Ads 468x60px

Berjalan Bersama LRI – Latihan Rohani Ignasian

“Abad ke-16 Ordo Yesuit didirikan oleh Ignatius de Loyola. Hanya dalam beberapa tahun saja sejak didirikan, Ordo ini memiliki anggota yang berjumlah ribuan ... Banyak di antara mereka bekerja secara individual, dan karena tuntutan situasi, tidak jarang memaksa mereka sepenuhnya hidup terisolasi dari rekan-rekannya ... Banyak yang juga bekerja di bawah tanah dengan berbagai ancaman. Meski demikian, kebanyakkan mereka bekerja dengan hasil yang sempurna.” (Peter F. Drucker, “Managing Oneself”, 2003)

Saya tiga kali menjalani retret tiga puluh hari selama saya menjalani hidup di seminari. Pertama, di Biara St Clara Pacet - ketika menjelang tahbisan (2007). Kedua, di Rumah Retret Girisonta ketika retret tahunan dan pribadi (2009). Ketiga, di Pertapaan Rawaseneng ketika merayakan ulang tahun imamat saya yang kelima di tahun 2012 (Bdk: Buku “Via Veritas Vita”, “Memoar Retret Agung”, @romojost.blogspot.com). Adapun kebanyakan bahan retret agung 30 hari saya ini diambil dari buku “LRI – Latihan Rohani Ignasian” . Hal yang secara spesifik hendak digali di sini adalah Yesus dengan nilai-nilai yang diajarkan-Nya sebagaimana ada dalam Latihan Rohani (LR) yang ditulis oleh Ignatius Loyola (1491 – 1556).



Ada beberapa alasan lain mengapa LR bisa lebih digali lagi bukan sekedar sebagai bahan retret agung, yakni:

• LR sangat Kristosentris (berpusat pada Kristus) dan Biblis (sangat dekat dengan Injil). Dengan demikian LR ini sebenarnya merupakan spiritualitas Kristen yang bisa diterima oleh semua orang Kristen.

• Tidak saja Kristen, LR juga sangat Katolik. Kesetiaan pada Paus dan Gereja Katolik sangat mencolok dalam LR. Kesetiaan ini menjadi manifestasi pengabdian pada Kristus (LR 352 – 370). LR tidak terelakkan lagi merupakan spiritualitas seluruh umat Katolik (awam, pastor, suster/bruder), yang berpusat pada mistik pengabdian.

• Dan akhirnya, LR berpuncak dan berorientasi pada tindakan. Tindakan dan aksi senantiasa membutuhkan manajemen. Jadi manajemen yang hendak kita rumuskan adalah sebuah manajemen yang mendapatkan inspirasi dari LR untuk mereka yang berkancah dalam aksi dan tindakan nyata. Mereka yang disebut ini, mencakup para penggiat di lingkungan atau paroki yang berorientasi pada teritori, tetapi juga seluruh penggiat organisasi di bawah Gereja Katolik yang bersifat kategori (OMK, Wanita Katolik, Marriage Encounter, Pemuda Katolik, PMKRI), ISKA tetapi juga orang katolik yang berkiprah di luar Gereja yang ingin mewarnai seluruh cara berpikir dan bersikap mereka dengan “roh” Katolik: politisi, kaum bisnis, pekerja kantoran, guru dan kepala sekolah.

Buku LR, sendiri sejak disahkan oleh Gereja pada pertengahan abad 16 sudah dicetak 4500 kali, dengan jumlah 5 juta eksemplar. Sebagai buku ajar, LR adalah buku yang kering dan “tidak inspiratif”. Ia baru bisa menjadi buku pencerahan ketika dipraktikkan. Ia memberikan ajaran bagaimana mendengarkan bisikan Allah, di tengah-tengah gemuruh suara yang berseliweran kesana-kemari sekarang ini. Dalam pendahuluan LR (LR 1 -20) disebutkan bahwa orang yang menjalani LR membutuhkan orang lain sebagai teman dialog. Teman dalam arti yang sebenarnya. Bukan pembimbing atau guru yang berpretensi lebih tahu dan hendak mengarahkan. Orang menjalani LR tadi, lewat aktivitas rohani, secara merdeka mencari kehendak Allah. Namun karena pencarian kehendak Allah adalah sebuah proses pendidikan yang melibatkan pikiran, perasaan, pengalaman dan tindakan, maka adanya orang lain sebagai teman dialog yang mendengarkan itu tetap mutlak.

Adapun pondasi yang pertama-tama dibangun Loyola itu bukan doktrin, peraturan, melainkan inspirasi. Sumber air hidup ini ada dalam LR, terutama dalam pembeda-bedaan Roh, yang terus mendorong untuk membaharui diri, merevitalisasi hidup kita dalam pencarian pelayanan yang lebih baik terhadap Allah dan Kerajaan Cinta Allah. Manajemennya adalah manajemen rohani. Praksis organisasinya menggunakan instrumen spiritual untuk merealisasikan misinya. Dan misinya adalah menyelamatkan jiwa-jiwa agar nama Allah dipermuliakan. Baginya, manajemen harus diawali dengan sebuah kebebasan rohani, pembeda-bedaan Roh Baik dan Buruk, pencarian kehendak Allah dalam setiap keputusan. Penelusuran perkara-perkara rohani ini, membawa Loyola untuk secara serius mempertimbangkan usaha manusiawi, mencari data dan informasi, menggunakan segala sarana manusiawi untuk menemukan kehendak Allah sekarang dan di sini.

Dalam sebuah pertemuan internasional yang berlangsung di Loyola, Spanyol (2000), Kolvenbach, seorang Jenderal Ordo Jesuit waktu itu mengatakan bahwa kita harus pulang ke “Loyola” (fidelity) untuk menggali kembali identitas, namun dengan tetap membawa seluruh perlengkapan perjalanan kita sekarang ini (creative): creative fidelity, kesetiaan yang kreatif. Kreatif dan kreativitas di sini pun mengacu pada LR yang senantiasa bersifat spiritual. Setia mengikuti Tuhan. Bukan Yesus yang duduk diam pasif, melainkan yang digambarkan selalu dalam situasi en route, dalam perjalanan bergerak mencari. “Melihat dengan mata imajinasi bagaimana Yesus berkotbah dan berjalan dari satu sinagoga dan kampung ... ke sinagoga dan kampung berikutnya ...” (LR 91).

Disinilah saya tampil kenangkan skematisasi dan penjelasan kritis yang saya ambil dari buku sahabat saya, Rm Greg Soetomo, SJ dalam “Manajemen dan Gereja yang Berjuang”.

MINGGU PERTAMA
(Catatan Pengantar)
Tujuan
Asas dan Dasar
Pemeriksaan Hati Khusus
Pemeriksaan Hati Umum
Cara Melakukan Pemeriksaan Hati Umum
Pengakuan Dosa Umum dan Komuni
Latihan-Latihan Minggu Pertama:
• Latihan Pertama: Meditasi Dosa Pertama, Kedua dan Ketiga
• Latihan Kedua: Meditasi Dosa-Dosaku
• Latihan Ketiga: Ulangan Latihan Pertama dan Kedua
• Latihan Keempat: Ringkasan lewat Tiga Percakapan
• Latihan Kelima: Meditasi Neraka
Aturan-Aturan Tambahan

Perjalanan seorang Ignatius de Loyola (selanjutnya, disebut Loyola), penulis Latihan Rohani (LR) merupakan perjalanan hidup seorang pemimpin yang unik. Sama sekali tidak menjanjikan di awal, tetapi kemudian menjadi pemimpin dari sebuah organisasi besar dengan umur membentang sangat panjang. Perjalanan hidupnya menyingkapkan kebenaran yang kerap tersembunyi. Seorang profesor di Harvard Business School mengatakan “para pemimpin besar” adalah twice-born individuals. Mereka mengalami sebuah perjalanan hidup yang disebut “dilahirkan kembali”. Inilah yang dialami Loyola. (Bdk.Chris Lowney, Heroic Leadership. Best Practices from A 450-year-old Company that Changed the World, (Chicago: Loyola Press, 2003), hlm. 38 – 48).

Lahir tahun 1491, di kastil Loyola, berasal dari Suku Basque, Spanyol, manusia istimewa ini kemudian menekuni karier militer. Kelahiran keduanya terjadi ketika ia terluka dalam sebuah peperangan di tahun 1521. Dalam proses penyembuhannya inilah ia mengalami kelahiran kembali. Pemicunya sederhana saja. Ia membaca dua buku, “Hidup Kristus” dan “Hidup Para Kudus”. Ia membayangkan, “Apa yang akan terjadi bila saya juga melakukan perkara yang dikerjakan oleh Fransiskus dan Dominikus?” Tetapi, “yang sederhana” ini menjadi peristiwa “luar biasa” untuk Loyola.

Dalam kariernya yang kedua ini, Loyola berjalan lebih dari 3000 kilometer menuju Yerusalem, di jaman ketika orang-orang Eropa umumnya tidak pernah melancong lebih dari 15 kilometer dari tempat kelahirannya. Berjalan selama 18 bulan untuk mencapai Yerusalem agar ia bisa merasa lebih dekat dengan Kristus dan juga berniat untuk berkarya di sana. Ia hanya tinggal selama tiga minggu di tempat Yesus pernah menghirup nafas, untuk kemudian diusir pergi.
Kelahiran kedua ini membentang panjang bertahun-tahun: dari seorang serdadu militer ke peziarah dengan perjalanan berbelit-belit baik pengalaman fisik, maupun pengalaman batin. Pengalaman batin yang sangat menentukan berlangsung Maret 1522 – Februari 1523 di Manresa. Dalam rentang waktu ini, ia mengalami pencerahan Ilahi. Ia pun mencatat pengalaman rohani ini hari demi hari. Catatan ini kelak menjadi kerangka sebuah tulisan yang begitu banyak didiskusikan, diperdebatkan, dan digunakan untuk kemajuan rohani banyak orang. Inilah Latihan Rohani.

Ketika ia bercerita pada orang lain mengenai pengalaman batinnya, ia dicurigai oleh petinggi Gereja setempat. Ia tidak melihat jalan lain, kecuali mencari dan mendapatkan lisensi untuk berbicara dan berkotbah. Ia pun menjadi mahasiswa yang bertekun belajar dengan rekan mahasiswa yang jauh lebih muda darinya, sampai akhirnya menjadi seorang sarjana terpandang lulusan dari sebuah universitas terbaik di abad 16.

Di Paris, di tempat Loyola menjalani studi, ia berjumpa dan mengumpulkan sembilan temannya. Kelompok yang terdiri dari berbagai suku bangsa ini menjalani LR di bawah bimbingan Loyola sendiri. Mereka pun menjadi sebuah kelompok yang militan. Tetapi, sekuat apapun api yang tersimpan dalam roh, bila tidak mempunyai badan dan tubuh, ia akan tinggal tetap. Ia tidak akan efektif melakukan aksi dan menghasilkan sesuatu yang material. Secemerlang apapun sebuah ide bila ia tidak mempunyai tangan dan kaki, ia bak bara api yang menakutkan tetapi belum cukup untuk membakar materi.

Demikian pula “kelompok sepuluh” yang baru saja menjalani LR adalah kelompok ambisius dengan cita-cita tinggi, tetapi masih miskin dalam menyusun strategi. Bercita-cita berjiarah dan berkarya di Yerusalem tetapi tidak ada kapal yang mengangkut mereka; kekacauan politik yang melanda membuat mereka terdampar di Italia, dan berkotbah di jalanan serta bekerja di Rumah Sakit dengan hasil yang sebenarnya tidak begitu gemilang.

Apa yang akhirnya mampu menyelamatkan kelompok ini? Kualitas dan kapabilitas yang dimiliki masing-masing orang ini. Selain itu kelompok yang belum membentuk institusi ini mendapatkan momentumnya. Mereka hadir ketika berbagai kemelut sedang menimpa Gereja pada masa itu.

Lebih dari sepuluh abad, Gereja menancapkan hegemoni di seluruh daratan Eropa, hampir tanpa kritik yang serius. Lewat serangan para reformatoris, hanya sepanjang 20 tahun, Gereja yang sedang ditimpa demoralisasi dan penyakit kemerosotan mutu intelektual di kalangan elit pimpinannya, mengalami situasi kocar-kacir. Dalam situasi ini para pendatang baru dari Paris ini pun menjadi nampak begitu bersinar-sinar.
Atas dasar apa mereka akhirnya memutuskan untuk membangun kelompok? Heroisme dan kecintaan satu sama lain dalam satu korporat. Di tengah-tengah dunia kompani yang bercirikan kompetisi, global, kapitalistik, keunggulan, dua unsur yang disebut tadi terasa alien. Namun, itulah yang membedakan dengan organisasi yang berkembang saat ini, tanpa meninggalkan unsur kemoderenan yang diperjuangkan oleh setiap organisasi yang muncul di zaman sekarang ini. Kisah hidup Ignatius de Loyola di sini terasa sangat singkat. (Bagi mereka yang berminat mendalami lebih jauh, selain St. Ignatius’ Own Story. As Told to Louis Gonzalez de Camara, Transl. William J. Young, SJ, Chicago: Loyola University Press, 1980, bisa juga membaca Cándido de Dalmases, , SJ, Ignatius of Loyola. Founder of the Jesuits, St. Louis: The Institute of Jesuit Sources, 1985.)

MINGGU KEDUA
Panggilan Raja
Latihan-Latihan Hari Pertama
• Kontemplasi Pertama: Penjelmaan
• Kontemplasi Kedua: Kelahiran
• Kontemplasi Ketiga: Ulangan Kontemplasi Pertama dan Kedua
• Kontemplasi Keempat: Ulangan Kontemplasi Pertama dan Kedua
• Kontemplasi Kelima: Pengenaan Pancaindera Kontemplasi Pertama dan Kedua
Hari Kedua dan Ketiga
Hari Keempat
• Menimbang Martabat Hidup
• Meditasi Dua Panji
• Meditasi Tiga Golongan Orang
• Catatan: Mengatasi Rasa Lekat pada Kekayaan
Hari Kelima – Hari Kedua Belas: Meditasi Hidup dan Karya Yesus
Tiga Macam Kerendahan Hati
Pemilihan
• Pengantar
• Bahan
• Tiga Waktu yang Tepat
• Untuk Memperbaiki dan Memperbaharui Hidup dan Martabat

LR menjadi pondasi yang mengobarkan sebuah organisasi raksasa, Serikat Yesus, dengan umur yang sangat melegenda (didirikan dan diakui oleh Gereja tahun 1541); dengan pengaruh dalam Gereja, politik, peradaban, pemikiran dunia dari masa ke masa. Dengan sedikit perubahan di sana-sini, LR mendapatkan pengesahan dari Paus pada tahun 1548. LR menjadi salah satu buku yang paling dikenal dalam sejarah pemikiran (rohani), sekaligus dianggap paling kering sebagai bacaan, dan paling sulit dipahami (Bdk. introduksi dalam tulisan Hugo Rahner, SJ, translated by Francis John Smith, SJ, The Spirituality of St. Ignatius Loyola. An account of Its Historical Development, Chicago: Loyola University Press, 1980), hlm. x – xiii).

LR ditulis oleh Loyola, bukan sebagai Pastor atau biarawan, bukan pula sebagai Yesuit, melainkan sebagai awam. Sebagai awam dia menyumbangkan sebuah kerohanian yang khas. Dari kisah hidupnya, ia sebenarnya ingin terus melanjutkan sebagai awam yang berjuang. Tetapi ia melihat, sebagai awam pada waktu itu (masih sering terjadi di masa sekarang) ia kerap dihalang-halangi untuk melayani dan berkotbah. Ia kemudian memutuskan menjadi seorang imam. Setelah masuk di dalam kalangan klerus pun, ia terus memasukkan semangat kerohanian awam ke dalam lembaga dan struktur yang dibangunnya (Lihat seluruh uraian yang sedemikian provokatif dari Aloysius Pieris, SJ, Mysticism of Service, Kelaniya: Tulana Research Center, 2000, hlm. 11).

LR ditulis bukanlah pertama-tama hasil dari sebuah studi atau riset mendalam atas buku-buku ilmiah serius. Ia merupakan produk dari sebuah pergumulan rohani penulisnya, di bawah bimbingan Roh Kudus. LR, dengan demikian, bisa diibaratkan sebuah buku pedoman “Bagaimana Bisa Berenang”. Membaca buku tersebut berguna karena akan menambah pengetahuan kita. Namun, orang tidak akan bisa berenang hanya dengan membaca buku ini. Ia harus masuk ke kolam renang dan mulai berlatih dengan segala pengalaman jatuh tenggelamnya.

Di manakah dan apakah inti LR itu sebenarnya? Substansi LR terletak dalam dua meditasi, yaitu Meditasi Panggilan Raja (LR 91 – 99) dan Meditasi Dua Panji (LR 136 – 147). Dalam meditasi ini kita dipanggil untuk bertempur membela Gereja melawan segala kejahatan. Sudah sejak sangat awal, masuk ke dalam LR berarti memasuki medan pertempuran spiritual (Lihat LR no. 1, yang kemudian diulang-ulang dalam no. 12, 13, 91-99, 136-147).

Kita diajak untuk masuk, bukan untuk menonton, melainkan ikut terlibat dalam peperangan. Di satu kubu, ada pasukan kekuatan kebaikan dan kebenaran yang berjuang membangun Kerajaan Allah. Di lain kamp, ada barisan kekuatan si jahat dan kepalsuan yang juga berupaya untuk memperdaya dan meruntuhkan Kerajaan Allah.

Strategi yang ditunjukkan masing-masing kubu dalam LR itu mungkin akan membuat kita bertanya-tanya heran. Kerajaan Allah dapat ditegakkan dan dibangun lewat sikap yang disebut “ingkar diri” (self-denial). Merupakan tragedi yang menyedihkan banyak orang tidak berkehendak untuk mengatasi berbagai “keinginan tidak teratur”. Tanpa kemenangan dan keberhasilan mengalahkan diri sendiri, tak akan ada rasionalitas dan keyakinan (serta keselamatan). Jika orang tidak mampu mengatur berbagai hasrat dan keinginan, maka ia akan segera ditaklukan oleh unsur ini, artinya ia menjadi tawanan musuh.

Yang mau diperjuangkan dalam LR mungkin akan semakin membuat kita ragu-ragu. Yang hendak dikejar dalam LR adalah membuang jauh-jauh sikap sombong, nama besar dan pujian, serta kekayaan. Semuanya adalah perusak jiwa yang menjauhkan diri dari Kristus dan Allah. LR mendorong pada perendahan diri, dan kemiskinan, serta menyediakan diri untuk dianggap ‘gila’ karena demikian yang juga menjadi pilihan Kristus dalam hidupnya (LR 146).

Dan seluruh kata yang menjadi kunci adalah “cinta” yang didorong pada sikap magis, memenuhi misi Gereja dalam semangat “lebih”, dan “lebih lagi”. Tetapi cinta yang begitu merajalela bagi Loyola tetaplah harus menjadi cinta bijaksana, sebuah cinta yang mempunyai aturan juga. Seperti apakah cinta bijaksana itu? Setiap rahmat harus diukur dalam aturan Gereja; setiap cinta selalu berada di bawah semangat ketaatan; setiap roh berada di bawah terang Tubuh Mistik Kristus Tuhan kita. Dan itulah roh pejuang Gereja.

Dua pilar dalam LR yang bisa dipancangkan sebagai pondasi untuk membangun watak pejuang Gereja adalah “ketaatan” dan “disiplin” (LR 92 dan LR 135). Dua kerangka beton ini merupakan perwujudan dari satu unsur: magis, yaitu mencari sesuatu yang “lebih” (Hugo Rahner, op.cit., hlm. 12).

Setiap orang yang menjalani LR harus siap sedia untuk mengabdi pada Sang Raja yang terus berpindah dan bergerak. Ketaatan dalam LR mempunyai arti yang unik. Ketaatan berarti kesiapsediaan. Ketaatan menurut Loyola adalah lawan dari kenikmatan dan keenakan gaya monastik yang hendak menyucikan dirinya secara eksklusif, atau gaya berpakaian secara permanen, bersarang dalam sangkar yang hangat. Ketaatan berarti siap sedia berubah dan bergerak dengan segala kemungkinan yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Ia mencari yang “lebih” untuk pewartaan Khabar Baik.

Disiplin menurut LR merupakan kebalikan dan lawan dari watak impulsif, mudah berubah-ubah seturut dengan aliran kenikmatan sensualitas. Orang yang disiplin, misalnya, bersikap aristokrat menjaga jarak secara bijaksana terhadap orang lain. Tidak pernah berlebihan dalam kedekatan dengan orang lain. Disiplin adalah kebersihan tubuh dan jiwa. Disiplin secara praktis juga mencari hal yang “lebih” dalam kehidupan sehari-hari (Ibid., hlm. 12 – 13).

Dari dua prinsip – ketaatan dan disiplin – tadi dapat diturunkan menjadi satu prinsip: semangat lebih. Semangat “lebih” ini sebenarnya perwujudan dari pemikiran Loyola yang terus “dihantui” oleh keinginan untuk berbuat hal-hal besar. “Andaikan saja aku berbuat apa yang pernah dilakukan oleh St. Fransiskus dan St. Dominikus?” Demikian pertanyaan yang membayang-bayanginya ketika berbaring sakit setelah sebuah mortir menghantam kakinya dalam peperangan (Hugo Rahner, op.cit., hlm. 25).

Tetapi, Loyola berbeda dengan kedua orang kudus ini. Secara simbolis, mistik Fransiskus Asisi direpresentasikan dalam stigmata (luka-luka pada tubuh yang mengingatkan pada luka-luka Yesus sendiri). Mistik Loyola adalah “memanggul salib” sebagaimana penampakan yang dialaminya di La Storta (November 1537). Semangat inilah yang seharusnya merasuk masuk ke dalam “Para Pejuang Gereja”.

Merenungkan LR tidaklah berbeda dengan merenungkan perjalanan hidup Kristus sebagaimana yang kita temui dalam Injil. Menjalani LR dengan demikian tidak berbeda dengan semua orang Kristen – dan siapa saja yang ingin menimba kekayaan rohani manusia Yesus – yang mencoba meresapkan nilai-nilai Kristus ke dalam hidupnya (Ibid., hlm. 36).

Namun demikian LR sekaligus khas. Ia unik sebagai inspirasi untuk mereka yang menjadi “pejuang dalam Gereja”. Sebagaimana yang sudah disampaikan di atas, kekhasan itu tampil dalam dua permenungan: Meditasi Panggilan Raja dan Dua Panji. Meditasi ini mungkin terasa aneh dan sedikit mengganggu untuk beberapa orang. Perasaan ini bisa dibenarkan. Penulisnya sendiri mendapatkan inspirasi ini dari buku “Hidup Kristus” yang ditulis oleh seorang Kartusian Jerman, Ludolph Saxony. Inspirasi ini kemudian mendapatkan penjelasan mistiknya dalam pengalaman di Manresa (1522 - 1523). Ini mungkin terlampau rumit untuk diceritakan di sini. Yang jauh lebih penting di sini adalah mendapatkan ide dasar dari “Raja”, yaitu: “diterima di bawah Panji Tuhan dalam kemiskinan spiritual yang memuncak, dan dengan demikian bisa mengikuti Yesus dengan lebih baik” (LR 147).

Cita-cita LR bukanlah mencari perhentian dan sasaran pada yang paling besar. Titik tolaknya adalah sebaliknya, memulai dengan yang paling kecil. Dengan menggunakan unsur ini Loyola ingin membangun organisasi dan mencoba merumuskan manajemennya. Dari sini pula kita mencari relevansi seluruh LR untuk seluruh perkara yang sedang kita bicarakan (Ibid, hlm. xiii).

Keunikan lain, LR dipersenjatai dengan instrumen atau alat yang digunakan untuk membimbing kehidupan dalam perkara praktis sehari-hari. LR memberi kita kemampuan untuk membeda-bedakan berbagai perkara kehidupan rohani, yang disebut pembeda-bedaan Roh. Dan perkara-perkara ini kerap menyangkut persoalan yang serius, detil dan canggih. Teknik ini digunakan untuk membeda-bedakan serta menguji berbagai Roh. Untuk telinga kebanyakan orang hal ini mungkin terasa janggal. Dan lebih dari itu, pembeda-bedaan Roh ini bukan melulu menyangkut teknik dan keputusan abstrak dan interior, melainkan praktis dalam kehidupan sehari-hari.

Spirit dari LR bisa dirumuskan secara ringkas: mengikuti Kristus sebagaimana tercermin dalam hidup-Nya, dalam karya-Nya menyelamatkan orang lain, yang terus berkesinambungan dalam wujud komunitas yang kita kenal sebagai Gereja (John W. Padberg, SJ, “Predicting the Past, Looking Back for the Future” dalam John W. O’Malley, SJ dkk, Jesuit Spirituality. A Now and Future Resource, Chicago: Loyola University Press, 1990, hlm. 44).

“LRI” dan Bahasa Marketing
Apakah marketing hanya untuk dunia bisnis? Jika teori marketing digunakan oleh para pengusaha dan ternyata sukses, maka teori ini mungkin sekali juga bisa digunakan oleh organisasi religius agar lebih efektif dalam karya pelayanan dan penyebaran nilai-nilai cinta kasih (Nicholas Santos, SJ, “The Marketing Strategies”, 2000)

LR adalah sebuah metode rohani yang dikembangkan oleh Loyola sebagai alat bantu bagi orang lain untuk dekat dan bersatu dengan Allah. Metode ini bukan hasil telaah intelektual atau riset akademis melainkan catatan sederhana pengalaman hidup panjang penulisnya. LR bukan produk yang siap untuk dijajakan. Ia merupakan alat untuk memperoleh barang yang dibutuhkan konsumen. LR sebagai sarana sangat memperhatikan dan terfokus pada disposisi dan situasi batin yang menjalaninya. LR sangat consumer-oriented (Seluruh uraian dalam pembicaraan “LR dan bahasa marketing” ini didasarkan pada Nicholas Santos, SJ, “The Marketing Strategies of St. Ignatius of Loyola” dalam Ignis, 2000:1, hlm. 4 -32).

LR memenuhi 4P fungsi marketing: product (perencanaan produk), price (strategi harga), promotion (strategi promosi), dan place (jaringan distribusi). Seluruh proses LR bertujuan untuk pengembangan produk. Strategi harga dibuat dengan memperhatikan disposisi orang yang menjalani LR dan perjuangan untuk membebaskan diri dari kelekatan yang tidak teratur. Dari sini dapat diukur kemampuan orang tersebut untuk “membeli” produk tadi. Promosi dalam LR disampaikan lewat banyak cara, dengan menunjukkan strategi yang digunakan pesaing dan memberi tekanan dan penjelasan pada tampilan-tampilan (proses, dinamika, struktur) produk. Akhirnya, orang yang menjalani LR akan masuk ke dalam compositio loci, pelukisan tempat, kemana jaringan distribusi akan dikembangkan.

LR menciptakan keunggulan kompetitif (competitive advantage), yaitu ketika menunjukkan strategi lawan (Lucifer). Ia juga menyediakan berbagai sarana untuk mengembangkan strategi kompetitif, antara lain, lewat berbagai meditasi dan aturan pembedaan roh. Sebaliknya LR juga membongkar taktik dan tipuan licik yang dilancarkan Lucifer. Berbeda dengan hasil dari Lucifer yang adalah celaka dan kemalangan, buah-buah Roh Kudus dan penyerahan diri pada Allah adalah kehidupan dan keselamatan.

Fase awal promosi yang dilakukan Loyola melewati jalan melingkar-lingkar, namun jelas menuju pada dua sasaran. Pertama, marketing sederhana tradisional, yang juga merupakan proses penghalusan dan penajaman terhadap produk. Ini dilakukan dan dialami oleh Loyola secara personal, khususnya dimulai di Manresa (1522 – 1523). Bulan-bulan di Manresa adalah periode yang paling menentukan untuk Loyola yang mengalami pencerahan spiritual. Di tempat ini pula basis dan pondasi LR ditulis.

Kedua, secara langsung atau tidak, orang lain dan sebuah tim dibutuhkan untuk promosi produk. Secara natural Loyola berjumpa dengan orang-orang yang tertarik pada cita-citanya untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Proses hingga sampai pada sebuah tim yang solid tidak berlangsung sekali jadi. Kesulitan-kesulitan ini berlangsung panjang, di antaranya membawa Loyola untuk berhadapan dengan Inkuisisi. Sangat menarik, tahun 1540 ketika sales team yang mantap terbentuk, tidak ada satu pun orang-orang yang tertarik pada Loyola di awal perjumpaan, yang kemudian bergabung dengan kelompok yang menyebut dirinya Company of Jesus ini.

Antara pengembangan sasaran pertama dan kedua di atas, Loyola menjalani sebuah fase in-depth training and study. Produk yang baik belum otomatis dan menjamin suksesnya marketing. Produk yang sedang dijajakan ini harus dapat dibuktikan bahwa ia memang lebih baik dan lebih kena menjawab kebutuhan konsumen. Apa yang menjadi kebutuhan para konsumen membutuhkan pemahaman dan studi mendalam atas konteks kebudayaan, sosial dan ekonomi tertentu. Berada di tengah-tengah berbagai persimpangan jalan setelah pengalaman mistik di Manresa dan mengalami berbagai kegagalan, Loyola pada tahun 1524 mengambil keputusan untuk studi.

Mengapa studi? Ia menyadari bahwa pengetahuan merupakan sarana krusial untuk melakukan reposisi kerasulannya. Kalau ingin berjualan ia harus menjadi bagian dari public domain komunitas yang hendak ia layani. Ia harus mempunyai akses ke dalam masyarakat terpelajar. Dan Loyola menjalani studi di sekolah yang terbaik pada masanya, Barcelona, Alcalá, Salamanca, dan terutama di beberapa collège di Paris.

Proses berikut dari Loyola adalah membangun organisasi, menggariskan tujuan organisasinya, merumuskan misinya. Dia melakukan koordinasi marketingnya dengan surat-suratnya yang berjumlah ribuan. Ia pun menyusun Konstitusi, mengalir dari seluruh perjalanan rohaninya, yang menjadikan tulisan ini merupakan sebuah masterpiece abad 16. Seluruh upaya dikerahkan agar misi untuk menyelamatkan jiwa-jiwa berhasil dengan baik (Untuk eksplorasi lebih jauh baca John O’Malley, The First Jesuits, Massachusets: Harvard University Press), 1993.
.

MINGGU KETIGA
Hari Pertama: Kontemplasi Sebelum Sengsara Yesus
Catatan
Hari Kedua – Hari Ketujuh: Kontemplasi Sengsara dan Wafat Yesus
Pedoman Mengatur Diri dalam Makanan

Esai panjang dan kritis menanggapi LR ditulis oleh salah seorang “putera Loyola”, pejuang teologi pembebasan Amerika Latin, Juan Luis Segundo. Dia membedakan “pengadilan” (trial) dan “proyek” (project) ketika memberikan penilaian substansi LR. Dia menilai LR, yang merupakan produk spiritualitas abad 16, meletakan nilai tertinggi pada upaya menaklukkan dosa untuk memperoleh Kerajaan Surga (trial). Konsili Vatikan II, berbeda dengan LR, melihat tindakan manusia dalam sejarah sebagai aspek esensial dalam perjuangan meluaskan Kerajaan Allah (project). Ketika menulis LR, Loyola dipandang sangat menekankan aspek “pengadilan”, tetapi kemudian, ketika menjabat Jenderal (1541 – 1556), ia mengalami pembalikan. Sebagai seorang organisatoris dan pemimpin, terutama nampak dalam surat-suratnya, ia menampilkan diri sebagai tokoh spiritualitas dengan pendekatan “proyek” Uraian kritis ini mendapatkan inspirasi dari Juan Luis Segundo, “Ignatius Loyola: Trial or Project?” dalam Juan Luis Segundo, Sign of the Times, (N. Y. : Orbis Books, 1993), hlm. 149 – 175).

Sudah sejak awal, dalam Azas dan Dasar (LR 23), Loyola meletakkan konsep antropologinya dalam skema “pengadilan”. Untuk apa manusia diciptakan? Untuk memuji, menghormati dan mengabdi Allah, dengan demikian ia menyelamatkan jiwanya.

Minggu Pertama LR merenungkan perkara dosa. Ini bisa dipahami karena inilah yang menghantui penulisnya sebelum mendapatkan pencerahan, dan kemudian berbalik menghayati hidup penuh gairah mengabdi pada Sang Pencipta. Dia mengalami Allah yang menyelamatkannya dari “pengadilan”. Ia mendapatkan bayangan dan godaan bunuh diri, tetapi kemudian Allah membawanya pada kehidupan yang terang benderang Otobiografi, 24 -25).

Introduksi masuk ke Minggu II langsung berbicara mengenai hubungan pencipta dan ciptaan (LR 91). Kontemplasi Raja Abadi ingin melukiskan Kristus sebagai Penguasa Tertinggi Keadilan. Ini sebenarnya tidak sejalan dengan pesan Yesus dalam hidupnya. Yesus tidak pernah mengasingkan manusia dari hukum, ia sendiri masuk dan memenuhi hukum. Inilah misi Yesus sebagai Musa Baru (Mt 5:17-19).

Pada Minggu II mereka yang menjalani LR akan dihantar pada eleksi, menentukan pilihan hidup. Tujuan akhir dari eleksi adalah menemukan kehendak Ilahi dalam disposisi hidup, yang berarti juga menyelamatkan jiwanya (LR 1). Sebuah permenungan yang tentu saja indah terlukis dalam imajinasi kita. Tetapi, diam-diam ini menyisakan sebuah problematika; LR tidak membawa kita pada sebuah spiritualitas yang berkesinambungan (ongoing spirituality). LR justru mau mencoba melukiskan struktur yang sifatnya permanen dari sebuah situasi kehidupan yang mau dikejar (LR 135). Inilah mentalitas “pengadilan”, bukan “proyek”.

Mendalami makna “penderitaan” dalam Minggu III sangat kritis dalam diskusi ini. Kita mulai dengan merenungkan pernyataan ini, “Mereka yang mau mengikuti Aku dalam keringat dan darah, ia juga akan bersama dengan-Ku dalam kemuliaan” (LR 95). Pertanyaan penting untuk kita adalah, what is the value of pain in the life of Jesus?. Pertanyaan ini sangat sentral untuk memahami Kristus dalam Kitab Suci. Dua hipotesa disampaikan di sini.

Pertama, hipotesa “proyek” mengatakan bahwa penderitaan adalah harga yang harus dibayar dalam sejarah hidup manusia untuk meraih cita-citanya. Bahkan kalau cita-cita tadi tidak pernah tercapai sepanjang sejarah hidupnya di dunia. Makna penderitaan tidak diukur dalam jumlah penderitaan yang ia tanggung, melainkan dalam antusiasme yang terus ia pertahankan dalam hidupnya, dalam perjuangan merealisasikan proyek tadi. Kedua, hipotesa “pengadilan”, menyatakan bahwa Allah memang menuntut penderitaan sebagai harga yang dipertaruhkan dalam pengadilan. Gambaran pengadilan oleh Allah dihitung dalam ukuran sejauh mana manusia belajar dalam hidupnya untuk menanggung kesengsaraan dalam upaya memenangkan peperangan.

Ketika penderitaan Yesus diisolasi dari seluruh proyek yang belum direalisasikan oleh Allah, sebagaimana tersimpan dalam argumen “pengadilan”, ini berarti makna proyek lenyap dalam penghayatan pasca-Paskah kita. Seakan sesudah Paskah makna normatif Salib Yesus tidak diperlukan lagi (Keyakinan yang disampaikan oleh Segundo (op.cit) ini mendapatkan inspirasi dari pakar teologi Barat, Edward Schillebeeckx, Jesús: La historia de un viviente).

Sangat mengesankan, menurut Segundo, penulis LR ini, kemudian mengalami loncatan orientasi teologi spiritualitas: dari theology of trial menjadi theology of project. Loncatan ini berlangsung ketika seluruh konteks kehidupan Loyola berubah. Pada tahun 1541 (19 tahun sejak dia menyusun kerangka dasar LR), dia diangkat untuk memimpin sebuah organisasi multinasional, menyusun sistemnya, mendinamisir seluruh anggotanya untuk meraih sasaran yang sudah ditentukan Perubahan orientasi ini bisa dibuktikan dalam riset Otobiografi Loyola, Catatan Rohani Hariannya, Konstitusi Serikat Yesus, dan terutama dalam surat-suratnya yang mencapai sekitar 7000 surat yang ditulisnya dalam kapasitasnya sebagai pemimpin organisasi tadi. Tulisan dari O’Malley, The First Jesuits (1993), melukiskan dinamika ini secara detail).

Uraian ini bagaimana pun hanya merupakan perhentian sesaat. Kita mengambil nafas sejenak dan tetap mengambil sikap kritis. Kita juga mempunyai tulisan sistematis lain yang hendak menunjukkan bahwa LR mengandung aspek-aspek pembebasan, misal, tulisan José Magaña, SJ, Ignatian Exercises. A Strategy for Liberation (1974).

MINGGU KEEMPAT
Kontemplasi Pertama: Kristus Menampakkan Diri pada Maria
Catatan Kontemplasi Minggu Keempat
Kontemplasi untuk Mendapatkan Cinta
Catatan Tambahan
• Tiga Cara Berdoa
• Misteri Hidup Kristus
• Pedoman Pembedaan Roh I dan II
• Pedoman Membagi Derma
• Catatan Mengatasi dan Memahami Kebimbangan Batin
• Pedoman Kesepahaman dengan Gereja

Menanggapi realitas tantangan di sekitar kita, yang juga relevan dari LR untuk kita adalah pedagoginya. Pedagogi LR bukan saja bersifat individual tetapi juga memiliki kapasitas untuk diterapkan dalam organisasi. Enam tahap pedagogi LR yang langkah demi langkahnya berputar secara spiral adalah sebagai berikut:

• Ada gelombang internal maupun eksternal yang menuntut kita berubah;
• Mencari dan mendapatkan informasi dari sumber yang tepat sebagai materi dalam proses berikutnya;
• Informasi mulai dikunyah-kunyah, dicerna, dianalisis, dan dalam pembicaraan bersama diambil kesimpulan, serta akhirnya dibuat keputusan;
• Melakukan perubahan-perubahan internal dan mengelolanya. Sebuah proses yang kompleks, menuntut perubahan cara bekerja, dan juga menimbulkan resistensi dan konflik di sana-sini yang membutuhkan penanganan khusus;
• Mengembangkan sebuah organisasi baru: bisa merupakan sebuah aktivitas baru, atau cukup berpindah tempat, atau dengan cara yang baru. Semuanya tetap sesuai dengan semangat LR dan kebutuhan perubahan;
• Mengevaluasi kembali hasil dari cara bekerja yang baru ini, menggali masukan dari berbagai pihak. Pada tahap ini pula kita harus terbuka terhadap kemungkinan perubahan dalam cara memandang situasi sekitar. Demikianlah proses berulang dari awal lagi.

Kita bisa merasakan betapa pedagogi LR ini sangat manusiawi. Ia mencari informasi yang cukup sebagai bahan pertimbangan sebelum mengambil keputusan. Pedagogi mendorong pada sebuah tindakan. Ia juga mengajak untuk melakukan evaluasi dan refleksi.

Sekedar Penutup
“Magis, dalam LR mendorong kita untuk maju, dengan adanya tantangan-tantangan baru, tema-tema baru (sejajar dengan adanya perubahan-perubahan organisasi baru). Tetapi magis tidak sama dengan gila dengan kebaru-baruan dan asal berubah atau asal modern. Dalam arti ini magis ada kalanya berarti “tetap”, tidak berubah, karena ini yang dianggap lebih tepat. Namun sulit untuk membayangkan bahwa dunia yang terus berubah ini kita bersikap statis. Meski demikian manusia LR senantiasa meletakkan perubahan bukan dalam diri kita. Magis selalu terfokus pada Allah.” (Michael Amaladoss, SJ, “The Magis”, 2000).

Masuk ke dalam kesadaran kita satu pertanyaan: Apakah “barang antik” peninggalan lima abad lalu seperti LR ini, tidak sebaiknya kita simpan di museum? Bagaimana mungkin LR hendak disajikan di tengah-tengah manajemen modern dengan kebudayaan “hipermal” di tengah-tengah kesibukan kota besar?

LR itu sedemikian umum, sebuah produk spiritualitas abad 16. Sementara sebuah organisasi, manajemen dan bentuk aktivitas, serta pekerjaan sangat terikat pada kondisi sosial lokal dan profesionalisme zamannya. Orang dan organisasi yang berkeyakinan dan ingin setia pada LR mungkin akan sangat berbeda dalam mengungkapkan penghayatannya, dan dengan demikian berbeda dalam cara dia memimpin dan menggerakan organisasinya.

Menjernihkan kerumitan tersebut di atas, kita membedakan tiga terminologi: nostrum, alienum, dan peregrinum. Nostrum (“milik kita”) adalah segala nilai, keutamaan, semangat dan keyakinan yang khas dimiliki oleh sebuah aliran. Alienum (“milik mereka”), apa yang sebenarnya menjadi milik orang atau kelompok lain, tetapi kerap digunakan oleh nostrum sebagai alat atau nilai bantu yang mampu memperjelas atau mempertajam. Peregrinum (“dalam perjalanan”) adalah segala instrumen dan bentuk yang sifatnya sementara ada dalam nostrum. Untuk jangka waktu tertentu peregrinum akan berlalu meninggalkan nostrum (Padberg, op.cit., hlm. 29).

Bagaimana mengantisipasi kalau terjadi perubahan-perubahan zaman yang memaksa organisasi menjadi berubah sama sekali? Misal, berlipatgandanya anggota secara mendadak? Adanya globalisasi seperti sekarang ini yang sangat berbeda dengan apa yang dipikirkan para visioner yang hidup di abad 16 seperti Loyola?

Yang pasti, membaca berbagai kerumitan yang berlangsung dalam carut marut kehidupan multidimensi sekarang ini, LR ala Loyola ini tidak berpretensi untuk menyediakan jawaban atas berbagai keputusan dan tindakan praktis yang harus dilakukan. LR bukan memberikan jawaban atas pertanyaan “vulgar”, melainkan menunjukkan proses bagaimana orang mampu menjadi sensitif terhadap dirinya sendiri serta mengalami apa yang sebenarnya Allah kehendaki. Dari sini orang didorong untuk menentukan arah jalan berikutnya. Dalam bahasa yang lebih sekular, LR adalah sarana untuk membaca “peluang”, membentuk disposisi batin yang dibutuhkan seorang manajer. LR membangun kemampuan berkonsentrasi mengingat peluang hadir menyerupai “jarum yang jatuh di atas tumpukan jerami” (David Coghlan, SJ, Good Instruments. Ignatian Spirituality, Organisation Development, and the Renewal of Ministries, Rome: Secretariat for Ignatian Spirituality, 1999, hlm. 28 -29).

Inilah realitas dunia, yah realitas yang membutuhkan kombinasi pikiran, perasaan, intuisi, dan kehendak. Upaya untuk membaca gerakan Roh sangat esensial. Individu menyerap semua pengalaman, mengevaluasinya dalam terang Injil, mempertimbangkan berbagai kemungkinan alternatif, mengambil langkah aksi, dan kemudian mengevaluasinya dalam terang “pengalaman” Ad Maiorem Dei Gloriam!





Tidak mungkin ada pelayanan iman tanpa,
Penegakkan keadilan
Pengalaman masuk ke dalam kebudayaan-kebudayaan
Keterbukaan pada pengalaman agama-agama lain

Tidak mungkin ada penegakkan keadilan tanpa,
Mengkomunikasikan iman
Transformasi kebudayaan
Kerja-sama dengan tradisi-tradisi lain

Tidak mungkin ada inkulturasi tanpa,
Mengkomunikasikan iman
Dialog dengan tradisi-tradisi lain
Komitmen terhadap keadilan

Tidak mungkin ada dialog tanpa,
Berbagi iman dengan orang lain
Memperhatikan kebudayaan-kebudayaan lain
Keprihatinan pada keadilan

1 komentar:

Vero Teofilia mengatakan...

ytk.romo Josh,
saya mulai tertarik dengan spiritualitas Ignatian ini, meski saya akui bahasanya cukup rumit untuk dimengerti, karena sifat tulisannya bukan model 'to the point' kadang saya rasa semacam berfilsafat (?),saya belum baca buku latihan rohaninya, tapi berniat untuk membelinya.
paroki tempat saya misa, romonya seorang Jesuit yang seringkali menyisipkan ajaran2 Ignatian ini, entah saya berpikir bila seseorang sudah cukup memahami ajarannya, lalu sudah juga dapat mengamalkannya meski mungkin belum sempurna, orang tsb.lebih dapat memanajemen hatinya, jiwa dan pikirannya yang akan berimbas bahwa dia tidak mudah tenggelam dalam sikon perasaan yang dapat merusak hidupnya khususnya hidup dalam kesehariannya (kadang perasaan2 yg remeh temeh dalam keseharian sebetulnya tapi justru membuat hidupnya menjadi sia2).

seperti yang romo tulis, latihan rohani adalah semacam membentuk struktur bukan tujuan langsung, sebuah pondasi bagi pengikut Kristus, bukan begitu romo? betapa senangnya kalau sayapun sudah mempunyai suatu pondasi yang kokoh, tidak ada kelekatan yang berlebihan pada sesuatu/seseorang, dapat me-manage hati, pikiran dan jiwa yang hanya terfokus pada Kristus/Kerajaan Allah.

ini hanya sebuah curhat saja romo, saya belum bisa berdiskusi untuk tema ini :), tolong koreksi kalau ada yang saya salah tafsir dari tulisan romo atau disempurnakan dari pemikiran saya ini.

terima kasih romo dan God bless.

salam kasih,
vero

Poskan Komentar