Ads 468x60px

Prawacana Penulis untuk Buku "T A N D A"

“TANDA” – kaTA, aNgka dan naDA

Prolog
Utak-atik gatuk, begitulah orang Jawa punya peribahasa. Artinya, diutak-atik pas, cespleng, tandes, joss, klop, nyambung. Biasanya ini berhubungan dengan pemaknaan, dan inilah yang juga sebetulnya terjadi ketika saya asyik menyusun-rukun sepenggal buku kecil ini. 

Ya, sepakat dengan kata Ernst Cassier, bagi saya, kita memang adalah “animale symbolicum”,… untuk menciptakan dan merenungkan, menyampaikan simbol-simbol dan dengan demikian mengungguli binatang”, dan “hanya dengan menggunakan simbol-simbol, manusia dapat mencapai potensi dan tujuan hidupnya yang tertinggi (Dillistone, hlm. 22 & 10; bdk Fontana, hlm 9-17). Kata “simbol” sendiri berasal dari kata kerja bahasa Yunani, sym-bollein yang berarti “mencocokkan” atau “menghubungkan” antara dua bagian atau dua entitas yang berbeda (Bdk: utak-atik gatuk). 

Berangkat dari inilah, persis di ulang tahun saya yang ke-30, saya mencoba utak atik gatuk mengumpulkan pelbagai serpihan makna dan tanda, yang terserak gerak dan terpencar sebar. Inilah sebuah kompilasi TANDA, yang terdiri dari pelbagai kisah dan permenungan saya sebagai seorang pastor muda selama setahun terakhir ini.

Buku ini sendiri, yang terdiri dari tiga matra pokok (30 Angka, 30 Kata dan 30 Nada) tentunya mau ikut memberi pemaknaan lebih pada setiap angka, kata dan nada yang diangkat. Sekurang-kurangnya, semoga aneka serpihan sederhana yang sudah dibukukan (tapi tentu tidak untuk dibekukan apalagi dibakukan), ini dapat membuat orang mau ikut sedikit mengambil jarak: termenung, terpekur atau kadang tersenyum, dan juga boleh jadi merasa terhibur.

Yang pasti, seperti kata Paulo Coelho, bukankah semakin banyak kita memberi cinta, semakin dekatlah kita pada pengalaman spiritual? maka sungguh tepatlah bahwa pengalaman spiritual kerap bersemi dari sebuah perjumpaan sederhana akan cinta. Yah, akan setiap kisah juga kasih yang boleh saya lihat dan alami dengan pelbagai macam karakter, terimakasih saya buat semuanya. Disinilah menjadi jelas, bukankah tepat juga kata seorang Thomas Merton, kehidupan spiritual pada dasarnya adakah mencintai?

Epilog
Bukankah tugas cerdas-bernas kita sekarang untuk merakit-paut kembali segala bentuk pemisahan pemikiran keberimanan dari wilayah publik, tanpa harus menjadi dangkal bukan? Bukankah juga sungguh sebuah niat baik dan patut dirayakan, jika kita berusaha mengkomunikasikan lagi bahasa dan refleksi iman kita ke wilayah publik, dan tak melulu sibuk di altar perjamuan, tapi juga mau bergulat geliat sungguh di tengah riuh rendah dan carut-marutnya pasar kehidupan kita?

Jelasnya, buku ini tak hendak sepi-iseng sendiri.Apalagi kini, ruang kolektif kerap-akrab dialami ketika berada “dalam perjalanan”, yakni perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Modernitas kita sangat lekat-dekat tercermin di jalan, demikianlah tukas-lugas seorang pemikir Jerman, Walter Benjamin. Harapannya, buku kecil ini bisa menjadi sebuah “tanda”, teman seperjalanan yang ringan, mengasyikkan dan semoga juga sekaligus mencerahkan. Buku ini sendiri sebetulnya, selain merupakan ungkapan syukur, juga merupakan suatu perjuangan komunikasi, yang terdiri dari risalah dan rajutan tekstur refleksi, introspeksi, interaksi sekaligus juga intervensi dan interupsi, karena bukankah memperjuangkan Zwischenraum (baca: ruang antara – untuk saling berkomunikasi), merupakan salah satu tugas penting bagi kita?

Akhirulallam, Paulo Coelho, ‘sang alchemist’, pernah menegas-tegaskan impiannya bahwa mencinta adalah berkomunikasi dengan yang lain, menemukan serpihan Tuhan dalam diri mereka. Semoga saja, buku sederhana ini bisa membuat kita trampil mencinta: menemukan wajahNya di tengah ruwet renteng serta hiruk-pikuknya dunia harian kita. Demikianlah umpan telah dilempar ke air, adakah ikan akan terpancing, ataukah hanya sekedar gelombang kecil yang menyebar dari jatuhnya umpan itu?

0 komentar:

Poskan Komentar