Ads 468x60px

Prawacana Penulis untuk Buku “XXI” – Interupsi"

Interupsi
“Non scholae, sed vitae discimus”
Kita belajar bukan untuk sekolah,
melainkan untuk hidup.

Adagium klasik di atas berasal dari surat-surat Seneca (4 SM - 65 M). Seneca adalah filsuf Romawi yang kerap membuat interupsi pada dunia sekitarnya. Ya, pada awalnya memang sebuah interupsi! Johann Baptist Metz, seorang teolog politik, juga pernah memberikan definisi tersingkat dari agama, yaitu interupsi (Unterbrechung). Agama itu berangkat dari interupsi Allah ke tengah dunia. Agama itu hadir sebagai satu bentuk interupsi di tengah dunia yang carut marut. Agama-agama mengkhianati panggilannya apabila mereka berhenti membuat interupsi, bukan?

Bagi saya, jelas bahwa Gereja juga perlu terus melakukan interupsi, baik
terhadap dunianya sendiri maupun terhadap dunia yang ada di sekitarnya.
Dalam intensi seperti ini, Gereja dengan segala interupsinya hendaknya tidak meninggalkan manusia di pinggir jalan sendirian. Maka, di sinilah persis bersama dengan ulang tahun imamat saya yang ketiga, sekaligus penutupan Tahun Imam, saya menampil-ulangkan sketsa beberapa “interuptor” dan pelbagai gurat refleksi mininya. Siapa saja mereka? 

Sebut saja: Vianney di Paris, Escriva di Spanyol, Woytilla di Polandia, Mangunwijaya di Yogyakarta. Roncalli di Italia. Arnoldus Jansen di Jerman. Verbist di Belgia. Kardinal Kung di Cina, cum amici sui. Para interuptor dalam buku ini adalah para Imam Gereja Katolik, hampir semuanya adalah imam diosesan (di Indonesia, akrab disebut sebagai imam Pr/Praja, Yunani: Presbiter). Imam diosesan Indonesia sendiri, untuk saat ini jumlahnya lebih dari 1.600 imam. Di tujuh keuskupan di Pulau Jawa, ada sekitar 462 lebih imam diosesan. Jumlah yang`ikut menentukan wajah Gereja dan masyarakat Indonesia, bukan?

Romo Mangun, seorang imam diosesan yang kerap juga membuat pelbagai interupsi, pernah berkata, “Para imam itu seperti ‘Putri Duyung Yang Mendamba’ ... di satu sisi, mau mencapai bintang di langit dengan lengan-lengan manusianya, tetapi kakinya masih tertangkap dalam air dan terbungkus sirip ikan.” Tampak jelas-lugas, seorang imam, yang “lahir dari umat, besar dari umat, dan berjuang bersama umat” ini adalah alter christi, tetapi juga sekaligus seseorang yang tetap terpenjara dalam kelemahan insaninya (Ibr 5:2), bukan? Walaupun begitu, tanpa melupakan kerapuhan manusiawi, menjadi imam sesungguhnya juga adalah sebuah cara untuk berusaha menjadi “interuptor”. Seorang “interuptor” harus menyuarakan hati nurani kolektif, sabda, wahyu Ilahi, kemanusiaan, dan jawaban manusia sehingga apa yang diharapkan sungguh menjadi kenyataan bagi dunia: “gaudere cum gaudentibus, et fiere cum fientibus” (Bersukacitalah dengan yang bersukacita dan menangislah dengan yang menangis).

Lewat buku sederhana inilah, saya hendak berbagi cerita di ruang kecil
ini. Semoga saja, aneka serpihan cerita kecil ini bisa menetap dan menyebar-pencar dalam hati dan budi banyak orang, bahwa Tuhan tidak pernah memisah-misahkan apalagi mengotak-kotakkan Gerejanya. Bukankah kita yang kerap malah mengotak-kotakkannya? Jesuit, Praja, Karmelit, Salesian, Fransiskan, Soverdian, dan yang lainnya semua disatukan oleh Tuhan, bukan? Lewat buku ini, saya juga semakin disadarkan bahwa hidup adalah sebuah proses pembelajaran yang tak pernah berakhir. 

Akhirnya, walaupun sederhana, saya berharap apa yang dilakukan lewat buku ini adalah suatu partisipasi aktif untuk melakukan interupsi kecil, di tengah dunia yang semakin karut marut ini. Kiranya, kita juga mau menghidup-kembangkan iman sebagai sebuah interupsi. Deus vult! Tuhan menghendakinya!

Epilog
Saat sekarat di tempat tidurnya, Kaisar Agustus berkata, “Acta est fibula!”
(“Pertunjukan telah usai!”) Itulah kata-kata interupsinya yang paripurna, yang pada perjalanan waktu menurut tradisi Svetonius diteriakkan sebagai kalimat pamungkas pada setiap ujung pementasan (Svetonius. Vita di Augusto, 991).

Kalimat ini seakan meng-“interupsi” kita bahwa untuk setiap peristiwa selalu ada akhirnya. “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya” (Pengkhotbah 3:1). Demikianlah, ada saat berpesta. Ada saat bekerja. Ada masa awal juga tentunya ada masa akhir. Ada masa membaca. Ada juga masa menulis, bukan?

Maka, sebelum hidup kita juga usai dan sadar bahwa semua hal begitu
cepat berlalu, kembalilah pada membaca dan menulis. Inilah interupsi saya: membaca dan menulis itu menyediakan sebuah “khalwat: semacam ruang jeda, ruang hati untuk mengambil jarak di antara hiruk pikuk hidup harian. Bahasa Ayu Utami: ruang untuk menyelami yang mudah dimengerti, maupun yang sulit dimengerti, pencerahan maupun misteri. 

Membaca dan menulis ini sebetulnya bukan hanya ruang jeda yang rendah hati, tapi juga yang cerdik dan menarik karena bukankah tepat dikatakan kalau ide itu mempunyai kaki?

Buku kecil yang berangkat dari kegiatan membaca dan menulis ini
sendiri mengajak kita ingat sebuah interupsi kecil dari tanah Vatikan, “…
semoga cinta akan kebenaran dan keinginan terus-menerus untuk mengenal Tuhan merupakan dorongan bagi setiap umat Kristiani untuk tanpa merasa lelah mencari persatuan yang makin mendalam dengan Kristus: Jalan, Kebenaran dan Kehidupan” (Paus Benediktus XVI, Audiensi Umum, 23 September 2009).

Fiat Lux.
Jadilah Terang (Kejadian 1:3)
Salam Interupsi

0 komentar:

Poskan Komentar