Ads 468x60px

Seni dalam Gereja

Selayang Pandang

“Art is best construed as a vehicle of interaction with the world:
a work of art is an object or happening through which we engage with the physical world we inhabit,
and through which we converse with those communities with whom we share our lives.” (Jeremy S. Beggie)
 

Ini adalah sebuah pengalaman. Tiap-tiap kali memasuki untuk pertama kalinya suatu bangunan gereja, selalu saja ada yang menarik mata untuk menatap dengan kekaguman karya seni yang terungkap di sana, entah gaya arsitektural bangunannya entah ornamen-ornamennya. 

Bangkit pula keingintahuan. Pastilah bahwa ada maksud yang hendak disampaikan dengan gaya bangunan dan pernik-pernik ornamen itu, setidaknya secara fungsional. Dengan penampilan gaya Eropa yang menjulang – menusuk langit dengan menara-menaranya – serta dekorasinya yang rumit, Gereja Katedral Jakarta berbeda dari Gereja Hati Kudus Yesus di Ganjuran Bantul yang sangat kuat nuansa kejawaannya. Bentuk relief, patung, dan lukisan-lukisan yang ada dengan setting bangunan gereja secara keseluruhan sudah berkisah tentang sesuatu yang diyakini bernilai dan tidak selayaknya dianggap sepi.

Saya belum pernah berdoa di Kapela Sistine Vatican Roma, yang penuh dengan lukisan-lukisan dari Michaelangelo di sepanjang dinding atapnya. Tetapi dari potret-potret tentang lukisan Michaelangelo di kapela indah itu dapat direkam suatu usaha pewarisan pemahaman akan pengalaman manusia di hadapan Allah. Kedosaan manusia dan kemuliaan Allah berjumpa dalam wajah-wajah yang ditampilkan. Allah yang mewahyukan diri dalam sejarah dan usaha manusia untuk menanggapi pewahyuan Allah itu dipampang secara jelas – hingga orang yang buta huruf pun mengerti maksud visualisasi karya keselamatan Allah. Secara visual generasi yang lebih kemudian dibantu untuk mengenal pengalaman iman generasi sebelumnya. Dan ketika berdoa di dalamnya, jiwa manusia diangkat untuk menembus pengalaman yang terikat waktu dan ruang, dan berusaha dekat dengan Yang Ilahi.

Di setiap kapela atau gereja pun suasananya kurang lebih sama. Para pendoa yang sujud di dalamnya dihantar untuk masuk dalam misteri penyelenggaraan Ilahi melalui suasana yang tercipta. Sesederhana apapun setting art untuk suasana itu tetaplah ada sesuatu yang hendak disampaikan. Dan kalau bukan kabar gembira atau pengharapan, apakah yang ingin disampaikan? Dengan karya seni, denyut kepapaan manusia yang hendak mengenal karya mulia Allah di tengah sejarah umat manusia diberi tempat.

Kesenian memang telah menjadi ekspresi manusia dalam menemukan Allah di tengah dunia kehidupan sehari-hari. Dalam perkembangan waktu, rupa-rupanya beda rasa yang menyangkut estetika telah menjadi titik berangkat untuk merefleksikan apa artinya beriman dalam persekutuan – artinya: bukan hanya pengalaman eksklusif komunitas beriman tempo dulu. Ekspresi seni dari pengalaman iman manusia pada suatu masa silam yang awalnya kurang dikenali jatidirinya oleh generasi yang lebih kemudian, pada akhirnya dirasakan sungguh memberi sumbangan dalam jatuh bangun hidup keberimanan yang lebih aktual dan ditempatkan dalam pengalaman iman bersama.

Ditilik dari sejarah awal kristianitas dan perkembangan Gereja dewasa ini, pada dasarnya Gereja amat terbuka terhadap penggunaan kesenian, seperti halnya patung-patung atau gambar-gambar. Dengan adanya pengungkapan lahiriah dalam bentuk seni yang memikat daya-daya kemanusiaan itu diharapkan orang beriman terbantu sedapat mungkin untuk mengangkat hatinya kepada Allah. Senyatanyalah, dalam diri manusia terdapat daya-daya yang memungkinkan manusia mengenal Allah, dan mengarahkan hidupnya kepada Allah. Thomas Aquinas menyebut daya itu sebagai virtus infusa (keutamaan pemberian Allah) yang memungkinkan manusia siap sedia untuk bertindak sebagai manusia di tengah dunianya.

Local Feeling
Oleh karena manusia itu selalu terkait ruang dan waktu, Gereja tidak menganggap satu corak kesenian sebagai yang khas di dalam Gereja. “Gereja menyambut baik bentuk-bentuk kesenian setiap zaman … pun kesenian semua bangsa dan daerah.” Dengan demikian, Gereja tidak menutup munculnya feeling seni yang digali dari lokal-lokal daerah atau dari suatu kurun waktu yang mengandung metafor-metafor tertentu. 

Namun, kesadaran ini kiranya perlu ditempatkan dalam sebuah frame besar perjalanan beriman yang sebelum Konsili Vatikan II sangat bersuasana Latin. Kiranya tidak mudah untuk memutus begitu saja “tradisi lama” dengan suatu “gaya baru” oleh karena hal ini berkenaan dengan corak hidup sehari-hari yang sudah menjadi kental dan mengkristal. Pada bahasa dan lambang-lambang lama orang (dengan mantap) menaruh keyakinannya akan suatu makna tertentu, sedang bahasa dan lambang-lambang yang baru umumnya bersifat kontroversi karena belum sepenuhnya diterima (faktor receptio) oleh semua pihak.

Jika diperhatikan, sejak awal perkembangan kristianitas, feeling lokal dengan metafor-metafor tertentu sudah dipakai dalam pewartaan. Inti tujuannya adalah bagaimana kabar gembira sampai ke semakin banyak orang tanpa terkecuali. Bahkan Paulus memasuki alam pikiran dewa-dewi orang-orang Athena untuk mewartakan Allah yang telah menjadikan langit dan bumi. (Kis 17:16-34) Gambaran Yesus sebagai gembala baik (Yoh 10:1-21) yang ditemukan dalam lingkup kebudayaan jemaat Yohanes pun misalnya kemudian mendapatkan titik temu dalam kisah populer kebudayaan non-Yahudi (Romawi-Yunani) mengenai tokoh Orpheus. Gambar seorang gembala muda yang memanggul domba itu ditemukan dalam salah satu katakomba di bawah kota Roma, dan diyakini dibuat pada sekitar tahun 250. Yesus sebagai gembala yang baik, dalam terang kebangkitan, membawa domba-dombaNya kembali kepada Bapa. 

Sedang, dalam kebudayaan Yunani, Orpheus adalah manusia setengah dewa yang sangat piawai bermain musik hingga mampu menjinakkan binatang-binatang buas. Dikisahkan bahwa Orpheus, berkat kepiawaiannya bermain musik, mampu meluluhkan hati para dewa hingga dapat membawa kembali istrinya, Eurydice, dari Hades (dunia orang mati). Kisah Orpheus yang sudah hidup di kalangan masyarakat, ide pokoknya dipertemukan dengan pewartaan kabar gembira kebangkitan dari Gereja awal. Mengenai hal ini, perlu disebutkan bahwa gambar-gambar semacam gambar gembala yang baik tersebut pada zamannya dibuat dalam rangka katekese juga.

Jika bertitik tolak dari Kitab Suci, pada dasarnyalah Kitab Suci mewartakan bahwa Allah menyapa manusia dengan bahasa manusia dalam diri manusia Yesus agar manusia dengan melalui Yesus kembali kepada Allah. Disebut di sini: manusia yang tersapa dalam bahasanya. Baik manusia maupun bahasa kedua-duanya sama-sama penting, tetapi jelas bahwa keseluruhan kemanusiaan yang tersentuh menjadi fokus. Maka memang, bagaimana – seperti upaya Thomas Aquinas dalam lingkup universitas abad pertengahan – merangsang daya-daya manusia agar semakin banyak orang tergerak hidupnya menuju Allah menjadi semacam titik fokus pewartaan kristianitas, dulu dan masa kini.

Kepekaan manusia terhadap lambang-lambang merupakan syarat agar manusia dengan sepenuhnya dapat merasakan pengalaman religius. Dapat dikatakan di sini bahwa orang yang tidak peka terhadap lambang-lambang tentu saja susah memasuki dan meresapi pesan-pesan Kitab Suci yang penuh dengan lambang dan metafor-metafor. Dalam hal ini, kepekaan terhadap lambang merupakan suatu kemampuan dalam cara memandang. Sebuah gambar tidak akan menggerakkan sesuatu apa pun dalam diri manusia yang memandangnya andaikata ia sama sekali asing dengan isi pesan dan medium bentuk yang diungkapkan serta riwayat terjadinya (proses kreatif) gambar tersebut. Setidaknya, memang orang akan mengalami pengalaman estetik ketika melihat gambar. 

Namun, pengalaman estetik ini barulah merupakan semacam pintu masuk untuk menangkap maksud yang jauh lebih tersembunyi tetapi berbobot di balik gurat, bentuk, dan warna yang digunakan dalam gambar yang dimaksud. 

Mengenai lambang yang berkenaan dengan pengalaman religius ini kiranya dapat diingat apa yang terjadi dengan peristiwa pembaptisan di Sendangsono seratus tahun lalu. Dalam sejarah pembaptisan 174 orang di Sendangsono oleh Romo van Lith SJ pada 1904, disinggung bagaimana tempat pembaptisan – yaitu sebuah sendang (telaga) di bawah keteduhan pohon Sono – pada akhirnya berkembang menjadi tempat ziarah dan devosi kepada Bunda Maria. Tempat itu ternyata telah mempunyai “kisah” dalam kaitan dengan bagaimana manusia Jawa mencari sangkan paraning dumadi (asal dan tujuan kehidupan). Tempat itu secara kejawen mempunyai hubungan erat dengan Dewi Lantamsari dan putranya, Den Baguse Samijo. Ketika patung Bunda Maria (seberat 300 kg dan didatangkan dari Denmark!) diletakkan di sana berkat prakarsa Romo Prennthaler SJ pada tahun 1928, terjadilah pemaknaan secara baru, yaitu secara kristiani, atas tempat dan patung tersebut dalam kaitan dengan kisah kejawen yang sudah hidup. Dalam peristiwa ini, kemanusiaan orang Jawa disentuh, tanpa dirusak. Orang Jawa merasa tidak kehilangan identitasnya sekalipun memasuki agama baru. 

Bahkan, ternyata transformasi hidup terjadi oleh karena sifat korektif dari penghayatan hidup yang baru. Sedang, kalau kini ziarah dan devosi kepada Bunda Maria di Sendangsono cenderung dihayati dalam suasana usaha bisnis, rekreasi, dan semangat instan kiranya memang ada suatu pergeseran yang terjadi dalam “perjalanan beriman”. Sebenarnyalah pada titik ini ada ruang yang terbuka dalam rangka membuka kembali jejak-jejak “perjalanan beriman”. 

Mengenai “membaca” jejak-jejak ekspresi iman seseorang, Henri J.M. Nouwen menyodorkan cara yang ditemukan sendiri dalam pengalamannya berkontak dengan sejumlah lukisan. Nouwen membagikan pengalamannya bagaimana ia menjadi semakin beriman saat mengkontemplasikan ikon Tritunggal Mahakudus (1425) karya Andreas Rublev yang dibuat secara khusus untuk mengenangkan Sergius (1313-1392), seorang kudus dari Rusia; ikon yang dikenal sebagai Sang Perawan dari Vladimir yang secara ajaib selamat dari berbagai kebakaran dan perampokan – buah karya seorang seniman Yunani yang tidak dikenal pada awal abad ke-12; ikon Sang Penyelamat dari Zvenigorod karya Andreas Rublev pada awal abad ke-15; dan ikon Roh Kudus Turun – sebuah ikon Rusia yang dilukis menjelang akhir abad ke-15. Nouwen menyebut bahwa pada “gambar kudus” seperti halnya pada ikon-ikon, tertuntut suatu cara memandang laksana kerucut yang berlubang kecil di depan sementara di belakangnya terbentang ruang yang semakin luas. Maksudnya, pada gambar sederhana yang terungkap pada ikon, dapat dipandang kekayaan pesan di balik gambar datar itu. Pada ikon-ikon sepertinya ditawarkan jalan masuk melalui pintu yang dapat dilihat untuk masuk ke dalam misteri yang tidak dapat terlihat. 

Pertautan Seni dan Pengalaman Iman
Oleh karena karya seni dalam kehidupan Gereja – terutama patung dan gambar/lukisan – dibuat sebagai sarana pewartaan, termaktub di sana gagasan-gagasan teologis yang bersentuhan dengan struktur berpikir dan merasa orang-orang pada waktu itu. Jika pada masa sekarang, gagasan-gagasan itu ingin dihidupkan atau dikenal kembali maka tidak bisa tidak pembaca di masa sekarang musti “berkomunikasi” dengan penciptanya di masa lalu itu dan lingkup sosial yang menyertainya. Dengan demikian, sebenarnya keberadaan karya seni dalam Gereja di samping sungguh menyumbang dalam menyimpan gagasan-gagasan teologis, juga mendorong kesadaran akan sejarah Gereja, sejarah teologi, dan bahkan sejarah iman. 

Dengan lain kata, pada bentuk/gaya dan isi dari karya seni di dalam perjalanan kehidupan Gereja terkandung perumusan iman yang berakar pada kondisi sosial yang ada. Jane Dillenberger mencatat bahwa pada periode kristianitas awal, perumusan iman itu terekspresikan dalam gambar-gambar yang terkait dengan pembebasan dari dosa dan kematian seperti gambar Nabi Nuh dan bahteranya, gambar Daniel di gua singa, atau gambar Yunus yang keluar dari mulut ikan. Iman dan harapan orang kristen awal terfokus pada keselamatan sebagai pembebasan. Mengapa gambar Yesus tidak menonjol?

Hal ini kiranya dapat dipahami dalam kerangka kebudayaan Yahudi dari murid-murid Yesus, atau Timur Tengah pada umumnya, bahwa tidak diperkenankan begitu saja menggambarkan orang yang dihormati. Segala sesuatu untuk menggambarkannya “diwakilkan” pada simbol. Bahkan umum diketahui dalam tradisi Perjanjian Lama bahwa untuk menyebut Allah tidak diperkenankan langsung menyebutnya sebagai YHWH, tetapi “diwakilkan” dalam sebutan Adonai. Mengenai hidup Yesus pun baru ditulis 60-100 tahun setelah wafatNya, dengan tidak mendeskripsikan figur Yesus yang secara visual dapat dibayangkan seperti apa orangnya. 

Finaldi menyebutkan bahwa Gereja perdana tidak mempunyai liturgi khusus yang dihubungkan dengan pengadaan gambar Yesus dan semacamnya. Situasi yang terjadi adalah bahwa peristiwa Yesus dikenangkan dalam perjamuan-perjamuan bersama yang diselenggarakan di rumah-rumah orang-orang kristen secara bergiliran. Dengan lain kata, belum ada gedung gereja. Gedung gereja sebenarnya berawal dari ruang-ruang sedikit luas di pekuburan-pekuburan bawah tanah (katakomba) di bawah kota Roma dan sekitarnya pada sekitar tahun 200. Dinding-dinding yang kosong pada katakomba itu kemudian dihias dan dilukis dengan sejumlah tujuan seperti untuk mendukung liturgi atau pewartaan dalam katekese.

Pada sekitar tahun 1000, menurut Dillenberger, subjek gambar yang paling sering direpresentasikan adalah penghakiman terakhir. Terungkapkan di sini ketakutan manusia akan kematian dan hukuman yang terkait dengan keyakinan akan kehidupan abadi. Keadilan Allah sepertinya terpisah dari rahmat belaskasihNya, dan Ia secara dominan hadir sebagai hakim yang siap menghukum. Pada zaman setelahnya, yaitu zaman Gotik, dengan puncaknya pada abad ke-13, kesenian terekspresikan begitu mencolok dalam pembangunan katedral-katedral indah yang biasanya didedikasikan kepada Bunda Maria. Katakanlah, dalam Bunda Maria Gotik ini terkombinasi antara kenyataan natural dan supernatural. Antara kodrat dan rahmat tidak dalam posisi berlawanan, melainkan terjalin satu dengan yang lainnya.

Pada zaman Renaissance, gambar-gambar terfokus pada sosok Bunda Maria dan kanak-kanak Yesus. Namun, berbeda dari gambaran jalinan kemanusiaan dan keilahian pada zaman Gotik, Bunda Maria dan kanak-kanak Yesus Renaissance tampak begitu sehari-hari atau sangat menonjol gambaran kemanusiaannya. Kondisi kemanusiaan ini semakin terungkapkan dalam sosok-sosok yang menonjol digambarkan pada abad ke-15 dan 16, seperti Maria Magdalena, Yohanes Pembaptis, dan bertobatnya Paulus. Pengalaman sebagai pendosa yang diampuni Allah begitu kentara dalam gambar-gambar yang muncul.

Pada abad ke-17 ada dua aliran yang muncul. Gambar-gambar dari dunia katolik lebih mengungkapkan perihal mukjizat dan hal-hal mistik, sedangkan gambar-gambar dari dunia protestan – seperti terungkap dalam karya-karya Rembrant – lebih menekankan momen-momen pengalaman yang hangat dan dekat serta hubungan personal Yesus dengan para pengikutNya. Adapun pada zaman setelahnya, dan juga kini pada zaman kita, fokus ternyata ada pada gambaran penyaliban dan sengsara Yesus. Kecuali itu, dewasa ini juga berkembang penggambaran wajah Yesus yang sangat beragam. Yesus historis dari Nazaret di Palestina digambar secara lain-lain menurut lokal budaya para pengikutNya, seperti tampak antara lain dalam lukisan “The Black Christ” (1962) karya Ronnie Harrison. Ada apa di balik fokus penggambaran Yesus sengsara dan Yesus beragam ini?

Perbedaan cara menggambarkan Yesus merupakan masalah kristologis yang sudah muncul sejak ditulisnya Perjanjian Baru, masa Patristik, hingga saat ini. Setidaknya empat konsili disebut sebagai konsili kristologis, yaitu Nikaia (325), Konstantinopel (381), Efesus (431), dan Khalkedon (448). Pada dasarnya mereka yang hadir dalam konsili-konsili tersebut adalah para uskup yang nota bene adalah juga teolog. Perselisihan pandangan apapun dari para uskup-teolog itu mau tidak mau tetap berjumpa dengan satu hal yang sangat vital dalam hidup keberimanan, yaitu receptio umat kebanyakan terhadap ajaran yang dikeluarkan konsili. Receptio berarti penerimaan. Mengenai ini kiranya dapat juga diartikan bahwa apakah umat tersapa pengalamannya dalam rumusan iman yang diajarkan.

Bila dilihat dari riwayat konsili dan perumusan iman Gereja tersebut, Gereja secara terang-terangan mengajak umatnya untuk merefleksikan perihal kesenian dalam hubungannya dengan hidup beriman dalam Konsili Nikaia II (787). Konsili ini diadakan berkenaan dengan gejolak yang terjadi di dalam Gereja oleh karena penghormatan patung-patung dan gambar-gambar, yang di satu sisi secara politik (hubungan dengan Muslim) terasa mengganggu, dan di sisi lain secara religius umat sederhana terbantu penghayatan imannya. 

Apa yang dipaparkan Dillenberger di atas mengenai “perjalanan” seni dalam hubungan dengan hidup beriman (komunitas) manusia menunjukkan “gejolak” pada setiap zamannya. Itu artinya bahwa iman dihayati dalam keberakaran, yang antara lain diungkapkan dalam karya seni yang terbatas ruang dan waktu. Orang beriman pada setiap zamannya mempunyai keprihatinannya sendiri dan mempunyai cara sendiri bagaimana mengkomunikasikan keprihatinan itu di dalam seluruh rencana karya keselamatan Allah yang dikenalnya dalam pewartaan Gereja.

Dalam cara pandang skolastisisme pada abad pertengahan, hubungan iman dan karya seni sebagai pengungkapan pengalaman iman dapat terangkumkan dalam empat sifat, yaitu unum, verum, bonum, dan pulchrum. Dengan unum (tunggal) dimaksudkan bahwa ada penampakan sebagai suatu kesatuan/kebulatan, seperti halnya kecenderungan akal budi untuk memandang segala sesuatu serba berkaitan. Verum berarti benar, yaitu bahwa ada nilai bagi akal budi untuk dikejar. Bonum (baik) artinya menghimbau kepada kemauan manusia untuk menunaikan/melaksanakannya. Adapun pulchrum (indah) menarik untuk dipandang dan dikontemplasikan. 

Pengalaman iman merupakan pengalaman orang yang bertindak sesuatu di tengah dunianya, dan tindakan iman pada dasarnya bersifat menular. Maka pada karya seni yang bertitik tolak dari pengalaman iman, orang yang memandang dan mengkontemplasikannya dapat tergerak untuk berpartisipasi dalam pesan yang diungkapkan pada karya seni yang dimaksud. Bahkan, seperti halnya agama yang mempunyai fungsi profetis, demikian pula karya seni yang terkait dengan pengalaman iman mempunyai fungsi profetis di tengah dunia yang cenderung “melupakan” karya dan peran serta Allah (baca: dunia sekularisme). 

Dulu, pada masa Prapaskah tahun 2000, digantunglah di sejumlah gereja di beberapa negara lukisan berjudul “Kain Lapar” buah karya Suryo Indratno, seorang pelukis dari Solo. Pada lukisan yang berisi banyak figur dan peristiwa tersebut, diungkapkan nada-nada dan pukulan kesedihan dan penderitaan tetapi juga perjuangan dan harapan akan dunia hidup yang lebih baik. Sepertinya mengalir dari goresan-goresan di dalam lukisan itu pertanyaan-pertanyaan eksistensial sekaligus jawaban. Bagaimana situasi serba buruk berubah menjadi baik? Bagaimana manusia keluar dari belenggu penderitaan? Jawabannya adalah janji Tuhan, yaitu janji akan datangnya “tahun rahmat” dari Tuhan sendiri. Dalam kacamata orang beriman, janji Tuhan tersebut sungguh bernilai di tengah pergulatan masalah dunia. Tahun rahmat Tuhan merupakan janji yang selalu diserukan oleh para nabi di tengah nasib sengsara umat Allah. 

Lukisan “Kain Lapar” tersebut berlatar situasi aktual Indonesia menjelang tahun 2000 yang direkam dan dicerna oleh pelukisnya. Ada kerusuhan dan pembakaran massal yang menelan banyak korban jiwa. Ada kematian yang digambarkan begitu mencekam. Ada banyak orang yang bekerja dalam berbagai profesinya. Yang cukup mencolok adalah penggambaran wajah-wajah yang murung tetapi pada matanya sepertinya tersimpan energi untuk melakukan sesuatu. Dan mata ini bisa saja menarik orang yang memandang lukisan tersebut untuk menyelami kedalaman peristiwa yang terjadi dan kemudian bergerak melakukan sesuatu. Tapi, mereka yang di dalam lukisan tersebut sepertinya merasa terlalu kecil di tengah dunia yang begitu luas dan kompleks, sekalipun tangan dan kaki mereka kokoh. 

Dalam situasi itu, luapan harapan dari keseluruhan lukisan mencuat dan menggetarkan. Rupanya, dalam hal ini, titik temu antara “kreator” dan “apresiator” lukisan ada pada pengalaman dan medan hidup yang kurang lebih serupa. Dengan lain kata, ada kontak, ada komunikasi, ada sapaan.
“Art is best construed as a vehicle of interaction with the world: a work of art is an object or happening through which we engage with the physical world we inhabit, and through which we converse with those communities with whom we share our lives.” 

Pandangan Jeremy S. Beggie yang dikutip di awal tulisan ini semakin menegaskan bahwa karya seni di dalam Gereja bukan hanya memperindah bangunan yang ada, tetapi lebih-lebih itu merupakan ruang komunikasi tentang kehidupan dan pengalaman iman. Pada karya seni inilah, kisah pahit manis kehidupan manusia dibagikan.

Kepustakaan
Beggie, Jeremy S., Voicing Creation’s Praise: Towards A Theology of the Arts, Edinburg: T&Tclark, 1991
Berger, John, et all, Ways of Seeing, London: BBC and Penguin Books, 1972
Bourget, Pierre du, SJ, Early Christian Painting, New York: The Viking Press, 1966
Darmaputera, Eka, “Karya Seni sebagai Ekspresi Teologis”, dalam Endang Wilandari Supardan (ed.), Beberapa Wajah Seni Rupa Kristiani Indonesia, Jakarta: PGI, 1993
Dillenberger, Jane, Style and Content in Christian Art, London: SCM Press Ltd., 1986
Finaldi, Gabriele, et all, The Image of Christ, London: National Gallery Company Limited, 2000
Hartoko, Dick, Manusia dan Seni, Yogyakarta: Kanisius, 1984
Hofmann, Ruedi, SJ, Tahun Rahmat Tuhan, Yogyakarta: Kanisius, 2000
Myers, Bernard S., Understanding the Arts, New York:Holt, Rinehart and Winston, Inc., 1958
Nouwen, Henri J.M., Pandanglah Wajah Kasih Allah (Spiritualitas Seni Ikon), Yogyakarta: Kanisius, 2003
----------------, The Return of The Prodigal Son, Mumbai: St. Pauls, 2002 
Sindhunata, G.P. (ed.), Mengasih Maria: 100 Tahun Sendangsono, Yogyakarta: Kanisius, 2004
Verhaak, Christ, SJ, “Kesenian dan Hidup Beriman” dalam Rohani Juni 1988
Viladesau, Richard, “The Significance of Art for Christian Theology”, dlm Chicago Studies Vol 41 No 3
The Jakarta Post, 17 Juni 2004
Dokumen Konsili Vatikan II: Sacrosanctum Concilium



0 komentar:

Poskan Komentar