artifisial dari keberadaan kita sebagai manusia. Melalui humor, kita diajak tertawa, mentertawakan sesuatu dan terlebih mentertawakan diri sendiri namun serentak pada saat itu, audiens menangis, menangisi sesuatu dan terlebih menangisi diri! Humor bernilai filosofis dan religius. 

3. Alasan Religius 
Pencerahan Suara Hati bagi Komunitas Seniman Itu Sendiri. Selain itu, KBS bisa mengadakan semacam "penggarisbawahan bahkan PEMAHKOTAAN-PENDUPAAN" dari: pencarian 'kebenaran' yang sedang dan terus terjadi dalam Gereja Katolik Indonesia

4. Alasan Inter-religiusitas
Komunitas Basis Seniman sepakat untuk mencari teks yang mampu merenungkan PERSAMAAN FUNDAMENTAL DARI INTI RELIGIUSITAS bukan hanya untuk kalangan Katolik, Protestan tetapi juga untuk kaum Muslim bahkan untuk seluruh kaum beragama: Hindu, Budha, Konghucu, Kejawen dll. Singkat kata, dalam perjalanan renungan KBS, ditemukanlah kesamaan persepsi, yaitu carilah teks yang mampu menyerukan universalitas moral dalam konteks gereja dan bangsa yang sedang krisis!" Teks diharapkan bisa "berbunyi" untuk siapa saja seluruh umat Katolik bahkan rakyat Indonesia, untuk Uskup, untuk Presiden, untuk para seniman partisipan yang terdiri dari pelbagai agama. Teks, bila itu ditonton ditelevisi, bisa menjadi sarana pencarian bersama antar pemeluk agama. 

Bukan kebetulan bahwa akhirnya kami memilih Yunus: teks itu ditemukan juga di dalam Alquran (Surah 37.239-148!) yang bunyinya: 
"And lo! Jonah verily was of those sent (to warn). When he fled unto the laden ship, and then drew lots and was of those rejected; and the fish swallowed him while he was blameworthy; And had he not been one of those who glorify (Allah), He would have tarried in its belly till the day when they are raised. Then We cast him on a desert shore while he was sick; and We caused a tree of gourd to grow above him; and We sent him to a hundred thousand (folk) or more. And they believed, therefore We gave them comfort for a while" 

Pesan teks Yunus yang mau kami garisbawahi adalah: 1. dosa dan kebobrokan manusia, 2. pertobatan 3. dan pesan atas universalitas keselamatan dan belaskasih Allah tanpa batas dan untuk semua bangsa dan orang. Teks yang tercipta memang dicipta dengan kesadaran bahwa KAMI TIDAK MENGKAITKANNYA BERDASAR TAFSIR SEPIHAK DARI PERJANJIAN BARU (Yunus tiga hari di perut ikan; Yesus tiga hari di perut bumi). Contoh ayat: 
"Sebagaimana Yunus tinggal tiga hari dan tiga malam di dalam perut ikan besar, demikian juga Anak Manusia akan tinggal selama tiga hari dan tiga malam di dalam perut bumi. (Matius 12.40)" 

5. Alasan Estetika: Filsafat dan Moral Seni 
5.1. Bukan Panis et Circentes (Roti dan Hiburan) 
Bangsa Romawi kuno dengan Collosseo dan gladiator-nya misalnya atau dalam arti tertentu American and Hollywood style, seni cenderung dicipta untuk memuaskan nafsu-nafsu rendah kita: kekerasan, glamour, gebyar, sensual dengan menonjolkan semata pada dewa-dewi panggung: kehebatan para 'star' dengan tampilnya bintang-bintang kenamaan, dengan koreofrafi yang memuaskan indera visual, dengan sound system yang memanjakan telinga auditif kita, yang merangsang syaraf-syaraf kita, sehingga otak mengirimkan gratifikasi psikologis yang besar! Itu bukan berarti bahwa KBS mengharamkan dahsyatnya sarana itu. KBS menghindari adalah janganlah teks tercipta menjadi opium, menjadi tindak-masturbasi, menjadi pemuasan psyke sesudah raga dikenyangkan oleh panis (makanan). Dan tempo libero (saat luang) digunakan untuk 'pemanjaan'. 

5.2. Gugatan Suara Hati dan Jati Diri 
Bangsa Yunani kuno jauh-jauh hari mengembangkan proses penyadaran rakyat melalui gagasan mimesis dan katarsis di dalam tragedi dan komedi, drama klasik Yunani. Kelompok dan aliran seni yang merebak di dunia III untuk penyadaran rakyatpun kami perhitungkan! Di mana-mana muncul teater rakyat. Fungsinya adalah konsientisasi hak-hak dan nilai-nilai sosial dan moral. Dengan begitu seni menjadi proses pendidikan, proses penyadaran, proses pemerdekaan. Maka teks kami jelas memihak. Teks diusahakan memihak suara hati yang terdalam. Teks menjadi CERMIN. Aku melihat aku. Kita melihat kita. Dengan cacat celanya. 

5.3. Menghargai Audiens sebagai Partner Refleksi 
Teks diusahakan bukan menjadi indoktrinasi, bukan one way, bukan P4. Di hati setiap audiens, teks menjadi baru seturut kondisi kebatinan tiap audiens. Teks diharapkan berbunyi secara berbeda-beda di setiap audiens! Maksud kami, ketika menonton, hadirin secara bebas sedang berdiaolog dengan teater musikal Lakon Yunus itu, di dalam hati, di dalam nurani, berdasarkan karakter, peran, pekerjaan dan kondisi batinnya sendiri-sendiri. Ibarat Firman Tuhan yang selalu baru setiap orang membaca kapanpun, di manapun, oleh siapapun. Jelaslah bahwa yang kami maksud bukan teks beku bak ritus rapalan, ex opere operato. Dalam bahasa gereja, kita berkata, melalui sabda yang HIDUP maka ROH berbicara secara unik kepada setiap insan. Dalam bahasa postmodernisme, setiap audiens itu sekaligus adalah pencipta teks! Kelima -sebutlah- Panca Butir itu sekali lagi bukan sesuatu yang jadi dari awal, tapi dicari dan direnungkan tahap demi tahap, latihan demi latihan, bahkan sampai pada satu hari sebelum pentaspun kami masih mempermak demi sebuah pesan: pakaian imam diganti dengan pakaian uskup! Sayang KBS lupa mengganti istilah pastor menjadi uskup! Saudara-saudara, apakah kelima "Panca Butir" itu akhirnya dapat tercapai sesuai dengan proses KBS berkreasi melalui kisah Yunus, biarlah audiens sendirilah yang menilai. 

IV. Kesimpulan
Kisah Yunus yang ditampilkan merupakan langkah awal bagi kita untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang selama ini lakukan. Sikap dari pemuka-pemuka yang ingin membuka diri terhadap kesalahan patut kita syukuri. Konteks permasalahan di Indonesia yang sedemikian luas ditampilkan dalam suatu kisah yang cukup 'apik'. Kisah ini cukup kontekstual untuk ditampilkan pada zaman sekarang karena memang Indonesia adalah kota Niniveh baru. Niniveh baru ini memerlukan sentuhan tangan Yunus Yunus muda untuk dibentuk menjadi baru, dirubah dan diperbaiki apa yang mesti diperbaiki. Bahasa sastrawi memudahkan kehidupan dunia politik dan sosial yang begitu pelik. Hal ini bisa terjadi karena seni sastrawi merupakan suatu seni yang mengolah teks, konteks, dan juga pelaku-pelakunya. Semuanya saling terkait dan harus ada kerjasamanya sehingga usaha pengkontekstualan akan berhasil dengan baik. Kisah ini adalah suatu perwujudan pikiran pengarang yang diejawantahkan. Kisah ini juga menhubungkan antara pengarang dengan kehidupan, pengarang dengan naskah, naskah dengan aktor, naskah dengan sutradara, pengarang dengan aktor, pengarang dengan sutradara, naskah dengan pementasan, aktor dengan aktor, aktor dengan penonton, naskah dengan penonton, dan seterusnya.


0 komentar:

Poskan Komentar