Ads 468x60px

Membaca Gereja Asia Dalam Dokumen

Catatan untuk diingat: 
1. gerakan-gerakan pastoral Gereja yang ada di Indonesia ya (social, budaya, ekonomi, ekologi) sebenarnya tidak berdiri sendiri melainkan bersama dan selaras dengan gerakan-gerakan pastoral Gereja di berbagai tempat di Asia, sebagai langkah para Uskup Asia (FABC) yang mewujudkan Visi Konsili Vatikan II.
2. Konsili Vatikan II (1962-1965) membawa perubahan dan pembaharuan besar bagi Gereja di seluruh dunia khususnya di Asia, yang tampak dalam para Uskup Asia.

Para Uskup Asia pasca Konsili Vatikan II: lahirnya FABC
• 1970 para Uskup Asia berkumpul di Manila, bersamaan dengan kunjungan Paus Paulus VI, dirancang pembentukan FABC yang bertujuan: “Utk memupuk solidaritas antar para anggotanya serta tanggungjawab bersama demi kebaikan Gereja dan masyarakat Asia, dan memperjuangkan apa yang lebih baik bagi kepentingan yang lebih luas.” 

Latar Belakang dibentuknya FABC
• Kesadaran para Uskup dari wilayah Asia akan situasi Gereja di Asia.
• Urgensi yang dirasakan untuk segera menempatkan Visi Konsili Vatikan II dalam konteks Asia.
• Kerinduan para Uskup Asia untuk bertemu, bekerjasama dan saling belajar sehingga Gereja mampu berbicara di Asia sendiri dan International.
Corak FABC
• Sebuah organisasi yang bersifat sukarela dan bukan payung herarkis di atas konferensi-konferensi para Uskup di Negara-negara Asia; menjadi forum pembelajaran bagi para Uskup Asia sehingga mampu menghadirkan Gereja di Asia Cara menggereja; berpastoral dan bermisi di Asia (dalam konteks Asia)

CARA BARU MENGGEREJA DALAM KONTEKS ASIA: 
Misi perwujudan Kerajaan Allah dalam dialog
• Mengingat situasi Gereja di tengah massa rakyat Asia sekaligus mempertimbangkan citra yang sudah lama tertanam tentang Gereja, para uskup mendapatkan fokus teologis yang dipandang lebih cocok yaitu Kerajaan Allah.
• Gereja sebagai “pelayan terwujudnya Kerajaan Allah”, tidak begitu saja identik dengan Kerajaan Allah namun Kerajaan Allah tidak terpisah darinya.
• Gereja terlibat dalam melaksanakan rencana Ilahi, merubah dunia yang serba majemuk ini menuju dunia baru yang sesuai dengan rencana Allah yang berlangsung dalam rentang waktu sejak awal penciptaan sampai akhir zaman.
• Kemajemukan dunia ini dipahami sebagai ciri hakiki Kerajaan Allah. Dunia diciptakan dalam keanekaragamannya, yang di Asia, keragaman ini terjelma dalam keragaman budaya, agama-agama dan kemiskinan massal. 
• Misi ini diperjuangkan dalam dialog bersama semua orang, agar di dunia ini terwujud “nilai-nilai Kerajaan Allah”, yaitu: Keadilan, perdamaian, kasih, solidaritas, kesederajatan dan persaudaraan
• Dialog dengan kenyataan-kenyataan pokok di Asia, menjadi modelitas menggereja yang bertujuan: menciptakan persaudaraan yg mendasari upaya bersama untuk memperbaiki keadaan, saling mendengarkan, belajar dan menghargai perbedaan, dalam perspektif mendekati misteri cinta ilahi yang merangkul semua makhluk.
• Hakekat dialog yg terdalam adalah kehadiran yang membuka diri kepada “yang lain dan berbeda”. Dialog kehidupan; Dialog tindakan: Dialog antar spesialis; Dialog pengalaman religius. 
• Cara Menggereja yg baru tersebut diletakkan pada kerangka teologis berikut: Universalitas karya Allah dalam Teologi Penciptaan; Peranan universal Roh Kudus; Kesatuan hakiki dari karya keselamatan Allah dalam keragaman yg menakjubkan dari karya ciptaan; Kerajaan Allah adalah ekspresi global dari seluruh rencana keselamatan ini.
• Sementara Sejarah Keselamatan Khusus yang berpusat pada Umat Israel dan berpuncak pada peristiwa Yesus Kristus; pentingnya Gereja dalam kancah karya keselamatan universal ini dan apa yang seharusnya menjadi motivasi misioner kurang begitu ditekankan (masih pending).

Ciri khas para Uskup Asia dalam Berteologi
• Penekanan yang penting pada “konteks” Asia: 
• Shadow: Keragaman budaya, agama-agama, dan kemiskinan massal; Benua yg sedang berubah dan dalam krisis; 2/3 penduduk dunia ada di Asia, lebih dari 60% orang muda; Menjadi kancah gelap dari kerakusan politis penguasa dgn korban di kalangan perempuan dan kaum muda; Globalisasi, ketidakadilan, otoritarianisme, fundamentalisme, merosotnya lingkungan hidup.
• Light: Di lain pihak, Asia merupakan benua harapan: Allah terus berkarya secara kreatif, inkarnasional; Kaum miskin dan tertindas semakin sadar dan bergerak; Muncul gerakan-gerakan hak azasi, kaum perempuan, cinta lingkungan; Gerakan-gerakan yg lebih terbuka dan ekumenis; Paguyuban-paguyuban iman dengan kesadaran misioner yang semakin holistik; Gereja yang semakin memberi tempat layak kepada kaum perempuan dan semakin pro-kehidupan 

Metode Pastoral yang tampak pada FABC
• “See, Judge and Act”; “Siklus Pastoral”: Immersion– analisis sosial – kontemplasi/refleksi teologis – perencanaan pastoral /aksi; “Mission Process”: Dialogue – discernment – deeds; “Communion Process”: Pendekatan komuniter dari akar rumput, melibatkan segenap sektor jemaat à membentuk komunitas misioner; dari “fides quaerens intellectum” menuju “Iman yg menumbuhkan kehidupan, memupuk kasih, keadilan dan kebebasan”; Teologi berfungsi menjadi teman berpikir sistematik/refleksif atas tema2 yg dijumpai orang-orang dalam peziarahan menuju hidup sejati di Asia.

0 komentar:

Poskan Komentar