Ads 468x60px

Gereja Katolik dan teman temannya


Sebuah Tambahan Cerita
Gereja Katolik adalah umat Kristiani yang meyakini dirinya sebagai “ gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik,” sesuai dengan syahadat. Gereja yang dikepalai Kristus, di dunia ini tersusun sebagai satu umat yang beriman akan Yesus Kristus dan direalisasikan dalam gereja katolik, yang dipimpin para Uskup sebagai pengganti dewan para Rasul, yang diketuai oleh Uskup Roma sebagai pengganti St. Petrus.

Kata gereja dalam bahasa Indonesia berasal dari kata Portugis “ igreja,” yang berasal dari kata Yunani, “ ekklesia,” ( = mereka yang dipanggil, kaum, golongan, ) kyriake ( = yang dimiliki Tuhan ). Maka kata “ gereja,” sama asal usulnya seperti “ kerk,” ( Belanda ) dan “ Kirche,” ( Jerman ). Kata “gereja,” digunakan baik untuk gedung2 ibadat maupun untuk umat Kristen setempat ( jemaat, umat ) dan umat seluruhnya.


Gereja dapat dipandang dari berbagai segi : 
Pandangan Gereja dari segi Kitab Suci :
Yesus Kristus berseru kepada bangsa-Nya Israel supaya bertobat, percaya kepada-Nya dan masuk kedalam Kerajaan Allah. Dalam PL bangsa ini disebut: Umat Allah, dan siding rayanya disebut: quahal ( Ibr ) atau ekklesia ( Yun ). Dg memilih ke-1 Rasul Yesus memperlihatkan bahwa Ia memanggil ke -12 suku bangsa Israel supaya menerima-Nya sebagai Almasih, yang diutus Allah untuk mendirikan Kerajaan_Nya yang definitif.

Sebagai seorang Nabi ataupun guru yg berkeliling, Yesus membentuk kelompok murid-Nya, mirip kelompok-kelompok saleh lain. Tetapi hanya Yesuslah yang memanggil orang berdosa, terbuang dan tersingkir dari masyarakat supaya bertobat dan menjadi murid-muridNya, ((bdk Mrk 6 : 34; Mt 10:6 ). Inti kelompok muridNya adalah ke-12 Rasul, sejajar dengan ke-12 suku bangsa Israel. Tetapi krn Israel khususnya Pemimpinnya semakin menolak Yesus, Ia mendidik para muridNya supaya mengerti misteri perutusan dan kematianaNya. WafatNya adalah dasar dan awal PB (Mk 14:24) dan penyelesaian PL.

Sama halnya seperti Yahwe ( Allah ) memilih bangsaNya dlm PL, demikian juga Allah memilih dan membentuk umatNya yang baru dengan pengantaraan Kristus (=Yang di Urapi, Almasih ). Maka Kerajaan Allah datang dan ada di antara manusia dlm pribadi Yesus. Tetapi Kerajaan ini sekaligus masih harus datang dan hari penyelesaiannya hanya diketahui Bapa di Surga (bdk Mk2,19 dst: 13,9 dst ). Kerajaan Allah ini adalah Universal, krn Allah adalah Tuhan satu-satuNya bg semua org. Maka gereja harus menjadi saranaNya di mana saja sampai akhir jaman. Oki perjamuan untuk mengenang wafat Yesus demi semua org itu harus diulang dalam persaudaraan diantara sesama sampai Ia datang kemabli ( Lk 22, 16 : 19 dst; bdk 1Kor 11,24). Perjamuan itu adalah Ekaristi, pangkal tolak sekaligus puncak segala kegiatan Gereja ( G 11 )

Kitab-kitab suci PB mengandaikan adanya gereja yang memberi kesaksian tentang apa yang di imani dan dilakukannya. Setiap kitab ditunjukkan kepada umat tertentu , maka menekankan segi berbeda pula; Mis; Injil Markus: Gereja sebagai penerus kelompok murid-murid Yesus .Injil Matius: Gereja sebagai Israel baru. Injil Lukas: Gereja yg dijiwai Roh Kudus . Injil Yohanes: Gereja sebagai Umat beriman.

Gereja tumbuh dari pewartaan injil yg diimani dan pembaptisan. Tidak mengherankan bahwa tdk ada satu sabda Yesus yg dpt disebut: Sabda Pendirian Gereja. Sebab gereja berakar dlm hdp , pewartaan dan peristiwa Paskah yaitu wafat, kebangkitan Kristus serta pengutusan Roh Kudus. Sebelum Pentakosta sudah ada satu kelompok murid, tetapi gereja belum ada. Ia tumubuh sejak pentakosta yaitu dari murid-murid Yesus langkah demi langkah, spt kelihatan dlm kisah Para rasul dan surat-surat St. Paulus.

Dlm hubungan dengan itu harus dimengerti juga bahwa sabda Yesus bahwa Ia akan membangun gereja di atas batu karang yaitu Simon Petrus , dan alam maut tidak akan menguasainya,(Mt 16, 18, dst ). Yesus bermaksud membangun suatu gereja dan kepada Petrus diberikannya kekuasaan kunci di dalamnya dan musuh-musuhnya tidak dapat menghancurkannya. Gereja Kristus demikian kokoh karena Yesus mengurbankan Diri untuk orang banyak dan krn dalam darahNya Ia mengadakan PB dan kekal. Dalam perjanjian itu gereja adalah sarana untuk membangun kerajaan Allah, untuk mengumpulkan semua orang dari segala penjuru bumi.

Gereja yg diinginkan Yesus didirikan atas dasar ke-12 Rasul dan tersusun hirarkis. Khususnya kepada Petrus diberikan fungsi untuk masa depan, waktu Yesus tidak lagi diantara murid-muridNya (a.l. Lk 22,31 dst. Mt 16, 18; Yo 21, 15-18). Susunannya yang lebih konkrit akan dikerjakan oleh Roh Kudus, yg membimbing gereja dari dalam. Maka pada hari pentakosta pertama gereja tampil sebagai kelompok murid Yesus, yang mewartakannya sebagai Almasih, yang ditolak Israel lama, tetapi memperolah bagiNya Israel baru yang sejati. Semula umat ini dibimbing Roh Kudus secara intesif supaya dari kelompok murid tumbuh suatu umat beriman dengan perlengkapan yg diperlukannya. Alkitab, struktur, rumus pokok-poko iman.…… Maka wajarlah jika kegiatan Roh Kudus dalam umat ini tampak dengan jelas dalam berbagai karisma , bimbingan pribadi dan mujizat (bdk Yo 14,12). Zaman persiapan selama Yesus masih di dunia ini dig anti dengan zaman kegiatan ROh Kudus, zaman gereja yg dimulai pada hari pentakosta pertama.

Sesudah wafat dan kebangkitan Yesus, Gereja tetap berseru supaya Israel bertobat (Kis, 2, 36-38; 3,17-26), baru kemudian membuka diri kepada bangsa-bangsa lain (Kis 15, 14). Dalam surat-surat St Paulus –Rasul bangsa-bangsa, perkataan ekklesia dapat berarti : jemaat lokal, khususnya umat yg berkumpul untuk merayakan ibadat, tetapi berarti juga seluruh Gereja, (mis. Gal 1,3;1Kor 10,32; 12,28; Kol 1,18 dan 24). Gereja universal ini hidup dalam gereja-gereja partikuler. Maka setiap gereja local betapa pun kecilnya adalah gereja Allah (bdk 1Tes 1,1; 1Kor 1,2). Tetapi gereja universal bukan hanya jumlah atau gabungan gereja-gereja lokal melainkan persekutuan semua orang yang bersatu dalam iman (lih. Entri gereja Partikular)

Para murid Yesus mula-mula memandang diri dan masih terus di pandang sebagai salah satu kelompok khusus di agama Yahudi. Tetapi sejak semula ciri-ciri khas semakin membedakannya dari induknya yg Yahudi. Penganiayaan di Yerusalem dn negeri Palestina serta agitasi melawan pengikut Kristus dlm banyak Sinagoga, semakin menjauhkan orang Kristen dari org Yahudi.

Secara histories, gereja dapat dilihat sebagai kelanjutan kelompok murid yang dikumpulkan oleh Yesus dari Nasaret ( antara thn. 27 – 30 ses. M. ). Mereka berpangkal – tolak dari pewartaan dan perbuatan Yesus dan kedua belas Rasul yang dipilih-Nya ( Mat 10, 1-4 ). Inilah gereja perdana. Kemudian pada abad2 berikutnya gereja itu tersebar luas di seluruh dunia, tetapi mengalami juga perpecahan; tumbuhlah gereja2 yang kurang berhubungan satu sama lain. Gereja manakah yang diinginkan Kristus dari antara umat-umat Kristen itu ?

Secara Sosiologis , gereja dipandang sebagai persekutuan keagamaan orang beriman Kristen yang terorganisasi, berkembang dan berperan dalam masyarakat. Dalam umat ini terdapat dalam berbagai jabatan dan karisma ( 1Kor 12, 4-11). Pada zaman PB sudah terdapat jabatan – presbiter ( penatua atau imam; Kis 11,30; 14, 23; 1Ptr 5,1 dst) dan / atau episkopos ( penilik atau Uskup Fil 1,1; 1Tim 13,2 ). Sejak awal baik di Timur ( umat Asyria ) maupun di barat umat mengorganisasikan diri, dan kekuatan tertentu mendorong pada institualisasi, yang sering mengeras dan menjadi alasan perpecahan. Tetapi institusionalisasi sampai batas tertentu tak dapat dihindari karena manusiawi ( dengan segala segi baik / buruknya ). Gereja dapat dan terutama dipandang dari sudut pengertian dirinya, yaitu dari sudut ajaran gereja tentang dirinya. Ajaran ini dalam bentuk histories-prateologis mengadakan refleksi: atas didirikannya gereja oleh Yesus Kristus yang bangkit ( Mt 28, 19 dst; Yo 20, 21-23 ) dan atas tugasnya mengajar dengan wewenang khusus serta secara teologis merefleksikan hakekatnya sendiri.

Gereja bukan tujuan misi Yesus, melainkan sarana untuk mengembangkan Kerajaan Allah yang diwartakan-Nya. Oleh karena itu gereja harus selalu memperbaharui diri, supaya dapat enjalankan peranannya dalam situasi yang selamanya berubah. Dalam arti yang luas gereja mencakup juga orang beriman yang sudah diterima di surga.


Pandangan Teologis tentang Gereja;
Pada zaman Bapa-Bapa Gereja ( abad ke 3 – ke 8 ) timbullah beberapa gagasan tajam, yang dikemudian hari ikut menentukan pengertian diri gereja, a.l. cirri apostolik, pentingnya Uskup dan dewan-dewan Uskup ( sinode dan konsili ), gereja yang universal, bebasnya gereja dari Negara, ( S.Ambrosius ), penggunaan paksaan dalam hal agama ( S. Agustinus ) , peranan khusus Uskup Roma ( Irenius, Gregorius Agung ).

Gereja bagaikan Sakramen keselamatan yg asali ( Ursakrament ), yang merupakan tanda ( bentuk yang kelihatan secara sosiologis ) dan kenyataan ilahi yang tak tampak ( Sabda Ilahi, yaitu Kristus sendiri, Yang Tubuh-Nya ialah Gereja ). Kedua aspek ini perlu dibedakan, tetapi tidak boleh dipisahkan ( G 1,9,48 dan GD 42 ). Gereja dapat disebut persekutuan orang beriman yang terorganisasi dan dalam imannya terus menampakkan -Wahyu yang terselesaikan dalam Yesus Kristus, sebagai kenyataan dan kebenaran bagi seluruh dunia ( K. Rahner ). Maka, gereja meneruskan sabda Ilahi yang tetap hadir dan tak pernah ditarik kembali darinya, yang diucapkannya kepada, di dalam dan demi dunia ini. Sabda ini sebenarnya Yesus Kristus sendiri yang merupakan awal gereja. ( Lih. Konsili Vat II KM 5 )

Setelah perutusan Yesus selesai dalam peristiwa Paskah, Ia kembali kepada Bapa-Nya, tetapi juga hadir dalam gereja-Nya, yaitu dalam Roh-Nya sampai akhir Zaman ( Mt 28, 20 ). Roh Kristus atau Roh Kudus menjiwai Gereja , seperti tampak pada hari Pentakosta, ( Kis 2 ). Terdorong oleh Roh Kudus para murid mengaku dan memberi kesaksian, bahwa Yesuslah Tuhan, ( 1Kor 12,3) dan bahwa Allah juga Bapa mereka (Rom 8,15). Maka gereja adalah persekutuan/ communio orang beriman dalam Roh Kudus.

Gereja adalah suatu umat yang tersusun. Gereja Katolik, Ortodok dan Anglikan tersusun secara hierarkis, karena Kristus mengangkat beberapa orang yang dipilih-Nya menjadi rasul dengan wewenang tertentu dalam gereja. Peranan kepemimpinan ( bukan peranan sebagai saksi mata ) ini di teruskan oleh para rasul kepada orang-orang yang didoakan dengan meletakkan tangan mereka atas orang-orang itu ( Tahbisan). Mereka sejak abad ke-2 disebut Uskup. Maka gereja bersifat apostolik atau rasuli karena pimpinan dan ajarannya dikembalikan pada peranan, jabatan serta pewartaan para rasul ( = apostolik; Yun ).

Seluruh gereja bersatu dengan merayakan ibadat yang sama dan mengakui iman yang sama pula. Semuanya itu merupakan tanda, bahwa Tuhan mendekatkan umat manusia secara nyata, yaitu dalam kebenaran-Nya seperti terdapat dalam ajaran gereja, dalam rahmat-Nya yang berdaya guna , dalam sabda pewartaan dan sakramen-sakramen, dalam cintakasih-Nya yang dinyatakan dalam pengabdian serta persaudaraan orang-orang beriman. Kehadiran Tuhan itu tampak dalam gereja yang berziarah ( 1 Ptr 1,5 dst; 2,9 dts; ibr 3,7-4,11) dan yang mengambil bagian dalam kefanaan dunia ini ( G 48 ). Maka bentuk konkret gereja berubah dalam peredaran sejarah dan tidak selamanya bersifat menarik. Namun bentuk ini tak terpisahkan dari hakekatnya sebagai umat Allah yang dikehendaki Allah sebagai wadah orang pilihan-Nya. Dalam seribu tahun pertama gereja tampak terutama sebagai persekutuan gereja-gereja Partikuler. Kemudian akibat perpecahan di Timur ( 1054 ) dan di Barat ( abad ke-16) timbul struktur gerejani yang berbeda. Gereja katolik Romawi semakin sentralistis di bawah pimpinan Uskup Roma yakni “Paus.” Konsili Vatikan II membuka jalan pada suatu sintese yang baru.

Gereja berlangsung pada tiga tingkatan : pada tingkat kerohanian iman dan rahmat, pada tingkat jabatan-jabatan, penerimaan sakramen dan pewartaan, pada tingkat penyelesaian di akhirat. Pada saat penyelesaian ini tanda dan apa yang ditandai itu menjadi satu. Gereja diperlukan oleh semua orang untuk mencapai kebahagiaan serta keselamatan abadi ( lih. entri Extra Ecclesiam nulla salus). Gereja ini bersifat satu, kudus, katolik dan apostolik, seperti diakui dalam syahadat Nicea-Konstantinopel oleh umat kristen Timur dan Barat ( G 8 ).

Keempat sifat yang bari disebut ini digunakan sebagai ciri-ciri khas gereja Kristus. Umat katolik yakin bahwa gereja yang diinginkan Kristus direalisasikan dalam ( subsists in) Gereja Katolik yang kelihatan (bukan hanya dalam suatu gereja – rohani semata yang k.l. terdapat dalam suatu gereja; M.-Luter). Maka keempat ciri yang sudah terdapat dalam syahadat KonsiliKonstantinopel ( 381 ), harus tampak pada gereja.

Gereja adalah satu karena bersatu dalam iman, pembaptisan, perayaan ekaristi dan pimpinan di seluruh dunia. Kesatuan ini harus dibina, dijaga, dan dipelihara dalam semangat saling mengampuni dan menghormati. Kesatuan ini bukan keseragaman yang dipaksakan atau tidak mengindahkan kebebasan wajar gereja-gereja Partikuler. Oleh sebab itu, ciri gereja yang satu menuntut suatu communio dengan gereja Roma atau sekurang-kurangnya tidak terpisah darinya ( ex-communicatio)

Gereja adalah kudus, karena Kristuslah kepalanya dan bukan karena anggota-anggotanya, yang semua tetap orang berdosa. Roh Kudus berkarya dalam gereja. Oleh karena itu anggota-anggotanya adalah orang kudus ( a. l. Rom 1,7; Ef 1,15; Wahyu 5,8), maka dipanggil untuk hidup secara kudus di tengah-tengah dunia yang tidak mengindahkan Yang Mahakuasa. Gereja adalah milik Allah (1Pt 2,9) dan karenanya kehendak ilahi harus ditaati di dalam gereja oleh para anggota bersama mereka yang berjabatan di dalamnya.

Gereja adalah katolik , karena mewartakan seluruh injil Kristus dan terbuka bagi segala bangsa dan kebudayaan. Ciri katolik ini melarang umat membeda-bedakan orang menurut jenis ( Gal 3,28), kelas sosial atau kebangsaan. Kekatolikkan menuntut solidaritas universal.

Gereja adalah apostolik, karena berdasarkan para rasul, baik dalam kesinambungan jabatanmaupun dalam keseluruhan ajaran mereka. Tentu saja ciri apstolik menuntut pewartaan dalam bahasa yang di mengerti manusia abad ke-21 ini. Kalau tidak, sifat apostolik atau rasul ini menjadi kurang bermakna.

Pada sinode istimewa Uskup-Uskup sedunia – 1985, diadakan refleksi atas pandangan Konsili Vatikan II ( 1962 – 1965 ) tentang gereja. Sinode menekankan kembali hakekat gereja sebgai – misterium dan communium , supaya dimensi rohani gereja ini tetap jelas. Pandangan berat sebelah yang memandang gereja terutama dari segi hirarki atau sebagai kenyataan sosiologis semata-mata ( sebagai perfect society) di tolak.

Gereja sebagai communio berpangkal tolak dari 1Yo 1,3: apa yang sudah kami lihat dan dengar, itulah juga yang kami beritakan kepada kalian, supaya kalian bersama kami ikut menghayati hidup bersatu dengan Bapa dan Putra-Nya Yesus Kristus. Pewartaan dan kehadiran Yesus diantara orang beriman menyatukan mereka menjadi gereja. Hanya hubungan batin dengan Yesus menciptakan hubungan dengan Allah Bapa dan karenanya diantara orang beriman. Hubungan ini menjadi paling nyata dalam perayaan Ekaristi ( bdk 1Kor 10, 16 dst). Tubuh Ekaristi dan tubuh Mistik Yesus erat berkaitan satu sama lain. Maka konsep gereja universal mendahului perwujudannya dalam berbagai gereja partikuler di seluruh dunia. Kedua segi gereja yang satu ini tidak dapat dipisahkan dan tampak jelas dalam gereja perdana di Yerusalem (Kis 2-7)

Inti gereja atau gereja pada intinya termasuk misterium Paskah yang bersatu dengan Yesus tersalib dan bangkit. Inilah sumber kehidupan dan pokok perutusan gereja. Melalui penganiayaan dari pihak dunia yang tidak mengenal Kristus dan melalui krisis-krisis yang disebabkan kedosaan semua anggotanya, gereja mengembara terus menuju kemuliaan kerajaan Allah kelak. Dalam perjalanan itu Roh Kudus berkarya di dalam gereja, mengubah manusia menjadi anak-anak Allah, supaya mereka meneruskan misi Putra Allah yang menjadi anak manusia. Maka Allah menggunakan gereja sebagai sarana pengudusan ; semua anggota di panggil menjadi kudus dengan bertobat dengan membuka diri terhadap rahmat ilahi, yang menyempurnakan mereka dan memberi martabat baru kepada mereka; anak Allah. Oleh karena itu kehidupan rohani, doa, ibadat, pengudusan pekerjaan adalah panggilan setiap anggota gereja. Penginjilan diri inilah dasar dan prasyarat penginjilan / pengudusan dunia.

Pandangan tentang bentuk, khususnya bentuk konkret struktur gereja, berbeda-beda sesuai dengan zaman dan tempat; pada dasarnya bentuk hirarkis gereja ditetapkan Kristus, tetapi wujud konkrit susunan hirarkis itu sangat fleksibel. Berabad-abad lamanya unsusr Uskup dan kolegialitas para skup sewilayah sangat kuat, sedangkan preanan aktif Uskup Roma dalam gereja seluruhnya agak terbatas. Dan strktur ini di anggap wajar oleh seluruh gereja pada zaman itu. Pada abad-abad lain peranan Uskup Roma, sebagai primas Ritus Latin maupun sebagai Paus seluruh gereja bercampur aduk dan menjadi sangat kuat ( khususnya sesudah konsili Vatikan I, 1869 /70).

Pada akhir abad ke – 20 tampak gejala-gejala yang menunjukkan pada suatu perubahan struktur gereja yang mendalam. Internasionalisasi, peningkatan pendidikan, kesadaran akan nilai-nilai manusiawi, (mis, hak-hak asasi manusia, demokrasi) dan daya tarik alkitab akan memperbaharui wajah gereja. Roh Kudus bertiup kemana Ia berkehendak. Maka kaun awam akan main peranan yang lebih aktif,; pembedaan kedudukan antara pria dan wanita dalam gereja akan berkuran; perbedaan pendapat, upacara, bahasa, cara berteologi, akan dianggap wajar. Umat Allah akan menjadi umat yang menghayati kemerdekaan dewasa, yang mengalami imannya dan karisma-karisma lain dan yang bersetia kawan dengan orang yang tertinggal. Pengalaman rohani yang mendalam akan kehadiran Allah ditengah-tengah umat-Nya sebagai penghayatan iman yang dirasakan, lebih penting dari pada organisasi rapi, penjagaan rumus yang tepat, jumlah umat yang besar. Tentu saja perkembangan seperti ini tidak akan berlangsung tanpa ketegangan. Melepaskan bentuk lama iman, yang diterima bisa mengancam iman sendri, hal mana memang kadang-kadang terjadi. Masa depan gereja cerah karena Roh Allah akan mendorongnya supaya tetap muda dan mengabdi kepada umat manusia seluruhnya untuk melangsungkan pengutusan Kristus di dunia ini.

Dalam dokumen-dokumen Kansili Vatikan II, dalam KHK dan menurut keyakinan umat katolik sekarang dapat di bedakana dua pandangan dasaryang belum terselaraskan:

1.Pola yang terpusat kepada Paus: Uskup dan Kuria Roma dianggap sebagai Puncak umat dengan struktur , personalia dan hukum-hukum yang ditentukan semata-mata dari atas yakni Roma. Paus semacam super Uskup yang diwakili Uskup-uskup setempat. Pola ini melatarbelakangi pandangan mayoritas para peserta Konsili Vatikan I, yang diadakan di Roma pada tahun 1870, karena sangat lazim dalam kalangan teolog pada waktu itu.

Dalam teologi dan hukum gereja disebut tersusun sebagai masyarakat lengkap (perfecty society; Lih KHK Kan 204 $ 2 ). Hal ini dapat dimengerti dengan baik, kalau gereja dipandang sebagai suatu umat di dunia ini yang mau tak mau harus tersusun baik dan teratur menurut hukum ( yang salah satu fungsinya adalah melindungi hak-hak semua anggota ). Namun demikian, gereja pada intinya merupakan suatu communio yakni suatu persaudaraan dengan Allah Putra dan diantara sesama orang beriman, yang dimulai dan dibangun oleh Kristus baik secara historis maupun eksistensial pada setiap masa secara baru. Peranan Kristus ini dapat diambil alih oleh seorang wakil.

2.pola yang berpusat pada gereja-gereja Partikuler (-Keuskupan) memandang gereja katolik terutama sebagai communio atau persaudaraan gereja-gereja Partikuler, dengan jabatan kepausan, untuk memelihara dan memperkokoh persekutuan erat antara semua gereja itu. Uskup setempat tidak mewakili Paus, melainkan mendapat jabatannya dari Kristus, Kepala Gereja.

Pola ke-1 di dukung oleh Kuria Roma dan Yohanes Paulus II, sedangkan unsur-unsur pola ke-2 ditekankan kembali oleh beberapa dokumen Konsili Vatikan II, sinode para Uskup dan ekumene. Sebab gereja bukan perusahaan multinasional dengan cabang-cabang lokal (Kard. Koenig Wina), melainkan umat beriman yang mencerminkan kehadiran Allah di tengah-tengah dunia kita ini. Umat ini membutuhkan struktur tetapi lebih-lebih kebebasan iman, yang dalam sejarah kadang-kadang diperketat oleh instansi-instansi pusat karena cemas. Gereja universal tidak mungkin seragam, walaupun tehnik komunikasi dan transportasi modern semakin memungkinkan pengendalian sentral. Keseimbangan antara peranan pusat dan peranan gereja-gereja partikuler diatur paling tepat menurut- prisip subsidiaritas, yang merupan prinsip masyarakat manusiawi mana pun, termasuk gereja. Hal ini sesuai dengan sabda Kristus:”Aku datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.” (Mk 10,45) Segala jabatan Gerejani merupakan pelayanan (diakonia) umat supaya semakin hidup sesuai kehendak Kristus demi kemuliaan Allah.

Pandangan Protestan;
Untuk mengerti pandangan Katolik dan Protestan, sebaiknya diingat bahwa, - Protestantisme merupakan reaksi atas keadaan tidak baik dalam gereja Katolik pada akhir abad Pertengahan. Pembaharuan gereja yang di inginkan semula, membawa para reformator pada perubahan gereja itu sendiri: Keadaan Gereja yang terlalu manusiawi (bobrok) mau diatasi dengan mengeluarkan dosa dan orang berdosa dari gereja itu. Gereja bukan hanya terdiri dari umat yang dipanggil menjadi suci, tetapi umat orang-orang yang sudah suci. Rupanya gereja yang terdiri dari atas ke bawah, , dari orang-orang berdosa tidak dapat diterima lagi. Maka mereka dinyatakan tidak termasuk dalam gereja yang sejati. Gereja yang suci seperti ini, terdapat di mana-mana tetapi tidak ada yang mengetahuinya persis di mana, karena tak kelihatan.

a. Martin Luther sebenarnya tidak ingin mendirikan Gereja yang baru (walaupun itu yang terjadi di kemudian hari ). Ia mau membaharui atau mereformasikanseluruh gereja, supaya sesuai dengan ajaran Kitab Suci saja. Sabda Allah semata menjadi prinsip formal Gereja. Sebab prinsip hierarkis yang memuncak pada Paus sudah dianggap busuk pada waktu itu. Luther dan banyak orang katolik pun putus asa mereformasikannya.

Ciri-ciri khas gereja yang satu, kudus, kristiani, sebagai persekutuan orang beriman, ialah
1. ajaran yang murni (=sesuai dengan injil)
2. pemberian sakramen-sakramen dengan cara yang betul, artinya seperti di beritakan dalam injil. Tradisi-tradisi, upacara dan ritus, tidak perlu seragam, (lih Confessio Augustana 1530, ayat VII ) dan tidak boleh dipaksakan karena dianggap sebagai perbuatan manusia. Persekutuan orang beriman ( communio atau congregatio sanctorum ) semakin ditafsirkan dalam arti berikut ini: sebenarnya hanya anggota-anggota Tubuh Kristus, yang hiduplah ( artinya: mereka yang kudus, yang beriman) yang membentuk gereja sebenarnya yang tak kelihatan. Gereja rohani ini dibedakan dari gereja kelihatan,yang mencakup orang-orang berdosa juga dan karenanya, bukan Gereja Kristus yang sejati. Anggota gereja sebenarnya hanya diketahui oleh Allah. Secara praktis, para teolog Protestan memandang jemaat lokal sebagai gereja, yaitu di mana sabda Ilahi di wartakan dengan murni, sedangkan para teolog katolik mengutamakan gereja universal sebagai utama. (Lih. entri Lutheranisme )

b. Jean Calvin menambahkan tata tertib gerejani, sebagai ciri khas ketiga disamping ajaran murni dan pemberian Sakramen secara betul. Sebab dengan ketertiban itu dapat dihindarkan orang yang tak pantas ikut mengambil bagian dalam perjamuan suci. Dengan demikian persatuan dan kesucian Tubuh Kristus dapat dijaga dengan baik. Tetapi akhirnya hanya Tuhanlah yang mengetahui siapa yang sesungguhnya pantas dianggap sebagai anggota gereja, karena Dialah yang memilih dan menolak dengan bebas. Allah Putra mengumpulkan bagi-Nya dari seluruh umat manusia suatu umat yang terpilih untuk kehidupan abadi dengan perantaraan Roh dan sabdaNya, dalam kesatuan yang benar dari awal sampai akhir jaman………..(Katekismus Heidelberg, 54, 1563 ) Lih. Entri Kalvinisme

c. Mulai dengan kaum Anabaptis, timbullah kelompok-kelompok yang ingin bebas dari atasan dan organisasi gerejani apa pun serta dari segala bentuk campur tangan otoritas duniawi. Pada waktu itu campur tangan seperti itu sangat di rasakan di dalam gereja katolik, Lutheran, Kalvinis, dan Anglikan. Umat-umat ini dalam semangat bertobat dan cara hidup yang sederhana sekali berusaha sendiri membangun “Kerajaan Allah” di bumi ini. Hidup sucilah yang menentukan keanggotaan dalam gereja. Gereja semakin dipandang sebagai orang-orang yang menjalankan iman kristiani secara konsekuen di dunia ini. Pandangan ini dikuatkan lagi oleh gerekan “Pietisme.” Aliran gereja bebas ini kuat di Amerika Serikat (khususnya dalam gereja baptis).

Secara praktis seluruh gereja dan setiap umat lokal seharusnya mawas diri, apakah merupakan surat yang ditulis Kristus… yang dapat dibaca dan dimengerti oleh setiap orang (2Kor 3,2 dst). Apakah cara hidupnya bersifat pewartaan, apakah perayaan ibadat menarik orang yang belum beriman (karena caranya menimbulkan rasa ingin tahu dan dapat menikmati), apakah memperhatikan tanpa pamrih orang yang menderita, dan apakh bersatu sebagai persekutuan saudara-saudara dalam Kristus ? apakah umat pertama-tama mencari kerajaan Allah dan mengamalkan kehendak Kristus ( bdk Mt 6,33)? Jangan-jangan kepentingan duniawi umat sendiri ( uang, kekuasaan) atau orang luar (provokator) menentukan aksi dan reaksi gereja. Inkulturasi, -aggiornamento dan –pluralisme merupakan tantangan yang berat. Umat beriman Indonesia menghadapi masalah sosial seperti korupsi yang menggerogoti lembaga-lembaga gerejani juga, kalau tidak ditentang dengan tegas sejak awal dan dalam jumlah kecil pun.


Aneka pandangan tentang Gereja
• Gereja Rohani yang tak kelihatan : = persekutuan orang – orang yang benar-benar percaya dan dibenarkan Allah ( Kol 1,15), yang dalam syahadat diakui sebagai “Gereja yang kudus dan Katolik”
• Gereja yang kelihatan: = Gereja sebagai organisasi dengan jabatan-jabatan hierarkis. Di dalam Gereja ini terdapat orang yang benar-benar percaya dan orang yang belum / tidak percaya sepenuhnya dan berdosa.
• Gereja –gereja ( Protestan, Ortodok, Katolik ) menampakkan “Gereja rohani” yang tidak kelihatan, tetapi tidak sama dengannya.
• Masalahnya : Manakah ciri – ciri khas untuk mengetahui adanya Gereja yang sebenarnya ?
Jawaban Protestan : Pemberitaan Firman Allah dan pelayanan Sakramen ( - sakramen ) secara murni ( =seperti terdapat dalam Alkitab )

Jawaban Katolik : Gereja yang sebenarnya adalah yang satu, kudus, katolik dan apostolik, yang mencakup orang-orang yang benar-benar percaya dan hidup sesuai dengan kepercayaan itu maupun orang berdosa (bdk Mt 6,12;9.13;13,24-30; Lk 15; G . Bahwa Gereja hanya terdiri dari orang-orang suci murni adalah pandangan keras yang melupakan bahwa Yesus adalah juga teman dari orang berdosa (Mt 11.19) dan datang terutama untuk menyelamatkan mereka (Mt9.10-13). Gereja ini tampak dan terdapat dalam Gereja Katolik.;


Gereja-gereja ( bukan Katolik ) dan gereja yang Satu

1. Tidak dapat di sangsikan bahwa Yesus hanya mendirikan hanya satu gereja atau
umat  beriman yang bersatu dalam satu iman, satu pembaptisan, satu Kepala, satu Roh dan terikat oleh Cinta kasi (bdk Yo 17, 23; Ef 4,37). Ia menginginkan satu Kawanan dan satu Gembala. Persatuan gereja-Nya di doakan-Nya, tetapi perpecahan diramalkanNya. Gereja adalah umat yang beriman akan Allah-Bapa dan Putra-Nya Yesus Kristus. Apakah berdirinya banyak gereja yang tidak bersatu sepenuhnya dalam iman itu dan juga tidak mengambil bagian dalam satu perjamuan, yaitu Roti yang satu, yang dibuat dari banyak biji (1Kor 10) adalah negatip semata-mata ? Apakah keanekaragaman itu hanya akibat dosa orang-orang kristen? Ataukah terdapat juga segi-segi positipnya ?

2. Kalau Gereja yang didirikan Kristus hanya satu, Gereja manakah yang adalah Gereja
Kristus itu ? Pius XII menyamakan Tubuh Kristus dengan Gereja Katolik Roma ( Ens. Mystici Corporis, 1950 ). Konsili Vatikan II berbicara lebih hati-hati: Gereja ( yang didirikan Kristus ) itu terdapat ( subsistit ) dalam Gereja Katolik yang di pimpin oleh Pengganti St. Petrus dan uskup-uskup yang bersatu dengannya.( G 7 ). Jadi gereja katolik tidak begitu saja disamakan dengan Gereja yang di dirikan Kristus. Yang dikatakan gereja Kristus itu terdapat dalam gereja Katolik. Selain itu diakui bahwa diluar susunan gereja itu ditemukan juga beraneka unsur pengudusan dan kebenaran (idem). Jadi, Tubuh Kristus dan gereja Katolik bukan dua hal berbeda , tetapi juga tidak sama sekali identik. Tubuh Kristus tampak dalam gereja Katolik tetapi tidak seluruhnya dibatasi oleh batas-batas keanggotaan dalam gereja itu. Pandangan Konsili itu tidak sama dengan ajaran yang dikemukan sementara teolog Protestan, bahwa tiada satu gereja pun yang dapat disebut Gereja dan Tubuh Kristus. Dalam semua gereja – katanya –pada saat-saat tertentu terjadi gereja sejati – yang selamanya bersifat rohani semata-mata, tetapi tak satu gereja pun yang dapat mengaku: inilah gereja yang didirikan dan diinginkan Kristus.

3. Dalam dekrit tentang Ekumenisme, Konsili menggambarkan kesatuan Gereja sebagai cita-cita dan perpecahan sebagai hal yang patut di sesalkan.

“Jelas Kristus menghendaki, agar umat-ya bertumbuh akibat pewartaan injil yang setia, pelayanan sakramen- sakramen oleh para Rasul dan pengganti mereka yakni para Uskup dengan pengganti St. Petrus selaku pemegang pucuk Pimpinan yang penuh kasih sayang karena pengaruh Roh Kudus. Kristus meneguhkan persekutuan umat-Nya dalam persatuan, yakni dalam pengakuan iman yang satu dan sama, dalam perayaan ibadat bersama dan dalam kerukunan persaudaraan keluarga Allah. Maka tegaklah Gereja sebagai satu-satunya kawanan domba Allah, bagaikan panji yang dikibarkan di tengah-tengah para bangsa. Dengan mengabdikan diri pada injil perdamaian demi seluruh umat manusia, Gereja berziarah dengan penuh harapan menuju tanah airnya yang abadi. Inilah misteri suci persatuan gereja, dalam Kristus dan oleh Kristus. Di dalam Gereja itu Roh Kudus mengerjakan aneka ragam anugerah-Nya. Teladan yang paling luhur dan sumber dari misteri tersebut adalah persatuan Allah yang Esa dalam tiga pribadi : Bapa, dan Putra dalam persatuan Roh Kudus. Memang di dalam Gereja Allah yang satu dan Tunggal itu sudah timbul perpecahan-perpecahan sejak mulanya (bdk 1Kor 11,18-19; Gal 1,6-9;1Yo 2, 18-19). Hal ini sangat dicela oleh Rasul Paulus (1Kor 1,11 dst 11,22). Pada abad-abad kemudian timbul percekcokan yang lebih besar lagi. Dan umat yang besar jumlahnya memisahkan diri dari persekutuan penuh dengan Gereja Katolik dan hal ini pun bukannya tanpa kesalahan kedua belah pihak (GE 2 dan 3)

Walaupun umat terbagi – bagi orang kristen dari gereja-gereja yang bukan katolik diakui sebagai saudara-saudara.

”Mereka yang kini dilahirkan di dalam persekutuan-persekutuan tadi dan percaya akan Kristus, tidak boleh disalahkan karena dosa perpecahan. Sebab itu, Gereja katolik memandang mereka dengan penuh hormat dan cinta persaudaraan. Karena mereka yang percaya akan Kristus dan dibaptis secara sah, masuk dalam persekutuan tertentu dengan Gereja Katolik, sekalipun persekutuan ini kurang sempurna adanya. Karena macam-macam perbedaan antara mereka dan Gereja Katolik di bidang ajaran, kadang-kadang juga di bidang tata tertib, dan juga dalam hal struktur Gereja, maka terdapatlah banyak halangan yang merintangi persekutuan kegerejaan yang lengkap. Gerakan ekumenisme berusaha supaya halangan-halangan itu di lenyapkan. Namun demikian orang – orang ini karena iman mereka dalam pembaptisan telah dibenarkan dan dipersatukan secara sah dengan Kristus. Sebab itu mereka pun berhak memakai memakai nama kristen, dan putri-putri gereja katolik mengakui mereka sebagai saudara dalam Tuhan.”

Konsili vatikan memberikan nama Gereja kepada umat-umat beriman bukan katolik dan menggambarkan unsur kebersamaan sbb:

”Di luar lingkungan Gereja Katolik yang kelihatan, terdapat banyak unsur dan nilai yang teramat penting, yang semuanya bermanfaat untuk membangun dan menghidupkan Gereja, yaitu : Sabda Allah yang tertulis, kehidupan rahmat, iman, harapan dan cinta kasih, anugerah-anugerah batin lainnya dari Roh Kudus dan juga unsur-unsur yang kelihatan. Semuanya ini berasal dari Kristus, mengarah kepada-Nya dan merupakan bagian Gereja yang tunggal. Jadi, Gereja-gereja dan persekutuan-persekuan yang tepisah itu sekali pun dan sudut keyakinan kami memiliki kekurangan, dalam perangkat misteri keselamatan sekali-kali bukan tidak berarti atau tak bernilai. Roh Kudus tidak pernah menolak menggunakan mereka sebagai sarana keselamatan.”

Pandangan-pandangan Protestan.
Di samping model ”Gereja bersaudara” (mis. Antara Gereja Katolik dan Ortodok ) dan model beberapa cabang dari satu gereja ( pandangan Anglikan ) ,-World Council of Churches (WCC) mengemukan model ”organis” ; Dengan melepaskan tradisi-tradisi konfensional masing-masing Gereja, akhirnya akan terbentuk satu gereja yang baru. ”Model Konsilier” dikemukan akhir-akhir ini: Gereja-Gereja dengan satu Pembaptisan serta satu Ekaristi dan saling mengakui jabatan-jabatan gerejani mewujudkan kesatuan di antara mereka itu dalam suatu konsili ( dengan atau dengan tidak mempertahankan identitas konfensional masing-masing). Model ini mirip dengan usul Rahner-Fries tentang ”perbedaan yang diperdamaiakan” ( lih entri ekumene)

Dalam laporan penutup Komisi khusus WCC tentang pengambilbagianan Gereja Ortodoks dalam WCC ( 2002 ) dikonstatir kesulitan, bahwa Gereja Ortodok memandang diri sebagai Gereja yang satu, kudus, dan apostolik, sedangkan Gereja-gereja Protestan menganggap diri sebagai bagian-bagiannya.


Gereja Ortodoks
Awal dan perkembangan
Gereja Ortodoks merupakan federasi Gereja-gereja otokefal (=mempunyai”kepala sendiri” ;Yun.) di negara-negara Eropa Timur, khususnya Rusia, dan negara-negara di pesisir laut Tengah. Pada masa pertentangan Kristologis abad ke-4 dan ke-5, Gereja-gereja ini tetap berpegang pada iman yang benar (=orthodoks;Yun.). Umat ortodoks beribadat menurut ritus Byzantin dan mengikuti tata-tertib Gerejani Byzantin berkat pengaruh besar umat di Konstantinopel (=Byzantium).

Sejak 1054, gereja ini tidak mengakui lagi kepemimpinan Uskup Roma atau Paus atas Gereja seluruhnya. Gereja Ortodoks terdiri dari empat Gereja Batrik kuno (Konstantinopel, Aleksandria, Anthiokia dan Yerusalem ), Batrik baru (Moskow, Belgrad, Sofia, dan Bukarest),beberapa Gereja Otokefal ( Yunani, Georgia, Siprus, Ceko, Slovakia, Polandia, Albania, dan Sinai ), beberapa Gereja Otonom yang belum seluruhnya independen ( Tiongkok, Jepang dan Finlandia) serta banyak propinsi gerejani di seluruh dunia. Sebagian besar umat kristen ini (k.l. 150 juta ) terpaksa ouluhan tahun lamanya hidup dibawah tekanan penganiayaan rezim komunis – ateis di Rusia dan negara-negara Balkan.

Sebab – Sebab Perpecahan Gereja pada Abad ke-11
Sebab – sebab perpecahan gereja pada abad ke-11 sangat kompleks, a.l. Teologi di bagian Timur lebih spekulatif ; kristologinya cendrung bersifat mistik; ibadat menekankan ritus dan doa dalam bahasa tertentu. Gereja-gereja Partikuler di bagian Timur erat hubungannya dengan kekuasaan duniawi (Kaisar, tsar........), sehingga cenderung menjadi gereja-gereja nasional : Simfonia antara agama dan pemerintahan dijaga dan dijalin selalu. Sebab utama perpecahan bercorak politis: Perkembangan ini dimulai dengan meningkatkan kedudukan uskup Byzantium, setelah kota ini menjadi ibu kota Kekaisaran Romawi (th.326). Para Kaisar menggunakan uskup ibu kota sebagai alat untuk memanfaatkan Gereja demi kepentingan politik kekaisaran. Akhirnya uskup Konstantinopel menjadi yang paling tinggi kedudukannya dibagian timur, walaupun masih mengakui, bahwa Paus di Roma memiliki kedudukan terhormat dalam seluruh Gereja. Namun demikian perbedaan dalam berbagai bidang semakin luas (cara hidup rohaniwan, bahasa ibadat, tgl hari-hari raya,...) sehingga hal-hal sepele menjadi dalih untuk perpecahan total dalam skisma timur pada th. 1054. Paus dan Batrik sama-sama salah. Keadaan itu dikuatkan oleh berbagai tindakan anti-Konstantinopel para ksatria Barat dalam perang salib ( abad ke – 13 )

Gereja ortodoks terbagi atas beberapa Gereja nasional dengan Pimpinan sendiri-sendiri, akibat organisasi gerejani berlandaskan prinsip – patriarkal-sinodal, yang semula digunakan batrik Konstantinopel untuk memisahkan diri dari Roma. Sekarang wewenang Batrik ini pun terbatas pada umat di Turki, beberapa pulau di Yunani dan biara-biara du gunung Athos serta umat Ortodoks di Amerika. Selain itu wewenangnya tinggal kehormatan saja. Berabad-abad lamanya batrik-batrik Konstantinopel diperlakukan dengan kejam oleh Pemerintah kesultanan Turki ( 1453 – 1918 ) dalam keadaan republik semakin memburuk.

Gereja Ortodoks Rusia menjadi yang paling besar diantara umat Ortodoks dan berpengaruh luas sampai dianiaya oleh rzim komunis ( 1917-1989). Sejak perang dunia kedua umat ini diberi sedikit kelonggaran, tetapi terpaksa harus membiarkan diri dipergunakan untuk mempropaganda Uni Soviet.

Ajaran
Dalam hal ajaran seluruh gereja Ortodoks mengakui tujuh Konsili Ekumenis pertama ( 325-787), Syahadat Nicea-Konstantinopel, dan berpegang pada ajaran Bapa-bapa Gereja khususnya yang berbahasa Yunani. Maka dalam hal pokok tiada perbedaan sekunder yang mencolok adalah: penolakan

(1) ajaran bahwa Roh Kudus tidak hanya berasal dari Bapa melainkan juga dari Putra (=Filioque;Lat.)
(2) ajaran tentang Maria yang terkandung tanpa noda
(3) ajaran tentang primat dan yurisdiksi uskup Roma atas seluruh Gereja dan sifat kebal-salahnya bila secara resmi menegaskan ajaran tentang iman dan susila yang mengikat seluruh gereja
(4) Tiada Pimpinan Gereja Universal, baik dalam hal ajaran maupun dalam hal
tata-tertib gerejani.

Tentang hubungan antara gereja Ortodoks dan gereja Katolik diuraikan dalam Dekrit Ekumenisme dari Konsili Vatikan II, walaupun secara tidak langsung ( karena lebih berbicara tentang ritus-ritus Timur yang dalam ibadat dan organisasi kegerejaan tidak berbeda dengan gereja Ortodoks). Saling kutuk atau anathema diantara kedua Gereja ( 1059) dihapuskan pada th. 1965, sehingga tiada skisma, melainkan keadaan kurang bersatu. Dialog resmi berlangsung pada th. 1980 dan 1993. Gereja Ortodoks dapat menyumbang kepada Gereja di Barat keinsyafan, bahwa teologi dan spiritualitas saling mengandaikan, menghargai tradisi Bapa-bapa Gereja dan struktur sinodal Gereja pada semua tingkat.

Disamping ajaran tepat / ortodoks ditonjolkan sebagai ciri kasnya : pengaruh besar para rahib sebagai tokoh-tokoh teologi , liturgi Byzantin yang meriah hubungan erat dengan Kekaisaran Konstantinopel. Kini ( 2003 ) k.l. 218,5 juga orang membentuk umat Ortodoks, yang membentuk federasi Gereja-gereja otokephal.

Akhir-akhir ini hubungan Gereja Ortodoks di Rusia, yaitu Batriks Moskow dengan Vatikan
kurang lancar sejak beberapa keuskupan katolik dihudupkan kembali di Rusia. Negara ini
dianggap ”teritorium ortodoks.”

Hubungan dengan Gereja Katolik menjadi hampir terputus. Sebabnya a.l. Pengangkatan
beberapa administrator apostolik Katolik Ritus Latin di Rusia, dan pemintaan umat Katolik
Ritus Ukraina, supaya miliknya yang dirampas oleh rezim Stalin (1946 ) dan diberikan kepada
umat Ortodoks itu dikembalikan kepada mereka.

Hubungan dengan Gereja-gereja otokefal lain agak lancar, khususnya dengan Batriks Ekumeni
dari Konstantinopel. Dalam dewan Gereja-gereja sedunia akhir-akhir ini timbul kesulitan antara
pandangan Protestan dan Ortodoks.

Pimpinan Gereja Ortodoks Rusia sekarang, yang dahulu sebagian diangkat oleh pemerintah
komunis Uni Soviet berpandangan bahwa seluruh Rusia merupakan wilayah eksklusif Gereja
Ortodoks. Gereja-gereja lain tidak boleh menjalankan re-evangelisasi penduduk Rusia yang
sebagian besar adalah orang atheis itu. Umat Ritus Ukraina dianggap sebagai pengkianat
terhadap induknya, yaitu Gereja Ortodoks Rusia, maka sebenarnya tidak berhak ada. Sikap ini
bertolak belakang dengan pengangkatan banyak uskup Gereja Ortosoks Rusia di seluruh dunia
untuk memelihara umat Ortodoks yang beremigrasi ke berbagai negara yang berpenduduk
mayoritas katolik atau protestan. Dan pengangkatan seperti ini dianggap wajar saja. Rupanya
pemimpin Gereja Ortodoks di Rusia masih berpikiran bahwa pemerintah boleh mengekang dan
mengawasi Gereja-gereja. Kebebasan beragam yang menjamin setiap orang memilih dengan
bebas agama dan gerejanya belum diakui dalam praktek.

Maka Batrik Moskow menolak mengutus delegasi pada sinode Konferensi-konferensi uskup se-
Eropa di Vatikan ( 1991 ). Dalam hal ini ia dukung oleh Batrik dari Serbia ( dan Rumania ) yang
menentang bantuan kemanusiaan Vatikan untuk Slovenia dan Kroasia, waktu kedua republik ini
memisahkan diri dari Yugoslavia ( 1990 / 91 ). Walaupun Batrik Konstantinopel mendukung
batrik-batrik tersebut, ia berusaha supaya hubungan ekumenis antara gereja Ortodoks dengan
Gereja Katolik jangan sampai putus sama sekali, akibat masalah hierarki Katolik di Rusia dan
pengembalian milik kepada umat katolik dari Ritus Ukraina (dan Ritus Timur di Rumania ).

Provinsi Gerejani di Hongkong sejak th. 1990-an mulai secara aktif menghidupkan jemaat
jemaat Ortodoks di Singapore dan bersama gereja Armenia di India dan Indonesia (mis;
Jakarta dan Solo )

Sejak beberapa th. Lalu terdapat sejumlah kecil umat Ortodok di Jakarta. Dalam keadaan darurat
artinya bila seorang pastor Ortodoks tidak ada anak boleh dibaptis dan upacara pemakaman
boleh dipimpin oleh seorang imam katolik. Sakramen Ekaristi, Tobat dan Perminyakan Orang
sakit boleh diberikan, kalau orang beriman Ortodoks memintanya dan berprilaku baik ( KHK
844 $ 3 ). Tentang sahnya perkawinan lih entri 834 $ 2. Hukum gereja-gereja Ortodoks berbeda
beda dan biasanya lebih ketat.


Gereja Anglikan
Raja Henry VIII ( 1509-1547 )dari Inggris menceraikan Istrinya dan menikah lagi untuk mendapatkan keturunan anak-anak laki-laki. Tindakan ini tidk dibenarkan Paus. Maka Raja melarang orang Inggris naik banding ke Roma (1533), menyuruh para Uskup dan Pejabat tinggi Negara mengakuinya sebagai kepala gereja Inggris di bumi, dan merampas milik biara-biara. Oleh karena itu Raja diekskomunikasi oleh Paus (1536). Walaupun Putrinya Ratu Mery ( + 1588) berusaha memulihkan hubungan dengan Roma, namun saudarinya dari ibu lain ”Ratu Elisabeth” (+1603) mmendukung Gereja Inggris yang secara hierarkis bebas dari Paus. Maka Elisabeth diekskomunikasi dan di pecat sebagai ratu juga dan para warga katolik di larang Paus mematuhi perintahnya (1570). Oleh karena itu Elisabet membalas dengan menganiaya dan membunuh orang katolik yang tidak mau meninggalkan gereja mereka itu.

Gereja Anglikan dalam ajaran dan susunannya tetap mirip dengan gereja katolik. Dasarnya
adalah Book of Common Prayer dan 39 Articles (1553), susunan Uskup Agung Th. Cranmer,
yang dihukum mati oleh Ratu Mery ( 1554). Namun dalam beberapa hal dokumen-dokumen
dasar itu dipengaruhi oleh Kalvinisme. Berbagai aliran di dalam Gereja Anglikan, a.l. High
Church (Liturgi meriah) dan Low Church (bercorak-Purtanisme) diperdamaikan dalam satu
gereja. Karena terus berpegang pada jabatan Uskup (suksesi apostolik) dan pada Kitab suci
sebagai norma tertinggi, maka gereja Anglikan menganggap diri sebagai jalan tengah antara
gereja Katolik dan Protestan. Oleh karena itu banyak tokoh Anglikan terlibat dalam ekumenisme
sejak semula.

Gereja Anglikan mengalami ketegangan intern yang besar akibat keinginan aliran liberal
mentabiskan wanita sebagai pastor ( 1980-an) dan homo sebagai Uskup ( di London (akhirnya
tidak jadi, 2003) dan di AS (2002). Di Jakarta terdapat Gereja Inggris – di Menteng sejak Th.
1829; Umatnya termasuk keuskupan Singapura .


Kalvinisme
Aliran Reformasi yang berpangkal pada ajaran Jean Calvin :
a ) Prinsip formal adalah Kitab Suci sebagai satu-satunya pegangan bagi iman dan tingkah laku umat kristen. Hanya kitab sucilah lah yang mewahyukan siapakah Allah dan siapakah manusia. Namun demikian dengan bantuan Alkitab pun manusia tidak mampu mengerti Allah dan kehendak-Nya. Ia harus mempercayainya.

b) Perinsip material adalah kedaulatan ilahi yang mutlak; ”Soli Deo Gloria – Kemuliaan hanya kepada Allah!” Tiada sesuatu apa pun yang tidak diadakan dan terus di pelihara oleh Allah, yang menentukan segala-galanya. Alam semesta dan setiap keputusan manusia yang bebas pun diadakan, didukung dan ditentukan, oleh yang Mahakuasa sejak kekal. Maka akibat pentakdiran atau predestinasi (Prae=sebelum + destinatio=penentuan; Latin ), manusia tidak diciptakan dengan syarat yang sama : Pada yang satu ditakdirkan kehidupan kekal, pada yang lain pembuangan abadi. (Calvin Institutio Christianae religionis, III, 21, 5; 1536). Dasar untuk ditakdirkan untuk mencapai keselamatan kekal adalah Kristus, yang rahmat-Nya pasti mencapai tujuannya, sehingga orang yang terpilih mustahil tidak di selamatkan.

c. Calvin hanya mengakui dua sakramen yaitu pembaptisan dan perjamuan suci. Ia menolak kehadiran Kristus sebagai manusia, karena sebagai manusia Yesus berada di surga, akan tetapi Ia hadir secara rohani ”bersama (=cum;Latin) dengan roti dan anggur” tetapi bukan dalam (=sub; Latin) rupa roti dan anggur. Hanya berkat Roh Kudus orang berkomuni (ber-hubungan, ber-satu) dengan Kristus. Makan Daging dengan minum Darah Kristus merupakan tanda saja atau lambang, bahwa jiwa kita diberi santapan rohani berkat Roh Kudus yang di imani. Maka kehadiran Kristus tidak nyata, walaupun orang berhubungan dengan Kristus secara nyata dan rohani.

d. Kemuliaan Allah adalah mutlak, maka baik hidup pribadi maupun hidup masyarakat wajib mengakui dan melaksanakan kehendak-Nya (prinsip etis). Kekuasaan duniawi pun seharusnya menyebarkan ajaran kristen dan jika menghambatnya-boleh ditentang. Karena manusia menjadi busuk akibat dosa, maka ia cendrung menyalahgunakan alam coptaan. Tetapi mengakui bakat-bakatnya sediri demi kebaikan umat manusia dan terutama demi kemuliaan Allah merukan panggilan luhur manusia.

Akibat pandangan tersebut para Kalvinis sering kali merasa wajib bekerja keras dan hidup sederhana. Oleh karena itu mereka sering sangat maju secara ekonomis (teori M. Weber tentang Kalvinisme sebagai cikal bakal kapitalisme). Berhasilnya usaha ini dianggap ( sejak abad ke-17) sebagai tanda dipilih oleh Allah supaya selamat.

Karena sistim ajaran dikembangkan Calvin dengan sistematis dan luas, maka dalam
perkembangan selanjutnya kurang terjadi pertentangan intern. Dan perbedaan dalam ajaran \
antara gereja-gereja Kalvinis biasanya tidak dianggap masalah (dasar bagi perkembangan
kongregasionalisme). Pada sinode di Dordrecht (Belanda, 1618 / 19) diteriam lima pokok \
Kalvinisme yaitu:
1. manusia seluruhnya jahat
2. pilihan Allah samasekali bebas
3. pembenaran hanya bercorak sebagian
4. rahmat tidak dapat di lawan.
5. orang yang terpilih akan bertahan dalam rahmat .

Allah mengikat diri dalam perjanjian rahmat pada keselamatan manusia dalam Sang Penyelamat
Yesus Kristus. Ajaran Predestinasi dilunakan oleh J,H. Arminius (+1609) yang menekankan
bahwa Allah berkehendak menyelamatkan semua orang dan bahwa manusia dengan bebas dapat
menerima atau menolak rahmat ilahi. Pengikutnya disebut kaum Remonstran, yang oleh VOC
tidak di izinkan beribadat bersama dalam wilayah kekuasaannya. Kaum Puritan, (=yang bersih
;Latin) di Inggris menolak segala bentuk ibadat meriah, tata-tertib gerejani dan kekuasaan raja. \

Mereka berkehendak membangun gereja sesuai dengan cita-cita zaman para Rasul yang diatur
secara demokratis dan mengisinkan perbedaan pendapat, tetapi menuntut kehidupan saleh. Kaum
kongregasional memandang setiap jemaat (=congregatio; Latin ) otonom dan langsung dibawah
bimbingan Kristus. Pilgrim Fathers termasuk kaum ini dan 1620 mendirikan negara bagian
Massachusetts dan Connecticut di Amerika Serikat.

Umat Kalvinis di negara berbahasa Inggris biasanya disebut Presbiteran. Dalam jemaat diantara
penatua (= presbyteroi ;Yunani) ada yang diordinasikan yaitu pendeta untuk melayani sabda
(kotbah) dan sakramen sedangkan presbiter awam atau penatua mengurus jemaat menjaga
kemurnian ajaran dan disiplin umat. Majelis jemaat harus menjag kesucian dalam gereja, supaya
nama Allah jangan tercemar dan supaya jangan terjadi skandalum dan godaan. Walaupun
presbiter sabda ( yaitu pendeta yang di ordinasikan ) besar peranannya namun umat yang
menentukan haluannya sendiri, sehingga tidak semuan jemaat kalvinis bersatu dalam satu gereja
yang saling mengakui.

Dalam semua gereja kalvinis atau reformasi itu menonjol gambaran Allah yang sangat diwarnai
gambaran tentang Yahwe dalam PL, pewartaan Alkitab tanpa pengawasan, penolakan jabatan
hierarkis dengan otoritas (agar jangan menyaingi kekuasaan Allah)

Pada th, 2004 Gereformeerde Kerken dan Hervormde Kerk di Belanda, yang berpisah pada abad
ke-19 bergabung lagi (dengan mengikutsertakan umat Luteran Belanda) dengan membentuk satu
umat (2,5 juta orang beriman). Belum jelas apakah persatuan ini akan membawa akibat untuk
gereja-gereja di Indonesia, yang pernah berinduk pada salah satu dari kedua gereja di Belanda
tsb.


Gereja Presbiteran
Gereja Presbiteran diurus pd. tingkat yg berbeda-beda oleh presbiterium atau dewan para penatua (= presbyteroi: Yunani) yang dipilih oleh jemaat (congregatio;Latin). Menurut J. Calvin umat-umat gereja purba diurus oleh para penatua, maka cara organisasi gereja ini dianggapnya paling tepat. Dalam gereja pada zaman PB terdapat jabatan Pastor (= gembala), doktor (=guru), diakon (= yang melayani ) dan presbiter (= penatua). Para presbiter mengurus dan mengawasi keperluan rohani dan jasmani umat dan memilih para pastor. Pandangan Calvin ini menjadi dasar bagi organisasi umat-umat kalvinis di berbagai negara.

Nama gereja presbiteran ( presbyerian churches) digunakan oleh gereja-gereja protestan haluan –kalvinis atau gereformeerd di negara-negara yang berbahasa Inggris dan oleh gereja-gereja lain yang berasal darinya. Sebagian gereja ini menjadi anggota-anggota World Alliance of the reformed churches throughout the world holding the presbyterian system yang hanya bersifat konsultatif (didirikan pada th. 1875 di London). Di seluruh dunia gereja-gereja presbiterian / kalvinis / reformed mencakup 75 juta orang beriman ( 2002 ). Di Indonesia sebagian besar gereja-gereja protestan berhaluan kalvinis.


BEBERAPA PERISTIWA YANG MENENTUKAN DALAM SEJARAH PERKEMBANGAN GEREJA DI EROPA

Thn. 50 : Santo Paulus mewartakan Injil di Filipi ( Yunani ), umat beriman pertama di Eropa
Th. 64 / 67 : Santu Petrus dan Santu Paulus wafat sebagai martir di Roma
Tn. 303 : Penganiayaan terakhir yang sangat kejam dibawah pemerintahan Kaisar Diokletianus
Th. 313 : Kaisar Konstantin menjamin kebebasan Gereja
Th. 240 : Uskup Ilfilas, misionaris suku Got, menerjemahkan kitab suci untuk pertama kali ke dalam suatu bahasa Germania
Th. 380 : Agama kristen menjadi agama resmi kekaisaran Romawi
Th. 432 : Santo Patrik mewartakan injil di Irlandia dan Skotlandia
Th. 500 : Raja Frank, Clodwig, dibaptis secara katolik dan rakyat mengikutinya
Tn. 540 : Santo Benediktus meletakkan dasar hidup membiara, yang menjadi penunjang kebudayaan Eropa
Tn. 596 : Beberapa Rahib bersama Santo Agustinus diutus Gregorius Agung untuk Penginjilan di Inggris
Tn. 711 : Spanyol dijajah Arab ( sampai th. 1492 )
Tn. 754 : Santo Bonifasius , Rasul Jerman, mati syahid.
Tn. 800 : Karolus Agung dinobatkan Paus sebagai Kaisar di Barat
Tn. 989 : Pangeran Vladimir dari Kiev ( Rusia ) dibaptis bersama bangsanya.
Tn. 1054 : Skisma Timur : Perpecahan Gereja Katolik –Latin dan Ortodoks Yunani
Th. 1095 : Gerakan Pembebasan kembali Tanah suci ( Perang salib )
Abad ke 11 / 12 : Persaingan antara Kaisar Jerman dan Paus menghasilkan perbedaan prinsipial antara kuasa duniawi dan keagamaan di Eropa.
Abad ke-12 / 13 : Gerakan bidah Waldens dan Albigens
Tn. 1223 : Santo Fransiskus dan Santo Dominikus ( 1216 ) memulai gerakan kemiskinan di dalam Gereja
Abad ke 13 : Thomas Akwinas OP : puncak teologi kristiani – Gereja mendirikan Universitas
Th. 1307 / 77 : Pengasingan sukarela para Paus di Avignon ( Perancis )
Th. 1378 / 1417 : Skisma Barat : dua / tiga Paus sekaligus
Th. 1417 : Konsiliarisme pada Konsili Konstans mengatasi skisma Barat
Th. 1453 : Konstantinopel direbut Turgi: serangan terhadap kerajaan-kerajaan kristen di Balkan ( sampai 1683 )
Th. 1455 : Alkitab dicetak sebagai buku pertama Abad ke-15 / 16 : Gerakan Humanisme dan Renaissance
Th. 1517 : Martin Luter memulai Reformasi: Perpecahan Gereja di Eropa
Th. 1535 : Henry VIII memisahkan gereja Inggris dari paus
Th. 1537 : J. Calvin membentuk Gereja Reformasi / Kalvinis di Swiss
Th. 1539 : Serikat Jesus didirikan oleh Ignasius Layola di Paris
Th. 1545 / 1563 : Konsili Trente : Mulainya pembaharuan Gereja : Kontra- Reformasi
Th. 1555 : Cuius regio eius religio (Augsburg ): Penguasa dunia menentukan agama bawahannya.
Th. 1562 : Katekismus Heidelberg
Th. 1633 : Vinsensius dari Paul mendirikan Suster-suster dari Belaskasih
Th. 1675 : Pietisme : Desideria Pietatis terbit
Th. 1683 : Tentara Turki di usir dari Vienna : Balkan mulai dibebaskan dari pendudukan Turki ( sampai 1913 )
Abad ke 17 : Masa Barok : Yansenisme ; Galikanisme
Abad ke 18 : Aufklaerung, Yosefinisme : Serikat Yesus di bubarkan oleh Paus ( 1773 )
Th. 1789 : Revolusi Prancis ; mulai menganiaya umat katolik – pembunuhan banyak rohaniwan dan rohaniwati
Th. 1792 : Baptist Missionary Society didirikan di London
+_ 1800 : Gereja kehilangan harta bendanya hampir di semua negara di Eropa
Th. 1815 : Semangat restorasi dalam Gereja : Konservatisme, Ultramontanisme
Th. 1829 : Emansipasi Umat katolik di Inggris
Th. 1840 / 1870 : Jutaan orang Katolik Irlandia mengungsi ke Amerika Serikat
Th. 1859 : Ch, darwin : manusia semata-mata hasil proses evolusi yang berlangsung kebetulan
Th. 1864 : Syllabus ( Pius IX ) : melawan aneka gagasan modern
Th. 1867 : Karl Marx ( Das Kapital ) : Marxisme ateis membakar kebencian terhadap agama, yang dicap ”candu untuk rakyat” ( Lenin dan Stalin menjalankan teror marxis sejak 1917 )
Th. 1869 / 70 : Konsili Vatikan I : kedudukan Paus dalam gereja diperkuat : Negara Kepausan dianeksasi Italia
Th. 1873 : Kulturkampf di Jerman: diskriminasi terhadap umat katolik (Bismark)
Th. 1880-an : Gerakan Koservatif seperti Neo- Tomisme, Neo-Gotik, Neo-Skolastisisme mewarnai Hidup Gereja
Th. 1891 : Leo XIII ensiklik sosial pertama : Rerum Novarum
Th. 1903 / 14 : Paus X: Pembaharuan hidup Rohani ( Komuni ) Laturgi lagu
(Gregorian ) dan hukum Gereja ( CIC disahkan 1917 ) – pemecatan teolog yang dicap modern (is)
Th. 1903 / 6 : Laisisme radikal dan anti klerikalisme militan di Prancis : Pemisahan Gereja dan Negara ini ( 1906 )
Th. 1910 : Konferensi sedunia Serikat Zending ( Edinburgh )
Th. 1929 : Perjanjian Lateran : Kota Vatikan menjadi Negara Indenpenden lagi.
Th. 1930-an : Gerakan Luturgi dan Alkitab
Th. 1936 : Penganiayaan gereja di Spanyol, di Jerman dan negara-negara yang di duduki Hitler ( 1939 – 1945 ), tetapi juga di seluruh Eropa Timur (Stalinisme: 1924 – 1982 )
Th. 1940 : Komunitas Ekumenis Taize
Th. 1940 / 50 : Pembaharuan Teologi di Jerman ( al. K.Barth, K. Rahner) dan  Perancis ( Nouvelle Teologie )
Th. 1943 / 50 : EnsiklikPius XII dengan hati-hati dan sikap was-was menghadapi masalah modern: Ensiklik Mystici Corporis dan Divino Afflante
Spiritu ( 1943 ), Mediator Dei ( 1947 ) dan Humani generis(1950)
Th. 1948 : Dewan gereja sedunia ( Amsterdam )
Th. 1958 : Yoanes XXIII membuka Gereja kepada dunia abad 20 ; agiornamento dan ekumenisme
Th. 1962 / 65 : Konsili Vatikan II : Gereja Katolik menjawab tantangan jaman
Th. 1960-an : Gerakan Karismatik mulai berkembang di Eropa
Th. 1966 : Uskup Agung Canterbury berkunjung ke Roma
Th. 1968 : Ensiklik Humanae Vitae menjadi pokok perdebatan yang menggoyahkan Magisterium Kepausan
Th. 1978 : Yoanes Paulus II mengadakan kunjungan hampir ke semua Gereja Partikuler ; sentarlisme kurial semakin menguat ( th. 1980-an )
Th. 1980-an : Masalah kedudukan dan Tahbisan wanita: penolakan oleh Yoanes Paulus II ( 1994 )
Th. 1991 : Komunisme runtuh di Eropa Timur : umat-umat beriman lebih bebas.

0 komentar:

Poskan Komentar