Ads 468x60px

Sekedar Sharing Panggilan

Tempora mutantur et nos mutamur in illis. Waktu berubah dan kita pun berubah seiring dengannya. (Kutipan dari drama karya Edward Forsett, Pedantius babak I adegan 3) 

 Di awal bingkai ini, ada satu kutipan nats yang saya ingat, 
“..Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda." Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapa pun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apa pun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan..Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau." (Yer 1:6-8). 

Sebuah pengalaman kasih akan kisah Allah yang terus menyertai inilah, yang membuat saya tergerak untuk menuliskan serta membagikan refleksi mini ini, karena bukankah seperti kata Socrates, “Hidup yang tidak pernah direfleksikan adalah hidup yang tidak layak dijalani.” Penggalan refleksi panggilan ini sendiri adalah sebuah upaya kisah kasih anak manusia “maneges ati”, yang tak pernah lepas dari suatu pencarian hati menanggapi kehendak Allah. Prosesnya wajar bertahap: Ada saatnya merangkak, lalu berguling, merambat, berjalan dan berlari dalam panggilan ini, “tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal melulu dari Allah, bukan dari diri kami” (2 Kor 4: 7).Yang jelas, di situlah harapannya, In nomine Dei feliciter – dalam nama Tuhan semoga berbuah. 

Bingkai historiografi ini sendiri berisi kisah sederhana, semacam oleh-oleh refleksi kecil saya menjelang tahbisan imamat. Lewat penggalan kisah dan kasih ini, semakin saya bersyukur bahwa sejuta kisah terus datang dan pergi, sejuta kasih pun datang mengilhami, karena seperti harapan Paulus dari Tarsus, “….Kamu adalah surat cinta Tuhan, yang ditulis bukan dengan tinta yang ditulis di atas loh batu, tapi dengan roh pada hati……”


I. A. Refleksi Tahbisan Imamat 
“La Vita e Bella....”Tiga kata dalam bahasa latin kuno ini berarti “Hidup itu indah”, adalah sebuah judul sinema romantis, yang dilakonkan oleh seorang Roberto Benigni. Bagi saya, hidup memang kerap terasa indah. Dan, terasa bahwa hidup yang indah ini kerap ditentukan oleh pelbagai kebetulan.....! Seraya merenungkan pernyataan singkat ini, sayapun bertanya-tanya, diantara selaksa kemungkinan tempat, mengapa saya ditentukan untuk dibesarkan di sebuah tempat dan saat bernama Jakarta? Saya sebenarnya bisa saja dibesarkan di Nigeria, Afganistan, Amerika dan sebagainya. Tetapi kebetulan ini ternyata banyak menentukan hidup dan panggilan saya kini. Tidak mustahil, bila saya dibesarkan di Afganistan, mungkin saya menjadi pengikut Taliban yang hidup tersembunyi, diintai dan dikejar-kejar. Saya sadari juga, kalau saya tidak dibesarkan di tempat ini, maka saya tidak akan mengalami aneka peristiwa dan perjumpaan dengan banyak pribadi, yang membuat saya terus belajar untuk senantiasa bersyukur. 

Menengok Masa KecilBerangkat dari sebuah kesadaran pribadi bahwa keluarga adalah ‘seminari dasar’, saya bersyukur boleh lahir dalam keluarga Katolik yang sederhana. Lewat hidup bersama dalam keluarga, khususnya lewat kasih Bapak Ibu itu, sungguh saya mengalami eccelesia domestica, rumah bagaikan sebuah gereja, di mana masih ada tradisi berdoa malam bersama, misa harian, ikut terlibat di lingkungan/kring, kenal dengan para romo paroki, dsbnya. Dan semuanya memang memberikan kesan yang indah mengenai figur romo dalam hidup saya, bahwasannya jelas imamat adalah gratia, anugerah dari Tuhan.

Lewat keluarga dan banyak figur romo, tampak bahwa hidup adalah pilihan. Pilihan mengandung konsekuensi. Sejak kecil, bahkan sampai sekarang, kerap muncul pertanyaan, mengapa mau jadi romo? Mungkin jawabannya persis sama dengan pertanyaan, kenapa koq bapak saya bisa ‘’jadian” sama ibu ya? Jawabannya adalah jatuh cinta. Kok bisa…ya hati memang selalu punya alasan yang tak dikenal oleh akal, seperti kata Blaise Pascal, “le coeur a ses raisons que la raison ne connait pas”. Pastinya, seperti bunyi pepatah, dari mata turun ke hati, itulah yang saya lihat mengapa saya mau menjadi romo, tentunya dari kacamata saya ketika itu masih kelas 2 SD. Pertama, “kekaguman”. Jadi romo itu banyak sahabatnya, dicintai, akrab dan ramah dengan umatnya, bisa olahraga apa saja, dekat dengan Tuhan, bisa mengenakan jubah dan kasula pada hari minggu, mengangkat hosti putih tinggi-tinggi dan membagikan komuni di altar, sehingga tampak jelas odor sanctitatis (baca: aroma kesuciannya).

Kedua, “keterlanjuran”. Waktu saya SD saya punya guru agama yang baik hati, berjenggot dan sangat tua....Mbah Broto namanya. Beliau sudah meninggal beberapa tahun lalu. Dulu, saya sering mendapat rosario, permen dan gambar santo-santa karena bisa menjawab kuis Kitab Suci yang diberikan, dan saat itu saya pernah mendapat nilai 9 darinya, dan terlanjur saya bilang ke dia,,,saya mau jadi romo. 

Ketiga, “kebetulan”. Kebetulan rumah saya dekat dengan gereja, kebetulan bapak ibu saya aktif di gereja, kebetulan kami sering misa pagi bersama, kebetulan ada beberapa sanak saudara yang menjadi biarawan/wati, dan kebetulan juga banyak teman di misdinar dan mudika - yang juga berminat mau jadi romo. Saya percaya bahwa kebetulan ini sungguh adalah campur tangan Tuhan. Kebetulan adalah rahmat itu sendiri bukan? Memang paroki saya dekat dengan pelbagai kompleks militer, termasuk KOPASSUS. Bahkan banyak teman main bola saya, yang akhirnya masuk AKABRI. Tapi, entah kenapa panggilan ini muncul terus, (memang pernah sedikit terabaikan, ketika saya sungguh aktif di kegiatan Pencinta Alam dan Kelompok Ilmiah Remaja), tapi persis lagi dan lagi - saya merasakan bahwa Tuhan memanggil saya kembali, dengan pengalaman iman personal ketika saya sering naik gunung, travelling dan caving, menyusuri goa bersama teman-teman. Di situlah, lewat keterpesonaan sederhana terhadap alam, saya diajak untuk perlahan-lahan mau menjadi ”KOPASSUS” alias ”Komando Pasukan Kristus”, di mana senjatanya bukan lagi peluru, tapi hukum Cinta Kasih.

Menengok Masa PerjuanganLewat kilasan perjalanan dulu sampai kini, saya sungguh bersyukur boleh mengalami banyak rahmat perjumpaan dan kasih karunia Allah yang hadir lewat diri para pendamping, teladan para dosen, kritik maupun support dari teman, sapaan umat, dukungan doa keluarga, dsbnya. Di sinilah, saya sungguh merasa Tuhan menyertai saya. “Tuhan adalah Gembalaku, Tak kan kekurangan aku” (Mazmur 23). Itulah mazmur pertama yang saya kenal di pinggir lapangan bola seminari belasan tahun yang lalu. 

Selain banyak peristiwa indah dan penuh rahmat yang sepenuhnya saya syukuri, lewat peristiwa yang juga tidak enak, saya juga terkesan untuk bisa belajar, bahwa”benar, mengikutiMu bukan langit biru yang Kau janjikan, juga bukan bunga-bunga indah yang bertebaran, tetapi jalan penuh lika-liku, karena jalan itu pula yang pernah KAU lewati…..” Di sinilah pengalaman pribadi Dom Helder Camara, seorang Uskup Agung Rio de Janeiro, Brasil mendapat tempat di hati saya, bahwa, “Tuhan bila salib menimpa kami dengan hebat, maka hancurlah kami; tapi bila Engkau datang bersama salib - Engkau memeluk kami. 

Dengan kata lain: hidup panggilan saya ibaratkan menebar jala, dan cinta itu yang menjadi pegangan, ketika saya harus mengarungi samudera percobaan dan kesulitan, “should you pass trough the sea, I wiill be with you. Di lautan itu, cinta seakan hanya diam, padahal cinta itu yang memegang dan menopang saya untuk mengarungi kedashyatannya, sehingga saya tidak tertelan oleh gelombangnya, cinta itu pula yang diam-diam selalu menyertai saya untuk membebaskan dari segala belenggu. Persis disinilah, saya belajar menemukan Tuhan dalam segala, dan belajar mencecap semuanya perlahan-lahan, ...bukankah pada situasi padang gurun kita tidak dapat menyelesaikannya dengan kuda. Kuda secepat dan setangguh apapun akan kehabisan tenaga, sebaliknya onta akan berjalan terus dengan langkah mantap, gigih, pelan namun andal - meski tanpa air ataupun makanan?”. 

Di sinilah, saya semakin mensyukuri bahwa panggilan sungguh sebuah perJALANan, atau peziarahan batin menuju Allah. Lewat perjumpaan dengan pengalaman (entah baik/buruk), saya belajar bergerak dari kedangkalan/banal melewati situasi batas/limit agar sampai pada kedalaman/depth. Irama ini jika saya bahasakan secara liturgis, yakni perjalanan dari kyrie menuju gloria hingga akhirnya bemuara dalam credo. Jelasnya, pada saat saya berseru Kyrie eleison dan kemudian mengalami kuasa kasihnya, maka dengan penuh rasa haru diliputi syukur, saya bermadah Gloria in Exelcis Deo, akibatnya ketika saya sungguh merasakan kasih Allah seperti itu, saya percaya (credo) dan mau ikut mewartakan Injil (euangelion, kabar gembira) di tengah dunia.

AkhirnyaSaya sungguh menyadari bahwa hidup imam itu unik dan hanya seorang imam yang dapat memahaminya: Ia adalah alter christi, tapi juga sekaligus seseorang yang terpenjara dalam kelemahan insaninya (Ibrani 5:2). Lalu, mengapa saya memilih menjadi romo? Ya, karena sejak kecil saya lebih sering melihat sosok para romo dan frater di paroki saya, dan bagi saya, menjadi romo adalah sebuah cara untuk berusaha menjadi link – ex officio – jembatan antara manusia dan Tuhan. Di sinilah saya juga belajar menjadi seorang religius yang sekulir, berdiam di tengah dunia dengan kepekaan akan tanda-tanda jaman, dan sekaligus menafsirkannya dalam terang kehendak Allah. Yang mau membawa hidup umat dan dirinya ke hadapan Tuhan dan memberikan pengharapan iman bagi hidup bersama umat lewat hasil permenungannya di hadapan Tuhan dan tanda-tanda jaman. Di satu pihak, berakar dalam hidup iman dan doanya, sekaligus pada saat yang sama ia dibentuk dan ditempa pelaksanaan pelayanan imamatnya. 

Satu pernyataan, yang kerap saya ingat, “Yang berat justru untuk tetap bertahan sebagai manusia biasa. Sebab pastor itu ‘kan seolah-olah kasta tersendiri. Mudah membuat orang menjadi sombong. Karena itulah orang seperti kami harus selalu sadar agar jangan sombong.” 

Saya juga kerap ingat sebuah penggalan akhir Novel, “Terlepas sebelum Terusap” (1985, Sukri Kaslan), yang menggambarkan jerih payah seorang pastor di tengah umatnya selama 7 tahun. 

“Apakah aku berhasil memancarkan cinta kasih Tuhan kepada kalian? Apakah aku cukup sabar dan penuh perhatian kepada setiap orang yang datang mengetuk pastoran? Apakah aku menuhi harapan mereka yang sedih dan ikut bahagia bersama mereka yang bergembira? Sudah 7 tahun aku tinggal di paroki ini, sehingga mataku yang terang semakin sering buram, dan telingaku yang tajam semakin sering tuli...”

Di sinilah, saya menyadari sepenuhnya bahwa ”becoming a priest’ berbeda dengan ’being a priest’. Persoalan menjadi imam tidak sama dengan ‘menghidupi imamat’. Becoming lebih pada persoalan target, pencapaian dengan sejumlah persyaratan. Being lebih merupakan pergumulan dan pemaknaan terus menerus. Jelasnya, tahbisan ini bukan terminal akhir, tapi awal sebuah awal pilihan dan komitmen yang harus terus dihidupi dan digumuli, karena benarlah harta ini saya punyai dalam bejana tanah liat, rapuh dan terbatas adanya…..Kesadaran akan keterbatasan diri membawa saya untuk tidak henti memohon RahmatNya dalam sebaris doa yang mengawali setiap hari baru: “...berilah aku hatiMu ya Allah, hati yang jujur untuk mengalami hadirMu, dalam tiap peristiwa hidupku..” TerimaKASIH banyak buat semua doa, kisah dan kasih anda semua.. Semoga Allah yang telah memulai karya baik di antara kita, berkenan menyelesaikannya pula (bdk. Flp. 1:6)


I. B. Refleksi Tahbisan Diakonat:

“Syukur kepada Allah....”Di awal refleksi ini, saya bersyukur penuh atas setiap rahmat dan penyertaanNya dalam perjalanan panggilan ini, terlebih dalam menjalani masa diakonat ini. Syukur - bahwa saya pernah dan boleh dipercaya dan diperkenankan mengalami tahun diakonat dalam tahap terakhir menuju tahbisan imamat ini. Syukur - dalam masa diakonat ini, saya boleh mengenal dan mengalami beraneka ragam interaksi, baik itu dengan buku maupun dengan manusia, kaya maupun miskin, tua-muda, laki-laki – perempuan, sehat-sakit dsbnya. 

Syukur – saya juga boleh ikut belajar dalam pelbagai diakonia: pelayanan soal administrasi paroki, soal pelayanan sakramental, soal pelayanan terhadap orang sakit dan miskin dan juga pelayanan terhadap tugas-tugas imam, seperti menyiapkan dan membereskan persembahan, membacakan injil dan belajar mewartakan Injil (Kabar Gembira). 

Semua hal ini membawa saya pada syukur kepada Tuhan, bahwa oleh karena kemurahan hati dan kasihNya itulah saya bisa kembali memantapkan arah dalam panggilan suci ini, seperti kata Santo Paulus, “... harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal melulu dari Allah, bukan dari diri kami” (2 Kor 4:7). Lewat masa diakonat ini, saya juga belajar untuk mau bersikap reflektif-instrospektif. Mau mengatur hidup bersama dan hidup harian di pastoran, terlebih setia mengatur hidup doa dan ritme harian, seperti brevir dan completorium harian, pengakuan dosa, examen dan bacaan rohani. Saya belajar untuk mau mencintai hal-hal sederhana dan kecil, makan dan berdoa bersama serta menyapa karyawan, menghayati dan rutin setia mengikuti misa pagi harian, serta menuliskan refleksi harian sebelum tidur. Saya belajar juga mau rendah hati dan membebaskan diri dari kecongkakan, dan kata-kata yang hampa di tengah perjumpaan dengan umat. Belajar juga untuk tetap mempunyai relasi yang terbuka dan sehat serta pandangan yang luas dan tajam agar dapat melihat dengan jelas, sasaran perjuangan dalam karya kerasulan setiap hari bersama Tuhan dan lewat segenap umat. 

Di masa diakonat yang penuh rasa syukur ini juga, hal pokok pertama yang saya alami adalah belajar ikut dalam pelayanan sakramental dan ibadat sabda. Saya sungguh merasakan bahwa semua pelajaran pastoral itu adalah instrumen untuk mengarungi lautan kehidupan. Saya menyadarinya terlebih ketika saya melayani umat dalam ibadat tutup peti, peringatan arwah, mengantar komuni orang sakit, memberkati barang-barang suci dan ikut serta membacakan injil ketika ekaristi, karena bukankah setiap peristiwa kehidupan adalah sekolah, setiap pengalaman adalah mata pelajarannya, dan setiap orang yang ditemui adalah gurunya?

Sungguh syukur pada Tuhan atas setiap rahmat panggilan yang dianugerahkan ini. Ini sungguh mengagumkan dan membuat saya tidak hentinya berterimaKASIH kepada Tuhan karena semuanya ini terjadi dan bisa saya jalani dengan rahmat Allah semata. Inilah yang membuat saya selalu ingat untuk mempunyai semangat murah hati dalam pelayanan sakramental, terlebih untuk umat yang sedang merasa membutuhkan sapaan kasih pastoral, yakni yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan cacat. Apalagi di paroki ini, kebanyakan umatnya sungguh sederhana dan berdekatan. 

Hal pokok kedua yang patut saya syukuri juga adalah bahwa saya boleh punya kesempatan untuk belajar seputar administrasi paroki. Lewat kebaikan para pastor paroki, saya boleh ikut masuk ke sekretariat, melihat dan ikut memperhatikan surat baptis, pernikahan, kematian, krisma, komuni pertama juga belajar dalam hal penelitian kanonik. Di sinilah, saya melihat bahwa manajemen dan administrasi paroki menuntut adanya konsistensi, tranparansi, akuntabilitas dan kredibilitas yang terjamin-yang kerap saya sebut dengan ’taat asas’: mentaati dan ikut melaksanakan kebijakan dasar yang sudah digariskan oleh keuskupan. Saya sungguh menyadari ketika seorang imam ditempatkan dalam sebuah medan karya, ia tidak dapat sembarangan memainkan jabatan ataupun tugas yang sedang diembannya, karena ia terikat pada keuskupan juga bertanggung jawab secara nyata pada pemeliharaan iman umatnya (dengan ’membereskan’ apa yang belum beres dan merapikan administrasi dan arsip-arsip paroki). Di sinilah, saya melihat perlunya mensinergikan antara kepemimpinan Petrus dan kepemimpinan Paulus. Kredibel tidak hanya karena kharismanya tapi juga karena kemampuan bekerjasama secara terbuka dan positif, terlebih dalam soal manajemen harta benda dan sistem informasi serta administrasi paroki. 

Jelasnya, saya diajak untuk belajar menghayati bahwa seorang imam mesti tampil sebagai pemimpin jemaat dan sekaligus sahabat seperjalanan, yang mempunyai visi, misi dan strategi kegembaaan serta berketrampilan melihat masalah-masalah dan menentukan prioritasnya, mampu mengambil keputusan dan membuat perencanaan dan penilaian.

Hal pokok ketiga yang juga sangat saya syukuri bahwa saya boleh belajar ikut melayani terlebih untuk orang miskin dan sakit. Satu pelayanan pastoral yang saya coba adalah, imam sebagai ‘mitra’: jembatan penghubung antara dua jurang (yang paling kentara adalah: jurang sosial kaya-miskin serta dialog antara agama). Saya belajar untuk punya solidaritas dan mau berkorban terlebih ketika ada sesama yang sedang mengalami penderitaan, bahaya, kemalangan, bencana, penindasan, atau kematian. Saya dipanggil untuk konsisten, menjadi sehati-sejiwa, terlebih bersama orang miskin. 

Pastinya, selama menjalani tahun diakonat ini, sungguh saya belajar untuk melaksanakan ‘Pastor Bonus’: “Pastoral Gembala Baik”, dengan menyapa iman umat: mengantar komuni, terjun ke lingkungan dan kunjungan keluarga, terlebih yang sedang dirundung duka dan saat kematian, juga dengan menyalami umat sebelum dan setelah misa. Dalam upaya bergandengan tangan dengan mereka semua inilah, saya diajak untuk mau belajar rendah hati dalam menggembalakan umat serta membangun Paguyuban dengan semangat Persaudaraan Sejati, sehingga Gereja sungguh menjadi kota di atas gunung, dan cahaya di atas kaki dian bagi masyarakat sekitarnya (Mat 5:13). 

Spiritualitas yang coba saya hayati sebagai seorang romo adalah: dialektis. Di satu pihak, saya mau tetap berakar dalam hidup iman dan doa, sekaligus pada saat yang sama, saya dibentuk dan ditempa dalam pelaksanaan pelayanan imamatnya di tengah konteks zamannya. Jelasnya, saya belajar menjadi “CIA”, Contemplativus In Actione”.....bermenung dalam keramaian, karena bukankah iman kita semakin dimurnikan di tengah dunia yang ramai dan sungguh nyata ini?

0 komentar:

Poskan Komentar