Ads 468x60px

IGNATIUS LOYOLA: Manajemen Rohani Citarasa Manusiawi

Elemen dalam LR yang sangat terkait dengan pembicaraan umum adalah “Aturan Pembeda-bedaan Roh” (LR 313 – 336). Inspirasi ini membantu orang untuk membeda-bedakan berbagai kecenderungan alam batin. Teknik ini bertujuan untuk mengenali tendensi egoistik, yang hendak dijauhi, sebaliknya mencari dan menemukan kehendak Allah.

Kebanyakan orang memahami aturan ini secara sempit. Mereka memisahkannya dari konteks yang lebih luas dan kompleks dalam sebuah proses deliberasi keputusan individual maupun komunal. Keputusan yang diambil dalam pembeda-bedaan Roh senantiasa terkait dengan setiap upaya untuk merespon situasi konkret sebuah jaman.



MENEMUKAN ALLAH?
Berjumpa dengan Allah dan menemukan Roh selalu mengandaikan iman. Seluruh pembicaraan mengenai manajemen menurut Ignatius de Loyola hanya menjadi mungkin jika kita memiliki dan menghayati iman. Berbagai kisah dalam Kitab Suci menunjukkan pada kita bahwa perjumpaan dengan Allah berlangsung dalam kehidupan dan sejarah. Allah berdialog dengan manusia dalam kehidupan konkret. Pola-pola dalam Kitab Suci mengajarkan kita bahwa para pemimpin dan tokoh di dalamnya mampu bernubuat, mewartakan sikap kenabiannya, hanya bila Roh Kudus hadir di sana. Roh Kudus mendidik mereka untuk memahami Sabda Allah dalam kehidupan yang paling nyata.

Suatu saat Musa berdoa pada Tuhan karena umat yang dipimpinnya meminta makanan. Tuhan mencurahkan Roh pada Musa dan 70 tua-tua yang membuat mereka mampu berkata-kata (Bil. 11: 16 – 23). Perjanjian Baru lebih eksplisit mengungkapkan bagaimana Roh Kudus bekerja dalam diri manusia. Surat Pertama Rasul Yohanes menulis banyak perkara ini (2:20, 27; 5:6, 9-10).

Di sini kita menghadapi kesulitan sekaligus tantangan yang menarik. Jika kita bicara mengenai penegasan bersama, bukankah harus dilihat bahwa Roh Kudus berkerja secara unik dalam diri manusia yang berbeda-beda? Inilah kesulitan dan tantangan itu. Seluruh pembicaraan dalam bab ini hendak menelusuri bagaimana Roh Kudus bekerja secara unik dalam setiap pribadi, lewat sebuah dialog, yang akhirnya membawa pada insight baru.


KEPEMIMPINAN
"Belajar manajemen yang paling baik adalah mengalami manajemen itu sendiri. Dan pengalaman dari seorang pemula, bahkan kalau itu hanya sedikit saja, sudah cukup untuk memberikan pelajaran yang berharga untuk seorang pakar manajemen senior sekali pun. Pengalaman adalah sekolah dan guru sejati" (Peter F. Drucker, People and Performance, 2001).

Peranan pemimpin menurut Loyola mencakup tiga hal. Pertama, menegaskan kehendak Allah. Yaitu, merealisasikan tujuan karya sebagaimana ditetapkan oleh organisasi. Kedua, menjaga keutuhan kompani. Pemimpin menjadi living principle dalam kesatuan para anggota yang mencintai satu sama lain. Ketiga, memenuhi kebutuhan spiritual dan temporal para anggotanya.

Seorang pemimpin selalu berada dalam dua kutub sekaligus. Dia hidup “sekarang”, memimpin organisasi agar terus berjalan hidup dan sehat. Tetapi dia juga berkontemplasi “ke masa depan”, merumuskan visi dan tujuan kemana akan bergerak. Dua kutub lain semestinya juga dimiliki oleh seorang pemimpin. Dia memiliki visi kerasulan (cura apostolica) dan memiliki kepekaan terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya (cura personalis).

Peranan esensial pemimpin menurut Loyola itu sederhana: membentuk sebuah komunitas kerja atas dasar cinta. Ini diselenggarakan dalam pergerakan yang dinamis. Ia mengutus orang untuk menjalankan misi, menyediakan kebutuhan spiritual dan temporal para anggotanya, membuat keseimbangan antara kebaikan individual dan kebaikan semua, menyatukan seluruh anggota. Seluruh proyek dan organisasi mempunyai esensi yang jelas dan pasti: mengabdi Kristus lewat penyelamatan jiwa-jiwa. Mengabdi Kristus selalu berada dalam pengabdian pada Gereja di mana pun. Discurrir adalah kata kunci untuk menunjukkan karakteristik mobilitas yang berimplikasi pada pergerakan terus-menerus para anggotanya.

Bandingkan peranan seorang pemimpin sebagaimana yang dipikirkan Loyola dengan peranan manajer dalam organisasi modern sebagaimana diuraikan Drucker yang mencakup dua hal berikut ini.

Pertama, tugas manajer adalah menciptakan keseluruhan sebagai satu kesatuan utuh yang adalah lebih besar dari sekadar penjumlahan bagian per bagian. Dia memainkan peranan conductor dan composer dalam orkestra simponi. Dia membuat efektif seluruh “kekuatan” dalam seluruh sumber-dayanya, dan sebaliknya menetralisir “kelemahan” yang ada. Inilah jalan agar kesatuan utuh tadi dapat dibangun.
Kedua, manajer menyelaraskan setiap keputusan dan tindakan yang merupakan persiapan ke depan jangka panjang atau jangka pendek. Dia tidak saja mempersiapkan bagaimana menyeberang jembatan jauh di depan, melainkan juga membangun jembatan tersebut. Seorang manajer yang hidup dan berpikir dalam dua dimensi ini juga mempunyai arti: tanpa persiapan 100 hari ke depan, di sana tidak akan ada 100 tahun ke depan. Bahkan 5 tahun ke depan pun mungkin tidak pernah ada.

Menurut Loyola, seorang superior menjalankan praksis kepemimpinannya, pertama dan terutama didasarkan pada buah-buah yang dipetik selama bertahun-tahun pengalaman. Semua ini berasal dari pengalaman manusiawi, bukan hasil paksaan yang diturunkan dari prinsip-prinsip abstrak.


MANAJEMEN BERDASARKAN SASARAN
Manajemen juga harus menjelaskan apa yang dilakukan oleh seorang manajer. Seorang manajer harus mempunyai otoritas yang otonom. Otoritas manajer tadi bekerja atas dasar dan kendali apa? MBO, management by objective. Prinsip inilah yang mengubah peranan manajer, dari “memberikan supervisi terhadap bawahannya” ke “menentukan ukuran sasaran”. Manajer membiarkan bawahan untuk mengerjakan semua itu sesuai dan dengan kreativitas mereka masing-masing.

Fokus dari manajemen yang disampaikan oleh Peter F. Drucker adalah memusatkan pada output (produktivitas), bukan input (panjang dan lamanya ia bekerja). Jadi kontrol diletakkan di dalam dirinya sendiri, self-control.

Sesederhana itukah? Dalam pembedaan Roh, kita tidak hanya mengamati hasil akhir tetapi juga proses tengah. Inilah, yang dari sudut manajemen, menjadi sasaran kritik dari W. Edwards Dening, guru dari quality revolution. MBO merupakan sebuah prinsip yang cenderung merendahkan arti sebuah kualitas, karena hanya berorientasi pada goal-focused, bukan process-focused. Jangan salah sangka, Drucker pasti bukan orang yang naif. Yang mau diciptakan Drucker di sini sebenarnya menyangkut sebuah perkara yang krusial, yaitu menciptakan suasana kerja yang non-otoritarian.

Dan ini juga yang menjadi hakikat inti seluruh proses pembeda-bedaan Roh orang yang sedang menjalani LR. LR itu sendiri adalah sebuah teks atau buku tipis yang pertama-tama bukan untuk dibaca, melainkan menjadi sebuah sarana untuk refleksi pribadi. Kalau orang hendak menjalani LR, peranan director dalam retret benar-benar directing, bukan teaching. Ia menyerupai bandul atau pendulum yang netral dalam sebuah timbangan; tidak berusaha untuk memberikan pengaruh apapun (LR 15). Ia membantu peserta retret sejauh untuk memahami seluruh pengalaman hidupnya.

Di sanalah kualitas seorang manajer tampil. Ia cukup memberikan peta jalan menuju ke area pertambangan. Selebihnya, orang tersebut yang harus menggali sendiri harta berharga itu. Inilah self-discovery. Perubahan, pergeseran, bahkan pembalikan arah hidup selalu berlangsung dalam diri orang secara personal dan interior. Pencarian interior inilah yang menjadi kesibukan dan pergumulan dari Loyola.


BEBERAPA KATA PENTING
Memahami struktur mental Loyola dalam pencarian kehendak Allah dalam situasi konkret, dan untuk sampai pada keputusan akhir apa yang sebenarnya menjadi kehendak-Nya dalam sebuah peristiwa yang paling nyata. Semua ini membutuhkan penjelasan beberapa kata yang mempunyai makna misterius spiritual mendalam.

Kosa kata yang paling dasar adalah pareçer, yang berarti memiliki pandangan atau opini. Opini yang dimiliki seseorang ini berasal dari penilaian personal atas apa yang diamati, yaitu aspek-aspek tertentu yang ia lihat dalam situasi konkret. Opini bukan kepastian obyektif. Kesalahan dan perbedaan pendapat yang disampaikan orang lain masih sangat terbuka.

Pembeda-bedaan ala Loyola didasarkan pada evidensi, bukan kesan ataupun perasaan. Jadi pareçer adalah sebuah orientasi visual. Beberapa kata seperti “memandang”, “terang”, dan “kejelasan” adalah kunci guna memahami visi ini. Pola struktur mental Loyola adalah mencari “terang” dan “kejelasan” agar mampu “memandang” kehendak Allah dalam situasi konkret. Dan gerak batin dan psikologi ini sebenarnya merupakan pola seluruh hidupnya setelah ia bertobat. Yaitu, pencarian terus-menerus ke arah yang lebih terang agar mampu memandang jernih pikiran Allah.

Seorang pemimpin akan menggunakan semua sarana yang mungkin untuk bisa menyisir situasi serumit apapun. Kebebasan rohani yang ia miliki sangat menentukan agar tidak terbutakan oleh prasangka dan berbagai keinginan pribadi sehalus apapun. Ia mendengarkan opini orang lain, dan terbuka terhadap klarifikasi yang didasarkan pada pengalaman nyata.

Mirar, yang artinya memandang dan menatap dengan penuh perhatian, adalah kata berkonotasi visual yang juga digunakan di sini. Keputusan dari sebuah proses discernment menuntut pemikiran mendalam dari berbagai sudut. Dari ekspresi bahasa yang diungkapkan kita dapat merasakan bahwa struktur cara berpikir Loyola adalah praktis. Sejauh mungkin ia akan menyingkirkan segala bentuk apriori, dan sangat menekankan data yang mengalir dari pengalaman hidup. Penggunaan kata mirar menjadi cermin bahwa pemikir ide ini sangat sadar betapa sulitnya proses pembedaan itu.

Terminologi lain, sentir, membutuhkan perhatian yang lebih cermat lagi. Untuk mengartikan satu kata ini saja sudah menimbulkan perdebatan di kalangan para ahli. Kata ini kerap dikomentari secara murni spiritual. Tidak melulu spiritual, kata ini menyimpan makna yang jauh lebih kaya. Sentir digunakan Loyola dalam konteks pembicaraan praktis bersama secara sistematis dalam pencarian kehendak Allah.

Sentir sebenarnya muncul dalam LR ketika retretan berkontemplasi menggunakan lima panca-indera untuk masuk ke dalam perasaan spiritual mendalam. Pengenaan panca-indera ini juga disertai dengan intuisi untuk mencari kebenaran yang lebih dalam. Sentir adalah sebuah proses memahami, yaitu mengetahui dengan melibatkan unsur afektif dan intuitif. Semua ini merupakan cerminan pengalaman mistik penulisnya; sebuah pengalaman felt-knowledge, yang merupakan intregrasi antara mengetahui, merasakan dan melihat. Pengetahuan, bagi Loyola, tidak pernah melulu intelektual dengan proposisi yang serba abstrak. Pengetahuan adalah pengalaman manusia total dalam proses memahami dengan segala resonansi emosionalnya.

Jangan salah paham dan menganggap Loyola meyakini proses dan hasil dari sentir otomatis merupakan inspirasi langsung dari Roh Kudus; meski ini juga bukan sesuatu yang mustahil bisa terjadi. Kebenaran sentir sebagai felt-knowledge tergantung pada ketepatan pareçer (respon terhadap evidensi) dan validitas mirar (refleksi di bawah terang doa). Produk dari sentir adalah sebuah perasaan yang mengatakan bahwa tindakan yang hendak ditempuh itu akan lebih baik, lebih efektif, untuk kemuliaan Tuhan dan kebaikan universal.

Sentir is subject to human error. Sentir bisa keliru karena dua hal. Pertama, kondisi rohani orang yang sedang melakukan pertimbangan dikacaukan oleh gangguan pencarian diri dan kepentingan diri. Ia kehilangan kebebasan rohaninya. Kedua, evidensi atau pertimbangan yang tidak memadai karena, misalnya, data untuk refleksi tidak lengkap. Dalam kasus seperti ini seorang pemimpin sebaiknya mengendalikan sentir yang dimilikinya, dan sebaliknya mendengarkan sentir yang dimiliki orang lain.

Pengambilan keputusan ditandai oleh sebuah proses yang disebut juzgar, menentukan kehendak Allah di sini dan sekarang. Mengulang dan meringkas tahap dan proses sebelumnya: didahului dengan pareçer (observasi menyeluruh atas berbagai aspek kondisi konkret), dilanjutkan dengan sentir yang disertai dengan mirar (permenungan meditatif atas evidensi yang ada), dihadapkan pada berbagai opini dan gerak batin anggota lain, kita tiba pada juzgar.


RAHMAT JABATAN
Loyola mengatakan, seorang administrator senantiasa memiliki “rahmat jabatan”, gracia status. Rahmat ini analog dengan rahmat yang diberikan setiap orang dalam hidupnya sebagai kekuatan untuk menemukan Allah dalam dirinya. Orang dengan tanggungjawab lebih besar, akan memperoleh rahmat jabatan yeng lebih besar pula. Rahmat ini khas dan karismatik.

Namun, rahmat jabatan ini tidak bekerja secara magic. Rahmat ini senantiasa mengundang orang yang menerimanya untuk bekerjasama secara aktif. Pemimpin yang membiarkan dirinya tergoda dan masuk dalam “godaan-godaan partikular” kepentingan sendiri membuat rahmat ini mati lemas dan terkubur. Seorang pemimpin diharapkan senantiasa peka dan mampu mengontrol segala motif yang murni subyektif, demi mewujudkan komunitas kerja berdasarkan cinta.

Drucker pun membicarakan satu faktor given yang dianggapnya sangat esensial. Faktor ini akan menentukan apakah seseorang tepat, cocok, dan pas menjadi seorang manajer. Tidak terlalu sulit bagi orang untuk mempelajari, misalnya, memimpin rapat, melakukan wawancara dan dialog dengan orang lain, dan berbagai skill lain yang dibutuhkan seorang manajer. Atau, ia juga bisa mempelajari bagaimana menciptakan suasana organisasi yang kondusif untuk berkembang bersama, misal menciptakan hubungan yang baik antara atasan dan bawahan, menyusun sistem promosi kenaikan jenjang karier, membuat kebijakan insentif dan bonus karyawan. Dan setelah semuanya tersedia, masih ada satu lain yang dituntut karyawan dari seorang manajer. Satu hal ini, menurut Drucker, bukan ketrampilan yang bisa dipelajari begitu saja. Seorang manajer membutuhkan “pembawaan” integritas dan karakter.

Usaha untuk menjelaskan hubungan antara integritas seseorang yang dimaksud Drucker di atas dengan rahmat jabatan dari Loyola tentu membutuhkan keterangan luas. Berbagai macam contoh dan kasus spesifik dapat diungkapkan untuk menyampaikan sikap setuju dan tidak setuju dengan keyakinan ini. Dan tidak mudah bagi kita untuk membuat penilaian dan kesimpulan begitu saja apakah seseorang: fit or unfit to be manager.

Sebagai seorang realis yang selalu belajar dari pengalaman hidup manusiawi, Loyola tidak pernah menganggap pemimpin memiliki kekuatan ajaib, menyerupai manusia setengah dewa yang tidak pernah salah, atau secara moral selalu benar. Oleh karena itu, para anggota wajib untuk menyampaikan koreksi dan kritik bila keliru, sekaligus memberikan bantuan spiritual dan komunal agar superior mampu menjalankan tugasnya dengan baik.


TAHAP DEMI TAHAP
Mengikuti pengalaman Loyola dan sembilan temannya ketika pada tahun 1539 hendak menentukan bentuk arah dan tujuan kelompok ini, ada lima langkah dalam proses penegasan bersama:

• Mencari kehendak Allah atas dasar visi dan misi yang sudah ditetapkan;
• Mencatat perbedaan pandangan tiap anggota ketika memikirkan sarana untuk mencapai visi dan misi tadi;
• Pertemuan dihentikan untuk sementara. Masing-masing anggota masuk dalam situasi meditatif dan doa, mencari dan menemukan penerangan Ilahi. Mereka tidak berbicara atau berdiskusi satu dengan lainnya. Fokus diarahkan hanya pada pencarian cahaya Ilahi;
• Sarana-sarana manusiawi pun dimohon dalam doa, menemukan media untuk mendukung upaya kodrati;
• Semua berkumpul kembali dan berbagi berbagai pengalaman hasil discernment personal untuk melanjutkan penegasan bersama.

Proses pertimbangan tersebut diakhiri dengan keputusan final yang diambil oleh pimpinan – tidak jarang – sendirian. Seluruh anggota menerima keputusan tersebut dengan ketaatan sempurna. Hanya cara inilah seluruh institusi tetap terjaga keutuhannya dalam setiap langkah. Superior menjadi benteng aktif pemersatu membangun komunitas perjuangan dan pelayanan yang diwarnai dengan cinta.

Sekali lagi, struktur mental pemikiran Loyola diwarnai dengan asumsi bahwa pengalaman hidup adalah mata air kebijaksanaan dan kebenaran yang tidak akan pernah habis. Implikasi dari keyakinan ini, keputusan final selalu terbuka terhadap verifikasi butir-butir mutiara pengalaman hidup nyata.


TERANG ROH KUDUS
Kita masuk secara eksplisit satu tahap dalam proses penegasan bersama: berdoa untuk mendapatkan secercah terang Roh Kudus. Inilah proses yang dialami pimpinan dan anggota bersama-sama. Mereka membeda-bedakan gerakan Roh dengan mata tertuju hanya pada Allah, membuat pertimbangan dibawah tuntunan rohani yang merdeka, hanya untuk mencari pelayanan bagi-Nya.

Doa menjadi tahap pertama dalam alunan pengalaman ini. Prinsip ini merupakan hal yang sudah pasti untuk Loyola. Namun demikian, ia tidak pernah mengatakan bahwa produk yang mengalir dari doa, otomatis akan tepat dan benar. Rahmat Ilahi membutuhkan kerja sama dengan segala sarana dan usaha kodrati manusiawi. Cahaya Ilahi menjadi lebih nyata, ketika kita mau membuka diri untuk berdiskusi dengan mereka yang mengetahui pesoalan ini secara baik, mendalami situasi-situasi konkret, mencari pro dan kontra terhadap keputusan yang hendak kita ambil.

Jadi, ketika seorang superior berdoa, apa yang sebenarnya ia harapkan? Bukan revelasi, atau tersingkapnya jawaban atas berbagai pertanyaan yang selama ini menggantung. Yang ia harapkan, pertama-tama, adalah interior knowledge, sebuah pengetahuan yang dapat merasakan dan memahami apa yang dikehendaki Kristus dalam menghadapi problematika yang sedang dihadapi. Satu implikasi tersimpan dalam poin ini. Ia berdoa dan berharap akan kemerdekaan spiritual, menyingkirkan segala kepentingan dan rasa cinta-diri. Sedangkan mengenai isi dari keputusan itu, yaitu upaya pengumpulan evidensi, superior mencarinya lewat berbagai sarana.

Tidak ada keputusan pimpinan yang tidak bisa keliru. Tidak ada jaminan bahwa inspirasi yang didapatkan seseorang senantiasa bersifat Ilahi dan benar dengan sendirinya. Ada cukup banyak risiko dalam pencarian kehendak Allah atas perkara-perkara praktis dan konkret. Ini sangat terkait dengan keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki superior: inteligensi, kompetensi, kekuatan mental dan fisik menghadapi tekanan-tekanan psikologis.


DIALEKTIKA KEPUTUSAN
Sebuah kompani atau organisasi terdiri dari individu-individu yang memiliki dan berbagi atas sebuah cita-cita yang sama. Visi dan misi menyatukan mereka menjadi satu tubuh. Namun, setelah pengambilan keputusan, seorang pemimpin kerap menghadapi sebuah tegangan antara kebaikan personal anggotanya dan kebaikan bersama seluruh tubuh dalam upaya merealisasikan visi dan misinya. Selalu ada tegangan antara “kebaikan partikular” dan “kebaikan universal”.

Tujuan organisasi diarahkan untuk kemuliaan Ilahi yang lebih besar dan kemajuan spiritual jiwa-jiwa yang lebih kaya. Semakin universal semakin Ilahi, demikian prinsip Loyola. Dan yang dimaksud kebaikan universal di sini adalah kemuliaan Allah. Tidak jarang, seluruh atau sebagian kebaikan partikular harus dikorbankan.


MENGUMPULKAN EVIDENSI
Satu kondisi yang dituntut seorang pimpinan sebelum melangkah dalam proses pembeda-bedaan ini adalah mengenali tiap-tiap individu di lingkungannya secara mendalam. Pimpinan menggunakan anggota-anggotanya sebagai jembatan paling kritis untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Pengenalan anggota satu demi satu sangat menentukan. Lewat pintu masuk pengenalan ini, kesatuan seluruh anggota dan kepala menjadi satu tubuh menjadi lebih mungkin.

Ada satu cara klasik yang digunakan untuk merealisasikan pengenalan tersebut, “koreksi persaudaraan”. Di bawah moderasi pimpinan, semua anggota saling menyampaikan kelemahan dan kekuatan, dengan tujuan saling mengembangkan diri. Menerima kritik juga merupakan sarana belajar dan pembentukan sikap rendah hati. Lewat proses ini, masukan yang sangat berharga akan didapatkan pembesar.

Struktur organisasi yang dibangun dalam rumah dan tempat pekerjaan mewarnai seluruh orang yang ada di dalamnya. Kalau seluruh mentalitas yang di dalam tempat ini mencekik kehidupan moral, maka pimpinan pun mengalami impotensi untuk menjalankan proses discernment tadi. Situasi ini mungkin tidak menyebabkan bangkrut atau ambruknya organisasi. Tetapi kehidupan yang berlangsung di sini tidak lebih dari aktivitas administrasi, bukan sebuah persatuan orang-orang yang hidup atas dasar cinta sebagaimana yang dicita-citakan dalam Kitab Suci.

Evidensi, salah satunya, dikumpulkan lewat dialog antara pembesar dan anggota-anggotanya. Lewat pertimbangan bersama, superior diharapkan mampu mengendalikan segala prasangka yang ada dalam dirinya. Dialog juga dilakukan dengan mereka yang diangkat menjadi konsultan dan orang yang memiliki kompetensi khusus. Persetujuan mayoritas bukan tujuan dialog, melainkan jembatan yang dibuat superior agar sampai pada keputusan yang menyatukan seluruh organisasi. Seluruh anggota terpanggil untuk menjalankan ketaatan sempurna atas keputusan tersebut.

Dalam konsep modern, apa yang dilakukan manajer di atas tiada lain adalah membekali diri dengan senjata pamungkas: informasi. Manajer akan menjadi efektif bila terlebih dahulu memiliki kemampuan mendengarkan dan membaca, berbicara dan menulis. Lewat aktivitas ini ia mampu memotivasi, membimbing dan mengorganisir “anak buah” dalam mengerjakan masing-masing tugas mereka. Dalam ungkapan yang terdengar aneh – namun menunjuk pada perkara yang sangat serius – seorang manajer harus belajar dan menguasai bahasa, memahami makna kata-kata dan kekuatan yang tersimpan di dalamnya.


REPRESENTASI
Apakah kita masih diperkenankan untuk menyampaikan keberatan bila keputusan sudah dibuat? Representasi, yang merupakan hak dan kewajiban anggota untuk menyampaikan pandangan pribadinya yang berbeda dengan keputusan pimpinan, juga menjadi bagian dari proses pengumpulan evidensi. Loyola sendiri melakukan hal ini. Sebuah surat ditulisnya pada tahun 1536 berisikan satu keberatan yang dilayangkan pada Kardinal Carafa.

Loyola mengajukan tiga langkah bila seorang hendak menyampaikan representasi. Pertama, motivasi representasi selalu dites dan diuji lewat doa, mencermati apakah motivasi di balik semuanya itu sungguh mencari kemuliaan Tuhan. Kedua, mempertimbangkan segala evidensi dalam situasi konkret; pembeda-bedaan roh digunakan di sini. Ketiga, kesimpulan dari penegasan disampaikan sebagai hasil penemuan kehendak Allah yang unik dan personal dari orang tersebut.

Pengalaman hidup, bagi Loyola, adalah “guru sejati” yang menyimpan harta kebenaran. Di satu pihak, segala keputusan pada umumnya tidak segera dijalankan langsung setelah palu diketok. Di lain pihak, representasi juga tidak disampaikan secara mendadak sontak seketika itu juga. Ia membutuhkan waktu untuk melakukan pertimbangan rohani secara mendalam. Ia pun boleh mengajukan representasi lebih dari satu atau dua kali. Sekali lagi, bagi Loyola, pengalaman hidup, perubahan berbagai atmosfir, dan berputarnya waktu senantiasa menyimpan janji akan tersingkapnya banyak kebenaran.


PENEGUHAN KEPUTUSAN
Dimanakah titik final dalam proses penegasan ini? Kapan kita boleh mengatakan bahwa sebuah keputusan merupakan kehendak Allah sesungguhnya? Konfirmasi bisa datang dari otoritas eksternal yang biasanya lebih tinggi. Dalam pembicaraan kita, sarana-sarana prinsipiil peneguhan terletak pada kepuasan dalam diri sendiri dan para anggota lainnya serta diteguhkan dalam pengalaman hidup. Beberapa kosa kata kunci dari Loyola yang menjadi peneguhan sebuah keputusan adalah “rasa puas dan tentram” (contento), “ketenangan” (tranquilo), “keheningan batin” (quieto) dan “rasa damai” (paz). Semua ini menunjuk pada suasana psikologis dan terang interior bahwa seseorang telah membuat keputusan yang benar.

Bisa dipahami, kalau beberapa orang berpendapat bahwa metode peneguhan macam ini sulit untuk dipraktikkan. Banyak orang tidak terlatih dengan seluk beluk aura perasaan. Tidak sedikit pula orang dengan tipe peragu sehingga tidak pernah jelas dalam identifikasi perasaan. Dan ini bukannya tidak pernah dialami Loyola.

Suatu saat Loyola berusaha mengulangi konfirmasi lewat uji perasaan. Ia tidak menemukan hiburan, bahkan sebaliknya mendapatkan perasaan gelap dan kering. Sampai titik ini ia sadar bahwa ia hanya mencari kepuasan untuk diri sendiri atas keputusan yang sebenarnya sudah final. Ketegasan dan keberaniannya untuk memotong keraguan dan kebimbangan itulah yang kemudian membawanya pada konsolasi, hiburan rohani dan ketenangan yang mendalam. Terbukti lagi, kebebasan rohani menjadi kondisi yang sangat vital untuk segala keputusan hidup kita.


PROBLEMATIKA KETAATAN
"Tidak boleh ada perubahan terhadap 'kaul keempat', ketaatan pada Paus, Wakil Kristus di Dunia ... Ini adalah sikap respek dan cinta mendalam pada Serikat Yesus, ... yang di masa depan akan menerima panggilan untuk melaksanakan tugas yang lebih berat dari Gereja." (Surat Paus Paulus VI kepada Pater Jenderal SJ, 15 Februari 1975).

Ketaatan yang ada dalam LR dan ketaatan yang dikampanyekan Loyola barangkali merupakan konsep yang sangat kontroversial dan menimbulkan banyak diskusi. Terkadang muncul juga ejekan untuk Loyola. Dalam sejarah, demikian ejekan dibuat, terdapat tiga tokoh dan tonggak perhentian di mana Gereja mengalami kemunduran. Pertama, jaman Konstantinus (285 – 337) yang membawa Gereja menjadi institusi. Kedua, Thomas Aquinas (1225 – 1274), yang merombak konsep Gereja menjadi sebuah sistem. Ketiga, Ignatius de Loyola (1491 – 1556), yang menyulap Gereja dan membangunnya menjadi kamp militer.

Terlepas dari beberapa ganjalannya, orang kerap kali hanya mengomentari kontroversinya. Sementara, pengalaman masuk dan mendalami secara serius konsep “ketaatan” ini tidak pernah dilakukan. Futrell adalah salah satu sarjana yang mencoba mendalami persoalan ini secara serius dengan masuk ke dalam studi bahasa. Dengan memahami bahasa yang diekspresikan oleh Loyola sendiri, dia membuat sebuah deskripsi “struktur mental”, bagaimana Loyola memahami realitas dan pengalaman hidup. Memahami struktur mental seseorang adalah jembatan untuk mengais-ais maksud paling dalam yang terbentuk dalam diri orang ini. Maksud dan tujuan Loyola yang diekspresikan dalam bahasa dan diletakkan dalam konteks kebudayaan pada masanya, inilah yang hendak dibedah oleh Futrell.

Peranan pimpinan dalam mendinamisir sebuah organisasi yang aktif merasul sebagaimana yang dipikirkan Loyola memiliki pengertian yang lincah. Peranan pemimpin, lewat pencarian kehendak Allah terus-menerus, menjadikan dirinya sebagai figur yang mempersatukan seluruh gerak kehidupan organisasi tadi. Dalam hal ini ketaatan mengandung hubungan korelatif dengan peranan pimpinan tadi.

Tetapi, apa sebenarnya yang dimaksud dengan ketaatan? Ketaatan dalam pemikiran Loyola tidak mempunyai tujuan di dalam dirinya sendiri; bukan ketaatan demi ketaatan itu sendiri. Ketaatan hanyalah sarana, tetapi sarana yang sangat penting untuk mempersatukan seluruh unsur dalam organisasi menjadi satu tubuh yang utuh.

Oleh karena itu, orang yang tidak memiliki kerendahan hati dan bebas dari kepentingan diri akan mengalami kesulitan bergabung di dalam organisasi yang dicita-citakan Loyola. Masih belum cukup, ketaatan dan kerendahan hati, perlu dilengkapi dengan reverencia, sikap hormat pada pembesar. Dan akhirnya, sikap hormat ini baru akan menjadi penuh ketika dilengkapi dengan cinta, reverencia amorosa. Dan yang paling puncak, seluruh unsur tadi menjadi motif ketika para anggota menerima perintah superior dengan memandangnya “sebagai representasi Kristus sendiri”.

Pola-pola “gila” dan “sinting” tadi mengandung tujuan rohani. Tujuan manusia hidup, dalam benak Loyola, adalah mengabdi dan memuliakan Allah lewat persatuan dengan Kristus. Tujuan ini dicapai dengan kesiap sediaan untuk “pergi kemana saja” sejauh Kristus atau wakilnya di dunia menghendaki. Konsep ketaatan dan memandang pimpinan sebagai orang yang meneruskan pikiran dan perasaan Kristus selalu mempunyai tujuan asketis dan spiritual.

Fransiskus Xaverius sebenarnya bukan pilihan awal dari Loyola ketika pada tahun 1540 ia dikirim ke Asia. Nama lain, Nicolás Bobadilla menjadi pilihan awal. Tetapi nama yang terakhir ini mendadak sakit. Pada tanggal 14 Maret 1540, Loyola memanggil Xaverius, dan nama yang terakhir ini menjawab lewat sebuah respon yang menjadi legenda, “Siap. Saya adalah anak buahmu”. Dua hari kemudian dia sudah berada di perjalanan menuju Lisbon. Sesudah itu, lebih dari sepuluh tahun, Xaverius adalah seorang independen dalam seluruh misinya menjelajah empat benua yang ada di permukaan bumi.

Ketaatan pada superior ini juga bersifat eklesial. Otoritas pimpinan di sini selalu berada dalam kesepahaman dengan Gereja. Gereja adalah mempelai Kristus. Institusi yang ada dalam cita-cita Loyola mempunyai makna karena ingin mengabdi Gereja. Semua keterangan abstrak ini yang terasa indah ini, menjadi “gawat” ketika ketaatan ini menjadi praktik hidup.

Ketaatan yang digambarkan Loyola adalah “segera” dan “total”. Di sini ia melukiskan ketaatan dari para scriptor dalam lingkungan monastik biara-biara abad pertengahan. “Satu huruf yang tersisa pun harus ditinggalkan bila perintah atasan datang”. Sesudah itu, ketaatan dilakukan hanya akan menjadi sempurna bila menyertakan tiga sikap interior dan eksterior: “pelaksanaan” (hal yang diperintahkan dilaksanakan), “kehendak” (memiliki kehendak yang sama dengan orang yang memerintah), dan “pemahaman” (merasakan kesamaan opini dengan pembesar yang mengutus).

Loyola menulis surat pada salah seorang anggotanya di bulan Agustus 1542, “Ketaatan menuntut sikap ‘buta’ hanya dengan dua syarat. Pertama, di sana tidak ada dosa yang menyelinap ke dalam perintah tersebut. Kedua, bila ia mempunyai argumen dan keberatan dengan perintah tersebut, dengan sikap rendah hati ia boleh menyampaikan hal tersebut kepada superiornya; tidak dengan cara memberikan tekanan, dan pembesar tetap merasakan ketenangan dan damai dalam pengambilan keputusan.”

Tradisi sebelum Loyola, dikatakan bahwa ketaatan buta itu “menyerupai mayat yang bisa dibawa kemana saja atau diperlakukan apa saja, atau semacam tongkat yang harus melayani tuannya kemana saja ia pergi”. Sebuah alegori yang untuk telinga kita sekarang lebih terasa harmful daripada helpful. Tetapi Loyola menambahkan bahwa ketaatan yang
benar senantiasa membawa kita pada hati gembira dalam menjalankan perintah tersebut.

Ketaatan yang bertujuan untuk mempersatukan seluruh anggota menjadi satu tubuh demi kerasulan senantiasa menjadi obsesi Loyola. Mewartakan Khabar Gembira dan menyelamatkan jiwa-jiwa lewat kerja tim – satu kata, satu tindakan – selalu akan memberikan buah yang lebih melimpah. Tidak mengherankan bahwa kelompok yang didirikan oleh Loyola diberi nama Company of Jesus. Nama ini keluar dari mulut Loyola pada tahun 1537 di Vincenza.


KRISIS DALAM KETAATAN
Ada situasi di mana ketaatan mengalami “krisis”, yaitu ketika ada bukti yang cukup kuat untuk mengoreksi keputusan pembesar. Ini menjadi lebih mungkin di jaman ini; adanya spesialisasi pada masa sekarang membuat seorang superior terbatas dalam memahami sebuah isu. Mungkin terjadi bahwa superior keliru, bahkan ia tidak menggunakan cara
pembeda-bedaan sebagaimana yang digariskan Loyola dalam pengambilan keputusan.

Dalam kasus “krisis” seperti ini, komentar disampaikan sejak Fransisco Suárez (ahli teologi akhir abad 16) hingga Karl Rahner di abad 20. Komentar dan ulasan yang ada lebih menekankan misteri Penyelenggaraan Ilahi di balik ketaatan suci. Kekuatan Ilahi mampu mengubah segala sesuatu – bahkan kekeliruan, atau kelemahan manusiawi – menjadi sesuatu yang baik yang mendukung tujuan manusia diciptakan Allah. Tidak ada sarana-sarana kodrati yang memadai sepenuhnya untuk mencapai tujuan adikodrati. Dan sarana kodrati yang terbatas itu pun tidak akan mampu menghalang-halangi arah tujuan adikodrati.

“Krisis” dalam ketaatan, dalam kacamata Loyola tetap menjadi bagian dan diletakkan dalam lingkup Company di atas. Harus ada pengorbanan diri sendiri kalau kita mau otentik menjadi bagian dari sebuah Company. Dalam perspektif kepentingan umum, kerasulan dan minat yang sifatnya individualistik lebih kerap menjadi hambatan daripada dukungan untuk melayani Kristus dalam Gereja-Nya. Di sini tampil persoalan abadi, dialektika antara the universal good dan the individual good.

Loyola tidak pernah mengatakan bahwa keputusan akhir dari superior selalu tepat dan benar. Yang ditekankan pada setiap superior adalah keheningan doa untuk memperoleh terang dan rahmat. Superior bisa keliru, dan tetap terbuka terhadap koreksi di kemudian hari. Meski demikian, pada prinsipnya, pertimbangan superior lebih komprehensif dari pertimbangan individu yang hendak diutus. Yang pertama memiliki disposisi yang lebih lengkap atas berbagai sarana dan akses untuk melakukan discernment.

Loyola pun sadar betapa sulitnya orang (dan juga pimpinan) untuk imun dari praduga yang terselip dalam dirinya. Tidak mustahil pencarian diri yang sangat lembut pun melingkari dirinya. Dalam titik ini, Loyola kembali pada persoalan rohani. Mereka yang melakukan LR seharusnya memiliki kebebasan rohani. Mereka membuat keputusan atas dasar kehendak untuk memuji dan melayani Allah. Demikian pula mereka yang berada dalam perintah. Ia seharusnya peka akan kemungkinan terbelitnya oleh sikap mencari interes pribadi. Maka motif yang ada dalam diri setiap orang tidak bisa tidak adalah justo: ia memberikan diri sendiri untuk dituntun dalam Penyelenggaraan Ilahi. Bila dalam pengambilan keputusan superior nyata-nyata sudah menerapkan segala sarana dalam pembeda-bedaan lewat cara yang ditunjukkan Loyola, para anggota tidak akan berbuat apapun selain taat.


MANUSIA TUMBUH LEWAT KERJA
"Kami mohon agar Anda serius menerapkan nilai-nilai dan gagasan Ignatian ke dalam seluruh Sekolah Bisnis Yesuit, tidak hanya mendidik pelaku bisnis yang handal, tetapi juga membuat mereka semakin manusiawi." (Fabio Tobõn Londoño, Pertemuan International Association of Jesuit Business Schools - IAJBS, di Puebla, Mexico, 2003).

Faktor kritis pekerjaan manajer ada dalam relasinya dengan manusia lain. Hubungan manajer dengan orang lain, tidak mungkin didasarkan pada bagaimana manusia memperlakukan benda mati. Hubungan antar-manusia merupakan sebuah relasi. Manusia tidak bisa dipekerjakan dan diperlakukan sebagai budak. Lewat relasi manusiawi, ia bisa bertumbuh dan berkembang. Atau sebaliknya, manusia mengalami kemacetan dan tidak produktif sama sekali. Kemungkinan-kemungkinan ini bisa berlaku untuk kedua belah pihak, manajer dan orang yang dipimpinnya. Hubungan antar manusia itu mengandung seribu satu kemungkinan pengalaman pahit dan manis, terluka dan menyembuhkan.

Kerap orang melukiskan tempat kerja sebagai penjara dingin, impersonal, individual, tidak toleran. Memang di sana ada kreativitas dan imajinasi. Namun, dua unsur terakhir ini seperti hadir di tengah-tengah kuburan, di mana kantor merebut “jiwa dan roh”, sementara sang bos menuntut “raga” dan keringat pekerja. Pekerjaan pada dasarnya merupakan nasib buruk yang menimpa manusia.

Drucker mengoreksi sikap tadi. Dia mendorong perusahaan untuk melihat karyawan sebagai “sumber air”, bukan “penghisap”; manusia yang berpotensi untuk menghasilkan, bukan makhluk yang hanya memeras kekayaan perusahaan. Itulah prinsip yang dipegang bahkan dalam organisasi yang sekular sekali pun.

Singkat kata, yang harus merasuk ke dalam diri kita adalah mengubah paradigma cara memandang kerja. Delapan jam penderitaan selama bekerja yang dijalani oleh pekerja cleaning service hingga eksekutif, harus dirombak menjadi realitas bahwa pekerjaan adalah jalan untuk menumbuhkan emosi kita, mematangkan kepribadian kita, dan membahagiakan hidup kita. Itulah tantangan dan tugas manajemen.


CINTA BERSAMA MERASUL
Tujuan atau sasaran kerasulan dari kompani menjadi tujuan atau sasaran dari seluruh kompani bersama-sama. Tidak ada keberatan dengan rumusan ini. Yang bisa mengganggu adalah konsekuensi dari konsep ini. Setiap individu menjadi bermakna dan ada hanya dalam fungsinya dengan kesatuan dan keutuhan seluruh tubuh lembaga tadi. Masing-masing anggota berpartisipasi dalam upaya untuk meraih sasaran melalui kesatuannya dengan sang kepala. Ketika arus individualisme begitu kuat sekarang ini, orang mungkin akan bertanya-tanya, apakah prinsip ini tidak melanggar hak asasi
individu?

Pekerjaan yang begitu spesifik dalam organisasi membuat kita tersebar dan terpisah. Kesatuan mendalam dari seluruh anggota – unión de los ánimos – menjadi sikap penting yang mesti diusahakan. Kita bisa menjelaskan poin ini lewat jalan lain. Justru karena seluruh tujuan organisasi kerap ditempuh dengan cara menyebar, maka menjaga kesatuan menjadi prinsip yang perlu diupayakan. Contoh yang melegenda dalam keutamaan ini – lagi-lagi – adalah Fransiskus Xaverius. Lebih dari sepuluh tahun ia melanglang-buana bekerja dan berjalan sendiri, tanpa rekan anggota kompaninya yang secara fisik dekat dengannya. Ia membawa nama-nama rekan kerjanya, yang juga berada tersebar. Ia senantiasa mendoakan mereka. Dalam surat-suratnya, ia merasakan kesatuan spiritual mendalam dengan mereka. Ia juga yakin bahwa mereka pun terus mendoakan dirinya dan apa yang dikerjakannya di berbagai negeri yang sangat jauh.

Ikatan yang menyatukan semuanya tidak lain adalah “saling mencintai”, dengan sikap dan perasaan mencintai Allah sebagai pondasinya. Pimpinan berperanan untuk mewujudkan iklim ini.

Kekayaan apa yang tersimpan dalam kata “cinta” itu? Ini mengacu pada dua esensi dalam LR (231). Pertama, cinta harus diungkapkan dalam tindakan; kedua, cinta diperagakan lewat saling memberi. Substansi yang kedua ini menunjuk cinta yang bersifat menyatukan. Sebagaimana Kristus rela memberikan diri-Nya untuk manusia, maka manusia memberikan tanggapan dengan menyerahkan diri sepenuhnya pada Allah: “kebebasan, ingatan, pengertian dan kehendak, serta seluruh apa yang aku miliki” (LR 234).

Cinta yang merupakan raison d’être, kehidupan dan seluruh aktivitas dari organisasi yang dicita-citakan Loyola bergerak dinamis dalam dua level: level rohani cinta pribadi pada Allah, dan level manusiawi cinta satu sama lain. Kedua level ini tidak bisa dipisahkan, keduanya saling mendukung dan saling memperkokoh.

Loyola sadar, karena organisasi ini terdiri atas manusia, pembicaraan mengenai cinta yang serba ideal ini tidak bisa diandaikan begitu saja. Para anggotanya membawa berbagai macam latar-belakang temperamen, spontanitas perasaan, gagasan pikiran. Kesalah-pahaman, konflik, pengalaman pahit yang muncul harus segera cepat didamaikan. Adanya perbedaan bukan alasan untuk cerai-berai dan kehancuran. Perbedaan sebaliknya membantu saling melengkapi satu anggota dengan lainnya. Harus diputuskan, dalam beberapa kasus ekstrim, mereka yang nyata-nyata menimbulkan perpecahan, sebaiknya tidak usah dipertahankan lagi dalam organisasi ini.

Tugas menyatukan seluruh anggota dalam sebuah unit kerja dan kerasulan ditengah-tengah atmosfir pluralisme sekarang ini tentu saja menjadi sebuah tantangan besar. Bagaimana persatuan hendak dibangun di bawah terang teologi pluralisme merupakan sebuah komplikasi tersendiri. Segala teknik komunikasi modern maupun tradisional perlu dimanfaatkan untuk merealisasikan kesatuan tersebut.


OTORITAS ATAS DASAR CINTA
"Sejak awal abad 20, orang selalu menganggap bahwa manajemen berarti 'manajemen bisnis'. Masih banyak orang mempunyai keyakinan sama hingga sekarang. Namun, harus diingat bahwa dalam manajemen, misi menentukan strategi, strategi membentuk struktur. Oleh karena itu, manajemen sebenarnya tidak lagi hanya dibatasi manajemen bisnis" (Peter F. Drucker, “Management’s New Paradigms”, 2003).

Kualitas personal efektif yang mampu menyatukan seluruh anggota adalah bila ia mencintai kawanannya dan mengangkat keyakinan yang mereka miliki; memberikan perintah secara moderat, secukupnya, menghormati kebebasan dan inisiatif pribadi; menjaga hirarki hubungan atasan dan bawahan guna menjaga kesatuan secara utuh. Hirarki dijaga bukan pertama-tama untuk tujuan asketis atau pembetukan watak disiplin, melainkan, sekali lagi, demi kesatuan cinta satu sama lain. Para anggota juga terpanggil untuk mencintai pimpinan, menunjukkan kepercayaan dalam segala usaha yang ia kerjakan, tidak dikacaukan oleh perasaan takut.

Peranan pimpinan untuk menyatukan seluruh anggota untuk bergerak dan berjuang akan berhasil bila semua anggota taat pada keputusan yang dibuatnya. Kehendak Allah secara konkret terkomunikasikan dalam setiap perintah superior. Ini jangan diartikan bahwa pembesar hanya bertanggung-jawab pada Allah semata. Ia wajib memikirkan akibatnya untuk seluruh subyek yang terkait dengan kebijakan-kebijakan yang dibuatnya.

Dalam menjalankan otoritas, Loyola menggunakan vokabular yang khas: menyampaikan perintah (ordernar) dan memerintah (gobernar, regir); memberikan persetujuan (licençia, approbaçión); perhatian untuk anggotanya (proveer, cuidado).

Ketika seorang pimpinan menyampaikan perintah (ordernar), ini berarti bahwa ia menempatkan orang dalam tempat yang pas dalam dinamika hidup dan karyanya. Ordernar juga berarti tertib dan terorganisir, ada hubungan yang saling mendukung untuk mencapai tujuan bersama. Perintah di sini bersifat teoretis sekaligus praktis. Ia terkait dengan tempat, waktu, histori, dan kemendesakan aktivitas tertentu yang perlu ditangani. Kata ini bahkan mengikut-sertakan pertimbangan kesehatan tubuh, kemampuan intelektual, hingga cara berpakaian dan penampilan luar lainnya. “Memerintah” di sini bukan dalam pengertian militer yang sebenarnya memiliki tujuan eksternal. Fokus dalam ordernar bersifat apostolis, demi kerasulan.

Adanya ijin (licençia) dan persetujuan (approbaçión) memungkinkan pimpinan menggembalakan kawanannya dalam satu kesatuan tindakan dan hidup. Modifikasi selalu terbuka dengan mengikuti perkembangan tempat dan waktu. Dalam benak Loyola, tidak pernah ada aturan yang a priori dan statis. Dalam pembicaraan otoritas, kata menyediakan perhatian (proveer cuidado) kebutuhan spiritual dan temporal para anggota merupakan cerminan bagaimana Allah juga menyelenggarakan semuanya untuk manusia. Superior, dengan demikian, terpanggil menjadi refleksi cinta Allah yang sedemikian.

Orang yang diangkat menjadi pimpinan sama sekali tidak menempatkan diri di luar komunitasnya. Ia tidak mengambil peranan misterius menjadi manusia setengah dewa yang dihormati. Ia tidak lebih dari salah satu kawanan yang kepadanya para anggota kemudian menyampaikan pertanggung-jawaban lewat struktur organisasi. Orang ini menjadi teladan hidup yang menyatukan. Hal terakhir ini merupakan jembatan untuk merealisasikan tujuan korporat yang tiada lain adalah penyelamatan jiwa-jiwa.

Tugas manajer yang dirumuskan secara tradisional masih berlaku untuk sekarang ini. Yaitu, merangkul para bawahan yang melaporkan hasil pekerjaan mereka padanya (integrate downwards). Yang juga tidak lepas dalam pengamatan Loyola, tanggung-jawab pimpinan ke atas, menjalin relasi dengan atasannya dan bertanggung-jawab terhadap perusahaan (upwards). Tetapi, untuk sekarang ini, yang jauh lebih penting tetapi tidak disebutkan secara eksplisit oleh Loyola, adalah merangkul mereka yang bekerja di areal lain, yang mana ia tidak memiliki jalur kontrol manajerial (integrate sideways). Peranan manajer di era modern ini teruji jika ia mampu menjalin networking secara efektif dan efisien. Implikasinya mendalam. Prinsip dan kriteria organisasi modern terletak dalam fungsi (function), bukan kekuasaan (power). Bukan perkara bahwa ia mampu memerintah, melainkan kemampuan dan tanggung-jawab untuk menyumbangkan sesuatu untuk organisasi.

Peranan pimpinan dalam konsep Loyola, secara lahiriah pun sangat sejajar dengan peranan manajer yang digambarkan dalam organisasi modern, sebagaimana dijabarkan oleh Drucker: menentukan dan merumuskan sasaran yang hendak dicapai, mengelola seluruh aktivitas, memotivasi dan berkomunikasi dengan anggota, mengukur kinerja kerja, mengembangkan sumber daya manusia.


PENUTUP
Sebagai penutup uraian ini kita bisa meletakkan judul sebuah esai panjang yang ditulis Michael J. O’Sullivan, SJ, “Trust Your Feelings, but Use Your Head”. Membaca uraian dalam bab ini, banyak orang akan bertanya-tanya. Mungkin kita menduga-duga manajemen ini mengajak kita untuk lebih menggunakan perasaan, emosi dan afeksi, dari pada otak, pikiran dan rasio?

Kita memang boleh percaya pada perasaan. Namun, kita tidak boleh memisahkan yang ada di hati dari yang ada di kepala. Keduanya berinteraksi satu sama lain. Keduanya bisa saling mempengaruhi secara positif maupun negatif. Mengingat kecenderungan orang untuk menjadi bias dalam pengambilan keputusan ini, maka dalam retret atau dalam pertimbangan bersama, pembimbing harus lebih mencermati “bagaimana” dari pada “apa”. Pembimbing retret lebih memfokuskan pada proses dan prosedur pengambilan keputusan, dari pada mendalami lingkaran isi keputusan yang bisa menipu.

Kita bisa melihat bahwa cara pengambilan keputusan sebagaimana yang diajarkan Loyola pun mungkin bisa tergelincir ke dalam kualitas pengambilan keputusan yang dangkal, misal diwarnai sikap defensif dan impulsif. Dalam titik inilah manajemen rohani semacam ini sangat membutuhkan upaya manusiawi. Kita membutuhkan kejelasan tujuan, mendalami informasi yang tepat, meminimalisir kepercayaan dan pertimbangan yang bias.

0 komentar:

Poskan Komentar