Ads 468x60px

Carpe Diem: Sebuah Trilogi

Prolog

Sed fugit interea, 
fugit inreparabile tempus 
Sementara waktu yang tak tergantikan lekas berlalu 
(Kutipan dari karya Vergilius, Georgicon III:284).
 

Suatu ketika, Dalai Lama ditanya, “apa yang paling membingungkan di dunia ini?” Dia menjawab, ”manusia.” Yah, karena ketika muda, manusia mengorbankan kesehatannya hanya demi uang. Lalu ketika tua mengorbankan uangnya demi kesehatan, dan sangat kuatir akan masa depannya, sampai tidak sempat menikmati masa kini.” Yah, kadang orang kurang mensyukuri hari ini (hic) dan disini (nunc) bukan? Wajarlah, orang Romawi kerap mengatakan, “Diem perdidi” - Saya telah kehilangan satu hari! Kalimat ini diucapkan oleh Kaisar Titus, kala ia menyadari bahwa satu hari terlewatkan tanpa kesempatan untuk melakukan hal-hal yang baik/berguna. 

Disinilah, baik kita mengingat slogan orang Romawi, “Carpe Diem”, yang dalam bahasa Inggris kerap diartikan, “Seize the Day”, secara lugas berarti, “Reguklah Hari Ini”. Kalimat lengkapnya adalah, “Carpe diem, quam minimum credula postero”, yang berarti, "reguklah hari ini, dan percayalah sesedikit mungkin akan hari esok." 

Kutipan filosofi dari karya Horatius Carminum ini dimaksudkan agar setiap orang belajar memaknai hidup dengan arif, duc in altum - bertolak lebih dalam, untuk “hidup lebih hidup” dari hari ke hari. Dalam kacamata iman yang lebih positif, seperti nats pemazmur yang mendaraskan, “Tuhan ajarilah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” (Mazmur 90:12)
Dalam edisi trilogi Carpe Diem “P3” ini, bersama dengan ulang tahun rahmat tahbisan imamat saya yang keenam per-15 Agustus 2013 ini, ditampil-kenangkan secara terpisah: 365 kata-kata pepatah bahasa latin, 365 pantun rohani dan 365 permenungan rohani dari para bapa padang gurun. Harapannya, semoga trilogi Carpe Diem “P3” ini, bisa menjadi lentera atau pelita yang menyala, terus men
erangi serpihan lika-liku hidup dan carut-marut perguatan iman kita. Fiat Lux!

Pertapaan Gedono, Salatiga
Salam Interupsi, 
Jost Kokoh Prihatanto, Pr.

0 komentar:

Posting Komentar